Claire duduk memandangi bayangan dirinya yang terpantul pada permukaan air sungai yang jernih. Ia baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya di pertanian. Ada lumpur di wajahnya, dan baju kerjanya sangat kotor. Ia menghela napas.

"Tentu saja aku tak seperti perempuan," gumamnya. Ia ingat kejadian kemarin di Inn. Meskipun ia menertawakan kata-kata Gray itu, sebenarnya ia memikirkannya juga. Sebelum bekerja di pertanian pun, Claire bekerja di percetakan dan tak begitu memperhatikan penampilannya. Ia bahkan tak pernah pacaran.

"Haruskah kupotong rambutku? Biar jadi kayak cowok sekalian?" Claire menaikkan rambutnya, dan melihat wajahnya jika rambutnya sependek Elli. Ia menghela napas. Tetap saja kelakuannya tidak lembut seperti Elli. Ia terbiasa bergaul dengan teman laki-laki sejak dulu, terutama karena rekan kerjanya di percetakan kebanyakan pria yang lebih tua darinya. Itu sebabnya ia mudah akrab dengan Saibara, Gotz, Harris, dan lainnya.

"Claire." Claire kaget ketika tiba-tiba permukaan sungai memantulkan bayangan seorang pria di sampingnya.

"Ada apa?" tanya Claire tanpa menoleh. Ia segera menurunkan kembali rambutnya.

"Soal kejadian kemarin... aku minta maaf. Kata-kataku sudah keterlaluan," ucap pria bertopi biru itu sambil mengambil posisi duduk di sampingnya.

"Tak apa. Tak ada yg salah dari kata-katamu itu. Aku memang tidak seperti perempuan. Aku kuat, banyak bicara, tidak lembut dan manis seperti Mary."

Mendengar nama Mary disebut, Gray mengerutkan dahinya. Kenapa tiba-tiba gadis pirang ini jadi tampak begitu down?

"Kenapa kau jadi tidak percaya diri begitu?"

"Itu memang benar kan..."

Gray menghela napas. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

"Kau memang kuat, banyak bicara, dan tidak feminim. Tapi kau... ma... manis," Gray mengatakan kalimat terakhirnya dengan suara yang sangat pelan. Ia tak pernah bicara seperti ini pada seorang gadis.

Karena dia sepertinya tampak sangat terpukul...

Melihat Claire tak juga memandang wajahnya, Gray menarik lengan Claire, membuatnya menoleh ke arah Gray. Wajah Claire ternyata sangat merah. Membuat Gray kaget dan segera melepaskan tangannya. Hey, bukankah waktu itu Harris juga mengatakan hal yang sama dengannya? Tapi ia tak melihat Claire bereaksi seperti itu pada Harris. Ia tak mau berasumsi macam-macam. Tapi wajah Claire saat melihatnya tadi sama dengan wajah Cliff saat melihat Ann. Atau wajah Popuri saat melihat Kai.

"Ehem. Kalau begitu, aku pergi dulu, Claire," Gray memutuskan untuk meninggalkan situasi canggung itu.

"Ah, ya..." jawab Claire pelan. Gray berjalan menyebrangi jembatan kecil menuju hutan. Saat ia menoleh kembali, ia melihat Claire meletakkan kedua tangannya di kedua pipinya yang merah. Ia segera berjalan kembali menuju tambang.

Jangan berasumsi macam-macam, Gray.


"Selamat pagi, Saibara!" Suara yang tak asing bagi Gray terdengar seiring suara lonceng toko.

"Oh, Claire, tumben kau kemari pagi-pagi!" sambut Saibara senang.

"Pagi, Gray!" sapa Claire saat melihat Gray menoleh ke arahnya. Sepertinya Claire sudah bersikap seperti biasanya.Gray lega melihatnya. Ia tak ingin asumsinya tentang perasaan Claire itu benar.

"Ah, aku harus cepat memperbaiki ini," kata Claire sambil menyerahkan cangkul yang rusak. Gagang cangkul itu lepas.

"Hm... ini mudah. Gray bisa memperbaikinya dalam beberapa menit. Gray!"

"Ya!" Gray segera memenuhi panggilan kakeknya dan melihat cangkul Claire. Besinya masih bagus dan tajam. Hanya pegangannya saja yang lepas karena kayu di pangkalnya sudah rusak.

"Akan kucarikan gagang yang pas." Kata Gray. Gray berjalan ke belakang, mengambil sepotong kayu yang telah di plitur dan mencocokkannya dengan cangkul Claire. Ia mengecilkan ujung kayu itu hingga bisa masuk ke pangkal cangkul, lalu memalu besi pangkal cangkul itu hingga kayu pegangan benar-benar mantap di dalamnya.

"Oke, sudah selesai!" kata Gray sambil menyerahkan cangkul pada Claire.

"Woah, kau hebat, Gray!" puji Claire.

"Tentu saja, bodoh!" Balasan Gray ini membuat Saibara memukul punggung Gray dengan buku kuitansi.

"Kau yang bodoh, memanggil gadis dengan sebutan bodoh! Mana tata kramamu?!" Gray yang dipukul mengelus punggungnya.

Claire melotot pada Gray sambil bergumam puas, "rasakan, bodoh!"

Gray hanya bisa berdecak kesal.

"Ngomong-ngomong, Claire, besok ada festival kembang api kan. Kau pergi dengan siapa?" tanya Saibara.

"Hm? Pergi dengan siapa?" Claire bingung. Ia kira ia bisa pergi dengan siapa saja yang ia temui di perjalanannya.

"Oh, kau tak tahu? Di sini para anak muda biasa mengajak pasangan ke pantai untuk menonton kembang api."

Mendengar ini Claire jadi berpikir. "Pasangan? Maksud kakek pacar?"

"Tak harus pacar. Kau bisa ajak orang yang dekat denganmu, Claire."

"Kakek mau menemaniku?" tanya Claire sambil tersenyum lebar.

"Aku? Hahahah! Aku tak akan bisa bertahan di sana Claire, jantungku takkan kuat! Tapi aku senang sekali dengan tawaranmu."

Claire tampak kecewa mendengarnya.

"Ajak saja Gray," kata Saibara. Mendengar namanya disebut, Gray melihat Claire. Lagi-lagi wajah Claire merah ketika mata mereka bertemu.

"Aku pergi dengan Mary," jawab Gray singkat, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya memasang baut pada chesse maker yang sedang dibuatnya. Kali ini perlakuan dingin Gray membuat Claire sedikit terhenyak.

Saibara mendengus mendengar jawaban cucunya itu. Claire memandang malas pada Gray, kemudian tersenyum pada Saibara.

"Tak apa, aku bisa pergi sendiri," kata Claire, membuat Saibara merengut.

"Haruskah aku pergi denganmu, Claire?"

"Hahah, tak usah, kek! Kalau jantungmu berhenti krn suara kembang api, aku takkan bisa hidup lagi." Jawab Claire dengan suara yang dimanja-manjakan.

"Hmf! Dasar kau ini!" tawa saibara sambil mengudek-udek rambut Claire.

"Kalau begitu aku pergi dulu, kek. Terimakasih lagi, Gray!" seru Claire sambil tersenyum, lalu menghilang ke balik pintu blacksmith.

Sepeninggal Claire, Saibara mendekat ke tempat Gray bekerja. "Jangan terlalu keras padanya, Gray," kata Saibara.

"Kenapa?" Gray mengangkat satu alisnya.

"Aku sudah dengar dari Thomas tentang kisah hidupnya. Kau tahu, dia tak punya siapapun untuk bergantung di dunia ini."

Gray terdiam sebentar. Mengingat apa yang terjadi di Mother's hill dulu. Cliff hampir sama dengan Claire. Bedanya, Cliff sekarang punya Ann yang selalu berada di sisinya.

Bukan urusanku.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Claire mandi dan mengganti bajunya dengan overall berwarna hijau. Langit sudah mulai gelap. Sebentar lagi festival kembang api akan dimulai.

"Shin-chan! Kemari! Ayo kita ke pantai!" Claire memanggil Shin yang sedang bermain di rumput bersama bolanya. Shin menurut dan berjalan di samping Claire.

Sesampainya di pantai, ia melihat Zack sedang sibuk mempersiapkan kembang api bersama dua pria tua pendek yang tidak Claire kenal. Ia melihat sekeliling. Sudah banyak orang datang kemari. Sepertinya Saibara benar, kebanyakan anak muda membawa pasangannya. Hanya Thomas, Zack, dan dirinya yang sendirian. Cliff tampak bersama Ann, Kai bersama Popuri, Rick bersama Karen, dan... Gray bersama Mary. Melihat pasangan Gray-Mary entah kenapa membuat Claire merasa ada sesuatu yang menekan hatinya. Membuat hatinya terasa sesak dan tidak nyaman. Claire berjalan ke dermaga, tempat yang cukup sepi dibandingkan area pantai lainnya. Tiba-tiba ia merasa melankolis dan ingin sendirian saja. Jika ia berada di keramaian, entah kenapa ia merasa ingin menangis.

"Baiklah, ayo mulai kembang apinya!" Claire mendengar suara Zack melalui pengeras suara. Segera setelah itu, langit dipenuhi oleh bunga-bunga api berwana-warni. Claire berdiri dan menengadahkan wajahnya sambil menutup mata. Ia selalu suka kembang api. Terutama suaranya. Suara kembang api seperti bergema di dalam hatinya. Membuatnya tak memikirkan apapun. Ia membuka matanya kembali dan tersenyum.

"Hebat..." gumamnya saat sebuah kembang api crysant berwarna toska yang sangat besar tampak di langit.


Gray melihat Claire duduk di dermaga bersama Shin. Ia benar-benar datang sendirian. Kenapa Harris tak menemaninya? Ah, dia harus patroli. Apa dia tak bisa mengajak orang lain saja? Kenapa ia datang sendirian seperti itu?

Coba lihat itu. Ia menutup matanya?

Kalau kau menutup matamu, bagaimana kau bisa melihat kembang api? Bodoh.

Ah, ia membuka matanya lagi.

Dan tersenyum.

Ia tersenyum seperti tak punya beban apapun.

Gadis aneh.

Seperti apa dunia di matamu?

Apakah begitu indah hingga kau bisa selalu tersenyum seperti itu?

"Gray?" Suara Mary membuyarkan pikirannya.

"Ya?" Gray tersenyum padanya.

"Terimakasih sudah mengajakku kemari." Kata Mary. Sentuhan hangat di tangan Gray membuat Gray terkejut, Mary memegang tangannya. Gray lalu balik menggenggam tangan Mary. Mereka tak banyak bicara lagi. Hanya diam menikmati kembang api yang berwarna warni.

.

.


"Claire, kudengar dari Zack kau ke festival sendirian kemarin?" tanya Ann saat ia, Claire, dan Popuri bertemu tak sengaja di dekat hot spring.

"Hm. Kenapa memang?"

Ann langsung memeluk Claire.

"Harusnya kau bilang padaku! Dengan begitu aku bisa menemanimu! Aku bahkan tak melihatmu datang!"

"Itu benar! Menonton kembang api sendirian rasanya sepi sekali kan?" tambah popuri. Claire tertawa kecil.

"Tapi kalian harus bersama Cliff dan Kai, mana mungkin aku mengganggu kalian..."

Ann menggeleng keras. "Tidak masalah! Kita bisa pergi bersama, ya kan popuri?"
Popuri mengangguk. Claire tersenyum melihat perhatian teman-temannya itu.

"Hey, Claire, apa ada orang yang kau sukai di sini?" tanya Ann.

Tiba-tiba wajah Claire merah. Apa ada?

"Kau akrab dengan Harris kan? Apa kau suka padanya?" tanya Popuri.

"Oh, iya! Jadi harris?" Ann menebak-nebak. Claire mengibaskan tangannya.

"Tidak. Mana mungkin. Kami cuma teman ngobrol."

"Kalau begitu... Gray?"

Mendengar nama Gray disebut oleh Popuri, seketika wajah Claire menjadi merah. Ia memang buruk dalam menyembunyikan perasaannya!

"Jadi Gray?" Popuri memastikan.

Claire terdiam. Suka? Apakah perasaannya pada Gray ini... Suka?

"Kau gemetar dan berdebar-debar jika didekatnya?" tanya Popuri.

"Kau teruuus saja memikirnya sepanjang hari? Satu kata darinya bisa membuatmu serasa digiring ke surga dan ke neraka?" Ann menambahkan pertanyaan menyelidiknya.

"Dan kau gelisah jika ia bersama gadis lain?" Popuri memberi pukulan yang lebih keras pada jantung Claire. Membuat wajah Claire semakin merah sampai ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jantungnya berdetak sangat kencang setiap kali temannya melancarkan pertanyaan. Semua itu benar. Sepertinya ia benar-benar...

"Kau jatuh cinta, Claire!" seru Popuri dan Ann bersamaan, menjadi tembakkan mematikan ke jantung Claire.

Claire memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang tak terkendali. Ia memandang kedua temannya.

"Mungkin..." kata Claire dengan suara sangat pelan.

Popuri dan Ann tersenyum senang.

"Tapi..." Claire menghentikan euforia teman-temannya itu. "Lupakan saja."

"Eeeh, kenapaa?" Popuri merajuk.

"Gray suka Mary. Mary juga, sepertinya suka Gray." terang Claire dengan hati yang berat. Ia mengatakan hal yang menyakiti hatinya sendiri.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Ann.

"Mereka berpegangan tangan di festival kemarin. Ia juga menolak pergi ke festival bersamaku. Mungkin aku sudah ditolak bahkan sebelum menyadari perasaanku," Claire merasa miris mendengar penjelasannya sendiri. Ann meletakkan kedua tangannya di bahu Claire.

"Claire. Kau tak akan tahu apakah kau ditolak atau tidak jika kau belum menyatakan perasaanmu!" tegas Ann.

"Kau tidak ingin memberitahunya bagaimana perasaanmu? Kau tidak akan menyesal?" tanya Popuri. Claire terdiam sejenak. Ia tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Kesadaran bahwa ia menyukai seseorang sudah membuat kepalanya penuh.

"Tidak. Aku tak mau melakukan hal yang percuma. Lupakan saja."

"Kau yakin?" Popuri memasang puppy eyes nya. Tapi itu takkan membuat Claire berubah pikiran. Claire tersenyum.

"Yakin. Aku juga suka Mary. Jadi aku akan mendukung mereka berdua."
Claire melihat jamnya. Sudah pukul 10 pagi.

"Nah, aku ke Yodel Farm dulu. Ada yang harus kubeli. Sampai nanti! Terimakasih! Aku senang sekali bisa ngobrol soal ini!" seru Claire seraya pergi membawa keranjang berisi herbs nya.

Ann menyolek lengan Popuri. "Kau tahu? Aku selalu merasa bahwa Gray tak cocok dengan Mary."

"Aku setuju denganmu, Ann. Aku lebih senang melihat Gray yang berkata 'bodoh, bodoh!' bersama Claire dari pada Gray yang jaim saat bersama Mary." Kata Popuri sambil berkacak pinggang. Ann memberikan dua kali anggukan secara khitmad, tanda bahwa ia sangat setuju dengan pendapat Popuri.


Claire menuangkan isi keranjangnya ke dalam shipping box, lalu berjalan ke arah Yodel Farm dengan langkah cepat. Karena pembicaraan dengan Ann dan Popuri tadi, hatinya masih berdebar-debar saat melewati toko blacksmith. Ia bahkan tak berani menoleh karena takut melihat wajah Gray. Memasuki Yodel Farm, lonceng toko berbunyi ketika Claire membuka pintu. Claire terkejut karena dia bukan satu-satunya pengunjung disini. Gray, orang yang paling tak ingin dilihatnya saat ini, tampak berbicara pada kakek May. Gray menyerahkan gunting bulu domba dan alat pemerah susu pada kakek May.

"Terimakasih sudah mengantarkan pesananku, Gray," ucap kakek May.

"Sama-sama!" balas gray. Gray mengangkat topinya dan tersenyum kecil, lalu berbalik untuk keluar dari toko. Gray berhenti ketika melihat Claire berdiri diam di depan pintu.

"Sedang apa kau? Menghalangi jalan."

Claire baru menyadari kalau ia berada tepat di depan pintu. "Eh, maaf." Ia segera menyingkir dari pintu. Gray ternyata tak segera keluar, dan malah melihat claire dari dekat. Claire menunduk menghindari tatapan Gray, tapi tak bisa menyembunyikan wajah merahnya. Gray menghela napas.

"Kenapa kau selalu menyembunyikan wajahmu? Tidak sopan," Gray mengomeli Claire, lalu menyentil dahi Claire.

"Aduh! Sakit, Gray! Apa yang kau lakukan?!" Claire memegangi dahinya sambil melotot ke arah Gray. Diluar dugaan, Gray tersenyum. Senyum yang membuat Claire merasa melayang.

"Begitu lebih baik," kata Gray. Ia lalu berjalan keluar dari toko. Claire masih membatu di depan pintu, hingga kakek may memanggilnya.

"Claire, ada yang kau butuhkan?"

"Oh, ya. Aku ingin membeli sapi," kata Claire.

"O-ho! Akhirnya kau bisa membeli sapi? Kau pasti sudah bekerja dengan sangat keras, Claire!"

Claire tersenyum bangga. "Tentu saja~ siapa dulu petaninya. Claire!" Serunya. Kakek May tertawa mendengarnya. Juga gray yang masih berada di luar toko.


to be continue...