Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan.

Genre : Tragedy, Drama, Fantasy

Don't Like Don't Read

.

.

.

"Ternyata kau di sini ya," ucap seseorang dengan mata birunya berjalan menghampiri laki-laki dengan rambut putih yang sejak tadi berada di atap gedung dan melihat-lihat kekacau di tempat ledakan.

"Oh, Naruto, kau menemukanku," ucap Suigetsu, nama laki-laki berambut putih itu.

"Tentu saja, dari dulu sampai sekarang kau mudah di temukan," ucap Naruto dan berhanti melangkah.

"Hahahah, kau memang hebat Naruto,"

"Kau yang melakukannya?" ucap Naruto melirik ke arah dua gedung yang sudah hancur.

"Tebakkanmu benar," ucap Suigetsu dan bertepuk tangan.

"Dari mana saja kau?"

"Aku? Uhm..., hanya berjalan-jalan di kota ini, Kota Konoha ini sangat menarik yaa, sangat menarik untuk di hancurkan," ucap Suigetsu dengan tatapn serius dan kemudian dia hanya terdiam dan masih menatap Suigetsu.

"Oh iya, kau kan yang mengancurkan gedung di sebelah sana, padahal itu dulu targetku, gedung itu luas yaa,"

"Ya, aku yang meledakkannya,"

"Kau masih tetap hebat seperti dulu, gimana yaa kabar tuan Orochimaru sekarang?"

"Dia baik-baik saja,"

"Apa? Curang, dari mana kau tahu? Aku sama sekali tidak mendapatkan kabarnya,"

"Dari kabuto, aku hanya mengobrol dengannya lewat ponsel,"

"Uhm..., aku rindu dengan tuan Orochimaru yang selalu mengawasi dan mengajarkan kita banyak hal,"

"Itu hanya masa lalu," ucap Naruto menatap ke arah lain.

"Ada apa Naruto?"

"Tidak,"

"Uhm..., apa kau mau bekerja sama denganku?"

"Apa rencanamu?"

"Rumah sakit besar Konoha dan Kantor penegak hukum Konoha, bagaimana, pasti sangat seru,"

"Lakukanlah sesukamu, aku punya rencana sendiri,"

"Heee..., kau tidak mau bekerja sama denganku, kau ini selalu saja jahat dari dulu, sekarang pun tetap jahat,"

Naruto tidak peduli lagi dengan kata-kata Suigetsu, Naruto segera berjalan keluar dan menuruni tangga.

"Ya sudahlah, aku akan melakukannya sendiri, tapi sebelum itu, gedung yang di sana, BOM!" ucap Suigetsu dan gedung yang di tunjuknya langsung meledak dan runtuh.


Hari ini kantor penegak hukum di buat sibuk, mereka masih belum menemukan orang-orang yang mencurigakan atau siapa yang menjadi pelaku dari pengeboman tiga gedung sekaligus dalam sehari. Sasuke ikut bertambah pusing, kasus yang di seledikinya belum kelar, belum lagi kejadian tiga gedung yang hancur.

Neji dan Shikamaru sibuk mencari semua data CCTV di setiap tempat, Kiba dan akamaru masih ada di tempat kejadian perkara, Sai masih sibuk di lapangan untuk menanyai beberapa orang di sekitar gedung, sedangkan Sasuke masih sibuk menganalisis beberapa data.

Di setiap sudut jalan polisi berjaga-jaga, bahkan sampai beberapa anbu ikut berjaga-jaga, setiap orang yang berlalu-lalang akan di periksa dan begitu juga setiap kendaraan.

Naruto yang sedang bekerja mengantarkan ramen, ikut di periksa, Naruto mengatakan isinya hanya ramen dan Naruto mempersilahkan polisi itu memeriksa dalam kotak tempat ramennya, detik berikutnya Naruto sangat terkejut dengan isi dalam kota tempat ramen itu, isinya bukan ramen melainkan sebuah bom, bom yang dulu akan Naruto pasang di rumah panti jompo namun dia membatalkan niatnya.

Segera saja para polisi yang ada di situ menangkap Naruto dan segera membawanya ke gedung penegak.

Naruto sama sekali tidak melawan saat di bawa, dan polisi masih merahasiakan penangkapan ini kepada publik, Sasuke yang mendengar kabar ada seseorang yang di tangkap karena membawa semua bom, langsung berlari ke arah ruangan penahanan. Sasuke begitu kaget dan melihat siapa yang ada di dalam tahanan itu.

"Yo, Sasuke, apa kabar?" ucap Naruto, menyapa Sasuke dan tersenyum lebar.

"Apa-apaan ini, kau? Apa benar kau yang melakukan semua itu?"

"Tentu saja tidak, aku tidak melakukannya,"

"Tapi kenapa mereka menemukan bom di dalam kotak tempat ramenmu,"

"Ada yang sengaja menjebakku,"

"Meskipun kau ucapkan begitu mereka tidak akan mempercayaimu, data membuktikan hanya ada sidik jarimu yang ada di bom itu,"

"Uhm..., terserah kau saja, kau bebas memilih, bersalah atau tidak, datanglah ke panti jompo yang ada di pinggir kota Konoha, kau akan tahu segalanya," ucap Naruto dengan wajahnya yang serius, "Oh ya, jangan lupa, sampaikan salam ku pada Sakura, dan katakan aku menyukainya," lanjutnya dan nyengir-nyengir.

"Lakukan saja sendiri," ucap Sasuke dan bergegas pergi.

.

.

.

Sasuke yang pergi bersama Shikamaru, beberapa jam sudah sampai di tempat yang di katakan Naruto, Sasuke dan Shikmaru turun dari mobil dan berjalan masuk, di depan pintu terlihat Shizune yang mengajak mereka masuk dan duduk di ruang tamu yang ada di dalam gedung itu, Shizune kemudian memanggil salah seorang kakek yang ada di panti jompo itu.

"Namaku Sarutobi, ada apa kalian memanggilku," ucap Sarutobi, dia adalah mantan pemimpin di kota Konoha.

"Apa anda mengenal dia?" ucap Sasuke dan menunjukkan foto Naruto.

"Oh, anak itu," ucap Sarutobi dan mengisap cerutunya, menghembuskan asap dari mulutnya dan mulai bercerita.

"Dulu saat Konoha masih ada di bawah kepimpinanku, ada seorang anak yang bernama Minato, tidak lama anak itu tumbuh besar dan aku mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin selanjutnya, dia begitu pintar, rajin, dan sikapnya yang jujur, tekun dan seluruh masyarakat di Konoha menyukainya, dia mencoba melakukan sebuah penelitian bersama istrinya Kushina, mencoba menciptakan sebuah bom nuklir untuk pertahan Konoha, karena pada saat itu Konoha di incar oleh berbagai negera besar karena kekayaan alamnya yang melimpah dan masyarakatnya yang begitu makmur, namun saat penelitian itu terjadi sebuah kesalahan, nuklir itu tidak bisa di kontrol oleh mereka dan akhirnya ledakan besar terjadi di tempat ini, meskipun itu hanya sebuah bom kecil, namun nampaknya merusak seluruh tanaman dan pada waktu itu pun sumber air tercemar, beberapa orang menyalahkan Minato dan ada juga yang bersyukur karena Minato bersama istrinya mengobarkan diri mereka, seluruh warga yang ada di sekitar sini di evakuasi oleh Minato ke tempat dimana nuklir itu tidak akan mengenai mereka. Namun harus ada orang yang menahan dan mengontrol tempat itu, uhm..," Sarutobi mengisap kembali cerutunya dan menghembuskan asap, Sarutobi kembali bercerita, "Saat itu juga, Minato meminta Orochimaru yang merupakan anak didiknya untuk menjaga Naruto anakknya yang saat itu masih bayi, setelah kejadian itu Orochimaru membawa pergi Naruto dari Konoha, aku mendengar beberapa kabar dari mata-mata terpercayaku, kalau Orochimaru mendidik Naruto menjadi seorang anak yang dendam dengan Konoha, tenyata kabar itu benar, Orochimaru menjadi seorang teroris setelah dia di usir dari Akatsuki karena penelitiannya, dia mencoba mengkloning seseorang, dan kata mereka kloning itu gagal, namun Orochimaru menyembunyikan sebuah kloning yang berhasil, dan aku sangat marah padanya, dia mengkloning tubuh kakakku yang sudah mati, tobirama dan anak itu bernama Suigetsu. Naruto dan Suigetsu adalah kaki tangan Orochimaru, kedua anak itu di manipulasi oleh Orochimaru, membuat seakan-akan kota Konoha ini penuh dengan orang-orang yang sangat kejam dan tidak memilik belas kasihan, padahal itu berbanding terbalik dengan hal yang sebenarnya," Sarutobi terdiam sejenak.

Sasuke dan Shikmaru mendengar semua hal yang di ceritakan Sarutobi hanya bisa memasang wajah kaget dan yang ada di kepala Sasuke, semua teka-teki yang ingin di selesaikannya terjawab sudah.

"Kenapa anda tidak menceritakan semua hal ini dari awal?" ucap Shikamaru.

"Mereka berdua sangat membaur dengan masyarakat yang ada di Konoha, aku tidak bisa keluar begitu saja dari sini, mereka akan menemukanku, namun Naruto sudah bertemu denganku, dan aku sudah menjelaskan semuanya, sepertinya dia berencana menghancurkan tempat ini atas target Orochimaru karena aku berada di sini, tapi Naruto tidak melakukannya,"

Sasuke baru tersadar dengan kalimat Kakek Sarutobi, Kata kunci dari Orochimaru 'Mereka hanya orang biasa yang membaur dengan masyarakat' Sasuke akhirnya paham dengan maksud Orochimaru, pantas saja selama ini dia sudah bertemu dengan para tersangka namun Sasuke sama sekali tidak menyadarinya, Suigetsu, mungkin saja Sasuke sudah bertemu dengannya di sebuah tempat atau tanpa sengaja, akhirnya kasus yang di selidiki Sasuke mulai mendapatkan sedikit titik terang, tinggal masalah gadis itu, Sasuke merasa gadis itu ada hubungannya.

.

.

.

Di dalam ruangan tahanan sementara, Naruto hanya duduk terdiam, selama Naruto masih di proses, dia belum di bawa ke tempat tahanan yang sama dengan Orochimaru, Naruto masih merasa kesal, dia sudah tahu kalau Suigetsu akan melakukan hal ini padanya, tiba-tiba Naruto baru tersadar akan sesuatu.

"SIAPA SAJA! HUBUNGI SASUKE SEGERA!" teriak Naruto dari dalam ruangan tahanan, CCTV yang ada di ruangan itu dan tersambung langsung ke ruangan Yamato, Yamato bergegas menuju ruangan Naruto di tahan.

"Ada apa?" ucap Yamato.

"Bangunan yang di datangi Sasuke akan segera meledak,"

"Apa! Neji, segera sambungkan dengan ponsel Sasuke dan kirim devisi pengamanan"

"Baik pak," ucap Neji dan segera menyambungkan komputernya dengan ponsel Sasuke, selain itu, Neji mencari letak Sasuke dan segera mengirim datanya ke devisi pengamanan.

"Dari mana kau tahu kalau bangunan itu akan meledak, apa kau punya kaki tangan?" ucap Yamato.

"Bukan, dia sama sepertiku, dia akan menyelesaikan target dari tuan Orochimaru,"

"Target katamu?"

"Iya, aku tidak jadi menghancurkan bangunan itu, dan sepertinya Suigetsu menyadarinya,"

"Suigetsu? Apa dia kaki tangan Orochimaru?"

"Iya, dan aku menyadari adanya kesalahan dari apa yang di ajarkan Orochimaru, Konoha tidak seharusnya di hancurkan," ucap Naruto dan tatapannya seakan-akan sedih dengan keadaannya.

Yamato hanya terdiam dan menatap Naruto, Yamato menyadari sesuatu, Naruto mirip dengan Minato, "Sepertinya dia anak Minato," ucap Yamato dalam hati.

"Halo? Ada apa Neji?"

"Sasuke cepat selamatkan semua orang-orang yang ada di bangunan itu! Pergilah ke tempat persembunyian di bawah tanah, pintunya tepat berada di ruang tamu! Bangunan itu akan di ledakkan" ucap Naruto.

"Apa! Baiklah,"

Sasuke menutup ponselnya dan Neji segera memberi kabar ke Yamato tentang pasukan devisi pengamanan sudah menuju ke tempat Sasuke.

"Naruto, aku ingin dengar semua kesaksianmu," ucap Yamato, membiarkan Naruto keluar dari ruangan tahanan sementara.

.

.

.

"Ternyata dugaanku benar, kau semakin lemah saja, Naruto," ucap Suigetsu saat berada di depan gerbang panti jompo Konoha.

Suigetsu datang dengan membawa empat buah bom, dengan santainya Suigetsu berjalan masuk ke dalam halaman gedung itu, berjalan menuju tiap sisi dindingnya dan memasang satu buah bom, gedung itu tidak di fasilitasi dengan kamera CCTV dan pengawasnya pun hanya Shizune, sebenarnya ada dua anbu yang berjaga-jaga, namun mereka masih berada di daerah gedung yang di hancurkan kemarin.

"Setelah memasang ini, dan BOOM!, selesailah tugasku di sini," ucap Suigetsu dan berjalan keluar dari bangunan itu, setelah berada sangat jauh dari bangunan itu, dan...

BOOOOM...!

Seluruh bom yang di pasangan Suigetsu meledak bersamaan mengakibatkan bangunan itu hancur dan kobaran api menyelimuti banguan itu.

"Target selanjutnya, rumah sakit besar Konoha," ucap Suigetsu yang sudah berjalan jauh dengan menggunakan mobil menuju kota.

.

.

.

"Sasuke! Shikamaru ! jawab kami!" ucap Neji yang masih terus menghubungi mereka.

Saat itu semua devisi yang ada sedang berkumpul di ruangan tempat informasi, Neji masih belum bisa menghubungi Sasuke dan Shikamaru, devisi pengamanan masih berada di jalan dan 30 menit lagi mereka akan sampai.

Naruto masih belum tenang, di bangunan panti jompo itu ada orang-orang yang masih mengingat kedua orang tua. Yamato masih bersabar menunggu kabar Sasuke dan Shikamaru, mereka berdua masih juga belum bisa di hubungi.

"Tanganku sepertinya sedikit terkilir," terdengar sebuah suara dari alat komunikasi Neji.

"Shikamaru? Apa kalian baik-baik saja?" ucap Yamato.

"Yaa, kami baik-baik saja, kami melaporkan tidak ada korban dan semua selamat, hanya saja ruangan ini sedikit sempit," ucap Shikamaru.

"Kami masih ada di ruangan bawah tanah, kabari ke devisi pengamanan, kami tepat berada di ruangan tengah," ucap Sasuke.

"Baiklah, kalian bersabarlah dulu, mereka akan segera mengeluarkan kalian,"

Setelah pengeboman itu dan pasukan devisi pengamanan yang sudah sampai di tempat kejadian, segera memadamkan api bersama dengan pemadam yang mereka bawa dan juga beberapa anbu pun ikut membantu, beberapa menit kemudian mereka segera mengangkat bongkahan batu dari reruntuhan bangunan itu, sekitar satu jam kemudian seluruh penghuni yang ada di bangunan yang di bom tadi di keluarkan satu persatu, Sasuke dan Shikamaru menggendong beberapa lansia yang memang mereka hanya bisa berada di tempat tidur, beberapa ambulans sudah siap mengangkut mereka.

"15 menit dan 30 orang yang harus di selamatkan, sepertinya tenagaku terkuras abis," ucap Shikamaru.

"Uhm, untung saja kita sempat, kita harus berterima kasih kepada Naruto,"

"Iya, anak itu sepertinya sudah bosan menjadi teroris,"

"Atau dia sudah sadar akan tujuannya berada Konoha,"


Pukul 21 : 59

Sakura terlihat khawatir berjalan mondar-mandir di depan rumah Kakashi, berita kejadian di panti jompo itu sangat cepat tersebar, Sakura berhenti mondar-mandir dan menatap lurus ke depan, terlihat sebuah mobil hitam menurunkan seseorang, kemudian mobil itu melaju pergi dan orang yang turun tadi berjalan perlahan menuju Sakura, beberapa langkah dan dia berhenti, menatap seseorang yang sedang menatapnya dengan tatapan sangat khawatir, tiba-tiba saja Sakura langsung memeluknya.

"Syukurlah, kau tidak apa-apa," ucap Sakura dan menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan air mata, Sakura benar-benar khawatir dan takut jika terjadi apa-apa dengan Sasuke.

Sasuke yang kaget tiba-tiba di peluk hanya terdiam, Sasuke merasakan kalau Sakura sedang gemetaran, sepertinya dia takut akan sesuatu yang menimpahnya.

"Aku baik-baik saja," ucap Sasuke menenangkan Sakura.

"Maaf sudah memikirkan hal yang macam-macam," ucap sakura melepaskan pelukannya, "Aku hanya khawatir padamu," lanjut Sakura dan menatap ke arah lain.

"Hn, aku lapar, bisa masakkan sesuatu,"

"Tentu,"


Sasuke berjalan cepat memasuki ruangan Yamato, tanpa mengetuk dan menunggu di persilahkan masuk, Sasuke masuk begitu saja, di dalam ruangan itu terlihat Naruto yang sedang duduk santi dan berbicara dengan Yamato.

"Ada apa Sasuke? seperti biasa kau akan masuk secara paksa seperti itu,"

"Aku hanya ingin anda membebaskan Naruto dan membiarkannya membantu kami dalam penangkapan Suigetsu," ucap Sasuke begitu saja.

"Uhm…, seperti itu yaa," Yamato masih berpikir, sedang Naruto masih terdiam menunggu jawaban Yamato.

"Apa anda menyetujuinya?"

"Mau gimana lagi, hanya Naruto yang bisa menemukan Suigetsu, baiklah, aku perintahkan kalian untuk menangkap Suigetsu, hidup atau mati," ucap Yamato.

Sasuke dan Naruto pamit dan bergegas menuju ruangan Sasuke, sesampainya di sana, Neji, Sai, Shikamaru, dan kiba sudah bersiap menunggu mereka.

Naruto memberitahukan kepada mereka target selanjutnya Suigetsu, gedung rumah sakit konoha, mereka segera bersiap-siap menuju rumah sakit itu.

.

.

.

Suigetsu sudah berada tepat di gedung rumah sakit, berjalan masuk, beberapa orang juga berjalan masuk dan ada yang keluar, suasana di rumah sakit itu begitu tenang meskipun banyak orang yang sibuk ke sana kemari untuk menolong beberapa orang yang sedang dalam keadaan sakit, berjalan perlahan dan menghampiri ruang informasi, Suigetsu berbicara dengn seorang wanita yang sedang berjaga di tempat infomasi itu.

"Permisi, aku ingin bertemu dengan nona Sakura, apa kau bisa memanggilnya?" ucap Suigetsu dengan ramah.

"Sakura, baiklah, maaf, dengan siapa?"

"Katakan saja dari Naruto,"

"Baik, akan saya sampaikan, silahkan menunggu di ruang tunggu,"

"Terima kasih, oh iya, toiletnya di sebelah mana?"

"Dari ruang tunggu belok kiri terus lurus saja,"

Suigetsu tersenyum dan berjalan menuju ruang tunggu dengan membawa tas ranselnya yang berisi tiga buah bom.

Sakura berjalan menuju ruangannya dan membawa beberapa dokumen kesehatan pasiennya yang di rawatnya, sesampainya di ruangan, telpon yang ada di mejanya berdering, Sakura mengangkatnya dan hanya mendengarkannya, terlihat senyum di wajah Sakura, segera saja Sakura keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruang tunggu.

Di ruang tunggu, Sakura masih penasaran Naruto berada di mana, di liriknya kesana kemari, dan tidak terliat Naruto, hanya ada beberapa orang yang tidak di kenalnya sedang menunggu di ruang tunggu, Sakura masih menunggu dan Naruto tidak juga terlihat.

"Selamat siang nona Sakura,"

Merasa ada orang yang sedang memanggilnya, Sakura berbalik dan melihat seorang laki-laki yang sedang menatapnya dan tersenyum.

"Maaf, anda siapa?" ucap Sakura.

"Kau tidak mengenalku yaa, padahal Naruto selalu menceritakanmu,"

"Naruto?"

"Perkenalkan, namaku Suigetsu, sahabat Naruto, kami sudah bersama sejak kecil,"

"Salam kenal, teman Naruto ya, eh, Naruto tidak bersamamu?"

"Tidak, sepertinya dia akan ke sini sebentar lagi, maaf aku memanggilmu dengan menyebutkan Naruto, aku pikir kalau dengan namaku, kau tidak akan datang,"

"Oh, iya, tidak apa-apa, aku senang juga bisa mengenal dengan teman Naruto, padahal aku pikir Naruto itu selalu sendirian sejak kecil,"

"Aku bertemu dengan Naruto setelah dia di pindahkan dari Konoha, oh iya, bisa minta waktumu sebentar, aku ingin berbicara sesuatu denganmu,"

"Uhm, bagaimana yaa,"

"Sebentar saja, mungkin sekitar 30 menit saja,"

"Baiklah, hanya 30 menit ya,"

"Terima kasih,"

Suigetsu dan Sakura berjalan menuju parkiran mobil, Suigetsu membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Sakura masuk, Sakura tersenyum dan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba, Suigetsu membius Sakura dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius dengan kadar yang tinggi, dalam hitungan detik Sakura tidak sadar diri, Suigetsu segera masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi dari rumah sakit itu.

Sementara itu, Sasuke, Naruto, Kiba, Sai dan Shikamaru sedang berjalan masuk ke rumah sakit Konoha, sedangkan Neji masih berada di ruangan devisi penegak mencoba mencari berbagai informasi tentang Suigetsu.

Sasuke segera berjalan menuju ruangan Tsunade sedangkan Naruto, Sai, dan Kiba berpencar mencari bom yang sudah di pasang Suigetsu.

"Permisi nona Tsunade,"

"Aku sudah membaca pesanmu, jadi? Apa aku harus mengaktifkan pertahanan gedung rumah sakit ini sekarang?"

"Iya, dan cobalah tidak membuat panik orang-orang yang ada di dalam gedung ini,"

"Ahk, itu gampang,"

Tsunade segera berjalan menuju sebuah pintu yang ada di ruangan Tsunade, Sasuke di minta untuk mengikutinya, Tsunade membuka pintu itu dan terlihat ruangan yang tidak begitu luas, namun terdapat beberapa layar dan semacam kabel-kabel yang entah terhubung kemana saja, Tsunade berjalan menuju sebuah kursi dan mendekatkan mulutnya ke sebuah mic yang ada di meja itu, sepertinya layar yang terpapang itu adalah ruangan kendali dan CCTV.

"Hari ini akan di akan simulasi gempa, dan untuk semua pengunjung berhadap menunggu di ruangan tunggu, sedang para pasien harap tetap berada di ruangan masing, para perawat akan menemani kalian," ucap Tsunade, "Bagaimana? Gampang kan," ucap Tsunade kepada Sasuke.

Beberapa pengunjung yang ada di rumah sakit berjalan sesuai perintah para perawat dan petugas yang ada di situ, sedangkan para pasien tetap dengan tenang di dalam ruangannya, masing-masing kamar pasien sudah di temani dengan seorang perawat.

"Apa simulasi gempang ini akan lama?" ucap seorang kakek-kakek kepada seorang perawat yang menemaninya.

"Tidak akan lama, anda silahkan menunggu dengan sabar," ucap perawat itu dengan ramah.

Beberapa menit kemudian, semua sudah terkendali, para pengunjung dan pasien sudah pada posisi mereka, sedang para perawat dan penjaga yang sudah tahu sejak awal keadaan darurat ini tetap waspada dan berjaga-jaga.

Naruto dan yang lainnya sudah mencari keseluruh ruangan yang ada di rumah sakit itu, meskipun sedikit sulit dengan ruangan yang terlalu banyak dan rumah sakit itu cukup besar, dan mencapai 10 lantai. Mereka mencari ke tiap ruangan, sedangkan Tsunade sedang mencari melalui CCTV yang sudah di pasang di berbagai sudut rumah sakit ini.

"Ketemu," ucap Tsunade, semua bom itu di pasang di lantai dasar, sepertinya Suigetsu ingin menghancurkan bom itu dari dasar, "Dasar anak ingusan itu, berani sekali ingin menghancurkan gedungku, dia pikir gedung ini akan hancur semudah itu," Tsunade segera menekan tombol darurat.

Seluruh dinding yang ada di rumah sakit itu tiba-tiba bergoyang dan di lapisi dengan dinding yang bewarna perak kehitaman, dinding itu terbuat dari bahan yang sangat keras dan kuat, gedung rumah sakit ini sudah berdiri bertahun-tahun dan selama Tsunade yang memegang kedudukan sebagai kepala rumah sakit, gedung itu di renovasi berkali-kali dan akhirnya Tsunade memutuskan untuk bekerja sama dengan kota Suna dengan menggunakan bahan dinding pelapis yang tahan dari senjata tajam bahkan dengan bom sekalipun.

Sasuke yang melihat seluruh gedung berubah hanya bisa menatapnya tanpa berkedip, tidak tinggal diam, Sasuke segera menghubungi Naruto, untuk segera menjinakkan bomnya.

Naruto bergegas berlari menuju lantai dasar, meskipun seluruh dinding seperti terisolasi dengan dinding berwarna perak kehitaman itu, namun Tsunade memudah Naruto untuk melewati beberapa pintu darurat yang sudah di arahkan Tsunade.

Suasana di kamar pasien dan ruang pengunjung sangat tenang, pasien lebih memilih berbaring di kasurnya, sedang para pengunjung saling bercerita dengan pengunjung yang lain, mereka sangat tenang tanpa sadar dengan keadaan darurat di luar ruangan yang mereka tempati.

Naruto sampai ke bom yang pertama, waktunya masih tidak jalan, Naruto yang sudah sejak lama bersama Suigetsu paham dengan tipe bom yang di pasang oleh Suigetsu, Naruto membuka tas pinggangnya dan mengambil beberapa pemotong kabel, dengan hati-hati Naruto menjinakkan bom itu, beberapa menit kemudian dua bom sudah berhasil di jinakkan, bom berikutnya, namun Naruto berhenti dan tidak melanjutkannya, Naruto malah berlari ke arah sebaliknya, menjauh dari arah tempat bom itu.

DUUUUAAARRR...!

Untung saja dinding tempat Naruto berlindung sangat kuat dan tahan dengan ledakan, meskipun hanya satu bom, ledakannya membuat banguan rumah sakit itu sedikit bergetar, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, terdiam sejenak dan mereka benar-benar merasakan getaran yang terjadi, kemudian para petugas dan perawat menguncap simulasi sedang di mulai.

Sasuke yang melihat ledakan dari arah layar CCTV begitu kaget dan masih menunggu kabar Naruto, ledakan itu menimbulkan banyak asap dan Naruto masih belum terlihat.

"Tenang saja, dia akan selamat," ucap Tsunade.

"Hn,"

"Ledakannya lumayan besar, padahalnya hanya sebuah bom, anak itu benar-benar hebat dalam membuat bom, namun hanya hal yang bodoh jika dia ingin menghancurkan gedung ini," ucap Tsunade.

Beberapa menit kemudian, keadaan sudah kembali normal dan sistem darurat rumah sakit sudah di hentikan Tsunade, para pasien, pengunjung, perawat, dan petugas rumah sakit mulai beraktifitas seperti biasanya. Sasuke, Naruto, Sai, Shikamaru, dan Kiba masih berada di dalam ruangan Tsunade, membicarakan beberapa hal.

"Oh iya, aku tidak melihat Sakura," ucap Naruto.

"Sakura? uhm..., sepertinya dia sedang memeriksa,"


Sakura membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit berat akibat efek obat bius dengan dosisi yang terlalu tinggi di hirupnya, ruangan itu begitu sepi, yang terlihat dari ruangan itu hanya sebuah layar yang besar, beberapa tombol yang ada di mejanya dan terlihat seperti keyboard, di sampingnya tertulis, system nuchlear, Sakura mengucapkan dua kata itu dalam hatinya dan merasa tidak asing dengan dua kata itu, Sakura mencoba berdiri, namun ternyata kedua tangannya di ikat, Sakura merasa seperti berada di ruangan bawah tanah, Sakura memaksakan dirinya untuk bergerak dan mencoba dengan keras membuka ikatan di tangannya meskipun sampai membuat kedua pergelangannya lecet, Sakura terus mencobanya hingga tiba-tiba saja sakit kepalanya menyerang kembali, sangat sakit, hingga Sakura merasa ingin berteriak sekerasnya namun Sakura mencoba menahannya, dan akhirnya sakura menumbangkan dirinya ke lantai, Sakura merasa tidak tahan dengan sakit kepalanya, Sakura mencoba memejamkan matanya kuat-kuat mencoba menahan sakit kepalanya dan masih berusaha membuka ikatan di pergelangannya.

Sekilas terlintas dalam penglihatan Sakura, sebuah bandara yang hancur, diri sedang berlari bersama seseorang, Sakura membuka matanya, dan menutupnya kembali mencoba mengingat bayang-bayang yang selalu terlihat di pikirannya, mencoba mengingat tentang hal yang selama ini membuatnya seperti lupa akan hal yang penting, hal penting dan seseorang yang sangat penting baginya, tiba-tiba Sakura mengingat kembali bertemu seseorang yang seakarat di hadapannya, orang itu tertimpah bangunan, kemudian orang itu meminta Sakura mendekat dan orang itu berbisik, Sakura terkejut dan orang itu tersenyum.

Ingatlah baik-baik pesan itu, itu adalah...

"Kode mematikan sistem bom nuklir," ucap Sakura perlahan, sakit kepalanya menghilang dan Sakura akhirnya mengingat semua, mengingat siapa dirinya, untuk apa dia di hidupkan kembali, dan siapa orang yang selama ini dia harus lupakan, Sakura mengingatnya, membuat Sakura menteskan air matanya.

"Sasuke," ucapnya perlahan. Sakura mengingat orang yang membawanya lari selama dalam kejadian itu.

Ikatan di pergelangan Sakura melonggar, membuatnya dengan mudah membuka ikatan di tangannya, Sakura segera bergegas ke pusat sistem kendali yang ada di situ, mengetik beberapa data dan akhirnya masuk ke sistem nuklir.

Aktifkan Nuklir?

Matikan Nuklir?

Dengan cepatnya Sakura menekan data 'matikan nuklir' muncullah beberapa kolom, 'kode nuklir', Sakura mengetik semua kode yang di ingatnya dan memasukkannya dalam kolom itu, setelah kode yang Sakura masukkan terbaca, sistem nuklir mengkonfirmasi ke semua bom nuklir yang di pasang di bawah tanah kota Konoha yang berjumlah 10 buah bom nuklir, sangat pantas jika ingin menghancurkan kota besar itu.

Sistem nuklir yang sudah mengkonfirmasi untuk di matikan, segera memasukkan sebuah virus ke seluruh bom nuklir secara otomatis dan membuat nuklir itu tidak bisa meledak dan di gunakan kembali selama-lamanya.

Konfirmasi berhasil

Sistem nuklir berhasil di matikan

Membaca data yang muncul di layar besar yang ada di hadapan Sakura, membuat Sakura menjadi lengah.

"APA YANG KAU LAKUKAN...!"

Dengan marahnya Suigetsu memukul wajah Sakura, membuat Sakura terjatuh, tidak sampai di situ saja, Suigetsu mendatangi Sakura, menarik lengan Sakura dengan paksa dan memukul perut Sakura dengan keras, pukulan yang di terima Sakura cukup membuatnya serasa ingin mati saja, Sakura merontah-rontah kesakitan dengan air matanya yang sudah mengalir, di sudut bibirnya sudah terlihat robek dan berdarah. Sakura masih tidak bisa bangun dan memegang perutnya.

"KAU MENGHANCURKAN SEGALANYA, DASAR GADIS BODOH. APA KAU MAU MATI, HA!" ucap Suigetsu menjambak rambut Sakura dengan kasar, Suigetsu benar-benar marah.

Beberapa jam sebelumnya.

Saat itu Suigetsu yang sedang berdiri di atas gedung mengawasi hasil kerjanya, namun hal itu sangat mustahil, membuatnya hanya merasa kesal, bom yang di pasang di rumah sakit Konoha, tidak ada artinya apa-apa, dan juga bom yang lebih awal di pasang di kantor penegak hukum di Konoha sama sekali tidak ada hasilnya, ternyata dua bom yang di pasanganya sudah di temukan Naruto dan sudah di jinakkan sebelum Naruto dan yang lainnya menuju rumah sakit Konoha, gedung tempat Suigetsu berdiri dulunya adalah sebuah pabrik senjata dan sudah tidak di tinggali beberapa tahun yang lalu, dan di dalam gedung itu, lebih tepatnya lantai dasarnya, adalah tempat kendali bom nuklir yang di pasang Orochimaru, namun semua yang di rencakannya sia-sia.

Gadis berambut softpink yang tergeletak di lantai sambil menahan rasa sakit akibat pukulan Suigetsu, Sakura masih menangis dan menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya, Suigetsu yang masih marah dengan yang di lakukan Sakura membuatnya gelap mata, Suigetsu segera menodongkan senjata ke tubuh Sakura, dan...

Dooorrrr...!

Suigetsu tumbang di samping Sakura, tembakan yang tembus ke kepalanya membuat Suigetsu menghebuskan napas terakhirnya.

Sasuke segera berlari menuju arah Sakura. wajahnya begitu khawatir melihat keadaaan Sakura, Naruto yang sudah menembak Suigetsu berjalan ke arah tubuh Suigetsu yang sudah tak bernyawa, Naruto hanya tersenyum dan menghembuskan napas panjang, meskipun kehilangan teman, Naruto tidak merasa sedih sedikit pun, Naruto merasa Suigetsu pantas mendapatkan hal itu.

"Sakura! bertahanlah!" ucap Sasuke, membangunkan Sakura.

"Sa-Suke, a-aku baik-baik saja," ucap Sakura sambil menahan rasa sakitnya.

"Diamlah dan aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Sasuke dan langsung mengangkat Sakura dan menggedongnya di depan, "Bagaimana denganmu Naruto?" ucap Sasuke.

"Pergilah bersama Sakura, itu lebih penting, panggil saja, Kiba, Shikamaru, dan Sai, mereka akan membantuku di sini,"

"Hn,"

Sasuke berjalan keluar bangunan itu, sedangkan beberapa orang berjalan masuk ke gedung itu, Sasuke berjalan menuju mobilnya dan memasukkan Sakura, dengan Segera Sasuke melajukan kendaraannya menuju rumah sakit Konoha.


- Flash Back -

"Minato apa yang harus kita lakukan?" ucap Kushina begitu khawatir dengan percobaan nuklir mereka yang gagal.

Minato hanya tersenyum dan memeluk dengan hangat istrinya itu, Minato memberikan pilihan kepada Kushina untuk tetap hidup, namun tragisnya mereka berdua dan beberapa asisten pembantu Minato dan Kushina tewas saat tragedi ledakan nuklir di gedung penelitian Minato, Minato memberikan tanggung jawab kepada Orochimaru untuk menjaga anaknya, Uzumaki Naruto, dan dampak nuklir itu sampai ke radius beberapa meter, membuat orang-orang di sekitar ledakan itu terkena penyakit radiasi dari nuklir, bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhan mati mendadak.

Meskipun hal itu di jalankan oleh Orochimaru namun semuanya mulai berubah sejak Naruto berumur 4 tahun, Orochimaru di usir dari Akatsuki. Naruto masih belum mengetahui dengan jelas, hanya menerima begitu saja apa-apa yang ceritakan Orochimaru kepadanya, termasuk kedua orang tua Naruto yang tewas.

Saat Orochimaru dan Naruto tinggal di Konoha, Naruto bertemu dengan seorang gadis berambut softpink, gadis itu bersama Haruno Sakura, mereka berdua mulai sering bermain bersama, saat Sakura pindah, Sakura tidak mengucapkan selamat tinggal kepada Naruto, Mendengar kabar Sakura pindah, membuat Naruto sedikit sedih, Naruto merasa kembali sendirian.

Saat berumur 5 tahun, Naruto di masukkan ke sebuah tempat pendidikan di Konoha, namun isu kedua orangnya cepat beredar dan masih di ceritakan beberapa orang yang masih merasa tidak suka dengan apa yang di lakukan kedua orang tuanya, Naruto selalu sendiri dan di jauhi bahkan di kucilkan oleh teman-teman sebayanya, akhirnya Naruto meminta ke Orochimaru untuk segera pindah dari kota Konoha.

Orochimaru mengajak Naruto ke kota Suna dan mereka tinggal di pinggiran kota, tidak lama kemudian, Orochimaru memperkenalkan Suigetsu kepada Naruto, Saat itu Suigetsu masih sedikit pemalu, lama-kelamaan mereka menjadi akrab meskipun Suigetsu selalu di jahili Naruto.

Saat itu...

"Apa yang kau buat Naruto?" Tanya Orochimaru.

"Sebuah bom, bom ini cukup kuat jika meledak," ucap Naruto sibuk merakit sebuah bom.

"Dan kau Suigetsu?"

"Aku mencoba membuat pengendali jarak jauh, jadi bom ini bisa aku ledakkan sesukaku,"

Mereka berdua di didik Orochimaru menjadi seorang anak yang hanya patuh kepadanya dan mereka sudah sejak kecil di berikan misi untuk mengancurkan Konoha.

15 tahun kemudian, mereka bertiga terpisah, Orochimaru pergi bersama dengan Kabuto, sedang Suigetsu berkeliling-keliling kota dan pindah-pindah entah kemana, sedangkan Naruto kembali ke Konoha dan melanjutkan pendidikannya di universitas Konoha, tanpa sengaja, Naruto kembali bertemu dengan Sakura, mereka satu fakultas dan juga satu kelas.

Selama perkuliahan, Naruto hanya tertidur dan tidak mendengarkan prof. Kakashi yang sedang mengajar, saat jam selesai pun Naruto masih tertidur.

"Apa sudah selesai?" ucap seorang cowok yang selalu masuk ke kelas Sakura, cowok itu adalah pacar Sakura, Uchiha Sasuke, sejak SMA mereka sudah bersama.

"Tentu," ucap Sakura dengan senang.

"Dia?" ucap Sasuke dan menunjuk ke arah samping Sakura, terlihat seorang cowok dengan rambut blondenya tertidur pulas. Dengan membaringkan wajahnya di meja dan Sasuke tidak melihat dengan jelas wajah teman sekelas Sakura itu.

"Dia temanku sejak kecil, dan kebetulan sekali kita bertemu kembali,"

"Kau tidak membangunkannya?"

"Uhm, biarkan saja, dia memang suka begitu, sebaiknya kita pulang," ucap Sakura, sebelum pulang, Sakura menepuk bahu Naruto dan mengucapkan sampai jumpa, kemudian Sakura berjalan bersama Sasuke keluar kelas.

"Apa? Aku tertidur lagi," ucap Naruto yang tiba-tiba sudah sadar dari tidur nyenyaknya dan berjalan keluar kelas sambil menguap dengan lebar.

.

.

.

Di bandara, seseorang sedang berjalan dalam ruangan bandara dengan wajahnya yang sedikit takut, dia adalah pelayan Orochimaru, pelayan itu tanpa sengaja mendapat kode sistem me-non-aktifkan bom nuklir yang di tanam di Kota Konoha, mendengar itu, lelaki tua itu segera mencari ruang keamanan, Orochimaru yang mengetahui tindakan pelayannya itu, langsung saja membuat keributan dengan mengendalikan pesawat yang akan mendarat dengan sistem kendali otomatis yang dibuat oleh Orochimaru, pesawat itu tiba-tiba tidak bisa di kendalikan oleh para pilot dan pesawat itu tepat mengarah ke bangunan bandara, Orochimaru memilih menghancurkan satu bandara dari pada harus membunuh satu orang dan hal itu akan mengundang banyak masalah, dengan hancurnya bandara, beberapa orang tewas, salah satunya pelayan Orochimaru dan juga tujuan awal Orochimaru untuk menghancurkan Konoha di mulai, namun hal itu tidak berlangsung lama, Yamato beserta beberapa orang dari devisi penegak tim Yamato dan anbu bekerja sama menangkap Orochimaru dan memasukkannya ke tahanan khusus teroris.

_ Ending flash back _


Sasuke berjalan menuju ruangan dimana Sakura di rawat, saat membuka pintunya, ruangan Sakura kosong, Sasuke yang melihatnya segera mencari Sakura di dalam ruangan itu, namun Sakura sama sekali tidak ditemukannya, kemudian Sasuke berlari ke arah ruangan Tsunade dan seperti biasa, Sasuke akan masuk seenaknya tanpa permisi.

"Ada Sasuke? kau selalu saja masuk tanpa mengetuk dulu," tegur Tsunade.

"Dia tidak ada di kamarnya,"

"Uhm, naiklah ke lantai atap gedung ini, dia menunggumu di sana," ucap Tsunade yang masih sibuk dengan data-data yang ada di meja kerjanya.

Setelah Sasuke mendengar ucapan Tsunade, segera saja Sasuke mencari lift, masuk ke dalam lift dan menekan tombol R, pintu liftt terbuka dan terlihat matahari yang mulai tenggelam dan langit senja, Sasuke berjalan keluar lift dan mencari sesosok gadis berambut softpink, beberapa meter di sebelah kiri dari lift, terlihat Sakura sedang berdiri dan memandangi langit di sore hari, Sasuke berjalan dengan santai menuju Sakura.

"Sakura,"

Merasa seseorang memanggilnya, Sakura berbalik dan tersenyum melihat seseorang yang sudah di tunggunya beberapa menit yang lalu.

"Aku akan menceritakan semua, siapa sebenarnya aku,"

Sasuke menatap ke arah Sakura dan detik berikutnya wajah Sasuke berubah menjadi serius, mendengar ucapan Sakura, Sasuke mulai penasaran, Sasuke berjalan sedikit dan menduduki sebuah tempat duduk yang ada di situ, Sakura tidak bergerak dan hanya berdiri menunggu Sasuke duduk, setelah itu...

"Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diriku, salam kenal namaku, sampel 002,"

Sasuke terdiam, namun di kepalanya sudah muncul berbagai pertanyaan, Sasuke masih tetap tenang dan menunggu Sakura melanjutkan ceritanya.

"Aku hanya sebuah kloning, sampel 000 dan 001 gagal dalam awal pembuatan, mungkin aku kloning kedua yang berhasil di buat, kloning yang pertama bernama Suigetsu, dia adalah kloning yang lebih dulu di buat oleh Orochimaru dan nona Tsunade sudah lama mengetahuinya, setahun yang lalu setelah kematian Haruno Sakura, nona Tsunade segera membuat kloningnya dengan menggunakan sistem rekayasa genetika, memang hal ini melanggar aturan kehidupan manusia, namun hal ini juga sangat penting untuk seluruh orang-orang yang tinggal di kota Konoha, sebelum Sakura mati, dia mengucapkan sebuah kode, namun dia tidak bertahan, dan menghebuskan napas terakhirnya saat di bawa ke rumah sakit Konoha, dalam pembuatan kloning, selama setahun aku di masukkan ke dalam tabung berisi nutrisi dan dengan obat-obat yang di racik oleh nona Tsunade, tubuh kloning ini di paksa untuk tumbuh sesuai usia Haruno Sakura dan prof. Kakashi yang menanamkan semua ingatan Haruno Sakura,"

"Jika semua ingatan Haruno Sakura ada padamu, kenapa..."

"...Aku tidak mengingatmu? itu kan yang akan kau tanyakan,"

Sasuke kembali terdiam dan lagi, menunggu Sakura melanjutkan ceritanya.

"Nona Tsunade dan prof. Kakashi memanipulasi ingatanku dengan menghilangkan semua ingatan tentang Uchiha Sasuke, itulah sebabnya aku masih mengingat semuanya kecuali kau, tujuan mereka agar misiku tidak berantakan dan membuatku tidak deprsi, soalnya dalam ingat Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke, ada ingatan dimana Haruno Sakura sebenarnya sudah mati, misiku untuk mengingat kode untuk menonaktifkan bom nuklir yang di pasang Orochimaru,"

Sasuke yang mendengarnya merasakan nyeri di bagian dadanya, meskipun wajahnya tetap tenang, namun perasaannya tidak bisa berbohong.

"Siapa yang memberimu misi, apa nona Tsunade dan prof. Kakashi?"

"Bukan, bukan mereka, mereka hanya membuatku, yang memberikan perintah dan bertanggung jawab atas misi ini adalah Yamato, kepala pimpinan penegak hukum di Konoha,"

Sasuke berdiri dan wajahnya begitu terkejut, Sasuke akhirnya mendapatkan semua jawaban dari pemikirannya sejak awal mengungkapkan kasus yang sedang di selidikinya, Yamato tidak memberikannya data tentang Haruno Sakura, selama ini Yamato sengaja menghilangkan data Haruno Sakura.

"Ada apa Sasuke?"

"Tidak, lanjutkan saja," Sasuke kembali tenang dan kembali duduk.

"Saat aku di tangkap Suigetsu, aku mengingat semuanya, kode dan juga kau, Uchiha Sasuke, dan aku akhirnya sadar, siapa aku dan apa tujuanku untuk hidup, aku tidak lain hanya sebuah boneka untuk sebuah misi dan itu tidak lebih, sebelum ke sini, aku sudah berbicara dengan nona Tsunade untuk meminta ijin menceritakan semua hal ini kepadamu, nona Tsunade memberimu pilihan….," Sakura terdiam sesaat, detik berikutnya Sakura melanjutkan kalimatnya "kau bebas menentukannya, aku sampel 002 di matikan atau kau mengijinkanku untuk tetap hidup dengan menggunakan ingatan Haruno Sakura," raut wajah Sakura berubah, meskipun dirinya hanyalah sebuah boneka, tetap saja, dalam ingatannya dan semua ingatan itu membuatnya juga merasakan sakit, sakit akan takut kehilangan Sasuke yang sebenarnya itu adalah ingatan dan perasaan milik Haruno Sakura.

"Kau bebas memilih apapun," ucap Sakura dan tertunduk sedih.

Sasuke masih terdiam dan masih tetap duduk dan memperhatikan Sakura, tatapannya begitu dingin, wajah Sasuke masih tenang dan Sakura masih tetap tertunduk, tidak ingin menatap Sasuke.

"Aku, uhm, aku akan menerima apapun pilihanmu, aku..."

Tiba-tiba Sakura terkejut, Saat ini Sasuke memeluknya dengan erat, Sakura bingung harus mengucapkan apalagi, rasa rindu dalam ingatan Haruno Sakura membuat sampel 002 hanya bisa terdiam, dan merasakan kehangatan dari pelukan Sasuke.

"Apa kau sudah selesai berbicara?" ucap Sasuke tanpa mengubah posisinya.

Sakura masih terdiam, Sasuke mengeratkan pelukannya, namun Sakura masih tidak membalas pelukan Sasuke, Sasuke tahu kalau saat ini Sakura sendiri merasa bimbang akan pilihan yang di sampaikan Tsunade.

"Kau bebas memilih, Sakura," ucap Sasuke.

Tatapan Sakura membulat, Sakura menutup matanya dan air matanya mengalir, Sakura membalas pelukkan Sasuke dengan erat.

"Aku tahu, kalau aku hanya boneka dengan ingat Haruno Sakura, namun, aku pun ingin merasakan apa itu hidup, aku ingin tetap berada di dunia ini, aku.. hiks.. aku ingin tetap bersamamu, Sasuke," tangis Sakura pecah, Sakura terus menangis dan memeluk Sasuke.

Sasuke yang mendengar ucapan Sakura, menutup matanya dan tersenyum, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya, Sakura melepaskan pelukannya menatap wajah Sasuke dengan matanya yang basah akibat air matanya.

"Senang bisa bersamamu lagi,"

"Aku juga,"

Sasuke mengeratkan pelukannya dan perlahan menutup matanya, menempelkan bibirnya ke bibir Sakura, Sakura menutup matanya dan juga memeluk erat Sasuke, membiarkan Sasuke menciumnya dengan perasaannya yang begitu menyayangi Sakura.

Aku mencintaimu Sakura...


Gedung tahanan teroris.

Orochimaru berjalan santai dengan rantai di kedua tangannya dan kakinya, berjalan menuju ruangan kunjungan bersama dua orang anbu yang mengawal Orochimaru. Sesampainya dia ruang kunjungan, Orochimaru membuka pintunya dan masuk ke dalam, Terukir sebuah senyum di wajah Orochimaru.

"Lama tak jumpa, Naruto," ucap Orochimaru berjalan menuju kursinya.

"Uhm, sudah lama kita tidak bertemu,"

"Tidak biasanya kau mengunjungiku, apa kau merindukanku?"

"Hahaha, kau ini, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membuatku bisa hidup sampai sekarang ini, meskipun aku ingin membalaskan dendamku, membunuhmu sudah tidak ada gunanya lagi,"

"Oh, akhirnya kau sadar anakku, aku sudah tahu kau pasti akan datang untuk menagih nyawaku," Orochimaru hanya tersenyum menatap Naruto.

"Maaf sudah membunuh Suigetsu, aku kan sudah bilang padamu, sejak awal aku tidak menyukainya," ucap Naruto dengan nada marah yang di paksakan.

"Aku tahu Naruto, tidak apa-apa, aku tidak akan memarahimu karena sudah menghancurkan karya ku yang sempurna, membuatku sedikit puas dengan apa yang sudah aku berikan kepadamu,"

"Mulai dari sini, aku akan mengubah apapun yang salah dariku dan bergerak sesuai kemauanku tanpa adanya paksaan dan tekanan,"

"Lakukanlah sesukamu, kau terlihat lebih dewasa sekarang,"

"Uhm, aku permisi dulu, dan kau akan di batasi dengan kunjungan," ucap Naruto dan berjalan keluar ruangan kunjungan.

Ucapan Naruto hanya membuat Orochimaru tersenyum, paham dengan maksud Naruto, Orochimaru tidak terlalu begitu pedulinya, saat ini dia akan menghabiskan seluruh waktunya di ruangan tahanan tanpa bertemu dengan siapapun.

"Senjata yang sudah ku buat kini berbalik menjadi senjata bunuh diriku," gumam Orochimaru saat Naruto sudah keluar dari ruangan itu.

.

.

.

Tepat tanggal kematian kedua orang tua Naruto, janji Naruto untuk mendatangi perayaan mengingat kedua orang tuanya di tepati, meskipun bangunan panti jompo sedang dalam proses pembangunan, tidak menurunkan semangat beberapa warga yang ada di situ untuk memeriahkan perayaannya, Naruto begitu senang dan mendapatkan banyak traktiran makanan.

Ayah, Ibu, aku akan menjadi anak yang tumbuh sesuai keinginan kalian,

selama ini aku memang salah, dan tidak semestinya kota yang kalian cintai ini aku hancurkan

maaf...,

aku akan mengambil jalanku sendiri,

aku... akan merubah diriku dan menjadi seseorang yang dapat di andalkan

aku sangat merindukan kalian

semoga kalian tenang di sana

dari anak kalian, Uzumaki Naruto


3 tahun kemudian,

Ruangan devisi bagian penegak terlihat sedang sibuk dan dengan tambahan orang baru dalam tim Sasuke, meskipun mereka kadang sedikit cekcok tidak membuat kerja sama mereka menurun, Naruto yang mempunyai catatan kejahatan tidak jadi di hukum seperti Orochimaru, Yamato melihat adanya peluang kerja sama yang bagus antara Sasuke dan Naruto, membuat Yamato mengangkat Naruto untuk bekerja di devisi penegak.

Terkadang setelah pulang kerja, Naruto akan mengajak Sasuke untuk memakan ramen di tempatnya dulu bekerja ramen Ichiraku, meskipun tidak lagi bekerja, Naruto masih sempat mendatangi tempat itu.

Saat ini sakura sibuk bekerja dengan Tsunade, permintaan Sasuke yang di ucapkan Sakura untuk tetap hidup di kabulkan Tsunade, dan Tsunade sendiri pun merasa tidak tega untuk mematikan Sakura, sehingga Tsunade memberikan pilihan untuk mereka. Prof. Kakashi masih tetap dengan kesibukannya mengajar dan meneliti di ruangan laboratoriumnya.

Kabuto yang sudah tidak bisa lagi mengunjungi Orochimaru meninggalkan Konoha dan memulai kembali bisnisnya.

.

.

.

.

.

Sasuke berjalan dengan santai menuju rumahnya, saat ini sudah pukul 19:01. Sesampainya di depan pintu rumahnya, bukan rumah Kakashi, setahun sebelumnya, Sasuke sudah membeli rumah Sendiri dan tidak lagi tinggal lagi bersama Kakashi, Sasuke berjalan masuk dan membuka sepatunya, dari arah pintu menuju ruang tamu, terlihat seorang gadis kecil yang umurnya 2 tahun dengan rambut hitam pendeknya dan matanya yang sama persis dengan Sasuke, gadis kecil itu menatap ke arah Sasuke dengan wajahnya yang mungil dan sedikit malu, Sasuke mantap gadis kecil itu, tersenyum ke arahnya dan menggerakan tangannya seperti sedang memanggil gadis kecil itu, meskipun masih dengan wajahnya yang malu-malu, gadis kecil itu berlari ke arah Sasuke, Sasuke duduk di teras dan membiarkan gadis kecil itu memeluknya.

"Ayah," ucap gadis kecil itu dengan wajahnya yang polos namun terlihat sangat senang saat memeluk Sasuke.

Sasuke yang melihat sikap anaknya itu, kemudian mengelus-ngelus perlahan puncuk kepala anak gadisnya.

"Sarada, apa ayah sudah pulang?" ucap Sakura dari arah dapur.

"Iya," teriak Sarada dengan suara cemprengnya dari arah teras.

Sasuke kemudian berdiri dan menggedong Sarada menuju ke arah dapur.

"Aku pulang, Sakura," ucap Sasuke.

Sakura berhenti melakukan kesibukannya di dapur, berjalan menghampiri suaminya, Uchiha Sasuke.

"Tumben kau cepat pulang?"

"Uhm, pekerjaanku sudah selesai, jadi aku langsung pulang,"

"Mandilah dulu, aku sudah siapkan makanan," ucap Sakura.

"Ibu.., Kata ayah, kita akan ke taman besok," ucap Sarada yang masih di gendong Sasuke. Sakura tersenyum dan membelai lembut pipi anaknya.

"Kita akan akan pergi bertiga," ucap Sarada senang.


_END_

.

.

.

.

akhirnya...!

jujur, memikirkan judulnya berhari-hari, bingung dengan judulnya, terlalu fokus pada isi ceritanya sampai melupakan judulnya

semoga endingnya bagus, *berharap*

dengan ini mohon reviewnya

aku tidak bisa berkata-kata banyak, silahkan di review dan aku akan membalasnya jika ada yang bertanya... XD