Waktu terus berlalu di Mineral Town. Tak terasa udara semakin panas, bunga-bunga moondrop berganti dengan bunga-bunga pink cat, dan bunga-bunga sakura di sepanjang jalan menuju hutan tak nampak lagi, sehingga pepohonan sakura itu kini hanya tampak seperti pohon hijau biasa. Tanaman-tanaman yang ditanam Claire telah layu, membuat Claire harus membersihkan kebunnya lagi dan mengganti jenis tanamannya sehingga sesuai dengan cuaca yang panas dan lembab ini. Ya, musim panas telah tiba!

Pukul 12.30 Claire telah selesai membersihkan ladangnya, menanam bibit pineaple, corn, dan onion, serta menyirami calon-calon tanamannya itu. Petak di ladangnya yang ditanami kini semakin banyak, menjadi 6 petak berisi masing2 9 bibit tanaman. Ia tersenyum melihat hasil kerjanya, dan kembali ke rumah kecilnya untuk membersihkan tangannya. Siang ini ia memutuskan untuk makan di Inn. Ia bosan dengan onigiri atau sandwitch buatannya sendiri. Ia ingin set makan siang lezat buatan Doug hari ini.

Setelah keluar dari area pertaniannya, kakinya tergoda untuk berbelok ke kanan, ke toko Blacksmith. Ia melihat jam tangannya, menghela napas, lalu mengurungkan niatnya pergi ke toko blacksmith itu. Sudah dua minggu ini ia tak pernah ke blacksmith di pagi hari. Ia hanya akan ke sana jika sudah lewat jam 2 siang, ketika Gray sudah tidak ada. Ia sadar sepenuhnya apa yang ia coba lakukan saat ini: menghindari Gray. Sejak kejadian di Mother's hill itu, ia selalu tidak nyaman jika bertemu Gray, detak jantungnya tidak beraturan, wajahnya merah, dan rasanya ia ingin bersembunyi di dalam lubang. Bagaimanapun ia sangat malu. Ia menangis di depan cowok yang tak begitu di kenalnya, bahkan membuatnya terpaksa menemaninya semalaman di gunung. Alasan itu lebih dari cukup untuk membuat Claire menghindari Gray belakangan ini.

Tunggu sampai hatiku mereda. Ya. Sebentar lagi saja.

Ketika ia hendak melanjutkan perjalanannya ke Inn, ia melihat Popuri di depan pagar Poultry farm, sedang bicara dengan seorang pria berbandana ungu yg asing baginya.

"Hai, Popuri!" sapa Claire. Ia juga tersenyum pada pria asing itu.

"Oh, Claire, kebetulan! Kau baru pertama kali melihatnya kan? Ini Kai, dia orang yang kuceritakan padamu, yang selalu menginap di Inn saat musim panas!"

Mulut Claire membentuk huruf o. Jadi ini Kai, cowok yang disukai Popuri itu. Popuri memang tak pernah bilang secara langsung bahwa ia menyukainya, tapi dari cara bicaranya, Claire tahu bahwa Popuri tergila-gila pada pria ini.

"Claire, petani baru di sini," Claire mengulurkan tangannya.

"Kai, senang berkenalan denganmu," balas Kai sambil tersenyum dan menjabat tangan Claire. "Hey, Claire, apa kau juga menanam pineaple?" tanya Kai.

"Tentu saja. Aku baru saja menanamnya hari ini."

"Wow, hebat! Itu buah kesukaanku. Kira-kira kapan kau panen? Sisakan untukku ya!"

"Hmm... Sekitar tanggal 20, kurasa. Butuh waktu cukup lama."

Kai tersenyum lebar mendengar jawaban Claire. "Asik, kalau begitu aku bisa memakannya! Kutunggu Claire! Tentu saja aku akan membayarnya, hahahah!"

Claire tertawa melihat sikap easy-going nya. Ia baru mengenalnya, tapi rasanya seperti bertemu seorang kawan lama.

"Kau baru tiba?" tanya Claire, melihat tas besar tersampir di bahu Kai.

"Iya, aku baru saja sampai."

"Dan pemberhentian pertamamu adalah Poultry Farm?" Claire tersenyum sambil melihat Popuri dengan pandangan menggoda. Wajah Popuri langsung merah padam, dan semakin merah ketika Kai melihatnya dengan pandangan yang sama dengan Claire.

"Kalian menggodaku!" protes Popuri. Claire dan Kai tertawa bersamaan. Popuri memang berisik, tapi ia sangat polos dan kekanakan.

"Aku akan ke Inn sekarang. Bye, Popuri. Senang melihatmu baik-baik saja!" kata Kai sambil mengudek-udek kepala Popuri. Popuri protes keberatan, tapi Claire bisa melihat betapa bahagia wajah Popuri saat ini. Claire lalu berjalan ke Inn bersama dengan Kai.

"Popuri sepertinya sangat senang kau kembali. Kau juga," kata Claire, membuka topik baru.

"Hahah. Dia sangat manis. Tapi kakaknya mengerikan."

"Rick?" Claire mengerutkan dahinya. Selama ini Claire melihat Rick sebagai seorang airheaded.

"Rick sentimen denganku. Jika ia melihatku dekat-dekat adiknya, ia bahkan bisa menodongkan sabit di leherku!"

"Hahahah! Masa sih?"

Dan tibalah mereka di Inn. Begitu masuk, Doug dan Ann langsung menyambut Kai. Ann lalu berjalan ke arah tangga dan berteriak ke atas bahwa kai telah kembali. Segera saja Claire mendengar langkah kaki tergesa-gesa, dan melihat Cliff turun menuruni tangga.

"Kai! Kau kembali!" Seru Cliff sambil memberinya pelukan persaudaraan.

Claire tersenyum melihatnya. Cliff masih sangat menutup diri di hadapan Claire, tapi ia terlihat sangat dekat dengan Kai. Dari yang Claire tahu, Cliff tidak punya pekerjaan tetap. Ia hanya membantu Sack di pelabuhan jika diperlukan, atau membantu Gotz jika diperlukan. Selebihnya ia selalu menghabiskan waktu di gereja.

Claire pergi ke counter dan memesan set makan siang pada Doug. Ia masih memandangi interaksi antara Cliff dan Kai saat menerima pesanannya.

"Mereka terlihat akrab kan?" tanya Doug.

"Yep. Aku terkejut. Cliff tak pernah banyak bicara padaku..."

"Dan pada semua orang," potong Doug.

"Sungguh?"

"Hmm. Tapi ia akrab dengan dua teman sekamarnya itu. Aku lega. Kuharap ia bisa segera menemukan pekerjaan yang baik."

Claire mengangguk setuju. Cliff sebenarnya orang yang baik. Ia hanya terlalu kikuk.

"Gray, sayangku!" seru Kai tiba-tiba sambil menghambur ke pintu inn. Ternyata Gray baru tiba di inn. Kai mencoba memeluk Gray, tapi Gray menahan Kai dengan meletakkan tangannya di kepala Kai.

"Hentikan itu, bodoh!"

Selagi Gray berusaha menghindari Kai, mata Claire bertemu dengan mata Gray. Melihat Gray menyipitkan mata padanya, Claire langsung memalingkan wajahnya pada Doug untuk menyembunyikan wajahnya yang merah.

"Bagaimana? Kau sudah menyerah menjadi blacksmith?" tanya Kai.

"Ceh. Kau pikir aku siapa? Kemampuanku meningkat pesat dalam setahun. Aku sudah mulai membuat aksesoris sekarang."

"Wow. Kupikir kau takkan mampu bertahan lebih dari dua bulan dengan kakekmu yang keras itu!" Kai memasang tampang terkejut yang dilebih-lebihkan, membuat Gray jengkel sekaligus ingin tertawa.

"Ia keras karena peduli." Gray ingin bilang begitu, tapi itu terlalu memalukan untuk dikatakan. Gray kembali mengalihkan pandangannya pada gadis berambut pirang yang bicara pada Doug. Ia yakin mereka berpapasan mata barusan, tapi kenapa gadis itu tidak menyapanya? Bukankah biasanya ia selalu muncul di depannya dengan senyum bodohnya itu? Ia juga merasa sudah lama tak bertemu dengannya di blacksmith maupun di Inn. Hari ini ia sengaja meminta izin pulang lebih cepat karena kedatangan Kai, dan ia akhirnya bisa melihat si pirang itu sejak kejadian di Mother's Hill. Tapi sudahlah. Peduli apa dia tentang gadis itu?

Kai, Cliff, dan Gray kemudian duduk di satu meja, sementara Claire memutuskan untuk makan bersama Harris, satu-satunya polisi di kota ini, yang kebetulan sedang makan di situ.

Syukurlah. Aku tak mau makan sendirian.

"Hei, Harris! Boleh aku makan di sini?" tanya Claire.

"Ohoh! Tentu saja! Silahkan, Claireku!"

Claire tertawa kecil mendengar gurauan Harris. Mereka sering mengobrol di tempat Gotz, dan ia tahu itu hanya gurauan karena Harris sebenarnya selalu menyukai Aja, anak Duke dan Manna yang pergi ke kota. Claire duduk di sampingnya dan mulai melahap makanannya.

"Kudengar dari Gotz akhir-akhir ini kau sering ke Mother's hill di malam hari?" Tanya Harris. Claire menggigit bibirnya. Harris benar, ia memang ke Mother's hill hampir setiap malam jika pekerjaannya tidak terlalu membuatnya lelah. Ia merasa sangat nyaman memandang langit di sana. Atau jika ia sangat lelah, ia hanya akan menikmati langit sambil berendam di hot spring.

"Itu berbahaya, Claire. Kenapa kau kesana sendirian di malam hari?"

"Aku tidak sendirian, Shin bersamaku."

Haris menghela napas.

"Kau tahu, istri Gotz meninggal di gunung dulu sekali," kisah Harris, membuat Claire menghentikan makannya.

"Sungguh?"

"Mendengarmu ke sana setiap malam membuatnya sangat khawatir. Ia akan merasa bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu. Kalian cukup dekat sehingga kau pasti tahu seperti apa kepribadiannya kan?"

Claire diam meresapi kata-kata Harris. Harris benar. Gotz sangat perasa. Ia tinggal di dekat pintu masuk hutan dan hanya seminggu sekali ke kota. Sejauh yang Claire tahu, Gotz hanya dekat dengan Harris. Butuh waktu dua minggu lebih hingga Claire bisa dekat dengannya. Jika Claire mengalami nasib yang sama dengan istrinya itu, mungkin Gotz akan benar-benar mengasingkan diri dari manusia lain.

"Kalau begitu, aku hanya akan kesana beberapa kali dalam seminggu, dan hanya jika langit cerah. Aku akan baik-baik saja. Aku sangat menyukai tempat itu. Rasanya pikiranku jadi jernih setiap pergi ke sana," jelas Claire. Harris menggangguk mengerti.

"Kau harus selalu hati-hati. Banyak anjing liar berkeliaran di malam hari."

"Aku paham, tenanglah!"


Gray memanggil Ann dan memesan tiga gelas bir. Ia tak biasa minum bir, karena pekerjaannya sebagai Blacksmith memerlukan banyak konsentrasi dan stamina. Ia hanya minum bir sekali-kali, misalnya pada saat teman lamanya kembali atau...

Saat aku terpaksa menjadi teman minumseseorang yang kacau balau.

Gray berpikir sambil tanpa sadar melirik ke arah Claire lagi. Ia tampak ceria mengobrol dengan Harris. Sudah dua minggu Gray tidak melihat gadis itu sama sekali. Syukurlah kau tampak baik-baik saja, Claire.

"Gray?" sentuhan Cliff di lengannya membuat lamunannya buyar.

"Eh, apa?" Gray segera berpaling dari Claire yang duduk beberapa meja di belakang Cliff.

"Kau melamun?" Cliff berbalik, melihat apa yang sedang dilihat gray, dan mendapati Claire tepat berada di sana.

"Claire?" tanya Cliff pelan. Kai segera melihat ke arah Claire, lalu mencondongkan tubuhnya pada Gray.

"Sebenarnya dari tadi aku menyadarinya. Kau terus memandang gadis itu," kata Kai sambil menahan tawa. Gray merengut.

"Aku? Cewek random itu? Tidak mungkin. Kalian tahu kan siapa gadis yang kusuka," tepis Gray.

"Lalu kenapa kau terus memandanginya, ha?" tanya Kai tak sabar, tampak senang melihat Gray kesal. Kai memasang wajah mengintrogasi yang membuat Gray tak bisa berkutik. Gray melihat Claire masih asyik mengobrol dengan Harris. Jarak meja mereka cukup jauh. Baguslah. Claire tak mungkin mendengar pembicaraannya dengan dua teman baiknya itu.

"Gadis itu sangat aneh."

"Aneh bagaimana?"

Gray terdiam.

Aneh bagaimana? Ia selalu tersenyum bodoh, tak mau pergi meskipun aku kasar padanya, ia bahkan akrab dengan kakek mengerikan itu.

"Ia tak seperti perempuan."

Ia tersenyum, menangis, dan tertawa, ia selalu mengekspresikan apa yang ada di hatinya, tak sepertiku. Tawanya menyenangkan. Dan mendengar tangisnya membuatku ikut merasa sesak. Ia mabuk hanya dengan segelas bir. Bahkan Mary bisa minum lebih banyak dari itu. Ia selalu tampak kuat, tapi sebenarnya ia rapuh... dan ia selalu berusaha sangat keras dalam pekerjaannya. Selalu.

"Gray? Kau tersenyum?" tanya Cliff. Yang benar saja? Tanpa sadar Gray tersenyum saat memikirkan Claire! Ia segera menggunakan ekspresinya yang biasa, dingin, lalu menengguk bir nya.

"Heee, kau tersenyum ketika memikirkan Claire?" goda Kai.

"Kau gila? Mana mungkin."

"Tapi kau tersenyum barusan. Hahahah, tak apa Gray, perasaan itu bisa berubah. Mungkin kau dulu suka pada Mary, tapi sekarang..."

"Sudah kubilang kan, Claire itu aneh dan sama sekali tak seperti perempuan! Mana mungkin aku suka padanya!" Gray tanpa sadar berbicara sangat keras. Hal itu membuat seisi Inn terdiam, dan Claire yang namanya disebut-sebut melihat ke arah ketiga bujang itu. Melihat Claire hanya diam memandangnya, Gray tak tahu harus melakukan apa. Kai yang merasa situasi ini adalah salahnya kemudian berusaha mencairkan suasana.

"Aah... ia hanya bercanda, Claire! Maaf, maaf!"

Tanpa disangka oleh Gray, Claire malah tertawa.

"Hahaha, aku tahu! Aku memang tak seperti perempuan. Memangnya kenapa, ya kan, Harris?"

Harris tampak gugup memberi jawaban. "Eh... tidak... kau sangat manis, Claire!"

Claire mengibaskan tangannya. "Kau tak perlu menghiburku, Harris. Mana ada perempuan yang bisa mengangkat dua peti Turnip seperti aku? Aku pasti keturunan Xena! Hahahah" kelakar Claire berhasil mencairkan suasana dan membuat semua yang ada di Inn tertawa, tapi tidak dengan Gray. Hatinya terasa sangat tidak nyaman. Ia harus minta maaf pada Claire.
"Nah, aku sudah selesai. Aku duluan, Harris."

Melihat Claire pergi dari Inn, Gray ingin sekali mengejarnya dan segera minta maaf. Tapi mengingat teman-temannyanya pasti akan lebih menggodanya jika ia melakukan itu, Gray mengurungkan niatnya.


To be continue...