Title : Avenger
Part : 9 (beginning, the real game)
Rate : M
Cast : Dongbangshinki (main) n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu
Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .DON'T BE SILENT READER. . .TYPO, jangan pernah copi cerita saya. . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .
Malam semakin larut, Yunho masih memeluk tubuh ramping Jaejoong, mengusap helaian rambut Jaejoong dengan penuh kasih sayang. Bibirnya ia tempelkan pada kepala Jaejoong, mata musangnya ia pejamkan. Menikmati deru teratur napas Jaejoong yang menerpa dada bidangnya.
Jaejoong tertidur, Yunho menghentikan usapannya, merenggangkan pelukannya pada Jaejoong. mengamati wajah cantik Jaejoong yang terlihat sangat damai.
"bahkan bidadaripun tak sangup mengalahkan kecantikanmu" ucap Yunho perlahan.
Yunho mulai memejamkan matanya kembali, mencoba mengikuti Jaejoong ke alam mimpi. Yunho terlelap, sesaat kemudian napas Jaejoong memburu, Jaejoong bergerak gelisah dalam tidurnya, keringat mulai membasahi wajah putihnya mengalir perlahan dari pelipisnya.
"andwe. .andwe. ." rancau Jaejoong, badannya terus bergerak gelisah.
Yunho merasa terusik dengan pergerakan seseorang disampingnya. Ya, dia tahu jelas bahwa itu Jaejoong, dia segera membuka matanya, mengamati Jaejoong. Yunho sedikit terkejut melihat keadaan Jaejoong. Napasnya semakin memburu, keringat membasahi wajahnya, air mata mulai turun dari matanya yang terpejam, rancauannya semakin terdengar jelas.
"Jae" ucap Yunho mencoba membangunkan Jaejoong, tanpa pikir panjang Yunho segera mendekap tubuh Jaejoong, mencoba menenangkan Jaejoong. Memeluk erat tubuh Jaejoong dan membisikkan kata-kata penenang.
Butuh waktu cukup lama hingga Jaejoong kembali tenang, Yunho mengusap peluh Jaejoong, menempelkan bibirnya dan menekannya sesaat, satu tangannya masih memeluk erat pinggang ramping Jaejoong, Yunho tak melepas pelukannya, tak akan pernah.
. . . . . . .
"aku ingin kau malam ini" ucap Changmin sembari merengkuh tubuh ramping Junsu, "bagaimana?" bisik Changmin ditelinga Junsu.
Junsu mengangguk sekali, tanpa pikir panjang Changmin mempererat pelukannya, dan mencium leher Junsu yang terekspose jelas.
Junsu merasakan sesuatu yang berbeda. Ya, ini terasa sangat berbeda dari Yoochun, dan terasa memabukan.
Bibir Changmin terus menyusuri leher jenjang Junsu, tubuh Junsu bergetar. Changmin merasakan perubahan deru napas Junsu, dia semakin memberanikan dirinya. Menyusuri rahang Junsu menuju bibir merah Junsu. Mengecupnya sesaat kemudian menekan dan menyesapnya, Changmin melakukan dengan sangat lembut. Junsu menikmati setiap perlakuan Changmin, dia mulai melingkarkan kedua lengannya di leher Changmin kemudian membalas setiap lumatan yang Changmin berikan.
Changmin semakin erat memeluk tubuh Junsu, tubuh bagian atas mereka menempel sempurna. Junsu bisa merasakan dengan jelas, bahwa dada telanjangnya bersentuhan dengan dada telanjang Changmin. Changmin mulai menjilati bibir bawah Junsu, Junsu membuka perlahan mulutnya. Changmin memasukkan lidahnya pada rongga hangat mulut Junsu, dengan lihai mengeksplore seluruh rongga lembab Junsu.
"eummhh" Junsu meleguh disela ciuman mereka, tubuh Changmin semakin terbakar. Changmin menyesap lidah Junsu, mengajaknya bermain dan saling bertukar saliva.
"euummhh" desahan terus keluar dari mulut Junsu, tubuhnya menggeliat di pelukan Changmin. tangan Changmin dengan lihai membelai punggung mulus Junsu, tangan Junsu terkadang meremas rambut Changmin dan menekan tengkuk Changmin.
Merasa kekurangan oksigen, Junsu melepas pangutan bibir Changmin. Benang saliva terlihat jelas saat mulut mereka terpisah, napas mereka memburu, Junsu menatap mata tajam Changmin. tangannya membelai wajah tegas Changmin, menyusuri pipi tirus Changmin dan berhenti di bibir basah Changmin. Junsu mengusap lelehan saliva di sudut bibir Changmin.
Changmin terus mengamati wajah cantik Junsu, tangannya melingkar indah di pinggang ramping Junsu. Wajah Junsu mendekati wajah Changmin,Junsu memejamkan matanya kemudian mencium bibir Changmin, menekannya sesaat lalu melepasnya.
"lakukanlah" ucap Junsu sembari memeluk tubuh kekar Changmin
"aku tak akan menghentikannya"
Junsu mengangguk, Changmin memeluk Junsu kemudian merebahkan tubuh Junsu. Tangannya membelai pipi Junsu, Junsu membuka matanya. Changmin tersenyum lembut kemudian mencium bibir Junsu. Tangannya dengan lihai menyusuri tubuh polos Junsu, mengusap perut datar Junsu, terus menaiki perut datar Junsu. Mengusap belahan dada Junsu, kemudian meremas gemas payudara Junsu.
"euuhh" Junsu meleguh. Changmin menempelkan tubuh bagian bawahnya, menggesekan daerah vital mereka.
"euummhh" desah Junsu tertahan ciuman Changmin.
Tangan kanan Changmin masih sibuk meremas payudara Junsu, terasa kenyal dan memabukan . Changmin melepas pangutan bibir Junsu, bibirnya menyusuri leher Junsu, menjilat leher Junsu kemudian menyesapnya.
"ahhh" desah Junsu sembari menekan kepala Changmin.
Setelah puas bermain dileher Junsu, Changmin kembali menurunkan daerah jajahannya. Bibirnya sibuk mengecupi dada Junsu, menjilatinya dan semakin mengarah ke payudara Junsu.
Tubuh mereka semakin panas, Junsu semakin menggeliat di bawah Changmin. Ini adalah kenikmatan pertama yang mereka rasakan. Tanpa ragu, Changmin menyesap puting merah Junsu.
"auuhhnnn" Junsu semakin meleguh nikmat, kepalanya semakin menekan bantal di bawahnya, dadanya ia busungkan.
"mendesahlah, sebut namaku"
"emmbbhh" gumam Junsu.
Changmin semakin liar menyesap payudara Junsu, tangan kirinya tak tinggal diam, dia terus meremas payudara Junsu. Jangan lupakan tangan kanan Changmin yang semakin turun menyusuri tubuh Junsu.
"aahhh. . .Minneehh"
"emmhh" gumam Changmin, tangan kanan Changmin mengusap paha luar Junsu, terus ke dalam dan semakin kedalam.
"ssshhh. . " desah Junsu, dia menggigit bibir bawahnya tubuhnya semakin panas dan semakin menggeliat.
"aaahhhh" desah Junsu, Changmin menggigit payudara Junsu, bersamaan dengan tangan kanannya yang mengusap belahan kewanitaannya.
Changmin mendongakan kepalanya, melihat hasil karyanya pada payudara Junsu. Ya, dada Junsu sudah terhiasi bercak-bercak kemerahan dan basah.
"euummbbhhh" tubuh Junsu semakin menggeliat, tangan kanan Changmin sibuk mengusap klitoris Junsu
"ssshhh. . aaaahhhh"
"lebarkan kakimu" perintah Changmin
Junsu mengikuti perintah Changmin, dia melebarkan pahanya. Changmin menatap jelas kewanitaan Junsu, merah merekah, cairan terus keluar dari liang kewanitaannya, klitorisnya membesar dan jangan lupakan lubang kewanitaan Junsu yang terlihat basah dan sempit.
Merasa malu, Junsu mencoba merapatkan pahanya namun tangan Changmin lebih dulu menahannya
"wae?"
"ja. .jangan melihatnya seperti itu" ucap Junsu tersendat
"aku menyukainya, dan aku ingin menikmatinya"
Junsu mengangguk sekali, Changmin mendekatkan wajahnya pada kewanitaan Junsu, lidahnya menjilat belahan kewanitaan Junsu, tubuh Junsu bergetar, mata Changmin masih menatap mata Junsu. Begitu pula dengan Junsu, dia melihat jelas perlakuan Changmin, dia menggigit bibir bengkaknya
"mendesahlah untukku" ucap Changmin, kemudian melanjutkan kembali aksinya, menjilati kewanitaan basah Junsu, memainkan lidahnya pada klitoris bengkak milik Junsu kemudian menyesapnya kuat.
"aaahhh" jerit Junsu, kakinya ia rapatkan namun kedua tangan Changmin memegangi lipatan paha Junsu menjaganya agar tetap terbuka lebar
"aahhhh" Junsu kembali menjerit, memajukan pinggangnya seolah tak ingin kehilangan kenikmatan yang Changmin berikan. Ya, Changmin menghisap kuat lelehan lendir pada lubang kenikmatan Junsu
"sshhh. . .Changmiinn. . aaahhh"
Changmin mekan lidahnya pada lubang basah Junsu, menjilatinya dan memasukan lidahnya
"ssshh. . aahhhnnnn" tubuh Junsu semakin menggeliat, ini terasa sangat nikmat dan tubuhnya menginginkan lebih
"Minnieehh. . . ahhkkuu ttak kuat lagiihh. . .hentikann. .aahhh"
Changmin tak menggubris ucapan Junsu, dia semakin liar memakan kewanitaan basah Junsu. Bahakan kejantanannya pun sudah menengang sempurnya
"aaahhhhh" jerit Junsu saat Changmin kembali menghisap lubang basah Junsu dan jemarinya menekan kemudian memelintir klitorisnya
Napas Junsu memburu, jantungnya berdegup semakin cepat keringat membasahi tubuhnya. Changmin menghentikan rangsangan pada kewanitaan Junsu. Menarik wajahnya dari selangkangan Junsu, jemarinya mengusap lelehan lendir Junsu yang masih tersisa di bibirnya.
"aku menyukainya"
Junsu hanya mampu menatap Changmin dengan mata sayunya. Changmin memposisikan tubuhnya didepan selangkangan Junsu, meraih kejantanan tegangnya kemudian meremasnya,
"ahhh" desah Changmin, Junsu melihatnya, sangat jelas. Dia hanya mampu mengigit bibir merahnya.
"akan terasa sakit, tapi berusahalah rileks"
Junsu mengangguk. Changmin mengangkat kaki Junsu, melingkarkannya pada pinggangnya, kemudian meraih kejantanannya kembali dan mengarahkannya pada lubang basah Junsu.
Junsu menatap mata Changmin, dadanya terus naik turun mencoba mengatur napasnya.
Changmin menyusuri kewanitaan Junsu dengan kejantanan besarnya, "aauuhhhnn"
"kumasukan sekarang" ucap Changmin kemudian mencondongkan tubuhnya, bibirnya mengecup bibir Junsu, kejantannya menekan lubang kewanitaan Junsu. Changmin terus menekan pinggulnya.
"euummbbb" jerit Junsu terhalang bibir Changmin, Changmin melepas pangutannya. Menatap wajah Junsu, "appo?"
Junsu mengangguk
Saat ini baru ujung kejantanan Changmin yang berhasil masuk, kewanitaan Junsu mengcengkramnya kuat, seolah tak mengijinkannya masuk
"rileks" ucap Changmin sembari meraih tubuh Junsu kemudian memeluknya, "gigit bahuku jika sakit"
Junsu mengangguk, Changmin melanjutkan penetrasinya.
"arrghhh. .appoohhh"
"ssttt, sedikit lagi baby" ucap Changmin sembari menekan kejantanannya perlahan.
Junsu merasakan benda keras, besar dan panjang menekan semakin dalam pada lubang kewanitaanya,
"arrggghhh" jerit Junsu sembari menggigit bahu Changmin
"aaahhhh" ucap Changmin, kejantanannya telah masuk sempurna. Changmin melepas pelukannya, menatap wajah Junsu, mata Junsu memerah menahan tangis.
"mianhae" ucap Changmin
Junsu mengangguk, Changmin melihat kebagian bawah tubuh mereka. mereka benar-benar menyatu, kejantanannya tertelan kewanitaan Junsu. Changmin melihat jelas darah keluar diantara kejantanan besarnya dan kewanitaan Junsu.
"Minniee" panggil Junsu, mengalihkan pandangan Changmin, "move"
"aku tak ingin menyakitimu" ucap Changmin, "aku akan mengeluarkannya"
"aniya" ucap Junsu cepat sembari menggeleng, "bergeraklah"
"aku akan bergerak jika air matamu berhenti mengalir"
Junsu mengusap air matanya, "jebal, ini sangat nyeri dan aku yakin akan tetap terasa seperti ini jika kau tak menggerakannya"
Changmin masih menatap wajah Junsu, air matanya semakin deras keluar
"aa. . aappa Jaejoong lebih nikmat dari ku?" tanya Junsu tersengal
Changmin masih diam
"Min, jawab aku. Ku mohon bergeraklah, ini sangat nyeri ku mohon hilangkan rasa sakitnya"
Junsu masih menatap Changmin, namun tak ada respon dari Changmin. Changmin masih berpikir, dia tak menyangka, benar-benar tak menyangka akan melakukan ini dengan Junsu, dan mengambil keperawanan Junsu.
Junsu menggerakkan pinggulnya, membuat kejantanan Changmin semakin dalam menekan lubangnya
"aahhh" desah Junsu, "a. .akku akan memberikan apa yang Jaejoong berikan"
Junsu terus masih menggerakan tubuhnya, Changmin mengerti dengan maksud Junsu. Dia meraih Junsu dalam pelukannya, memeluknya erat.
"aku akan melakukannya, berhentilah bergerak" Junsu menghentikan gerakannya, Changmin mengambil alih kendali, dia menarik kejantanannya, menyisakan kepalanya kemudian menekannya dengan cepat dan dalam
"arrggghhh"
"sshhh. . . ."
Changmin terus melakukannya, jeritan kesakitan Junsu masih terdengar diawal permainan mereka, namun kelamaan desahan dan leguhan nikmat yang keluar dari mulut Junsu
"aahhh. . .there. . ."
"ahhhh. . .disinih?"
"auuhhh. . .ahhhhh. . .."
"sebut namaku baby dan terus mendesah"
Changmin semakin cepat memompa kewanitaan Junsu, "aahhh. . ." kewanitaan Junsu semakin mencengkram kejantanannya.
"Minnieehh. . .akuhh. . .aahhhh"
"ssshhh. . keluarlah baby"
"euummbhh. . .aahhh. . .Minnieeehhh" liang Junsu semakin basah, dia mencapai puncak kenikmatan pertamanya.
"sshhh. . .ouuhhh. .. "
"aahhh. . ." desahan kembali terdengar dari bibir Junsu
Kejantanan Changmin semakin membesar dan berkedut, "I wanna cum baby"
"aahhh. . .jangan di dalam"
"waehh? Kau milikku"
"aahhh. . .jeballl. . .jangan didal. . aaahhhhh" Junsu tak mampu menyelesaikan ucapannya, dia kembali mencapai puncaknya, cairannya deras mengalir. Begitu pula dengan Changmin, yang mengeluarkan spermanya di lubang basah Junsu.
"aahhhhh. . .." ucap Changmin sembari mencabut kejantanannya dari kewanitaan Junsu, kemudian menggulingkan tubuhnya di samping Junsu, menarik selimut tebal, menutupi tubuh polos mereka, meraih Junsu dalam pelukannya kemudian tertidur.
. . . . . . . . . . ..
Lewat tengah malam, Jaejoong kembali terusik dalam tidurnya. Dia memimpikannya lagi, mimpi yang sangat mengganggunya dan selalu menghantui tidurnya.
"andweeee" teriak Jaejoong, napasnya memburu, tubuhnya reflex terbangun. Mata besarnya membelalak penuh ketakutan, keringat mengalir deras dari tubuhnya.
"Jae" panggil Yunho, kemudian memeluk tubuh Jaejoong.
Jaejoong terengah, dia mengusap wajahnya, mengacak rambutnya dengan frustasi.
"lepaskan"
Yunho melepas pelukannya, Jaejoong berdiri dari posisi duduknya. Berjalan cepat menuju almari di sudut ruangan. Membuka pintu almari kasar, kemudian mengambil wine dan meneguknya.
Yunho hanya mampu menatap Jaejoong, bahkan pelukannya tak mampu membuat tidur Jaejoong lebih lelap.
"kau gagal Jung Yunho" ucap Jaejoong sembari menyeringai
"Jae" ucap Yunho sembari memeluk tubuh Jaejoong, "kau membuatku khawatir, apa yang kau impikan? Apa ini yang membuatmu mencintai alcohol?"
"kau tak perlu tahu apa mimpiku, dan ya, aku mencintai alcohol karena aku tak mau seperti ini setiap malam"
Yunho masih memeluk Jaejoong, jemarinya mengusap peluh Jaejoong, kemudian menata kembali helaian rambut Jaejoong.
Jaejoong masih menegak cairan merahnya, toleransi alkoholnya memang baik. namun kali ini Jaejoong lebih baik dalam memilih minumannya, dia mengambil minuman dengan kadar alcohol tinggi, hingga membuatnya lebih cepat tak sadarkan diri.
Yunho membopong tubuh ringan Jaejoong, meletakkannya pada ranjang besar Jaejoong kemudian dia ikut berbaring di samping Jaejoong, dan memeluknya erat.
. . . . . . . . .
Pagi menjelang, namun belum ada tanda-tanda bahwa Changmin akan terbangun dari tidur lelapnya. Namun, kita lihat Junsu. Dia bersandar pada kepala tempat tidurnya, mata jernihnya nampak sayu, lingkar hitam menghiasi matanya, dan cairan bening terus menetes. Tubuhnya bergetar, kedua tangannya memeluk kedua lututnya. Dia terisak.
Changmin mulai menggeliatkan badannya, sayup-sayup dia mendengar isakan seseorang disampingnya, dia membuka perlahan kedua matanya, dia melihat jelas Junsu menangis sembari memeluk kedua lututnya.
Changmin mendudukan tubuhnya, kemudian meraih Junsu dalam pelukannya.
"uljima" ucap Changmin sembari mengusap rambut coklat Junsu
Air mata Junsu semakin deras mengalir
"wae? kenapa menangis? Kau menyesal telah melakukannya denganku? Atau kau marah karena aku mengeluarkannya di dalam?"
Junsu menggeleng
"lalu?"
"kau akan menepati janjimu?" ucap Junsu disela isakannya
Changmin menyeringai, "kau tak percaya?"
Junsu terdiam.
"aku sudah berjanji bukan? aku tak akan meninggalkanmu selama kau tetap bersamaku dan tak mengkhianatiku"
"Jae. .Jaejoong?"
"Jaejoong kenapa?"
"tinggalkan dia" ucap Junsu
"kau ingin aku memutuskan Jaejoong?"
Junsu mengangguk
"bagaimana jika aku mengatakan tak bisa"
Junsu memeluk erat tubuh Changmin, "jebal, aku akan melakukan apapun agar kau benar-benar kembali padaku"
"kembali padamu? Apapun? Benarkah?"
Junsu mengangguk, "ne, aku akan melepaskan Jaejoong dan ku harap kau benar-benar memenuhi ucapanmu"
Junsu mengangguk.
"aku merindukanmu" ucap Changmin lirih
Junsu melepas pelukannya, menatap Changmin dengan mata sayunya. Changmin sedikit terkejut melihat keadaan Junsu
"kau menangis semalaman dan tidak tidur?"
Junsu mengangguk
Changmin memeluk Junsu kembali, "jangan pernah seperti itu lagi, kau ingin aku kembali menjadi Changminmu bukan?"
Junsu mengangguk kembali
"dan aku ingin kau kembali menjadi Junsuku kembali"
"kita mulai dari awal?" ucap Junsu
"ne, kita mulai dari awal"
. . . . . . . . . . . . . .
Yunho membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya kemudian melihat seseorang yang masih memeluknya.
Yunho mengecup kening Jaejoong perlahan, kemudian menyingkirkan lengan Jaejoong yang memeluk tubuhnya dan beranjak ke kamar mandi.
Selang satu jam, dia keluar dari kamar mandi dengan memakai celana jinsnya, Yunho mendapati Jaejoong yang sudah berdiri di depan jendela besarnya sembari membawa segelas wine.
"kau sudah minum lagi" ucap Yunho sembari memeluk Jaejoong
"kepala ku pusing"
"hangover, kenapa kau masih minum lagi?"
"aku haus Yunnie"
"kau bisa meminum yang lain"
"apa kau mau mengambilkannya?" ucap Jaejoong sembari membalik tubuhnya, Yunho memendang Jaejoong tak berkedip.
Lihatlah, Jaejoong benar-benar menggoda. Ingatkan bahwa semalam Jaejoong hanya mengenakan baju tidur model kimono? Ya, Jaejoong tak mengikat kuat tali pakaiannya, dada kencang yang berbalut bra hitam terlihat jelas di mata Yunho, rambut Jaejoong masih sedikit acak-acakan, bibirnya merah merekah dan matanya menatap sayu ke arah Yunho.
"wae? kenapa menatapku seperti ini? kau tertarik pada tubuhku?" ucap Jaejoong seduktif
Yunho terdiam, lelaki mana yang tak akan tertarik dengan wanita secantik Jaejoong?
Jaejoong semakin berani untuk menggoda Yunho. Dia melepas tali pakaiannya, kemudian menaggalkan pakaiannya, menampakkan tubuh indahnya yang hanya tertutupi kain pada bagian tertentu. Kedua tangan Jaejoong mengalung indah dileher Yunho.
"nikmatilah jika kau ingin menikmatinya"
Yunho terkejut dengan perkataan Jaejoong, "apa kau menawarkannya pada lelaki lain?"
"ani, aku hanya menawarimu. Bagaimana?"
"kau mabuk Jae, berbaringlah aku akan membuatkanmu susu"
"aku tak mabuk Yun, lakukanlah jika kau mau" ucap Jaejoong sembari memutar posisi tubuh mereka. lengan Yunho ia lingkarkan pada pinggang rampingnya, tubuhnya menempel pada tubuh Yunho
"Jae, kembalilah tidur"
"Jadi kau tak mau melakukannya?"
"ani"
"ck. . terserah kau, eummbb. . . tapi bisakah kau membawaku ke ranjang kembali? Aku pusing Yun"
"ne"
Yunho membopong tubuh ramping Jaejoong, tanpa pakaian lengkap. Siapapun akan salah paham jika melihatnya, mungkin termasuk mereka.
Di sinilah permainan sesungguhnya dimulai. Yunho yang terlalu mencintai Jaejoong, dia akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan hati Jaejoong dan Jaejoong yang mendekati Yunho karena suatu hal, dia akan melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Tapi benarkah selamanya Jaejoong tak akan terperangkap dalam pesona Jung Yunho?
Tbc_
A/n. .
hi im jaexi. . . masih ada yang inget saya? *gak ada. okey* im back tapi cuma ala kadarnya (?) silahkah kembali menikmati ff saya di sini. .tapi ini hanya sekedarnya (?) karena jujur saya masih kecewa sama ffn *penghapusan yang dulu itu* jadi saya akan mempublish beberapa cerita yang udah 'kelar'. . yang mau update terbaru silahkan kunjungi blog saya :) .com
ps: buat ninanutter author always you. .nih ya saya update lagi di sini XP
_Jaexi_
