Chapter 2

A/N : Ada sedikit NaruSasu nya, gomen kalo aku bikin Naruto nya agak 'ehem' , malah Gaara yang kesannya 'nyerobot' peran 'utama' XD *digetok Naru*

-Sasuke's PoV-

You used to captivate me by your resonating light..

Jumat malam adalah hari kepulangan ayahku, beliau—dia memang hanya pulang setiap akhir pecan karena jarak rumah dengan kantornya tak memungkinkan baginya untuk pulang pergi bolak balik. Hn, syukurlah, begitu lebih bagus, aku tak ingin berlama-lama berada satu udara dengan orang yang sudah merenggut cintaku.

"Bagaimana wisuda mu, Sasuke? Apa nilaimu memuaskan?" Tanya ayahku.

Seperti biasa, yang ada dikepalanya hanya prestasi, harga diri, martabat dan reputasi. Kebesaran nama Uchiha selalu dibebankan sebagai warisan paling berharga pada setiap keturunannya, dan itu membuatku muak, atau mungkin akulah yang akan menghancurkan kebesaran nama Uchiha. Oke, itu ironis, jangan dibayangkan.

"Hn, bukankah dengan memastikannya sendiri, maka kau akan lebih mengerti?" jawabku ketus, bahkan mengembalikan pertanyaannya.

Ibuku datang dan memelukku.

"Sasuke sayang, tak bisa kah kau sedikit sopan pada ayahmu? Beliau capek dan rindu padamu.."

Aku melepas pelukan ibuku. Membekukan tubuhku. Membalikkan badanku membelakangi keduanya.

"Aku tidak. Maaf.."

Ayahku beringsut dari sofa dan bermaksud menghampiriku dengan tatapan marah. Namun ditahan oleh ibuku, ibuku member syarat agar aku segera naik ke lantai atas. Aku tak peduli, sekalipun ayahku menghajarku saat ini pun aku siap, untuk apa aku hidup tanpa Itachi disampingku? Aku hanya menoleh ke arah mereka dengan tatapan dingin dan berjalan keluar pintu.

"Sasuke, mau kemana nak?" Ibuku bertanya dengan nada khawatir.

"Biarkan saja anak itu, membangkang orang tua.." jawab Ayahku.

Aku hanya menyungging senyum sinis dan menghentikan langkahku sebentar.

"Aku menginap dirumah Naruto, aku bosan.." Hanya untuk menjawab pertanyaan ibuku.

Lalu melanjutkan langkah pelanku keluar rumah. Malam kian larut dan aku tahu si bodoh Naruto pasti sudah mendengkur dikasurnya, tapi aku tak peduli, aku tahu Naruto akan selalu membukakan pintu untukku, minimal jendela kamarnya. Langkah pelanku berubah menjadi sedikit berlari, seolah aku ingin berlari dari siksaan ini dan ingin berlari ke arah Itachi berada.

"Nii-san.. bawa aku pergi.." geramku perih.

Now I'm bound by the life you left behind…

Kamar Naruto terlihat gelap, seperti yang ku duga, dia pati sudah tidur. Aku pun memanjat pohon disamping kamarnya dan mendarat pelan di genting rumahnya, lalu mengetuk jendela kamarnya perlahan.

"Dobe—oi.. Bangun.. biarkan aku masuk.."

Tak ada jawaban, aku tak ingin berlama-lama diluar sini dalam keadaan begini, salah-salah aku akan dikira pencuri. Aku mulai kesal dan mengambil ponselnya—menghubungi Naruto. Benar saja, kulihat si bodoh itu kaget dan nyaris terjatuh dari ranjangnya mendengar panggilan telepon selular yang ditaruh dibawah bantalnya.

Kumatikan panggilan teleponku padanya dan lanjut mengetuk jendelanya, dan tentu saja respon positif kali ini kudapatkan. Naruto beranjak dari tempat tidurnya dan membuka jendela sambil menguap dan menggaruk kepala belakangnya. Semakin terlihat bodoh. Aku hanya menaikkan sebelah alisku melihatnya.

"Nanda? Teme ka? Tumben.. masuklah.."

Dengan malas dan langkah yang sedikit terhuyung, Naruto menyalakan lampu dan seketika ruangan kembali terang benderang. Aku masuk dan langsung duduk di bangku meja belajarnya. Sementara ia duduk dikasurnya bersiap untuk tidur lagi.

"Aku kabur dari rumah.." ucapku membuka pembicaraan, ingin melihat reaksi si pirang hiperaktif ini.

Naruto kembali merebah di kasurnya.

"oh, begitu? Hebat ttebayo.." jawabnya malas.

Dan itu hanya beberapa detik karena ia langsung membuka matanya dan spontan lompat dari tempat tidurnya menghampiriku.

"Teme, kau bercanda kan? Apa maksudmu kabur dari rumah, ttebayo?" tanyanya dengan suara keras sambil mengguncang-guncang badanku.

"Menyusul Itachi, sudah jelas.." jawabku singkat.

Naruto mengacak-ngacak rambutnya kesal dengan sikap keras kepalaku, dan kembali menatapku dengan tajam.

"Jangan bodoh, Teme.. Kau tak tahu Itachi berada dimana, dan kau bilang menyusul? Menyusul kemana? Negeri khayalan? Kau membuatku tertawa—ttebayo.."

Aku merasakan adanya kekhawatiran yang mendalam diantara kata-kata Naruto, aku tahu ia tak kan mengizinkanku, aku tahu ia mengkhawatirkanku, ia selalu ada untukku, dan ia yang paling tahu tentang alasan kepergian Itachi. Karena itulah, aku bisa berdiri sampai disini karena Naruto yang selalu meyakinkanku bahwa suatu saat aku akan bertemu lagi dengan kakakku—kekasihku.

Tapi, sudah cukup. Aku mengerti bahwa keajaiban tak akan datang jika aku tak membuatnya, aku lah yang akan membuat keajaiban itu. Aku akan menemukan Itachi, bagaimanapun. Aku ingin bersamanya, ingin melanjutkan kata cinta yang pernah terucap dari mulutku dan mulutnya. Aku ingin pergi bersamanya—sekalipun ke surga.

"Terserah apa katamu, Dobe. Tapi mulai besok aku tak kan kembali ke rumah yang dingin itu.. Karena itulah, malam ini biarkan aku menginap disini.. kau tidurlah, aku tidur disi-.."

Kata-kataku terputus saat kurasakan bibir Naruto mendarat dibibirku, mengunci mulutku. Sesaat setelah itu, tanpa sempat aku berontak, tangan Naruto sudah mencengkeram kerah bajuku, menarikku dengan kasar dan menghempaskan tubuhku di kasurnya.

"Na—hmmpp.."

Lagi-lagi Naruto menjamah bibirku dengan paksa. Aku menahan badannya sekuat tenagaku, memukul dadanya dan berusaha menendangnya. Namun tenaganya kuakui lebih besar dariku, terlebih kini posisinya sangat mendominasiku. Aku hanya bisa menggigit bibirnya saat kurasakan lidahnya mencoba masuk kedalam mulutku.

"Apa yang kau lakukan, Naruto?" Seruku panik, sambil terus menahan badannya agar tetap berjarak dariku.

Aku menatapnya penuh rasa takut, namun ku lihat sinar mata Naruto meredup, seolah bukan aku yang ada dihadapannya. Namun, tetap terbesit rasa sakit dimata Naruto, itu yang kulihat. Aku bingung, takut dan menyesal telah memilih Naruto sebagai tempat bersandarku malam ini.

Your face it haunts my once pleasant dreams..

"Lupakan Itachi, Sasuke—lihat aku.." bisik Naruto.

Kali ini tangannya mencengkeram tanganku yang sedang menahan dadanya, menaruhnya diatas kepalaku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku menyadari Naruto kembali mendekatkan mukanya ke arahku, aku menekuk kakiku berusaha meletakkannya diantara perutku dan perut Naruto, bermaksud menendangnya, namun yang kurasakan hanya milik Naruto yang menegang menekan perutku. Aku merasa mual.

Gigitan gemas mendarat dileher kananku, Naruto menjamah bagian tubuhku yang lain, yang hanya ingin kuberikan pada Itachi, aku tak ingin disentuh siapapun selain Itachi. Aku menancapkan kuku ku ditangan Naruto yang sedang menggenggam tanganku. Hanya itu perlawanan terakhirku yang mungkin tak kan berefek banyak.

"Nii-san… tasukete…" Rintihku pilu.

Tentu saja, rintihanku yang bukan memanggil nama Naruto semakin menyulut emosi Naruto yang diselimuti nafsu. Ia semakin kuat mencengkeram tanganku hingga aku merasa tanganku membeku karena tak ada aliran darah yang bersirkulasi disitu. Naruto menghisap leherku hingga memerah, aku putus asa, bagaimana jika esok aku bertemu Itachi dan Itachi melihatnya? Aku akan dibenci oleh orang yang kucinta. Itachi akan berfikir aku mengkhianatinya.

"Hentikan, Naruto.. kumohon.."

Dengan suara lemah aku memohon pada Naruto yang masih menyerangku dengan membabi buta. Aku hanya berdoa suaraku sampai padanya, dan mengurungkan niatnya. Menyadarkannya bahwa tindakannya ini menyiksaku.

"Kenapa? Sasuke—kenapa bukan aku?"

Kurasakan tetesan panas mendarat dileherku, disertai dengan bisikan pilu dari Naruto. Cengkeraman tangannya mengendur dan sebelum aku sempat menoleh kearahnya, Naruto sudah mengangkat tubuhnya dari tubuhku dan memalingkan mukanya dariku, ia duduk dipinggir kasur membelakangiku. Aku buru-buru merubah posisiku dan turun dari tempat tidurnya.

"Pergilah, aku bisa menyerangmu lagi jika kau disini, menginaplah di tempat Gaara, aku akan meneleponnya, maaf atas tindakanku barusan.." lanjutnya.

Tanpa menjawab apa-apa karena masih diselimuti kepanikan dan ketakutan, aku hanya bisa memandangnya dalam diam, dan beranjak menuju jendela lalu keluar.

"Maafkan aku, Sasuke.. Aku khilaf.. Tapi, aku mencintaimu.." bisik Naruto.

Your voice it chased away all the sanity in me..

Aku berlari menuju rumah Gaara, seperti yang disarankan Naruto tadi, aku tak bisa berfikir apapun lagi, aku tak ingin tahu apapun lagi, mengapa aku jadi selemah ini? Mengapa aku tak berdaya tanpa kakakku? Mengapa Naruto menyerangku? Padahal ia teman baikku? Kenapa?

"Kakak… lihatlah aku yang sekarat tanpamu…" Aku menangis walau tak ada airmata yang keluar, saking pedihnya hingga aku lupa caranya menangis.

Aku memandang langit sambil terus berlari. Aku meratap pada takdir, sampai kapan takdir akan bermain dengan ku dengan mimpi buruk ini? Itachi, apa kau membuangku? Apa kau tak melihat aku yang hancur tanpamu?

"Sasuke-" Sebuah suara memanggilku.

Langkahku terhenti, nafasku terengah dan menengok ke belakang. Sesosok lelaki manis berambut merah dengan tattoo di dahinya berdiri dibelakangku dengan tatapan bingung, tangannya tergantung seolah ingin melambai padaku.

"Ada apa? Naruto barusan meneleponku untuk menjemputmu dirumahnya.."

Seolah melihat oase di gurun yang panas, aku berjalan gontai ke arah pemuda gothic itu, tak menjawab sapaan dan pertanyaannya, aku langsung merebahkan kepalaku didadanya. Mencengkeram lengan atasnya berusaha mengatakan padanya bahwa aku butuh pertolongannya.

Remaja bersurai merah itu memelukku dengan hangat dan mengusap punggungku dengan lembut seolah berusaha menenangkanku, tak ada suara yang keluar dari mulutku atau mulutnya. Aku tahu dia memang jarang berbicara, aku mengangkat kepalaku dan memandangnya, manic hijau danau miliknya membalas pandanganku dengan seulas senyum tipis yang menenangkan.

"Gaara-"

Yang kusebut namanya barusan hanya menaruh jari telunjuknya dibibirku sambil terus tersenyum dan mengusap pipiku. Lalu menggeleng pelan.

"Kita ke rumahku sekarang.."

I've tried so hard to tell myself that you're gone…

Sesampainya dirumah si surai merah itu, aku langsung diantar ke kamarnya, sepertinya Naruto tidak bohong bahwa ia menelepon Gaara untuk 'menitipkanku' padanya. Terlihat dari kamar Gaara yang terlihat rapi, dengan sebuah kasur lantai dibawah ranjang single nya. Ia menyiapkannya untukku.

Tak lama, pintu kamar Gaara pun terbuka dengan Temari dibalik pintu terebut membawakan coklat hangat dan beberapa kue manis. Kakak sulung Gaara yang terkenal galak itu kali ini terlihat begitu ramah—mungkin karena iba padaku. Aku tak peduli, Gaara memberikan isyarat pada kakaknya itu agar meninggalkan kami dan Temari pun menutup pintu kamar Gaara kembali.

"Sasuke, kau tak perlu cerita apapun jika itu menambah bebanmu—karena aku sudah tahu semuanya.."

Ia memandangku dengan teduh, dibalik wajah stoic nya ternyata tersimpan empati yang mendalam, itulah mengapa ia pernah bilang padaku bahwa ia sama denganku, topeng indah diwajah hanya alat untuk menutupi luka yang mendalam di hati, kini aku mengerti arti dari kata-katanya.

"Aku tak kan memberikan saran apapun padamu karena aku tahu kau bukan anak kecil, kau punya prinsip dan pendirian sendiri, berikut dengan kesiapan tanggung jawab atas resiko dari keputusan apapun yang kau ambil.."

Aku hanya diam mendengarkan kata-kata Gaara yang penuh dengan misteri dan ambiguitas, berusaha mencerna arah pembicaraannya, karena aku merasa bahwa dibalik kata-katanya yang bersifat universal terdapat kesan individualis yang ditujukan untukku, khusus untukku. Sejauh itukah si mata Panda itu mengerti masalahku? Ah, siapa peduli? Syukurlah jika ia tahu, aku tak perlu lelah menjelaskan ulang padanya.

Gaara menyodorkan segelas coklat hangat padaku.

"Nanti keburu dingin, coklat bisa merilekskan pikiran.." ujarnya lembut sambil kuterima tawarannya.

Perlahan, aku menghabiskan coklat manis itu dan memang sedikit berkurang rasa berat di hati dan pikiranku, mungkin dengan begini aku bisa beristirahat sebentar, menunggu pagi—menunggu hari dimana aku akan mulai membuat keajaiban dengan tanganku sendiri.

But though you're still with me, I've been alone all along…

Sudah hampir dua puluh jam, aku berada dirumah Gaara, dan selama itu pula tak ada suara yang keluar dari mulutku, Kankurou merasa sedikit gerah dengan diamku namun dialihkan oleh isyarat dari Gaara. Akhirnya ia pun memutuskan untuk meninggalkan rumah dan Gaara hanya menghela nafas panjang. Temari pun hanya bisa menyunggingkan senyum tipis, aku tahu dia bingung, aku juga sebenarnya tak mau bersikap tak sopan seperti ini pada orang yang sama sekali tak ada hubungannya dengan masalahku, terlebih Gaara sudah menolongku. Tapi entah mengapa, dadaku terasa begitu sesak, hingga berbicara saja aku tak sanggup.

Pagi tadi sebenarnya aku sudah bermaksud akan keluar dari rumah Gaara, namun Gaara menahanku, mungkin saat semalam Naruto menelepon Gaara, ia sudah memperingati si mata Panda untuk menahanku dirumahnya. Dasar Dobe berisik, itulah kadang aku tak suka padanya. Terlebih sebelumnya ia melakukan hal yang memuakkan padaku. Begitupun aku tak bisa membencinya.

Aku duduk disofa menyilangkan kakiku dan melipat tanganku didada, aku mulai kehilangan kesabaran dan mulai memikirkan cara agar bisa kabur dari Sabaku Residence ini. Aku ingin mencari kakakku, aku ingin menebus dosaku, apapun yang akan terjadi nanti aku tak peduli, asalkan Itachi berada didepan mataku. Hingga ponsel Gaara tiba-tiba berdering, dan aku tahu siapa yang menelepon saat Gaara mendenguskan sebuah nama "Naruto" dari bibirnya.

Tak peduli aku terus memandang keluar, walaupun pembicaraan mereka terdengar – hanya suara Gaara maksudku, tapi aku tak menghiraukannya. Perhatianku teralihkan saat Gaara memberikan Remote Televisi dan mengarahkannya kea rah TV seolah mengisyaratkanku untuk menyalakan benda itu. Dengan malas aku mematuhinya, kunyalakan TV dan kulihat Gaara mengibas-ngibaskan tangannya menyuruhku mengganti Channel dan tak lama ia member aba-aba 'Stop' lalu ia menutup teleponnya.

Dengan bingung aku memandang Gaara dengan sedikit menaikkan sebelah alisku. Ia mendekatiku, duduk disampingku dengan mata yang berbinar dan senyum yang melebar. Aku mendengus kesal dan menutup mataku malas, hingga telingaku menangkap suara yang sangat ku kenal dari arah televisi.

[[ Jumpa Fans ini bukan hanya bertujuan untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada para pembaca dan penggemar karyaku, tapi juga untuk memberikan sebuah pesan udara bagi orang yang paling kucintai didunia ini..]]

Dengan gemetar, aku menoleh ke arah layar televisi dan benar saja, sesosok lelaki tinggi dengan rambut lurus dan dikuncir ekor kuda di tengkuknya, terlihat sedang berbicara di depan banyak microphone, dengan banyak manusia disekitarnya, kamera dan cahaya-cahaya lampu—apalah itu. Ia menggunakan kaos hitam dengan ditutupi oleh blazer abu-abu dengan tersemat bros berbentuk kipas lambang keluarga Uchiha.

[[ Sasuke, jika kau berada diseberang sana, kuharap kau mendengar suaraku, aku merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu, kembalilah dan tinggallah bersamaku, datanglah ke Studio Kyuubi aku menunggumu disitu dua puluh empat jam dari sekarang..]]

Airmataku jatuh, keajaiban itu benar-benar ada. Tuhan itu ada dan ia tidak tidur, ia hanya menguji kesabaranku dan bernegosiasi dengan kebijaksanaan sang waktu untuk menunjukkan keajaiban ini padaku. Aku melirik Gaara dimana ia sudah menyiapkan senyumnya untukku dan mengangguk meyakinkanku.

"berdoalah kedua orang tuamu tak melihat acara ini.." ucap Gaara singkat.

Tanpa menunggu lagi, Gaara langsung menyambar jaket dan helmnya, lalu mengeluarkan motornya. Aku mengikutinya dan naik ke jok belakang. Motor pun melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Perkiraan menurut Gaara perjalanan ke tempat yang dimaksud adalah sekitar tiga jam menggunakan motor tanpa macet.

-End of Sasuke's PoV-

Sekitar dini hari, Gaara memarkirkan motornya di halaman parkir belakang gedung tinggi yang dimaksud Itachi di siaran langsungnya tadi, setelah mengamankan helm dan jaket, Sasuke dan Gaara bergegas masuk kedalam gedung tersebut. Walaupun mereka tak tahu dimana tepatnya Itachi berada, mereka berpegang pada ruang jumpa pers yang tadi ditayangkan ditelevisi.

Dengan bertanya pada seorang satpam yang setengah mengantuk, mereka mendapat petunjuk bahwa ruangan tersebut ada di lantai lima belas koridor sembilan sebelah Barat. Sasuke dan Gaara menerobos masuk ke dalam ruangan yang sepi walaupun masih terang benderang itu.

Sepi. Tak ada siapapun saat kedua pemuda tampan itu masuk ke ruang jumpa pers yang di maksud satpam tadi. Sasuke berkeliling ruangan luas itu sementara Gaara keluar ruangan lagi mencari seseorang yang sekiranya bisa memberikan informasi. Sayangnya, mereka tak tahu profesi Itachi apa hingga semakin menyulitkan mereka untuk mencari petunjuk, ini gedung stasiun televisi yang besar dan tak mungkin setiap pegawai disana hafal setiap artis-artis mereka.

"Itachi.." Bisik Sasuke.

Sasuke menahan nafasnya berusaha tenang dan meyakinkan dirinya bahwa Itachi ada di suatu ruangan dan sedang menunggunya. Ia percaya kakaknya tak kan bohong. Terlebih dia mendeklarasikan hal 'indah' tadi didepan publik, dimana setiap orang yang sedang menonton pasti akan menjadi saksi. Namun, ada sedikit keraguan dalam hati Sasuke, dimana logikanya berkata jika memang Itachi adalah seorang publik figur, seharusnya saat Itachi menyebutkan lokasi dimana mereka akan bertemu, pasti tempat tersebut akan penuh dengan fans atau wartawan dan apalah itu namanya.

Otak Sasuke mulai bekerja, ia berfikir dan mencoba menganalisa apa maksud Itachi memberikan petunjuk yang ambigu seperti ini. Ia mengingat-ingat dan mencoba menyambungkan kemungkinan-kemungkinan sekaligus ketidakmungkinan yang ada.

"Studio Kyuubi… Dua puluh empat jam dari sekarang.." Gumamnya.

Ia mengingat saat Itachi melakukan siaran langsung itu adalah jam sembilan malam, berarti Itachi akan menunggunya sampai jam sembilan malam berikutnya. Terlalu cepat bila ia sudah sampai ditempat yang dituju dalam waktu tiga jam. Tidak, bukan itu masalahnya, petunjuknya bukan di waktu.

"Bukan- Itachi tidak disini…" Desis Sasuke.

Ia berdiri bermaksud keluar dari ruangan, dan Gaara yang bermaksud masuk kontan langsung 'ditabrak' oleh Sasuke. Sasuke terdorong mundur dan nyaris jatuh, namun Gaara secara insting langsung menarik tangan Sasuke.

"Ada apa, Sasuke? Kau terlihat panik…" Tanya Gaara bingung.

Sasuke menunduk, dan menggeleng pelan.

"Itachi—tidak disini, dia ada ditempat lain, aku ingat dan aku ingin kau mengantarku kesana.." Jawab Sasuke pelan.

Gaara yang masih kebingungan, hanya bisa mengangguk dan mengejar Uchiha bungsu yang sedang berlari seolah dia berada dalam dunianya sendiri. Sasuke yang biasanya terlihat tenang, cuek dan dingin, kali ini terlihat begitu cemas dan gelisah, ini pertama kalinya Gaara bertemu dengan Sasuke yang seperti ini. Walaupun Gaara maklum, tapi tetap saja dia sebagai sahabat sedikit mengkhawatirkannya.

"Studio Kyuubi yang dikatakan Itachi itu memang nama tempat, tapi bukan Studio atau semacamnya, itu hanya akal-akalan Itachi untuk menghindar dari kejaran wartawan dan fans, atau mungkin untuk mengelabui orang tuaku. Itachi tak sebodoh itu. Sebenarnya itu petunjuk untuk nama tempat terakhir aku merayakan tahun baru bersama Itachi, dan dua puluh empat jam dari sekarang itu bukan jangka waku yang diberikan Itachi untuk menungguku, tapi petunjuk akurat untuk meyakinkanku letak tempat tersebut. Saat Itachi mengumumkan di siaran langsung tadi adalah jam sembilan malam, berarti dua puluh empat jam dari sekarang pun adalah jam sembilan malam, kau tahu angka sembilan pada jam itu ada disebelah mana?"

Gaara berfikir sebentar mencoba menganalisa.

"Barat?" Jawab Gaara sedikit ragu namun di balas Sasuke dengan anggukan penuh keyakinan.

"Di sebelah barat kota tempat tinggal kita, ada tempat yang biasa digunakan untuk merayakan tahun baru, dengan inisial yang sama berawalan K dan ada hubungannya dengan julukan 'Kyuubi'.. kau tahu?"

Sedikit melebarkan matanya, sepertinya Gaara menangkap semua penjelasan yang dibeberkan oleh Sasuke. Ia mengangguk pasti dan langsung melajukan motornya dengan cepat.

'Itachi, kemana saja kau selama ini? Mengapa kau tiba-tiba muncul dihadapanku dengan cara seperti itu? Mengapa kau memasukkanku ke dalam labirin dan membuatku tersesat selama ini? Tidakkah kau tahu bahwa aku tersiksa dan aku kehilangan separuh nyawaku tanpa dirimu? Jika ini adalah jawaban terakhir untukku, aku akan memutuskan untuk ikut denganmu, kemanapun sampai kapanpun. Jika menurutmu ini adalah pilihan yang sulit untukku, kau salah, aku sudah meyakinkan diriku untuk menjadi milikmu selamanya..' Bathin Sasuke dalam hati.

TBC – Lemon ItaSasu Next Chapter