"Uchiha-sensei?" beo Iruka
"Ya, Uchiha-sensei. Karena dia selalu tahu kemanapun bocah itu pergi setiap aku mencarinya. Jadi aku langsung menyuruhnya mencari Naruto begitu aku tahu dia tak juga muncul disini padahal ini sudah lewat jam belajar." Cerocos Tsunade panjang lebar.
'Naruto, kau dimana nak?' batin pria itu resah.
Entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak memikirkan putri titipan mantan majikannya yang kini tak diketahui keberadaannya.
"Tsunade-sama, apa yang anda maksud tadi adalah Uchiha putra dari Uchiha Fugaku-sama? "
"Iya, memang benar." Jawab Tsunade sedikit heran
"Itachi-sama atau Sasuke-sama?"
"Sasuke, Uchiha Sasuke."
"Jadi Sasuke-sama benar-benar mengajar disini?"
Iruka sama sekali tidak tahu menahu jika mantan majikannya bekerja di sekolah tempat putrinya menimba ilmu. Jujur ia terkejut saat Tsunade menyebut nama Uchiha tadi.
"Ya, dia memang salah satu pengajar disini. Meski aku agak heran kenapa putra bangsawan sepertinya memilih untuk menjadi seorang pengajar di sekolah putri beberapa bulan yang lalu. Kau mengenalnya, Iruka?"
"Begitulah.. Mereka mantan majikan saya sebelum saya bekerja di tempat Jiraiya-sama."
"Hm, aku mengerti."
"Saya bersyukur jika Sasuke-sama adalah orang yang anda mintai bantuan. Saya yakin Naruto akan baik-baik saja, Tsunade-sama."
"Baguslah jika begitu adanya. Dia juga bilang padaku tadi akan segera menghubungiku jika Naruto sudah ditemukan. Lalu bagaimana jika kalian menunggu ditempatku saja selagi Uchiha-sensei itu menjemput putrimu? Kebetulan ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan tentang bocah itu padamu, Iruka."
"Baik."
Dalam hati Iruka merasa lega. Jika itu adalah Sasuke, maka Naruto akan baik-baik saja. Karena Sasuke sungguh-sungguh bisa menemukan Naruto, dimanapun ia berada. Seperti dulu saat ia masih bekerja pada keluarga bangsawan itu. Ia tahu laki-laki itu akan melindungi Naruto sekuat tenaga.
Gedung kosong di area Konoha..
Sasuke berdiri didepan bangunan kosong yang masih berdiri kokoh itu. Ia sampai beberapa detik yang lalu bersamaan dengan masuknya rombongan yang menawan pujaan hatinya kedalam. Alis matanya mengernyit dalam seolah saling berpautan, matanya tampak memerah karena menahan amarah mendengarkan suara-suara berisik ditelinganya.
"Jugo, bawa beberapa orang ke gedung kosong di daerah sekolah putri sekarang! Bawakan juga beberapa buah rantai panjang. Bawa sebanyak yang kau bisa!" Perintahnya mutlak pada seseorang diseberang, kemudian menyelinap masuk mengikuti rombongan. Menyembunyikan kehadirannya di balik tiang besar penyangga bangunan agar tak ketahuan.
"OH!..." memandang tajam kearah gerombolan manusia-manusia labil, membuatnya ingin segera membumi hanguskan mereka detik itu juga. Tapi ditahannya, menunggu waktu yang tepat untuk muncul dan memberi anak-anak nakal itu pelajaran berharga yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan sepanjang hidup.
"…..Jangan lupa kameraku. Dan bawa handycam sekaligus tripod….."
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
And I will be the One
(chapter 2)
.
Naruto fanfiction by Unya Puu
Pair: SasuFemNaru
Genre: Pedophile, Psycology, Lollicon, Sister Complex, Incest(?)
Rate : T (saya g bisa ganti ke M g bisa bikin lemonan meski pengen XD)
Warning: Gaje plus Garing, Super Duper OOC, Bahasa Amburadul Tidak Sesuai Dengan Pelajaran Bahasa Di Sekolah, Alur Cerita Membingungkan, Cerita Pasaran ala Sinetron-Sinetronan, Bisa Menyebabkan Sakit Mata, Sakit Kepala, Mual-Mual. Dan Sebagainya- Dan Sebegitulah.
Uzumaki Naruto - 14 Tahun
Uchiha Sasuke - 28 Tahun
.
Ngetiknya yang ini berhari-hari nunggu waktu g ada orang disekitar saya, jadi g tau tanggal berapanya *ngakak
..
#TIDAK SUKA, JANGAN BACA
Happy reading ~
.
Flashback on
.
(14 tahun yang lalu, saat si cantik baru berusia 3 hari…)
Rumah Utama, 04:51 PM
Pasangan suami istri dari keluarga bangsawan itu turun dari dalam mobil. Dalam gendongan sang istri, tertidur pulas bayi kecil berusia 3 hari berjenis kelamin perempuan. Rambutnya pirang, lengkap dengan wajah gembul khas bayi serta pipi merona dan bibir mungil merah muda. Tak perlu saya ceritakan lagi tentang kejadian dimana dan bagaimana sepasang suami istri ini memperoleh bayi dalam dekapan mereka ini, juga tentang apa yang terjadi pada kedua orang tua kandung sang bayi, karena ceritanya saya yakin sudah sangat umum dan banyak ditemui di fanfic-fanfic favorit yang pernah saya baca. Yang jelas sedikit banyak mirip seperti itulah, hahaha.
Seorang pemuda berambut hitam panjang terikat menyusul mereka dengan menenteng sebuah tas bayi berwarna jingga di tangan kirinya. Berjalan santai sambil mengetik sebuah pesan singkat di ponsel pintar dengan tangan kanannya.
…..
To : Baka Otouto
Subject : Cepat pulang
Si kecil sudah sampai, di rumah Utama.
…..
Kira-kira begitulah isi pesan singkat yang berhasil author intip dari ponsel sang kakak tertua di sela-sela pepohonan rindang tinggi menjulang di halaman depan rumah sang bangsawan pakai teropong bintang. Sementara ketiga orang dan satu bayi pirang, memasuki rumah besar mewah bak istana kepresidenan dibawah sana. Tidak lucu kan lawakan author? Oke. Saya tidak bisa melucu. Let's go back to the story.
Sesampainya di ruang utama, mereka sama-sama mendudukkan diri di atas empuknya sofa. Sedangkan Itachi, sang kakak tertua segera pergi ke kamar adik laki-lakinya untuk meletakkan tas bayi yang tadi dibawanya. Untuk sementara, si adik barunya akan menempati kamar tidur Sasuke, karena kamar yang rencananya akan ditempati bayi kecil bernama Naruto tengah dalam perbaikan.
Sebenarnya kurang tepat jika disebut perbaikan karena kamar itu sama sekali tidak mengalami kerusakan sedikitpun, mungkin lebih tepat disebut perombakan karena sang ibu yang sudah lama menginginkan anak perempuan itu ingin menghias kamar sang bayi dengan nuansa cerah, secerah rambut pirang si bayi yang ditimang-timangnya.
Mengenai alasan mengapa harus kamar Sasuke yang akan ditempati Naruto padahal di rumah besar itu terdapat banyak kamar adalah karena kamar Sasuke jauh lebih nyaman dari kamar-kamar kosong yang ada. Sasuke sendiri juga tidak sedikitpun keberatan kamarnya ditempati karena ia tak tinggal di rumah utama.
Di ruang utama, ibu dua orang pemuda tampan itu mengusap lembut wajah imut bayi bersurai pirang dengan tangannya, Mikoto tersenyum. Hari ini, hari bahagia untuknya. Mendapatkan anak perempuan seperti yang diidam-idamkannya.
"Selamat datang sayang, mulai hari ini kamu jadi bagian dari keluarga kami"
Ucapnya lembut, seperti ibu-ibu kalem pada umumnya.
.
Sementara itu di sebuah sekolah swasta..
Sasuke berjalan secepat yang ia bisa, tidak sabar untuk segera sampai di rumah utama. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan si kecil yang membuatnya terpikat saat pertama kali Itachi menunjukkan foto bayi itu padanya. Kegiatan ektrakulikuler selesai beberapa menit yang lalu. Sasuke semakin memantapkan langkahnya menuju halte bus.
Ia sudah 14 tahun, duduk di kelas 1 SMA swasta di Konoha. Berperawakan tinggi dengan wajah tampan, kaya dan mempesona. Pacar? Sasuke tidak punya. Serius? Tidak percaya kan? Tidak masalah. Soalnya selama bermain di fanfic saya yang ini, Sasuke memang tidak saya buatkan pacar. Kan saya pinginnya dia nanti jadi satu-satunya laki-laki buat Naru dan sebaliknya. *ga usah curcol woy
Katakanlah ia memang terlambat jatuh cinta. Belum punya rasa tertarik pada lawan jenis sampai ia melihat foto bayi perempuan super imut dari kakaknya kemarin. Tidak normal? Jelas. Tapi tidak ada yang bisa menahannya untuk tidak jatuh cinta pada si bayi kecil yang kecantikannya sudah tampak itu, sebab cinta menjadikan segalanya benar sekalipun itu jelas sebuah kesalahan. Dan hakim agung sekalipun tak berhak mengadilinya atas perasaan tak wajar pemuda ini pada si bayi. *maksud saya selama dia g ngapa-ngapain si bayi, hahaha. Sekedar perasaan saja g papa toh?*
Sasuke memutuskan untuk tinggal sendiri sejak masuk SMA, beralasan ingin mandiri dan sang ayah mengabulkannya. Meski sang ibu sangat keberatan berjauhan dari putra bungsunya. Sasuke tetap pada pendiriannya. Dan tinggal sendiri di apartement pusat kota.
Meski dirinya sangat tampan dan populer, jadi pujaan banyak wanita, Sasuke sama sekali tidak tergoda untuk bermain dengan salah satu diantaranya. Walau belum benar-benar mengenal cinta, baginya masalah perasaan adalah hal yang kelak akan dijalaninya dengan serius dan tidak sembarangan apalagi tergesa-gesa atau hanya untuk main-main saja. Seperti kata-kata sang ibu yang selalu didengungkan dikepalanya sejak dahulu kala, tepatnya saat Sasuke berusia lima.
Cinta adalah sesuatu yang berharga, terjadi sekali seumur hidup saja seperti kisah cinta kedua orang tuanya. Sasuke mengagungkan perkataan ibunya, dia jadi anak yang baik karenanya~
30 menit kemudian, remaja laki-laki itu sampai di pemberhentian bus terakhir di sudut kota. Berjalan lima menit dari jalan raya dan sampailah dirinya di depan gerbang besi tinggi berwarna merah darah, pintu menuju rumah utama. Didepannya tampak bangunan bergaya eropa berdiri megah. Menolak dijemput dengan mobil, Sasuke kembali melangkahkan kaki menempuh jarak 500 meter untuk sampai di halaman rumah.
.
Beberapa menit kemudian…
"Dia sangat manis bukan? Kaa-san langsung menyukainya sejak pertama berjumpa"
Celoteh ibu dua anak itu senang, sambil menoel-noel pipi gembul sang bayi yang kini berada dalam gendongan Sasuke.
"Kaa-sama benar" membenarkan ucapan ibunya, Sasuke tersenyum ringan.
"Dia memang sangat manis…" imbuhnya.
"Syukurlah ternyata kau juga memiliki pemikiran yang sama. Awalnya Kaa-san takut kalau-kalau kau tidak menyukai kehadirannya. Kaa-san cemas kau tidak mau melepas gelar 'Bungsu'."
Ibunya menggoda, Sasuke hanya kembali tersenyum kecil.
"Oh, kau sudah sampai Otouto?" Itachi yang muncul dari belakang menyapa.
"Hn." Balas sang adik singkat dan tidak jelas.
"Hahaha, apa-apaan jawabanmu itu." Itachi ikut bergabung dengan keluarga lengkapnya.
"Nah, karena kalian semua sudah berkumpul disini. Aku akan mengumumkan ini secara resmi. Naruto akan menjadi bagian dari keluarga kita, tak peduli walau tak ada ikatan darah. Dan kalian sebagai kakak-kakaknya, tugas kalian adalah melindunginya." Sang Kepala keluarga angkat bicara.
"Baik, Tou-sama" jawab Itachi saja, sedangkan Sasuke tengah asyik memperhatikan adik barunya yang sudah bangun. Memainkan rambut pirang yang jauh berbeda dengan rambut hitam kebiruannya.
Warna mata si kecil juga berbeda dengan iris hitam kelam miliknya. Warna matanya biru indah, sangat serasi dengan rambutnya yang pirang keemasan. Sempurna seperti matahari di langit siang.
Ditengah perbincangan panjang dan ringan diantara keluarga yang jarang berkumpul itu, tiba-tiba Sasuke yang tadinya asyik sendiri dengan adik kecilnya buka suara.
"Kelak, saat Naruto tumbuh dewasa… Aku akan menikah dengannya. Dan aku berjanji akan selalu melindunginya" Tegasnya entah kepada siapa sambil berlalu membawa si bayi menjauh dari anggota keluarga lainnya menuju kamarnya.
"Eeeehhh?!"
Meninggalkan ketiganya yang saya yakin sangat shock dengan penyataan sang remaja ababil.
.
unyapuu unyapuu
.
Sejak kedatangan Naruto, kediaman bangsawan Uchiha jadi ramai dengan suara tangisan bayi. Sasuke juga jadi lebih rajin pulang ke rumah utama, tentunya untuk menemui Naruto. Jika suatu waktu ia tak bisa pulang ke rumah utama, ia akan meminta bantuan Iruka, kepala pelayan yang juga bertugas untuk menjaga Naruto kecil, untuk memberikan kabar padanya tentang perkembangan adik kecilnya itu. Termasuk menyuruh pria dewasa itu untuk mengumpulkan potret si bayi pirang. Iruka yang awalnya heran menanggapi sikap aneh sang tuan muda dengan biasa. 'Mungkin Sasuke-sama terlalu senang punya adik' pikirnya.
Orang tua dan kakaknya yang sempat shock atas pernyataan mengejutkan Sasuke memilih untuk tidak menanggapi dengan serius dan menganggap Sasuke hanya bercanda saja. *ah, lupakan. Saya tidak yakin dia bisa bercanda. Hahaha
Walau sedikit sangsi karena perhatian Sasuke yang terlalu berlebihan pada Naruto, mereka tak ambil pusing dan hanya mengawasi saja.
Dengan sifat kelewatannya itu, ia malah lebih cocok jadi orangtua bagi si pirang dari pada menjadi kakaknya. Namun kedua orang tuanya lebih berpikir positif tentang Sasuke yang ternyata sangat menyayangi putri angkat mereka.
Meski tidak sama halnya dengan Itachi yang merasakan kejanggalan di tiap perhatian adik laki-lakinya terhadap adik perempuan kecilnya itu.
.
unyapuu unyapuu
.
Saat usia Naruto menginjak tahun ke 2, Sasuke sedikit mengurangi jatah waktu kepulangannya ke rumah utama. Yang berarti bahwa waktu untuknya bisa bersama Naruto kecil jadi berkurang. Walaupun begitu, Sasuke benar-benar serius mengikuti persiapan ujian masuk universitas.
pikirnya saat itu, ia ingin lebih serius belajar. Mengumpulkan ilmu sebanyak mungkin untuk bekalnya mandiri. Lalu bekerja dengan gigih agar ia bisa membawa Naruto ke dalam dunianya. Sekalipun tidak bisa sering bertemu, ia masih bisa mengumpulkan banyak informasi dan foto perkembangan Naruto dari Iruka, kepala pelayan yang diberi tanggung jawab langsung oleh ayahnya untuk menjaga putrinya.
Suatu hari, saat Sasuke sedang senggang. Ia pulang ke rumah utama dengan membawa banyak boneka untuk adiknya tercinta. Begitu menginjakkan kaki disana, ternyata ayah dan juga ibunya sedang berada di luar kota dan hanya ada Itachi yang tetap tinggal, ia baru pulang dari kantor.
"Yo, otouto. Bagaimana kabarmu?" sapa sang kakak begitu menemukan Sasuke yang sedang memangku Naruto di taman bunga kesayangan ibu mereka di halaman belakang.
"Hn, begitulah" singkat, padat, tidak jelas seperti biasa.
"Hei. Lagi-lagi jawabanmu ambigu." Protes sang kakak yang kemudian mendudukkan dirinya disamping Sasuke.
"Tidak juga'"
"Hmm baiklah, kemarikan Naru-chan. Aku juga mau memangkunya. Rasanya rindu sekali tak melihatnya sebentar saja"
"Tidak!" total Sasuke tanpa alasan.
"Nii-tama~" tangan mungil itu mencoba menggapai Itachi.
"Naru-chan bukan hanya milikmu, baka-otouto. Dan lagi, kakaknya bukan hanya kau seorang. Lihat, dia menyapaku" Dan Itachi lalu menggendong Naruto, merebutnya paksa dari tangan Sasuke.
"Bodoh! Kembalikan! Naru bukan boneka!" Sasuke sampai bangun dari duduknya demi membawa si kecil kepangkuannya.
"Lihat Naru-chan, Sasuke sama sekali tak mengijinkanku bermain denganmu." Curhat Itachi pada sang balita. Tak dipedulikannya Sasuke yang sudah menekuk wajahnya kelihatan senang saat Itachi mengangkat tubuh kecil itu tinggi di udara dengan kedua tangannya. Namun interaksi kecil itu terhenti saat Itachi melihat ada benda asing di telinga Naruto.
"Apa-apaan anting-anting ini?!" Itachi langsung mengecek bagian telinga Naruto yang telah terpasang anting berbentuk bunga mawar berukuran sangat kecil berwarna merah darah dikedua sisinya. "Apa yang sudah kau lakukan padanya, baka otouto?"
Sasuke langsung mengambil Naruto dari gendongan Itachi. "Bukan urusanmu, aniki."
"Tapi kau sudah melukai telinganya" murka Itachi.
"Aku tidak melukainya, aku hanya memakaikan anting ini di telinganya. Dan perlu kau tahu, Naru sama sekali tak merasakan sakit karenanya. Aku juga sudah mendapatkan ijin dari Kaa-sama untuk ini."
Sasuke pergi, dengan kekesalan berlipat. Sedangkan Itachi hanya berdiri mematung menatap kepergian kedua adiknya yang terlihat masuk kedalam rumah.
"Sifatmu pada Naru-chan semakin aneh saja, Sasuke…"
.
unyapuu unyapuu
.
Usia Naruto semakin bertambah setiap tahunnya. Di usianya yang ke 6, Naruto sudah mulai menjalani pelatihan-pelatihan dasar ala kebangsawanan Uchiha. mulai tata cara makan dan tata cara bersikap anggun layaknya bangsawan sejati. Serta sederet tata cara yang tak bisa disebutkan satu persatu disini. Mungkin terlalu dini bagi anak seusianya. Tapi itulah kewajiban yang harus Naruto kerjakan sebagai putri dari bangsawan Uchiha. Dan Mikoto mempersiapkan dengan baik putri satu-satunya yang kelak akan jadi seorang pengantin dari pemuda yang pantas menyandingnya.
Berbagai macam les, Naruto lakukan. Mengikuti ketertinggalannya yang tak bisa menikmati kehidupan sekolah di usia kecilnya. Untuk alasan keamanan, Naruto menjalani homeschooling. Naruto kesepian, bukan hanya harena kini ia disibukkan dengan kewajibannya. Ia kesepian karena kehadiran anggota keluarganya semakin langka di rumah. Papa dan mamanya lebih banyak menghabiskan waktu di luar negri untuk urusan bisnis, Itachi juga semakin sibuk di kantor, tuntutan pekerjaan menenggelamkannya. Sedangkan kakak termudanya, Sasuke yang paling rajin menemaninya, harus menyeriusi kuliah tingkat akhirnya dan memangkas waktu bermain mereka menjadi 2 kali seminggu.
Untuk menghibur nona muda mereka yang selalu sendirian, Iruka beserta para pelayan yang bekerja di rumah bangsawan itu, menjadi teman bermainnya. Menemaninya bermain di sela-sela waktu luang mereka.
Naruto senang, walau keluarganya tidak disisinya ia tidak sendirian.
Iruka, yang lebih lama berada disekitar sang nona muda, sudah menganggap gadis kecil majikannya itu seperti anaknya sendiri.
Minggu pagi, meski agak mendung di luar sana tidak menyurutkan kecerahan di dalam kediaman Uchiha. Cuti sehari dalam sebulan, yang di hadiahkan tuan muda Sasuke kepada para pelayannya agar Naruto bisa bermain seharian bersama mereka tidak disia-siakan. Kali ini mereka bermain petak umpet. Lokasi persembunyian tidak dibatasi, jadi mereka yang tidak menjadi 'Penjaga' bisa bersembunyi dimanapun.
Permainan berlangsung menyenangkan, sampai keributan luar biasa terjadi karena Naruto menghilang di tengah permainan. Para pelayan, termasuk Iruka kalang kabut mencari sang nona muda. Naruto tidak ditemukan dimanapun. Sampai petang tiba dan Sasuke datang tanpa berkata apa-apa, ia tampak tergesa-gesa seakan tahu apa yang tengah terjadi. Para pelayan ketakutan melihat wajah cemas tidak biasa di wajah tampan tuan termuda mereka. Takut karena telah lalai dalam menjaga Naruto dan juga takut dipecat dari pekerjaan mereka.
Sasuke segera pergi kearah paling ujung dari rumah besarnya, mengikuti suara tangis yang terdengar nyaring di telinganya. Beberapa pelayan mengikutinya. Dan betapa terkejutnya mereka begitu mendengar suara tangis yang semakin jelas dari arah bangunan dekat menara. Sesampainya disana, Sasuke segera membuka pintu. Mendapati adiknya menangis sesenggukan, ia langsung memelukknya erat. Sambil sesekali membisikkan kalimat 'Tidak apa-apa, aku disini. Kau baik-baik saja' hingga Naruto tertidur dalam dekapannya.
Para pelayan saling pandang, antara bersyukur karena nona muda mereka yang sudah ditemukan dan bersyukur karena Sasuke tidak marah ataupun memecat mereka karena kelalaian itu. Di lain sisi mereka merasa sangat takjub pada Sasuke yang langsung tahu keberadaan Naruto begitu menginjakkan kaki di rumah megah itu padahal mereka sudah mencari Naruto setengah mati ke segala penjuru bangunan. Seakan-akan tuan muda mereka itu memiliki mata dimana-mana.
Mereka tidak menyangka jika sang nona muda yang sangat takut pada hantu itu memilih untuk bersembunyi di bangunan dekat menara yang terkesan angker. karena itulah mereka melewatkan untuk mencari di sekitar bangunan dekat menara.
Tak lama setelah Naruto terbangun, ia bercerita tentang bagaimana dirinya sampai di tempat itu. Gadis kecil itu melihat seekor rubah berbulu jingga kemerahan melintasinya saat mencari tempat untuk bersembunyi, mengejar hewan lucu itu hingga tidak sadar bahwa dirinya berada didalam salah satu ruangan di dalam gedung.
Tampak jinak, Naruto memberanikan diri untuk mendekati makluk itu. Mengelus bulu-bulu halusnya dan lalu memangkunya. Asyik bermain bersama si rubah membuat Naruto lupa waktu dan tidak lagi mengingat bahwa dirinya sedang dalam rangka mencari tempat bersembunyi. Sampai akhirnya ia tertidur lelap disana. Terbangun saat senja, Naruto panik karena ruangan itu telah gelap gulita, dan rubah yang tadi menemaninya sudah tidak lagi ada.
Ketakutan akan hantunya kembali, Naruto menggedor-gedor pintu yang tertutup oleh angin saat ia masuk tadi dengan tangan kecilnya. Putus asa karena tidak juga ada yang datang membukakannya pintu, Naruto menangis sejadi-jadinya. Ia takut gelap. Sangat takut hantu. Dengan menyesal telah bertindak ceroboh, Naruto memanggil-manggil nama kakaknya. Dan Sasuke datang setengah jam setelahnya.
Tidak ada yang tahu bahwa Sasuke yang sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju Osaka untuk menemukan bahan penelitiannya dalam menuntaskan tugas akhirnya sebagai mahasiswa, langsung banting stir dan berbelok arah kembali ke konoha karena mendengar suara tangis adik yang sangat dicintainya. Melupakan keselamatannya sendiri dengan mengendarai mobilnya secepat jet menuju angkasa.
Di lain waktu, saat Naruto kembali menghilang karena ngambek pada salah satu guru nya. Lagi-lagi Sasuke bisa menemukannya. Membuat Iruka lega dan bergantung pada Sasuke. Tuan mudanya itu, selalu bisa menemukan Naruto dimanapun nona mudanya bersembunyi. Pernah Iruka bertanya kepada Sasuke tentang ini, tapi hanya dijawab dengan senyum tipis misterius dari bibir tuan mudanya
Alasan sebenarnya Sasuke bisa menemukan dimanapun Naruto berasa adalah karena alat penyadap dan alat pelacak yang dengan sengaja ia pasang tepat di kedua anting-anting mawar di telinga adik kecilnya, Naruto.
belum ada yang tahu tentang ini, tidak orang tuanya, tidak juga Itachi ataupun Iruka. Dan belum ada yang sadar bahwa Sasuke amat sangat 'gila' terhadap adiknya.
.
unyapuu unyapuu
.
Naruto bertambah usia lagi setahun, tapi di usianya yang ketujuh ia harus bersedih. Karena Iruka, kepala rumah tangga sekaligus orang yang paling dekat dengannya selagi keluarganya tidak ada di rumah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk menikah.
Sebenarnya Iruka tidak tega meninggalkan nona muda kecilnya, tapi ia punya kehidupan sendiri yang juga sama-sama harus dijalani.
Tidak tega melihat nona mudanya bersedih, Iruka meminta ijin pada tuan besar keluarga itu untuk membiarkan Naruto bersama dengannya selama sebulan penuh.
meski mengerti bahwa keluarga sang majikan tidak akan memberikan ijin untuk niatnya ini, Iruka tetap nekat. Akhirnya idenya ditentang keras oleh seluruh anggota keluarga majikannya.
Iruka tidak kecewa, walaupun semakin tidak tega melihat Naruto bersedih atas kepergiannya. Iruka tidak sekalipun menyalahkan keputusan sang bangsawan. Dan keluarga itu malah berbaik hati dengan mengijinkannya untuk tetap bisa menemui Naruto dan sebaliknya.
Naruto diijinkan berkunjung ke kediamannya selama 2 jam penuh setiap bulan ditemani Sasuke.
Dengan tidak adanya Iruka, Sasuke berkunjung lebih intens demi menemui adik kecilnya. Menemaninya saat bermain atau belajar, sesekali mengajaknya bermain keluar rumah. Kemanapun Naruto ingin pergi Sasuke akan membawanya kesana. Dengan sifat penurut yang dimiliki adiknya yang polos, Sasuke memanfaatkan itu untuk mengajak Naruto menghabiskan malam menemaninya tidur di kamarnya tiap ada kesempatan. Meski hanya tidur biasa. Berdampingan, menggenggam tangan satu sama lain atau saling memeluk berbagi hangat tubuh, Sasuke tidak melakukan hal yang berbahaya selain itu kecuali kecupan-kecupan ringan yang sering didaratkannya di bibir mungil sang adik. *ralat, bukan tidak tapi belum*
Sebagai saudara tak sedarah, mereka lebih lengket dari kartu pos dan perangko.
.
Setahun kemudian, Itachi yang saat itu berusia 27 tahun memutuskan untuk menikah dengan gadis pilihannya, memilih untuk tinggal terpisah dari rumah induk dan tinggal berdua dengan istrinya di Kyoto. Malam sebelum keberangkatannya ke Kyoto, Itachi berpesan pada kedua orang tuanya untuk lebih mengawasi Sasuke saat berada disekitar Naruto. Itachi merasakan ketidaknormalan adik laki-lakinya semakin menjadi-jadi. Walau tidak menjelaskan secara gamblang perihal ketidakwarasaan adiknya.
Ayah dan ibunya setuju, dan mempekerjakan Kakashi untuk itu. Sayangnya Sasuke yang sadar tengah dipantau jauh lebih licin dari pesuruh orang tuanya, dan Kakashi benar-benar tidak melihat keanehan apapun selain hubungan antara kakak dan adik yang akrab. Sehingga keabnormalannya tetap dalam posisi aman.
.
unyapuu unyapuu
.
Naruto sakit. Untuk pertama kalinya ia sakit tanpa didampingi mikoto, Ibunya yang tengah berada diluar kota menemani Fugaku, ayah bangsawan Naruto. Mereka baru bisa kembali keesokan harinya. Para pelayan yang mengurusnya sangat panik mengetahui nona muda yang sudah berusia 11 tahun mereka demam. Tapi kepanikan mereka teratasi saat Sasuke datang dengan membawa beberapa obat dari apotik.
Penyebab sakit si pirang adalah Sasuke sendiri. Sehari sebelumnya, sang kakak posesif itu mengajak Naruto bermain ke laut. Sialnya cuaca tiba-tiba buruk, terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Mereka kehujanan, tidak membawa baju ganti satupun karena memang tidak ada persiapan. Sasuke sudah berusaha menghangatkan tubuh dingin adiknya di dalam mobil tapi tetap saja Naruto menggigil kedinginan. Yah, bagaimana tidak dingin, tubuh Sasuke juga sama-sama basah karena air hujan.
Karena akan sangat aneh jika Sasuke membawa adiknya ke hotel untuk berteduh sambil mengeringkan pakaian mengingat secara fisik mereka bagai siang dan malam yang sangat berbeda, dengan cepat Sasuke melajukan mobil menuju apartement tempatnya tinggal. Sesampainya disana, Sasuke menggendong gadis berumur 11 tahun itu ke dalam apartementnya. Naruto memejamkan mata, mungkin tak bisa menahan dingin yang terasa menusuk tulang lebih lama membuat gadis pirang itu akhirnya tertidur.
Mencoba membangunkan sang adik tapi tak kunjung berhasil. Hanya gumaman-gumaman lirih yang terdengar. Sebaris kalimat 'Dingin, Nii-sama' berulang-ulang terucap dari bibir yang mulai membiru. Segera, Sasuke melepas pakaian di badan Naruto sekaligus baju yang menempel di tubuhnya sendiri. Memutuskan untuk mandi bersama dalam guyuran air hangat, Sasuke kembali menggendong Naruto, menuju kamar mandi.
Mengabaikan hasrat gilanya, Sasuke memandikan Naruto yang masih juga tak membuka mata. Berendam bersama dalam satu bath up.
30 menit kemudian, mereka sudah berada di dalam kamar sang kakak. Tubuh Naruto terbaring diatas tempat tidur berbalut handuk dari pundak sampai paha diatas lutut, terbungkus sekaligus dengan tangan-tangannya. Sedangkan Sasuke hanya memakai selembar handuk di pinggangnya. Tangannya sibuk mencari baju di lemari pakaian untuk 10ias dipakai Naruto agar tubuhnya hangat.
Menemukan sweater lama rajutan sang mama yang sangat tebal untuk dipakaikan pada adiknya, Sasuke segera kembali ke kamar.
Rambut pirang panjang basah terurai di atas tempat tidur, tubuh mulus telanjang berbalut handuk dan kaki jenjang yang menawan kini berada dalam area penglihatannya, hasratnya kembali. Fantasi-fantasi tak sopan merajai kepalanya.
Ibarat kucing tak menolak jika disodori ikan, Sasuke galau. Dia pria yang sehat, dan tak ada pria yang tahan jika ada pemandangan seperti ini dihadapannya *pengecualian bagi cowok setia pacar tahan godaan berat, pengecualian lainnya jika cowok tersebut humu tulen yang anti wanita, hahaha*
Sasuke tergoda, untuk melakukan hal tidak senonoh pada adiknya. Perlahan, ia menaiki ranjang. Memposisikan diri tepat diatas tubuh Naruto. Dikecupnya bibir mungil yang mulai kembali pada warna merah muda.
Sasuke ingin menjamah bibirnya lebih, menjamah lehernya, menjamah sekujur tubuh gadis berusia sebelas tahun itu…
….tanpa sisa….
.
To be continue…..
.
Catatan gaje :
Jingga : warna orange *awalnya saya ketik oranye, tapi dikritik ikhsan "orange tuh buah orange, jingga tu warna orange" katanya. Karena diprotes anak kecil saya jadi malu dan saya ketik jingga menggantikan orange. Oh shit g penting amat penjelasan saya wkwkw*
.
.
Author Curcol Curcol Room~
Ehehehe, akhirnya 11ias update chapter 2 meskipun lama. Maklum Cuma 11ias ngetik 11 jari dan g ada laptop nganggur untuk 11ias ngetik di kamar tanpa harus merasa was-was hobi kelainannya ketauan. Haha, mau bagaimana lagi. Walau gender Naru sudah diganti pun, di tempat saya masih sangat aneh membuat cerita beginian karena mereka taunya Naru itu laki-laki. Soalnya pernah ketauan pas lagi gambar mereka yang beda gender dan ditanya kenapa salah satunya malah dijadikan perempuan.
Pernah ketauan juga pas gambar mereka versi sejenis yang diikutkan ke event dan jadi berabe sampe sekarang. Saya g sampai hati mau bilang yang aneh-aneh. G tega yang mu nistain adik2 saya yang semuanya normal dan pecinta Naruto.
Di chapter 2 ini, saya nyoba lebih njelasin apa yang ada di chapter 1 dengan lebih detail. Maaf kalo tetep g jelas dan g dapet feel nya. Chapter ini mbahas masa lalu, tapi flashbacknya masi lanjut di chapter selanjutnya karena ini sudah sangat kepanjangan.
Saya banyak omong sekali ya, haha maaf *ditabokin Sha
Ngomong-ngomong, makasih banyak buat yang udah bersedia review. Berarti banget buat nambah semangat saya nyalin fanfic ini dari dalam binder ke Ms word. Andai 11ias copy paste enak saya g usah susah ngetik hahahaha, sumpah males banget karena ngetiknya g jago XD
,
Pojok Review
zadita uchiha : iya, hahaha. Maaf karakternya super OOC. Naru suka sama Suke, tapi sebagai kakaknya saja. Dia kan super lemot soal perasaan *tawanista
Aiko Michishige : iya, bangsawannya Uchiha. Kakak termudanya Sasuke. Pengennya dimisteriusin tapi saya ga bisa bikin cerita dengan alur serba misteri atau karakter misterius *tawamalu
luvizhayate : iya, berhasil. Meski Naru sendiri akhirnya ga selamat *tawaambigu
intanpandini85 : sayangnya disini Sasuke g jauh beda sama karakter2 Sasuke di fanfic2 yang pernah ada di fandom SasufemNaru, meski ga bejad2 amat dan ga ada adegan culik2kan atau adegan kurung2annya, maaf mengecewakan. Saya suka karakter ganas seperti itu, hehe *tawamiris
Cherry bloosom : maaf sudah membuat cerita yang mengecewakan. Tapi Naru ga diperkosa ramai-ramai kok, saya juga ga rela kalau Naru disentuh Orang selain Sasu ;) *tawakecut
SNlop : iya, hehe. Dan tujuh orang tadi sudah babak belum sebelum itu terjadi *tawajahat
Guest : iya, ini sudah update kilat, sekilat siput berjalan, kekekeke *tawagaje
SNS : benar, bangsawannya Uchiha. Kan Sasuke Posesif, jadi ngejar Naru kemanapun *tawastress
Kim Seo Ji : ehehehe, terimakasih *tawagirang
Harpaairiry : sankyu, saya akan lebih berjuang *tawasenang
efiastuti1 : heheh, maaf alurnya lompat2 saya bingung yang mu ngerangkainya supaya bisa dimengerti orang dan enak dibaca XD. Terimakasih sudah suka, wah? Naikin rate? Saya g yakin bisa bikin yang lemonan XD
ceritanya cuma mau dibikin 3 chapter saja si mungkin tambah satu chapter lagi kalo ngetiknya kepanjangan *tawalugu
AprilianyArdeta : sempet kok, ehehe *tawakomplikasi
kimjaejoong309 : yang terjadi, terjadilah. Heheheheheh. Salam kenal juga *tawasokmisterius
.
unyapuu unyapuu
.
Buat yang udah mampir atau tersesat disini dan g sengaja baca, terimakasih juga. Hehehe..
Sampai jumpa di chapter berikutnya~
Salam Damai~
-Unyapuu-
