Title : Avenger
Part : 10
Rate : T+
Cast : Dongbangshinki (main) n others, Genderswitch for Jaejoong n Junsu
Warning : OOC, FF ini milik saya, saya tau idenya pasaran dan ceritanya monotone. Jadi harap bersabar dengan kekurangan FF abstrak saya ini. . .DON'T LIKE DON'T READ, yang BACA WAJIB KOMEN. .GAK TERIMA CACIAN atau MAKIAN. . .DON'T BE SILENT READER. . .jangan pernah copi cerita saya. . .
. . . . . . . . . . .
"brengsek" umpat Yoochun sembari memukul stir mobilnya, "shiitt. . .arrrghhh. . .aku akan membalas perlakuanmu Shim Changmin" ucap Yoochun penuh amarah, napasnya memburu, tangannya mencengkeram kuat stir mobilnya dan kakinya menginjak penuh pedal gas mobilnya. Saat ini Yoochun nampak kacau, mulutnya terus mengucapkan umpatan kekesalannya kepada Changmin dan Junsu.
"brenggsekkk" teriaknya sembari membanting pintu mobilnya. Ya, dia telah sampai di rumah mewahnya. Segera turun dari mobil dan memasuki rumahnya. Rumah Yoochun selalu sepi, bukankah rumah itu adalah tempat di mana sebuah keluarga bisa saling berbagi dan menyayangi? Tidak, itu semua tidak berlaku bagi Yoochun.
Yoochun melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua. Disana ia segera menuju almari kaca tempatnya menaruh berbagai macam minuman memabukkan, dengan kasar dia membuka pintu kaca tersebut, mengambil asal salah satu botol minuman yang tersedia. Membuka botol hitam tersebut dengan segera, kemudian menegaknya. Waitrose Solera Jerezana Dry Amontillado Sherry, tulisan itu tertera jelas dibotol hitam yang ia pegang. Minuman berwarna coklat keemasan dengan kadar alcohol 19% itu segera mengalir dikerongkongannya, aromanya tercium kuat, rasanya tidak pahit namun juga tidak terasa manis, memabukan dan terasa panas ditubuhnya.
Yoochun terus menegak cairan dalam botol tersebut, melampiaskan semua amarahnya dengan cairan memabukkan tersebut. "Yoochun. .Park Yoochun, kasihan sekali hidupmu" rancau Yoochun, "keluargamu tak memperdulikanmu, sahabatmu merebut kekasihmu, dan menidurinya. .hah. .kalian brengsekk. . dengar aku tak membutuhkan kalian, aku bisa mengurus hidup sendiri". Yoochun terus merancau, hingga akhirnya dia tak sadarkan diri karena pengaruh minuman yang ditenggaknya.. . . . .. . . . . . .
Siang menjelang, Jaejoong terbangun dari tidurnya.
"euummb" menggeliat melemaskan otot tubuhnya.
"kau sudah bangun Jae?"
"Yunho. .ku kira kau sudah pulang" jawabnya sembari mendekati Yunho yang berdiri di dekat jendela kamarnya.
"bukankah sudah ku bilang, hari ini aku ingin mengajakmu ke rumahku"
"bertemu calon mertuaku?" tanya Jaejoong sembari membelai pipi Yunho. Yunho menyunggingkan senyumannya, hanya sedikit tersenyum.
Jaejoong memeluk tubuh kekar Yunho, "Yunnie. .kau tahu? aku menyukai tubuh kekarmu, terasa sangat nyaman saat aku memeluknya" ucap Jaejoong dengan manja.
"cepatlah mandi Jae"
"eumbb" Jaejoong mndongakan kepalanya, "kiss me" ucapnya
Yunho menyentuh bibir merah Jaejoong dengan ibu jarinya kemudian menempelkan bibirnya dan melumat bibir merah Jaejoong. Mereka menikmati ciuman mereka, Jaejoong sudah mengalungkan lengannya pada leher kekar Yunho, memperdalam ciumannya dan sesekali terdengar leguhan darinya.
"cukup Jae. .sekarang mandilah"
Jaejoong tersenyum kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di kamarnya.
. . . .. . .
Waktu terus bergulir, dan di sinilah mereka. Di rumah besar keluarga Jung.
Yunho menggandeng jemari lentik Jaejoong, membawanya memasuki kediaman keluarganya.
"Yunho. .kau sudah pulang" ucap seorang wanita cantik dari ruang tengah
"ne. . umma, aku bersama kekasihku. Kim Jaejoong"
"kau yang bernama Jaejoong? cantik sekali"
Jaejoong tersenyum mendengar pujian dari umma Yunho, siapapun akan terkesan dengan penampilan Jaejoong, penampilannya feminine, jauh berbeda dengan sosok Jaejoong yang liar.
"ne Jaejoong imnida, bangapseumnida" ucapnya sembari tersenyum dan membungkukan badannya.
"aku Chaerin, umma Yunho. Ayo masuk" ucapmya sembari menggandeng lengan Jaejoong. Got cha, sepertinya terlalu mudah bagi Jaejoong untuk menakhlukan hati umma Yunho.
Yunho berjalan dibelakang mereka.
"jadi sudah berapa lama kau berhubungan dengannya Yun?"
"belum lama"
"benarkah?"
"ne, kami baru saja meremesmikan hubungan kami. Aku tak menyangka jika Yunho oppa menyukaiku"
"lelaki manapun akan tertarik padamu Joongie" ucap umma Yunho
"kamsahamnida, tapi ku rasa itu berlebihan"
"Jaejoong, ku dengar dari Yunho kau adalah anak Kangin-sshi?"
"ne, aku adalah putri tunggalnya. Tapi appa seolah tak memperhatikanku"
"tak perlu merasa seperti itu, bukan kah ada Yunho. Aku yakin anak umma bisa memperhatikanmu dengan baik"
"ne, Yunho oppa selalu menjaga dan menemaniku" ucap Jaejoong dengan senyuman manisnya.
"Jadi, bagaimana usaha ayahmu di luar sana? Aku dengar bisnisnya berkembang sangat pesat?"
"ah itu terlalu berlebihan ahjuma"
"eih. . panggil aku umma ne"
"umma?" ucap Jaejoong
"ne, umma. Seperti Yunho memanggilku, bagaimana?"
"ne, kamsahamnida. Bolehkan aku memeluk umma?"
"ne, kemarilah"
Jaejoong memeluk tubuh Chaerin, senyuman manis tersungging dibibirnya namun senyuman itu perlahan menjadi seringaian khasnya.
"aku merindukan pelukan seorang umma"
"aku juga ummamu Joongie" ucapnya lembut, "Yunho, akhirnya kau mengenalkan kekasihmu pada umma" ucapnya senang.
Jung Chaerin. Umma Yunho, sosok wanita yang cukup lembut. Namun siapa sangka dibalik kelembutannya itu tersimpan dosa besar dan kelicikan yang Jaejoong tahu persis apa itu.
Jaejoong menghabiskan waktunya seharian di mension Jung. Dia berusaha mengambil hati dan mendekati umma Yunho, awalnya dia berpikir cukup keras untuk mendekati umma Yunho. Tapi ternyata, hanya dengan menampakan sisi femininenya dan berkelakuan sangat baik di depannya sudah cukup mengambil hatinya.
"jadi kau akan pulang sekarang Joongie?"
"ne, sudah malam umma. Umma harus beristirahat jadi lebih baik aku pulang"
"ne, sering-seringlah datang kemari. Oh ya, kau belum bertemu appa Yunho bukan?"
"ne, aku belum bertemu dengannya"
"lain kali aku akan mengatur waktu agar kita bisa berkumpul bersama, bagaimana?"
"tentu" ucap Jaejoong. Kemudian Jaejoong berpamitan dan segera meninggalkan rumah keluarga Jung.
. . . . . . . .
"Jae"
"eumb?" jawabnya tanpa membuka mata, tubuhnya bersandar pada jok mobil Yunho.
"aku tak menyangka kau memiliki sisi lain?"
"aku berkepribadian ganda?"
"entahlah" jawabnya sembari menginjak rem mobilnya.
Jaejoong membuka matanya, kemudian menghadap tubuh Yunho, "Yunnie" panggil Jaejoong sembari membelai pipi Yunho, "bukankah di depan orang yang lebih tua kau harus bersikap sopan? Aku melakukannya karena aku masih memiliki tata krama. Atau kau berkeinginan agar aku menunjukan sisi liarku di depan ummamu? Aniya, aku tak ingin orang tuamu tak menyukaiku. Karena" ucap Jaejoong menggantung, dia meraih bahu Yunho kemudian memutar tubuh Yunho kearahnya.
"aku tak ingin orang tuamu menghalangi hubungan kita" ucap Jaejoong sembari menatap mata tajam Yunho, "ku harap rasa cintamu padaku tak berkurang sedikitpun ,karena aku mulai mencintaimu" lanjut Jaejoong kemudian memeluk tubuh Yunho.
"ku harap ucapanmu bukan sekedar kebohongan Jae"
Jaejoong semakin merapatkan tubuhnya, memeluk erat Yunho kemudian berbisik, "apa aku harus membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu? Apa aku harus melepas sesuatu yang paling berharga di tubuhku untukmu? Aku tak penah mengumbar kata cinta pada lelaki lain, aku baru mengucapkannya padamu, percayalah"
"aku percaya" ucap Yunho
Jaejoong melepas pelukannya, "mulai sekarang, tinggallah denganku" pinta Jaejoong
"kau tak bercanda?"
Jaejoong menggeleng
"ne" jawab Yunho. Jaejoong tersenyum, senyuman yang sangat manis namun menyimpan sejuta misteri di dalamnya.
. . . . . . . . . . . . . . . .
"Su-ie" ucap Changmin sembari membelai pipi tirus Junsu
"eummb" gumam Junsu, dia mulai membuka mata indahnya dan mengerjapkannya perlahan
"bangunlah, sudah siang. Cepat mandi dan kita makan. Kau pasti lapar" ucap Changmin
Junsu mengangguk, dia mendudukan tubuhnya kemudian berdiri dan berjalan perlahan kearah kamar mandi dengan selimut tebal berwarna putih yang membalut tubuh rampingnya.
Changmin mengamati pergerakan Junsu, dia tersenyum kemudian menoleh ketempat tidur Junsu. Di kain putih yang menyelimuti kasur Junsu, terlihat jelas noda darah di sana. Changmin segera mengambil kain itu, dan membawanya keluar dari kamar Junsu.
Setengah jam kemudian, Junsu keluar dari kamar mandinya.
"kau memberesinya?" tanya Junsu saat melihat ranjangnya sudah rapi kembali, perlu diingatkan bahwa sebenarnya Changmin adalah sosok yang menyukai kerapihan.
"ne, terlihat lebih rapi"
"nanti siang maid datang, mereka bisa membereskannya"
"aku tak ingin mereka melihat kekacauan yang kita buat" ucap Changmin sembari memeluk tubuh Junsu, menghidup aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya, "aku menyukai aroma tubuhmu"
"hanya aromanya?" ucap Junsu polos
Changmin mengacak rambut basah Junsu, "aku menyukai semuanya" bisik Changmin
Junsu tersenyum, "Changminie, dua hari ujian kelulusan"
"lalu?"
"tinggallah di sini dan bantu aku belajar seperti biasanya"
Changmin mengangguk.
"gumawo" ucap Junsu sembari memeluk Changmin, "eumbb. . apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"ne" ucap Changmin, dia membelai punggung Junsu dan menyandarkan pipinya di kepala Junsu
"apa yang akan kau katakan pada Jaejoong?"
"mengatakan apa adanya"
"kau yakin? Bagaimana jika dia marah kepada ku? Bagaimanapun juga, a. .aku telah merebutmu darinya"
"Jaejoong tak akan marah padamu, bahkan mungkin saat ini dia telah mendapatkan penggantiku"
"maksudmu?"
Changmin terkekeh, "sudahlah, tak usah memikirkan Jaejoong. Aku sudah mengirim pesan untuknya, dan dia sudah membalasnya"
"apa?"
"dia bilang tak masalah, kalau tidak cocok kenapa harus dipaksakan"
"sungguh? Jaejoong berkata seperti itu?"
Changmin mengangguk
"k. .kau tak akan meninggalkanku lagi bukan?"
"selama kau tak meninggalkanku, aku tak akan meninggalkanmu"
Junsu mengangguk, "gumawo"
. . . . . . . . . . . . . . .
Kita lihat ke rumah besar Yoochun, rumah tanpa kehangatan, rumah tanpa kasih sayang. Yoochun terbangun dari tidurnya, dia merasa pusing. Namun tak begitu memikirkannya, yang jelas hatinya lebih merasakan sakit. Dia beranjak dari sofa hitam panjang yang sedari malam tadi menjadi tempat tidurnya. Dia berjalan sempoyongan menuju kamarnya, membuka pintu kamarnya kemudian menuju salah satu meja di sudut kamarnya. Dia membuka lagi meja tersebut, tangannya sibuk mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya, Yoochun segera menggenggam erat benda tersebut. Dia berjalan kea rah ranjang besarnya, bersandar pada kepala tenpat tidurnya kemudian membuka genggaman tangannya. Di tangan kanannya terlihat jelas serbuk halus berwarna putih yang terbungkus rapi dalam sebuah kantung plastic transparan. Yoochun membuka kantung tersebut, menuangkan isinya pada tangan kirinya kemudian menghirup serbuk putih tersebut.
Apa Yoochun akrab dengan barang laknat tersebut? Tentu saja, ingatkah kalian bahwa Yoochun seseorang yang tak pernah mendapatkan perhatian? Ingatkah kalian bahwa Yoochun sudah terbiasa dengan dunia malamnya. Jadi tak perlu ditanyakan lagi.
Yoochun terus menikmati serbuk putih tersebut, kepalanya terasa ringan, semua beban pikirannya tak ia rasakan lagi, dia merasa sangat senang dan rileks. Yoochun merebahkan tubuhnya, menikmati efek menyenangkan yang ia dapat dari kokain yang ia nikmati.
. . . . . . . Hari terus berlalu, saat ini ujian akhir sekolah dimulai. Seluruh siswa mengerjakan apa yang harusnya mereka kerjakan. "Yunnie" panggil Jaejoong "Jae" Jaejoong langsung memeluk Yunho, satu kebiasaan barunya. "bisa mengerjakannya?" Yunho mengangguk, "kau?" Jaejoong pun hanya mengangguk. "Joongie" panggil seseorang Jaejoong menoleh, "Su-ie" ucap Jaejoong riang, Ya, dia adalah pribadi periang jika di sekolah, "kau sekarang dengan Changmin?" Junsu mengangguk, "mianhae" "hei, tak perlu meminta maaf. Aku bersama Yunho, jadi kau tak perlu mengkhawatirkanku" "Yun. .ho?" ucap Junsu sedikit tidak percaya "wae? bukankah kami cocok?" ucap Jaejoong sembari mengampit lengan Yunho "Su-ie" panggil Changmin, yang kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Junsu. Junsu tersenyum "ayo pulang" ajak Changmin, Junsu mengangguk. "Joongie, aku pulang dulu ne" "ne" jawab Jaejoong kemudian memeluk tubuh Junsu. Junsu dan Changmin meninggalkan Jaejoong dan Yunho yang masih berdiri di depan loker Jaejoong. "Yun. . .aku rindu kertas-kertas yang selalu kau temple di lokerku" ucap Jaejoong "aku tak perlu menempelkannya lagi bukan?" Jaejoong mengangguk, "cukup kau katakana apa yang kau rasakan" ucap Jaejoong kemudian mengecup bibir Yunho sekilas, "ayo pulang" ajak Jaejoong sembari menggandeng tangan Yunho. Dilain pihak, Yoochun sedang berada di atap sekolah. Dia nampak sedikit kacau, badannya merasa dingin dan agak menggigil. Dia menegak air miniral yang ia bawa, kemudian mengeluarkan serbuk putihnya dan menikmatinya. Lima menit ia menikmati bubuk halus tersebut, setelah mendapat efek yang ia inginkan, Yoochun berdiri dari duduknya, berjalan menuju pinggir pembatas. Pandangannya lurus ke bawah. Mencari seseorang? Ya, dia mencari Kim Junsu, mantan kekasihnya. "kau bahagia sekarang?" ucapnya, "apa kau sesakit ini saat aku bersama Kahi? Apa kau semenderita ini saat aku bersama Tiffani? Apa dadamu sesesak ini saat tahu aku bersama orang lain? Ya. Kau bahagia bukan? dan akupun bahagia dengan caraku sendiri" ucap Yoochun saat dia melihat Junsu berjalan berdampingan dengan Changmin. Yoochun merogoh saku celananya, kemudian menghubungi seseorang. "yeoboseyo" ". . . . . " "ne, aku Yoochun, aku butuh coke sekarang" ". . . . ." "embb. . .kita bertemu ditempat biasa" ucap Yoochun kemudian mengakhiri sambungan telponnya. Dia berjalan meninggalkan atap sekolah, menuruni tangga perlahan kemudian menuju mobil sportnya dan melaju kencang di jalanan kota. . . . . . . . . . . . . Drtt. . .drtt. . drtt. . . ponsel Jaejoong bergetar, dia segera meraih ponsel hitamnya. Satu pesan diterima, dia membuka pesan tersebut kemudian membacanya. Yoochun meminta coke, kami akan bertemu ditempat biasa sekarang Setelah membaca pesannya, Jaejoong kembali memasukan ponsel hitamnya. "oppa, bisakah kau antarkan aku ke rumah? Ada hal yang harus aku urus di sana" ucap Jaejoong Yunho mengangguk, "aku boleh menemanimu?" "tidak perlu, ini urusan keluargaku. Ayahku tak menginginkan orang lain mengetahuinya. Mianhae" ucap Jaejoong sembari membelai pipi Yunho. "aku akan menunggumu di apartemen" Jaejoong mengangguk. Yunho terus melajukan mobilnya. Sesampainya di depan rumahnya, Jaejoong segera melepas sabuk pengamannya. "Yun. . .sampai jumpa nanti malam" ucap Jaejoong kemudian mengecup bibir tebal Yunho, "jalgayo" Yunho mengangguk, Jaejoong segera turun dari mobil Yunho. Setelah memastikan mobil Yunho tak nampak lagi, dia segera memasuki rumah mewahnya. Beberapa pengawalnya berada di ruang tengah rumahnya. "selamat siang nona" "ne, jadi Yoochun memakainya lagi?" tanya Jaejoong tanpa basa-basi "ne, ini sudah ke dua kalinya dalam seminggu ini dia meminta pada kami" Jaejoong menyeringai, "bodoh" ucap Jaejoong, "berikan saja barang itu padanya" lanjut Jaejoong "ne" ucap mereka "dan pastikan, dia tak mengetahui keberadaanku diantara kalian. Arraso" "ne" jawab mereka kemudian meninggalkan Jaejoong. "Jae" panggil seorang wanita dari arah atas "eonni" ucap Jaejoong, kemudian menaiki tangga rumahnya, "jadi rumah ini sudah menjadi tempat yang indah untuk kalian memadu kasih?" ejek Jaejoong "Ya. . .Kim Jaejoong" protes Siwon "oppa, bogoshipo" ucapnya sembari memeluk Siwon "hah. .kau sudah memiliki Yunho tak boleh merindukannya lagi" ucap Heechul Jaejoong tertawa mendengarnya, "ahh. . sudahlah. Jadi bagaimana perkembangannya?" "keuangan perusahaan mereka sedang goyah Jae, dan aku berhasil menarik dua investornya" "jinjja?" "ne" "baguslah" "bagaimana denganmu? Jangan bilang kau jatuh cinta pada Jung" "sejauh ini sih tidak" "lalu?" "aku telah mendapat kepercayaan ibunya, dan aku berniat merusak anak kesayangannya" "apa rencanamu?" "sepertinya melibatkan serbuk-serbuk putih itu cukup menarik" ucap Jaejoong "kau tak boleh memakainya untuk dirimu sendiri" "aku tahu, dan aku tak akan melakukannya" "aku akan memberikannya pada Yunho" "terserah kau, berhati-hatilah" uap Siwon "ne, aku tahu dengan apa yang ku kerjakan" ucap Jaejoong "Jae, semalam Kangin ahjushi menelpon menanyakan keadaanmu" "lalu?" "ku jawab apa adanya, bahwa kau tinggal bersama Jung" Jaejoong mengangguk, "aku akan menghubunginya nanti. Eummbb. . .oppa, eonni" "ne" "ini tak akan lama lagi bukan?" "ku harap begitu dan aku yakin ini tak akan lama lagi" Jaejoong mengangguk, "ayo segera bereskan semuanya, dan tinggalkan Korea" jawab Jaejoong dengan senyumannya "ne dank u harap kau tak bermain hati dengan Yunho" "sudah ku bilang, sejauh ini aku hanya bermain dengannya" "jangan terlalu jauh bermain dengannya" "arraso" "Jae, kau tak keluar malam lagi?" "Yunho melarangku" "wow. .sejak kapan kau bisa dilarang?" "ini untuk memperlancar semuanya" Siwon dan Heechul tertawa, "ne, terserah kau Jeje. .aku akan mengikuti permainan ini sampai selesai" "ne, kita akan menyelesaikan ini semua secepatnya" ucap Jaejoong mantap. Dan apakah ini semua akan berakhir dengan cepat? Apakah Jaejoong berhasil melakukan semuanya? Akankah Yunho terperangkap lebih dalam lagi pada seorang Kim Jaejoong? Entahlah, karena terkadang takdir itu tak berjalan seperti apa kemauan kita. . . TBC_ _ _ Huaaaa. . .. apa-apaan ini? mianhae jalan ceritanya semakin ngawur. . Y_Y Mian jika tidak memuaskan, saya tidak begitu sreg dengan part ini. . .hikss. . maaf jika tidak berkenan. . Tapi tolong tetap tinggalkan jejak ne, biar saya tau kesalahan atau pun kekurangan saya.. . . Gumawo. . .. :)_jaexi_
