Disclaimer: I don't own Harvest Moon and the characters, just the plot.

~7~

Gray telah duduk di puncak Mother's Hill sejak semalam. Ia tak bisa tidur, terutama karena kata-kata Cliff tadi malam.

Selesai mandi, Cliff memakai T-shirt longgarnya untuk tidur. Ia berjalan ke dekat pintu untuk menekan saklar lampu.

"Apa dia tersenyum padamu, Gray?" kata Cliff sebelum mematikan lampu. Ia tahu bahwa Gray belum tidur. "Dia menangis di depan Ann dan aku, asal kau tahu," lanjutnya, lalu mematikan lampu kamar untuk mengakhiri pembicaraan.

Gray sudah menduganya. Claire tak mungkin menangis di depannya. Saat ia menolaknya, Claire berusaha tersenyum. Tapi matanya tak bisa berbohong, dan Gray tahu ia akan segera menangis di suatu tempat. Seperti itulah Claire yang ia kenal selama ini. Karena itu semalam ia menyelinap ke Mother's hill, khawatir Claire akan mendaki dengan kondisinya yang sedang tidak baik. Khawatir? Gray selalu mengkhawatirkan gadis pirang itu. Karena itu ia sering ke Mother's Hill malam-malam, hanya agar ia bisa berada di sekitar gadis itu jika dibutuhkan. Ia tak tahu sejak kapan ia jadi seperti ini. Khawatir padanya, senang jika melihatnya, sedih jika ia terluka.

"Tapi justru aku yang melukainya." Gumam Gray. Setelah merah mulai muncul di ufuk timur, Gray bangkit dari duduknya dan kembali. Udara dini hari sangat dingin, sehingga ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Gray memutuskan untuk menyebrangi farm milik Claire menuju Inn. Langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada padang rumput kecil di dekat kandang sapi Claire. Claire tampak tidur dengan nyenyak, terbungkus kantong tidur berwarna hijau tua. Shin dan seekor sapi tampak tertidur di sampingnya.

Gray mendekat ke arah Claire, lalu berjongkok di dekat kepalanya. Ia memandangi wajah Claire yang tampak damai, meski dengan mata sedikit sembab.

"Kenapa kau suka sekali melakukan hal-hal aneh?" Tanya Gray, mengangkat satu alisnya. Shin terbangun dan hendak menggonggong, tapi Gray menghentikannya dengan memberi isyarat diam padanya. Gray lalu menyentuh pipi Claire yang dingin, menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.

"Jaga dia, Shin." Pesan Gray sambil mengelus kepala Shin.

~~0~~

Memasuki Inn, Gray melihat Cliff sedang duduk di tempat tidurnya sambil membaca buku. Cliff langsung menghujaninya dengan pandangan malas, tanpa senyum, lalu kembali membaca bukunya dengan serius. Sungguh bukan Cliff yang biasanya.

"Apa?" Tanya Gray, kesal dengan sikap Cliff sejak semalam.

"Hm? Aku tidak bilang apa-apa," jawab Cliff tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"Kau mau mengatakan sesuatu kan? Katakan saja. Sikapmu itu menyebalkan." Gray menyambar buku Cliff. Mereka berpandangan selama beberapa saat, hingga Cliff menghela napas, dan menunjukkan ekspresi nya yang biasa: khawatir.

"Masih ada banyak waktu sebelum kita bekerja. Gray, ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Maksudmu?"

"Kau menghindari Claire meskipun kau menyukainya, dan kulihat Mary menempel padamu akhir-akhir ini."

Gray mengerutkan dahinya. Ia tak pernah bisa menghindar dari teman sekamarnya ini. Sepertinya bagi Cliff, Gray hanya toples transparan yang mudah dilihat isinya.

"Kenapa kau mengurusiku terus, Cliff? Pikirkan saja hubunganmu dengan Ann yang tak ada kemajuan..."

"Kami sudah jadian." Potong Cliff.

"Eh?"

"Malam sebelum festival makanan, aku menyatakan perasaanku padanya."

Gray sekarang merasa membeku. Cliff sudah melangkah sejauh itu, sulit di percaya. Pria yang selalu pemalu dan gugup ini...

"Ejekanmu dan Kai selalu membuat kupingku panas, Gray. Dengan begini, kau tak akan bisa mengalihkan pembicaraan lagi." Kata Cliff dengan senyum manis di wajahnya. Gray menciut. Ah... payah.

~0~

Claire menyeka keringatnya dengan lengan kanannya. Matahari sudah berada tepat di atas kepala Claire saat pekerjaannya selesai. Hari ini ia memanen sangat banyak ubi merah, sehingga pekerjaannya selesai lebih siang dari biasanya. Melihat banyak sekali ubi yang dihasilkannya, Claire ingin sekali membuat ubi bakar. Membakar ubi dengan dedaunan yang berjatuhan di halaman rumah merupakan salah satu kebiasaan di timur. Ia ingin mengajak Saibara untuk membakar Ubi. Tapi bagaimana jika ia bertemu Gray? Bukankah ia baru di tolak kemarin?

Tidak. Ini kesempatan yang baik. Aku tidak mungkin menghindari Gray selamanya. Jika ada kakek, aku akan bisa bersikap biasa pada Gray.

Dengan pikiran itu, ia pergi ke toko Blacksmith. Hanya Saibara satu-satunya orang di sini yang berasal dari timur, sama sepertinya. Itu sebabnya ia bisa berbagi hal-hal seperti ini.

"Kakeek~" seru Claire saat memasuki toko Blacksmith. Saibara sedang duduk di counter, membaca buku. Ia melepas kacamata bacanya ketika menyadari kehadiran Claire.

"Oh, Claire! Kau tampak sangat berenergi hari ini. Ada apa?" Tanya Saibara sambil tertawa.

"Aku akan membuat ubi bakar. Kau tahu kek, yang dibakar dengan daun-daunan."

Mendengar ini, Saibara tampak sangat senang. "Oh ya? Sudah lama sekali aku tidak membuat yang seperti itu! Hmm..." Saibara menoleh ke belakang, membuat Claire menyadari kehadiran Gray. Gray rupanya sedang mengukir perhiasan. Itu sebabnya Claire tidak mendengar suara gaduh yang biasa muncul saat Gray bekerja. Claire tersenyum dan mengangguk pada Gray, sebagai salam kecil.

"Aku tak bisa meninggalkan toko, maaf Claire. Bagaimana kalau setelah aku menutup toko saja?" Kata Saibara.

Claire segera mengalihkan pandangannya dari Gray, dan tersenyum pada Saibara.

"Tentu. Aku akan mengumpulkan daun terlebih dahulu. Bye, kek."

Begitu Claire pergi, Saibara berbalik dan menyipitkan mata sambil melihat Gray. "Aneh. Meskipun kau sedang mengerjakan sesuatu yang sangat menarik, ia tidak mengganggumu."

Gray yang tak ingin terpancing emosinya hanya menyahut tak antusias, "memang biasanya bagaimana?"

"Anak itu selalu antusias pada hal-hal baru disekitarnya kan. Misalnya waktu kau..." tiba-tiba Saibara berhenti bicara. Ia mengingat-ingat beberapa kejadian saat Claire datang ke tokonya.

"Gray, apa kau melakukan sesuatu padanya?" Tanya Saibara, membuat Gray menghentikan tangannya mengukir.

Kenapa orang-orang ini begitu peka?

"Apa maksud kakek?" Gray berlagak tidak tahu.

"Aku baru menyadarinya. Ia tidak menyapamu, Gray. Lihat, kelakuan burukmu itu akhirnya membuat gadis baik pergi!" ejek Saibara dengan seringai di wajahnya.

"Lebih baik dia pergi," jawab Gray pelan. Sangat pelan sehingga Saibara tak mampu mendengarnya.

~0~

Bagaimanapun sulit bagi Claire untuk melihat wajah Gray. Jantungnya masih meletup-letup jika ada Gray, dan ia ingin menangis. Tapi ia harus menghadapinya. Claire bertekad untuk tetap berteman dengan Gray meskipun ia sudah ditolak. Begitupun dengan rivalnya, Mary. Ia tak mungkin bersikap bermusuhan dengan gadis lembut itu. Karena itu ia tetap pergi ke perpustakaan hari ini untuk mengembalikan buku.

Kupikir begitu. Tapi hey, coba lihat apa yang terjadi sekarang...

Claire terpojok di sudut perpustakaan. Mary berada di depannya, menyilangkan tangan di depan dada, dengan wajah yang sangat kesal.

"Claire, sebaiknya kau menjauh dari Gray!" ancam Mary. Claire mengerutkan dahinya. Setahunya Mary adalah gadis lembut, bukan gadis beringas bermata iblis ini.

"Apa maksudmu?" tanya Claire, berusaha menggali informasi tentang apa yg sebenarnya terjadi.

"Percuma saja, Claire. Yang disukai Gray adalah aku! Dulu, sekarang, ataupun nanti. Ia tak akan berubah!" Seru Mary sambil merenggut kerah T-shirt Claire. Claire merasa bahwa kali ini Mary sudah kelewatan. Ia memegang tangan Mary yang merenggut kerahnya, lalu menampiknya.

"Aku tahu, Mary. Kenapa kau begitu khawatir? Gray sudah menolakku."

Sekarang Claire balik menatap Mary tajam. "Tadinya aku bermaksud merelakannya denganmu. Tapi mengetahui dirimu yang sebenarnya seperti ini membuatku sangat kecewa."

Claire lalu pergi dari perpustakaan dengan langkah cepat. Ia pergi ke gereja sesuai tujuan awalnya: mengumpulkan jamur di halaman belakang gereja.

Ia tak melihat siapapun di dalam ruang gereja, karena itu ia langsung masuk ke halaman belakang. Di sana ia melihat Cliff sedang duduk bermain dengan seekor kucing putih.

"Hey, Cliff!"

"Oh, Claire!" Cliff menoleh dan tersenyum pada Claire. Entah sejak kapan mereka mulai dekat. Mungkin karena setiap hari Claire terus berusaha berbicara dengan Cliff, segugup apapun Cliff menanggapinya.

"Kau sehat?" tanya Cliff dengan wajah khawatir. Claire tersenyum.

"Tentu. Aku baik-baik saja meskipun baru ditolak. Hahah!"

Cliff ikut tersenyum mendengar Claire tertawa. Tiba-tiba tawa Claire berhenti, dan ia mendekat pada Cliff.

"Cliff, ehm... barusan aku mengalami hal yang sulit dipercaya," bisik Claire, mengisyaratkan betapa penting pembicaraannya ini.

"Apa itu?"

"Mary..." Claire memulai ceritanya. Mendengar nama Mary, telinga Cliff langsung bersiaga. "Dia mengancamku agar aku menjauh dari Gray."

Cliff mengerutkan dahinya, tidak percaya apa yang terjadi.

"Dia sampai sejauh itu..." gumam Cliff.

"Hm?"

"Ah... tidak. Aku tak menyangka. Maksudku, bukankah dia selalu terlihat lembut?"

Claire mengangguk keras. "Aku jadi semakin tidak ingin melepaskan Gray."

"Nah, sebaiknya tidak kau lepaskan dia. Meskipun ia menolakmu sekarang, mungkin nanti ia akan berubah pikiran. Aku tahu dia." Kata Cliff meyakinkan Claire. Claire membalasnya dengan memberinya senyuman tulus.

"Thanks Cliff. Kuharap kau bisa cepat melamar Ann," kata Claire.

"Sebelum itu aku harus mendapat pekerjaan dulu, Claire, hahaha."

"Kau benar. Kalau saja pertanianku besar, aku pasti bisa mempekerjakanmu. Sayangnya uangku tidak akan cukup..."

"Haha, terimakasih atas kepedulianmu, Claire. Seperti kata Ann, kau memang teman yang baik," puji Cliff tulus. Claire tertawa mendengarnya. Tak lama kemudian, Carter datang bergabung dengan mereka.

"Oh, aku lupa. Aku harus membakar ubi! Kalau kalian mau, datanglah ke pertanianku nanti sore. Aku panen banyak ubi hari ini!" seru Claire semangat.

Carter tersenyum senang. "Terimakasih, Claire. Sayangnya sore ini aku harus mengajar Stu dan May," kata Carter, senyumannya berubah menjadi sedikit sedih.

"Ah, aku lupa, aku juga tidak bisa... ada kapal barang masuk ke pelabuhan sore ini. Zack bilang perlu bantuan."

Claire ber "oh" dengan nada sedikit kecewa, tapi segera mengangkat wajahnya lagi. "Kalau begitu akan kuantar untukmu, Carter."

"Lalu aku?" Tanya Cliff dengan wajah iri yang dibuat-buat.

"Akan kutitipkan pada Gray, jika ia datang, hahah."

Cliff tersenyum tipis. "Thanks Claire. Bersemangatlah."

"Uhn!"

~~0~~

(bersambung...)

As always, I hope you enjoy this~