Terimakasih banyak buat yang sudah review, juga yang sudah mampir kemari, hehehe
.
Pojok Review
SasukeNaruto-chan : oke, hehehe. Terimakasih sudah baca cerita ini dan review.
zadita uchiha : keluarganya tahu, Cuma Iruka saja yang g tahu. Naruto tahu kalo Suke jadi sensei di sekolahnya, dia kan email-an tiap hari sama Sasuke, tapi si Suke g pernah ngajar di kelasnya Naru. Pasti dibalas, kasian Suke kalo bertepuk sebelah tangan.
intanpandini85 : Naru belum di piiiiiip kok sama Sasu, hehehe.
Snlop : iya, tapi g waktu di apartement si Sasu, nanti dijelasin di cerita ini
Evi : si Sasu g mau ribet ngurus perusahaan, nanti dia jadi g 1ias leluasa nyetalk Naru. Kan sudah ada Itachi yang bantuin ayahnya. Iya, Naru tahu dong.
SNS : iya, hehe. Tapi Naru belum beneran diembat kok sama si Sasu mesum *kenagamparsasujuga
terimakasih, ini sudah lanjut
Kim Seo Ji : iya, kakaknya Naru si Suke. G dong, Kyuu kan kakak yang baik, tapi disini Naru anak tunggal dari ortu kandungnya. Sasu mau ngelakuin apa yang selalu dilakuin sama kucing garong, wkwkwkw. Terimakasih
Aiko Michisige : iya, ini sudah lanjut
Darkshadow : iya, cerita lollicon. Hehe. Terimakasih. Saya nekat bikin sendiri karena kekurangan asupan lollicon. Hahaha
Harpaairyry : terimakasih, ini lanjutannya
kimjaejoong309 : iya, plesbeknya ini. Ketauan tapi g pas di apartement Sasu. Hihihi, saya juga. Malah dilabeli 'gila' sama saudara-saudara saya karena ini. Hahaha
Hyull : terimakasih
AprilianyArdeta: nanti dijelasin disini, iya demamnya karena si Suke
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
And I will be the One
(chapter 3)
.
Naruto fanfiction by Unya Puu
Pair: SasuFemNaru
Genre: Pedophile, Psycology, Lollicon, Sister Complex, Incest(?)
Rate : T+
Warning: Gaje plus Garing, Super Duper OOC, Bahasa Amburadul Tidak Sesuai Dengan Pelajaran Bahasa Di Sekolah, Alur Cerita Membingungkan, Cerita Pasaran ala Sinetron-Sinetronan, Bisa Menyebabkan Sakit Mata, Sakit Kepala, Mual-Mual. Dan Sebagainya- Dan Sebegitulah.
Uzumaki Naruto - 14 Tahun
Uchiha Sasuke - 28 Tahun
.
.
#TIDAK SUKA, JANGAN BACA
Happy reading ~
.
Catatan gaje :
/" : percakapan dalam telepon
' : dalam pikiran
" : bicara langsung
….flashback lanjutan chapter sebelumnya…
.
Ponselnya berdering, semakin lama semakin nyaring. Mau tak mau Sasuke meninggalkan gadis yang masih terlelap dibawahnya dan menghampiri meja. Oke, kesalahan fatal saat hasrat tengah bangkit dan sedang diposisi siap memangsa adalah membiarkan ponsel tetap menyala. Benar-benar mengganggu Sasuke yang baru saja mencicipi leher mulus adiknya.
"Hn. Ada apa?"
/"Sepertinya sedang sibuk?"/
"Memang. Kau sangat menggangguku jika kau ingin tahu" ketus, seperti biasa.
/"Cih, nanti saja jika kau ingin marah. Aku hanya ingin memberitahumu. Kakashi datang ke rumah keluargamu dan tak mendapati Naruto disana. Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Oh, sekedar saran. Se-asyik apapun kegiatanmu, sesekali cek ponselmu. Atau kau dalam masalah besar."/
Percakapan berakhir. Mendengus kasar Sasuke segera mengecek e-mail di ponselnya. Mata hitamnya langsung terfokus pada satu e-mail dari salah seorang pelayan di rumah utama.
….
From : Maid
Subject : penting
Kakashi-sama datang, beliau mencari Naru-sama.
….
.
.
Beruntung ia selalu mengingatkan pelayan kepercayaannya di rumah utama itu untuk segera menghubungi sahabatnya, Jugo jika ia tidak bisa membalas pesannya dalam 5 menit. Dengan begitu, Jugo akan segera menghubunginya seperti tadi.
Masih dengan perasaan sebal karena acaranya terganggu, Sasuke langsung memakaikan sweater yang tadi sempat dibuangnya di lantai pada tubuh polos Naruto. Hanya sweater saja, tanpa baju dalam. Sasuke tak punya cadangan baju dalam perempuan *iyalah, dia kan cowo*. Dia belum pernah punya pacar dan tak pernah membawa perempuan ke apartementnya, selain Naruto. Jadi tak ada cerita baju dalam perempuan yang tertinggal atau semacamnya. Ia tak sempat mencuci dan mengeringkan baju basah yang mereka pakai tadi, pergi ke laundry apalagi. Yang ada dipikirannya hanya keinginan untuk menjamah tubuh kecil itu.
Tubuh Naruto menggeliat. Sasuke cepat-cepat menjauh dan mulai mencari baju hangat untuk dipakai di tubuhnya sendiri.
"Nii-sama….?" Sasuke menoleh.
"Sudah bangun Naru..?" sang adik mengangguk pelan, ia sudah dalam posisi duduk dan tengah memandangi sweater kebesaran yang sudah terpasang di tubuh kecilnya.
"Kita kehujanan tadi, ingat? Kau tertidur sangat pulas dan aku mengganti bajumu." Sambungnya seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran adiknya.
"Sweater Nii-sama hangat." Naruto tersenyum.
"Syukurlah." Balasnya sambil sama-sama tersenyum.
Setelah pakaiannya lengkap terpasang, Sasuke menyambar ponsel di meja. Mencium singkat bibir Naruto dan menggendong sang adik, ala pengantin. Naruto diam saja, tidak ada rona merah diwajahnya atas perlakuan kakak termudanya. Sebab ciuman ringan di bibir adalah hal yang biasa dilakukan Naruto sejak kecil. Dulu Naruto melakukan itu setiap hari pada seluruh anggota keluarganya sebelum ia berangkat tidur sampai usia 6 tahun. Karena sekarang ia sudah semakin besar, Naruto hanya mencium pipi saja pada papa, mama dan kakaknya setiap sebelum tidur atau saat anggota keluarganya hendak bepergian. Naruto sama sekali tak mempermasalahkan kakak termudanya yang masih suka memberinya kecupan di bibir. Pernah Naruto protes karena tidak suka diperlakukan layaknya balita, tapi Sasuke cuek saja. Dan tetap 'hobi' menciumnya seperti barusan.
"Kita pulang sekarang. Kapan-kapan kita main lagi ke laut saat cuaca bagus."
Menyandarkan kepala di dada kakaknya, Naruto mengangguk mengiyakan ajakan itu.
.
unyapuu unyapuu
.
Naruto kembali tertidur saat mobil yang dikemudikan Sasuke mamasuki halaman luas rumah keluarganya. Disambut beberapa pelayan, Sasuke segera membawa Naruto masuk ke kamarnya, kamar tidur Sasuke yang terletak tak jauh dari kamar Naruto. Malam ini dia akan menginap, di rumah utama. Sang kakak segera turun ke bawah, menuju dapur. Meminta sang koki andalan keluarganya untuk membuatkan Naruto sup ayam hangat. Dan menanyakan beberapa hal pada pelayan kepercayaannya perihal kedatangan Kakashi tadi. Lalu kembali lagi ke kamarnya untuk mengganti pakaian sang adik.
Selesai makan, Naruto berniat pergi ke kamar tidurnya sendiri tapi Sasuke melarangnya. Beralasan bahwa Sasuke kedinginan dan ingin ditemani tidur membuat Naruto mengurungkan niatnya untuk tidur sendiri dan menuruti keinginan kakaknya yang ingin tidur bersama.
Malam kian larut, namun mata Sasuke tak juga terpejam karena cemas sebab suhu tubuh Naruto meningkat. Sangat panas. Sepertinya terserang demam karena tadi siang sempat kehujanan saat pergi bersamanya. Tubuh kecil itu menggigil, Sasuke memeluknya semalaman.
Dan beginilah kondisi Naruto, demam tinggi saat pagi menjelang. Sedikit rewel sehingga para pelayan panik. Ini pertama kalinya ia sakit tanpa ada kehadiran sang mama. Sasuke yang sudah merelakan dirinya pergi ke apotik pagi-pagi datang, membawa obat penurun panas agar demam Naruto segera turun.
Sasuke sama sekali tidak keluar dari kamarnya demi menjaga Naruto yang sedang sakit sejak datang dari apotik tadi. Untung saja Kakashi tidak muncul di kediaman keluarganya hari ini sehingga dirinya tidak perlu repot-repot menjelaskan tentang kenapa Naruto yang sakit malah tidak tidur di kamarnya sendiri.
Keluarganya baru akan pulang besok, Sasuke masih memiliki banyak waktu untuk merawat adiknya serta memindahkan tubuh kecil itu ke kamarnya sendiri nanti sebelum malam. Setelah menyuapi Naruto dengan bubur buatan sang koki, Sasuke meminumkan obat demam berdosis tinggi agar adiknya itu tertidur hingga pagi, dengan begitu Naruto bisa beristirahat total sampai fajar tiba.
malam semakin merengakak naik, melihat tubuh Naruto penuh keringat Sasuke memutuskan untuk menyekanya dengan handuk basah dan air hangat.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Sasuke kembali ke kamar. Duduk di tepi ranjang dan mulai menyeka sang adik diawali dari wajah, leher, beberapa bagian tubuh lainnya juga tangan lalu kaki. Terakhir mengganti baju yang dikenakan Naruto dengan kamisol tipis polos berwarna biru langit. Puas dengan hasil kerjanya, Sasuke membaringkan tubuhnya disebelah Naruto. Memeluk tubuh kecil itu, menciumi pelipis dan pipinya. Saat mencoba memiringkan tubuh sang adik, lutut si kecil mengenai bagian tersensitifnya. Bagian bawah tubuhnya tertekan karena kesalahannya sendiri, Sasuke melenguh tertahan merasakan gelenyar-gelenyar aneh menjalari tubuhnya. Beberapa menit yang lalu, pikiran kotornya memang pergi dari kepalanya. Tapi kini, semuanya kembali masuk dalam pikirannya. Kepalanya penuh dengan fantasi kotor yang berputar-putar memenuhi otaknya.
'Sial. Jangan sekarang'
Sedetik kemudian mata pemuda berusia 25 tahun itu berkabut. Akalnya yang memang tak waras sejak awal jadi semakin menghilang. Mengulangi hal yang sama demi memenuhi kebutuhan jasmaninya yang kian mendesak, menuntut untuk dipuaskan. Sasuke menggesekkan bagian bawah tubuhnya lebih intens ke paha sang adik.
'Shit. Ini saja tidak cukup'
Batinnya mengutuk kelakuan tidak pantasnya pada sang adik, tapi jasmaninya semakin bergerak liar tidak sejalan dengan kata hatinya. Sasuke menaiki tubuh Naruto. Yakin bahwa sang adik tidak akan terbangun dengan apapun yang akan dilakukannya nanti, membuatnya semakin ganas menjamah bibir dan juga leher si pirang. Beberapa bekas ciuman berwarna merah keunguan tercetak di atas kulit mulus sang adik. Tidak lagi berpikir bahwa kissmark yang ditinggalkannya akan membawanya pada masalah besar.
Tangannya bergerilya, meraba-raba tubuh Naruto. Sesekali menindihnya untuk mendapatkan kepuasan yang dicari tubuhnya sendiri. Ia menginginkan ini, sangat menginginkan ini. Sejak dulu kala.
Tanpa merasa malu, Sasuke menggunakan paha sang adik untuk beronani ria. Klimaks-nya datang tak lama kemudian. Menyemburkan cairan putih diatas tubuh Naruto. Mengotori kamisol biru itu dan menodai dagu juga pipi adiknya.
Seketika pintu terbuka, membuat beberapa manusia yang berdiri di depan pintu diam tercengang bak patung. Hal yang sama terjadi pada Sasuke. Tatapan horror seolah melihat hantu paling seram di dunia saling silang diantara mereka.
Lalu, sebuah kepalan tangan mengarah langsung meninju pipi putihnya…..
.
unyapuu unyapuu
.
Pipi kanan Sasuke lebam, warna biru keunguan mendominasi kulit yang seharusnya berwarna putih mulus itu. Bogem mentah dari sang ayah meningalkan nyeri disana. Kepalanya tertunduk dalam, tangan pucatnya sama sekali tak terlihat menyentuh bagian yang sakit sekedar untuk meminimalisir nyerinya. Sasuke terdiam, ia merasa pantas menerima beberapa pukulan lagi jika ayahnya masih berniat untuk memukulnya. Ini diluar perkiraannya. Sasuke lupa memberitahu para pelayannya untuk tidak mengabarkan kondisi Naruto pada ibunya. Dan inilah yang terjadi, sang ibu yang panik mengetahui putrinya sakit memaksa sang suami untuk mempercepat kepulangan mereka. Dan menemukannya malakukan hal memalukan di atas tubuh sang adik. Fugaku shock. Mikoto juga sama. Sasuke -sebagai pelaku- apalagi. Mereka semua shock.
"Aku tidak tahu harus berkata apalagi. Aku tidak mengira akan jadi begini. Itachi benar, seharusnya aku lebih mengawasimu, Sasuke Uchiha."
"Aku mencintainya, Tou-sama."
"Bukan itu jawaban yang kuinginkan anak muda!"
"Aku mencintainya."
" Dia adikmu! Tak pantas kau melakukan itu padanya!"
"Aku benar-benar mencintainya."
"Jawab dengan benar, Sasuke! Kenapa tidak kau cari perempuan yang kau mau saja dan nikahi dia!"
"Aku hanya akan menikah dengan Naru, Tou-sama"
Fugaku menggebrak meja, jawaban-jawaban miring dari Sasuke membuat murkanya tak terbendung lagi.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius dengan perkataanku, Tou-sama."
"Aku kecewa padamu, Sasuke. Bagaimana mungkin kau melakukan itu pada adikmu sendiri?!"
"Naru bukan adikku, tak ada ikatan darah diantara kami. Tou-sama tahu itu sejak dulu. Aku mencintainya bukan sebagai adik tapi sebagai seorang perempuan"
"DAN ITU BUKAN ALASAN UNTUK MEMBENARKAN KELAKUANMU YANG MENYIMPANG, SASUKE!"
Suara Fugaku mengelegar. Seisi rumah jelas mendengarnya. Begitu pula Mikoto yang sedang berada di lantai teratas di kamar putrinya, Naruto.
Fugaku sungguh tidak menyangka, ucapan Sasuke yang pernah dikumandangkannya sambil lalu dulu, 12 tahun yang lalu adalah sebuah keseriusan.
Perdebatan terus berlangsung alot seiring dengan jawaban Sasuke yang selalu tidak nyambung. Pemuda itu terus mengulang kalimat yang sama seperti sebuah radio rusak.
"Aku sangat mencintainya, Tou-sama. Kumohon berikan Naru padaku. Aku berjanji akan membahagiakannya seumur hidupku."
Fugaku tak bisa berkata-kata lagi. Bukan luluh karena kesungguhan putra keduanya, tapi karena ia memang sudah kehabisan kata-kata menceramahi pemuda keras kepala didepannya itu. Menghindari putranya bertindak nekat, kalimat itu meluncur bagai pelangi usai hujan badai bagi sang pemuda. Membuat kepala Sasuke yang sudah tertunduk lesu, mendongak penuh semangat.
"Baiklah. Kukabulkan keinginanmu, Sasuke. Naruto akan jadi istrimu saat usianya 16 tahun, dengan syarat. KAU-TIDAK-BOLEH-MENYENTUHNYA-SAMPAI-NARUTO-BERUSIA-18-TAHUN. Bersabarlah 7 tahun lagi, atau kau boleh mencari penggantinya. Dan untuk beberapa saat, kau tidak kuijinkan untuk menemuinya. Mengerti?"
Penuh penekanan di tiap kata. Hari ini, untuk pertama kalinya seorang Fugaku tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Untuk pertama kalinya ia menyuarakan apa yang tak sejalan dengan kata hatinya.
Sambil mencari cara untuk menjauhkan putranya dari sang putri. Dan berharap semoga kedepannya Sasuke berubah pikiran dan mencari wanita yang dapat mengimbanginya.
"Aku mengerti, Tou-sama. Aku akan menunggu…"
Sementara di kamar sang putri, wanita berumur yang tetap terlihat cantik itu menangis sambil memeluk putri pirangnya erat. Tidak menyangka kejadian tidak pantas itu menimpa Naruto kesayangannya. Untunglah gadis kecil itu masih tidur dan tidak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. Sepertinya ia harus segera mencari wanita yang pantas untuk menjadi pengantin putra keduanya itu agar Naruto terhindar dari keabnormalan sang kakak yang terobsesi penuh padanya.
Malam itu, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sasuke dengan impian bahagianya dan kedua orang tuanya dengan kegelisahan yang sama. Fugaku dan Mikoto memutuskan untuk menyembunyikan aib ini dari Itachi. Naruto masih terbuai dengan mimpinya, tidurnya kali ini ditemani sang ibu. Dan Sasuke tidur di kamarnya sendiri di bawah pengawasan langsung sang ayah.
Keesokan harinya, Sasuke sudah harus pergi dari rumah utama sebelum Naruto bangun. Sesuai dengan perjanjian semalam. Sasuke berniat memenuhinya selama tidak merugikan pihaknya. Termasuk tidak menemui sang adik dalam batas waktu yang belum ditentukan oleh sang ayah.
Naruto sendiri sudah sehat pagi itu dengan turunnya demam yang diderita sehari semalam. Ia sempat bertanya tentang Sasuke pada Mikoto, tapi hanya diberi jawaban mainstream yang membuat Naruto tidak bertanya lebih jauh.
.
unyapuu unyapuu
.
Dua hari pasca insiden itu, Fugaku menyempatkan diri bertamu ke rumah mantan kepala pelayannya, Iruka. Sedikit berbasa-basi pada awalnya. Lalu membicarakan pokok masalah, perihal Naruto. Sambil membungkukkan badan dan duduk bertumpu diatas lututnya, sang kepala keluarga bangsawan memohon bantuan pada Iruka agar ia bersedia menampung Naruto di kediamannya. Ia merasa malu karena dulu sudah menolak tidak memberi Iruka ijin saat pria itu berniat membawa Naruto tinggal dengannya barang sebentar. Tentu saja Iruka menerima permohonan mantan majikannya dengan senang.
Dengan tetap merahasiakan insiden yang terjadi 2 hari lalu, Fugaku meminta bantuan Iruka untuk menggantikannya merawat Naruto hingga usia 16 tahun dengan alasan agar Naruto bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Ayah 3 anak juga menjelaskan jika semua biaya hidup Naruto tetap ditanggung olehnya, takut jika Iruka keberatan masalah keuangan.
"Aku mohon bantuanmu, Iruka. Tolong jaga Naruto baik-baik. Kami akan sering berkunjung kemari. Masalah sekolah kau tidak perlu khawatir, semua sudah kuurus. Naruto akan bersekolah di sekolah swasta untuk persiapan masuk Junior High School nanti. Aku juga menugaskan seseorang untuk lebih menjaga keselamatannya selama ia jauh dari kami, termasuk keselamatan keluargamu juga. Tolong jangan biarkan Naruto dekat dengan orang-orang tidak jelas. Terutama laki-laki. Kumohon anggaplah dan perlakukan Naruto seperti anakmu sendiri. Ajari dia tentang kehidupan bermasyarakat, sampai hari dimana kami akan membawa dia kembali dan menyandingkannya dengan laki-laki yang pantas."
Iruka yakin, itu adalah kalimat terpanjang yang pernah didengarnya dari Fugaku.
"Apakah Sasuke-sama mengetahui hal ini, tuan?"
"Tidak, Sasuke tidak tahu. Ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Nanti aku akan memberitahunya saat ia senggang."
Iruka tidak bertanya lebih jauh. Mengorek kehidupan pribadi orang lain adalah hal yang tidak dibenarkan. Tidak lama setelah percakapan antar keduanya berakhir, Fugaku berpamitan untuk pulang.
Malam harinya, ia memanggil Naruto untuk berkumpul di ruang keluarga. Bertiga dengan sang istri, Fugaku lalu memberitahu Naruto tentang rencana kepindahannya ke rumah Iruka.
"Tinggal di rumah Iruka-san, Tou-sama?"
"Benar, anakku. Kau akan tinggal di rumah Iruka setelah ini."
"Apa Naru berbuat salah?"
"Tidak, ini bukan seperti yang kau pikirkan, anakku. ini adalah pelajaran bermasyarakat. Kau tidak keberatan jika harus jauh dari kami, bukan?"
"Baik, Tou-sama." Naruto tersenyum, dia memang anak penurut. Sedangkan Mikoto menangis sesenggukan, karena tak lama lagi mereka akan berpisah. Ia sangat sedih tatkala mendengar rencana ini langsung dari suaminya, tapi apa boleh buat. Ini untuk keselamatan putrinya juga, dan Mikoto menyetujuinya.
"Kelak, kau akan menjadi seorang istri dari seorang pria terhormat. Kami ingin kau berguru pada Iruka dan keluarganya tentang apapun yang tak bisa kami ajarkan padamu. Hiduplah dengan baik. Junjung tinggi marga Uchiha dalam namamu."
Sayangnya, sang ayah tidak tahu. Bahwa semua perkataan yang ia katakan pada putrinya juga didengar jelas oleh Sasuke lewat penyadap yang sudah dipasanganya bertahun-tahun ditelinga sang adik. Sasuke sangat geram mengetahui ini, prasangkanya lalu muncul. Perasaan tak enak tentang kemungkinan sang ayah yang ingin memisahkannya dari Naruto semakin kuat. Dalam kegelapan apartementnya, Sasuke tidak bisa tidur. Ia bingung harus melakukan apa. Tapi juga tak bisa mengambil keputusan dengan gegabah, atau Naruto akan benar-benar terpisah darinya. Menahan seluruh kesalnya, Sasuke lebih memilih untuk tidak bertindak bodoh dalam waktu dekat.
"Tidak ada yang bisa memisahkan aku darimu, Naru…."
Di waktu yang sama, Naruto yang juga tak bisa tidur memikirkan banyak hal. Besok ia akan mulai berkemas untuk kepindahannya ke tempat Iruka. Tiba-tiba bayangan Sasuke muncul di kepalanya. Sudah tiga hari tak ada kabar dari kakaknya yang perhatian itu, Naruto rindu.
"Sasuke-nii…."
.
unyapuu unyapuu
.
Seminggu kemudian, dengan diantar kedua orang tua bangsawannya. Naruto berangkat menuju rumah Iruka. Tanpa sepengetahuan Sasuke. Fugaku dan Mikoto memang sengaja tak memberitahu putranya tentang kepindahan sang adik dari rumah utama.
Sesampainya disana, Naruto disambut dengan suka cita oleh keluarga kecil Iruka. Naruto benar-benar akan memulai hidup barunya disini. Hidup sebagai orang biasa dengan keluarga sederhana yang bahagia.
Sesosok pemuda bertopi berdiri tak jauh dari perumahan tempat Iruka. Bersandar pada tiang dan menatap tajam kearah mobil mewah yang terparkir di depannya.
"Jika Tou-sama berpikir bisa menyembunyikan Naru dariku maka pemikiran itu adalah salah besar." Gumamnya sambil melepas headphone ditelinganya.
"Kita akan segera bertemu, Naru…. Tunggu aku…." Dan Sasuke berjalan menjauh, hingga hilang dari pandangan.
.
Suatu petang, dua minggu sejak berpindahnya Naruto ke rumah Iruka, Sasuke tiba-tiba muncul disana membawa beberapa paper bag ditangannya. Dan Iruka yang memang tidak tahu menahu tentang apa yang sudah terjadi pada keluarga mantan majikannya tetap bersikap biasa. Ramah dan hangat, menyambut kakak dari anak angkatnya, Naruto.
"Sasuke-sama? Silahkan masuk."
"Terimakasih."
"Sedang senggang?" Tanya Iruka sambil menerima oleh-oleh yang diberikan Sasuke padanya setelah sebelumnya berterimakasih karena sudah repot-repot datang ke kediamannya.
"Begitulah. Bagaimana kabar anda dan keluarga?"
"Kami semua baik, bagaimana dengan anda?"
"Sama seperti anda."
"Syukurlah. Ah, akan saya panggilkan Naruto didalam. Mohon tunggu disini sebentar."Sasuke duduk diatas tatami. Memandang kesekelilingnya lalu tersenyum. Ada beberapa foto Naruto disana. Diambilnya ponsel dalam saku, lalu mengabadikan potret dalam pigura beberapa kali untuk menambah koleksinya.
"Nii-sama?" Naruto langsung menubruk sang kakak, memeluknya erat. Ia sangat rindu pada Sasuke.
"Bagaimana kabarmu Naru..?"
"Nii-sama kemana saja? Naru kangen…" Sasuke balas memeluknya tak kalah erat.
Dan acara temu kangen itu terus berlanjut hingga jam 9 malam. Naruto mengajaknya ke kamar barunya. Sambil bercerita banyak tentang kehidupan sekolahnya. Banyak teman yang baik menemaninya disana, Sasuke dengan senang hati mendengarnya. Selain boneka, Sasuke juga menghadiahkan sebuah smartphone untuk Naruto, kembar dengan miliknya. Agar mereka bisa saling berkomunikasi tanpa terhalang ruang. Saat jam di dinding menunjukkan angka 9:30, mau tak mau Sasuke harus segera pergi dari sana.
"Nii-sama sudah mau pulang? Tidak menginap?"
"Maaf, aku tidak bisa Naru. Mungkin lain kali." Jawab sasuke dengan perasan berat.
"Janji?"
"Ya, aku janji.."
Sambil mengaitkan kelingkingnya di kelingking kecil Naruto, seperti dalam film romansa.
"Aku juga akan mengajakmu jalan-jalan saat kita bertemu lagi." Sambungnya, mengembangkan senyum di bibir manis naruto.
Sasuke lalu memangku Naruto di pahanya, sehingga mereka saling berhadapan.
"Aku punya sesuatu untukmu…"
"Sesuatu? Apakah hadiah untuk Naru lagi?"
Sasuke mengangguk. Tangannya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam paper bag. Mengeluarkan isinya dan memasang benda itu di leher sang adik.
"Indah sekali, ini benar untuk Naru? Nii-sama?"
Ujarnya sambil terus memandang Kristal biru seindah bola matanya dengan silver bulat kecil di sisi kanan dan kirinya dengan riang.
"Terimakasih, Nii-sama."
Tanpa Sasuke duga, Naruto mengecup singkat bibirnya. Sasuke ingin membalas kecupan itu dengan ciuman, tapi ditahannya keinginan itu agar masalah tak lagi menimpanya.
"Dengarkan aku, Naru. Jangan sekalipun melepas anting-anting dan kalung ini dalam keadaan apapun, mengerti? Kapanpun kau membutuhkanku, panggil namaku. Aku akan segera datang"
Kata sang kakak sambil menyentuh anting-anting di telinga Naruto.
"Un." Jawab Naruto semangat.
Sasuke mengecup kening adiknya.
"Aku pergi dulu…"
"Hati-hati di jalan, Nii-sama…"
Naruto menggenggam erat Kristal biru yang melingkari lehernya. Ia berjanji juga pada dirinya sendiri untuk tidak melepas kalungnya seperti yang diperintahkan kakaknya dan akan menjaga pemberian kakaknya baik-baik. Naruto tidak tahu, bahwa kalung yang dipakainya berfungsi sama dengan kedua benda yang menempel ditelinganya. Sebuah alat pelacak berteknologi lebih canggih yang dipesan khusus kakaknya untuk terus mengawasinya.
.
unyapuu unyapuu
.
Sebulan kemudian, Fugaku memanggil Sasuke pulang ke rumah utama untuk sebuah rencana yang sudah disusunnya bersama sang istri. Tapi kepala keluarga bangsawan itu curiga jika Sasuke telah mengetahui tempat ia menyembunyikan Naruto karena Sasuke bersikap biasa saja sejak datang tadi, padahal sejak dulu tiap kali pulang ke rumah utama, yang pertama ditanyakan adalah adik kecilnya jika Naruto tidak tampak di depan matanya.
Sasuke sendiri bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Ia bahkan tidak berpura-pura menanyakan dimana keberadaan sang adik kepada ayahnya., membuat Fugaku harus berpikir ulang tentang rencananya. Tapi tekadnya untuk memisahkan Sasuke dari Naruto sudah bulat. Dan setelah beberapa percakapan berlalu, Fugaku memerintahkan putra keduanya itu untuk menghadiri undangan pesta dari perusahaan luar mengantikan dirinya mendampingi Itachi, sang sulung.
Sasuke tak menolak, dan Fugaku merasa sedikit lega karenanya. Sebenarnya itu adalah acara tak resmi. Hanya sebuah pesta biasa. Hanya saja, di pesta itu juga akan datang beberapa putri dari para pengusaha dan bangsawan lainnya. Kesempatan bagus untuk menjodohkan Sasuke dengan salah satu diantara mereka. Sasuke lalu mempersiapkan diri untuk berangkat ke tempat yang sudah ditentukan. Sasuke tidak bekerja di perusahan milik ayahnya, tapi ia bisa melakukan apa saja yang diperintahkan padanya karena itu ia jadi andalan sang ayah, setelah Itachi.
Pesta itu sangat meriah, Sasuke yang menjadi pusat perhatian jadi jengah. Beberapa perempuan berparas cantik berkali-kali menghampirinya, mengajak berkenalan. Sayangnya Sasuke tak menanggapi. Ia bersifat sangat dingin, lebih dingin dari pada biasanya. Sedikit banyak dia mengerti, acara ini hanya akal-akalan sang ayah untuk menjodohkannya dengan perempuan yang tak diinginkannya. Benar-benar tak menyerah untuk memisahkannya dengan Naruto.
Setelah pesta malam itu, berkali-kali Mikoto, sang ibu memaksanya untuk berkenalan dengan wanita-wanita pilihannya. Sasuke dengan jelas menolakknya. Berkata bahwa hanya ada Naruto di hatinya tapi tak membuat sang ibu menyerah untuk berusaha mengalihkan perhatiannya dan terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Sasuke semakin muak dengan hidupnya.
"Naru, apakah kau menyukaiku?" tanyanya pada sang adik saat mereka sedang menghabiskan waktu di taman bermain di waktu luang Sasuke.
"Tentu saja, Naru sangat suka Nii-sama." Jawab gadis yang baru masuk sekolah menengah pertama di sekolah putri itu, lantang.
Sasuke hanya tersenyum simpul. Menyadari bahwa 'suka' yang dikatakan adiknya berbeda dengan 'suka' yang dirasakannya.
"Kalau begitu, apa Naru bersedia hidup bersamaku selamanya?"
"Un, Naru akan bersama Nii-sama. Selamanya."
"Janji…?"
"Naru janji."
Jawab sang pirang tanpa ragu. Sambil kembali mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari sang kakak. Sasuke menyimpan baik-baik janji itu di hatinya.
"Baguslah…" jawab Sasuke tak bersemangat. Ia lelah dengan sikap kedua orang tuanya.
"Nii-sama kenapa?"
Naruto mengusap surai hitam sang kakak.
"Apa ada yang sakit? Nii-sama terlihat aneh."
Sasuke mendongakkan kepala.
"Aku baik-baik saja, selama kau tetap disisiku…"
"Mm? Naru kan tidak akan pergi kemana-mana." Kali ini gadis itu tertawa kecil, menurutnya kakaknya saat ini sangat lucu.
"Aku tahu…"
"Hmmm, Naru belikan Nii-sama ice cream ya? Supaya semangat lagi. Nii-sama tunggu disini oke?" Sasuke mengangguk. Menatap Naruto yang tengah berlari menjauh untuk membeli ice cream di kedai di ujung sana.
"Aku akan menunggu…"
Menutup matanya, ia menghirup udara dalam-dalam.
"…..Hari dimana aku bisa menjadikanmu, milikku sendiri…" klaimnya pada angin.
.
Di apartementnya beberapa hari kemudian…
Sasuke membolak-balik tiap halaman album foto di tangannya. Album foto penuh potret Naruto. Salah satu koleksinya dari sekian ribu album foto yang memenuhi rak buku besar di ruang tamunya. Dari balik pintu, Jugo datang membawa satu cangkir kopi.
"Kau terlihat berantakan, Sasuke."
"Hn."
"Masalah dengan orang tuamu lagi?"
"Begitulah…"
"Haha, menyerah sajalah Sasuke. Cari perempuan lain dan lupakan adik pirangmu itu."
"Itu tidak mungkin…"
Sasuke mengacak rambutnya.
"…Aku bisa gila…" lanjutnya.
"Bukan 'Bisa gila'. Kau lupa jika kau 'Sudah gila'?" jugo kembali menyeruput kopi hitamnya.
"Hahaha, kau benar…."
Pemuda berlabel 'gila' itu menutup wajahnya dengan album foto.
"…Aku sudah gila….."
.
unyapuu unyapuu
.
Saat Naruto berusia 13 tahun, Fugaku menjodohkan putrinya dengan seorang pemuda sebayanya yang merupakan anak rekan kerjanya. Lagi-lagi Fugaku serta Mikoto merahasiakan ini dari Sasuke. Namun bukan Sasuke namanya jika ia tidak tahu kabar sekecil apapun tentang Naruto. Dengan emosi berlipat, ia datang ke tempat dimana acara perjodohan sekaligus pertunangan Naruto itu diadakan.
Mengacaukan suasana dengan membawa pergi si pirang entah kemana. Orang tua dan kakaknya murka, tapi Sasuke sudah tak peduli. Ia merasa sangat dikhianati selama ini. Memberikan impian kosong padanya tanpa mempertimbangkan sedikitpun perasaan sungguh-sungguhnya untuk Naruto.
Sasuke membawa adiknya ke laut, tempat yang sama yang pernah mereka berdua datangi 2 tahun yang lalu. Mengajak sang adik untuk duduk diatas pasir di tepi pantai, Sasuke lalu merebahkan tubuhnya disana. Membiarkan pasir mengotori baju dan rambutnya.
"Nii-sama?"
Naruto yang duduk disebelahnya memperlihatkan wajah khawatir. Kakaknya sangat berbeda dari yang pernah ia tahu.
"Apa kau membenciku, Naru?"
"Eh?"
"Apa kau tak ingin hidup denganku?"
"Nii-sama bicara apa?"
Sasuke terdiam. Gadis 13 tahun itu akhirnya ikut membaringkan dirinya disamping sang kakak, dengan posisi miring menghadap kakaknya yang menengadah menatap langit. Naruto tak tahu apa-apa tentang perjodohan yang dijalaninya. Ia masih jauh dari kata mengerti tentang apa yang diinginkan kedua orang tuanya dengan mengenalkannya pada pemuda sebaya teman sang ayah.
"Kita sudah berjanji untuk hidup bersama selamanya, bukan? Nii-sama?"
Tangannya yang kecil menyentuh pipi Sasuke. Refleks, Sasuke menoleh kearah Naruto.
"Naru akan tetap bersama Nii-sama, dan Naru tidak akan pernah membenci Nii-sama."
Gadis kecil itu tak paham dengan kalimat yang baru saja diucapkannya.
"Kau mencintaiku…?"
"Tentu saja, Naru cinta Nii-sama" jawabnya mantap.
Naruto belum mengerti cinta, Sasuke sadar itu. Juga tentang kalimat manis sang adik yang tadi sempat menggelitik telinganya. Namun itu cukup, untuk mengembalikan mood-nya menjadi baik.
"Saat dewasa nanti, apa kau mau menikah denganku dan jadi istriku?"
"Naru mau." Lagi-lagi jawaban Naruto mencerahkan hatinya. Walau Sasuke yakin, Naruto sama sekali tidak mengerti kemana arah percakapan mereka berujung. Naruto tersenyum hangat, pemandangan matahari tenggelam di hadapan mereka menjadi saksi lamaran konyolnya pada sang adik.
5 jam berlalu, keluarganya yang amat sangat panik tetap berusaha menghubungi Sasuke. Takut kejadian lebih nekat akan Sasuke lakukan pada adiknya. Lelah mendengar ponsel yang terus menerus berdering akhirnya Sasuke mengangkatnya.
/"Kau dimana, Sasuke? Ibu mohon, segeralah pulang. Dan bawa Naruto kembali."/
Sasuke tak menjawab.
/"Sasuke, ibu mohon…"/
"Lalu apa yang akan kudapatkan jika kulakukan apa yang Kaa-sama inginkan?"
/"Akan kita bicarakan ini baik-baik, tapi pulanglah. Kita bicarakan di rumah"/
"Jika aku tidak mau, apa yang akan Kaa-sama lakukan?"
/"Ibu mohon, jangan lakukan itu, ibu janji akan mengabulkan semua keinginanmu"/
"Baik, aku pulang sekarang."
30 menit kemudian Sasuke sudah sampai di rumah utama, Naruto tidur dalam gendongannya. Mereka langsung disambut keluarganya dengan perasaan campur aduk. Itachi tampak sangat marah, melebihi murka Fugaku. Saat ia hendak melayangkan tinju ke arah sang adik, ibu mereka mencegahnya. Mengatakan bahwa mereka akan membicarakan ini dengan baik, sang ibu bisa meredakan kemarahan putranya. Ia menghargai keputusan Sasuke yang akhirnya mau membawa Naruto dalam keadaan baik, tak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Keluarga itu kemudian berkumpul di ruang utama setelah Sasuke menggendong Naruto ke kamarnya.
"Apa yang kau inginkan, Sasuke?"
"Bukankah sudah jelas? Tou-sama sudah berjanji akan memberikan Naru padaku saat usianya 16. Tapi kenapa Tou-sama masih berusaha menjodohkanku dengan perempuan lain dan malah menjodohkan Naru dengan laki-laki lain?! Kemana janji Tou-sama saat itu?"
"Dia adik kita, Sasuke. Jangan membuat malu keluarga ini dengan perbuatanmu yang tak mencerminkan keluarga bangsawan." Itachi menimpali.
"Diam kau, aniki. Kau tidak usah ikut campur!" bentak Uchiha termuda.
"Uchiha tidak pernah mengingkari janji. Dan tak sekalipun menarik kembali apa yang sudah terucap. apa Tou-sama lupa?" tambahnya.
Tak ada yang bisa membantahnya kini. Tak satupun kata yang bisa dibalik dengan mudah jika sudah skak mat. Benar-benar tak ada yang bisa dilakukan keluarga itu selain merelakan Naruto mereka untuk Sasuke. Malam itu, mereka dipaksa menyerah dan mengikuti kemauan sang raven termuda. Mereka hanya berharap, kelak pemuda itu akan menyadari dimana letak kesalahannya. Mereka mencintai Sasuke, juga mencintai Naruto. Mereka mencintai keduanya. Dan mereka lalu memiliki pemikiran yang sama.
.
'Mungkin tidak apa-apa jika memang Sasuke menginginkannya. Mungkin lebih baik Naruto tetap menjadi 'Uchiha' dan melahirkan 'Uchiha-Uchiha kecil' lainnya.'
.
Sepertinya keluarga bangsawan itu, ketularan gila *dibacok Uchiha berjama'ah
.
unyapuu unyapuu
.
"Nii-sama mengajar disini?"
Naruto mengulang pertanyaannya.
/"Begitulah"/
"Jahat, kenapa Nii-sama tidak memberitahuku?" kali ini gadis itu menggembungkan pipinya, kesal.
/"Kejutan, haha. Aku ingin memberimu kejutan, Naru.."/
"Nii-sama, baka!"
/"..Hei, jangan ngambek begitu. Dengan begitu aku bisa melihatmu setiap hari"/
oke, terlalu lebay untuk percakapan antar saudara. Tapi begitulah mereka. Walau hubungan mereka belum resmi, bahkan Naruto sendiri tidak tahu menahu tentang takdirnya sendiri beberapa tahun ke depan. Meski keluarganya sudah merestui hubungan keduanya, mereka tidak sampai hati menyampaikan berita ini kepada Naruto yang masih polos. Mereka merasa kasihan karena masa remajanya hanya bisa dinikmati sampai usia 16. Keluarga Uchiha merahasiakan ini, dari Naruto sendiri dan Iruka selaku pengasuh sementaranya.
Naruto sendiri yang tahun ini berusia 14 tahun baru seminggu tinggal di asrama. Karena keluarga Iruka harus pindah ke luar negeri demi memenuhi tuntutan pekerjaannya. Naruto sedih sebab harus berpisah dengan keluarga yang selalu ceria itu, tapi apa dikata. Keluarganya tak memberi ijin agar ia ikut serta pindah ke tempat Iruka berada sekarang. Ditambah lagi, Naruto adalah siswi sekolah menengah tingkat akhir, mau tak mau ia harus tetap disini dan tinggal sendiri di asrama.
Sasuke sendiri sangat girang mendengar berita itu. Dan langsung melamar pekerjaan di tempat Naruto sekolah agar semakin dekat dengan pujaan hatinya. Tentu saja Sasuke langsung diterima, karena kemampuannya dan penampilannya yang mengagumkan. Sayangnya Sasuke –yang diterima sebagai guru untuk mata pelajaran bahasa asing- tidak mengajar di kelas Naruto. Sasuke mengajar siswi kelas 1. Namun Sasuke tetap bersyukur bisa lebih dekat dengan calon istrinya.
Meski bisa melihat Naruto setiap hari, tapi Sasuke tak merasa cukup. Kegilaannya yang sudah masuk taraf 'gawat' membuatnya bertindak berlabihan. Mereka tidak selalu bisa bertatap muka walau Sasuke tetap bisa menikmati kecantikan gadisnya tiap jam istirahat.
Sasuke lalu nekat memasang kamera pengintai di tiap jengkal kamar yang ditinggali Naruto, tentunya dengan menyogok sang kepala asrama terlebih dahulu untuk memuluskan rencananya. Dan bersikap ala stalker setiap harinya. Sedangkan pihak keluarga sudah pasrah, daripada Sasuke yang terkenal nekat akan bertindak lebih 'parah' dari yang sudah-sudah.
Sebagai pribadi riang yang ramah dengan segala kesupelan dan kesopan santunannya. Membuat gadis pirang itu disukai banyak orang. Dengan memakai marga asli keluarga kandungnya, Naruto dikenal sebagai Uzumaki pembawa keceriaan.
Tapi hidup tidak selalu mulus, hingga Naruto harus terjebak diantara kepolosannya dan kekejaman kehidupan nyata.
Dan disinilah ia, terperdaya oleh orang-orang yang tak suka padanya.
.
Flashback off
.
unyapuu unyapuu
.
"…..jangan lupa kameraku. Dan bawa handycam sekaligus tripod….."
Sasuke memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana. Matanya tetap menatap tajam pada gerombolan yang kini tengah mengikat kaki dan tangan Naruto di ujung tempat tidur yang tak terawat. Ia sungguh tak tahan melihat adiknya meronta menderita karena ikatan-ikatan itu, tapi ini belum waktunya menampakkan diri. Sasuke besumpah dalam hati, akan memberikan anak-anak nakal itu pelajaran dan pengalaman 'mengerikan' yang takkan mereka lupakan seumur hidup.
Ketika ketiga gadis yang tadi bersama gerombolan anak-anak muda itu pergi dan amarahnya tak terbendung lagi melihat tangan-tangan kotor itu berani meraba-raba bagian tubuh adik kecintaannya, Sasuke muncul, bersamaan dengan jatuhnya kalung Kristal biru yang selalu dipakai Naruto, ke lantai. Ia menghajar para siswa kurang ajar itu membabi buta. Menyeret satu persatu bocah-bocah bernasib sial keluar ruangan.
Suara tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi menimbulkan suara gaduh di gedung yang sudah kosong belasan tahun itu. Suara bising bersahut sahutan. Ketujuh anak laki-laki babak belur itu kini meringkuk di lantai, menahan sakit di beberapa bagian tubuh mereka yang terkena luapan kesetanan Sasuke.
Bersamaan dengan jatuhnya korban kemarahan Sasuke yang ketujuh, Jugo datang dengan beberapa orang berperawakan serupa, gagah dan tinggi besar serta sangar. Membawa beberapa rantai panjang, juga kamera, handycam dan tripod pesanan Sasuke.
"Kau keterlaluan sekali, Sasuke."
Mengusap peluh di dahi, Sasuke menoleh ke sumber suara.
"Sampai babak belur begini. Kau tidak malu pada usiamu, melawan anak SMP?"
Jugo terkekeh, Sasuke mengernyitkan dahi dalam.
"Bukan urusanmu."
"Ohh, baiklah. Lalu apa yang akan kau lakukan dengan memanggil kami?"
"Membantuku menghukum bocah-bocah nakal itu" Seulas senyum mengembang dibibir tipis sang Uchiha.
"Heh? Kau ingin kami membereskan mereka? Mereka sudah berantakan begitu. Jangan bilang kau masih ingin membunuh mereka?!"
"Bukan, ini akan lebih mengerikan dari itu."
"Hmm, oke. Apa yang harus kami lakukan?"
"Ikat tubuh mereka dengan rantai yang kalian bawa. Ikat lebih erat dibagian pinggang. Seret mereka kedalam."
Menuruti apa yang diperintahkan Sasuke, mereka mengikat masing-masing dari ketujuh anak laki-laki yang sudah tak berdaya itu dengan rantai panjang. Kemudian menyeret anak-anak malang itu masuk ke dalam ruangan dimana Naruto disekap.
Sementara Sasuke menghampiri sang adik yang tengah terikat di tempat tidur. Gadis itu menutup matanya rapat, ketakutan jelas terpancar di wajah cantiknya. Ia lalu mendudukkan dirinya ditepi ranjang. Melepas tali yang mengikat kedua kaki Naruto lalu melepas lakban yang menutup mulut si pirang, perlahan. Dan menyelimuti tubuh kecil itu dengan kemejanya.
"Naru.."
Mata itu tak juga terbuka.
"Naru, ini aku."
Sasuke mengecup bibir Naruto lembut.
"Naru, buka matamu."
Sasuke menghujani wajah sang adik dengan kecupan ringan. Sontak para figuran di ruang yang sama memalingkan muka, malu melihat pemandangan itu.
"Nii-sama….?"
Naruto memberanikan diri membuka mata, berharap pendengarannya tidak salah. Bahwa suara yang didengarnya adalah suara kakaknya.
"Naru takut…."
"Tidak apa-apa, aku disini.."
Hibur Sasuke sambil mengusap pipi Naruto dengan jemarinya. Lalu berdiri menghampiri Jugo yang berdiri tak jauh dari sana. Meninggalkan Naruto yang masih terbaring di tempat tidur dengan tangan yang tetap terikat.
"Aku ingin kau mencari seseorang, gadis berambut pendek yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju asrama dengan kedua temannya. Bawa gadis berambut pendek itu kemari, bagaimanapun caranya. Sekarang. 15 menit lagi permainan akan segera kumulai."
"Oke."
Jugo segera pergi dari sana. Sasuke kembali menghampiri sang adik.
"Naru, tunggu disini. Tenang saja, mereka tak akan menyakitimu. Aku pergi sebentar, aku harus menelpon seseorang."
Naruto hanya menatap sang kakak yang sudah tak berada didalam, heran. Bagaimana mungkin ia tidak menunggu disini, ikatan ditangannya saja tak dilepaskan. Jelas ia tak bisa kemana-mana, bukan?
Di luar gedung kosong…
Sasuke menyandarkan badannya di tembok, disisi pintu masuk.
"Senju-san, ini Uchiha."
/"Kau sudah menemukan Naruto? Dimana dia?"/
"Ya, Naru bersamaku sekarang."
/"Apa yang terjadi?"/
"Ceritanya panjang, akan kujelaskan besok siang."
/"Terimakasih atas bantuanmu, Uchiha-sensei. Bisa beritahu kami dimana posisimu sekarang? Keluarga bocah itu sudah lama menunggunya disini."/
"Tolong sampaikan pada Iruka-san, Naru tidak bisa menemuinya hari ini."
/"Ada apa sebenarnya? Apa terjadi sesuatu yang buruk?"/
"Saya sudah menyuruh seseorang untuk menjemput Iruka-san dan keluarga untuk beristirahat dan bermalam di Hotel Konoha. Anda dan Iruka-san tidak perlu khawatir. Saya sedang terburu-buru, sampai besok Senju-san."
/"Uchiha-sensei?!"/
Sasuke segera memutus sambungan telponnya. Ia yakin saat ini kepala sekolah yang terkenal galak itu pasti sedang kebingungan dengan beberapa jawabannya yang melenceng dari pertanyaan.
Sepuluh menit menunggu, Jugo datang dengan memanggul seseorang yang meronta-ronta di pundaknya bak karung beras. Tepat dihadapan Sasuke, Jugo menurunkan anak perempuan yang diculiknya.
"Uu..Uchiha-sensei? Ke..kenapa anda ada disini?"
Tak menjawab pertanyaan si murid berambut pendek, Sasuke menarik kasar lengan anak itu. Setengah menyeretnya, ia kembali masuk ke dalam. Diikuti Jugo dibelakangnya yang terlihat sedang berpikir.
'Sebenarnya apa yang akan kau lakukan, Sasuke…?'
To be continue…..
…..
Author Curcol Curcol Room~
Lagi galau, efek patah hatinya masih belum hilang padahal sudah masuk hitungan tahunan tapi mati rasanya udah mulai kerasa….uhuy~
*sambil muter goyang dumang. Aseeekk~
G tau kenapa bawaannya males mu ngapa2in, mungkin terlalu lelah jadi manusia, mungkin juga ini bawaan usia yang sudah terlampau tua. Ohh, saya pengen bikin dunia sendiri saja dimana saya bisa jadi muda selamanya dan bahagia terus walau dengan keadaan saya yang seperti ini saja. Hahaha
Ngetiknya sepenggal-sepenggal. Sebentar dilanjut, sebentar ditutup ms Words nya karena terus ditungguin ibu. Jadi salting yang mu lanjutin ini fanfic *lipatmukamasukinlemari
Padahal g ada yang aneh sama ceritanya, maksudnya ceritanya memang aneh dan g jelas tapi kan g ada adegan lemon-nya *meski benernya pengen bisa bikin satu aja yang begitu*. Mungkin karena tokoh genben yang g mungkin bisa diterima sama ibu atau adik2 saya yang notabene orang normal *oke saya ngaku g normal. Wkwkwkwk*. Jadi kek pelaku criminal tiap saya pengen gambar atau bikin cerita tentang OTP kecintaan saya. semuanya harus dilakukan sembunyi-sembunyi.
Walaupun beliau sudah kepala 4, beliau hafal tokoh2 di naruto karena beliau selalu ikutan nonton, jadi tambah salting sayanya yang mau lebih nistain tokoh2 buatan om kishi ini.
Untuk ceritanya saya tambah satu chapter lagi karena yang ini saya pikir sudah kepanjangan *alias capek ngetik panjang2*, jadi chapter 4 besok langsung end. Hehehe
Sekali lagi buat yang udah review, mampir atau tersesat disini dan g sengaja baca, terimakasih…
Sampai jumpa di chapter terakhir~
Salam Damai~
-Unyapuu-
