Disclaimer: I don't own Harvest Moon and every character I included here, but the plot.
~ 5 ~
Summer 24th.
Claire harus menemukan Gold untuk meng-upgrade hammer nya. Ia sudah memecahkan batu di mine sampai malam, tapi ia tak menemukan satupun gold. Aneh. Bukankah Gray dan Saibara juga mencari gold disini? Kenapa ia tak pernah menemukannya? Hanya ada chopper, junk ore, dan sesekali perak.
"Malu bertanya sesat di jalan. Aku harus bertanya pada Saibara," gumam Claire. Ia menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin cepat setiap kali hal yang berhubungan dengan Gray terlintas di pikirannya.
Claire pergi ke Blacksmith keesokan paginya, tapi ia tak melihat Saibara di counter.
"Kakek?" Seru Claire. Tak ada jawaban. Saibara tak mungkin membiarkan tokonya tak terkunci. Ini aneh.
"Kau mencari kakek?" Suara dari dalam kamar Saibara mengagetkannya.
"Gray! K-kenapa... kau disini?" Tanya Claire terbata-bata. Ia yakin wajahnya memerah lagi. Hatinya juga terasa sakit karena ia mengingat pemandangan yang dilihatnya di festival kembang api minggu lalu.
"Kenapa? Ini tempat kerjaku. Ada yg salah?" Tanya Gray dengan nada terganggu.
"Ti-tidak. Tentu saja tidak..." jawab Claire pelan. Claire mengangkat wajahnya dan melirik Gray yang tidak mengenakan topinya. Ia hanya mengenakan kaus dan celana santai. Wajahnya masih basah. Tampaknya ia baru saja bangun. Dan itu... sexy?
"Ada urusan apa dengan kakek?" Tanya Gray lagi. Claire cepat-cepat mengenyahkan pikiran ngaconya, dan mengikuti Gray ke counter.
"Ada yg ingin kutanyakan padanya. Kakek kemana?"
"Dia sedang ke Forget-Me-Not-Valley untuk menjenguk temannya yang sedang sakit. Kurasa ia baru akan pulang besok," jelas Gray.
"Oh... itu sebabnya kau tidur di sini. Menjaga toko?" Claire memperhatikan sekeliling toko yang tampak rapi.
"Hm," Gray mengiyakan. "Apa yang ingin kau tanyakan memangnya?"
Claire berpikir sebentar. Jika ia bertanya pada Gray, pasti Gray akan mengatainya bodoh lagi. Tapi bagaimanapun ia harus mendapatkan gold itu.
"Euhm... aku sedang mencari emas. Tapi tak peduli berapapun batu yg kupecahkan, aku tak juga menemukannya. Apa di mine benar-benar ada emas?" Tanya Claire.
Gray duduk di counter dan menyilangkan tangannya di dada.
"Kau mencari di lantai berapa?"
"Eh? Lantai berapa?"
Gray mengerti apa yang terjadi sekarang. Claire tidak tahu bahwa di mine terdapat seratus lantai ke bawah tanah. Gray mengambil kertas dan pensil, lalu menggambar beberapa garis.
"Dengar. Spring mine memiliki seratus lantai ke bawah tanah yang bisa kau masuki." Gray membuka penjelasannya.
"Yang kau masuki selama ini hanyalah lantai 0. Gold kira-kira ada mulai dari lantai 3. Untuk bisa ke bawah, kau harus menggali dengan cangkul dan mencari tangga ke bawah."
"Secara random?" Claire mengerutkan dahinya. Bukankah itu sangat sulit?
"Seiring dengan pengalaman, kau akan bisa menebak di mana letak lantai itu. Misalnya..."
Claire mencondongkan tubuhnya ke dekat Gray, dan melihat Gray menggambarkan sebuah persegi panjang. Gray memberi tanda silang pada beberapa tempat di gambar persegi panjang itu.
"Biasanya tangga ke bawah ada di tempat-tempat ini. Atau selang satu-dua kotak dari tempat tangga sebelumnya. Dari pada menggali secara random, cobalah menggali tempat-tempat ini." Claire mendekat dan berlutut di samping gray, menumpukan kedua lengannya di meja, melihat dari dekat untuk mengingat letak tanda silang yang digambarkan Gray. Saat Gray menoleh ke samping, ia sadar Claire sangat dekat dengannya. Ia bahkan bisa mencium wangi shampo yang digunakan Claire. Wangi yang sangat lembut...
"Ah, lalu, Gray..." Claire tak bisa menyelesaikan kata-katanya karena saat ia menoleh Gray juga sedang menoleh ke arahnya. Membuat wajah mereka sangat dekat, dan hidung mereka besentuhan. Claire membeku. Gray juga membeku. Claire bisa merasakan wajahnya memerah. Dan ada sedikit rona merah di wajah Gray.
Claire menundukkan kembali wajahnya dan melihat ke kertas yang ada di meja. Melihat ini Gray tersadar dari kebekuannya dan berdeham.
"Ehem. Ya, itu saja. Cobalah sendiri sana." Kata Gray sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ka, kalau begitu... aku ke mine dulu. Terimakasih... Gray." Dengan terbata-bata Claire menyelesaikan kalimatnya. Ia lalu meninggalkan toko blacksmith dengan jantung yang rasanya mau melompat dari rongga dadanya. Sesampainya di jembatan samping poultry farm, ia berjongkok dan memegang kedua pipinya yang terasa panas. Kakinya gemetar sampai ia tak sanggup berdiri. Ini sangat gawat. Dengan keadaannya yang seperti ini, bagaimana bisa ia melupakan Gray?
XXXXOOXXXX
Claire keluar dari mine dengan senyum puas. Ia berhasil menemukan beberapa emas di lantai 3 mine, sesuai dengan petunjuk Gray. Melihat matahari sudah mulai condong ke arah barat, ia bergegas menuju ke toko blacksmith. Tak peduli meskipun ia masih merasa canggung pada Gray. Hari ini juga ia harus menaruh pesanan upgrate-an hammer nya agar bisa selesai secepatnya. Ia menargetkan untuk membersihkan area ladangnya dari batu-batu besar sebelum musim panas berakhir. Dengan begitu, ia bisa menanami ladangnya dengan lebih leluasa di musim gugur.
"Permisii!" seru Claire, membuka pintu toko, dan membuat lonceng pintu berbunyi.
Gray sedang bekerja di dekat tungku. Tahu bahwa yang datang adalah Claire, ia hanya menyahut dari tempatnya, "masuk Claire!"
Claire masuk dan melihat apa yang sedang dilakukan Gray dari meja counter. Ia tak berani terlalu dekat dengannya saat ini karena teringat apa yang terjadi tadi pagi. Gray sudah menggunakan baju kerjanya yang biasa, juga sudah memakai topi birunya.
"Ehm... aku mau meng-upgrade hammer ku."
"Sudah dapat emasnya?" Tanya Gray sambil berjalan ke counter.
"Sudah. Terimakasih atas petunjukmu, Gray." Claire tersenyum lebar dengan wajah merah, tapi matanya tak berani melihat Gray. Gray menghela napas menyadari Claire selalu menghindari bertatapan dengannya akhir-akhir ini, selalu merona di depannya, dan matanya menunjukkan perasaannya dengan jelas. Perasaan yang ia takutkan.
Gray menerima emas dan hammer dari Claire, lalu mencatat pesanan Claire di buku riwayat pesanan.
"Alatmu akan selesai 3 hari lagi. Terimakasih." Ucap Gray profesional, tanpa senyum. Mungkin ia memang tak seharusnya bersikap baik pada Claire. Sebelum perasaan Claire berkembang lebih jauh, ia harus menghentikannya. Ia tak ingin terlibat lebih jauh dari Claire.
Melihat Gray yang kembali bersikap dingin, Claire sadar bahwa Gray memang berusaha menjauh darinya. Gray hanya bersikap dingin padanya. Kenapa?
"Hey, Gray." Panggil Claire. Gray masih menulis di bukunya dan hanya mengeluarkan "hm?" kecil.
"Apa kau terganggu jika aku ada di dekatmu?"
Pertanyaan Claire membuat mata Gray sedikit melebar. Apa ia terganggu dengan adanya Claire?
XXXXOOXXXX
(bersambung...)
Author's Note:
Terimakasih banyak atas review kalian yang berharga: Mnema, Muni, Kiroi, Kiko Alvita, , dan Ayaka Aoi :DDD
Silahkan panggil saya apa saja, Flower, author, atau omae (?). Gak sangka dapat cukup banyak feedback dari fanfic ini.
Gomennasai atas segala kekurangan di chapter-chapter sebelumnya, intinya semua itu terjadi karena kemalasan author semata~ hahahaha. /gebuk. Terutama untuk Ayaka Aoi, masukannya komplit hehe.
Jadi, untuk chapter berikutnya author akan mencoba sebaik mungkin untuk menyelamatkan mata pembaca dari kesemena-menaan perlakuan author pada EYD
Dou? I hope you like the latter chapters as well~
Oh ya, author akan sering melakukan maraton upload, karena banyak hal di RL yang menghambat proses upload rutin. Then, once again, hope you enjoy my fanfic :DD
