Badan Yunho menegang seketika. Sabar Yunho. Kau orang yang kuat. Yunho meyakinkan diri sendiri untuk tidak menyerang Jaejoong saat itu juga.

Namun Jaejoong malah semakin menguji defense Yunho yang tampaknya hanya setengah hati saat kaki mulus Jaejoong mulai menggeliat seperti menggoda paha Yunho yang masih berbalut celana kain itu. Apakah Yunho akan menyerah dan runtuh, lalu kemudian ia akan menghabiskan malam yang –cukup- panjang bersama Jaejoong?

Reason

Yaoi

Yunho x Jaejoong

Don't Like Don't Read

Enjoy it!

Matahari sudah mulai merangkak naik menuju singgasananya. Sinarnya pun sudah berusaha menerobos masuk menuju ruangan kamar berukuran 4x4 meter ini melalui celah-celah gordyn tipis berwarna hijau tosca.

Pemilik kamar ini –Jaejoong- perlahan mulai terjaga dari tidur -yang tidak bisa dibilang panjang- nya. Menggeliat pelan masih diatas ranjang king size nya sambil mengerjap membiasakan cahaya matahari untuk memasuki kornea matanya. Butuh waktu lama untuknya mengumpulkan seluruh kesadaran serta nyawanya yang tercecer. Badannya terasa pegal dimana-mana.

Apa semalam aku lembur? Ah, tidak. Tadi malam kami makan BBQ bersama dan..

Kenyataan itu kembali menghantam Jaejoong, dan itu membuatnya berjengit dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Saat ia mencoba duduk di kepala ranjangnya ia merasakan ada yang berbeda. Dingin AC nya benar-benar menyentuh tulangnya.

Tulangnya? Ia pun mulai meraba dadanya yang seperti nyata..

CKLEK

Tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya.

KYAAAAAA

.

"JA-JA-JADI KAU .. TADI MALAM TIDUR DENGAN KU?!" ucap Jaejoong dengan wajah menghoror sambil membawa selimut menutupi dadanya yang telanjang. Pantas saja dingin, astaga! Dadaku kemana-mana(?)

Kalian tentu sudah tau siapa itu yang tadi membuka pintu kamar mandi. Yup! Jung Yunho. Namja itu terbangun pukul 5 pagi tadi. Tidur tampannya terusik oleh grepe(?)an Jaejoong yang awalnya dari mulut turun ke leher, dari leher turun ke perut, dari perut turun ke- oke hentikan. Sekarang kalian sudah tau kan betapa nakal dan liarnya jemari Jaejoong itu?

"kau- tidak menyentuh ku kan? Ya Tuhaaan!" Jaejoong kembali mempererat genggaman tangannya pada selimut yang kini telah membungkus seluruh tubuhnya.

Diperhatikannya baik-baik seluruh bagian tubuhnya di dalam selimut itu.

Sepertinya tidak ada yang aneh. Aku juga masih pakai celana.

Jaejoong pun kembali melongokkan wajahnya keluar dari selimut. Yunho sedari tadi hanya berdiri memunggunginya dan fokus mengeringkan rambutnya. Namun tiba-tiba mata Jaejoong terfokus pada sesuatu yang bertengger di leher Yunho. Sesuatu yang.. kemerahan?

Dengan lompatan harimau rahasianya, Jaejoong menerjang dan langsung memeluk –atau lebih tepatnya memiting- leher Yunho.

"YA! YA! YA! Lepaskan aku Jaejoong!" Yunho terus berontak di bawah ketiak Jaejoong.

Jaejoong mengeluarkan seluruh tenaga baru bangun-nya untuk memastikan tanda apa itu.

Ini kan..? Wajah Jaejoong memerah seketika dan menjauhkan wajahnya dari Yunho.

"yang harusnya marah dan takut tak suci lagi itu aku." ucap Yunho tiba-tiba.

"me-memang, apa maksudmu?" tanya Jaejoong takut-takut pada Yunho. Suaranya sangat pelan nyaris mencicit, seakan tak ingin untuk mendengar kalimat jawaban dari Yunho yang akan menjatuhkan harga dirinya.

"ini sudah hampir siang, dan bekas ini tak mau hilang! kau-lah yang memperkosaku!" cecar Yunho setengah frustasi dan menunjuk lehernya.

Jaejoong yang wajahnya sudah memerah padam setelah mendengar jawaban Yunho, mencoba tetap memasang wajah datar, walaupun gagal total.

.

Tak berapa lama, Jaejoong sudah siap dengan apron coklat terangnya untuk berkutat dengan wajan penggorengan dan kawanannya di dapur kecil -tapi lengkap- milik Jaejoong.

"Jadi, apa kau akan membuatkan aku sup jahe? Ibuku suka sekali memasak itu untukku saat aku pulang ke Gwangju."

"kau ingin aku membuat sup jahe?" tanya Jaejoong melirik Yunho yang ikut-ikutan sibuk di dapur, tak lihatkah keberadaan Yunho yang sebesar beruang kutub itu mempersempit ruang gerak Jaejoong di daerah kekuasaannya (red: dapur).

Yunho yang dilirik pun mengangguk mantap.

"okay. Tunggu 20 menit di meja makan, aku akan membuatkanmu sup jahe." Jawab Jaejoong yang kembali serius.

"benarkah? Baiklah, aku ingin kau tidak terlalu matang dalam memasak jahenya, jadi jahe itu tidak terlalu hancur saat tertuang di mangkukku." Jawab Yunho sambil menggerak-gerakkan badannya saat menjelaskan bagaimana jahe itu hancur karena dimasak terlalu lama oleh Jaejoong.

"bisakah kau hanya duduk disana dan tidak menggangguku disini?"

Tanpa menjawab, Yunho bisa melihat aura membunuh dari tatapan mata Jaejoong. Ia pun beringsut dan memutuskan untuk menonton acara berita pagi di tv yang kebetulan tembus dengan ruang makan di apartment Jaejoong.

.

Setelah memakan sup jahe buatan Jaejoong yang jahenya tak hancur saat masuk ke mangkuk Yunho, mereka bersiap untuk berangkat ke kantor bersama. Mulanya Jaejoong menolak karena merasa malu dan akan menambah hutangnya dengan Yunho.

"tidak perlu, lagi pula sup mu sudah melunasi semuanya." Ucap Yunho dengan senyum sumringah yang bisa melelehkan apa saja, kecuali hati Jaejoong. Belum mungkin.

Karena sup nya masih ada, Jaejoong pun membungkus nya di sebuah container, dan memutuskan membungkus untuk Yunho juga.

"ini untukmu, yang ini untukku. Jangan berpikir aneh-aneh dan memasang senyuman mesum seperti itu. Cepat keluar sekarang, aku akan mengunci ruangan ini."

Tanpa menjawab, Yunho hanya menganggung dan nyengir kuda, lalu berinisiatif keluar dan menunggu di lift Jaejoong yang sedang mengunci pintu.

Jaejoong jadi persis seperti ibu-ibu yang mengomeli suaminya dipagi hari.

.

Keadaan yang terjadi didalam mobil Yunho sangat tenang. Nyaris tak ada yang berbicara sampai tiba-tiba mereka sudah di basement kantornya. Jaejoong lebih dulu membuka pintu dan meninggalkan Yunho yang baru saja seperti orang yang akan membukakan pintu untuk Jaejoong.

" ya Tuhan, apa yang ingin ku lakukan? Oh, dia hanya teman kerjaku di kantor kan?" monolog Yunho sambil tertawa miris di akhir kalimatnya.

.

Sesampainya di ruang kerja ternyata Jaejoong dikejutkan dengan suara Sehun yang ternyata sangat cerewet dan kepo.

"Jaejoong-seonbae, apa Dara yang ini yang kemarin menemui mu di kedai?" tanyanya sambil menodong Jaejoong dengan layar tab nya yang menampilkan wajah Dara sedang tersenyum sambil menggandeng seorang pria, yang Jaejoong ketahui karena sering muncul di tv.

Malas menjawab Sehun, Jaejoong hanya bergumam.

"apa kemarin kalian benar-benar putus?"

Lagi Jaejoong hanya berdehem singkat menanggapi ocehan Sehun.

"Waah, kalau benar dia sangat jahat ya? Wanita ini baru saja mengumumkan bahwa pacarnya adalah si Seunghyun ini. Ya ampun, itu kurang dari 24 jam sejak kejadian tadi malam. Benar-benar.." Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa tahu bahwa Jaejoong mati-matian menahan kecewa.

"sudahlah Seonbae, jangan patah semangat ya! Masih banyak orang yang menyayangimu."

Jaejoong tak menjawab omongan Sehun, ia malah fokus membuka folder di komputernya, berniat melanjutkan pekerjaannya yang tertunda kemarin.

"Seonbae, aku punya firasat bahwa jodohmu sangat dekat denganmu."

Jaejoong benar-benar tak peduli pada junior SKSD nya itu. Ia terus fokus pada layar komputernya.

"benar-benar dekat, Seonbae. Sebentar lagi ia akan datang.." ucap Sehun sambil memejamkan mata dan tangannya menerawang, ala-ala peramal.

CKLEK

"Jae, ini kotak bekal mu, kau meninggalkannya di mobil."

Jaejoong langsung menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard, dan menatap lekat mata sipit pria dihadapannya. Tanpa berniat mengambil bungkusan berwarna biru muda itu. Hanya membeku. Wajahnya memerah secara instan.

-persis seperti peramal.

"benar kan ucapanku." Sehun menepuk dadanya sombong.

Membuat Yunho hanya terkekeh walau sebenernya juga bingung apa yang tengah kedua pria di hadapannya ini bicarakan. Tak mau ambil pusing ia pun meletakkan bungkusan itu dimeja Jaejoong, lalu melenggang menuju meja kerjanya dan melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan dikantor.

.

Saat ini Jaejoong tengah berada di kafe depan kantor, niatnya untuk menghilangkan stress, karena malu bertemu Yunho terus, juga karena omongan menyakitkan hati dari Sehun tentang Dara. Namun tampaknya kesialan tengah menghantui Jaejoong, sumber kegilaannya malah datang menghampiri.

Sandara Park. Seseorang yang sudah membuat hatinya hancur tadi malam dan membuatnya uring-uringan. Baru saja memasuki pintu kafe bersama seseorang yang -Jaejoong yakini adalah lelaki yang- beberapa waktu lalu Sehun bicarakan.

Kesialan Jaejoong bertambah sempurna, saat pria jangkung itu menarik tangan Sandara untuk duduk di bangku dekat meja Jaejoong.

SRET

Sial. Jaejoong yakin mata mereka tadi sempat bertemu. Tapi apa? Dara membuang pandangannya acuh. Seolah tak mengenal Jaejoong. Posisi Jaejoong yang menghadap ke luar kafe membuatnya seperti memantati mereka.

Selama beberapa menit dua sejoli itu hanya berbincang tanpa memesan sesuatu. Jaejoong? Jangan ditanya. Dirinya hanya melamun sambil melukis benang kusut di notes kecil yang tadi ia ambil di meja pemesanan. Kopi nya pun sudah tak panas lagi. Entah apa yang dilakukan Jaejoong disana. Hanya membatu dan menatap ke jendela yang –ternyata- memantulkan kedua sejoli di sebelahnya.

KLING

Bel di pintu kafe itu berbunyi, pertanda ada seseorang yang baru saja masuk.

"ternyata kau disini, Jae? Aku mencarimu di kantin kantor. Ternyata firasatku benar. Kau tak lupa dengan bekal mu kan?" cecar Yunho sesaat setelah mendudukkan bokongnya di depan meja Jaejoong. Membuatnya sedikit kehilangan pantulan dari kedua orang dibelakangnya.

Jaejoong sempat kaget dengan kehadiran Yunho yang terengah-engah membawa dua bungkusan yang Jaejoong yakin adalah kotak bekalnya. Namun dirinya hanya tersenyum dan mencoba menerima bungkusan itu. untung ada Yunho, inner Jaejoong. Walaupun sebenarnya iapun enggan untuk bertemu Yunho, tapi itu lebih baik daripada melihat mantan kekasihnya yang tengah bermesraan dengan orang lain.

"astaga, orang itu tak tau tempat.." pekik Yunho sambil menutup wajah dengan sebelah tangannya.

Jaejoong yang penasaran dengan ucapan Yunho memutuskan untuk memutar badannya, dan

DEG

Jaejoong terlalu kaget untuk sekedar menangis. Hatinya benar-benar hancur saat ini.

"Gadis itu berciuman dengan seorang pria belum sampai 24 jam setelah memutuskan hubungan dengan ku. Murahan, kan?" omongnya entah pada siapa setelah ia kembali merapikan posisi duduknya. Ucapnnya yang cukup keras membuat para pengunjung kafe yang memang cukup lengang itu dapat menangkapnya dengan jelas.

Dara –gadis itu- pun melepas ciuman dengan pria jangkung itu. Wajahnya sedikit merah, apa karena malu berciuman dengan orang yang dicintai di depan umum atau malu karena merasa terhina dengan ucapan orang lain? Entahlah.

Tak sampai semenit, pasangan yang sedari tadi tidak memesan itu pun melengos pergi.

Jaejoong dan Yunho pun melanjutkan makan mereka, mencoba untuk tidak mempedulikan kejadian menggemparkan yang baru saja terjadi.

.

Jaejoong makan dengan sangat tergesa, sesekali berhenti untuk minum karena kerongkongannya yang kecil tak muat untuk menelan nasinya yang besar-besar. Yunho mengetahui apa yang membuat Jaejoong makan dengan kasar seperti ini.

"pasti karena gadis itu" gumam Yunho masih bisa ditangkap oleh indra Jaejoong.

Jaejoong segera merapikan kotak nasinya

"kau bisa membawa kotak itu pulang, dan mengembalikannya ke apartment ku langsung kalau kau ada waktu. Aku duluan." Ucap Jaejoong sedikit bergetar. Sebelum Jaejoong benar-benar melangkah, Yunho berdiri dan menggerakan tubuhnya yang cukup tambun itu kedepan, dan meraup Jaejoong menuju pelukannya.

Tubuh Jaejoong menegang di pelukan Yunho. Tiba-tiba saja café itu memutar lagu JYJ – Letting Go.

Pelukan Yunho yang tiba-tiba membuat Jaejoong terkejut, namun kelamaan Jaejoong rasa ia sudah tak bisa menahan kepedihannya lagi. Akhirnya ia menumpahkan semua airmatanya di pundak Yunho.

Beruntungnya gadis Yunho nanti, bahu pria ini sangat pas untuk bersandar. Tangan pria ini juga sangat lebar dan hangat. Oh Tuhan. Jaejoong malah menangis makin keras di pundak Yunho, untungnya keadaan kafe sudah mulai tambah sepi, jangan lupakan juga suara Hero di lagu yang jadi soundtrack itu yang teriak-teriak, juga turut membantu meredam suara tangis Jaejoong.

"aku tak tahu mengapa aku melakukan ini. Akhir-akhir ini dadaku hanya perih melihat matamu berkaca-kaca. Perasaanku tak tenang saat kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Juga.. wajahmu yang selalu menghantui pikiranku.."

"mulai sekarang jangan bersedih lagi, ne?"

Jaejoong hanya bisa mengeratkan pelukannya, Yunho pun membiarkan Jaejoong menangis di pundaknya selama sisa-sisa jam istirahat. Berharap jam istirahat hari itu tak pernah berakhir.

.

2 bulan kemudian

"yo Seonbae, jadi apa kau dan Yunho Seonbae berkencan?" bisik Sehun yang –selalu- penasaran dengan kehidupan pribadi Jaejoong, setelah melihat kedekatan yang terjadi tak biasa diantara kedua senior di ruangannya itu.

"apa yang membuatmu bertanya seperti itu Sehunni?" jawab Jaejoong menahan tawanya, Sambil melihat pantulan Yunho yang juga ikut menahan kegeliannya.

"aniya, hanya saja sikap kalian berdua kelihatan sekali seperti seorang yang sebentar lagi akan kawin"

"oh, begitu ya?" jawab Jaejoong tanpa melepas pandangannya dari layar komputernya.

GLEK

Yunho seperti tersedak air liurnya sendiri. Masalahnya bukan karena ucapan Sehun yang berkata 'sebentar lagi akan kawin' , tapi reaksi Jaejoong yang terlampau datar akan ucapan Sehun –lah yang membuatnya terkejut.

"ya! Jika ingin bergosip usahakan sumber gossip kalian itu tak mendengarnya!" teriak Yunho tidak terima dan malah dibalas tawa menggelegar Jaejoong.

.

"jadi? Sekarang apa kau sudah mau menerima pernyataan ku 2 bulan yang lalu di kafe itu?" pecah Yunho ditengah kesunyian yang kembali menyapa mereka di dalam Audi hitam milik Yunho, sekarang mereka dalam perjalanan menuju apartment Jaejoong.

"oh, aku sudah tidak bersedih lagi, kau lihat? Sekarang aku tersenyuuum~" balas Jaejoong tak serius sambil menarik kedua ujung bibir penuhnya dengan kedua jari telunjuknya dan menatap Yunho yang tengah menggenggam kemudi.

CKIIIIT

Yunho menginjak brake secara mendadak, kepala Jaejoong yang sekeras batu itu bisa saja membentur dashboard jika ia tidak memasang seatbelt nya dengan benar.

"Yunho, apa yang baru saja ka- MMPPH" baru saja Jaejoong ingin memarahi Yunho, namun secepat kilat Yunho menyambar bibir penuh Jaejoong dan membungkamnya.

Awalnya hanya mengecup lalu kemudian berubah liar dan menuntut. Lidah memang lebih tajam dari pedang. Itulah kalimat yang selalu terngiang di telinga Jaejoong saat dengan mudahnya lidah Yunho merobek pertahanan Jaejoong, dan memulai kebiasaannya mengabsen barisan rapi gigi Jaejoong.

"euunggh.."

Lenguhan Jaejoong membuat Yunho makin bergairah. Jemarinya yang dari tadi hanya menganggur kini mendapat pekerjaan baru, yaitu menggerayangi tubuh pria kulit pucat dibawahnya.

Jaejoong hanya pasrah dengan sentuhan dan perlakuan yang sudah Yunho berikan sejak kejadian di kafe itu. itu membuatnya jadi terbiasanya dengan jemari Yunho.

Yunho memiringkan kepalanya guna memperdalam ciumannya. Jaejoong juga ternyata bersemangat dengan aktifitasnya kali ini. Terbukti dengan gerakan tangannya yang malah semakin menekan supaya lidah Yunho semakin mengekspor(?) salivanya ke dalam gua Jaejoong.

DOKDOK

Terdengar suara gedoran di kaca milik Yunho.

PLOP

Kali ini suara melepasnya tautan kedua benda lembut milik dua orang di dalam mobil.

Sial. Dengus keduanya setelah mendengar ada gedoran yang lebih keras. Yunho dan melihat wajah Jaejoongnya yang memerah dan tersengal-sengal, seperti habis marathon. Dengan sangat enggan Jaejoong melepaskan rangkulannya dari leher Yunho dan membiarkan Yunho keluar seraya berkata ada apa sesopan mungkin pada orang yang baru saja menggedor kaca dan mengganggu aktifitas mereka.

Ternyata seorang polisi, yang baru saja akan menilang mobil Yunho, karena berhenti tepat di bawah plang dilarang berhenti selama lebih dari 10 menit.

Astaga, ternyata bibir mereka bertautan selama itu. Ini rekor baru!

Yunho pun kembali ke mobilnya untuk memberi tahu Jaejoong yang sebenarnya terjadi.

"ada apa Yunho?" tanya Jaejoong cemas.

Yunho hanya menunjukkan surat tilang di depan wajah Jaejoong.

"bisa diambil besok pagi jam 9 di kantor polisi." Ucap Yunho menirukan suara polisi tadi.

Jaejoong pun keluar dari mobil yang sebelumnya sudah mengambil tas kerjanya punya Yunho dari kursi belakang. Mereka berdua pun berjalan menyusuri malam, untungnya apartment Jaejoong tinggal 10 menit lagi dari tempat itu.

"ini semua karena kau menggoda ku tadi!" Yunho memulai.

"Siapa yang menggodamu? Aku hanya bilang padamu kalau aku sudah bahagia dan tidak sedih lagi. Kau saja yang tidak kuat iman." Jaejoong tak terima.

"YA!" Yunho menghentikan langkahnya dan meneriaki Jaejoong tepat di wajah.

"YA!" Jaejoong balas berteriak sambil mendekatkan wajahnya di wajah Yunho sambil kakinya berjinjit.

"katakan kau menyukai ku." Yunho berujar dengan suara rendahnya sambil meniupkan nafasnya yang menimpa hidung bangir Jaejoong.

"ani. Kau kan menyukai ku. Aku tidak." Memalingkan wajahnya yang mulai memerah.

"YA!"

"Yunho. Berhenti bersikap seperti anak kecil." desis Jaejoong, namun tak membuat Yunho berhenti untuk menggodanya.

"Jaejo- MMPPH"

Kini bibir cherry kissable Jaejoong sudah mendarat sempurna di bibir Yunho Tak biasanya Jaejoong yang memulainya. Tak lama. Singkat sekali. . Membuat Yunho hanya bisa berdiri kaku.

"Apa itu bisa menjawab rasa penasaran mu? Aku mencintaimu. Bukan menyukaimu. Mulai saat ini berhenti menanyaiku tentang hal itu okay?" kata Jaejoong sambil berlari meninggalkan Yunho yang masih syok akan kelakuan Jaejoong yang sudah berani mengecupnya.

Yunho yang baru sadar langsung ikut mengejar Jaejoong.

"Jaejoongi~ aku juga mencintai muu~!"

Cinta datang tak kenal waktu

Tak tau tempat

Cinta bukan pemilu yang bisa memilih

Hati mu pun tak pernah tau dimana ia akan jatuh setelahnya

Cinta itu sederhana

Walaupun sesungguhnya rumit

Seperti saat ini

Aku tak perlu sebuah alasan untuk jatuh cinta pada mu..

Kim Jaejoong - Reason

.

FIN

Untuk sebuah alasan yang tidak bisa dibeberkan, cerita ini jadi menggantung cukup lama. Saya benar-benar minta maaf pada pembaca (yang mungkin) menunggu cerita aneh ini untuk lanjut. Saya juga minta maaf jika alurnya jadi aneh dan jauh dari ekspektasi. Terimakasih untuk yang sudah review, fav, follow. TERIMAKASIH BANYAK~!

Salam cinta dari Lawlie~ #dzig