Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan.

Genre : Tragedy, Drama, Fantasy

Don't Like Don't Read

.

.

.

Di kantor penegak hukum Konoha.

Akhir-akhir ini Sasuke terlihat sibuk sendirian, Sasuke bahkan jarang mengobrol dengan teman-teman satu timnya, dan akhirnya salah satu dari mereka, Kiba, Neji, dan Sai, mendatangi Sasuke.

"Ada apa Sasuke? sepertinya kau sedang menyelidiki sesuatu," ucap Sai.

"Aku harus pergi, lain kali saja ngobrolnya," ucap Sasuke dan langsung bergegas pergi.

"Ahh..~ payah, dia tidak peduli dengan teman-teman timnya," ucap Kiba.

"Mungkin dia merasa akan lebih tenang jika bekerja sendiri," ucap Neji.

"Tapi, Apa gunanya kita satu tim? Kalau dia hanya bekerja sendiri?" ucap Sai.

"Ada apa ini kalian berkumpul?" ucap Shikamaru yang baru datang.

"Kami sedang membicarakan Sasuke, apa kau tahu sesuatu?" ucap Kiba.

"Oh, Sasuke, dia sedang menyelidiki kasus kejadian di bandara yang sudah lama kasusnya di tutup, dia merasa ada yang mengganjal, memangnya ada apa?" ucap Shikamaru.

"Uhm..., tidak, hanya saja, dia tidak pernah memberitahukan kita," ucap Neji.

"Tidak perlu seperti itu, Sasuke pasti akan menghubungi kita jika dia sudah menyelesaikan semuanya," ucap Shikamaru.

"Baiklah, semoga dia bisa menyelesaikan kasus itu, padahal sudah di tutup," ucap Kiba.

"Aku punya semua info dari Sasuke, aku akan mengirim datanya dan kalian bisa membaca, kalian juga pasti akan bingung dengan kasus ini, sesuai kata Sasuke, kasus ini cukup rumit di pecahkan," ucap Shikamaru dan mengirim semua data ke komputer Neji, Kiba, dan Sai, "Dan tolong data ini di rahasiakan, bisa gawat kalau Yamato tahu apa yang sedang di lakukan Sasuke dengan kasus itu," sambung Shikamaru lagi.

Neji, Kiba, dan Sai hanya mengajukan jempol, paham dengan maksud mereka Shikamaru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.

Setelah beberapa jam pergi, Sasuke kembali lagi ke kantornya, dan melihat teman satu timnya sedang sibuk masing-masing di meja mereka, Sasuke berjalan menghampiri Shikamaru dan memperlihatkan sebuah data yang tersimpan dalam laptop mininya, Shikamaru hanya membacanya sepintas dan mulai membuka-buka data yang ada di komputernya, membuka tiap data, dan membuka data yang di kunci dengan beberapa password, tidak menunggu lama Shikamaru sudah mendapatkan semua datanya, tanpa Sasuke dan Shikamaru sadar, Kiba, dan Sai sudah sibuk berdiri di belakang mereka, hanya Neji yang masih duduk di kursinya.

"Apa yang sedang kalian cari?" tanya Kiba penasaran.

"Data orang-orang yang tewas pada kejadian di bandara setahun yang lalu," Ucap Shikamaru.

"Untuk apa data-data itu?" Tanya Sai.

"Lihatlah dan kau akan tahu," ucap Shikamaru.

Shikamaru kemudian menggerakan mouse komputernya, mencari data yang Sasuke tunjuk.

Name : Haruno Sakura

Status : Dead

Sasuke merasa teringat kembali kejadian saat dia dan Sakura tertimpah bangunan yang runtuh.

"Namanya Haruno Sakura, pekerjaan, sebagai salah satu staf di rumah sakit Konoha, dan merupakan asisten nona Tsunade, dia meninggal dalam kejadian di bandara, tubuhnya tidak bisa diselamatkan lagi, hampir seluruh tubuhnya dan bagian organ dalamnya hancur," Shikamaru membaca semua data yang tertera di layar komputernya.

"Gadis ini, mirip dengan gadis yang melapori Sasuke," ucap Neji tiba-tiba, mengagetkan Sai dan Kiba.

Sasuke terdiam dan paham masuk Neji, Shikamaru, dan Sai mengerti apa tujuan Sasuke mencari data itu, hanya Kiba saja yang masih bingung.


Hari ini Sasuke tidak ke kantor atau pun sibuk dengan data-data di laptopnya, Sasuke sibuk dengan membaca koran yang ada di ruangan tunggu di rumah sakit Konoha, membolak-balik dan membacanya, namun tatapannya tak lepas dari seseorang yang begitu ramah membantu seorang lansia untuk berjalan-jalan, orang itu pun sadar kalau dia sedang di awasi, namun tidak memperdulikan Sasuke.

Sasuke seperti sedang memata-matai Sakura, Sejak Sakura datang datang ke rumah sakit, mulai dari saat itu juga Sasuke terus mengawasinya, mengawasi setiap hal yang di lakukan Sakura, termasuk mengawasi Sakura dari jauh, saat ke ruangan pasien, saat Sakura sedang membantu beberapa pasien, saat Sakura sedang bermain bersama anak-anak kecil yang di rawat di ruangan khusus dan lain-lain, Sasuke terus memperhatikan Sakura, dan Sakura yang menyadarinya, tidak memperdulikan Sasuke.

Sakura berjalan menuju ruangan Tsunade, dan Sasuke tidak jauh dari situ, dan masih memperhatikan Sakura saat masuk ke ruang Tsunade.

Saat di dalam ruangan Tsunade, Sakura berbisik kepada Tsunade tentang Sasuke yang terus mengawasinya, Tsunade hanya memberikan sebuah kunci kepada Sakura dan membisikan sesuatu, beberapa menit kemudian Sakura keluar dari ruang Tsunade dan Sasuke sengaja melihat ke arah lain.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tegur Sakura, mulai bosan dengan tingkah Sasuke.

"Hanya mengawasi," jawab Sasuke datar.

"Kau sangat terlihat mencolok kalau seperti itu, dan... untuk apa kau mengawasiku?"

"Bukan urusanmu,"

"Apa! Tentu saja ini menjadi urusanku, karena sepanjang hari kau hanya mengawasiku," ucap Sakura sedikit kesal.

"Lakukan saja pekerjaanmu, dan tidak usah memperdulikanku,"

"Haaa...~ terserah kau saja," ucap Sakura dan kembali ke pekerjaannya.

Sakura masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan lansia, Sakura merawat beberapa lansia yang ada diruangan itu, menanyakan keluhan mereka, Sasuke yang masuk ke ruangan itu, hanya duduk dan menatap sekelilingnya,

"Bagaimana keadaan anda?" Ucap Sakura kepada seorang lansia yang dia hampiri.

"Tidak pernah sebaik ini," ucap lansia itu, meskipun nenek itu mengucapkan hal yang seperti dia baik-baik saja, namun penyakit jantung yang di deritanya tidak membuatnya mengeluh, meskipun terus berada di tempat tidur.

"Aku turut senang,"

"Terima kasih, Sakura, kau semakin cantik saja,"

"Anda bisa saja,"

"Terima kasih sudah menjagaku di sini,"

"Sama-sama, itu adalah tugasku sebagai ahli medis di sini,"

Mereka mengobrol dengan senang, lansia itu juga sangat senang jika Sakura datang untuk cek up data kesehatannya, Sasuke mulai bosan, dan merasa mengantuk, tak lama kemudian dia tertidur di kursi itu, dengan punggungnya bersandar, Sakura yang sesekali melirik ke arah Sasuke, kini terlihat seperti ingin tertawa.

"Sakura, dia siapa?" ucap salah satu teman kerja Sakura.

"Pacarmu yaa? Tampan sekali," ucap yang lainnya lagi.

"Bu-bukan,"

"Lalu? Kenapa dia terus mengawasimu? Mungkin dia suka padamu,"

"Dia kenalan nona Tsunade dan prof. Kakashi,"

Mereka bertiga, Sakura dan dua orang temannya jadinya menggoda Sakura, Sakura hanya menjawab pertanyaan penasaran mereka, kalau dia dan Sasuke tidak ada apa-apa.

Beberapa jam kemudian, semua lansia sudah kembali ke kamar mereka masing-masing, kini tinggal Sakura dan Sasuke yang masih tertidur, Sakura berjalan menghampiri Sasuke dan menatapnya sejenak, Sasuke tertidur begitu pulas, sepertinya Sasuke terlihat lelah, sekarang sudah waktunya Sakura untuk pulang, karena tidak enak jika meninggalkan Sasuke sendirian, Akhirnya Sakura membangunkan Sasuke dengan cara memanggil nama Sasuke keras-keras, teriakan itu sukses membuat Sasuke tersadar dari tidur nyenyaknya.

"Aku mau pulang, apa kau masih mau tidur di situ,"

Sasuke hanya terdiam dan berjalan keluar ruangan itu, "aku akan mengantarmu pulang," ucap Sasuke tiba-tiba.

Sakura mengingat kata-kata nona Tsunade tadi, dan akhirnya mereka berdua pulang bersama.

Saat sampai di sebuah tempat, wajah Sasuke terlihat kesal, menatap ke arah bangunan yang ada di depannya.

"Apa ini yang namanya pulang," ucap Sasuke melihat gedung pusat berbelanja Konoha.

"Aku mau mampir sebentar, aku tidak bilang pulang ke rumah kan, hehehe," ucap Sakura, dan segera berjalan masuk, Sasuke yang merasa semakin bosan dengan hari penyelidikannya, berjalan perlahan mengikut Sakura dari arah belakang, sesekali beberapa wanita yang berpapasan dengan Sasuke, terlihat tersenyum dan merona menatap ke arah Sasuke.

Beberapa kali ponsel Sasuke berbunyi, Sasuke berhenti sejenak dan melihat ponselnya, sebuah pesan dari Neji, Saat ini Sasuke sedang sibuk dengan ponselnya, sedangkan Sakura sedang sibuk berjalan-jalan.

From Neji :

Sedang terdeteksi sebuah bom di bangunan pusat berbelanja di Konoha.

Setelah membaca pesan singkat dari Neji, Sasuke segera berlari mencari alarm kebakaran, berlari dengan terburu-buru dan mencari di setiap sudut dinding bangunan dan akhirnya Sasuke menemukannya, dan langsung menekan alarm itu, detik berikutnya orang-orang yang ada di bangunan itu langsung panik dan berlarian keluar gedung.

00 :10

00 : 09

00 : 08

00 : 07

00 : 06

Sasuke masih sibuk mencari Sakura yang entah kemana, Sakura pun sibuk mencari jalan keluar, berlari berdesak-desakkan dan akhirnya Sakura terjatuh,

00 : 05

00 : 04

00 : 03

00 : 01

00 : 00

DUUUUAAARRRRR...!

Seketika bangunan itu hancur, beberapa orang yang belum sempat berlari keluar terkena beberapa reruntuhan, Sasuke hanya terkena getaran dari ledakan bom itu, bom itu meledak di lantai dua, Sasuke yang tadinya terjatuh segera berdiri dan menghubungi beberapa orang untuk sgera datang ke TKP, setelah itu Sasuke kembali mencari Sakura, entah mengapa Sasuke merasa seperti kejadian saat di bandara dulu, Sasuke terus mencari Sakura sambil memanggil nama Sakura.

Sasuke masih berlari kesan kemari, mencari gadis berambut softpink itu, melewati beberapa toko yang hancur, dan langkah Sasuke terhenti di sudut toko yang tidak hancur, terlihat seoarang gadis berambut softpink sedang berjongkok menundukkan kepalanya dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, suaranya terisak, sepertinya dia sedang menangis dan wajahnya sangat ketakutan,

"Sakura," Panggil Sasuke perlahan.

Sakura mengangkat kepalanya perlahan dan menatap seseorang yang memanggilnya, Sasuke berjalan dengan cepat dan menghampiri Sakura yang masih juga belum berdiri.

"Aku takut sekali, hiks...," Sakura tiba-tiba memeluk Sasuke dengan tubuhnya yang gemetaran dan isak tangisnya.

Sasuke sangat terkejut dengan Sakura yang tiba-tiba memeluknya, Sasuke merasa seperti seorang Haruno Sakura yang sedang ketakutan, tangan Sasuke perlahan membelai pelan kepala Sakura dan menenangkannya.

"Aku mencarimu hikss.. Sasuke...," tiba-tiba Saja dalam pikiran Sakura, Sakura melihat sebuah kejadian di bandara, melihat dirinya sedang berlari dan seseorang yang sedang menggenggam tangannya dengan erat, wajah orang itu tidak begitu kelihatan, namun wajah orang yang hampir mati di hadapannya begitu terlihat jelas, " AAHHHHKKKKKK...!" Teriakan Sakura begitu keras, membuat Sasuke terkejut, Sakura merontah-rontah dengan sakit dikepalanya, membuatnya berteriak kembali, Sasuke yang bingung hanya memeluk erat Sakura yang masih merontah-rontah dengan sakit kepalanya yang sepertinya tidak bisa di tahan oleh Sakura.

"Ko-kodenya," ucap Sakura perlahan dan pingsan, Sakura pingsan dalam pelukan Sasuke.

"Sakura! Sakura!"

Meskipun di bangunkan, Sakura tetap tidak bangun, Sasuke segera mengangkat Sakura dan membawanya keluar dari gedung itu, di luar gedung teman-teman Sasuke dan beberapa orang dari kantor Sasuke sudah tiba dan mengevakuasi beberapa korban.

.

.

.

Dari arah sebuah gedung terlihat laki-laki dengan matanya yang biru langit dan rambut blondenya, sedang menatap ke arah gedung yang masih berasap akibat ledakan yang terjadi beberapa menit yang lalu, ponselnya tiba-tiba berbunyi dan dia mengangkat ponselnya.

"Kau membuat kekacauan?" ucap sebuah suara dari ponselnya.

"Hehehe, begitulah, kau sekarang berada di mana, Kabuto?" ucap Naruto.

"Aku sedang berada di Kota Suna, maaf, tidak sempat bertemu denganmu, disini aku sangat sibuk, apa kau tidak mengunjungi Orochimaru?"

"Uhm, bagaimana yaa, susah untuk mengunjunginya, pengalawan di sana sangat ketat, bisa saja mereka mencurigaiku,"

"Baiklah, aku yang akan datang mengunjunginya dan kalian bisa berbicara lewat ponselku, bagaimana?"

"Boleh juga, Sudah dulu yaa, sepertinya pekerjaanku sedang menanti, lain kai kita bicara lagi,"

"Iya, jaga dirimu,"

Naruto tidak mengucapkan apa-apa lagi dan mematikan ponselnya, terlihat di wajahnya senyum penuh kemenangan, Naruto berjalan perlahan menuju pintu dan berjalan menuruni tangga.

"Aku akan membalas mereka," ucap Naruto perlahan.

.

.

.

Sakura membuka matanya perlahan, menatap ke arah sekeliling ruangan, Sakura merasa sedang berada di ruangan rawat rumah sakit Konoha, dialihkan pandangannya kesamping dan terlihat Tsunade sedang duduk menunggunya sadar.

"Nona Tsunade," ucapnya perlahan dan bangun dari tempatnya berbaring.

"Apa kau baik-baik saja?"

"Iya, aku rasa sudah tidak apa-apa,"

"Syukurlah, Sasuke sampai panik membawamu ke sini,"

"Sasuke? dimana dia?"

"Dia sedang menunggu di luar,"

"Uhm,"

"Apa kau mengingat sesuatu?"

"Maaf, nona Tsunade, aku belum mengingat kodenya, aku hanya mengingat wajah orang yang memberitahukanku,"

"Hemm...~ ternyata rumit juga,"

"Dan tiba-tiba kepalaku sangat sakit, aku melihat seseorang lagi dalam kecelakaan itu,"

"Mungkin hanya perasaanmu saja,"

"Uhm, mungkin saja,"

"Sebaiknya kau pulang dan beristirahat, aku akan kembali ke ruanganku,"

"Baik nona Tsunade, terima kasih,"

Tsunade mengangguk perlahan dan berjalan keluar dari ruangan Sakura berbaring, di luar Sasuke sedang berdiri mematung menunggu Tsunade.

"Bagaimana keadaannya?"

"Dia sudah membaik, mungkin sebaiknya kau mengantarnya pulang," Tsunade berjalan meninggalkan Sasuke, dan berhenti sejenak, "Terima kasih susah menolongnya," lanjut Tsunade dan kembali berjalan.

Sasuke hanya terdiam dan berjalan masuk ke dalam ruangan Sakura, terlihat Sakura sedang merapikan kasur dan merapikan dirinya yang sedikit berantakan.

"Apa sudah mau pulang?" ucap Sasuke.

"Iya, aku akan segera pulang,"

"Aku akan mengantarmu, tapi kali ini benar-benar pulang,"

"Iya- iya," ucap Sakura paham dengan maksud Sasuke.

Sasuke berjalan terlebih dahulu dan Sakura mengikutinya dari belakang.

Setengah jam perjalan, dengan menaiki kereta listrik, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang minimalis, tamannya yang kecil dengan rerumputan, beberapa rumah di sekitarnya terlihat sunyi, jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya agak berjauhan, saat itu sudah pukul 19:30, Sakura mengambil kunci di saku tasnya dan membuka pintu, Sakura berjalan masuk dan menyalakan beberapa saklar lampu dan rumah itu menjadi terang, Sasuke yang baru mendatangi tempat itu berjalan perlahan dan memperhatikan setiap sudut rumah.

"Masuklah dulu, aku akan mengganti pakaian, dan.. aku mengundangmu makan malam sekarang dirumahku, bagaimana?"

"Uhm, terserah kau saja,"

"Baiklah, ruang tamu di sebelah sana," ucap Sakura menujuk ke arah sebuah ruangan.

Sasuke berjalan memasuki ruangan itu, Sakura berjalan masuk ke kamarnya, Sakura mulai mengganti pakaiannya, memilih beberapa baju yang ada di dalam lemarinya, setelah menemukan yang pas, kemudian Sakura mengenakan baju itu, dress berwarna softpink keunguan selutut, sangat pas dengan tubuh Sakura yang putih dan ramping.

Sakura keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang tamu, memanggil Sasuke dan mengajak Sasuke ke ruang makan.

"Kau mau makan apa?"

"Buat saja, dan aku akan memakannya,"

"Baiklah, kau ini tidak suka memilih-milih yaa,"

"Itu hanya bikin repot,"

"Uhm...~," Sakura mulai mengambil beberapa bahan di dalam kulkas dan mulai memasak nasi goreng.

Beberapa menit kemudian, Nasi goreng plus telur dadar, acar mentimun, dan ekstrak tomat untuk Sasuke sudah siap, Sakura menaruh lagi sepiring nasi goreng untuknya namun tanpa ekstrak tomat, Sasuke sedikit heran dengan porsi yang berikan Sakura, nasi goreng ekstrak tomat, Sasuke memandangi makanannya kemudian melihat ke arah Sakura.

"Ada apa? Apa kau tidak suka?" ucap Sakura.

"Tidak, tapi kenapa hanya piringku yang ekstra tomat?"

"Kau tidak suka tomat?"

"Bukan, aku suka tomat, tapi tadi aku tidak mengucapkan untuk menambahkan tomat ke dalam makananku,"

"Oh, maaf-maaf, kebiasaan, aku suka membuat masakan dan selalu menambahkan ekstra tomat untuk orang lain,"

Sasuke kaget, yang dimaksudkan Sakura 'orang lain' itu apa seseorang yang biasa Sakura masakin atau setiap orang yang di masakin Sakura selalu mendapat ekstra tomat, Sasuke mulai bingung, namun perutnya yang lapar membuatnya tidak bisa berpikir lama dan akhirnya Sasuke segera melahap makanannya, Sasuke merasa sedikit tidak asing dengan suasana ini, jika mendatangi rumah Haruno Sakura, Sasuke selalu mendapatkan makanan dengan esktra tomat.

Setelah menyantap makan malam, Sakura kembali ke kamarnya untuk mandi sejenak, sedangkan Sasuke, berjalan-jalan di dalam rumah Sakura, melihat dan memperhatikan setiap sudut ruangan, rumah Sakura biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, hanya saja di rumah Sasuke tidak menemukan foto keluarga Sakura atau pun Sakura, tinggal kamar Sakura yang belum di periksa, Sasuke berjalan masuk ke kamar Sakura perlahan, tidak menimbulkan suara apapun, Sakura yang masih asik berendam di kamar mandi tidak mendengarkan apapun dari luar.

Sasuke mulai mengacak-ngacak beberapa lemari dengan rapi, hanya mencari beberapa data yang ada di ruangan itu, namun Sasuke masih tidak menemukan foto-foto, setiap lemari dan laci hanya berisi barang yang biasa, tidak ada yang mencurigakan, Sasuke berhenti melakukan penyelidikannya dan berjalan keluar kamar Sakura.

Sakura selesai mandi dan kembali memakai bajunya, berjalan perlahan menuju dapur, dan membuatkan teh untuk Sasuke.

Sasuke sedikit gelisah, penyelidikannya hari ini belum menemukan titik terang siapa sebenarnya gadis yang ada di hadapannya.

"Ada apa Sasuke? kau terihat tidak tenang,"

"Aku tidak apa-apa," Sasuke mulai bosan dan sedikit kesal, "Apa aku menggunakan cara kasar saja?" ucap Sasuke dalam hati dan menatap ke arah tehnya yang sudah tinggal setengah.

Sasuke berjalan perlahan dan mendekati Sakura yang duduk di kursi panjang, tiba-tiba, Sasuke mendorong Sakura dan memegang kuat kedua tangan Sakura dan mengunci Sakura dengan posisi Sasuke di atas Sakura, Seketika Sakura begitu terkejut dan menatap takut ke arah Sasuke.

"Sa-sasuke, ada apa?" ucap Sakura mencoba menggerakan tubuhnya namun itu sangat mustahil pergerakkan sudah di kunci Sasuke.

"Aku sudah bosan dengan menyelidikimu, kau sebenarnya siapa?"

"Kenapa masih menanyakan hal itu? Seharian ini kau sudah mengikutiku,"

"Itu tidak cukup, kau seperti menyembunyikan sesuatu,"

"Sungguh, aku tidak mengembunyikan apa-apa," Sakura mencoba menahan air matanya, kedua tangan Sasuke yang memegang tangannya dengan kuat mulai terasa sakit.

Sasuke terdiam menatap Sakura, matanya tidak berbohong, Sasuke bisa membacanya, yang di katakan Sakura benar, dia tidak menyembunyikan apapun darinya, Sasuke menutup matanya sejenak dan menghela napas, kasus ini benar-benar membuatnya pusing, saat Sasuke membuka matanya, wajahnya begitu terkejut, melihat orang yang di bawahnya tadi berubah menjadi Haruno Sakura.

"Kau terlalu lelah Sasuke, beristirahatlah sejenak,"

"Sakura..." ucap Sasuke perlahan, mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura, jarak antar wajah mereka semakin kecil dan...,

"SASUKE SADARLAH...!" Teriakan Sakura sukses membuat Sasuke sadar dan segera menjauhkan wajahnya.

Yang di lihat Sasuke adalah wajah Sakura yang sedang ketakutan dan air mata Sakura mengalir menuruni pelipisnya.

"Kenapa kau mau mencium orang yang tidak kau kenal?" ucap Sakura, wajahnya begitu sedih melihat Sasuke yang tadi menatapnya dengan tatapan hampa dan hampir mencium bibirnya.

Sasuke terdiam, dia perlahan berdiri dengan melepaskan tangannya yang menggenggam kuat tangan Sakura, Sasuke duduk di samping Sakura, dan Sakura mulai memperbaiki posisinya duduk di samping Sasuke.

"Aku tadi sedang melamun,"

"Kau membuatku takut, lagi-lagi aku melihat tatapan kosongmu,"

"Mungkin aku sedikit lelah, sebaiknya aku pulang,"

Sakura mengantar Sasuke sampai ke depan pintu rumahnya, Sasuke berjalan keluar pintu rumah Sakura dan berbalik menatap Sakura.

"Maaf, untuk kejadian yang tadi, aku tidak bermaksud apa-apa," ucap Sasuke.

"Aku memaafkanmu, karena hari ini kau juga sudah menolongku, tapi.. lain kali jangan melakukan hal seperti itu, aku sungguh-sungguh takut melihatmu,"

"Hn,"

Sasuke pamit dan segera pergi, Sakura menutup pintu rumahnya dan terduduk di lantai, menghela napas panjang dan menatap ke arah ruang tamu, kejadian tadi benar-benar membuatnya takut, seketika wajah Sakura memerah, teringat akan hal tadi, saat Sasuke hampir menciumnya.


Gedung penahanan teroris.

"Oh, selamat siang, kau datang lagi, Sasuke," ucap Orochimaru, begitu senang dengan Sasuke yang datang mengunjunginya, lagi.

"Aku tidak akan berbasa-basi, apa kau tahu kejadian kemarin, di gedung pusat perbelanjaan Konoha?" ucap Sasuke dan menunjukkan data kejadian pengeboman di gedung pusat perbelanjaan Konoha, 45 orang meninggal dan ada 190 orang luka-luka.

"Maaf, aku tidak tahu ada berita seperti itu, di sini infomasi dari luar sangat terbatas," ucap Orochimaru, menopang dagunya dan tersenyum.

"Apa ini kelakuan anak buahmu?"

"Mungkin saja, tapi aku sudah lama tidak berhubungan dengan mereka sejak aku di tahan di sini,"

"Apa kau sudah merencakan hal ini?"

"Tidak, aku tidak pernah merencanakan hal itu, aku tidak ada urusan dengan mereka lagi, jadi buat apa aku merencanakan hal itu,"

"Tapi kau adalah pemimpin mereka,"

"Memang, aku adalah pemimpin mereka, namun mereka punya cara tersendiri untuk merencanakan apapun yang mereka suka, jujur, aku sama sekali tidak bisa membaca pikiran mereka,"

"Untuk apa kau menjadi pemimpin teroris jika tidak memiliki tujuan! Ha!" Sasuke mulai emosi dengan semua ucapan Orochimaru, sedang Orochimaru masih terlihat tenang dan selalu tersenyum menatap Sasuke.

"Jangan emosi seperti itu, tentu saja aku punya tujuan, aku ingin menghancurkan kota Konoha dan membangunnya lagi dengan pengawasanku, hanya saja, kau bisa lihat sendiri, aku terkurung di sini, dan tujuanku terhenti, tapi mereka memiliki tujuan tersendiri dan aku tidak bisa melarang mereka, kata-kataku benar kan, Uchiha Sasuke?"

Sasuke terdiam, menenangkan pikirannya, kata-kata Orochimaru semua benar, pemikiran teroris akan selalu seperti itu, kedatangannya mengunjungi Orochimaru hanya sia-sia, Sasuke pemit dan berbegas pergi, saat keluar dari ruangan kunjungan, Sasuke melihat seseorang dengan rambut yang berwarna mirip Prof. Kakashi namun terlihat rapi dan sedikit panjang, terlihat dari bagain belakangnya, rambut yang di ikat.

"Sasuke?" ucap orang itu.

Sasuke masih terdiam dan tidak mengenal orang yang ada di hadapannya,

"Kau benar-benar mirip Itachi,"

Saat orang itu mengucapkan Itachi, wajah Sasuke mulai terlihat bosan, ini untuk kesekian kalinya dia di kenali karena wajahnya mirip Itachi.

"Aku tidak mengenal anda?"

"Seperti yang di katakan Itachi, kau ini terlihat sangat cuek,"

"Anda siapa?"

"Perkenalkan, aku Kabuto, aku salah satu teman Itachi, kami bergerak di bidang yang sama,"

"Oh,"

"Apa kau juga mengunjungi Orochimaru?"

"Iya,"

"Aku baru kembali dari kota Suna dan juga ingin mengunjungi Orochimaru,"

"Apa hubungan kalian?"

"Kami teman lama, aku dulunya asisten Orochimaru, sekarang aku yang menggantikan posisinya di Akatsuki, dan sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya, malah sekarang dia menjadi orang yang jahat, hahaha,"

"Aku permisi dulu, ada yang harus aku lakukan," ucap Sasuke dan bergegas pergi.

Kabuto melambaikan tangan ke arah Sasuke dan kini berjalan masuk kedalam ruangan kunjungan.

"Oh, ada tamu lagi, hari ini banyak yang merindukanku yaa," ucap Orochimaru.

"Penjara di sini tidak membuatmu bosan?"

"Sama sekali tidak, di sini lebih enak,"

"Kau keenakan sampai-sampai lupa dengan tujuanmu,"

"Posisiku sudah di ganti dan aku hanya akan menjadi penonton saja,"

"Dari dulu sampai sekarang kau selalu terlihat santai,"

"Tentu saja hidup ini harus di nikmati,"

"Uhm, ada yang ingin berbicara denganmu,"

Kabuto mengeluarkan ponselnya dan menaruhnya di atas meja, menekan beberapa tombol dan menghubungi sebuah nomor.

"Kapten..., apa kabarmu baik-baik saja?" terdengar sebuah suara dari ponsel itu.

"Dasar anak rubah, kau selalu berisik, tidak ada yang paling enak selain tinggal di sini,"

"Hahaha, baguslah kau senang di sana,"

"Apa yang kau lakukan sekarang?"

"Aku sibuk bekerja,"

"Oh, kau akhirnya kerja juga,"

"Lumayan, aku bisa makan ramen gratis setiap hari,"

"Kau masih suka dengan ramen Konoha ternyata,"

"Tentu, tidak ada ramen yang seenak di Konoha, eh, nanti kita mengobrol lagi, aku mau antar pesanan lagi,"

Naruto penutup ponselnya dan bergegas mengantarkan pesanan beberapa orang.

.

.

.

Naruto sampai di rumah terakhir, lagi-lagi dia akan mengantar ramen ke rumah Kakashi, terlihat dari wajahnya saja sudah tidak enak, apa lagi kalau bertemu dengan prof. Kakashi, tapi paman Teuchi lebih parah lagi kalau tahu Naruto tidak mengantarkan pesanan ke pelanggan, dengan wajah suram dan berat hati Naruto mengetuk pintu rumah Kakashi, tidak lama kemudian pintu itu terbuka, dan terlihat laki-laki yang sama membuka pintu saat Naruto mengantarkan pesanan dulu.

"Ramen Ichiraku, aku mengantarkan pesanan Prof. Kakashi,"

"Antarkan sendiri ke ruangannya," ucap Sasuke, sedikit terlihat malas.

Naruto tidak bergerak dari tempatnya berdiri, "Uhm, apa aku bisa minta tolong?" ucap Naruto.

"Apa?"

"Tolong antarkan pesanan ini keruangan prof. Kakashi,"

"Tidak,"

"Heee, aku hanya minta tolong, aku tidak mau bertemu dengan prof. Kakashi, dia akan memarahiku lagi,"

"Aku tidak peduli,"

"Ini menyangkut kehidupanku,"

"Tidak, aku sedang sibuk," ucap Sasuke dan segera pergi ke kamarnya.

Wajah Naruto menjadi pucat dan dan kakinya sangat gemetaran memasuki rumah Kakashi, Naruto berjalan perlahan dan menyimpan semangkuk mie ramen terbungkus dan sumpit di atasnya tepat di depan pintu ruangan Kakashi, mengetuk beberapa kali pintu ruangan Kakashi, dan dengan kecepatan tinggi, Naruto berlari keluar.

Kakashi berjalan menuju pintunya, membuka pintu dan mendapati pesanan ramennya sudah datang.

"Dasar anak itu, pasti dia kabur lagi," ucap Kakashi mengambil mangkuk ramennya dan membawanya ke dalam ruangannya.


Masih ada waktu setengah jam lagi untuk kembali ke rumah sakit, Sakura tengah berjalan di tengah kota mencari beberapa alat, tanpa sengaja, Sakura bertemu dengan Naruto di jalan, Sakura yang masih memiliki jam kosong, memutuskan untuk duduk bersantai di taman bersama Naruto, mereka hanya menghabiskan waktu bersama untuk bercerita.

"Apa kau masih di nasehatin prof. Kakashi,"

"Hampir setiap hari dan hal yang paling tragis, prof. Kakashi langganan di tempatku bekerja," ucap Naruto sedikit suram saat mendengar nama prof. Kakashi.

"Oh, sekarang kau bekerja,"

"Iya, aku kerja di ramen Ichiraku, dan bisa dapat makan ramen gratis tiap hari, ehehehe,"

"Dasar kau Naruto,"

"Oh iya, aku pikir kamu yang masuk dalam daftar kejadian di bandara?"

"Kejadian di bandara? Uhmm..., sepertinya itu bukan aku, mungkin orang yang mirip saja, buktinya kau sendiri bisa lihat kan,"

"Iya juga ya, maaf-maaf,"

Tiba-tiba saja, Sasuke datang dan menarik Sakura, "Ikut aku," ucap Sasuke, dingin.

Naruto yang melihat Sakura langsung di tarik begitu saja, Naruto pun menarik lengan Sakura yang satunya.

"Hei, apa kau tidak lihat aku sedang berbicara dengan Sakura," ucap Naruto memasang wajah kesalnya.

"Aku tidak ada perlu denganmu," ucap Sasuke ikut-ikutan berwajah kesal.

"Aku tidak akan mengijinkanmu membawa Sakura begitu saja,"

"Cih, aku tidak butuh ijinmu,"

Mereka pun saling menarik-narik lengan Sakura dan Sakura sedikit kesal dengan tingkah mereka berdua.

"Ahk! Cukup! Jangan tarik-tarik aku!" ucap Sakura dan menarik kedua lengannya dari mereka.

"Maaf, Sakura," ucap Naruto.

"Aku mau kembali ke rumah sakit,"

"Biar aku mengantarmu," ucap Sasuke.

"Aku yang akan mengantar Sakura," ucap Naruto.

"Aku yang akan mengantarnya,"

"Apa kau bilang, aku tidak mendengarkannya,"

"Ya ampun, sudah-sudah, aku bisa pergi sendiri," ucap Sakura dan langsung meninggalkan mereka begitu saja.

Dan setelah itu...

"Ini semua salahmu, padahal aku masih kangen berbicara dengan Sakura," ucap Naruto sambil meminum teh dalam kemasan kaleng.

"Itu salahmu," ucap Sasuke cuek.

"Apa! Jelas-jelas itu salahmu yang langsung menarik Sakura begitu saja,"

"Memangnya apa hubungan kalian?"

"Aku dan Sakura sudah saling kenall sejak kecil, kau harus tahu itu,"

Sasuke sedikit terkejut mendengar kalimat Naruto, dan detik berikutnya Sasuke menjadi penasaran.

"Kalian sudah bertemu sejak kecil?" ucap Sasuke perlahan agar Naruto mau melanjutkan ceritanya.

"Iya, aku dan Sakura sudah bertemu saat Sakura masih kecil sekitar umur 5 tahun, orang tuanya membawa Sakura ke Konoha,"

"Lalu?"

"Saat menduduki bangku sekolahan, Sakura di bawa pergi, dan dia tidak memberitahukanku kemana perginya, setelah itu, entah mengapa aku bertemu dengannya lagi saat di perkuliahan, kami satu kelas, ehehehe,"

"Oh,"

"Hanya saja, aku sedikit risih dengan seseorang yang selalu mengajak Sakura pergi dari kelas,"

"Seseorang? Siapa? Seorang laki-kali atau wanita?"

"Seorang laki-laki, aku tidak mengenalnya, bahkan aku tidak melihat orangnya, aku selalu tertidur saat dia datang, tapi aku bisa mendengar jelas suaranya, dan Sakura sangat senang jika berbicara dengan orang itu, dan dia berasal dari kelas lain,"

Sasuke terdiam, penyelidikannya dan dugaannya selama ini sepertinya semuanya adalah hal yang salah, Sakura yang sekarang memiliki alibi sebagai warga negara di Konoha, dan Naruto adalah saksinya.

"Hei, apa kau mendengarkan,"

"Uhm,"

"Kau tahu, aku sepertinya menyukai Sakura, aah..~ dia semakin cantik saja,"

Tiba-tiba saja Sasuke memandang risih ke arah Naruto, tidak suka mendengar kalimat Naruto tadi.

"Sudah waktunya, aku duluan ya, dan jangan pernah sentuh Sakura, kau akan berurusan denganku," ucap Naruto dan segera berlari menuju ramen ichiraku.


Di kantor

Saat ini Sasuke hanya duduk bersandar di kursinya memejamkan matanya dan tangan kanannya memegang pelipisnya. Kasus ini semakin rumit dan tidak ada jalan keluarnya sama sekali.

"Bagaimana Sasuke? apa ada kabar terbaru," ucap Shikamaru.

"Tidak ada, entah mengapa kasus ini semakin rumit,"

"Semakin rumit?"

"Hn,"

"Ada apa?"

"Gadis yang bernama Sakura itu memiliki alibi, dia punya kenalan, mereka sudah mengenal sejak umur Sakura 5 tahun, dan juga Orochimaru, dia tidak mengatakan sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan kaki tangannya yang masih berkeliaran bebas di Kota Konoha,"

"Ternyata seperti itu, apa kau akan menyerah dengan kasus ini?"

"Tidak, aku akan tetap menyelesaikannya, ngomong-ngomong, apa data pengeboman di pusat perbelanjaan itu sudah rampung?"

"Sudah, ada 3 bom yang di pasang di lantai dua, dan semua sisi kamera sama sekali tidak menemukan orang yang mencurigakan menaruh benda seperti bom di sana, sepertinya mereka adalah orang-orang yang sudah terlatih untuk melakukan ini,"

"Mereka hanya orang biasa yang membaur dengan masyarakat," ucap Sasuke tiba-tiba, mengingat kata-kata Orochimaru saat pertama kali bertemu dengannya.

"Maksudnya?" ucap Shikamaru tidak paham dengan kata-kata Sasuke tadi.

"Itu adalah kalimat yang di ucapkan Orochimaru saat aku akan meninggalkan ruangan kunjungan,"

"Hmm.., sungguh merepotkan, masyarakat di kota Konoha ini sangat banyak, mana mungkin kita mengintrogasi mereka satu persatu,"

"Itu tidak perlu, aku akan mencari dan menemukan mereka,"


Naruto calling...

"Ada apa Naruto?" ucap Kabuto saat mengangkat ponselnya.

"Yo, Kabuto, aku punya kabar gembira," ucap Naruto senang.

"Kabar gembira?"

"Yaa, aku sudah menemukan pemegang kode bom nuklir yang di pasang tuan Orochimaru di Konoha,"

"Bagus Naruto,"

"Dan kau tidak usah melakukan apa-apa, kau hanya perlu duduk, diam, dan melihat kejutan yang ku buat, jangan lupa sampaikan itu pada tuan Orochimaru juga,"

Naruto menutup ponselnya, saat ini Kabuto sedang mengunjungi Orochimaru lagi.

"Sepertinya anak itu mau memberikanmu sebuah kejutan, dia menemukan orang yang tahu kode bom nuklir itu,"

"Oh, cepat juga anak itu bekerja,"

"Anak itu sangat terobsesi untuk menghancurkan kota ini, kau sangat hebat mendidiknya tuan Orochimaru,"

"Aku anggap itu sebagai pujian, dan sebaiknya kau segera hentikan signal pengubah CCTV itu, para anbu di sini cepat menyadari jika ada hal yang salah,"

"Baik-baik, uhm, satu pertanyaan buatmu tuan, bagaimana jika nantinya anak itu yang menjadi senjata bunuh dirimu?"

"Jika itu terjadi, aku sudah siap menanggungnya," ucap Orochimaru dan tersenyum di depan Kabuto.

.

.

.

Naruto kembali mengingat masa-masa di mana dia dibesarkan oleh Orochimaru, saat Naruto mulai paham segalanya, Orochimaru mulai menceritakan tentang orang tua Naruto yang mati demi menolong seluruh masyarakat di kota Konoha, dan setelahnya orang-orang itu lupa akan kedua orang tua Naruto, wajah Naruto menjadi kesal, beberapa barang di simpannya dalam tas, terlihat ada 4 buah bom, dan kali ini Naruto akan beraksi lagi di sebuah tempat yang sudah di targetkan Orochimaru, namun yang menjalankannya adalah Naruto.

Naruto mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, tidak menunggu waktu yang lama, Naruto sudah sampai di target berikutnya, rumah untuk para panti jompo. Rumah itu sangat besar dan terlihat tanaman di sekeliling rumah itu sangat terawat, Naruto dengan santai berjalan masuk ke dalam, membuka pintu perlahan dan terlihat ada seorang lansia yang sedang berada di depan pintu, Naruto terdiam dan menatap lansia wanita itu.

"Minato?" ucap wanita tua itu.

Naruto hanya terkejut, orang tua itu memanggilnya Minato, sedangkan Minato adalah ayahnya.

"Hei, teman-teman lihat siapa yang datang," ucap wanita tua itu lagi, dan tiba-tiba para lansia yang ada dalam ruangan itu berdatangan ke arah Naruto, mereka terlihat senang dan memanggil nama Minato berkali-kali.

Naruto masih terdiam, hingga seseorang datang dan menenangkan para lansia itu, namanya Shizune, dia adalah kepala dan pengurus bangunan panti jompo itu.

"Ada apa ini?" ucap Shizune,

"Nona Shizune, lihat, Minato kembali," ucap wanita tua itu, dan yang lainnya kembali ribut.

"Maaf, tapi kalian salah orang dia bukan Minato," ucap Shizune mencoba membawa mereka kembali ke tempat masing-masing, setelah kerumunan itu redah, Shizune kini menghampiri Naruto.

"Kau siapa? Dan ada perlu apa kemarin?"

"Maaf, aku hanya mampir sebentar saja ke sini, perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto,"

"Uzumaki Naruto? Astaga! Kau anak Minato dan Kushina ," ucap Shizune dengan wajah begitu kaget, "Pantas saja mereka mengira kau adalah Minato," lanjut Shizune.

"Hehehe, sepertinya aku datang membuat kekacauan,"

"Tidak apa-apa, mereka yang salah paham, mau berjalan-jalan sebentar?" ucap Shizune mengajak Naruto mengelilingi panti jompo yang lumayan luas ini.

"Boleh," ucap Naruto dan mengikuti Shizune.

"Apa kau tahu, bangunan ini didirkan atas perintah Minato, dulunya bangunan ini adalah laboratorium ayahmu, saat terjadi ledakan besar itu, bangunan ini jadi hancur, dan kembali di renovasi,"

Naruto masih terdiam, membuat dirinya berpikir, untuk apa mengancurkan bangunan yang ayahnya sendiri meminta untuk didirikan lagi.

"Oh iya, para lansia yang ada di sini adalah orang-orang yang selamat karena ayahmu, dan mereka tidak bisa melupakan kebaikan ayahmu,"

Saat Shizune menunjukkan sebuah ruangan, meskipun ruangannya tidak begitu luas, namun beberapa barang di dalamnya adalah barang peninggalan Minato dan Kushina.

"Mau melihat di dalamnya?"

Naruto mengangguk dan masuk kedalam ruangan itu, melihat berbagai catatan dan hasil penelitian ayahnya, di sebuah meja, terdapat foto Minato dan Kushina yang sedang hamil 8 bulan.

"Kau boleh mengambilnya jika mau," ucap Shizune saat melihat Naruto memegang foto kedua orang tuanya.

"Terima kasih, aku sangat ingin memiliki foto mereka,"

"Orang-orang yang ada di sini selalu mendoakan Minato dan Kushina, mereka tidak berhenti mendoakannya, karena mereka tahu tanpa Minato dan Kushina mereka tidak akan hidup sampai sekarang ini, mungkin jika kau perkenalkan dirimu pada mereka, mereka akan lebih senang lagi, uhm... satu hal lagi, mau berkunjung ke suatu tempat?" ucap Shizune kembali mengajak Naruto keluar ruangan itu dan keluar rumah panti jompo itu berjalan melewati arah belakang dan berjalan sedikit lagi ke dalam sebuah taman, di sana terlihat sepeti rumah-rumah kecil dan ada batu nisan yang besar, dua buah.

"Makam?" ucap Naruto sedikit bingung kenapa di ajak ke tempat itu.

"Ini adalah makam kedua orang tuamu,"

Entah mengapa Naruto merasa sesak di bagian dadanya, Naruto menundukkan wajahnya, melihat tingkah Naruto, Shizune pamit masuk ke dalam dan membiarkan Naruto mengunjungi orang tuanya.

"Ayah, ibu, apa kabar? Aku sangat merindukan kalian, kenapa kalian tidak bertahan dan membesarkanku,?" ucap Naruto dan dadanya semakin sakit, Naruto akhirnya terduduk dan terlihat sedih menatap makam kedua orang tuanya.

Setelah mendoakan makam kedua orangnya, Naruto kembali ke ruangan tempat benda-benda orang tuanya di simpan, Naruto sesekali mengacak-acak dan membaca beberapa catatan Minato, membuka laci dan rak-rak buku yang tertata di sana, tiba-tiba Naruto menemukan sebuah microcip dari dalam sebuah laci, kemudian Naruto membuka tasnya dan mengambil laptop mininya, memasukkan microcip dan mencoba membukanya, namun gagal, microcip itu terlindung oleh password, Naruto kembali berpikir mengingat apapun tentang ayahnya maupun ibunya namun sangat mustahil, saat Naruto di bawa Orochimaru, Naruto masih sangat kecil, dan masih tidak tahu apa pun, Naruto kembali mencoba dan memasukkan password.

U-Z-U-M-A-K-I N-A-R-U-T-O

Data yang ada di dalam microchip itu terbuka, saat mengklik sebuah data yang muncul, tiba-tiba sebuah video Minato dan Kushina muncul terlihat Minato begitu senang dan memperlihatkan kushina yang sedang hamil.

Mungkin saat kau sedang melihat video ini, kau sudah jauh lebih dewasa anakku, lihat, ini ibumu, dia cantik bukan?

Bodoh, jangan mengucapkan hal yang aneh-aneh.

Hahahah, kalau marah, Kushina sangat menakutkan.

Minato! Kau mengucapkan hal aneh lagi!

Maaf-maaf, jangan marah-marah, Nanti Naruto akan menendang perutmu lagi.

Uhk, dasar, anakku kalau sudah besar jangan seperti ayahmu yaa, dia itu pemalas, susah di atur dan hanya mau makan ramen saja.

Heee, kenapa malah menjelek-jelekkanku.

Biarkan saja.

Eh, sudah waktunya, aku harus pergi, oh ya satu pesan untukmu anakku, jadilah orang yang bisa ayah banggakan, pilihlah jalanmu sendiri namun jangan sampai langkah yang kau ambil salah, ayah dan ibu percaya padamu.

Sampai jumpa Naruto, ibu menyayangimu.

Video itu berakhir dengan senyuman terakhir dari Minato dan Kushina, tanpa sadar Naruto sudah meneteskan air mata, merasa sangat rindu dengan mereka, rindu mendapatkan kasih sayang dari mereka.

Naruto berjalan keluar ruangan itu dan menuju pintu keluar rumah panti jompo itu, saat akan keluar Shizune memanggil Naruto.

"Apa sudah mau pulang?"

"Iya, terima kasih untuk hari ini, oh ya mereka juga ingin ngucapkan sesuatu," ucap Shizune dan kembali Naruto di kerumuni oleh para lansia.

"Ternyata kau adalah anak Minato,"

"Mirip sekali,"

"Kami hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih,"

"Oh iya, datanglah bulan depan lagi, tepatnya tanggal 9 september, itu adalah tanggal kematian orang tuamu, kami melakukan beberapa acara untuk mengenang ayah dan ibumu,"

"Baiklah, aku akan datang lagi, terima kasih semuanya, ayah dan ibuku juga pasti sangat senang mendengarnya,"

Naruto pamit kepada semuanya dan kembali ke jalan dengan motornya, Naruto membatalkan rencananya hari ini, Orochimaru salah dalam menargetkan tempat pengeboman, namun Naruto kembali di buat bingung, untuk apa Orochimaru ingin menghancurkan tempat itu. Naruto memikirkan kembali semua kata-kata Orochimaru padanya, Naruto merasa ada kebohongan yang di simpan Orochimaru, Naruto memiliki bukti orang-orang Konoha tidak pernah melupakan orang tuanya.

Saat melewati sebuah jalanan, ternyata sedang ada pemeriksaan, Naruto yang sadar dengan isi tasnya berbalik dan melewati jalan yang lain, saat di depan jalan lain, masih terdapat periksaan, Naruto memutar lagi, dan kali ini masih tetap sama, Naruto berhenti sejenak dan memikirkan jalan lain, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, Naruto berbalik dan mendapati orang itu adalah Sasuke, Naruto membuka helemnya dan menyapa Sasuke.

"Yo, Sasuke,"

"Ternyata kau, ada apa berhenti di sini?"

"Sedang berpikir,"

"Berpikir?"

"Hahahah, Aku lupa arah,"

"Hn, Lewatlah di sebelah sana,"

"Baiklah, terima kasih Sasuke," ucap Naruto memakai helemnya kembali dan segera melajukan motornya menuju jalur yang di tunjukkan Sasuke, jalur itu aman dari pemeriksaan, hampir saja Naruto ketahuan kalau dia adalah kaki tangan Orochimaru.


Sakura berjalan menuju ruangan Tsunade, saat ini Tsunade memanggilnya, Sakura mengetuk perlahan dan pintu ruangan Tsunade bergeser, Sakura berjalan masuk dan menghampiri Tsunade.

"Ada apa Nona Tsunade?"

"Sepertinya cara seperti itu sangat sulit, mungkin jika kau bersama Sasuke kau akan mengingatnya,"

"Maksud nona Tsunade?"

"Saat kau bersama Sasuke kau cepat mengingat orang yang memberikan kode itu, mungkin jika terus bersama Sasuke kau akan mengingat semuanya,"

"Hoo, tentang kejadian, itu, uhm... itu terjadi begitu saja,"

"Sepertinya Sasuke bisa menjadi pemicumu,"

"Tapi nona Tsunade, aku sama sekali tidak mengenal Sasuke, aku merasa asing jika di dekatnya,"

"Kau mengenalnya, sangat mengenalnya, dan..., maaf, aku tidak akan membocorkan keadaan yang sebenarnya, bisakah kau menyelesaikan misi ini, dan kau bebas memilih, di non-aktifkan atau kau memilih kehidupanmu yang sekarang,"

"Uhm, aku paham nona Tsunade, misi ini akan segera aku lakukan, dan aku harap, aku segera mengingat kode itu,"

"Ambillah cuti, aku menginjinkanmu pergi untuk sementara waktu, atau sebaiknya kau membantu Kakashi, itu akan lebih baik, karena kau akan selalu bersama Sasuke,"

"Baik nona Tsunade,"


Pagi hari yang sedikit dingin, Udara di Konoha mulai mendingin, sepertinya sekarang adalah awal memasuki musim dingin, Sasuke yang masih terbaring di kasurnya menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya, Sasuke mencari ponselnya di bawah bantal dan menyalakan layarnya, pukul 09:30, tidak biasanya Sasuke akan telat bangun, dengan malasnya Sasuke berjalan menuju kamar mandi dan mulai bersiap-siap, keluar dari kamar dengan hanya mengenakan celana pendek dan handuk yang di kalungkan di leher, Sasuke berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dan di minum setengah, Sasuke melirik ke arah meja makan, sudah tersedia sarapan pagi, dalam pikiran Sasuke, tumben prof. Kakashi membuat sarapan dengan dirinya yang sangat sibuk begitu, Sasuke berjalan keluar dapur dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang akan masuk ke dapur, Sasuke dan orang itu mundur perlahan kebelakang, Sasuke menatap orang yang di tabraknya tadi.

"Sakura," ucap Sasuke perlahan.

Sakura yang sadar dengan tampilan Sasuke didepannya langsung membuang mukanya dan terlihat sedikit memerah.

"Ma-maaf,"

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Da-dari pada kau tanya itu, pakai dulu pakaianmu!" ucap Sakura berlari ke arah ruangan Kakashi.

Sasuke hanya bingung melihat Sakura yang tiba-tiba pergi, Sasuke masih tidak menyadari dengan penampilannya sekarang yang hanya memakai celana pendek tanpa adanya atasan.

.

.

.

Sasuke sudah berpakaian lengkap, saat ini dia sedang berada di meja makan, sarapan bersama Kakashi dan Sakura, Sasuke melirik ke arah Sakura.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Tentu saja sarapan,"

"..." Sasuke menatap tajam ke arah Kakashi.

"Dia akan tinggal beberapa minggu untuk membantuku," ucap Kakashi dan terus melahap sarapannya.

Sasuke tidak mengucapkan apapun dan segera menghabiskan sarapannya dan bergegas pergi.

.

.

.

Beberapa hari ini Sasuke terlihat sedikit suram, kasus yang sejak awal di seledikinya belum ada titik terang sama sekali, malah yang ada semakin rumit dan membuat Sasuke sakit kepala, di kamar, Sasuke hanya duduk dan termenung di depan laptopnya, bosan dengan keadaannya, Sasuke berjalan menuju ruangan penelitian Kakashi.

"Sasuke, ada apa? Tidak biasanya kau masuk ke sini," ucap Kakashi masih sibuk dengan keyboardnya dan sesekali menatap ke arah Sasuke.

"Aku hanya bosan di kamar,"

"Uhm, apa kau tidak mau pergi jalan-jalan?"

Sasuke menatap ke arah Kakashi, dan tiba-tiba tatapannya menjadi tambah suram.

"Tentu saja bukan denganku, maksudku jalan-jalan dengan Sakura," ucap Kakashi menghilangkan pikiran aneh di kepala Sasuke.

"Aku malas pergi dengan dia,"

"Kenapa? Dia juga sedang lagi kosong, jadi sebaiknya kalian berdua pergi jalan-jalan,"

"Dia terlalu cerewet,"

"Oh, terserah kau saja,"

Beberapa jam kemudian...

"Mau kemana?" ucap Sakura dan mengikuti Sasuke berjalan keluar.

Beberapa jam sebelumnya, Sasuke tiba-tiba mendatangi kamar Sakura dan mengajaknya keluar, Sakura hanya menatap bingung ke arah Sasuke, namun Sasuke yang tidak mau banyak bicara langsung berjalan keluar.

Sasuke masih terdiam dan tetap berjalan tanpa memperdulikan Sakura yang sedikit kesal dengannya, Sasuke seenaknya saja mengajaknya keluar dan sampai sekarang pun Sasuke tidak menjawab pertanyaannya 'mau kemana?'

"Sebaiknya aku pulang," ucap Sakura dan berjalan ke arah sebaliknya.

Sasuke berhenti berjalan, Sasuke kadang tidak ingin mengucapkan keinginannya secara langsung dan tipenya yang sedikit egois ingin orang di sekitarnya paham dengan maksudnya, namun Sakura yang kurang peka malah sebaliknya tidak peduli dengannya, merasa Sakura semakin jauh, Sasuke berjalan dengan cepat dan menahan Sakura dengan memegang lengan Sakura.

"Kita pergi ke tempat yang kau suka, terserah kemana saja," ucap Sasuke namun dengan wajah cueknya dan enggan menatap Sakura.

"Ke tempat yang aku suka, uhmm..., baiklah," ucap Sakura dan terlihat ceria.

Sakura berjalan lebih dulu dan menentukan mereka mau kemana, Sasuke yang merasa ini lebih baik dari pada di kamarnya berjalan dengan santai dan mengikuti Sakura.

Tempat pertama yang mereka kunjungi, cafe es cream, Sakura memesan es cream sedang Sasuke hanya memesan jus.

"Kau tidak mau es cream?"

"Tidak,"

"Mau mencobanya?"

"Tidak mau,"

"Hee, cobalah sedikit,"

"Tidak,"

"Sasuke,"

"A...," Sasuke tidak melanjutkan ucapnya karena satu sendok es cream sudah masuk ke mulutnya, wajah Sasuke berubah menjadi kesal, dia di kerjain Sakura.

"Enakkan?"

"..."

"Dasar, padahal itu enak,"

Setelah itu mereka berjalan-jalan ke tengah kota, terlihat begitu ramai, mereka berjalan cukup jauh dari rumah dan menemukan penjual-penjual yang berjejer di sepanjang jalan, di situ terlihat begitu ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang dan para penjual yang sibuk menawarkan barang-barang mereka.

Sakura terlihat begitu senang dan Sasuke yang melihat Sakura pun hatinya sedikit menjadi tenang, Sasuke merasa sedang pergi jalan-jalan dengan Haruno Sakura, tiba-tiba Sasuke menarik Sakura dan memeluknya.

"A-apa yang kau lakukan?" ucap Sakura dan wajahnya memerah.

"Kau hampir di tabrak, bodoh," ucap Sasuke.

Sakura yang saking senangnya jalan-jalan tanpa sadar ada kendaraan bermotor yang melaju dengan cepat dan hampir menabraknya, untung saja Sasuke langsung menariknya, Sasuke melepaskan Sakura dan berjalan lebih dulu.

"Terima kasih Sasuke,"

"Hn,"

Sepanjang hari mereka habiskan dengan jalan-jalan bersama, melihat-lihat toko-toko dan mencicipi beberapa kue dan lagi-lagi Sakura mengerjai Sasuke dengan menyuapi Sasuke kue yang sebenarnya Sasuke kurang suka, Sasuke yang tadinya kesal jadi membiarkan Sakura, melihat Sakura tersenyum dan tertawa seperti itu membuatnya ikut senang namun hanya perasaannya yang senang, wajahnya tetap saja terlihat dingin.


Dari atas sebuah gedung, seorang laki-laki dengan kulitnya yang putih pucat dan rambutnya yang berwarna putih, tengah melihat-lihat pemandangan kota Konoha dari atas gedung itu, terukir sebuah senyum di wajahnya dan...

BOOOM...!

Satu bangunan tinggi tiba-tiba meledak dan detik itu juga rubuh, di alihkan pandangnya lagi ke arah gedung lain, dan...

BOOOOM...!

Kini sudah dua gedung yang meledak dan rubuh begitu saja, sementara situasi di dalam gedung itu dan di luar gedung begitu berantakan, orang-orang yang di dalam gedung itu sama sekali tidak terselamatkan, begitu juga beberapa orang yang ada di luar gedung, mereka tertimpah reruntuhan gedung-gedung tinggi.

Laporan darurat, dua buah gedung tinggi di Konoha tiba-tiba saja meledak, sampai saat ini seluruh kepolisian, pemadan kebakaran dan ambulans sedang di arahkan ke tempat kejadian, terdapat banyak korban dan luka-luka dari kejadian ini.

Kakashi yang menonton berita itu hanya mematung dengan wajahnya yang begitu kaget.

Di tempat lain, Sasuke dan Sakura yang sedang berjalan-jalan tidak jauh dari tempat kejadian, terkejut melihat bangunan yang tiba-tiba hancur, Sasuke segera menggenggam tangan Sakura dan menarik ke sana, Sakura yang begitu penasaran ikut mempercepat larinya.


TBC

uhmm...~

lumayan seru nggk, *kagak ada yg jawab*

update lagi...

mohon di review