Bakaloid game chap3
INGAT! Vocaloid bukan milik author Mia dan Mato.
Fic ini karya Mia Mato!
Warning TYPO
!
40%typo15%seru15%Gaje15%enak(?)
Selamat membaca!
.
.
.
"aku kan pengen ga sendirian, seharusnya aku bersama Gakupo." Luka terus berjalan dengan sebal.
"wahana ini aneh, gelap dan menakutkan!" Luka memegang erat sodetnya.
Tiba-tiba, seseorang berambut ungu lewat di ujung lorong.
"siapa itu? Gakupo?" Luka berlari menyusul Gakupo.
"Gakupo tunggu aku!"
"Gakupo tunggu!"
"Gakupo, tolong tunggu aku!" sayangnya Gakupo terus berlari dan menghilang di dalam kabut.
"kabut apa ini? Bau banget!" Luka menutup hidungnya dengan celemeknya.
Luka memandangi tengkorak-tengkorak yang meninggal dalam keadaan yang aneh.
"kenapa tengkorak ini meninggal dalam keadaan tangan memegang kepala yang banyak jarumnya?" Luka terus berjalan di tengah kabut.
"huh, aku benci pilihan! Biru, ungu atau kuning? Ungu aja deh!" Luka menekan tombol ungu dan keluarlah paku dan jarum ke arah kepala Luka. Luka menangkis dengan sodetnya.
"kyah!" paku dan jarum menancap di sodet kayu.
"wow! Aku jago juga ya! Senangnya!" Luka memegang pipinya dan memutar-mutarkan badanya layaknya ballerina.
"aku harus mencari Gakupo!" Luka berlari dan kabutnya pun lenyap.
"Gakupo! Kamu dimana? Kita pulang yuk!" Luka terus berjalan dan mencari Gakupo.
"aku punya terong! Pulang yuk!" Luka berteriak-teriak layaknya anak yang kecil yang mengajak bermain tetangganya.
(miamato : sebenarnya Luka umur berapa sih? Ya, setidaknya ga se-baka Len / ditabok fangirl Len)
"Gakupo!" Luka berlari ke arah Gakupo yang sedang berdiri di sebuah tempat yang aneh.
"sedang apa kamu disini?" Gakupo yang tadinya berpaling langsung menatap Luka.
"kamu bukan Gakupo!" Luka menatap wajah Gakupo yang rata.
"ya, aku memang bukan Gakupo! Hahaha! Ayo bermain bersamaku!" Gakupo mendekati Luka.
"tidak aku tidak mau! Kamu bukan Gakupo-kun!" Luka mundur beberapa langkah.
"ayo bermain bersamaku!" Gakupo semakin mendekat ke arah Luka.
"aku tidak suka denganmu! Dimana Gakupo dan teman –temanku yang lainya?" Luka mundur beberapa langkah dan mendekati jurang.
"temanmu! Ha! Miku, Rin dan Len sedang tersesat dalam labirin! Ada pesan-pesan terakhir?" Luka semaik dekat dengan jurang.
"bunuh saja aku!" Luka melirik ke dalam jurang dan mendapat ide.
"kamu tak takut mati ya? Luka Mergurine!" Gakupo palsu menyerang kearah kaki Luka dan menyebabkan ia loncat ke dalam jurang.
"hahaha! Kamu akan mati!" Gakupo mengeluarkan senyum psikopat.
"AAAA!" Luka pura-pura berteriak histeris.
"rasakan itu! Hahaha!" Gakupo palsu langsung pergi dan menghilang.
"aku harus meraih ranting itu, mengayun 20 derajat ke arah kanan dan masuk ke dalam gua itu!" Luka meraih sebuah ranting tapi sayang rantingnya patah.
"patah?! Apa yang harus ku lakukan?! AAAAAAAAAA!" Luka menutup matanya dan merasa semakin dekat dengan daratan.
"*syak!*" Luka terjatuh dan menatap sekitarnya.
"uh, ini gua? Tadi bajuku nyangkut di ranting dan masuk kesini? BAJUKU?!" Luka menatap bajunya yang robek.
"yah robek, yaudah deh! Tak apa. Ujung gua ini dimana ya? Ah itu ada jalan!" Luka berlari menyusuri jalan itu.
"uh, aku lapar, haus dan lelah! Huh…huh…"Luka berjalan dengan sangat lelah.
"lalala! Semoga lorong gua ini ada ujungnya! Fufufu!" Luka berusaha membuat dirinya tidak lelah.
"*greb!*" Luka menginjak sebuah batu.
"*Sut! Sut! Sut!*" banyak panah yang datang ke arah Luka.
"AAA! *bruk!*" Luka terjatuh dan banyak panah yang hampir mengenai dirinya.
"panah ini dapat membuatku kalah dari game ini! AKU TIDAK AKAN MENYERAH!" Luka berlari menjauhi panah-panah itu.
"dimana ujung lorong ini? Dimana? Dimana? Itu ada pintu!" Luka segera membuka pintu itu.
"roller coaster?!" Luka melihat sebuah roller coaster yang ujung dari lintasanya tak terlihat.
"tidak ada pengendalinya? Mungkin saja permainan ini dapat membantuku untuk keluar dari wahana ini." Untung saja Luka mempunyai nyali yang cukup kuat, ia segera duduk di tempat duduk yang paling depan.
"akan ku selesaikan permainan ini! Liat saja nanti! Semangat!" Luka memegang erat pegangan kursi roller coaster.
"1…2…3… selamat menikmati!" terdengar suara dari radio.
"lebih baik aku tutup mata!" luka memejamkan matanya.
"aku adalah anak gembala selalu~" suara riang anak-anak bernyanyi terdengar.
"suara apa itu?! Hah?! Bonekanya ga punya muka?!" Luka kembali ketakutan.
"AAAAAAAAAAAA! EOOOO! AAAAAAAAA!" kereta menuruni turunan dan tikungan yang tajam.
"jalur keretanya putus! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriakan luka makin keras.
'huhuhu, selamat tinggal dunia! Aku mencintai kalian semua!' kereta semakin dekat dengan ujung rel.
"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! Inilah akhir hidupku eh akhir permainan ini." Luka mengelap air matanya menggunakan sodet bekas yang kena paku(?).
"sodet?! JURUS SODET SO…SSO….SODET!" Luka menaruh sodet di tengah roda yang bergulir dengan sangat cepat.
"cittttt! *prak!*" sodet yang tergiles roda hancur , kereta roda tetap berputar.
"HUA!"
.
.
.
Di labirin…
"ya ampun, jalan buntu lagi! Kita sudah menemukan jalan buntu sebanyak 7 kali!" Miku mulai sebal dengan nasibnya.
"sabar sedikit, jangan mengeluh!" Rin menatap jalan buntu itu.
"sepertinya ini bukan jalan buntu biasa." Len mengamati sisi tembok buntu itu.
"kita harus mencari cara agar kita bisa melawati jalan buntu ini. Ayo kita cari!" Rin meraba-raba permukaan tembok.
"aku cape, kalian saja yang mencarinya." Miku duduk di sebuah batu besar dan tembok itu tergeser.
"Miku?" rin dan len menatap miku.
"apa? Lanjutkan perjalanan kita!" Miku jalan di depan Rin dan Len.
"Miku tunggu! TIDAK!" Rin menghentikan langkah Miku.
"ada apa?" Miku menengok kebelakang.
"itu ada benang penjegal, itu tidak kelihatan jika dengan kasap mata, coba kamu perhatikan!" Miku menatap kakinya.
"ah, iya makasih!" Miku melanjutkan langkah kakinya.
"Ti…dak!" Rin menatap Miku yang menginjak benangnya.
"Baka negi!" omel Len.
"sekarang apa yang terjadi?" Len bertanya dan di bawah kaki mereka terbitlah lubang besar.
"AAAAAA!"
"wiiiii!"
"what ever!"
"*bruk!* tempat apa ini?" Len terlebih dahulu sampai di dalam sebuah bola penjara.
"*bruk!* kok empuk ya? Ga sakit!" Rin menatap sekitarnya.
"*plung(?)* yippi! Rin, Len kalian dimana?" Miku celingak-celinguk.
"DIBAWAH SINI!" teriak Rin dan Len serempak.
"O." miku menatap kedua bocah berambut kuning.
"Miku, menyingkirlah!" Rin menyuruh Miku pergi dari atas punggungnya.
"ga mau!" Miku tetap duduk di atas Len dan Rin.
"MIKU, DI SANA ADA KERETA NEGI !" Len menunjuk ke arah sebuah tikus yang membawa negi.
"hah apa?" Miku menyingkir dari atas Rin dan Len.
"TAPI BOONG!" kata Len dan Rin serempak.
.
.
.
Di rollercoaster
"what de…" Luka sudah pasrah saja dengan keadaannya.
"ayo Luka kamu pasti bisa!"
"Luka cari ide yang bagus seperti saat Nee-chan memasak!"
"iya nee-chan, semangat ya!"
"Ikan?! Ikan?! Ikan?!"
"ganbatte! Kita akan bersama-sama lagi kan?"
Suara teman-temannya terbayang-bayang di kepalanya.
"ya, aku…. Pas…ti… bisa!" Luka memasang sebuah ikatan tali di kepalanya.
Rollercoaster telah berada di ujung tanduk dan menjemput kematian.
"itu ada tali!" Luka berusaha menggapai tali yang menjulur ke arah Luka.
"yup dapat!" Luka bergelantungan di tali itu.
"*bruk bruk grek!*" roller coaster jatuh ke dalam lubang hitam.
"Ok, sekarang apa yang harus aku lakukan?" Luka bergelantungan di tali.
"TOLONG!" teriakan Luka membuat atap gua menjadi rapuh.
"baiklah aku tau semua ini akan terjadi! AAAAAAAAAAAAAAA!" talinya putus dan Luka jatuh ke dalam lubang.
.
.
.
Nasibnya luka gimana tuh? Selamatkah dia dari bahaya? Kalah atau pingsan?
Trus si raja terong kemana ya?
Akankah mereka semua selamat? Dari yang baka sampe yang idiot?/sama aja _-_
Itu masih rahasia lalala~
Tunggu chapter selanjutnya!
Masih ada sambunganya, kok! Jadi tenang aja!
Terima kasih telah membaca fic Mia dan Mato..
Jangan lupa review ya~~~~
Jangan lupa baca fic kami yang lainya, mulai dari yang romace, angst sampe humor!
Chapter selanjutnya akan lebih humor dari ini!
R
E
V
I
E
W
Please
!
