Pagi ini Claire terbangun dengan ketukan pintu yang cukup keras, dan suara parau yang sangat dikenalinya. Claire membuka pintu dan mendapati Duke berdiri di depan pintunya.

"Claire! Maaf mengganggu pagi-pagi. Kau tahu, aku sedang butuh bantuanmu. Besok vine yard kami akan panen sangaat banyak, jauh lebih banyak dri biasanya. Aku tak mungkin menyelesaikan semuanya sendiri, sementara Mana tetap harus menjaga toko. Maukah kau membantuku?" pinta Duke. "Ah, ajak seorang temanmu lagi. Kita butuh banyak tenaga." Tambahnya.

Claire berpikir sejenak. Tak masalah sih, toh besok ia hanya perlu menyiram tanaman dan memerah susu sapi di pagi hari. "Baiklah! Dengan senang hati, Duke." Kata Claire sambil tersenyum. Duke tampak girang, lalu pergi sambil terus melambaikan tangannya. Claire kemudian memutar otaknya. Seseorang yang bisa dimintai bantuan untuk bekerja? Tentu saja dia!

-000-

Cliff dan Gray pagi-pagi sekali terbangun oleh ketukan cepat dan keras di pintu kamar mereka.

"Cliff! Ini aku, Claire!" Mendengar si pemanggil terlihat panik, Cliff buru-buru bangkit dan membukakan pintu. Claire tampak terengah-engah.

"Cliff! Kabar baik! Mana dan Duke sedang membutuhkan tenaga kerja. Meskipun ia bilang hanya untuk besok, kurasa kau bisa mencobanya, Cliff!" Jelas Claire cepat, dengan sedikit melompat, dan memegang kedua tangan Cliff. Cliff sedikit bingung selama beberapa detik, tapi tersenyum begitu memahami maksud Claire.

"Terimakasih Claire! Tentu saja aku akan mencobanya. Ya kan, Gray?" Cliff menggeser sedikit tubuhnya, sengaja agar Gray melihat Claire yang ada di depan pintu. Claire melihat Gray yang duduk di tempat tidur dengan memakai piyama. Rambutnya berantakan, matanya masih mengantuk, tapi ia mengerutkan dahinya.

"Kenapa tanya padaku? Kalian terlalu berisik!" Seru Gray kesal, seraya masuk ke dalam selimutnya dan menutupi kepalanya. Cliff tersenyum kecut melihat Gray, lalu kembali melihat Claire, memberikan senyum canggungnya yang biasa. "Besok aku akan ke sana. Terimakasih atas informasimu, Claire."

Claire membalas senyuman Cliff dengan senyuman yang sangat manis bagi Gray, lalu menepuk bahu Cliff. "Sama-sama, bro! Aku pergi dulu, bye!"

Claire datang dan pergi dengan cepat, seperti tornado. Tapi kali ini ia menyisakan rasa tidak nyaman di hati Gray. Barusan Claire terlihat sangat dekat dengan Cliff. Claire bahkan memegang tangan Cliff tanpa ragu. Apakah ada sesuatu di antara mereka?

"Di hatiku hanya ada Ann. Tapi Claire adalah teman baikku." Kata Cliff sambil tertawa, seolah dapat membaca pikiran Gray. "Dengan sikapmu yang seperti itu, sekalipun dia direbut orang, kau tak berhak untuk complain." Lanjut Cliff.

Gray masih berselimut dan menyembunyikan wajahnya. Ia semakin kesal karena tak bisa membalikkan kata-kata Cliff.

"Apa lagi yang bisa kulakukan, Cliff?" Gumam Gray. Mendengar pertanyaan putus asa Gray ini, Cliff menyingkap selimut Gray dengan kasar, lalu menusuk mata Gray dengan pandangannya.

"Bicaralah sekali lagi padanya. Jika ia benar-benar mencintaimu, ia pasti ingin kau bahagia, Gray."

Gray memandang kosong ke arah jendela yang mulai disusupi sinar matahari. Ia mencerna kata-kata Cliff itu baik-baik

"Aku takut ia akan hancur.."

"Lalu tak apa jika Claire yang hancur?" Tanya Cliff, lebih tajam lagi. "Dia... Mary mengancam Claire agar menjauhimu."

Kali ini kata-kata Cliff membuat Gray bangkit seketika dari tempat tidurnya. Ia memandang Cliff tidak percaya.

"Apa?" Tanyanya, memastikan telinganya tidak salah dengar. Cliff menghela napas, tampak khawatir.

"Sekalipun kau telah membuat kesepakatan untuk bersamanya, selama ia tak merasa memilikimu, ia tak akan berhenti. Bukankah lebih baik jika ia langsung menghadapi kenyatannya dan menyerah?" Lanjut Cliff. Tiba-tiba Gray merasa sangat khawatir. Kesepakatan yang dimaksud oleh Cliff adalah kesepakatan antara ia dan Mary yang terjadi beberapa hari setelah festival kembang api.

Saat itu Gray sedang membaca buku di perpustakaan seperti biasanya. Ia terkejut ketika tiba-tiba Mary memeluknya dari belakang.

"Hey, Gray. Apa kau tidak bosan? Mau melakukan sesuatu?" Tanyanya dengan suara sedikit berbisik ke telinga Gray. Karena kaget, Gray segera bangkit dari duduknya untuk membebaskan dirinya dari pelukan Mary. Mary tampak sedikit shock melihat reaksi Gray.
"Apa yang kau lakukan, Mary?" Tanya Gray bingung. Mary tampak kesal karena reaksi Gray tidak seperti yang diharapkannya.

"Bukankah kau menyukaiku, Gray? Aku suka padamu. " Mary langsung menembak begitu saja. Wajah Gray sedikit memerah. Tapi yang melintas di pikirannya saat ini bukanlah Mary, melainkan wajah seorang gadis berambut pirang panjang yang selalu saja membuatnya repot. Membuat hidupnya tak begitu membosankan. Seandainya Mary mengatakan ini beberapa bulan lalu, tentu ia akan sangat senang. Tapi saat ini, perasaannya sudah tidak seperti dulu.

"Maaf, Mary. Aku..."

"Claire? Claire kan?!" Potong Mary. Ia berteriak dan tampak sangat marah, membuat Gray kaget. "Claire merebutmu dariku!"

"Apa maksudmu?"

Mary kesal. Meski selama ini ia tahu Gray menyukainya, ia tidak mau menyatakan perasaannya karena ingin mengulur perasaan Gray dulu. Tapi tiba-tiba Claire datang, dan entah sejak kapan Mary menyadari Gray selalu memperhatikan Claire. Di pesta kembang api juga, matanya malah memperhatikan Claire yang menonton kembang api sendirian, dan bukan dirinya yang berada tepat di sampingnya.

Air mata kemarahan mengalir di pipi Mary. Ia berjalan dengan cepat ke counter perpustakaan dan mengambil sesuatu dari laci. Mata Gray terbelalak ketika menyadari benda berkilat yang dipegang Mary: cutter!

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gray dengan nada yang diusahakan setenang mungkin.

"Aku akan membunuh Claire, lalu bunuh diri. Jika kau tak bersamaku, tak ada artinya." Jawab Mary dengan air mata yang terus mengalir. Gray segera menangkap tubuhnya ketika ia berlari ke arah pintu. Gray memegang lengan Mary yang memegang cutter, berusaha merebutnya. Tapi mary berontak.

"Lepaskan aku! Lepaskaan!"

"Hentikan, Mary! Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti?!"

Maryberhenti memberontak, namun masih tidak melepaskan cutternya. Ia mengarahkan wajahnya pada Gray yang berada di belakangnya.

"Jangan dekat-dekat dengan gadis itu lagi. Dan jadilah pacarku." Kata Mary. Gray terhenyak sesaat. Apa yang harus ia lakukan? Mary serius, ia tahu. Tapi setelah ia menyadari perasaannya pada Claire saat festival kembang api, ia tak bisa meninggalkan gadis itu sendirian. Melihat Claire sendiri di festival waktu itu saja sudah membuat hatinya sakit. Jika ia harus benar-benar meninggalkannya... padahalmata Claire telah menunjukkan perasaannya pada Gray, meski gadis itu sendiri mungkin belum menyadari perasaannya sendiri...
Gray juga tak ingin hal buruk terjadi pada Claire. Ataupun Mary, cinta pertamanya ini.
Setelah berpikir, akhirnya ia menyerah.

"Baiklah. Tapi jangan melukai Claire ataupun dirimu sendiri, Mary."

-000-

Pukul 10 pagi Claire dan Cliff sudah mulai bekerja di Aja's winery. Seperti kata Duke, banyak yang harus dikerjakan hari ini. Tak hanya memanen, mereka juga harus mempersiapkan anggur hingga masuk ke tong fermentasi. Pekerjaan yang sangat melelahkan meskipun dilakukan oleh tiga orang.

"Cliff, apa kau sudah dapat pekerjaan tetap sejauh ini?" Tanya Duke saat mereka istirahat siang. Mereka memakan omelet rice buatan Mana dan minum jus anggur. Sangat pas ditengah siang musim gugur yang sejuk.

Cliff menggelengkan kepala sambil tersenyum, "belum, Duke."

"Kalau begitu, maukah kau jadi pekerja tetap di sini?" Tanya Duke lagi, membuat Cliff dan Claire menghentikan makannya. "Kau tahu, sejak Aja pergi dari rumah, sebenarnya aku sangat kerepotan dan tak bisa memproduksi banyak wine. Jika kau bekerja di sini, aku akan sangat terbantu."

Wajah Cliff bersinar terang. Ia tersenyum lebar sekarang. "Tentu! Terimakasih Duke, mohon bantuanmu."

Claire meninju pundak Cliff pelan sambil tertawa. Syukurlah, Cliff.

-000-

Gray berdiri di depan Mary yang saat ini duduk di counter perpustakaan. Mary menatap Gray dengan pandangan marah.

"Apa kau bilang tadi?" Tanya Mary.

Gray tidak mengalihkan pandangannya, justru semakin mengunci pandangan Mary dengannya. "Sebaiknya kau hentikan ini. Bagaimanapun, aku tak bisa bersamamu, Mary. Aku suka Clai..."

Plakk!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gray. Tubuh Mary gemetar karena amarah. Matanya merah berair mata, dan ia terlihat sangat buruk.

"Jika kau lakukan itu, aku akan mati." Kata Mary, menyudahi pembicaraan itu dengan pergi ke lantai atas perpustakaan. Gray menghela napas. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

-000-

Malam itu Claire menanjak ke Mother's Hill. Perasaannya sangat senang hari ini, karena teman baiknya, Cliff, akhirnya mendapat alasan untuk terus tinggal di sini. Dengan begitu Ann juga tidak akan kesepian.

Claire mengeluarkan bir dari tasnya. Sudah lama ia tidak minum di sini. Terakhir saat ia bersama Gray musim semi lalu. Claire tersenyum tipis, tapi tak lama karena ia segera merasa ingin menangis. Claire menenggak birnya, bir pear dengan kadar yang tak terlalu tinggi.
"Aaah, enak sekali! Bagus aku memesannya dari Zack!" Serunya sambil menyeka mulutnya yang belepotan bir.

"Kau benar-benar suka mabuk ya?"

Suara dari belakang mengejutkan Claire. Gray berdiri dengan kedua tangan dimasukkan dalam jaket panjang coklat tebalnya. Ia mengenakan syal berwarna biru, tanpa topi. Claire hampir melonjak melihat betapa tampannya Gray saat ini, dengan tampilan yang tidak biasanya.
"Malam ini dingin sekali, kau berani keluar dengan baju seperti itu?" Tanya Gray. Setiap kali Gray bicara, napasnya berembun, dan menurut Claire itu keren. Claire segera menyingkirkan kekagumannya dan melihat baju yang dikenakannya sendiri. Ia memakai setelan piyama panjang berwarna pink, dan hanya melapisinya dengan sweater merah muda tipis. Sebenarnya ia memang agak kedinginan, tapi ia sudah berjalan jauh dan malas kembali untuk mengambil jaket.

"Tak apa, aku sudah biasa tinggal di tempat dingin di timur. Kau sendiri sedang apa disini?" Tanya Claire, memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.

Gray berjalan mendekati Claire, lalu duduk di sampingnya. "Cuma cari udara segar. Boleh minta satu?" katanya, sambil mengambil sekaleng bir di samping Claire tanpa menunggu jawaban Claire.

Gray mengernyit saat meminum bir pear tersebut. Ia tak pernah minum bir dengan rasa seperti itu. "Apa ini?" Tanyanya sambil menjilat bibirnya.

"Bir pear. Aku memesannya dari kota. Kau suka?"

Gray masih mengernyit, belum terbiasa dengan rasanya, tapi lalu menenggaknya lagi. "Ini enak."

Claire tersenyum, lalu meminum birnya sendiri. Mereka terdiam cukup lama, hanya menikmati minuman sambil memandang bulan yang hampir purnama.
Saat ini sebenarnya perasaan Claire campur aduk. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersama Gray seperti ini, tapi disisi lain ia merasa sedih karena teringat penolakan Gray waktu itu. Apakah tak apa jika ia menikmati moment seperti ini dan berharap? Bagaimanapun ia sudah pernah ditolak oleh Gray.

"Ne, Gray..."

Tuk.

Claire kaget saat merasakan beban di bahunya, dan menyadari bahwa Gray menyandarkan kepalanya di sana. Tentu saja hal ini membuat jantung Claire semakin tidak keruan, dan ia hanya bisa membatu dengan wajah merah. Setelah beberapa lama, Claire memberanikan diri menengok untuk melihat wajah Gray. Ternyata Gray tidak tidur, melainkan hanya melihat bulan dengan mata yang tampak sedih.

"Ada apa?" Tanya Claire khawatir. Saat melihat Gray tidak stabil secara emosi, ia hanya bisa memikirkan satu kemungkinan, yaitu terjadi sesuatu dengan kakeknya.
"Kau bertengkar dengan kakekmu lagi?" Claire kembali bertanya dengan lebih spesifik, karena Gray hanya diam. "Gray?"

"...Tidak." Jawab Gray akhirnya. "Hubunganku dengan kakek akhir2 ini jauh lebih baik..."
Berkat kau, batin Gray.

"Lalu kenapa kau depresi begitu? Kau mabuk?" Tanya Claire lagi.
Gray menggerakkan kepalanya sedikit, memposisikan dirinya dengan nyaman di bahu Claire.

"Aku cuma capek," kata Gray dengan suara lemah. "Boleh pinjam bahumu sebentar?"
Claire menggigit bibir. Ia kesal dengan keadaan ini. Suara Gray barusan terasa seperti berbisik di bahunya, dan jarak mereka saat ini 0 mm. Ia sangat kesal. Kesal karena jantungnya mungkin tak dapat menahan kerja berlebihannya saat ini. Kesal karena wajahnya pasti merah sampai ke kuping saat ini. Kesal karena saat ini Gray terlihat sangat lemah, dan Claire benar-benar ingin memeluknya. Kesal karena ia tak tahu harus bicara apa.

"Claire..." Gray memecah keheningan dengan suara yang sangat lembut.

"Hm?" Claire yang sangat gugup hanya bisa memberikan hm kecil sebagai tanggapan.
Gray mengangkat kepalanya dari bahu Claire, dan menatap mata Claire dengan pandangan yang sangat sedih. "Jika di lain waktu aku melukaimu lagi... jangan memaafkanku."

Mendengar ini, mata Claire melebar. Detak jantungnya yang cepat karena gugup tiba2 berubah menjadi rasa takut. "Apa... maksudmu?"

Gray masih menatap mata Claire lekat-lekat. Melihat mata Gray yang sendu membuat hati Claire sakit. Membuat lengannya bergerak untuk merangkulnya. Dan begitulah, Gray mendapati dirinya telah berada di pelukan Claire.

"Ne, Gray... bukankah dulu kau pernah mendengarkan ceritaku? Kau terus menemaniku menangis kan? Itu mengangkat beban berat di hatiku, Gray." Kata Claire sambil meletakkan tangannya di punggung Gray. "Jika ada yang membebanimu, ceritakanlah padaku..."

Gray merasa jika ia menjawab, ia akan meleleh dan menghempaskan diri sepenuhnya pada pelukan gadis ini. Ia bisa merasakan detak jantung Claire dan detak jantungnya sendiri, berpacu cepat, membuat tubuhnya terasa hangat di tengah malam yang dingin ini.

"Kita... tetap bisa berteman kan? Tak bisakah kau mengandalkan temanmu?" Tanya Claire dengan suara yang gemetar. Gray juga bisa merasakan tubuh Claire sedikit bergetar.
Bahkan di saat seperti ini pun, di saat Claire berusaha menghiburku, aku masih akan menyakitinya?

000