Angin dingin malam musim gugur menusuk tangan gray yang tidak di lapisi sarung tangan. Meski begitu, lengan yang melingkari tubuhnya saat ini terasa jauh lebih dingin dari itu. Tangan Claire yang menyentuh tengkuknya terasa dingin dan bergetar. Gray memegang tangan kecil dan halus itu, melingkupinya dengan tangannya yang besar dan kasar, melepasnya dari tengkuknya, sekaligus melepas pelukan Claire.
"Thanks, Claire," kata Gray sambil tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Claire merasa tidak nyaman karena berpadu dengan matanya yang sangat sedih.
"Kau tetap tidak mau membaginya?" Tanya Claire. Gray kembali tersenyum, kali ini terlihat lebih tulus, dan Claire dapat melihat determinasi yang kuat di mata Gray.
"Kurasa kita tidak bisa berteman lagi, Claire," kata Gray.
Mendengar ini, hati Claire mencelos. Ia tak bisa jadi pacarnya, dan tak bisa jadi temannya juga?
"Kenapa? Apa.. kau membenciku? Kau terganggu denganku?" Tanya Claire, air mata mulai mengaliri pipinya.
Gray menghapus air mata claire dengan ibu jarinya, lalu menempelkan dahinya pada dahi Claire. Hal ini membuat Claire sangat kaget dan jantungnya berdetak lebih cepat lagi.
"Claire. Entah sejak kapan, kau selalu ada di pikiranku. Kau selalu, selalu saja merepotkanku. Tapi aku senang saat kau mengandalkanku." Kata Gray tanpa melepaskan dahinya dari dahi Claire. Claire hanya menunduk melihat kancing sweaternya sendiri karena tidak berani melihat wajah Gray berjarak nol centimeter darinya.
"Aku tak pernah membencimu." Kata Gray lagi. Ia semakin menyandarkan dahinya pada dahi Claire, sehingga Claire harus menegakkan kepalanya agar ia tidak terjengkang. "Sebaliknya, aku menyukaimu, Claire."
Kata terakhir Gray membuat Claire benar-benar membatu, dan rasa hangat menyergap hatinya, membuat air matanya meleleh lagi tanpa ia sadari. Gray melepaskan dahinya dari dahi Claire, dan melingkupi kedua pipi Claire dengan tangannya.
"Apa kau selalu mudah menangis setiap kali minum? Hm?" Tanya Gray sambil tersenyum lembut.
"Eh? Ah... itu... tapi..." Claire berusaha menghindari tatapan Gray, dengan air mata yang menetes satu per satu tanpa bisa ia hentikan. "Waktu itu kau bilang... kau..."
Kata-kata Claire terhenti ketika Gray memeluknya.
"Aku mencintaimu, Claire..." bisik Gray di telinga Claire. Air mata Claire kini tak tertahankan lagi. Ia balas memeluk Gray lebih erat, membuat Gray juga mempererat pelukannya.
"Maaf jika aku sering menyakitimu selama ini. Aku hanya tak bisa jujur padamu. Tapi sungguh, aku mencintaimu." Bisik Gray dengan lembut, membuat Claire merinding tak keruan. Claire mempererat pelukannya, menghempaskan tubuhnya pada Gray sepenuhnya. Gray mengelus punggung Claire dengan lembut, berusaha menenangkan tangisannya.
"Aku juga mencintaimu, Gray..."
-000-
Bulan purnama bersinar terang malam ini, menyinari jalan hutan yang dilalui Gray dan Claire dengan berpegangan tangan. Mereka berjalan perlahan, seolah tak rela jika harus berpisah ketika mereka sampai ke rumah Claire.
"Gray. Kenapa kau berubah pikiran?" Tanya Claire.
"Hm?"
"Kau menolakku... di festival makanan. Kenapa kau berubah pikiran? Kapan kau sadar kalau kau juga menyukaiku?" lanjut Claire.
Gray tersenyum. "Kau menyimpulkan sendiri ya?"
"Eh? Apa aku salah?"
"Kau salah. Saat itu pun aku menyukaimu."
"Lalu... kenapa?"
Gray menghentikan langkahnya. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Mary.
"Hm..."
"Kau gengsi?" Claire mencoba mengorek jawaban dari Gray. Gray hanya membalasnya dengan senyum nakal. Senyum yang hampir tak pernah ditunjukkan oleh Gray selama ini.
"Gray, kurasa aku benar2 mabuk." Kata Claire sambil melepas pegangan tangan Gray.
"Kenapa? Kau mual?" Tanya Gray khawatir.
Claire menatap wajah Gray dengan pipi yang merona merah. Gray bisa melihat wajah Claire yang malu-malu, namun jelas ingin menarik perhatiannya.
"Aku... ingin terus bersamamu." Kata Claire tanpa melepas tatapannya. Wajah Gray kali ini memerah hingga telinganya.
"Kau benar2 mabuk..." gumam Gray. Ia meletakkan lengan di depan wajahnya sendiri untuk mengatasi wajah merahnya.
"Gray..."
"Diam. Jangan bicara apapun. Aku hanya akan mengantarmu pulang, lalu aku akan pergi. Oke?" Tegas Gray, membuat Claire yang dalam keadaan mabuk menurut seperti anak kecil.
Gray menggenggam tangan Claire lagi, lalu berjalan dengan agak cepat ke rumah Claire.
"Masuklah." Perintah Gray begitu sampai di depan rumah Claire. Shin tampak sudah tertidur di rumah kecilnya di samping kotak pos.
"Baik... selamat malam!" ucap Claire. Ia mengambil kesempatan untuk mengecup pipi Gray. Namun karena Gray lebih tinggi darinya, ia hanya berhasil mengecup dagu Gray.
"C-Claire!" seru Gray dengan wajah merah.
"Hehe, I love you, Gray." Ia berjalan sempoyongan ke dalam rumah, lalu menutup pintu rumahnya. Gray menggigit bibir khawatir.
"Langsung kunci pintumu, oke?" Seru Gray dari luar rumah. Tak mendengar jawaban apapun dari dalam rumah, Gray membuka pintu dan mendapati Claire tertidur bersandar pada daun pintu. Gray menghela napas.
"Kau ini..."
Gray membopong tubuh Claire dalam gendongan putri, dan membaringkannya di tempat tidur. Claire langsung merubah posisi tidurnya sendiri, dan ia benar-benar berantakan. Gray tertawa kecil saat memperhatikan gerak gerik Claire. Gadis ini selalu sangat berantakan ketika mabuk. Dan Gray baru sadar bahwa dia tipe yang baru mabuk beberapa lama setelah ia minum. Ia tak begitu berantakan di awal, dan baru sangat berantakan setelahnya.
"Bagaimana jadinya jika kau mabuk sendirian di gunung, hah? Kau ini selalu saja membuatku khawatir." Gumam Gray.
Setelah menyelimuti Claire, Gray keluar untuk membawa masuk Shin. Ia menyuruh Shin tidur di tepat di karpet di depan pintu.
"Jaga majikanmu, aku pergi dulu." Pamit Gray sambil mengelus kepala Shin.
-000-
