Disclaimer: I don't own Harvest Moon and all character I used here, just the plot.
~6~
Ann menyilangkan tangannya di dadanya. Telapak kakinya menghentak kecil di atas rumput. Popuri duduk di atas batu di tepian Harvest Goddess Spring sambil mengelus dagunya, berpikir keras. Claire menyandarkan punggungnya di batang pohon, berdiri menghadap spring. Ia baru saja menceritakan apa yang terjadi kemarin pada kedua temannya.
"Apa kau terganggu jika aku ada di dekatmu?" Tanya Claire.
Gray terdiam sebentar hingga akhirnya ia memberikan jawabannya yang membuat Claire tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Kau sangat menggangguku. Pergilah jika urusanmu sudah selesai." Ujarnya dingin. Claire membeku sesaat. Merasakan air hangat berusaha lolos dari ujung matanya, Claire mengepalkan tangannya, menahannya sekuat mungkin.
"Begitu. Baiklah, aku pergi dulu. Terimakasih."
Claire berusaha mengucapkannya sambil tersenyum, lalu pergi keluar dari toko.
"Ada yang aneh," kata Ann. "Sikap Gray aneh. Di satu sisi ia selalu baik padamu saat kau kesulitan. Tapi ketika kau memberikan 'kode' perasaanmu padanya, ia seperti berusaha menjauhimu."
Popuri dan Claire yang tidak mengerti kata-kata Ann mengerutkan dahi mereka.
"Maksudku, aku yakin Gray tertarik padamu, Claire."
"Eh? Benarkah?" tanya Claire dan Popuri bersamaan.
Ann menggeleng-gelengkan kepalanya, meledek kepolosan kedua temannya itu. "Kau mungkin tidak sadar Claire, tapi Gray sering mencuri pandang padamu. Saat Kai datang ke Inn, saat setiap kali aku melihat kalian berdua di restoran. Aku melihatnya! Ia melirikmu!" kata Ann berapi-api.
Tapi Claire yang sudah hampir putus asa hanya memasang wajah cemberut. "Mungkin ia hanya memasang radarnya, jadi ia tak berada dekat-dekat denganku. Ia bilang aku mengganggunya kan. Dia pasti membenciku."
Ann memegang kedua bahu Claire, mengguncang-guncangnya.
"Tidak. Aku yakin tidak. Ayolah! Kau manis, pekerja keras, dan... euhm..." Ann berusaha mencari kata-kata untuk menyemangati Claire, ia melirik ke arah popuri, isyarat agar Popuri membantunya.
"Kalian bahkan telah menghabiskan malam bersama di Mother's Hill!" Seru Popuri. Seketika mata Ann melebar, teringat cerita Claire beberapa minggu lalu.
"Itu benar! Jika ia membencimu, ia pasti sudah meninggalkanmu, gadis mabuk yang menangis di gunung malam-malam!"
"Bagaimanapun, kau harus menyatakan perasaanmu, Claire! Hanya itu caranya untuk mengetahui perasaan Gray yang sebenarnya padamu!" Popuri menyiram bensin pada kata2 ann yang berapi-api.
Claire terdiam sambil mengepalkan tangannya, berusaha mengumpulkan semangatnya lagi.
"Kalian benar. Jika aku terus memendamnya seperti ini, aku takkan bisa tenang. Apapun hasilnya, aku harus mengatakannya dengan jelas. Begitu kan?" Kata Claire.
"Tentu saja!" Ann menjawab yakin.
"Terimakasih teman-teman. Aku akan berusaha!"
~A~
8th Autumn.
Meski Claire bilang ia akan berusaha menyatakan perasaannya pada Gray, kenyataannya tidak semudah itu. Ia tak pernah bisa mendekat padanya karena masih merasa takut. Kata-kata Gray itu sangat mengganggunya. Karena kesibukannya di awal musim, tanpa sadar waktu sudah menginjak hari kedelapan musim gugur. Artinya, saatnya festival makanan.
Semua penduduk mineral town membawa bahan makanan untuk dimasukkan ke panci super besar. Doug bertanggung jawab pada proses pemasakan. Claire tidak heran rasa sup campur aduk ini tetap sangat enak, sebab Doug lah yang meraciknya. Karena semua penduduk datang, tentu saja Gray juga datang. Mary tak menempel pada Grey seperti biasanya karena ayah dan ibunya ada di sini. Claire membawa dua mangkuk makanan dan menghampiri Gray yang sedang duduk sendirian di pojok town square.
"Ini Gray," kata Claire sambil menyerahkan satu mangkuk makanan. Gray mengangkat wajahnya yang tampak mengantuk.
"Oh, sudah jadi? Terimakasih." Gray menerima mangkuk tersebut, dan mulai mengaduk isinya.
"Kau tidur?" tanya Claire.
"Ya," jawab Gray pendek.
"Kau pasti sangat lelah. Saibara bilang ada banyak pesanan dari kota sebelah. Toko kalian jadi terkenal ya?"
"Hm."
Claire hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Gray yang pendek-pendek itu. Ann benar. Gray berusaha menjauhkan diri dari Claire.
Mereka makan dalam diam, sementara warga lain tampak sangat senang. Claire melihat Mary mengamati dirinya dan Gray. Ada ekspresi tidak suka di wajahnya. Claire sadar bahwa akhir-akhir ini Mary lebih menampakkan perasaannya pada Gray. Karena Gray jelas-jelas menyukainya, menurut Claire jika ia tak segera bertindak Gray bisa jadian dengan Mary kapan saja.
Ketika Claire telah selesai memakan supnya, ia melihat Gray melambaikan tangannya dan tersenyum. Rupanya Doug sedang melambaikan tangan dari kejauhan. Dari gerakan bibirnya Claire tahu Doug berkata, "kukira kau tak datang, bocah!".
Senyuman Gray membuatnya tampak bersinar di mata Claire. Jantung Claire berdetak semakin cepat. Ia ingin Gray tersenyum padanya. Ia berharap bahwa Gray yang dilihatnya di Mother's hill dulu adalah Gray yang sebenarnya. Ah... ia benar2 menyukai Gray. Meskipun Gray selalu bersikap dingin padanya, ia tak bisa menghentikan perasaannya. Kenapa ia begitu menyukai pria ini? Akan lebih baik jika ia menyukai Harris yang lembut dan bersahabat. Tapi mau bagaimana lagi, ia sangat menyukai pria ini.
"Gray," Claire menarik pelan lengan baju Gray, membuat Gray menoleh ke arahnya.
"Aku suka padamu," ucap Claire dengan wajah merah, sedikit gemetar, namun berusaha menatap langsung ke mata Gray. Claire melihat wajah Gray sedikit kaget, tapi ekspresi itu langsung hilang seketika. Gray menunduk dan memandang supnya. Untuk waktu yang lama, Gray hanya diam.
"Aku tidak merasakan hal yang sama denganmu. Maaf, Claire," kata Gray akhirnya. Claire menggigit bibirnya, lalu berusaha tersenyum, mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat menyedihkan.
"Aku tahu. Aku... hanya ingin mengatakannya padamu. Jika tidak, mungkin aku akan menyesal." Ucap Claire berusaha senormal mungkin dan tersenyum. Claire bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri di hadapan Gray.
"Terimakasih sudah mendengarkan perasaanku." Senyuman Claire saat ini bercampur dengan rona merah di wajahnya, dan mata yang mulai berair. "Aku mengembalikan mangkuk kosong dulu."
Claire berlari ke arah Ann dan Cliff yang bertugas menerima mangkuk kosong dan membagikan sup. Ia menyerahkan mangkuk kosongnya pada Cliff.
"Kau mau nambah Claire? Sayang sekali, supnya sudah habis..." kata Cliff dengan senyum di wajahnya.
"Tidak. Aku sudah kenyang..." jawab Claire. Air mata Claire mulai jatuh setetes demi setetes, membuat Cliff bingung.
"Ka... kau kenapa Claire?" tanya Cliff panik, tak tahu harus berbuat apa.
"Ah, kau boleh makan punyaku. Aku belum memakannya!" bujuk Cliff yang menyangka Claire menangis karena supnya habis. Melihat keributan yang ditimbulkan Cliff, Ann mendekat dan menyadari Claire menangis.
"Apa yang kau lakukan padanya, Cliff?!" omel Ann.
"A... aku tidak melakukan apapun! Aku hanya bilang... supnya sudah habis!" Cliff mencoba membela diri.
"Mana mungkin ia menangis hanya karena itu? Kau pasti melakukan hal lain kan!"
"Tidak! Mana mungkin..."
"Gray..." isakan Claire menghentikan pertengkaran Ann dan Cliff.
"Gray kenapa?!" tanya Ann, masih emosi. Claire tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis sesegukan di depan Ann dan Cliff.
Autumn 8th, Claire Minami patah hati.
~0~
Gray sedang mengenakan piyamanya ketika Cliff masuk ke kamar kost mereka dengan wajah serius. Cliff tampaknya baru menyelesaikan tugasnya di festival hari ini. Ia melepas kuncir rambutnya dan mengambil handuk. Sebelum masuk ke kamar mandi, ia menghampiri Gray yang telah berbaring di tempat tidur.
"Kudengar kau menolak Claire?" tanya Cliff tanpa senyum. Gray mengangkat satu alisnya, heran pada sikap Cliff yang tak biasa.
"... Benar," jawab Gray.
Cliff terus menatap mata Gray dengan tajam, sehingga Gray merasa gusar dan bangkit dari posisi nya.
"Kau kenapa sih?" tanya Gray.
"Kau yang kenapa." Cliff balik bertanya. Ia masih memandang Gray dengan pandangan kesal.
"Aku yang menolak Claire, kenapa kau yang kesal? Kau suka dia? Hahaha..."
"Kau yang suka dia," potong Cliff. Gray menghentikan tawanya dan mengerutkan dahinya, memberi Cliff pandangan tidak mengerti.
"Kau mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi tidak denganku. Kau selalu memperhatikannya, dimana pun. Kau bahkan selalu keluar malam untuk..."
"Diam." Kali ini Gray yang memotong kata-kata Cliff. Ia berbaring miring di tempat tidurnya, memunggungi Cliff. Merasa tak diindahkan, Cliff menghela napas panjang.
"Apapun alasanmu, kuharap kau tak menyakiti dirimu sendiri, Gray." Kata Cliff mengakhiri pembicaraan, dan masuk ke kamar mandi. Sementara gray masih berbaring dengan mata terbuka, memikirkan pembicaraan barusan. Mereka sudah terlalu lama bersama, Gray tak mungkin bisa berbohong padanya. Karena itu ia memilih untuk diam.
~O~
Claire melihat wajahnya sendiri di cermin. Menakutkan. Matanya bengkak. Bagaimanapun, ia telah menangis sepanjang sore ini. Sebenarnya ia sangat ingin ke puncak Mother's Hill malam ini untuk menenangkan diri. Tapi ia sadar tubuhnya saat ini tak akan kuat, dan ia sudah berjanji pada Harris tak akan melakukan hal yang membahayakan dirinya.
Claire keluar dari rumahnya dan melihat kebunnya. Di dekat kandang sapi ia telah membuat tiga petak padang rumput kecil yang dipagari oleh kayu. Claire melihat sapinya, Bon, telah tertidur bersama Shin di sampingnya. Ia lalu duduk di atas rumput dan memindahkan Shin ke pangkuannya.
"Udara semakin dingin. Sebaiknya kau tidak tidur di luar mulai besok, Bon." Kata Claire sambil melihat profil tidur sapinya itu. Claire lalu mengalihkan pandangannya ke langit. Langit malam ini sangat cerah. Ia bisa melihat bulan purnama berada di puncak Mother's Hill. Indah sekali.
"Aku akan tidur di sini malam ini. Sebentar ya." Claire meletakkan Shin di atas rumput, masuk ke rumahnya, dan keluar lagi dengan membawa kantung tidur berwarna hijau tua. Claire mengenakan kantung tidur itu dan berbaring di samping Shin, dengan wajah menghadap ke langit. Tak lama kemudian Claire tertidur dengan pulas. Ia tak menyangka tidur seperti ini terasa sangat nyaman. Ia baru bangun pagi pukul 5.30 keesokan harinya. Ketika ia bangun, hal pertama yang dilihatnya adalah langit fajar musim gugur yang berwarna warni yang sangat indah. Claire menghirup udara dalam-dalam, merasakan paru-parunya terisi oleh udara Mineral Town yang bersih, lalu melepasnya, meninggalkan perasaan lega di dalam hatinya.
Kalau dipikir-pikir, sejak datang ke Mineral Town hatinya menjadi lebih tenang. Rutinitasnya ke puncak Mother's Hill membuat tubuhnya lelah dan bisa tidur dengan nyenyak. Orang-orang di tempat ini juga penuh warna. Claire bahkan bisa jatuh cinta disini –meskipun bertepuk sebelah tangan. Tapi ia senang bisa tinggal di kota ini.
Claire tersenyum sambil memandang langit yang semakin terang, lalu duduk dengan kaki terjulur ke depan.
"Ganbaro." Kata Claire pada dirinya sendiri. Ia tersenyum lega. Saat itu juga ia memutuskan untuk menjalani segalanya apa adanya. Tak apa jika Gray tak menyukainya. Tak apa jika Gray menyukai Mary. Ia akan tetap menyukai Gray, setidaknya sampai rasa sukanya itu hilang.
~0~
(bersambung...)
Author's Note:
Sedikit bingung saat menentukan surname nya si Claire. Pokoknya karena dia satu benua sama Saibara, akhirnya diputuskan nama itu~ hehe.
Okay, see you at next chapter!
