Catatan gaje :
Saya sengaja g ngasih nama buat beberapa figuran di fanfic ini karena saya belum siap mental buat bashing character orang selain yang saya kehendaki, wkwkwkw
Hope You don't mind it (^v^)/
.
.
.
Pojok Review ~
Riena Okazaki : iya, tentu saja xD
Aliyah649 : iya, dia memang gila xD
Dewi15 : terimakasih, ini sudah dilanjut xD
Uzumaki Prince Dobe-Nii : hihihi, iya, tipe kesukaan author. Ini sudah lanjut. Terimakasih xD
SNlop : siip xD
sivanya anggarada : iya, dia memang begitu, emosian, wkwkwkwk.
Soalnya kalo diceritain langsung bakal jadi satu episode aja. Sengaja diseling supaya bisa bikin penasaran *eh?adakah?* g papa kok, hehe. Terimakasih banyak sudah review dan bersedia baca fanfic ini xD
Ryuusuke583 : harusnya ini chap terakhir, maaf saya tergoda untuk menambah satu chapter lagi hehehe. Tentu saja happy end xD
Viraoctvn : yup xD
Intanpandini85 : iya xD
Aiko Michishige : oke xD
AprilianyArdeta : nanti detilnya diceritakan di chapter terakhir, hehe. Iya dia sudah terobsesi sejak ketemu Naru xD
Harpaairiry : terimakasih, ini lanjutannya xD
: iya, ehe. Soalnya di binder baru ketuang segitu idenya. Terimakasih xD
Vipriz : maaf updatenya tidak kilat . iya, saya suka karakter polos soalnya, hehehe. . with love unyapuu *ikut2an. ditabok
Kaname : terimakasih, ini sudah update xD
Cherry Blosoom : hehehe, terimakasih. Nanti, masih diproses. Soalnya belum ritual *apaan?
Kimjaejoong309 : G bisa ngetik panjang2 saya, hahaha. Tapi saya tambah satu lagi deh, saya jadi tergoda jadiin fic ini lebih panjang xD
Sayangnya saya maso, walau uda ditinggal merit saya g bisa begitu..
Usia, lebih muda setahun dari umur Sasuke di fanfic ini. Tua banget kan? :3
Kim Seo Ji : sama, saya juga suka Sasu sadis#ngek. Terimakasih*tersanjung. Iyakah? Jadi malu xD
Soalnya di binder saya cuma nulis segitu, saya panjangin satu chapter deh. Saya sudah punya beberapa, tapi ditulis tangan di binder aja belum semuanya diketik. Siip, terimakasih xD
Zadita uchiha : hehehe, dia memang akan balas dendam. Siip xD
Mangstavvvvv : hahahahahahahahaha *ikutanketawasetan. Makasih banyak xD
HiNa devilujoshi : iya, dia memang sadis. Oke xD
Narita Menari-nari : terimakasih xD
Yang bakal dilakuin si Sasu saya potong buat chapter depan xD
Efiastuti1 : ehehehe, terimakasih. Ini lanjutannya xD
Hideyoshi no Misa : terimakasih, hehehe. Woh, banyak yang senasib ternyata, hahaha xD isi hp saya malah lebih parah, full SNS, dari doujin sampe gambar yang banyak adegan piip piip nya xD bisa tambah berabe kalo beliau liat. Syukurlah kalo g dicurigai, saya mah sudah dicurigai, makanya saya ditungguin mulu kalo lagi maen hape dan ngendon didepan computer xD *curcoljuga
khioneizys : oke xD
hanazawa kay : terimakasih sudah baca fic ini dan review xD
mayzuky : bereess, tapi balas dendamnya ada di chapter depan xD
Anakarina12576 : iya Suke, harusnya kau masuk rumah sakit jiwa saja sana *ikutan marahin si Suke #dibantai xD
anitaindah777 :ini sudah update xD
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
And I will be the One
(chapter 4)
.
Naruto fanfiction by Unya Puu
Pair: SasuFemNaru
Genre: Pedophile, Psycology, Lollicon, Sister Complex, Incest(?)
Rate : T+
Warning: Gaje plus Garing, Super Duper OOC, Bahasa Amburadul Tidak Sesuai Dengan Pelajaran Bahasa Di Sekolah, Alur Cerita Membingungkan, Cerita Pasaran ala Sinetron-Sinetronan, Bisa Menyebabkan Sakit Mata, Sakit Kepala, Mual-Mual. Dan Sebagainya- Dan Sebegitulah.
Uzumaki Naruto - 14 Tahun
Uchiha Sasuke - 28 Tahun
.
.
#TIDAK SUKA, JANGAN BACA
Happy reading ~
..
.
.
.
'Sebenarnya apa yang akan kau lakukan, Sasuke…?'
Merogoh saku jaket, Jugo menatap sebuah botol obat perangsang ditangannya. Masih ada beberapa botol lainnya di dalam tas ransel hitam yang ia bawa.
Firasatnya mengatakan bahwa hal terburuk akan terjadi beberapa saat lagi. Namun ia tetap berharap bahwa prasangkanya salah.
Sedikitnya Jugo bisa membaca apa yang akan Sasuke lakukan dengan obat itu, jika dihitung dari jumlah obat yang dibawanya, pasti bocah-bocah malang itu yang akan menjadi 'penampung' cairan tidak baik ini dalam tubuh belia mereka atau malah ia sendiri dan beberapa rekannya yang akan jadi tumbal obat yang dibawanya? Semoga saja tidak.
Lalu apa yang akan dilakukannya dengan anak perempuan berambut pendek yang diculiknya atas permintaan Sasuke itu?
Jugo kian was-was, satu adegan pelecehan paling buruk muncul dikepalanya. Jangan bilang teman gila-nya itu merencanakan Gang bang untuk memuluskan aksi balas dendamnya dengan mengumpankan anak perempuan berambut pendek itu sebagai sasaran kelicikan pikirannya.
Mengingat beberapa benda yang diminta Sasuke beberapa waktu yang lalu, ia semakin khawatir.
Sasuke yang secara 'Sengaja' bertindak gila jauh lebih berbahaya dari pada Sasuke yang bertindak gila diluar kesadarannya. Apalagi ini menyangkut 'Adik' pirang kecintaan Sasuke, kebanggaan pemuda itu sejak usianya 14 tahun.
Dalam hati, pria yang sudah lama mengenal Sasuke itu berdo'a.
Semoga kali ini tindakannya tidak akan lebih gila dari saat dimana Uchiha muda itu membawa kabur adiknya dari pesta pertunangannya.
Tak lama, mereka bertiga sampai di tempat penyekapan di lantai atas. Gadis itu tercengang melihat pemandangan memilukan di sekitarnya. Para siswa laki-laki yang beberapa waktu lalu masih dalam kondisi baik kini jadi sebaliknya.
Lebam mendominasi bagian wajah mereka. Baju seragam yang menempel di badan tampak compang camping. Rantai-rantai besi tampak melilit tubuh babak belur mereka.
Tapi tak ada simpati sedikitpun dari gadis bersurai pendek sebahu itu pada gadis yang berusaha dia celakakan yang terlihat tetap terikat tangannya diatas tempat tidur.
Entah kenapa rasa bencinya jadi semakin berlipat, menyadari keberuntungan lebih memihak pada gadis pirang yang baru saja terlelap karena kelelahan itu.
Dia tidak mengerti bagaimana sensei yang terkenal dingin itu mengetahui rencana jahatnya dan dengan mulus menggagalkannya.
"Jugo, tolong pegang dia sebentar."
Jugo lalu memiting tangan gadis itu kebelakang, ia meringis kesakitan saat kedua tangannya terlipat dibalik punggung.
"Tuan, tolong lepaskan saya." Pintanya memelas, suaranya bergetar. Ia mulai menangis.
"Diamlah, atau Sasuke akan melakukan hal yang lebih kejam padamu." Ancam Jugo, memperingatkan remaja perempuan itu.
Sasuke sendiri terlihat sedang duduk dipinggir ranjang, mengusap poni-poni pirang yang menutupi dahi Naruto penuh sayang. Lalu mengecup permukaannya. Kecupannya kemudian turun ke hidung. Dan kecupannya semakin turun. Ia mengecup bibir Naruto dengan sangat pelan, agar adikknya tak terbangun.
Sang siswi berambut pendek itu sangat terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Menyadari kekagetan yang melanda tawanannya, Jugo tertawa miris.
"Lain kali, jika kau punya rencana yang lebih buruk untuk mencelakai sesamamu. Selidiki dulu latar belakangnya. Jika tidak, kesialan akan menimpamu berulang-ulang." Saran Jugo pada gadis itu.
Merasa tidak paham dengan apa yang didengar telinganya, ia menoleh. Menatap pria yang memegangi tangannya dengan tatapan bingung.
"Jika kau penasaran dengan hubungan mereka aku akan memberitahumu…"
Tak jauh didepannya Sasuke tampak tak peduli dengan apa yang akan dikatakan Jugo pada orang yang ditawannya.
"Naruto adalah adik dari pria didepanmu. Dia adik Sasuke Uchiha, sekaligus calon istrinya.." Lanjut Jugo.
Si gadis berambut pendek langsung membatu. Dia sungguh tidak tahu bahwa kelicikannya mengantarnya pada hal yang lebih rumit.
Beberapa pria bertubuh kekar keluar masuk ruangan. Terlihat sibuk dengan kegiatan yang belum gadis belia itu pahami. Namun sedikit tersentak kaget saat salah seorang dari mereka menata posisi Tripod dan memasang sebuah Handycam disana. Diletakkan disisi kiri ranjang, tepat lurus kearahnya.
Dapat dilihatnya juga, Handycam milikkanya tergeletak diujung bawah tempat tidur bersebelahan dengan sebuah Digital Camera yang ia tidak tahu itu milik siapa.
Dalam ketakutannya, ia berharap mendapat sebuah pengampunan. Semoga rencananya tidak menjadi boomerang padanya.
.
unyapuu unyapuu
.
Di waktu yang sama…
"Uchiha-sensei?!"
Tsunade hanya bisa memandang pada layar ponsel ditangannya dengan dahi berkerut. Uchiha memutus kontak begitu saja.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?' Kepala sekolah itu mulai penasaran.
"Ada apa, Tsunade-sama?" Iruka yang menyadari perubahan raut wajah sang Senju, bertanya.
"Ah, Uchiha-sensei bilang putrimu sedang bersamanya. Tapi Naruto tidak bisa kemari sekarang. Uchiha-sensei malah menitipkan pesan. Ia bilang ia sudah menyuruh orang untuk menjemputmu dan keluargamu untuk menginap di hotel Konoha dan memintamu agar menunggunya hingga besok siang."
Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. "Bagaimana ini..?"
"Baiklah jika Sasuke-sama berkata demikian. Saya dan keluarga saya akan menginap di hotel malam ini." Iruka tersenyum. Ternyata , mantan majikannya itu tetap perhatian padanya dan keluarga kecilnya.
"Eh? Kau tidak cemas pada keadaan putrimu?"
Iruka menggeleng sambil melebarkan senyumnya, Tsunade semakin heran.
"Aku tahu Iruka, Naruto memang bukan anak kandungmu. Tapi tidakkah kau merasa khawatir? Ia sedang bersama orang asing sekarang."
Lagi-lagi Iruka hanya tersenyum, lalu tertawa kecil.
"Naruto sudah berada bersama orang yang tepat. Mungkin Tsunade-sama tidak tahu tentang ini, mungkin juga akan tidak masalah jika saya beritahu anda sesuatu."
"Apa itu?"
"Naruto adalah putri dari Fugaku-sama, dia adalah anak bungsu dari keluarga bangsawan itu. Jadi Naruto adalah adik dari Sasuke-sama."
Sang Senju mengernyitkan dahi lebih dalam, ia tak yakin dengan apa yang baru saja Iruka katakan.
"Saya mengerti apa yang anda pikirkan. Naruto memang tidak memiliki kemiripan sedikitpun dengan keluarga bangsawan itu, sebab Naruto merupakan putri adopsi resmi keluarga Uchiha."
"Putri adopsi?"
"Begitulah, marga yang dipakainya sekarang adalah marga asli mendiang ibunya. Marga resmi Naruto adalah Uchiha."
"Kau tahu banyak.." Tsunade kembali duduk di atas sofa, mencoba untuk lebih merilekskan pikirannya yang sempat kalut.
"Tentu saya tahu banyak, saya sudah mengabdi cukup lama pada keluarga baik hati itu. Tentu saya tahu tentang Naruto. Karena sayalah pengasuhnya sejak Naruto datang ke rumah bangsawan Uchiha."
"Mungkin aku terlalu ikut campur, boleh aku tahu kenapa Naruto tinggal bersamamu?"
"Saya tidak begitu mengerti alasan Fugaku-sama saat itu, dan saya juga tidak bertanya lebih jauh karena saya tidak mungkin mencampuri urusan para Uchiha. Saya hanya menangkap maksud baiknya.."
Iruka mengingat kembali hari dimana kepala keluarga dari bangsawan yang dihormatinya, memohon dengan sangat padanya agar ia bersedia menampung Naruto hingga batas usia yang sudah ditentukan.
"Fugaku-sama ingin agar Naruto bisa menikmati kehidupan yang seharusnya dijalaninya dengan keluarga biasa dengan cara hidup yang lebih normal. Beliau ingin agar Naruto bisa hidup bermasyarakat dan menikmati sedikit kebebasan. Sebab tak lama lagi, lebih tepatnya 2 tahun lagi Naruto sudah harus menjalani takdirnya sebagai seorang putri bangsawan."
"Bisa beri penjelasan lebih rinci?" Tanya Tsunade penuh selidik, ia penasaran dengan fakta yang baru diketahuinya ini..
"Naruto harus memenuhi tradisi keluarga bangsawan itu, semua pengajaran yang diberikan padanya sejak kecil adalah merupakan persiapan pihak keluarga untuk memastikan kematangan pribadi Naruto yang kelak akan menjadi istri dari keluarga sesama bangsawan."
"Maksudmu, bocah itu sudah akan menikah? Di usia 16 tahun?" Tsunade agak terkejut mendengar penuturan panjang Iruka.
"Benar sekali." Jawab Iruka membenarkan.
Kali ini, Tsunade bersimpati pada bocah pirang yang terkenal ceria itu.
"Aku jadi merasa kasihan padanya."
"Saya juga merasa demikian." Iruka menimpali. Pria itu tertunduk sedih.
"Kupikir itu usia yang terlalu muda untuk gadis sekecil Naruto memulai hidup berumah tangga." Tsunade memijit pangkal lehernya yang mulai kaku.
.
unyapuu unyapuu
.
Kediaman Uchiha di waktu yang [masih] sama…
"Bagaimana kabar Tou-sama?" Itachi membetulkan posisi duduknya.
Ia baru sampai beberapa waktu yang lalu dari Kyoto bersama istri dan putrinya di rumah utama. Sekarang istri dan putrinya yang masih berusia 5 tahun sedang beristirahat di kamar Itachi ditemani Mikoto.
"Baik, bagaimana denganmu? Apa pekerjaan disana lancar?"
"Seperti yang Tou-sama rasakan, kami semua baik. Pekerjaan lancar, maaf jadi jarang mengunjungi Tou-sama dan juga Kaa-sama. Saya sedikit kewalahan menangani beberapa proyek."
"Baguslah, sayang sekali adikmu yang keras kepala itu tak tergerak sedikitpun untuk membantumu."
Itachi tertawa. "Bicara tentang Sasuke, apa ada perkembangan yang bagus Tou-sama?"
"Tidak, dia masih sama seperti setahun yang lalu. Tidak bisa dibantah."
Fugaku meletakkan dokumen yang dibacanya. "Aku masih sering menceramahinya agar dia bisa sedikit berpikir tentang keputusannya itu. Tapi sepertinya percuma saja. Dia bukan tipe penurut sepertimu dan seperti Naruto. Susah merubah pendiriannya" Sambungnya.
"Lalu Naruto, dia tidak mengalami kesulitan apapun bukan?"
Fugaku menggeleng. "Adikmu baik-baik saja. Kau pasti tahu itu, dia tetap rajin memberi kabar padamu juga bukan?"
Itachi mengangguk.
"Dia lebih mandiri dari yang kupikir. Aku bangga padanya." Sang kepala keluarga tersenyum bangga.
"Araa? Sepertinya ada yang rindu pada putri kecilnya?"
Mikoto yang baru saja bergabung menggoda suaminya. Itachi sendiri hanya tersenyum melihat tingkah sang ibu.
"Tentu saja aku rindu. Sudah tiga minggu kita tidak pergi menjenguknya karena aku banyak urusan pekerjaan." Jawab Fugaku.
Kali ini ibu 3 anak itu yang tertawa.
"Bagaimana jika besok kita pergi menjenguknya? Kau juga ikut kan Itachi? Naruto pasti juga ingin bertemu dengan kalian."
"Ide bagus." Fugaku setuju.
"Apa perlu memberitahu Sasuke dulu tentang kunjungan kita besok, Kaa-sama?" Tanya Itachi.
"Tidak perlu. Aku yakin dia akan langsung tahu jika kita sudah sampai disana."
Suasana lalu hening.
Jika membicarakan Sasuke, mereka akan ingat apa yang sudah pemuda itu lakukan.
Tapi sudah tidak ada yang bisa mereka lakukan, sejauh ini Sasuke mematuhi aturan mainnya tanpa melanggarnya sedikitpun.
Belajar dari pengalaman, tak ada gunanya memisahkannya dari Naruto.
Tapi jika mengingat gadis kecil itu, mereka jadi merasa sedih. Dan juga merasa bersalah.
Tak ada yang sanggup memberitahunya, jika kelak ia harus menjadi istri dari kakaknya sendiri.
Sungguh ironis.
Sementara itu di Konoha Private School…
Sambil menunggu jemputan, Iruka menceritakan banyak hal tentang Naruto pada wanita di depannya. Tsunade sendiri kian bersemangat menyimak setiap kisah yang dituturkan Iruka.
Percakapan mereka berhenti saat bawahan Tsunade memberitahu mereka jika orang yang dipertintah Sasuke untuk menjempunya sudah datang.
Sambil menggendong putranya yang sudah terlelap, mereka berjalan beriringan menuju gerbang depan.
Membungkuk hormat kepada sang Senju, Iruka berpamitan. Menyampaikan terimakasihnya ia lalu masuk kedalam mobil yang menjemputnya serta istri dan putra laki-lakinya, menuju hotel Konoha.
.
unyapuu unyapuu
.
Anak-anak malang yang tampak tersiksa dengan rantai yang membelit tubuh mereka kini terlihat terjejer berdekatan dengan posisi setengah duduk badan tertumpu pada lutut. Dengan pria-pria sangar berbaju hitam yang berdiri tepat dibelakang mereka menjambak rambut bagian atas anak-anak itu sehingga pandangan mereka lurus kedepan. Tepat di sebelah kiri tempat tidur.
"Persiapan selasai." Kata sasuke terlihat puas. Ditangannya ada Handycam milik sang siswi.
Ia kemudian mendekati si gadis berambut pendek yang dipegang Jugo. Gadis kecil itu terduduk dengan kepala tertunduk. Sasuke lalu berjongkok menyamakan posisi.
"Kau tidak berpikir aku akan melepaskamu begitu saja kan, nona manis?"
Sasuke mengangkat kasar dagu gadis seumuran adiknya itu agar mata mereka saling beradu.
"Se…sensei… Maafkan saya…"
Gadis itu gemetaran.
"Saya mohon… Lepaskan saya…" Mendengar nada ketakutan memasuki pendengarannya, Sasuke hanya tertawa.
"Tidak bisa begitu…."
Memainkan Handycam milik sang siswi dengan tangan kanannya, Sasuke membuang wajahnya kesamping.
"Kau tahu? Aku sama sekali tidak merasa puas sebelum membalas perbuatan tidak patut kalian ini pada Naru-ku tersayang dengan balasan yang lebih mengerikan." Imbuhnya sadis.
Kali ini Sasuke memandang anak perempuan dihapannya lebih tajam, warna matanya yang hitam seolah berubah merah menyala sehingga siswinya itu semakin dicekam ketakutan.
Sasuke lalu mengarahkan lensa benda yang dipegangnya tepat didepan wajah gadis malang itu.
"Aku suka ekspresi ketakutanmu, ini akan menarik."
Sasuke berdiri, tangan kirinya menarik keluar dasi yang disimpannya di saku celana. Menggenggamnya erat.
"Jugo, lepaskan tangannya. Buat agar dia tetap dalam posisi itu. Pegang kepalanya" Perintahnya.
Sasuke lalu tertawa, tawa berat yang sangat janggal.
Membuat bulu roma siapapun yang mendengar tawa itu berdiri saking menakutkannya.
Sekilas, diliriknya siswi berambut pendek yang wajahnya semakin pucat itu. Matanya yang merah mulai tertutupi kabut.
"Ready for Your punishment, lil girl?"
.
To be Continue….
.
.
.
.
.
.
Author Curcol Curcol Room~
Hehehehehehe~
Harusnya ini jadi chap terakhir, tapi sengaja saya jadiin bersambung karena ada yang bilang pengen ceritanya lebih panjang. Hahaha
Sebenarnya g manjangin cerita si, cuma membagi file jadi 2. Jadi setengah ketikan cerita yang harusnya ada disini…
…saya cut dan saya paste di halaman sebelah….. ehe~
Semoga ada yang penasaran dan masih ada yang mau baca *ketawa usil
Chapter depan beneran END deh, bwahahahaha
Terimakasih banyak buat yang sudah review, juga yang sudah mampir kemari…
Salam Damai~
-Unyapuu, 26 Maret 2015 9:26 PM-
.
.
.
*ngacir
