INGAT! Vocaloid bukan milik author mia dan mato.
Fic ini karya Mia Mato!
Warning TYPO
!
50%typo30%seru20%enak(?)
Selamat membaca!
.
.
.
Akhirnya, Miku, Rin, Len, Luka, Gakupo, dan Kaito berhasil berkumpul bersama lagi. Akan tetapi, mereka belum berhasil menemukan jalan keluar. Akankah mereka berhasil menemukan cara untuk kembali ke dunia nyata?
Len mulai meneteskan keringat karena ia berjalan bermil-mil sambil menggendong Rin dan belum menemukan petunjuk untuk pulang. "Kaito, bagaimana jika kita tidak dapat menemukan jalan keluar?" tanya Len ke Kaito yang sama-sama membawa beban di punggungya.
"Entahlah, tapi aku yakin kita dapat menemukan jalan keluar!" ujar Kaito meyakinkan Len. "Itu lihat di sana ada sesuatu!" Kaito bergegas berlari mendekati cahaya jauh disana.
"Apa itu fatamorgana?" pikir Len sekenanya dalam benaknya. Len menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
"Oh puja kulit kerang ajaib! Tolonglah aku, apa yang harus ku lakukan wahai kulit kerang ajaib yang telah tiada?" Tanya Len yang masih memikirkan kulit kerang ajaibnya.
"Kau pikir benda itu akan menyelamatkan kita? Benda itu pun telah hilang, labirin ini tak ada ujungnya. Jadi bagaimana?" tanya Gakupo yang tiba-tiba saja ikutan berbincang-bincang. "Bagaimana caranya kita keluar dari dunia yang aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya?" tanya Gakupo memojokan Len, Len terdiam, ia menghentikan langkahnya.
"Tentu saja bisa, pasti bisa! Kita bisa keluar ada atau pun tanpa benda itu!" teriak len mengepalkan tangannya dengan semangat kulit kerang ajaibnya.
(Author : Yosss… Len semangat kulit kerang ajaib! Apakah dengan semangat, jalan keluar dapat ditemukan?!)
"Btw, Gakupo…" Len melirik Gakupo yang berjalan tepat di sebelahnya.
Gakupo menatap Len, yang terlihat seperti akan berbicara serius. "Yah, kenapa Len?"
"Kenapa Luka diseret olehmu?" Len memiringkan kepalanya, menatap Luka yang masih terpejam. Gakupo menyeret kerah baju bagian belakang Luka. Kepala Luka sedikit menunduk, tangannya terkapar tak bergerak.
"Uh…Oh… kalau soal ini sih… hmmm… eheh" Gakupo hanya garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali sambil senyam-senyum sendiri. Len memandang Gakupo dengan curiga.
.
.
.
Sayangnya, Kaito tersandung sesuatu, Miku pun yang di gendong terhempas ke depan. Miku jatuh tengkurap, ia berusaha bangkit untuk duduk. Kedua telapak tangannya di jadikan tumpuannya.
"Kaito, ada apa ini? Kepalaku sakit sekali!" Miku mengelus-ngelus kepalanya.
Miku merapihkan rambutnya yang berantakan. "Bisakah kau sedikit lebih tenang?" Perempuan berambut twintails memasang mimik wajah degan sedikit cemberut.
Tiba-tiba sesosok berkostum mirip shinigami menerjang Miku dari belakang. "Miku awas!" Kaito segera menarik tangan kanan Miku ke arahnya. Miku yang masih di pelukan Kaito hanya bisa terdiam tanpa kata. (Mato: ehm)
(Author : Kaito modus nih!?)
"Makhluk apa itu? Apa itu benar-benar shinigami?" tanya Kaito ke Miku yang masih terpaku.
Kaito menghela nafas. "Jika aku membunuh monster itu kita bisa keluar dari dunia ini, yup hanya ini satu-satunya cara!" Kaito bangkit berdiri, ia mempersiapkan dirinya untuk menyerang makhluk yang tak napak itu. Mungkin saja makhluk itu yang dikategorikan 'boss' dalam sebuah game untuk menamatkan permainan.
Kaito melirik Miku yang belum sanggup bertindak. "Miku, ku mohon tunggu sebentar, aku akan mengalahkannya dan kita akan pulang!" Kaito mulai berlari ke arah monster.
"KYAHH!" Kaito meninju shinigami itu berulang-ulang, sayangnya monster itu selalu menghindar. Monster itu belum juga melakukan perlawanan. "Aku akan mengalahkanmu!" Kaito mempercepat langkah kakinya. Ia memusatkan tinjunya tepat di daerah jantung makhluk berambut putih panjang itu.
(Mato: Chotto! Makhluk yang melayang itu memangnya punya Jantung?)
Monster itu menggunakan semacam tongkat sihir yang memiliki tiga permata sebagai senjatanya. Terdapat tiga warna yaitu merah, jingga dan biru. Tak terduga oleh Kaito, tongkatnya mencengkram leher Kaito, tubuh kaito terangkat beberapa meter.
Kaito berusaha melepaskan diri dari tongkat aneh. "Lepaskan aku!" ia memegang tongkatnya dan berusaha merenggangkan cengkraman. Ternyata tongkat itu bisa di jadikan perpanjangan tangan atau sebagai tangan ketiga shinigami.
Miku yang masih melongo hanya terdiam. "Aku ini apa? Apa yang harus aku lakukan? Dia yang dari tadi sang penakut di kuburan sekarang menjadi pemberani yang melindungiku. Dia temanku…"
.
.
.
"Tadi ada yang hendak menyerang kepalaku, aku merunduk dan benda tumpul itu tepat mengenai kening Luka yang tengah ku gendong. Aku tidak berani menggangunya yang masih tertidur, jadi aku pun menyeretnya." Gakupo bercerita dengan senyuman aneh, Len menatap Gakupo dengan tatapan horor.
"Saat dia bangun, kau akan di… *glek*" Len mengalihkan pandangan, sedangkan Gakupo langsung murung. Membayangkannya saja sudah membuat Gakupo jadi murung tak terhingga.
"Akankah hal itu terjadi padaku, Len…" Sekeliling mata Gakupo tiba-tiba menjadi hitam pekat.
"Ah… Gakupo tidak harus di pikirkan sampai segitunya, aku akan membantumu." Len berusaha menenangkan Gakupo yang masih di hantui aura-aura gelap.
"Dapatkah dia memaafkanku…?"
"Mungkin saja bisa, cemangat!"
.
.
.
"CEPAT LEPASKAN AKU!" teriak Kaito berusaha meloloskan diri.
"Lepaskan? Mana bisa aku melepaskanmu! Kau penghalang kami!" Suara sesosok perempuan yang tiba-tiba terdengar dari langit.
"Siapa kau? Kaukah yang membuat game ini? Kau pecundang, beraninya… beraninya kau menghadapi kami di dunia macam ini!" teriak Kaito sambil menatap lingkungan yang mulai bertambah gelap.
"Semakin banyak kau bicara, kau akan bertambah sesak. Perlahan satu persatu dari kalian akan mati. Kau yang pertama, Kaito-kun!" Cengkraman di leher Kaito semakin kuat.
"ARGH!" Kaito mulai kehabisan nafas. Ia meringis seraya berusaha melepaskan cengkraman. Wajahnya semakin pucat. Tapi, semua usaha yang ia lakukan tidak dapat berjalan dengan baik.
"BUAK!" Miku memukul tongkat permata dengan negi raksasa. Permata merah yang tadinya bersinar kehilangan cahayanya dan hancur berkeping-keping bagaikan serbuk bunga.
Cengkraman di leher Kaito menghilang, ia pun terjatuh. Kaito terbatuk-batuk seraya memegangi lehernya masih memerah.
"Miku, apa yang kau lakukan? Tunggu saja di sana!" teriak Kaito yang kondisi tubuhnya masih sangat lemah. Miku berdiri lima meter di depan Kaito. Ia berdiri dengan gagah, tampak tidak ada rasa takut sedikit pun di hati Miku.
"Kau pikir… kau pikir aku akan berdiam diri saja di belakangmu?" Miku mengehela nafas. "Kita yang akan melawannya!" Miku dengan semangat yang membara melawan monster tidak jelas itu.
Kaito bangkit berdiri, mempersiapkan ancang-ancang untuk menyerang.
"Miku, aku akan jadi umpan. Saat terbuka peluang, kau harus menyerangnya dengan negimu!" tatapan Kaito yang pantang menyerah membuat Miku menjadi lebih bersemangat dari sebelumnya.
Miku tersenyum senang, ia yakin dirinya dan Kaito dapat melakukan perlawanan yang sangat hebat. Mereka dapat mengalahkan monster aneh.
.
.
.
"Urgh… aku dimana?" ucap Luka yang tiba-tiba saja bangun. Ia memerhatikan sekelilingnya dengan seksama.
"Sudah bangun ya?" Len menatap Luka yang baru saja bangun. Gakupo melepaskan kerah Luka yang tadinya di genggam.
Luka mengusap-usap matanya, ia melihat wajah Gakupo, Rin yang tidur dan juga Len.
"Hey, apa kau sudah baikan?" tanya Len menatap Luka yang masih celingukan.
"Kita belum pulang? Kita masih terjebak di dunia game baka ini?! Ouhh… Tidak!" Luka teriak-teriak tidak jelas. Tadinya ia berfikir saat ia bangun nanti dunia akan kembali seperti semula. Kenyataannya Bakaloid Game bukan sekedar mimpi biasa, ini dunia game sungguhan.
"Heh, ada apa ribut-ribut?" tanya Rin seraya turun dari punggung Len. Dunia yang masih sama seperti sebelumnya. Dunia yang tak akan lenyap dengan sendirinya.
Rin, Len, Gakupo dan Luka melanjutkan perjalanan. Diluar dugaan, perlahan sekeliling mereka berubah, menjadi sangat berbeda dari sebelumnya. Labirinnya menghilang.
"Hah… huh… hah…" nafas Len terengah-engah dan tidak beraturan, ia terlihat sangat kelelahan.
Rin yang berdiri di belakang Len hanya bisa terdiam, memang ia belum makan dan telah berjalan bermil-mil jauhnya, belum lagi baru saja ia menggendong Rin.
Rin mengetahui bahwa setiap manusia pasti ada batasannya. Len pasti sudah melebihi kemampuannya. "Engh… Len…" Rin hendak berbicara tapi, di potong oleh Len.
"Teman-teman, ini hanya firasatku saja kan…?" pikir Len seraya memeluk dirinya sendiri. Udara semakin dingin. Tak di duga, salju hitam datang.
Rin berjalan maju beberapa langkah. Ia memandang langit yang tampak seperti berduka.
Rin mengadahkan tangannya. Salju hitam pun menerpa tangannya. Ia memikirkan salju sewajarnya putih bukan hitam. Lalu, mengapa di dunia game ini saljunya berbeda. Sebenarnya apa yang dipikirkan pembuat game ini. Apa yang membuat mereka memerangkap kami dalam gamenya. Apa ia ingin berbagi kepedihannya atau ia hanya berusaha mencari teman.
Rin mengenggam salju itu. Saljunya mencair. "Len, menurutmu mengapa saljunya berwarna hitam?",Rin menutup matanya ia berusaha merasakan apa yang tengah dirasakan sang pembuat game.
"Len…" Rin menengok ke belakang. Ia membelalakan matanya. "Len, Len, Len… Teman-teman…" Rin memeluk Len yang sedang membeku. Ia menangis seraya memikirkan cara untuk mengeluarkan Len dari dinginnya es.
Ia mengusap tangan Len yang tak kunjung mencair. "Aku tak mungkin meninggalkan kalian teman-teman." Rin menatap Luka dan Gakupo yang membeku seperti sedang berpelukan. Sedangkan Len, membeku tangan kanannya seperti menunjuk sesuatu.
Rin memerhatikan apa yang sedang ditunjuk Len. Sebuah gua memancarkan cahaya berwarna biru. Rin yang penasaran segera menghampiri gua itu.
Tanpa pikir panjang, Rin hendak memasuki gua. Tapi, sayang tangannya di tarik seseorang yang membuat tertarik keluar, sedangkan seseorang yang menarik jatuh ke dalam gua.
.
.
.
Kaito dan Miku menyerang si makhluk terbang yang aneh dengan kekuatan penuh. Berkali-kali mereka melakukan serangan tak ada satupun yang membuat dua permata lainnya hancur.
"Miku, aku akan menjadi umpan. Di saat yang tepat, serang dia dengan negimu. Aku yakin ia pasti punya kelemahan. Ini kan hanya dunia game." Kaito memandang Miku yang tampak kelelahan.
Miku membantah, ia mengatakan bahwa Kaito bisa saja terbunuh saat menjadi mangsa. Miku melarang Kaito untuk melakukan hal yang beresiko. Kaito membalasnya dengan memegang tangan Miku dengan lembut.
"Ku mohon Miku, percayalah padaku." Kaito melepaskan genggamannya. Ia berlari hendak menyerang makhluk tanpa kaki dengan penuh semangat.
Pertarungan yang sengit. Berkali-kali Kaito berusaha merebut tongkat sang makhluk yang tak kunjung berhasil. Makhluk berparas menakutkan selalu menghindar karena ia tidak memiliki kaki dan bisa melayang-layang dengan bebasnya.
"KYAHHHH!" Kaito melayangkan tinjunya. Sang makhluk menahannya dengan tongkat. Tak terduga, batu permata birunya pecah. Si mahluk aneh kehilangan kemampuan untuk terbangnya.
Tiba-tiba saja, sekeliling mereka berubah menjadi penuh kawah yang mengeluarkan lahar panas. Kaito yang memerhatikan sekelilingnya tanpa sadar terkena tusukan di bagian perut.
"K-Kaito…." Seru Miku mendekati Kaito yang sudah terkapar tak berdaya. Amarah Miku seketika bangkit. Ia menggunakan Neginya untuk menyerang. Miku memukul bertubi-tubi, sang makhluk selalu saja dengan mudahnya menghindar. Padahal, kemampuan terbangnya sudah menghilang.
Sang makhluk melancarkan serangan balasan. Ia tak mau menjadi sasaran pukulan negi terus menerus. Tongkatnya beradu dengan negi milik Miku. Karena, kekuatan yang tidak seimbang membuat negi patah. Pukulan tongkat mengenai perutnya dengan telak.
Walaupun tidak sesakit di dunia nyata, tetap saja ini sukses membuat nafas Miku jadi tidak beraturan. Ia kembali bangkit, sesekali melirik Kaito yang tidak jauh darinya.
Mau tidak mau, Miku menyerang tidak menggunakan senjata. "Wah wah wah, hebat sekali kau gadis berambut twintails, nyalimu kuat juga!" ujar sesosok yang hanya dapat terdengar suaranya.
"DIAM KAU, PENGECUT!" teriak Miku kepada suara yang diduga sebagai Game Master. Kaito masih lemas dan hanya dapat memperhatikan Miku yang cukup jauh darinya. Pertarungan tadi membuat staminya banyak terkuras. "Maafkan aku Miku, tidak bisa membantumu." Pikir Kaito merasa tidak enak hati dengan Miku
"Sudahlah, menyerah saja! Asal kalian tau saja, jika kalian mati disini, kalian tidak akan kembali ke dunia nyata, kalian akan kembali ke dunia nyata hmm… sekitar 57 tahun kedepan dan game ini tidak akan pernah tamat hahaha." Tawa sang Game Master (GM) membuat nyali Miku dan Kaito menciut.
Miku memikirkan lagi perkataan GM, "jadi aku akan kembali ke dunia nyata saat aku sudah menjadi seorang nenek-nenek. Hah, yang benar saja!" gerutu Miku dalam pikirannya.
Terlintas ide gila dalam benaknya. Miku bersiap dengan kuda-kudanya. Ia siap menyerang kapan saja. Sang makhluk menyerang Miku dengan ujung tongkat sebagai tombaknya. Miku dengan cepat menggenggam tongkatnya dan melemparnya ke dalam kawah yang tepat di sebelahnya.
Sang makhluk berusaha menahan serangan Miku. Usahanya gagal, tongkatnya terlempar ke dalam kawah. Kini keduanya sama-sama bertarung tanpa senjata.
Sudah ia duga pasti tongkat itu senjata andalan sang makhluk. Kaito yang memperhatikan mereka merasa kekuatan Miku hebat juga bahkan lebih hebat darinya.
Kaito melihat keseriusan sang makhluk yang sibuk menyerang Miku. Ia pasti tidak akan menyadari kehadirannya. Kaito berlari menyerang dari sisi kiri sang makhluk, mendorongnya hingga makhluk yang ukurannya cukup besar terdorong ke dalam kawah lahar panas.
Tak terduga, sang makhluk memegang tangan Kaito yang membuatnya ikut masuk ke dalam lahar. "KAITO!" teriak Miku melihat Kaito yang sudah menghilang menjadi pecahan-pecahan grafis.
Air matanya sudah tidak dapat terbendung, air bening mengalir begitu saja di pipinya. Ia tidak menduga rasa kehilangan sangat menyakitkan. Miku duduk di pinggir kawah, bingung hendak melakukan apa. Musuh sudah menghilang, sebentar lagi ia pasti akan kembali ke dunia nyata.
Benar saja, dibawah tepat Miku berpijak terdapat lubang yang cukup terperosok dalam lubang itu. Perlahan dirinya menghilang briringan dengan lubang yang menutup.
.
.
.
"Miku, akhirnya kamu sadar juga." Ujar Rin melihat Miku yang baru saja membuka matanya. Miku mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. "Dimana Kaito?"
Rin menunjuk seseorang yang duduk di sofa depan Tv. Miku yang melihatnya, langsung menghambur pelukan ke Kaito. Ia terisak di pelukan Kaito. Rin, Len dan kawan-kawan hanya bisa melongo saja melihat tingkah Miku.
"A-aku sangat merindukanmu, ku pikir kita akan bertemu 57 tahun lagi. Hiks." Ucap Miku yang kini duduk di pangkuan Kaito.
"Oh, itu karena berkat teman-teman kita." Kaito dan Miku mengedarkan pandangan ke Meiko, Rin, Len, Gakupo dan Luka. "Bagaimana Kaito bisa-" tanya Miku yang masih bingung dengan situasinya sekarang.
Rin memotong perkataan Miku dan mulai menjelaskan. "Jadi Meiko datang ke rumah, lalu melihat kalian semua di game ini. Ia berhasil memegang kendali atas Len, melepaskannya dari fase beku. Lalu…"
.
.
.
"Len-kun, kenapa kau membiarkan dirimu terperangkan di dalam sana? Padahal aku yang ceroboh." Ucap Rin kepada seseorang yang baru menariknya keluar.
Len yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, lagi pula aku akan 'bersenang-senang'!" Senyuman lebar menghiasi wajah Len.
"Ya, sekalian aku mau bilang terima kasih." Lanjutnya.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Rin dengan bingung.
"Untuk mengkhawatirkanku, lihat dirimu sekarang wajahmu pucat hahaha." Ujar Len padahal dirinya sendiri dan Rin terpisah oleh dinding tipis transparan berwarna ungu gelap.
Tiba-tiba saja datang ular raksasa yang panjangnya mencapai belasan meter. "Len, bagaimana cara kita melawan monster itu?" tanya Rin menunjuk ular yang datang dari dalam gua.
"Eh, gimana ya? Sebentar, Kulit kerang aja-" kalimat Len terhenti saat Rin memukul-mukul dinding ungu. "Lupakan itu, pikir cara yang lebih logis!" teriak Rin seraya memegang pelipisnya, berusaha mencari ide.
Len mengangguk. "Ada satu cara, aku hanya perlu menghack sistem di stage ini, dengan begitu semua sistem akan rusak layaknya virus." Ujar Len dengan melompat ke kanan dan ke kiri sebisanya menghindari serangan ular yang terus berusaha menyerang menggunakan ekor.
"Ide bagus, bagaimana cara menghacknya? Dirimu kan bukan hacker?" tanya Rin membuat Len berusaha memutar otak. Len menemukan ititik terang, di bagian kepala ada bagian yang warnanya tampak lebih pudar di banding corak tubuh ular lainnya.
Kini Len tidak menghindari serangan, ia loncat menaiki ekor ular dan berlari menuju kepala. Seringai aneh terbentuk di wajahnya. "TERIMA INI!" Len melancarkan pukulannya hingga memecahkan kaca di corak yang lebih pudar. Muncul layar hologram beserta angka-angka dari bahasa pemprograman.
Len mengatur ulang bahasa dan memasukan berbagai code yang tidak mudah di mengerti bagi orang awam. Bingo! ular dikendalian olehnya. "Rin menjauh dari dinding!" teriak Len, Rin yang mendengarnya segera mundur beberapa langkah.
Kepala ular menabrak dinding, yang membuat dinding ungun hancur berkeping-keping. Len segera merundukan ular, mengulurkan tangannya ke arah Rin. Ia menyambut uluran tangan Len dan langsung di tarik ke atas ke arah kepala ular. Kedua anak kembar itu duduk di atas kepala ular. Sebuah kata yang terngiang-ngiang di benaknya, 'bersenang-senang' jadi ini kah yang di maksudnya.
Ular mendatangi Luka dan Gakupo yang masih membeku. Len kembali mengutak-atik layar hologram yang berada di depannya. Mulut ular mengeluarkan cahaya biru mengarah ke Luka dan Gakupo. Esnya mencair, mereka melepaskan pelukan.
"Apa kalian baik-baik saja? Cepat naik!" pinta Len. Len dan Rin membantu Gakupo serta Luka untuk naik, duduk di belakang mereka.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Gakupo yang belum memahami situasi. "I-INI ULAR?" Gakupo melihat sisik ular dan tubuh ular yang cukup panjang dan besar. "*glek*"
Len yang mendengarnya segera berbalik, menepuk pundak Gakupo. "Sudah jinak, sekarang lebih baik berpegang dengan erat, karena kita akan menembus langit." Ujar Len dengan santainya.
"Apa yang di maksud dengan MENEMBUS LANGIT?!" tanya Luka segera berpegangan dengan erat karena ular menambah kecepatan dan bergerak berlawan dengan gravitasi bumi.
Sebuah portal lingkaran biru terbentuk di antara awan hitam yang menurunkan salju. Mereka berada tepat di depan portal. "Ehm, jadi sekarang kita harus loncat!" teriak Len dengan penuh semangat. Ia meminta semua untuk saling bergandengan tangan.
"Apa ini akan membawa kita pulang ke rumah?" tanya Rin menatap wajah Len yang sama sekali tidak tegang. Sedangkan Rin, ia harus menahan getaran hebat dalam dirinya. Ia amat takut dan tegang.
Len mengangguk. "Peluangnya di bawah 20% mengingat aku tidak begitu mengerti bahasa pemprogaman!" teriak Len dengan BANGGAnya.
Semua menatap Len dengan panik. "Len benar-benar gila." gumam Luka memandang pria yang berdiri di sebelah Rin. Len mempererat kaitan jari-jemarinya dengan Rin.
"KITA BERANGKAT, YAHUUU!" teriak Len melompat ke dalam lingkaran. Rin, Gakupo dan Luka tertarik ke dalamnya. Mereka terlihat pasrah menanggapi Len. Berharap dewa akan segera menyelamatkan mereka.
"PUJA KULIT KERANG AJAIB!"
.
.
.
"Ya, jadi begitulah. Kita bisa selamat, walaupun dengan modal nekat." Lanjut Rin menamatkan ceritanya, sambil melirik Len yang memalingkan wajahnya dan bersiul-siul kecil.
Miku menghela nafas, ia duduk di samping Kaito. "Dimana game itu sekarang?" tanya Miku membuat Len membuka mulutnya sambil menggaruk-garu kepalanya entah gatal atau tidak. "Oh itu, sudah ku musnahkan."
"Siapa Game Master sebenarnya?" tanya Kaito mengingat suara yang di dengarnya.
"Saat aku menghack dan melihat cover dari game ini, tidak tertera siapa GM. Jadi, ku simpulkan ini game tidak resmi." Ujar Len menjelaskan.
"Lalu, suara perempuan yang terdengar itu tadi apa?"
Hening.
"Oh ya, JRENG JRENG TARA, lihat aku berhasil mengeluarkan 'ini' dari game!" seru Len dengan bangganya, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Ia mengeluarkan kulit kerang ajaib dari balik tubuhnya.
"Apa mungkin benda itu akan menunjukan siapa dalang di balik game ini?" tanya Kaito seraya menatap benda aneh sekaligus 'unik' yang di pegang Len.
Len sedikit mengangkat bahunya. "Entahlah, mungkin ini adalah petunjuk."
Len menarik talinya. "SELAMAT TELAH BERHASIL MENAMATKAN BAKALOID GAME! KULIT KERANG AJAIB INILAH YANG MENJADI HADIAHNYA! DALAM TIGA DETIK, BENDA INI AKAN MELEDAK!" ujar sang kulit kerang ajaib.
Semua orang yang mendengarnya panik. Mereka mengambil ancang-ancang untuk pergi. Miku dan Kaito berlari ke arah pintu keluar dengan –ehm bergandengan tangan, Rin berlari menjauhi benda ke arah dapur begitu pula dengan Luka dan Gakupo, sedangkan Len yang memegang benda sekaligus 'bom' yang tadinya di duga sebagai petunjuk di lemparkannya ke langit-langit ruangan.
3
2
1
HAHAHA DASAR BAKA! BAKA! BAKA! *BOOM*
"HEY, KENAPA JADI BEGINI SIH?!" ujar Rin di iringi dengan kepulan asap memenuhi ruangan.
.
.
.
THE END
Yah, jadi beginilah endingnya. Gimana puas dengan ending? Ada kesan dan pesan? Maaf updatenya lama fu fu fu.
Author MiaMato mengucapkan TERIMA KASIH BANYAK atas segala review, follow, fav, dukungan dan semua yang telah bersedia mampir ke fict kami. Jangan segang-segan untuk mereview ya!
Review! Review! Segala kritik, saran, dan masukan sangat kami hargai.
Arigatou
-Miamato-
