Warning : LEMON , ItachiXSasuke Pairing.

Ini chapter terakhir – makasih atas review dan dukungannya.

Jasmine DaisynoYuki : Pertanyaanmu dijawab di penutup chapter ini, hunny.. J

Lhanddvhianyynarvers : Hahaha, Sasuke itu memang UKE khusus untuk kakaknya doang.. Ya, kapan-kapan aku coba bikin Fict yang sweet no lemon ya, beb..

aicHanimout : Waduh, kalo harus banyak chap kayaknya bikin cerita baru, ga bisa dari cerita ini.. soalnya ini song fic, sayang.. ^_^ ..

.

.

.

Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, tempat yang dituju Sasuke tentu saja sepi dan gelap. Hampir tak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan, suasananya sungguh berbeda dari siang hari. Sasuke dan Gaara sedikit merinding.

"Kurama Jinja ya?" Gumam Gaara sedikit berbisik.

Sasuke hanya mengangguk pelan dan mulai memasuki gerbang kuil besar itu, kuil yang dibangun khusus untuk berdoa pada dewa rubah yang merupakan dewa kesuburan dan kemakmuran, sering dipakai untuk perayaan-perayaan musiman dan untuk mencari peruntungan setiap tahun baru, kuil ini cukup terkenal. Dan ini merupakan tempat yang paling disukai oleh Sasuke sejak kecil. Langkah mereka semakin jauh ke dalam hingga tiba dipinggir sebuah danau.

"Ini adalah danau Tsukimine.." bisik Sasuke sambil menghentikan langkahnya dipinggir danau.

Ia membungkukkan badannya dan mengambil sebuah batu lalu menggenggamnya.

"Ada mitos bahwa jika kita memohon pada tengah malam, maka permohonanmu akan terkabul.. dengan cara melemparkan sebuah batu ke arah pantulan cahaya bulan di air itu.. jika tepat dan pantulan itu pecah berarti permohonanmu sampai pada bulan.." lanjutnya dengan tangan yang menunjuk ke arah pantulan bulan.

Gaara memandang Sasuke heran, tak menyangka orang sedingin Sasuke bisa mengetahui hal se 'romantis' itu. Gaara menahan senyumnya dan tetap menyimak penjelasan Sasuke. Hatinya menghangat melihat sisi lembut Sasuke, yang bahkan mungkin Naruto sendiri belum pernah melihatnya. Terbesit rasa tidak percaya bahwa yang bediri didepannya ini adalah seorang Uchiha yang terkenal dingin seperti es.

"Seperti namanya Tsuki ni Mite to Negai .. Pandang dan memohonlah pada bulan.." Tutup Sasuke.

Sasuke memandang kosong pada danau itu, hatinya kembali terkoyak saat mengingat hari-hari yang sudah dilalui ditempat ini bersama Itachi. Walaupun hanya pada momen-momen tertentu. Ia pun menggenggam batu ditangannya semakin erat dan bersiap melemparnya.

"Aku tahu ini bukan tengah malam, tapi aku ingin memohon, sampai atau tidak itu urusan nanti.. Aku ingin bertemu dengan kakakku.. Ingin bersama orang yang kucinta.." Teriak Sasuke sambil melempar batu ke danau.

Tepat memang, pantulan bulan didanau terlihat pecah akibat lemparan batu Sasuke. Tapi bagaimanapun ini bukan tengah malam, apa yang dilakukan Sasuke adalah sia-sia. Gaara memalingkan mukanya tak sanggup melihat Uchiha bungsu yang tampan itu seperti kehilangan pegangan. Suara dingin Sasuke hanyalah kedok untuk menutupi kepedihannya. Ekspresi datar Uchiha bungsu itu hanya topeng untuk menutupi airmatanya yang mungkin sekarang sudah berubah menjadi airmata darah.

Hening.

.

.

.

"Terkabul.." Seru sebuah suara.

Gaara dan Sasuke tersentak mendengar suara yang datang tiba-tiba di pagi buta seperti ini. Gaara langsung menoleh ke arah suara itu datang. Sementara Sasuke tetap pada posisinya yang memandang danau. Ia tak berani menoleh, ia tak mau matanya yang kini mulai basah terlihat oleh orang lain.

"Sudah ku duga kau pasti akan datang untukku, Otouto.." Lanjut suara itu.

Sebuah dekapan hangat melingkari tubuh Sasuke dari belakang. Sasuke tersentak dan spontan menoleh kebelakang. Bagaimana bisa ia tak mengenali suara itu? Mengapa ia tak sadar bahwa pemilik suara itu adalah orang yang paling dicintainya? Suara paling lembut dan teduh yang selama ini selalu memanggil namanya. Suara hangat yang selalu memeluk jiwanya dan menina-bobokan sukmanya. Suara…

"Itachi…." Desis Sasuke tertahan.

Kini mata mereka bertemu, Itachi tersenyum lembut padanya lalu memejamkan matanya dan menggeleng pelan.

"Salah, Otouto.. Sejak kapan kau berani memanggil namaku tanpa sebutan 'kakak'? " Bisik Itachi sambil menempelkan keningnya di kening Sasuke dengan lembut.

Sasuke masih tenggelam dalam diamnya dan hanya membuka matanya lebar-lebar melihat sosok yang ada dihadapannya, yang menyentuhnya, yang sedang memeluknya. Berharap jika memang ini adalah mimpi, ia tak ingin bangun. Ia tak mau melepaskan pandangannya takut jika ketika ia mengalihkan penglihatannya, sosok yang dicintainya ini akan lenyap dan pergi meninggalkannya lagi. Airmatanya jatuh, bahkan sebelum Sasuke sempat mengedipkan kelopak matanya.

When you cried I'd wipe away all of your tears..

Itachi tetap pada senyum hangatnya dan mengecup pinggiran mata Sasuke yang dialiri airmata, meminumnya seolah ingin merasakan penderitaan macam apa yang sudah dilalui adik manisnya ini selama kepergiannya. Itachi ingin tahu seberapa besar rindu dan cinta yang dimiliki adik sekaligus kekasihnya ini. Kecupannya pindah ke bagian atas hidung Sasuke, menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, tangannya yang kokoh mengusap lembut pipi Sasuke.

"Yurushite, Sasuke .. Demo, kondo wa zutto isshou da yo.." Bisik Itachi sambil tetap tersenyum.

Kata-kata itu, selalu kata-kata itu yang digunakan Itachi saat meminta maaf, tak pernah lupa menyisipkan namanya disetiap kalimatnya. Sasuke ingat semuanya. Tak ada yang hilang dari diri kakaknya, ia tetap Itachi yang dulu, Itachi yang memanjakannya, yang selalu menyentuhnya, memanggil namanya dengan lembut dan tersenyum hangat ciri khasnya. Sedikit gemetar Sasuke mengangkat tangannya meraih dada Itachi, meremas jasnya sambil sedikit membuka mulutnya bermaksud memanggil kakaknya – sekali lagi dengan benar.

Namun, sebelum sempat Sasuke melontarkan satu huruf pun, Itachi sudah kembali mengunci bibirnya dengan ciuman singkatnya.

"Simpan suara manismu saat memanggilku untuk nanti.." Bisik Itachi sedikit menyeringai dan bernada meledek. Itachi memang tak pernah bosan menggoda adik satu-satunya ini.

Melepaskan pelukan dari Sasuke, Itachi kembali membalikkan badannya dan menghadap Gaara, ia tersenyum pada Gaara namun memberikan isyarat bahwa Sasuke sudah baik-baik saja dan ia akan membawanya.

"Yaahh.. sepertinya adikku ini kehilangan kesadaran atau kerasukan dewa rubah disini, aku sudah menciumnya barusan namun ia masih seperti itu, jadi sepertinya aku harus membawanya menjauh dari tempat ini.." Itachi membuka pembicaraan.

Gaara tersenyum dan membungkukkan badannya pada Itachi.

"Aku bersyukur dan turut gembira atas takdir ini, tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan sang waktu untuk kalian, penantian dan pencarian Sasuke berakhir disini, karena itu tak perlu khawatir, aku akan menyembunyikan identitas dan keberadaan kalian, kau bisa percayakan padaku.. Kalau masih berjodoh, kita semua akan bertemu lagi.." Jawab Gaara meyakinkan Itachi dan di balas dengan anggukan serta senyum dari Itachi.

Gaara membungkukkan badannya sekali lagi bermaksud untuk pamit lalu membalikkan badannya dan menjauh dari kakak beradik sekaligus pasangan kekasih itu. Tak dipungkiri bahwa Gaara merasa sedih karena ia akan kehilangan satu temannya, dan ia juga khawatir bagaimana Naruto akan menghadapi kenyataan ini, Gaara tahu Naruto sudah memendam perasaan cinta yang besar pada Sasuke sejak lama, namun Naruto tak pernah bisa menjamah—bahkan hanya bayangan hati Sasuke. Terlalu jauh dan terhalang oleh dinding tebal yang Sasuke ciptakan atas nama Itachi.

Bagaimanapun, itulah cinta—terkadang menyelamatkan terkadang membunuh, bagaikan pedang bermata dua, kau menusuk lawanmu, kau juga akan tertusuk. Kau tak menusuk, lawanmu yang akan menusuk begitu juga lawanmu akan tertusuk. Ironisnya, tak ada satupun makhluk Tuhan yang bisa melepaskan pedang bermata dua itu, seolah ciptaan Tuhan ini memang harus berpegang pada hal yang bernama 'cinta' itu. Mereka lebih memilih sakit dan mati karena cinta daripada tak pernah merasakan cinta sama sekali.

.

.

.

"Otouto.. Ayo—kita pulang, sebelum matahari menyapa kita.." Ajak Itachi sambil mendekati Sasuke yang masih tetap berada di alam bawah sadarnya.

Dua jari Itachi dibenturkannya dengan lembut di dahi Sasuke untuk 'menyadarkan' adik bungsunya ini. Dan benar saja, Sasuke pun tersadar dan mengedip-ngedipkan matanya lalu menyentuh dahinya yang baru saja di sentuh oleh kakaknya. Ia tersenyum tipis dan mengangguk. Ia baru sadar bahwa Gaara sudah tak ada disekitar situ, sedikit berfikir namun akhirnya ia mengabaikan dan memutuskan akan menghubunginya nanti.

"Pulang?" Tanya Sasuke bingung.

Itachi hanya tersenyum dan menggandeng tangan Sasuke, lalu menelepon supirnya agar segera menjemput mereka di gerbang kuil. Begitulah, setiap pertanyaan Sasuke, jarang dijawab oleh Itachi, ia selalu menanggapi Sasuke dengan senyum dan beberapa bahasa tubuh. Semakin Sasuke bingung, Itachi semakin senang dan ingin selalu meledek adik manisnya ini.

"Anak nakal, Sasuke.. Baru kutinggal sebentar, kau jadi begini kotor. Kau ceroboh seperti biasanya dan cengengmu itu masih melekat didirimu.."

Sasuke mengerutkan bibirnya, disaat seperti ini Itachi masih sempat meledeknya. Dan ia kesal mengapa ia harus jatuh cinta pada kakaknya yang menyebalkan ini, mengapa ia memutuskan untuk menitipkan sebelah sayapnya pada sosok indah dihadapannya ini, mengapa ia menyerahkan separuh nafasnya untuk pemilik senyum terindah didunia ini.

"A-aku.. tidak cengeng... Baka.." Gerutu Sasuke pelan sambil memalingkan mukanya.

Tersenyum geli, Itachi menepuk kepala Sasuke dan mengacak-ngacak rambutnya. Ah, sudah lama sekali Itachi tak bertemu dengan momen manis seperti ini. Ia rindu, bersyukur bahwa Sasuke tetap Sasuke-nya yang dulu—setidaknya untuknya.

"Hoo—lalu, yang barusan kuminum itu apa ya? Madu kah? Mengapa rasanya asin? Sejak kapan matamu bisa mengeluarkan madu?" Itachi semakin senang meledek Sasuke.

Itachi suka sisi keras kepala Sasuke yang seperti ini, mulutnya yang tak pernah jujur menurutnya sangat menggemaskan. Sikap spontanitas adiknya ini membuatnya tak bisa berhenti tersenyum. Ia sangat mencintai adiknya—dalam segala hal. Sebagai kakak, juga sebagai—kekasih. Ia ingin membahagiakan Sasuke mulai sekarang, tak kan pernah meninggalkannya lagi. Ia akan menebus dosa yang telah dilakukannya hingga membuat Sasuke begini menderita dan kehilangan pegangannya.

Seraya melebarkan senyumnya, Itachi menghentikan langkahnya dan langsung menggendong Sasuke—Bridal Style menuju mobilnya. Tak peduli dengan reaksi Sasuke yang berontak sekuat tenaga dan teriakan-teriakan Sasuke yang berusaha meminta Itachi melepaskannya.

.

.

.

When you'd scream I'd fight away all of your fears…

"Mulai sekarang, ini adalah rumahmu, Sasuke – aku membelinya untukmu.." Ucap Itachi seraya memberikan Sasuke kunci pintu rumah yang di beli Itachi.

Sasuke memandang Itachi dengan tatapan bingung. Namun Itachi hanya membungkukkan badannya dengan tangan kanan didadanya dan tangan kiri terulur ke arah pintu.

"Silakan, Tuan Puteri .." Goda Itachi.

Sasuke kembali kesal dengan ulah Itachi yang meledeknya, ia tak habis pikir mengapa isi kepala kakaknya itu hanya cara menggodanya? Apa tak ada hal lain yang lebih baik atau cerdas? Setahunya, Itachi adalah pribadi yang pendiam dan cukup dewasa, namun mengapa padanya ia berbeda?

"Hn.."

Seperti biasa, respon khas Sasuke meluncur menanggapi keusilan kakaknya, sambil memejamkan mata ia membuka pintu rumah cantik itu, sesaat Sasuke tertegun, begitu nyaman dan hangat, berbeda sekali dengan suasana dirumah orang tuanya. Pandangannya melembut dan bermaksud melangkahkan kakinya ke dalam, namun kembali tertahan dengan Itachi yang mendahuluinya dan berdiri dihadapannya lagi. Kali ini dengan tangan terbuka. Memandang lurus Sasuke dengan mata yang teduh dan senyum yang lembut.

"Okaeri, Sasuke.." Bisiknya lembut seolah menyambut kedatangan Sasuke yang telah pergi lama sekali.

Kali ini Sasuke tak bisa menahan emosinya lagi, bahagia dan haru mencengkeram hatinya dengan sangat kuat. Sasuke hampir tak bisa bernafas karena terlalu sesak menahan segala rasa yang terpendam, tanpa peduli apapun lagi, Sasuke berlari ke arah Itachi dan langsung memeluknya, menangis sejadi-jadinya di pelukan sang kakak. Menyebut nama kakaknya tanpa henti. Tak peduli jika kakaknya akan meledeknya lagi, menyebutnya cengeng, ceroboh, manja, apapunlah itu, yang Sasuke tahu kini Itachi sudah berada dihadapannya, ia sudah bersama kakaknya, ia kembali menemukan cintanya.

"Yatto mitsuketa.. Nii-san.."

Itachi mendengus kecil, dan tersenyum geli. Agak berbeda dari perkiraannya sebelumnya, seharusnya Sasuke lah yang terlebih dahulu mengatakan itu dan Itachi menjawabnya. Tapi, tak apalah – ini sudah cukup manis dan Itachi puas. Itachi merasakan kebahagiaan yang sama dengan yang dirasakan Sasuke, kerinduan yang sama, penderitaan yang sama, sekaligus kebahagiaan atas pertemuan ini pun sama. Ia memeluk Sasuke dengan sangat erat, lebih erat dari yang dilakukannya di kuil tadi, seolah Itachi pun membagi perasaannya pada Sasuke, meminta Sasuke untuk mengerti.

"Aku mencintaimu, Otouto .." Bisik Itachi.

Sasuke mengangkat kepalanya setelah beberapa saat tadi menyembunyikannya di dada Itachi, memandang kakaknya yang baru saja mengatakan 'cinta' padanya. Kembali Itachi mengecup kedua mata Sasuke yang masih berkaca-kaca lalu mencium keningnya dengan sayang, sementara tangannya mengusap rambut Sasuke. Adiknya terlihat begitu manis saat bermanja padanya seperti ini. Mengecup kedua pipi Sasuke dan merasakan lembab kulitnya akibat airmata yang mengalir, lalu mengecup hidung Sasuke dan menempelkan keningnya di kening Sasuke.

"Aku juga.." Jawab Sasuke pelan.\

Hari yang indah untuk mereka berdua, dimana takdir sudah mengalah pada sang waktu, pohon kesabaran yang berdaun amat pahit sudah puas di kecap oleh Sasuke dan Itachi, kini tibalah dimana pohon kesabaran itu berbuah sebagai pelepas dahaga mereka berdua. Begitu manis dan harum.

.

.

.

.

And I held your hand through all of these years…

Bulan sudah menampakkan dirinya ditengah langit malam yang gelap, Sasuke dan Itachi baru saja menyelesaikan makan malamnya berdua, dengan obrolan-obrolan ringan dan candaan manja, dua kakak beradik ini saling berbagi hari-hari yang sudah dilalui selama mereka terpisah, rasa bersalah yang kian menghantui mereka berdua selama ini, terbayar sudah. Raut wajah Sasuke pun mulai melembut, Itachi beryukur menyadari hal itu. Perasaan mereka masih sama dan utuh, seperti pertama kali mereka saling mengungkapkan perasaan mereka dulu.

"Gochisousama.." Ucap Sasuke setelah menghabiskan makanannya dan ditutup dengan segelas jus tomat kesukaannya.

Itachi menaruh satu tangan didagunya tanpa melepas pandangannya dari Sasuke. Memperhatikan gerak gerik Sasuke yang mulai beranjak dari meja makan dan menaruh piring bekas mereka ke wastafel dapur, ia pun ikut beringsut dan mengikuti adik bungsunya ini.

Sasuke terkejut ketika akan membalikkan badannya, Itachi sudah ada dibelakangnya dan menyergap tubuhnya dengan hidung Itachi yang menggesek perpotongan leher Sasuke. Terdengar oleh Sasuke tarikan nafas Itachi di sekitar situ, sepertinya kakaknya ini menikmati harum manis yang menguar dari tubuh Sasuke. Tentu saja, setelah itu dirasakan Sasuke hembusan nafas Itachi yang panas mulai menggelitik bagian itu, tak hanya itu, Itachi mulai mengangkat kepalanya dan mengendus telinga Sasuke, bahkan mengecupnya ringan disitu.

Muka Sasuke merona, ia ingin protes, namun dekapan Itachi semakin erat dan kecupan ringan di telinganya yang mulai berganti dengan jilatan halus dari telinga hingga ke lehernya membuat Sasuke kehilangan tenaganya. Ia hanya mencengkeram tangan Itachi yang melingkar diperutnya, tanpa sadar memiringkan kepalanya seolah ingin memberi akses lebih untuk Itachi. Sasuke sedikit menahan nafasnya berusaha mengendalikan dirinya dari sentuhan-sentuhan Itachi yang mengoda.

"Itachi—Tu…Ngh.."

Sebuah gigitan gemas dari Itachi, dijawab oleh Sasuke dengan rintihan pelan. Feromon adiknya yang menerobos masuk indera penciumannya ini semakin membuat Itachi kehilangan akal sehatnya, sudah cukup ia menahan hasratnya pada Sasuke, ia ingin menjamah adiknya lebih intim dan tentu saja bukan dalam konteks 'saudara'. Ia ingin memiliki Sasuke seutuhnya. Ah, entah sejak kapan Itachi menjadi begini posesif.

"Kubilang salah, Otouto.. Sopanlah sedikit pada kakakmu ini atau kau akan kuhukum karena berubah menjadi anak yang nakal, hm?" Ancam Itachi dengan nada yang seduktif.

Itachi membalikkan tubuh Sasuke dan mengunci tubuh adiknya diantara tubuhnya dan keramik wastafel dibelakang Sasuke. Tak lupa ia menyelipkan satu kakinya diantara paha Sasuke dan menekan halus tonjolan mungil disana yang masih tertutup celana. Sasuke tersentak dengan serangan yang tiba-tiba itu, spontan ia menutup matanya dan menggigit bibirnya menghindari suara memalukan yang mungkin akan keluar lagi dari mulutnya.

Sedikit tersenyum senang, Itachi semakin tergoda untuk mengusili adiknya yang manis ini, Sasuke memang selalu menahan dirinya dalam hal 'mengakui' perasaannya. Tapi, sisi Sasuke yang seperti inilah yang membuat Itachi gemas dan semakin mencintai Sasuke. Ia tahu, Sasuke mulai bereaksi dengan ia merasakan ada yang bergerak pelan dipahanya yang terselip di selangkangan Sasuke, begitupun adiknya ini masih keras kepala tak mau merespon—secara verbal untuk dirinya.

"Sebut namaku dengan benar, Sasuke.." bisiknya.

Sasuke tahu, kakaknya ini sedang memancingnya agar ia mengeluarkan suara—desahannya. Dengan alih-alih menyalahkan cara Sasuke menyebut namanya, Uchiha bungsu ini tetap menangkap permainan licik kakak tercintanya ini. Sasuke semakin menutup mulutnya rapat-rapat, menahan nafasnya hingga mukanya memerah semakin pekat, terlebih saat tangan Itachi mulai menelusup masuk ke dalam kemejanya dari arah bawah, melewati perut Sasuke dengan sedikit colekan dan gesekan ujung jari yang amat menggoda hingga sampai pada kerikil kecil yang ada didada Sasuke lalu mencubitnya pelan.

"Ka—kamar.."

Ia meminta dengan susah payah, berusaha mengatur suaranya sepelan mungkin. Ia memang tak menolak serangan Itachi, tapi setidaknya di tempat yang lebih pantas—itu maksudnya. Sasuke mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat, hanya itu satu-satunya pengangan yang menopangnya agar ia tidak jatuh. Ia menengadahkan kepalanya saat bibir Itachi pindah ke dagu lalu turun ke leher depannya, menghisap kuat hingga terasa sedikit memar disana.

"Jadi, sekarang kau berani memerintah kakakmu?"

Itachi tahu adik kesayangannya ini sangat minus kata-kata sopan, apalagi kata-kata manis, karena itulah ia senang menggodanya. Dengan sedikit tergesa, jari Itachi membuka kancing kemeja Sasuke dan ciumannya langsung turun ke sana, melanjutkan sesi menggoda puting Sasuke tadi, dengan rakus Itachi menghisap mutiara merah jambu milik adiknya itu. Menggelitik dengan lidahnya dengan lihat dan sesekali menggigit halus benda mungil itu.

"Hmn—Nii-san.. nghaa.."

Sasuke benar-benar merasa kakinya lumpuh, tubuhnya pun merosot dan Itachi menyeringai tipis melihat reaksi adiknya. Manis sekali, bahasa tubuhnya sangat jujur. Nafas Sasuke memburu, terengah-engah namun juga tertahan. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangannya dan menggigit pelan area situ menahan semua serangan Itachi.

"Ya, Otouto, ada apa?" Tanya Itachi pura-pura bodoh.

Dan bersamaan dengan pertanyaan singkat yang dilontarkan, tangan Itachi langsung turun ke bawah dan tentu saja meremas kejantanan adiknya yang menegang hebat dan masih berbalut celana, pasti sesak sekali rasanya disana. Sasuke tersentak dan kali ini ia benar-benar kehilangan pegangannya dan jatuh diantara kedua kaki Itachi. Tubuhnya gemetar, ia menyandarkan keningnya di lutut Itachi dan perlahan, tangan Sasuke meremas celana Itachi yang ada didepannya, menariknya lembut penuh rasa frustrasi.

"Kumohon kak.. aku ingin dirimu.." Mohon Sasuke sambil tangan kirinya yang gemetar menunjuk ke arah kamar.

Manis sekali, Itachi hampir terlonjak senang melihat adiknya memohon seperti ini, melihat Sasuke tak berdaya dan meminta 'ampun' padanya dengan cara yang luar biasa manis. Rasa rindu Sasuke yang membuncah itu membuat dirinya semakin lemah dan gairahnya dengan mudah terbakar oleh tiap sentuhan sang kakak. Itachi puas. Tidak, belum puas. Itachi masih ingin lebih lagi. Ia ingin melihat sisi manis adiknya lebih dari ini.

Dengan mudahnya, Itachi langsung menggendong Sasuke ke kamar, adiknya tetap mungil dalam dekapannya, masih ringan seperti anak kecil. Sepanjang jalan menuju kamar, bahkan saat menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar utama berada, tak hentinya Itachi menciumi wajah Sasuke yang memerah dan melukiskan gambaran gairah dan cinta dengan sangat jelas. Sasuke melingkarkan tangannya di leher Itachi menikmati setiap kecupan kakaknya yang penuh cinta dan sayang ini. Diakhiri dengan ciuman yang dalam di bibir mereka, Itachi memasuki kamar dan menutup pintu dengan kakinya.

"Sudah dilaksanakan, Hime.." Bisik Itachi saat melepas ciumannya.

Itachi menghempaskan tubuh Sasuke ke tempat tidur yang lebar itu, menyalakan lampu utama kamar hingga ruangan yang sebelumnya temaram kini menjadi terang benderang. Ah, entah rencana 'sadis' apalagi yang ingin dilakukan Itachi pada malaikat cantik yang tengah terkulai pasrah dihadapannya ini. Malaikat yang tersesat akibat cakaran iblis di punggungnya hingga membuat sayapnya patah dan hanya bisa berpegang pada iblis agar ia bisa terus terbang. Tak bisa pulang ke surga, namun neraka pun terlarang baginya.

"Ja-jangan menggodaku..Matikan… Lampunya…" Pintanya memelas sambil menutupi mukanya dengan lengan kanannya.

Itachi menyeringai tipis, membuka seluruh pakaian yang membuatnya sangat 'gerah', lalu mendekati Sasuke yang masih menutupi mukanya. Berbaring miring disamping Sasuke dan mengangkat tangannya. Memandang wajah sang adik dengan lembut namun tak menghilangkan aura seduktif yang sedikit sadis disana. Menaruh satu telunjuknya di antara kedua alis Sasuke, perlahan diturunkan jarinya ke hidung dan bibir Sasuke.

"Ditolak, karena aku ingin melihat 'hadiah' ku secara keseluruhan.." Bantah Itachi pelan.

Sasuke mengerlingkan matanya ke arah lain, tak berani membalas pandangan Itachi yang menelanjanginya—secara psikologis.

"Baiklah, waktunya membuka bungkus kadonya.."

Kata-kata ambigu Itachi itu disusul dengan ciuman ganas – kali ini ganas, tak memberikan Sasuke ruang untuk bernafas sekalipun –mungkin. Mendorong masuk lidahnya ke rongga mulut Sasuke, bermain dan melumat mulut Sasuke dengan lapar sesekali menghisap lidah dan bibir Sasuke hingga sedikit membengkak. Sementara dengan gerakan cepat, Itachi menelanjangi tubuh bagian atas Sasuke. Meraba, membelai lembut tubuh sang adik dengan sedikit pijatan erotis di bagian pinggang, dengan tanpa melepas ciumannya tentu.

"Uhmn.. hmmpph.. NGH—"

Sasuke mengerang dan tersentak kaget saat dirasakannya tangan Itachi mendarat dibagian pribadinya. Melepas ciuman dari sang adik, Itachi tetap memandang lurus pada Sasuke seolah mengatakan dengan tegas bahwa Sasuke tak boleh melawan dan berada dalam kendalinya—sepenuhnya. Sasuke memalingkan mukanya ke samping ketika udara dingin mulai menerpa kejantanannya sebagai pertanda bahwa Itachi sudah sukses menelanjanginya.

"Hadiah yang sangat indah.."

Tangan kiri Itachi mencoba menekuk kaki Sasuke, dan seraya menciumi tubuh Sasuke dengan kecupan ringan dan kilat mulai dari leher, dada dan perut, Itachi mengusap lembut paha Sasuke, bagian luar dan dalam, mengabaikan bagian terpenting—bagian dimana Sasuke sangat menginginkan sentuhan kakaknya. Baiklah, kini Sasuke berada dalam rasa frustrasi yang hebat, dan celakanya Itachi tahu keadaan adik malangnya ini.

"I—Itachi,,"

Lagi-lagi Sasuke mengulang kesalahan fatalnya, kadang ia tak belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa Itachi ingin selalu dipanggil dengan sebutan 'kakak' olehnya, dengan suara yang manis tentu. Dan kini, Sasuke kembali menyulut 'amarah' sang kakak. Itu terbukti saat dirasakan sebuah tamparan halus mendarat di paha bagian dalamnya yang putih mulus. Belum sempat Sasuke merespon, bekas tamparan itu langsung dilumat ganas oleh Itachi.

"Ahnghh… Ukhhh…"

"Kau benar-benar harus dihukum, adikku yang nakal.. kakak akan mengajarimu cara untuk sedikit bersopan-santun.."

Jilatan Itachi semakin mengganas di paha Sasuke, bergantian kanan dan kiri, menghisapnya hingga meninggalkan banyak bekas kissmark di kulit seputih susu itu, melebarkan kaki Sasuke dan mencium belahan paha Sasuke – mengabaikan kejantanan adiknya yang sudah membiru nyaris meledak, dimana cairan precum sudah banyak menetes ke perut sang adik meminta untuk segera disentuh. Sementara tangan lainnya, meremas bongkahan kenyal pantat Sasuke dibawah sana, sesekali dilebarkannya buttcheeks Sasuke hingga terlihat di matanya lubang kecil Sasuke yang berkerut dan berkedut nikmat, membuat Itachi semakin gemas. Tak sabar rasanya ia ingin memasukkan dirinya ke lubang surga milik adiknya itu

Sambil meremas paha Sasuke dengan gemas dan disertai cubitan kecil, Itachi mendorong anggota ekstremitas bawah Sasuke hingga pinggul adiknya sedikit terangkat. Menahan kedua kaki Sasuke dengan kedua tangannya agar tetap terbuka lebar, Itachi mendaratkan ujung lidahnya di permukaan lubang berwarna merah jambu itu.

"Masih tak sopan padaku, anak nakal?"Goda sang Uchiha sulung ini.

"AH! Uhngng… Ita—Nii-san.. mnhnnn…" Erang Sasuke tertahan.

"Tidak manis, Sasuke – aku ingin lebih manis dari itu .. Jika tepat dan kau cukup pintar sekaligus belajar dari kesalahanmu, aku akan memanjakan milikmu dengan mulutku.."

Sasuke meremas sprei tempat tidur dibawahnya menahan rasa frustrasi hebat yang menderanya. Kakaknya ini sungguh kejam, bagaimana Itachi bisa menyiksa adiknya dengan kenikmatan surgawi seperti ini. Sedikit menekan halus lidahnya dilubang sang adik, Itachi pun kembali menggoda Sasuke dengan membelai perineumnya dengan jari telunjuknya, menarik halus rambut tipis yang tumbuh disekitar sana. Ya, adiknya sudah dewasa kini, Itachi sedikit kagum dengan perubahan fisik adiknya.

Rasa geli yang menyerang bagian terlarang Sasuke dan rasa linu yang luar biasa menyiksa di kejantanannya yang terabaikan akibat ulah usil kakaknya, nyaris membuat Sasuke mengalirkan airmatanya. Kakaknya ini sangat senang melihat adiknya yang keras kepala ini bertarung melawan birahi dan ego nya sekaligus.

"O—Onii-chan.." Lirih Sasuke tiba-tiba.

Itachi tersentak spontan menghentikan serangannya, ia menutup matanya mendengar panggilan manis untuknya yang keluar dari mulut manis sang adik ditambah dengan suara yang begitu memanja. Ia menahan nafasnya, mengendalikan dirinya agar tak menerjang Sasuke saat itu juga, ia tak menyangka adiknya bisa mengeluarkan kata-kata semanis itu. Setelah mensugestikan dirinya dengan susah payah, ia menarik nafas panjang dan mengangkat mukanya dengan senyum khasnya. Terlihat diatas sana, Sasuke sedang memandangnya dengan pandangan memelas, dengan mata yang berkaca-kaca, bibir yang merekah disertai saliva yang meleleh di pinggir bibirnya.

"Ya, Sasuke.."

"Ku mohon, manjakan milikku dengan mulutmu - Onii-chan.." Pintanya dengan rintihan lembut dan nada yang amat manis.

Oke, sudah cukup. Itachi tak tahan lagi, ia harus segera mempersiapkan adiknya ke tahap yang selanjutnya, ia ingin segera menyerang adiknya. Menjadikan Sasuke miliknya, memasukkan miliknya ke lubang sempit disana, mendengar desahan dan lenguhan Sasuke, dan menyemburkan-Cukup, hentikan. Itachi hanya mengangguk menutupi semua hasratnya yang sudah membumbung di ubun-ubunnya. Sedikit menaikkan kepalanya ke batang kejantanan adiknya, tanpa menunggu lagi, ia langsung memasukkan permen manis itu kedalam mulutnya, sementara jari tengahnya langsung menginvasi lubang adiknya yang masih basah akibat jilatannya barusan.

"AGH.. O—Onii-chaaan.. aahngng.,," Pekik Sasuke tertahan.

Rasa panas mulut sang kakak membungkus kejantanannya yang sudah hampir meledak itu, nikmat sekali, Sasuke sekarat. Tubuh bagian atasnya menggelinjang, invasi jari sang kakak yang kian mengganas didalam lubangnya, membuat Sasuke spontang menggoyangkan pinggulnya mencari kenikmatan disana. Itachi masih mengulum dan menghisap milik sang adik yang menurutnya sangat manis itu, lidahnya menggelitik ujung penis Sasuke dan sesekali memasukan lidahnya ke lubang kecil yang ada disana. Sasuke tersentak-sentak dan tubuhnya semakin meliuk-liuk seperti ular.

"Ugh,,, Onii-chan.. mnghh.. Onii-chan… Onii-chaaann.. mnghaa.."

Senandung indah yang dilantunkan Sasuke untuk kakaknya ini sukses membuat Itachi kehabisan stok kesabaran. Ia menghentikan semua permainannya, meninggalkan erangan kekecewaan dari Sasuke dan kembali memposisikan dirinya diatas Sasuke. Menahan paha kiri Sasuke dengan tangannya dan sedikit mengangkatnya hingga ke dada Sasuke agar akses Itachi lebih lebar, ia pun menempelkan kejantanannya yang besar dan panjang di permukaan lubang sang adik. Pandangan tak lepas untuk adiknya, dengan senyum lebut dan tatapan teduh seperti biasanya.

"Kau luar biasa, Sasuke – aku ingin memilikimu sekarang juga.." Ucap Itachi seolah memintan izin dari Sasuke dan tentu saja jawaban positif didapatkannya.

"Jadikan aku milikmu, kak.. aku mencintaimu.." Jawab Sasuke sambil mengangguk pelan.

"Akan sakit sekali adikku, tapi aku yakin kau kuat, rileks lah – percayalah bahwa aku tak ingin menyakitimu.."

Setelah kata-kata terakhir Itachi tersebut, penis Itachi mulai mendorong masuk ke lubang Sasuke, dengan susah payah, Itachi menahan dirinya agar tak terburu-buru karena melihat ekspresi Sasuke yang meringis kesakitan, juga lubang Sasuke yang sama sekali tidak bisa dikatakan rileks mencengkeram kejantanannya dengan luar biasa erat seolah akan mematahkannya. Ia kembali menghujani Sasuke dengan ciuman-ciuman sayangnya agar adiknya ini bisa lebih rileks menerima kehadirannya. Menempelkan bibirnya di telinga Sasuke dan terus membisikkan kata-kata cinta untuk sang adik.

"Nii-san.. ngh..Aaghh… Ittai.. hngnghhh.." Erang Sasuke.

Itachi menghentikan penetrasinya sebentar dan mencium pipi Sasuke, merasakan airmata Sasuke yang mulai mengalir, ia pun mengecupnya.

"Yurushite, Sasuke - " Bisik Itachi.

Sang Uchiha sulung ini benar-benar sudah tak tahan, ia pun menghantam lubang Sasuke dengan sekali hentakan, tentu saja dijawab dengan teriakan Sasuke yang menunjukkan rasa sakit yang luar biasa. Itachi maklum, ini pertama kali untuknya. Sang kakak kembali mengusap dan menangkup pipi Sasuke lalu menciumnya lembut, sengaja ia tak bergerak dulu menunggu Sasuke menyesuaikan diri dan rileks. Dinikmati oleh Itachi nafas beraroma manis Sasuke yang terengah-engah, dipandangnya tanpa bosan wajah sang adik yang merona dan sangat merangsang itu.

"Aku mencintaimu, Sasuke.."

Sasuke membuka sebelah matanya sambil masih meringis kesakitan dan memandang kakaknya lalu mengangguk pelan, dengan gemetar tangannya mulai melingkari tengkuk sang kakak, menariknya perlahan meminta sebuah ciuman intim. Mimpinya menjadi kenyataan, ia menjadi milik Itachi sepenuhnya, ia bersatu dengan kakak yang dicintainya. Kini, ia mengerti arti dari kata 'bahagia' yang selama ini tak pernah dipercayainya.

"Nii-san.. bawa aku.."

Itachi mengangguk dan tersenyum, ia pun mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, menghantam tubuh bagian dalam Sasuke dengan tempo yang sedang dan teratur, Sasuke mendesah, melenguh dan mengerang, birahi Itachi terbakar melihat dan mendengar semuanya. Ia pun mempercepat serangannya. Menumbuk titik kenikmatan Sasuke berkali-kali.

"Aaghh.. Egghhh.. Ahh.. Nii-san.. Nii-san.. aahhh.."

Badan Sasuke terhentak-hentak berkat tubrukan pinggul Itachi dibagian bawahnya, suara decakan basah terdengar dibawah sana, Itachi tetap menatap wajah seksi Sasuke tanpa mau mengalihkan pandangan di pemandangan indah itu. Ingin memberikan Sasuke kenikmatan yang sesungguhnya, tangannya yang menahan kaki Sasuke tadi dilepaskannya dan membiarkan kaki Sasuke bertumpu dibahunya lalu menggenggam penis Sasuke yang sudah berkedut nikmat ingin segera mengeluarkan isinya, Itachi yakin bahwa hanya beberapa kocokan, adiknya ini akan mencapai klimaks.

"Ooohh… Kakak—jangan… disitu.. hmnghhh.. Le—lepaskan.. aanghh.."

Itachi tersenyum geli, begitulah adiknya, tak jujur dengan apa yang sesungguhnya ia inginkan. Tak mempedulikan protes palsu dari Sasuke, ia pun mulai mengocok kejantanan adiknya dengan sedikit cepat. Itachi meringis nikmat saat dirasakan otot-otot bagian dalam Sasuke yang menyempit saat ia mengocok milik adiknya. Ia pun semakin memperganas kocokannya, kedutan dan cengkeraman lubang Sasuke di miliknya kini intens dan teratur seperti memijat dan menghisapnya.

"Oh., Sasuke - Kau luar biasa adikku, nikmat sekali didalam sini.."

Sasuke tak menghiraukan ceracau-an kakaknya, ia sudah nyaris sampai pada puncaknya, hanya desahan dan lenguhan yang keluar dari mulutnya, memejamkan matanya dengan kuat dan menggerakan pinggulnya secara insting mengikuti gerakan tangan Itachi. Dan tentu saja, Itachi tahu bahwa adiknya sedang berada di titik delirium, ia pun menyeringai senang dan semakin memperganas kocokannya, sesekali ditekan halus dan digesekkannya lubang kecil di ujung penis Sasuke dengan ibu jarinya, hingga dilihatnya sang adik nyaris sekarat dalam kenikmatan yang diciptakannya.

"Ka—kakak.. Aku.. Ah..Ke—Keluar.. NGH!.. Aaaarghh…"

Tanpa sempat memperingati Itachi dua kali, Sasuke menghempaskan kepalanya dalam-dalam ke bantal dibawahnya dan spontan memundurkan badannya saat dirasakannya orgasme mengeksekusinya, di ikuti teriakan penuh kenikmatannya, cairan putih, kental dan panas pun menyembur dari lubang kecil disana, membasahi perut Itachi yang ada diatasnya dan sebagian melompat ke dada Sasuke, tentu saja tangan Itachi menjadi 'kotor' karena 'sisa' dari benih adiknya itu begitu banyak yang meleleh ditangannya. Itachi tersenyum puas dan menjilat cairan adiknya, ia ingin merasakan sari alami adiknya –sejak lama.

Sasuke yang masih berada dalam sesi pasca orgasme dan belum menghampiri relaksasi, kembali berteriak sedikit histeris karena sang kakak langsung menghajar titik surgawi nya lagi, bisa dibayangkan rasanya. Tapi, Sasuke masih bisa mengerti bahwa kakaknya juga pasti sudah sejak tadi menunggunya dengan sabar, ia pun tak protes. Membiarkan kakaknya mencari kepuasan dari dirinya.

"Nii-san… Agh… Kami-sama.. Hmmhhh.. Aaaghh.. Di—didalam.. aahhh…"

Itachi pun merasa sudah sampai pada batasnya, dinding rectum Sasuke yang memijatnya dengan erotis, menghisapnya dengan kuat dan cincin bagian luarnya yang mencengkeram erat, memaksa kejantanan Itachi melepas seluruh pertahanannya, dan -

"SASUKE!"

Sodokan terakhir yang begitu keras dan dalam dilubang Sasuke menandakan bahwa Itachi pun mencapai puncak kenikmatannya. Sasuke tahu karena dirasakannya sesuatu yang panas memenuhi tubuh bagian dalamnya. Itachi mendekapnya dengan erat dan Sasuke membalasnya dengan pelukan intim yang seolah tak kan terlepaskan.

"Aku—milikmu, Kak.." Bisik Sasuke.

But you still have all of me …

"Sasuke—"

Sasuke mengernyitkan alisnya saat sinar yang menyilaukan menerpa mukanya. Dengan malas Sasuke membuka matanya dan melihat Itachi sedang berdiri di jendela dengan penampilan yang sudah begitu rapi. Ia menaikkan sebelah alisnya dan kembali membalikkan badannya membelakangi sinar matahari yang mengganggunya. Itachi terkekeh geli melihat tingkah adiknya lalu mendekati Sasuke—duduk disampingnya.

"Ayo bangun, anak malas…" Godanya.

"Hn.."

Itachi mencium leher belakang Sasuke dengan kecupan ringan.

"Ada yang ingin kujelaskan padamu, Sasuke - lebih tepatnya, aku punya permintaan padamu.."

Sasuke mulai tertarik dengan kata-kata Itachi, ia pun membalikkan badannya dan memandang Itachi, tak bicara tapi matanya mengatakan bahwa ia ingin mendengar 'cerita' Itachi.

"Novel ku sudah mencapai satu juta copy dan pihak penerbit merekomendasikan karya ku untuk dijadikan sebuah drama—singkatnya begitu.. Jadi, rencananya hari ini aku ingin mengajakmu ke kantor penerbit sekaligus ke stasiun televisi yang berencana akan menggarap proyek ini.."

Sang adik yang manis itu masih memandang kakaknya dalam diam yang absolut, menunggu kakaknya menyelesaikan penjelasannya.

"Aahh—maksudku, aku ingin meminta pada produser dan sutradara yang bertanggung jawab atas proyek ini untuk menjadikanmu 'aktor' mereka – sebagai adik dari pemeran utama, maksudku.."

Itachi mulai salah tingkah melihat ekspresi Sasuke yang blank, sepertinya adiknya ini masih berteka teki dengan penjelasannya barusan.

"Jika kau bertanya, novel apa yang kutulis - menceritakan tentang apa maksudku, jelas novelku berisi tentang cinta sepasang adik kakak yang terlarang, dan perjuangan sang kakak yang dipisahkan dari adik yang dicintainya, juga tentang adiknya yang tersiksa dalam permainan sang takdir – "

Sebuah bantal mendarat dimuka Itachi, dan Itachi menghentikan ceritanya. Menahan tawa dengan tindakan Sasuke.

"Tak mau, terima kasih.." Jawab Sasuke ketus lalu membalikkan badannya lagi.

"Ayolah, Otouto – Aku ingin kau yang memerankannya.." Pinta Itachi dengan nada yang sedikit memelas.

"Tidak.."

"Sasuke.."

"Tidak.."

"Otouto.."

"Hn.."

"Hime-chan.."

"BAKA!"

.

.

.

.

OWARI

Aaahh- Otukaresama deshita! Makasih yang udah review, masih newbie jadi mohon dimaklumi segala kekuranganku ya.. *Ojigi*

#Yurushite, Sasuke .. Demo, kondo wa zutto isshou da yo.. - means : Maaf Sasuke, tapi, kali ini kita akan selalu bersama

#Yatto mitsuketa - means : Akhirnya kutemukan / akhirnya bertemu..