Moon Gazing 2
"Hey, Gray, kau sudah bertemu dengan petani baru itu? Claire?" tanya Cliff, teman sekamar Gray di Inn, saat Gray sedang memakai piyamanya.
"Sudah," jawab Gray singkat dan malas.
"Dia cewek aneh. Ia terus mengajakku ngobrol dan tersenyum, meskipun aku terus gugup dan tak begitu menanggapinya," cerita Cliff membuat Gray tertarik. Jadi Claire melakukan itu pada semua orang. Menebar senyum bodohnya itu.
"Cliff, kau masih saja gugup begitu?" tanya Gray. Cliff sudah beberapa bulan di sini, dan mereka sudah cukup banyak berbagi cerita sebagai teman sekamar. Memang dia masih saja pemalu dan menutup diri dari orang lain, tapi ia sudah mulai terbuka pada Gray dan Kai, teman sekamar mereka yang hanya datang di musim panas.
"Aku masih gugup pada perempuan, Gray," akunya.
Gray menyipitkan matanya. "Dengan sikap begitu bagaimana bisa kau mendapatkan Ann, Cliff?" goda Gray, membuat wajah Cliff merona merah. Ia tahu bahwa Cliff menyukai Ann. Cliff dan Ann sangat dekat, tapi kepribadian mereka benar-benar berlawanan. Cliff pendiam sedangkan Ann berisik dan tomboy. Gray tidak begitu suka pada gadis-gadis yang berisik macam Ann dan Popuri. Sementara Karen, ia cantik dan dewasa, tapi jelas bukan tipenya. Tentu saja cewek aneh seperti Claire, yang suka mengatakan hal-hal random itu, juga bukan tipenya.
Claire menyisir rambutnya, dan mencepolnya di atas kepalanya. Di hari yang panas ini, ia tak sanggup bekerja dengan rambut panjangnya yang tergerai, terlalu panas. Setelah tiga hari, akhirnya tiba saatnya bagi Claire untuk memanen bayi-bayi turnipnya. Semuanya tampak enak dan sedap. Ia menjual hampir semua turnipnya, namun menyisakan sebuah untuk Saibara. Sulit dipercaya, tapi saat ini kakek itu adalah orang terdekatnya di kota ini. Claire datang sesekali ke sana untuk menyapanya. Tentu saja hal ini membuat Claire juga menyapa Gray. Cowok itu masih seperti sebelumnya, dingin dan selalu memasang wajah garang. Tapi Claire sadar bahwa ekspresinya akan berubah 180 derajat ketika Mary ada di dekatnya. Jadi inilah kesimpulan yang diambilnya setelah seminggu di kota ini: Gray suka Mary, tapi perasaan Mary pada Gray masih tidak jelas. Ann suka Cliff, begitupun sebaliknya. Beberapa orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol bagi Claire adalah Saibara (meski lebih banyak Claire yang mengoceh), Carter, Gotz, Duke, Manna, Ann, dan Popuri. Mary baik, tapi entah kenapa ia tak bisa begitu berteman dengannya.
Claire mampir ke toko blacksmith sebelum ke supermarket untuk membeli bibit baru. Seperti biasa, Saibara sedang mengerjakan sesuatu di counter, sedangkan Gray menempa sesuatu di belakang. Claire melongok pekerjaan Gray dari counter, dan melihatnta mengerjakan sesuatu seperti kalung.
"Ia membuat kalung?" tanya Claire, setelah menyerahkan turnip, yang ternyata sangat disukai Saibara.
"Benar. Kalung perak. Tak mudah membuatnya. Ia harus belajar melebur dengan baik."
Claire mengangguk-angguk sambil terus memperhatikan Gray tanpa bicara apapun. Yang diperhatikan ternyata merasa risih. Biasanya Claire banyak bicara pada kakeknya, tapi kali ini ia hanya diam memperhatikan pekerjaannya. "Apa kau tak ada pekerjaan lain?" tanya Gray kesal.
Claire tampak berpikir dengan serius sebelum berkata, "Aku harus ke supermarket sekarang. Sampai jumpa Gray, Saibara!"
Claire keluar dari blacksmith dan berjalan ke supermarket, membuat dahi kakek-cucu itu berkerut.
"Dia benar-benar random!" gerutu Gray. Kakeknya melihat ke arah Gray dengan mata yang disipitkan.
"Ia pergi karena kau terlalu kasar padanya, Gray!"
"Hah? Aku? Dia sendiri yang bilang harus ke supermarket kan?" bantah Gray yg tak ingin disalahkan. Saibara hanya menggeleng-geleng sambil berdecak malas.
"Jangan mudah tertipu dengan apa yang kau lihat, nak!" pesan saibara. Kali ini Gray yang menyipitkan matanya.
Apa maksudnya?
Kedatangan Claire di supermarket disambut oleh senyuman Jeff yang kikuk.
"Jeff, aku mau 2 kantung bibit kentang dan sekantung bibit mentimun," katanya sambil memilih bibit di tengah toko, lalu menyerahkannya pada jeff. Jeff melayaninya, tapi berhenti sejenak saat melihat wajah Claire.
"Kau tak apa? Kau tampak pucat, Claire," tanya Jeff khawatir.
Claire menggeleng sambil tersenyum. "Tak apa. Aku hanya kurang tidur."
"Kau kesulitan tidur? Kau harus mengatasinya, Claire, tak bagus untuk kesehatan. Pergilah ke dokter."
Claire tak menyangka bahwa Jeff sangat perhatian. Ia tersenyum, menerima sarannya untuk pergi ke dokter.
Rumah sakit berada tepat di sebelah supermarket. Ia memang sering tidak bisa tidur, namun ia berusaha untuk tidak mengkonsumsi obat tidur. Belakangan ini juga ia lebih bisa tidur nyenyak karena aktivitasnya yang melelahkan di pertanian. Namun semalam ia sama sekali tidak bisa tidur. Mungkin karena ia terlalu banyak pikiran.
"Oh, Claire, selamat datang!" sapa Elli, suster di sini. Claire membalas sapaannya dengan senyum lemah. Ia agak pusing.
"Kau kurang sehat?" tanyanya khawatir.
Claire mengangguk. "Kurasa begitu."
"Kalau begitu masuklah ke ruang periksa dokter. Kau tampak sangat pucat, Claire."
"Oh, ya, trims Elli~" ucap Claire.
Di dalam ruang periksa, dokter tengah duduk sambil membaca bukunya, dan segera berhenti ketika Claire muncul.
"Claire, kau sehat?" tanya dokter. Claire menggeleng, lalu duduk di depannya.
"Aku tidak enak badan. Semalam sama sekali tdk bisa tidur. Dokter, apa kau punya obat tidur?" tanya Claire, membuat mata dokter muda itu mendelik.
"Maafkan aku, aku tak bisa memberi resep obat tidur kecuali alasannya sangat mendesak."
Claire tahu ini akan terjadi. Ia sudah beberapa kali mengalami hal ini. Ini juga sebabnya ia tak mudah mendapatkan obat tidur.
"Anu, aku... punya beberapa hal yg membuatku stress. Karena itu, aku seringkali tak bsa tidur. Satu-satunya yang bsa kulakukan adalah dengan obat tidur. Tapi, akhir-akhir ini aku sudah mulai bisa tidur sejak datang ke sini dan mengerjakan pekerjaan berat," jelas Claire. Dokter mendengarkan penjelasannya dengan seksama. "Dan semalam aku mulai tdk bsa tidur lagi dok," tutup claire. Dokter mengangguk.
"Dari pada langsung meminum obat tidur, bagaimana kalau kau coba ke puncak Mother Hill malam ini? Cobalah ke sana dan tenangkan pikiranmu. Aku telah bertemu banyak orang sepertimu. Dari pada bergantung pada obat, lebih baik kau mencari ketenangan dan menjernihkan hati dan pikiranmu, Claire," saran dokter.
Claire mencerna penjelasannya. Masuk akal. Ia tak pernah disarankan seperti itu sebelumnya. Dokter di kota cenderung memberi pasien diagnosis yang membuatnya membeli obat. Tapi dokter ini berbeda. Ia sangat berbeda.
"Terimakasih banyak. Akan kucoba," kata Claire sambil tersenyum puas. Untung ia memutuskan untuk konsultasi dengan dokter.
Puncak Mother's Hill, huh?
Malam itu ia menanjak ke Mother's Hill bersama anjingnya, Shin. Anjingnya merupakan anjing kecil berwarna rambut cokelat, jenis shiba inu. Karena jenis ini jarang dipelihara di barat, dan wajahnya yang gagah dan lucu, Shin selalu menarik perhatian orang. Meski kecil, fisik Shin kuat dan ia membuat Claire merasa aman.
Setelah berjalan beberapa menit, ia sampai di puncak Mother's Hill. Di sini sangat tenang. Di langit terdapat bulan sabit yang ditemani bintang-bintang yang tak terhingga jumlahnya. Dari atas sini ia bisa melihat lampu-lampu kota Forget-me-not Valley dan dua kota lain yang tak ia ketahui namanya. Angin malam musim semi berhembus dengan lembut. Agak dingin, tapi tak membuatnya menggigil. Setelah merasa cukup memperhatikan sekelilingnya, Claire memutuskan untuk duduk di ujung puncak ini sehingga ia bisa melihat bulan dengan leluasa. Dokter benar. Ia merasa sangat tenang di sini. Udara yang bersih seperti membersihkan paru-parunya dan juga hatinya yang penuh. Penuh oleh rasa bersalah. Tanpa sadar air mata Claire meleleh. Ia memeluk kedua lututnya. Sambil melihat awan yang bergerak, ia merasa air matanya terus mengalir tanpa henti. Ah, sudah lama ia tak menangis begini. Ia selalu ingin menangis untuk mengeluarkan beban di hatinya, tapi ia tak pernah bisa. Selama ini ia selalu tersenyum, tapi udara di hatinya seperti menjadi semakin padat, tak tersalurkan. Claire kaget ketika mendengar suara langkah kaki dari belakang, dan Shin menggonggong sambil berlari ke arah langkah kaki itu.
"Shin?! Kenapa kau bisa disini?" Tanya pemilik langkah kaki itu. Claire tidak berani menoleh karena wajahnya sedang sangat berantakan saat ini. Kenapa cucu Saibara itu bisa ada di sini?
Gray kaget ketika tiba-tiba seekor anjing menggonggong keras dan berlari ke arahnya. Awalnya ia menyangka itu anjing liar dan bersiap untuk memukulnya dengan kayu, tapi ketika anjing itu melompat ke arahnya, membuatnya terduduk ke tanah, lalu menjilat pipinya, ia sadar bahwa anjing itu adalah Shin, anjing Shiba Inu milik Claire.
"Shin?! Kenapa kau bisa disini?" tanyanya sambil mengangkat anjing itu. Pandangan Gray jatuh pada sosok berambut pirang panjang yang duduk membelakanginya.
"Claire? Itu kau?" tanya Gray heran. Ia berjalan menghampirinya karena Claire tak juga menoleh. Gray semakin heran ketika melihat gesture Claire yang agak gemetaran dan seperti sedang mengelap matanya dengan lengan bajunya.
"Claire?" tanya Gray lagi. Claire baru berbalik ketika Gray sudah tepat berada di belakangnya.
"Oh, halo, Gray!" sapa Claire sambil tersenyum lebar. Tapi Gray bisa melihat jelas matanya yang masih merah dan berair.
Dia menangis?
"Sedang apa kau malam-malam disini?" tanya Gray dengan sikap otomatisnya pada Claire, dingin.
"Piknik?" jawab Claire, membuat satu alis Gray naik karena heran. Gray menurunkan Shin dan Claire merogoh ranselnya, mengeluarkan sekotak kue dan dua kaleng bir dari sana. "Kau mau?" Gray lagi-lagi mengerutkan dahinya. Ia tak paham lagi dengan gadis ini.
"Kau piknik di sini? Malam-malam begini? Sendirian?"
Kali ini giliran Claire yang mengerutkan dahinya. "Ehm... ya?"
"Kau benar-benar random! Hahah!"
Tawa Gray lepas melihat ekspresi Claire yang polos. Membuat Claire kaget, dan merasa pipinya menghangat karena suara tawa Gray seperti menusuk-nusuk telinganya, membuatnya meleleh. Ah, gawat, air matanya ikut meleleh...
Melihat ini tawa Gray memudar. Ia segera menghampiri Claire, duduk di sebelahnya, dan melihatnya dari dekat. Ah, ia benar-benar menangis.
"Maaf," ucap Gray. Claire mengangkat wajahnya sambil mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangannya. Ia sadar jarak Gray saat ini sangat dekat dengannya. Membuat Claire kembali memalingkan wajahnya.
"Tidak apa-apa. Aku lagi sensitif. Sori."
Gray menghela napas. Ia mengambil kotak kue yang tadi ditawarkan Claire, yang masih berada di atas ranselnya, dan membuka isinya.
"Dango? Wah, rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat kue ini," kata Gray. Ia melirik Claire yang masih menangis. Gray memakan satu bola dango dari satu tusuk yang ia ambil.
"Umm! Enyak jugha," komentar Gray sambil memakan kue itu. Ia menawarkan satu untuk Shin. Shin memakannya sambil menggonggong senang.
Mendengar perutnya sendiri keroncongan, Claire merebut kotak itu dari Gray. "Aku mau juga," katanya. Gray melihat air mata Claire masih mengalir, tapi ia tetap memakan Dango nya. Ia benar-benar tampak berantakan.
.
.
"Ada masalah?" tanya Gray setelah mereka menhabiskan dango dan saat ini mereka meminum bir plum yang di bawa Claire.
"Cuma ingat masa lalu." Jawab Claire sambil menengguk birnya.
"Butuh pendengar?" Dan kata-kata Gray ini membuat bulu kuduk Claire berdiri. "Kenapa tiba-tiba kau baik begitu? Tadi siang kau masih mengusir-usir ku."
"Anggap saja ucapan terimakasih karena saranmu waktu itu," jawab Gray sambil menurunkan topinya sehingga menutupi wajahnya. Saran yang membuatku melihat kakek dari sisi lain.
Claire masih tampak bingung, tapi ia memutuskan untuk tak terlalu memikirkan kata-kata Gray itu.
"Kau tahu, kau sendiri sangat random. Tadi kau dingin, lalu mentertawaiku, dan sekarang kau sangat baik," ujar Claire. Mendengar ini Gray hanya berdeham. Ia tak bisa membantah itu. Claire membuatnya tak bisa mempertahankan topeng dinginnya. Entah kenapa.
"Mungkin aku ketularan virus bodohmu itu," jawaban Gray tentu saja membuat Claire mencubit lengannya. Gray mengusap bekas cubitannya yang terasa cukup sakit.
"Apa kau pernah merasa sangat menyesal seumur hidupmu?" Claire mengajukan pertanyaan yang membuat Gray tak mampu menjawabnya.
Entahlah.
"Aku sangat menyesal karena tidak sempat meminta maaf pada kedua orang tuaku."
Keheningan membalut mereka selama beberapa lama. Gray memutuskan untuk tdk bicara apapun.
"Ayahku sangat keras, seperti kakekmu, dan kami banyak bertengkar. Di SMA aku mulai tinggal terpisah dari orang tua karena pertengkaran kami. Suatu hari, ketika ayah dan Ibu ke apartemenku untuk mengajakku pulang, aku masih saja bersikeras tidak mau pulang. Kami bertengkar hebat waktu itu. Aku bahkan menyuruh mereka pergi saja. Tapi... tapi..." air mata Claire memenuhi kelopak matanya, namun Claire berusaha keras menahannya.
"Di perjalanan pulang, mereka kecelakaan... aku... aku sangat bodoh... padahal mereka... selalu, selalu, melakukan segalanya untuk kebaikanku. Tapi aku malah... menyuruhnya pergi. Dan mereka benar-benar... per... gi..."
Kata-kata Claire terpotong. Ia berusaha keras menahan air matanya jatuh, namun tak sanggup. Melihat claire yang bergetar menahan air matanya, Gray meletakkan tangannya di punggung Claire. Dan ini membuat air mata Claire jatuh tak tertahankan.
Jadi karena ini kau begitu peduli soal hubunganku dan kakek?
Rasanya tangan Gray bergerak sendiri untuk mengusap punggung Claire. Malam itu gray tak mengatakan apapun, tak melakukan apapun, kecuali duduk di sana menemani Claire sambil meminum birnya. Hingga Claire berhenti menangis dan tertidur karena lelah. Gray terus menemaninya, membiarkan Claire tertidur di rumput dengan wajah yang sangat berantakan karena menangis.
Hari hampir pagi saat Claire akhirnya terbangun. Ketika sadar Gray menemaninya semalaman, wajah Claire terasa panas. Semalam ia sangat memalukan. Pagi ini pun ia yakin wajahnya yang berantakan sehabis menangis sangatlah memalukan. Ia melihat Gray duduk memandang langit yang mulai berubah warna menjadi warna peach, dengan tiga kaleng bir dan kotak makan kosong di sampingnya. Dan di samping Claire sendiri terdapat sekaleng bir. Jadi Gray menghabiskan asupan bir yang di bawanya dari kota dan kue dango buatannya. Ia langsung duduk dengan cepat, membuat Gray kaget dan menoleh ke arahnya.
"Kau sudah bangun?"
"Maaf. Kau harus menemaniku semalaman. Maaf!" ucap Claire sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang merah. Gray menatapnya dengan tatapan datar. Ia kembali memakai topeng dinginnya?
"Bukan maaf. Harusnya kau bilang terimakasih, kan?"
"Eh? Te... terimakasih! Gray!" seru Claire. Gray menutup telinganya dengan wajah kesal.
"Suaramu terlalu keras, bodoh."
Claire tersenyum. Semalam Gray mengatainya random. Dan sekarang ia mengatainya bodoh. Tapi ia menemaninya menangis, mendengarkan ceritanya yang menyedihkan, bahkan menemaninya yang tertidur semalaman.
"Aku pulang," kata Gray sambil beranjak dari duduknya, lalu membersihkan debu tak tampak di celananya, dan berjalan pergi meninggalkan Claire. Claire yang ditinggalkan masih tersenyum. Shin melompat-lompat, mengajak Claire pulang.
"Sebentar lagi, Shin. Aku masih ingin melihat langit." Dan Claire membawa Shin ke pangkuannya. Ia duduk di sana, melihat langit fajar berwarna warni, terus berubah warna hingga warna biru mendominasinya.
Sisi lain Claire tampak di sini. Dan karena adegan "mabuk2an" inilah author harus mencantumkan rating T, haha.
Dou? I hope you like it~
