Disclaimer : Naruto punya Masashi Kisihimoto
Pair : NaruSaku Forever
Genre : Romance, Adventure, Fantasy, dll.
Warning : AU, OOC, Typo, Ide pasaran, DLDR, dsb.
Summary : Naruto, seorang pencuri ulung buronan kerajaan, terpaksa harus mengantar seorang gadis karena kesepakatan. Siapa sangka, ternyata gadis itu memiliki kekuatan aneh yang diburu banyak orang./NaruSaku/DLDR
Happy Reading ^^
.
.
.
Previous Chapter : Wajah Sakura berbinar-binar. Senyumnya melebar. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"/ "Kesepakatan?"/ "Ya! Aku akan mengembalikan tasmu setelah kau mau mengantarku untuk melihat festival kembang api lalu pulang kesini dengan selamat, bagaimana?"/ "Baiklah... karena kita sekarang melakukan kesepatakan, perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto..."/ "Namaku Sakura." Balas Sakura dengan senyum manis.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
Matahari sudah semakin meninggi. Saat ini posisinya sudah tegak lurus dengan kepala. Berkali-kali sosok itu mengelap peluh yang mengalir di keningnya karena suhu udara yang tak mendukung. "Panas sekali..." Keluh gadis cantik berambut pink panjang, Sakura.
"Kau tidak perlu mengatakan hal yang sudah pasti, Sakura..." Timpal malas seorang pemuda tampan berambut pirang jabrik, sang pencuri buron, Naruto.
Tak dipedulikanya perkataan Naruto. Sakura menarik sebuah kantung air kecil dari balik jubah yang dipakainya. Ketika ingin meneguk air didalamnya, ia berdecak sebal saat menyadari air didalamnya ternyata sudah habis. "Haahh... Kenapa harus habis sih?" Ia menoleh kearah Naruto yang tampak tak terpengaruh dengan cuaca ini.
"Hei, kau! Carikan aku air!" Perintah si gadis kepada Naruto dengan nada membentak layaknya majikan terhadap pembantunya.
Tuingg
Perempatan siku muncul di dahi Naruto. "Jangan bercanda! Aku sudah rela membawakan tasmu yang berat ini dan sekarang kau menyuruhku mencarikan air?! Biar kuingatkan! Kesepakatan kita adalah aku hanya akan mengantarmu ke festival sampai pulang ke rumahmu dengan selamat. Bukanya malah menjadi pesuruhmu, TUAN PUTRI!" Sindir Naruto dengan penuh penekanan pada kata 'tuan putri'.
Sakura menghela napas panjang dan mendudukan dirinya dibawah naungan sebuah pohon berdaun lebat. "Aku lelah... Bisakah kita istirahat dulu?"
Dengusan pelan dari Naruto terdengar cukup jelas. "Kita kan baru berjalan dua jam dari rumahmu? Dan kau sudah merasa lelah?" Tanya pemuda itu tak percaya.
Sakura berdecak lalu melepas jubahnya dan meletakanya disebelah tempat duduknya. "Aku tidak biasa berjalan jauh, jadi wajar jika aku lelah, baka!"
"Terserah kau sajalah! Tapi jika festival kembang apinya sampai terlewat jangan salahkan aku mengerti?" Sahut Naruto dengan nada mengancam. Bukanya ikut istirahat, pemuda itu justru meletakan tas Sakura didepan tempat gadis itu duduk dan beranjak pergi.
"Hei, kau mau kemana?" Tanya Sakura bingung.
"Bukan urusanmu!"
Bibir Sakura sedikit menganga mendengar penuturan Naruto yang begitu ketus. Tak sadar dirinya ternyata menggeram. "Ghh! Kata-katanya selalu membuatku kesal!"
.
.
.
.
Kaguya memutar kunci pintu rumahnya. Ia putar berlawanan arah jarum jam hingga terdengar suara yang menandakan kuncinya sudah terbuka.
Cklek
Begitu membuka pintu, yang wanita itu rasakan hanyalah kesunyian. Dia berpikir apakah putrinya masih saja marah? Setelah meletakan barang bawaanya yang entah apa, wanita itu lekas berjalan ke lantai dua, menuju kamar sang putri lebih tepatnya.
Sebuah pintu sudah berada dihadapanya. Ia menarik napas sebanyak yang ia bisa sebelum membuangnya perlahan, mencoba menguatkan dirinya sendiri. "Sakura-chan!"
Tak ada balasan apapun.
"Sakura-chan!" Kaguya mencoba satu kali lagi memanggil namun masih tetap sama. "Ibu tahu kau masih marah pada ibu... tapi ini sudah siang dan ibu tidak melihatmu makan lagi setelah tadi malam. Jadi bisakah kau keluar dan makan?" Sebisa mungkin Kaguya membuat suaranya terdengar halus agar bisa membuat putrinya keluar sekedar untuk makan.
Tapi... Sejak tadi tak terdengar apapun dari balik pintu. Dengan sedikit perasaan was-was, Kaguya memegang kenop pintu dan memutarnya. Ternyata tidak dikunci!
"Sakura... chan?" Hening. Tidak ada seseorang pun dikamar itu kecuali Kyuubi yang mengeong dan tengah tiduran di ranjang Sakura. Ia jelajahkan pandanganya ke segala penjuru ruangan. Dari pojok kanan ke kiri, lalu bawah ke atas- eh?
Mata Kaguya menyipit guna memperjelas penglihatanya. Di pasak langit-langit kamar putrinya, tergantung sebuah tas selempang yang ia tahu bukan tas milik Sakura. Wanita itu lantas menarik meja dan kursi. Ia letakan kursi itu diatas meja agar bisa ia gunakan sebagai pijakan untuk mengambil tas tersebut.
"Tas siapa ini?" Gumamnya. Setelah meneliti tas berbahan dasar kulit itu, ia lantas merogoh ke dalam tas dan tanganya menemukan sesuatu. 'Sesuatu' itupun ditarik dan betapa terkejutnya wanita itu.
"I-inikan... Apa jangan-jangan?"
Buru-buru wanita berambut putih keabuan itu melesat pergi meninggalkan rumah. Ia berkeliling dan menjelajahi seluruh sudut desa Uzu yang kecil. Dari pasar, sungai, bahkan tempat dimana gadis itu sering mencari buah-buahan. Menanyakan satu persatu penduduk desa yang ia temui. Tapi hasilnya nihil...
"Err... Bibi Kaguya?" Disaat wanita itu berjalan tergesa tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, membuatnya seketika berdecak. Wanita itu menoleh dan memasang wajah tak suka melihat seorang pemuda berpakaian hijau dengan model rambut bob yang terlihat menggelikan. Rock Lee namanya.
"Oh, ternyata kau bocah berambut mangkok. Apa maumu?!"
"Ini tentang Sakura-chan-"
"-Jangan bilang kalau kau mau aku memaksa Sakura agar menerimamu menjadi kekasihnya. Sudah kukatakan berulang kali kalau aku tidak akan menyerahkan putriku padamu!" Bentak Kaguya dengan suara tinggi, membuat pemuda dihadapanya bergidik.
"I-ini bukan te-tentang itu bibi! Ini tentang kepergian Sakura-chan." Dalih pemuda berambut bob itu terbata-bata.
Mata Kaguya melotot. "Apa maksudmu?"
Masih dengan takut-takut, Lee menjawab. "Kalau bibi sedang mencari Sakura, bibi tidak akan menemukanya di dalam desa karena menurut cerita beberapa orang Sakura pergi keluar desa dengan seorang pemuda berambut pirang."
"Ke-keluar desa katamu?" Lee mengangguk dengan pasti. Di detik itu juga Kaguya berlari menuju rumahnya, berniat mengambil jubah untuk digunakan keluar desa, serta tas selempang tadi.
.
.
.
.
Sakura saat ini hanya sedang duduk dengan bosan. Sambil meracau tak jelas karena ulah Naruto yang pergi entah kemana dan sudah lebih dari satu jam. Sebuah ranting kayu ia pukul-pukulkan pelan di tanah untuk menghilangkan kebosananya.
Dan saat itulah Naruto datang, membawa tas selempang baru. Mata Sakura melotot tajam ketika pemuda itu duduk dengan santainya disebelahnya, menyandarkan tubuh dibatang pohon yang cukup besar itu dengan mata sedikit terpejam.
"Ck, kau darimana saja baka!? Kau membuatku khawatir tahu!"
Naruto sedikit tersentak. Matanya berkedip beberapa kali mendengar kalimat Sakura. "Hmm? Jadi kau mulai mengkhawatirkanku, ya?" Goda pemuda itu sambil menyeringai.
Entah pemuda itu sadar atau tidak, tapi pipi Sakura mulai dihiasi gurat-gurat merah tipis. Sakura merutuk dalam hati. Ia bukanya khawatir yang 'seperti itu'. Tapi ia hanya takut jika pemuda itu malah kabur dan tidak jadi mengantarnya.
Tapi gadis itu sudah terlanjur mengeluarkan kalimat yang pasti disalah artikan. Sakura yang malu sekaligus marah berdecih. "Siapa yang khawatir padamu?! Aku hanya khawatir jika kau tidak bisa mengantarku ke festival kembang api, itu saja!" Elak Sakura dengan nada tinggi.
"Hei, jangan galak begitu! Aku cuma bercanda." Gerutu Naruto.
"Kau ini!" Sakura melipat tanganya di dada dan membuang muka, membuat Naruto menghela napas.
"Hahh... Sudahlah, kau tidak perlu semarah itu. Daripada kau marah terus lebih baik kita lanjutkan perjalanan!" Seru Naruto.
Semangat Sakura kembali membuncah setelah mendengar penuturan pemuda yang duduk di sebelahnya. Amarahnya menguap pergi entah kemana. "Baiklah, ayo!" Pekik girang gadis yang akan berumur 20 tahun beberapa hari lagi.
Naruto tersenyum dan berdiri. Saat hendak meraih tas Sakura, tanganya tanpa diduga malah menggenggam tangan Sakura yang juga hendak meraih tasnya.
Keduanya kaget lantas menoleh dan bertemu pandang... Mata mereka bertemu... Emerald dan sapphire... Mereka tidak sadar jika mereka saling menatap dalam diam selama beberapa detik...
Entah apa yang ada dipikiran mereka kala saling menatap. Terpesona satu sama lain mungkin?
"E-eh! Go-gomen!" Akhirnya Narutolah yang pertama sadar akan keadaan mereka. Dengan gugup ia melepas genggamanya pada tangan Sakura yang entah kenapa terasa begitu halus. Wajahnya merona tipis saat tahu pemikiran itu.
Sakura yang juga sadar hanya bisa memalingkan wajahnya yang bahkan merona lebih parah dari Naruto. Mendadak suasana menjadi canggung. Jantung keduanya berdegup lebih kencang saat ini. Ah, entahlah... Mereka benar-benar gugup.
Belum selesai kegugupan mereka, sebuah suara mendadak membuat keduanya tersentak.
Kryuukk
Wajah Sakura semakin merah padam. Rona merah diwajahnya menjalar semakin menjadi-jadi bahkan sampai ketelinganya kala mendengar suara geraman perutnya yang menuntut diberi makanan. Aduh, kenapa harus disaat seperti ini?
Ia menundukan kepalanya saat sadar Naruto menoleh padanya. "Kau lapar, ya?" Tanya Naruto perhatian, meski masih terdengar sedikit nada canggung.
Sakura hanya mampu mengangguk-angguk pelan, membuat Naruto terkekeh geli.
Ugh... Jujur saja, Sakura ingin rasanya berlari sejauh mungkin sambil menjerit kemudian meledak saking malunya. Belum selesai rasa malunya karena insiden genggaman tangan, malah ia membuat dirinya terlihat bodoh didepan pemuda yang membuat jantungnya berdebar aneh. Sedikit banyak ia menyesal karena tidak makan dulu sebelum berangkat. Padahal terakhir kali ia makan adalah tadi malam dan itupun hanya sedikit karena pertengkaranya dengan ibunya semalam...
"Kalau begitu kita cari tempat makan. Setahuku disekitar sini ada yang membuka kedai makanan." Naruto berdiri dari duduknya dan kali ini ia memastikan tak menggenggam tangan siapapun saat mengangkat tas Sakura. Ia tampak mengingat-ingat. "Ah, sepertinya kearah sana!" Telunjuk Naruto mengarah ke satu direksi yang akhirnya membuat Sakura mengangguk paham lantas memakai jubah merahnya lagi.
Diperjalanan menuju kedai makanan, Naruto maupun Sakura memilih untuk berdiam diri. Rupanya mereka masih terbayang-bayang akan hal tadi.
Naruto tampak berpikir. Ia sedang membayangkan kala tanganya menggengam milik Sakura. Lalu saat keduanya bertukar pandang tadi, ia merasa... Sakura terlihat sangat cantik... Terutama iris hijau beningnya...
'Huwaa! Apa yang kau lakukan tadi Naruto!' Batin pemuda berwajah tampan itu. Ia mencengkram helaian kuningnya sendiri dengan gemas.
Tak jauh berbeda, Sakura pun berpikiran hal yang sama. Inner-nya sejak tadi menjerit-jerit tak jelas karena kejadian tadi. Gadis pink itu menggeleng-geleng, mencoba menepis bayang-bayang wajah Naruto dari otaknya. 'Baka-baka-baka! Sakura no baka! Kenapa bisa-bisanya kau terpesona oleh rubah pirang itu!' Batinya merutuki diri sendiri.
.
.
.
.
"Selamat datang!" Pelayan restoran menyambut dengan ramah didepan pintu restoran.
Dengan langkah setengah ragu, Sakura mengikuti kemana Naruto berjalan. Memasuki kedai berukuran sedang itu.
Semua mata menatap kedatangan dua orang tadi. Baik Naruto maupun Sakura hanya terdiam di tempat saat sudah memasuki restoran. Kebanyakan pelangganya... Pria berbadan besar berotot! Wajah mereka garang! Dan masing-masing dari mereka membawa senjata yang berbeda-beda! Dan yang terpenting... mereka semua makan ramen! -emm, yang terakhir itu hal normal mengingat inikan restoran ramen.
Glekk
Tiba-tiba Sakura merangkul, menempel erat pada Naruto. Pemuda itu bisa merasakan kalau Sakura bergidik. Sebenarnya Naruto tak jauh berbeda. Ia juga sedikit takut. Tapi ia yakin jika mereka tak macam-macam pasti tidak akan terkena masalah... Ya, tidak terkena masa-
"Hei! Kalian menghalangi jalanku! Cepat menyingkir dari pintu!" Teriak seseorang dibelakang mereka. Seorang pria berbadan tambun yang hendak masuk.
Kontan saja keduanya berjengit kaget. "E-eh! Ma-maaf! Si-silahkan masuk!" Ucap Naruto terbata-bata. Ia menarik Sakura menuju meja di pojok ruangan. Tapi saat berjalan
Bukk
Naruto menabrak sesosok tinggi besar. Sosok yang ditabrak mendelik kearah keduanya. "Ma-maaf! Kami tidak sengaja!" Lekas-lekas keduanya berlalu pergi menjauh. Tapi suara si pria yang ditabrak memaksa mereka menghentikan langkah. "Hei, anak muda yang berambut pirang!"
"E-eh! A-ada apa, tuan?"
Si pria menyobek sebuah kertas yang tertempel di dinding kayu restoran tepat disebelahnya dan menunjukanya kearah Naruto. "Apa ini kau?"
Mata Naruto langsung mendelik saat menatap sketsa wajah di poster buronan yang ditujukan pria berwajah garang didepanya. "E-eh? Bu-bukan, kok! Mungkin paman hanya salah orang!"
Sakura yang tak begitu paham hanya bisa terdiam sambil memperhatikan. Kertas yang di tunjukan pria tadi sepertinya sebuah poster buronan. Dan wajah yang terlukis disana terlihat seperti... Wajah Naruto! Sakura baru sadar sekarang.
"Apa benar ini bukan kau? Wajahnya benar-benar mirip..." Pria tadi mengelus-elus dagu menatap poster di tanganya dengan wajah Naruto bergantian.
'Gawat! Lebih baik aku segera pergi sebelum semuanya menyadari siapa aku!' Batin Naruto panik. Pelanggan lain mulai menatap Naruto dengan tajam. Mereka juga memikirkan hal yang sama seperti pria yang bertanya tadi.
"Hei, Naruto..." Sakura berbisik. Menarik-narik lengan pakaian yang pemuda itu kenakan. Naruto menoleh dan disambut dengan tatapan tajam Sakura. "Ada apa?" Suara Naruto terdengar gusar.
"Apa wajah di poster buronan itu kau?" Bisik Sakura penuh selidik.
Naruto menatap sekilas pria di hadapanya dan melemparkan senyum ramah sebelum kemudian memutar tubuhnya serta Sakura membelakangi pria itu. Ia berbisik agar perbincangan mereka tidak didengar siapapun. "Kenapa kau bertà nya seperti itu?" Bisik Naruto.
"Karena wajah di poster itu benar-benar mirip denganmu! Apa benar itu bukan kau?"
Rambut pirang Naruto menjadi sasaran kegusaranya. Pemuda itu mengacak-acak helaian kuning itu sembari menggeram. "Ergh! Aku jelaskan nanti saja! Yang terpenting kita pergi dari sini sebelum semua orang sadar kalau aku buronan!"
Mata Sakura membulat seakan-akan bola matanya ingin melompat keluar. "JADI BENAR KAU ADALAH SEORANG BURONAN-hmmpp!" Buru-buru Naruto membungkam mulut Sakura. Mencegah gadis itu untuk berteriak. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura.
"Ssst... Berhenti berteriak! Aku akan menjelaskan semuanya nanti. Tapi yang terpenting kita harus keluar dulu dari sini, mengerti?" Sakura mengangguk paham dan Naruto melepas bungkamanya perlahan, takut jika gadis itu akan berteriak lagi. Naruto menghembuskan napasnya lega. Sepertinya tidak ada yang mendengar teriakan Sakura...
Tapi... Saat keduanya berbalik ke posisi semula, mereka tercekat.
Semua pengunjung restorang berdiri dari tempat duduknya sambil melempar tatapan tajam pada pemuda asing berwajah tampan yang kini berdiri ditengah kedai itu.
Entah karena sebab apa, seringai mulai tertoreh diwajah mereka masing-masing. Dan itu Naruto jadikan sebuah peringatan untuk mengambil ancang-ancang kabur.
"Hei, Sakura... Aku akan berhitung sampai tiga. Saat sudah hitungan ketiga kita harus lari dari sini, mengerti?"
"Hm."
"Satu..."
"Tiga!" Sakura memekik dan langsung berlari kencang meninggalkan Naruto dan yang lainya yang dibuat cengo.
Naruto mengalihkan pandanganya kembali ke para bandit didepanya. "Ehehe... Se-sepertinya aku juga harus menyusul gadis itu..." Ujar Naruto terbata. Ia berbalik. Pada mulanya ia hanya berjalan dengan langkah kecil sebelum kemudian hendak berlari.
Tapi respon salah seorang pengunjung yang nampak seperti bandit itu lebih sigap. Ia mencengkram kerah Naruto dari belakang dan menariknya dengan kuat hingga pemuda itu jatuh tersungkur.
"Jangan kira kau bisa lari dari kami!" Ujar salah seorang pria. Ia memberi aba-aba pda para rekanya untuk meringkus Naruto.
"Hei-hei! Lepaskan aku! Sudah kubilang aku ini bukan buronan!" Raung Naruto. Para pria yang meringkusnya tak bergeming. "Hahaha! Jangan mencoba berbohong bocah! Bukankah temanmu bilang kalau kau seorang buronan!?"
Dalam hatinya Naruto mengumpat. Cih, gara-gara teriakan Sakura tadi...
"Kira-kira kita akan dapat imbalan berapa berkat menangkap Uzumaki Naruto? Aah, sepertinya kita akan dapat uang banyak!" Naruto bisa melihat mata para bandit yang menahanya berkilap-kilap gembira. Ia mendengus sebal lalu matanya berkeliling dengan jeli menjelajah seisi ruangan, mencari keberadaan Sakura. Tak berselang lama, matanya menangkap sesuatu berwarna pink menyembul dari balik meja bar. Tengah mengintip keadaanya. 'Penghianat.' Batin Naruto sebal.
Ia kembali memfokuskan diri pada para bandit yang tak kunjung selesai menghayalnya. 'Cih! Kalian ini memikirkan soal uang saja!' Batin pemuda itu kesal. Tapi lantas ia termenung. Untuk beberapa saat ia berpikir... bukankah dia sama saja?
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan saatnya memikirkan hal seperti itu! "Hahaha! Ayo kita bawa dia!" Seru salah seorang pria yang dibalas teriakan setuju semua bandit. "Hei-hei! Aku mau dibawa kemana?!" Protes Naruto. Sepertinya tak digubris, Naruto tak kehilangan akal. Ia akan kabur bagaimanapun caranya. Ia ingin mempertahankan reputasinya sebagai buronan paling licin dan tak pernah bisa ditangkap, hehe!
Sebuah seringai timbul diwajah tan itu. Ia melirik kesamping kanan dan kiri. Melihat dua pria yang mengekangnya. Lalu...
Wushh
Duakk Duakk
"Akkh!/Aduuh!"
Dua tendangan tepat ke selangkangan masing-masing pria yang mencekalnya membuat keduanya mengerang kesakitan dan melepaskan Naruto, lantas meringkuk sambil memegang bagian... tak perlu dijelaskan bukan?
Semua bandit terkaget dengan mata melebar. Saat mereka bersiap dengan senjatanya Naruto sudah melompat maju dan melakukan roll depan guna menghindar.
"Hei, apa yang kau lakukan bocah?! Kau menantang kami rupanya!"
"Ayo habisi dia!" Seketika itu semua bandit melaju dengan cepat hendak menyerang Naruto dengan senjata yang mereka pakai.
Naruto tampak tak gentar ia meraih sebuah botol sake di meja terdekat dan melemparnya dengan keras kewajah pria yang paling dekat posisinya.
Duakk
Pyarr
"Aduhh!" Pria itu terjengkang dan limbung kebelakang, membawa dua orang lain dibelakangnya ikut jatuh.
Dua orang lain mencoba menyerang dari samping. Satu membawa pedang, dan satu lagi membawa kapak. Keduanya mengangkat senjata ketika dirasa Naruto sudah masuk jangkauan serang mereka. Naruto melompat mundur sedikit dan serangan kedua orang itu hanya menghantam lantai kayu kedai ini.
Brakk
"Kami belum selesai bocah!" Tanpa diduga, seseorang berteriak dari belakang Naruto, mengayunkan gada besarnya. Dengan reflek yang sigap Naruto berjongkok karena arah serangan itu menuju kepalanya.
Wushh
Serangan pria itu hanya menghantam udara. Rupanya tidak sepenuhnya udara! Karena setelahnya, dua orang yang tadi menyerang Naruto dengan kapak dan pedang terkena imbas kecerobohan rekanya sendiri.
Duakk
"Uwaaa!" Keduanya terpental.
Sang pemilik restoran mencoba menghentikan ketegangan, tapi yang terjadi ia malah terlempar keluar dari pintu depan. Hmm... Baru kali ini ada pemilik restoran yang diusir dari restoranya sendiri...
Kembali ke pertarungan. Naruto yang masih berjongkok mengambil ancang-ancang dan melompat keatas, memukul dagu pria dengan gada dari bawah dengan telak. "Rasakan ini!"
Duaggh
Sang pria berbadan gemuk itu jatuh terjengkang. Naruto ambil senjata gada yang cukup berat itu, lalu melemparnya seperti bumerang pada beberapa orang lain yang hendak mengeroyok.
Bughh
Semua jatuh terpelanting.
"Hehe!" Terkekeh sekilas, Naruto berbalik dan menemukan pria berbadan tinggi besar dan kekar. Tak terlihat senjata apapun bersamanya. Tanpa sadar Naruto takjub dengan sosok didepanya. Tinggi Naruto hanya mencapai dada pria itu.
Karena terlalu sibuk melamun, Naruto jadi lengah dan akhirnya pria itu melancarkan satu tanganya mencekik Naruto. "Akhh! Le-lepas!" Kedua tangan Naruto meremas lengan yang mencekik lehernya, berusaha sekuat tenaga agar bisa terlepas.
Sementara Naruto sibuk tercekik(?) Kita lihat bagaimana keadaan Sakura. Gadis itu panik. Benar-benar panik. Ia memanfaatkan keributan yang ditimbulkan Naruto dan para bandit yang sedang kejar-kejaran sambil berkelahi itu untuk menyelinap pergi. Hal yang terlintas dibenaknya saat ini hanyalah kalimat 'kabur dulu pikir kemudian'.
Mata beriris emerald itu melacak ke berbagai sudut restoran kecil dan sederhana itu. Dan dikala matanya terpusat pada jendela yang kemungkinan besar muat digunakan untuk meyelinap, gadis pink itu mengangguk. 'Mungkin aku bisa kabur dari jendela.' Pikirnya.
Ia akhirnya merangkak dengan cepat layaknya tikus yang lari dikejar kucing(?). Sesekali menyempatkan dirinya untuk berlindung dikolong meja berbentuk lingkaran berdiameter satu meter di restoran itu. Saat memastikan keadaan kembali aman, gadis itu kembali mencoba merangkak.
"Uwaaa!"
Brukk
Hampir saja Sakura melonjak saking kagetnya. Hal itu terjadi karena mendadak Naruto mendarat di meja yang ia jadikan sebagai tempat persembunyianya baru saja.
Yah, pemuda itu baru saja dilempar oleh pria yang tadi mencekiknya. Untunglah mejanya tidak patah dan Sakura tidak tertimpa. Kalau ia sampai tertimpa... ia pastikan akan menghajar habis-habisan Naruto dan juga bandit yang telah melempar buronan bersurai pirang itu.
"Ittaaii..." Keluh Naruto sambil meraba-raba punggungnya yang notabene paling merasakan rasa sakit daripada bagian tubuh lainnya.
Naruto menoleh kebawah meja dan menemukan Sakura, gadis paling menyebalkan yang pernah ia kenal- meski ia sangat cantik dan manis serta yang pertama kali membuat hatinya berdesir aneh- e-eh! Coret kalimat yang barusan! Ia melirik para bandit yang sedikit tertahan langkahnya karena protes dari pemilik restoran. Buru-buru ia turun dari meja dan berjongkok disebelah Sakura. Setelah memastikan keadaan aman, ia menoleh kearah Sakura.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" Bentak Sakura.
Naruto berdecih. Menatap penuh sungut kearah Sakura. "Cih! Dasar penghianat! Kenapa kau malah meninggalkanku hah!?"
"Terserah padaku! Lagipula semua ini terjadi karena kau tidak memberitahuku kalau kau seorang buronan!"
"Hei kalian berdua!"
"APA!?" Bentak Naruto dan Sakura bersamaan pada seorang pria berbadan kekar yang tadi mencekik Naruto. Si pria mendelik dan membuat kedua remaja itu kaget setengah mati. Buru-buru mereka berdiri.
Pada awalnya si pria menatap kearah Sakura. "Hei nona, apa kau teman dari buronan ini?" Tanyanya sambil menunjuk Naruto.
Sakura menggeleng cepat. "E-eh? Bu-bukan kok paman! Dia ini juga mencuri barang-barangku! Jadi aku kemari untuk memintanya kembali!"
Si pria kekar itu mendelik kearah Naruto. "Kau ini memang pencuri yang suka mencari gara-gara dengan semua orang..." Ia beralih lagi ke Sakura dan mempersilahkan gadis itu pergi. Dan tentu saja kesempatan itu tak disia-siakan olehnya. Ia berbalik dengan cepat dan berjalan menuju pintu keluar. Masih ia sempatkan menoleh kearah Naruto dan menjulurkan lidahnya mengejek.
'Ghh! Dia benar-benar penghianat! Ingatkan aku untuk menjitak kepala pink-nya itu jika berhasil lolos dari sini!' Batin Naruto kesetanan. Ia fokuskan lagi pandanganya pada si pria kekar yang tengah mengayunkan -eh! Kapak?!
Suiing
Mata beriris safir Naruto membola. Dunia serasa melambat disektitarnya. Kapak itu semakin dekat. Tiga senti, dua senti, satu senti, dan-
Wusshh
Brakk
Naruto berhasil menghindar dengan melompat kesamping. "Huft, hampir saja!" Pemuda beriris sapphire itu mengelap peluh dipelipisnya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan perih di lengan kanan bagian atasnya. Ia melirik kearah yang dimaksud dan menemukan luka melintang disana. Pasti karena kapak tadi. Naruto meringis. 'Sial.'
Belum juga siap, mendadak tiga anak panah melesat kearahnya. Asalnya dari tiga orang bandit yang menggunakan busur dan panah.
Dengan reflek yang sigap, sang Uzumaki muda mengangkat meja bundar dihadapanya, digunakan sebagai tameng.
Jlebb Jlebb Jlebb
"Hei! Aku belum siap tadi!" Teriak Naruto protes.
"Urusai! Apapun yang terjadi kami harus menangkapmu!" Tak digubris, para bandit mengangkat senjata lagi.
"Kalian keras kepala! Terima ini!"
Wushh
Brukk
"Aaarrgh!" Naruto melempar meja yang digunakan sebagai tameng tadi. Mengakibatkan kerumunan heboh didepanya jatuh dan mengerang kesakitan. Itu memicu kemarahan beberapa orang lain.
Netra biru Naruto menatap orang-orang yang terkapar itu. Ia menyeringai dan berbalik hendak keluar restoran. Memanfaatkan peluang yang ada selagi bisa.
.
.
.
.
Beralih ke Sakura. Tokoh utama perempuan kita yang satu ini saat ini tengah menggerutu dan mondar-mandir disekitar jendela restoran ramen yang ia ketahui bernama 'Ichiraku' ini. Masih bisa ia dengar sayup-sayup suara kegaduhan yang ia tahu disebabkan oleh Naruto dan 'teman-teman' barunya. Gadis pinkish itu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "Haahh... Mau sampai kapan si baka itu didalam sana bersama orang-orang yang mau menangkapnya?"
Ia berpikir kalau mungkin ia sudah keterlaluan meninggalkan Naruto sendiri didalam sana. Habisnya ia kesal dan jengkel karena Naruto tak menjelaskan sejak awal kalau dirinya seorang buron. Jika saja Naruto menjelaskanya dari awal maka ia yakin semua masalah ini tidak akan terjadi.
"Lebih baik pikirkan cara untuk pergi! Aku yakin si baka itu pasti bisa kabur karena tak mungkin ia dijadikan buron kalau tidak bisa lari dari para pengejarnya." Sakura menengok ke sana-sini dan tanpa sengaja matanya melihat dua ekor kuda yang tengah dikekang dibawah pohon rindang, tengah merumput.
Sepertinya dia menemukan ide. Terbukti dari senyuman diwajah jelitanya. Ia hampiri dua kuda itu dan melepas kekangan salah satu diantara mereka.
Tapi sepertinya ada satu permasalahan...
"Err... Bagaimana cara menungganginya ya?" Satu gumaman kecil lolos tanpa sadar dari mulut Sakura. Meski sedikit ragu, ia tuntun sejenak kuda itu agak menjauh dari pohon. Ia menelan ludah lalu perlahan naik ke pelana kuda itu. Saat sampai diatas, Sakura tersenyum dengan riang tanpa sadar kuda yang ditungganginya tampak tak suka. "Hei, ternyata cukup mud- Kyaaaa!" Sang kuda berlari dengan liar bersama Sakura yang panik diatasnya.
"KYAAA! BE-BERHENTIII! TOLONG NARUTOOO!" Jerit Sakura. Maklum, ini pertama kalinya ia menunggangi kuda. Jadi bukan hal aneh bila hal seperti ini terjadi.
"KUMOHON BERHENTIII!" Sakura masih belum menyerah untuk berteriak. Memohon pada siapapun untuk menghentikan kuda yang berjingkrak liar ini. Dan tanpa sengaja, bukanya malah menarik tali kekang kuda itu untuk berhenti, Sakura justru malah mengayunkan tali itu dengan kencang membuat sang kuda meringkik dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Di lain pihak, Naruto melompat dari jendela restoran. Mendengar suara jeritan dari seseorang yang menyebut namanya.
"Kyaaaa!"
Eh?
Naruto melongo saat melihat Sakura menunggangi kuda yang terlihat tak suka itu. Melaju dengan begitu cepatnya menjauh dari restoran ini.
Tanpa sadar Naruto menepuk keningnya pelan. "Ya ampun Sakura! Kenapa kau selalu membuat masalah, sih?!" Keluh Naruto. Buru-buru ia menghampiri seekor kuda yang tengah merumput dengan santainya dan menungganginya. Ia melajukan kuda itu dengan cepat, berusaha menyusul gadis pink itu.
Di lain pihak, para bandit dari restoran sudah keluar. Mereka mendapati Naruto pergi menunggangi kuda. Salah seorang dari mereka menginstruksi. "Ayo kejar dia!"
.
.
.
.
Sakura tidak tahu ia berada dimana. Sejak tadi ia hanya bisa ketakutan dan terus berpegangan pada tali kekang kuda yang dikendarainya. Tanpa sadar ia mengutuk kecerobohanya sendiri. Dan disaat-saat seperti ini ia malah teringat oleh Naruto. Ia menyesal mencoba meninggalkan pemuda itu seorang diri... Dan entah kenapa ia justru malah berharap Naruto disini dan menolongnya sekarang.
'Sakuraaa!' Hei, ia seperti mendengar suara Naruto. Ugh! Kenapa ia malah membayangkan hal yang aneh-aneh sih? Tapi jujur, Sakura sendiri bingung, kenapa pemuda itu masuk kepikiranya sekarang?
'Sakuraaa!' Lagi-lagi suara itu. Sakura menggigit bibir bawahnya. Apa ia terlalu berharap sekarang?
'Sakuraaa!' Oh baiklah, sekarang ia mulai kesal!
"Sakuraaa! Apa kau tidak bisa mendengarku!?"
Are?
Sakura menoleh kebelakang dan mendapati Naruto mencoba mengejarnya. Matanya membulat dan kemudian gadis itu menjerit kearah Naruto. "Tolong aku Narutooo!"
"Sakura! Tarik tali kekangnyaa!" Balas Naruto dengan teriakan lain. Sakura mengikuti instruksi Naruto. Ia tarik tali kekang kuat-kuat bahkan hingga terlihat menegang.
Srett
Kuda yang ditunggangi Sakura meringkik dan berhenti secara tiba-tiba. Dan karena kehilangan keseimbangan, gadis cantik itu terjatuh dari kudanya. "Kyaaa!"
Sakura sudah bersiap merasakan rasa sakit akibat terbentur dengan tanah. Matanya ia pejamkan dengan erat. Tapi tiba-tiba-
Hup
Brukk
Sepasang lengan kekar mendekap tubuh mungilnya. Dan tubuh sang penolong itulah yang dijadikan sebagai peredam Sakura dari benturan.
Hangat... Itulah yang dirasakan saat berada didekapan seseorang itu...
"Untunglah berhasil kutangkap." Ujar suara bariton itu tampak lega. Sakura mengangkat wajah dan bisa melihat sepasang safir begitu indah yang menatapnya dengan perasaan lega. "Naruto?"
Sang pemilik nama mendorong lembut tubuh Sakura yang tengah selonjoran diatasnya, secara tak langsung memaksa Sakura untuk duduk. Setelah keduanya berhasil duduk, mereka hanya saling pandang. Menatap dalam diam. Mata mereka bertemu dan saling menatap dalam-dalam.
Yang ada dipikran mereka saat ini... Entahlah... tidak terbaca.
Naruto yang pertama memecah keheningan dengan helaan napas. "Haahh... kau ini, untunglah tidak terjadi apa-apa."
Sakura menundukan kepalanya, tak sanggup menatap terus menerus wajah tampan itu. "Maaf..." Gumamnya kecil. Ia sedkit mendongakan wajahnya guna melirik apakah Naruto marah atau bagaimana.
Dan dilihatnya Naruto tersenyum...
Mendadak Sakura blushing. Menatap senyum menawan yang terpampang diwajah yang menawan pula. Helaian pirang jabrik yang begoyang perlahan tertiup angin. Senyuman miring yang membuatnya mati kutu. Wajahnya yang manis dan kelewat tampan...
Disaat seperti ini Sakura baru sadar. Pria dihadapanya memang mempesona... Sangat mempesona malah. Tapi...
"Apanya yang maaf, haa! Kau ini ceroboh sekali! Memangnya kau tahu cara menunggangi kuda?"
Tuingg
"Dan kenapa kau dengan teganya meninggalkanku sendiri disana, haa!? Untunglah masih ada seekor kuda lagi disana dan aku berhasil menyusulmu!"
Tuingg
"Kau ini memang gorila berambut pink yang selalu menyusahkanku!"
Tuingg
Cukup sudah! Urat-urat kesabaran Sakura benar-benar putus! Sialan... Menyesal dia terpesona... Menyesal dia memikirkan pemuda berengsek ini...
"Kau ini... SHANNAROOO!"
Duagg
Satu jitakan kuat mendarat dikepala Naruto, membuat pemuda itu mengaduh. "Aduhh! Kenapa kau memukulku?" Rengek Naruto. Bibir pemuda itu mengerucut.
"Kau ini orang paling baka! Menyebalkan! Dan tidak punya hati!" Sembur Sakura sambil menunjuk tepat didepan hidung mancung Naruto. "Jika saja kau mengatakan kalau kau ini buronan mungkin saja hal konyol ini tidak akan terjadi! Dan aku-"
"-Naruto berada disana!" Baik Sakura maupun Naruto menoleh. Mereka terkejut kala mengetahui bandit-bandit dari 'Ichiraku' berhasil menyusul mereka dengan menaiki kuda.
"Sialan! Kenapa mereka lagi, sih?" Naruto mengusap rambutnya dengan cukup beringas.
"Inikan akibat perbuatanmu!" Tuduh Sakura.
Naruto mendelik tak suka. "Hei, jika bukan karena kau berteriak tadi, pasti identitasku tetap terjaga!"
"Kalau begitu seharusnya kita tidak datang ke kedai itu!"
"Itu karena aku tahu kalau kau lapar, makanya aku membawamu kesana!"
Sakura bungkam... Jadi Naruto mengkhawatirkanya sampai seperti itu? Padahal kan mereka baru bertemu tadi pagi, dan sepertinya tak pernah akur... Lalu kenapa pemuda itu mengkhawatirkanya sampai seperti itu?
Pemikiran barusan membuat pipinya memerah. Pada akhirnya suara Naruto menariknya kembali dari alam khayalnya.
"Lupakan saja masalah ini! Kita harus cepat pergi!" Sakura mengangguk dan berdiri setelah menerima uluran tangan Naruto.
"Hei, berhentii! Jangan coba kabur!"
Naruto dan Sakura berlari secepat yang mereka bisa. Seandainya masih ada kuda yang mereka tunggangi tadi mungkin tidak akan serepot ini. Kuda-kuda itu sudah pergi entah sejak kapan.
"Haah... Tu-tunggu... Aku lelah Naruto..." Keluh Sakura. Napas gadis itu naik turun dengan cepat. Keringat mengalir jelas diwajah cantiknya. Naruto menengok sekilas kebelakang dan masih menemukan pengejar mereka. 'Mereka masih mengejar!' Batin pemuda itu panik.
"Mereka masih mengejar kita! Bertahanlah sebentar lagi, Sakura!"
"Ta-tapi-"
Grepp
Tiba-tiba Naruto membelakangi dirinya dan tanpa persetujuan dia menggendong Sakura dipunggungnya. Ia terus berlari tak tentu arah. Seperti yang sudah Naruto pahami, ia harus pandai memanfaatkan medan berhubung ia hanya berlari, sambil membawa Sakura pula!
Sesaat matanya menangkap gambaran semak-semak lebat didekat pohon-pohon yang besar pula, cocok untuk bersembunyi!
Dengan sedikit meringis lega ia menembus lebatnya semak-semak itu, menurunkan Sakura dari gendonganya. Ia buru-buru menunduk diikuti oleh gadis pink di sebelahnya.
Drap
.. Drap
... Drap
Suara derap kuda terdengar semakin melemah. Itu menandakan jika rombongan gila yang mengejar mereka sudah melewati tempat mereka bersembunyi, tidak ketahuan.
"Haahh..." Naruto langsung membaringkan tubuhnya ditanah. Nafasnya terdengar berat dan naik turun dengan cepat. Sakura pun langsung melemas. Ia menarik napas sedalam-dalamnya dan membuangnya perlahan.
"Tadi hampir saja..." Gumam Naruto pelan.
Sakura mengangguk setuju. Matanya beralih fokus kearah Naruto yang belum juga menormalkan helaan napasnya.
Dengan sedikit perasaan khawatir, gadis itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Daijoubu?"
"Hm?"
"Kau tidak apa? Maksudku... karena kau malah menggendongku... pasti melelahkan bukan?" Terdengar nada menyesal dari kalimat itu.
"Hm. Kau lumayan berat tahu! Tapi tenang saja, aku tidak apa-apa, kok!"
Hmm... Jujur, bukan jawaban seperti itu yang Sakura harapkan. Memang ia menyesal karena menyusahkan pemuda itu. Ia berharap pemuda itu setidaknya mengungkapkan rasa keberatanya karena ulahnya... tapi Sakura sama sekali tak mengharapkan ia menyinggung soal berat badan! Cih...
"Kenapa dengan wajahmu itu?" Tanya Naruto dengan polos saat menatap ekspresi cemberut di wajah Sakura.
"Bukan apa-apa! Selain itu, kau kemanakan tasku?"
"Aa... So-soal itu..." Naruto menggaruk belakang kepalanya. Mata dengan iris emerald Sakura menajam. Menatap lekat-lekat pemuda bermarga Uzumaki itu.
"Soal itu apa?"
Glekk
Tanpa sadar Naruto menelan ludahnya sendiri dengan sulit. Ia menundukan kepalanya agar terhindar dari tatapan mengerikan yang ditujukan kepadanya. Tatapan yang sama mengerikanya dengan tatapan medusa itu.
"Jangan bilang kalau kau meninggalkan tasku..."
Ugh... Desisan Sakura benar-benar tak membantu... Kenapa gadis itu tak mencoba menebak dengan nada yang normal saja?
"I-iya..." Gumam Naruto dengan suara kecil. Amat kecil sampai-sampai mungkin hanya hewan dengan pendengaran tajam seperti kelelawar yang bisa mendengarnya(?)
"..."
"..."
Kelopak Naruto berkedip beberapa kali. Bingung kenapa tak kunjung mendapat respon. Dan dengan gerakan patah-patah ia memutuskan mendongak meski sebenarnya ia tak ingin.
Sringg
Dan hal yang selanjutnya dilihat oleh Naruto adalah... kepalan tangan... yang melayang ke arahnya?
... Oh sial...
"SHANNAROO!"
Duaggh
"GYAAA!"
.
.
.
.
Hari sudah berganti dari siang menjadi malam. Langit biru dengan awan bergumpal kini sudah digantikan dengan warna hitam ditambah jutaan bintang yang berpendar memancarkan berbagai warna, sungguh indah.
Masih dilokasi yang tak jauh dari semak yang mereka gunakan untuk bersembunyi, dua sosok nampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Sakura tengah duduk dengan bertopang dagu menggunakan dua tangan. Bibirnya yang berwarna merah muda alami itu manyun. Sedang menatap sosok lain didepanya.
Sosok yang nampak sibuk mempersiapkan api unggun untuk menghangatkan keduanya.
Trakk
Bussh
Naruto menggesekan dua batu digenggamanya satu sama lain. Menimbulkan gemercik api yang mengenai daun kering yang sudah dipersiapkan. Api pun mulai membesar setelah pemuda berparas tampan itu melempar pelan beberapa ranting kayu kering yang ia temukan.
Akhirnya suhu mulai sedikit menghangat. Tak seperti sesaat sebelum api unggun dinyalakan.
Naruto sebenarnya sadar jika Sakura menatapnya dengan raut kesal. Karena itulah ia mencoba bicara pada gadis itu. "Huh... Apa kau masih ingin terus marah?"
Sakura berdecak sebal. Ia mengubah posisi duduknya dengan menyilangkan kedua tanganya di depan dada. "Isi tas itu adalah semua bekalku untuk perjalanan ini! Dan gara-gara kau kita tidak bisa makan sekarang!" Bentak gadis itu.
Ia menghela napas sebelum kembali melanjutkan. "Aku lapar."
Naruto mendengus sebal lalu meraih tas selempang barunya. Merogoh sesuatu dari sana dan mengambil dua bungkusan roti berukuran agak besar. Ia menyodorkan salah satunya ke Sakura.
"Ini, makanlah. Maaf soal tasmu. Kalau aku sudah punya uang aku pasti akan membelikan yang baru beserta semua isinya sekalian." Ucap Naruto dengan nada santai.
Bibir gadis cantik berjidat lebar itu mulai mengerucut. "Apa kau selalu menganggap enteng hal yang ada disekitarmu?" Dengan perasaan yang masih sebal, akhirnya Sakura menerima sodoran roti itu. Ia mulai mendengus ketika Naruto mulai menggigit rotinya dan mulai makan dengan lahap, mengabaikan pertanyaan yang terlontar padanya.
Mau tak mau Sakura mengikuti hal yang Naruto lakukan. Memakan rotinya, mengunyahnya sedikit kasar. Tak peduli jika dianggap tak feminim.
Tak ada pembicaraan apapun yang tercipta saat mereka sibuk makan. Benar-benar sunyi. Bahkan hingga mereka selesai memakan makananya masing-masing pun tak ada suara barang sehuruf.
Naruto yang pada dasarnya cepat bosan dengan suasana sepi mulai mencoba membuka suara. "Ehm! Sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau begitu ingin melihat festival kembang api di ibu kota kerajaan?"
Sakura mendongak, menaikan satu alisnya bingung. Tapi tak berapa lama ia memasang pose berpikir dengan satu tangan mengelus dagunya. "Hmm... kenapa ya? Aku sendiri juga agak bingung..."
"Eh? Lalu kenapa kau begitu bersikeras?"
Sakura tersenyum maklum. Kenapa semua orang menanyakan hal yang sama seperti Naruto jika menyinggung festival kembang api?
"Aku tidak tahu kenapa aku begitu tertarik dengan festival itu, mungkin karena berbarengan dengan ulang tahunku aku jadi menganggap itu semacam hadiah."
"Souka..."
Hei, ini hanya perasaan Sakura saja atau memang Naruto menjadi sosok pendengar yang baik? Pemikiran itu membuatnya tersenyum. Ia kembali melanjutkan. "Oh iya! Bukanya kau ingin menjelaskan padaku jika kau ini seorang buronan?"
Naruto tersentak dan menggaruk pelipisnya dengan canggung. Ia terkekeh sekilas sebelum memberi jawaban. "Ya, aku memang sudah menjadi buron yang dikenal paling licin dikerajaan Konoha, hehe!"
Sakura memutar bola matanya. "Kenapa kau terlihat bangga menjadi buronan? Padahal jika kupikir kau tidak mempunyai tampang seorang penjahat..."
"Menurutmu begitu?" Sakura mengangguk. Naruto terlihat menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanya pelan. "Jika aku bilang kalau aku terpakasa mencuri apa kau akan percaya padaku?"
"Eh?"
Sebuah ranting kembali dilempar ke api unggun ketika dirasa api mulai mengecil lagi. "Sejak umurku 4 tahun ayahku meninggal karena penyakit yang dideritanya. Tak selang beberapa lama giliran ibuku yang meninggalkanku..."
"Aku ikut berduka..."
Sudut bibir Naruto naik. "Lalu setelah mereka meninggal, aku mulai hidup dijalanan karena tak punya sanak saudara lainya. Dan untuk bertahan hidup aku terpaksa...ehm!"
"Mencuri? Sekarang aku mulai tahu darimana keahlian mencurimu itu..." Sarkas gadis serba pink didepanya. Tapi tak lama gadis itu tersenyum memaklumi keadaan Naruto.
"Akhirnya setelah umurku menginjak 6 tahun, seorang nenek pengurus panti asuhan mengajaku untuk tinggal disana. Dia seorang nenek yang baik, namanya Chiyo. Aku akhirnya tinggal di panti asuhan sederhana itu. Mulai berteman dengan beberapa anak-anak lainya, mulai kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga..." Sakura tak berniat memotong.
"Tapi... Suatu hari aku mendengar percakapan antara nenek Chiyo dan seorang anggota istana kerajaan, entah menteri atau siapa. Nenek Chiyo memohon padanya agar kerajaan tidak menghentikan pendanaan pada panti asuhan kami. Namun akhirnya kerajaan tetap menolak... Dan nenek Chiyo tak memberitahukan pada satupun anak-anak panti asuhan... Hanya aku satu-satunya anak yang tahu."
Sakura tersenyum miris. Dalam hati ia bersyukur hidupnya tak sesulit yang Naruto jalani. Ia tak bisa membayangkan jika hidupnya sesulit itu. Dia tak akan bisa setegar Naruto...
"Setelah mengetahui tentang keadaan panti asuhan yang mulai kesulitan, aku kembali mencuri lagi. Kali ini tak tanggung-tanggung, aku mencuri perhiasaan, benda berharga, dan benda bernilai tinggi lainya dari para bangsawan serta orang-orang kaya lalu menjualnya dan diam-diam meletakan uang itu di meja nenek Chiyo setiap kali semuanya sudah tertidur. Sejak saat itu keadaan panti asuhan mulai tertolong sedikit demi sedikit"
"Jadi kau menjadi semacam pahlawan?" Tanya Sakura antusias. Naruto melontarkan tawa kecil. "Aku tak pernah menganggap diriku sebagai seorang pahlawan." Ia mendongak menatap langsung mata beriris emerald Sakura. "Kurasa sudah cukup ceritaku kenapa aku menjadi seorang buron, ne?"
"Baguslah penilaianku padamu tidak salah. Berarti kau memang orang yang baik." Lagi-lagi Naruto tertawa. "Hei, sekarang giliranmu untuk bercerita tentang diri- aww!" Kalimat Naruto terpotong ketika mendadak pemuda itu memekik kesakitan sambil menutupi lengan kanan atasnya. Ia meringis, membuat Sakura kaget dan khawatir. "Kenapa denganmu?"
"Ie, tidak apa-apa kok!" Tak dihiraukan pengelakan Naruto, Sakura bergerak cepat mendekati Naruto dan menarik tangan pemuda itu. Dan akhirnya gadis itu melihat luka melintang di lengan atas Naruto, seketika membuat matanya melebar.
"Ya ampun! Apa yang terjadi sampai kau mendapat luka ini!" Naruto tak menjawab dan hanya meringis.
Sakura menarik napas dalam-dalam sebelum menempelkan kedua telapak tanganya diluka Naruto. Ia menutup mata dan berkonsentrasi.
Naruto sebenarnya kebingungan dan ingin tahu apa yang dilakukan gadis cantik itu. Tapi ia memilih bungkam saat Sakura nampak begitu konsentrasi.
Sringg
Cahaya kehijauan mulai muncul dari telapak tangan Sakura. Lumayan terang hingga membuat mata Naruto menyipit meski sempat dibuat kaget karena kejadian menakjubkan itu.
Sakura membuka matanya perlahan dan cahaya kehijauan itu memudar sebelum akhirnya benar-benar menghilang. "Sudah" Sakura berujar pendek lalu menyingkirkan tanganya dari lengan Naruto yang kini tampak seperti semula, tak ada bekas luka apapun. Yang tak kembali normal hanyalah lengan pakaianya yang tersobek.
Napas Naruto mendadak terhenti. Jantungnya mulai berdebar-debar. Bukan karena gugup, lebih tepatnya karena sedikit takut. Ia menatap lenganya yang tadi terluka dan Sakura secara bergantian beberapa kali.
Sakura semakin dibuat bingung saat napas Naruto naik turun dengan cepat. Seakan menyadari apa yang akan terjadi, buru-buriu Sakura membungkam mulut Naruto. "AAAA-Hmmp!"
"Ja-jangan berteriak! Aku tahu sedikit menakutkan tapi kau tak perlu takut, oke?" Naruto mengangguk pelan. Dan Sakura menghembuskan napas lega. Ia melepas bungkamanya.
Naruto dengan canggung menggaruk belakang kepalanya. Ia sedikit menjauh dari posisi duduknya semula. Menatap Sakura yang kini menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Naruto... Apa kau takut padaku... Karena kekuatanku ini?" Bisiknya dengan nada penuh kegetiran.
Naruto jadi tak enak sendiri. Memang pertama ia sedikit terkejut. Maksudku, bagaimana respon pertamamu saat kau melihat dengan mata kepalamu sendiri kekuatan seperti itu? Kaget kah? Biasa saja kah? Atau senang kah?
Tentu banyak orang akan menjawab kaget. Itu pula yang dirasakan Naruto. "Hmm... Aku hanya sedikit terkejut, tapi aku tidak takut kok! Lagipula, punya kekuatan seperti itu sangatlah menakjubkan!" Sakura mendongakan wajahnya. Menatap Naruto dengan mata sedikit berkaca. Iris safir milik pemuda itu tak menunjukan setitikpun kebohongan disana. Senyuman pun mulai timbul dibelahan bibir peach-nya.
"Terima kasih... Kukira kau akan takut lalu lari meninggalkanku..."
"Hei, mana mungkin aku tega meninggalkan seorang gadis sendiri ditengah hutan? Malam-malam pula?"
Sakura terkekeh. Ia mengusap matanya yang sedikit berair. "Jadi, apa kau mau bercerita tentang bagaimana kekuatanmu itu kau dapatkan? Memang kita baru kenal, tapi dengan bercerita kurasa akan sedikit menenangkanmu, bukan begitu?"
Sakura mengangguk. Ia menghela napas lalu memulai ceritanya. "Masa kecilku tak jauh berbeda denganmu... Ibuku yang sekarang bukanlah ibu kandungku melainkan hanya ibu angkat. Aku tak pernah mengetahui siapa orang tuaku yang sebenarnya. Ibuku bilang ia menemukanku di dalam keranjang bayi disebuah sungai saat mencuci."
"Mungkin aku lebih beruntung karena paling tidak bisa mengenal orang tuaku walau hanya sejenak. Tapi kau adalah gadis yang tegar, Sakura." Interupsi Naruto. Senyuman Sakura melebar. Kembali, ia melanjutkan ceritanya.
"Aku pada mulanya tidak tahu soal kekuatanku ini. Sejak kecil jika aku terluka, pasti lukaku akan sembuh dengan cepat. Jika aku sakit maka besok paginya aku pasti langsung sembuh." Masih Sakura sempatkan untuk menyelipkan anak rambutnya yang menjuntai kebelakang telinganya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tak lama kemudian, aku yang penasaran mencoba menanyakanya pada ibuku. Ibuku pada mulanya begitu kaget, tapi setelah itu ia berkata kalau kekuatanku ini adalah anugrah dari Kami-sama yang harus kujaga baik-baik. Sejak saat itu aku tidak boleh menunjukan kekuatanku kepada orang lain selain ibuku. Karena jika ada yang tahu maka bisa membahayakanku." Ujar Sakura panjang lebar menjelaskan. Ia menatap dalam diam kedua telapak tanganya yang putih mulus itu dengan senyuman.
"Kalau begitu kenapa kau malah menunjukan kekuatanmu padaku? Apa kau tak takut kalau aku berniat jahat?" Tanya Naruto bingung.
Sakura menggeleng. "Mulai saat ini aku bisa yakin jika kau bukan orang jahat. Kau saja rela menolongku saat aku malah... ehm, membuat masalah. Selain itu, kau bukan orang pertama selain ibuku yang mengetahui soal kekuatanku."
"Eh? Jadi maksudmu sudah banyak orang yang tahu kekuatanmu?"
Gadis yang dilontari pertanyaan tersenyum kikuk dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ya begitulah... Meski ibuku sudah melarang, tapi aku tetap bersikeras membantu orang lain yang terluka tanpa sepengetahuan ibu."
Begitulah akhir dari cerita Sakura. Pemuda bermabut pirang jabrik yang duduk dihadapan gadis itu berdiri, membuat sang gadis menaikan satu alisnya. "Mau apa kau?"
"Api unggun ini sudah mulai mengecil, karena itulah aku akan pergi sebentar untuk mencari kayu bakar lagi!"
Bibir Sakura membentuk huruf 'O', tanda kalau ia mengerti. "Lalu, kau jangan pergi dari tempat ini dan jika terjadi apa-apa berteriaklah saja, ne, Sakura-chan?"
Blush
Rona merah mulai menodai pipi mulus Sakura saat mendengar suffix 'chan' dari pemuda tampan itu. 'Apa maksudnya dengan chan?!' Inner self-nya menjerit kesetanan.
"A-apa maksudmu dengan suffix 'chan' itu!?" Ketus Sakura.
Naruto memasang pose berpikir. "Hmm... Kurasa karena sekarang kita berteman jadi aku harus lebih mengakrabkan diri denganmu. Karena itulah kau kupanggil dengan suffix 'chan'." Balas Naruto sambil memasang cengiran trademark-nya.
"Berteman?"
"Ya! Mulai sekarang kita harus berdamai dan mulai jadi teman, apa kau keberatan?"
Sakura menggeleng dan membalas cengiran Naruto dengan senyum manis, membuat pemuda itu salah tingkah dan menggaruk kepalanya. "Emm... Ya sudah kalau begitu! A-aku akan mencari kayu bakar sebentar!" Naruto beranjak pergi. Tak tahu kemana arah perginya tapi bisa dipastikan tidak terlalu jauh dengan poisisi mereka saat ini.
Sakura menatap punggung lebar Naruto yang berjalan membelakanginya. Seulas senyum terpatri diwajahnya, plus dengan rona merah yang terlihat samar karena efek temaram api yang mulai meredup. Kedua tanganya menopang dagu. Ia bisa merasakan pipinya yang menghangat. 'Teman, ya?'
.
.
.
.
Kaguya berjalan dengan gontai. Wanita paruh baya yang masih terlihat kecantikanya itu telah tiba disebuah kota kecil yang tak begitu jauh dari desa Uzu. Ia menoleh kesana kemari mencari sosok berambut merah muda yang menjadi target pencarianya sejak tadi pagi. "Dimana lagi aku harus mencari?" Wanita itu menghela napas. Ia kembali menengok kesekeliling dan matanya terfokus pada sebuah kedai makan tak jauh dari posisinya.
Setelah menimang apakah ia akan beristirahat dulu atau meneruskan perjalananya, akhirnya ia memutuskan untuk istirahat sebentar sambil mengisi perut. Siapa tahu ia juga bisa mendapat informasi soal keberadaan Sakura?
Kakinya melangkah memasuki kedai makan yang menjadi pusat perhatianya tadi.
Ia mengambil tempat duduk dan memesan makanan kepada pelayan yang menghampirinya. Sambil menunggu makanan ia memperhatikan kesekeliling.
Matanya menajam ke satu fokus yang menjadi objek perhatianya. Beberapa poster buronan terpampang didinding kayu disebelahnya. Ia termenung saat melihat poster buronan bergambar wajah pemuda tampan berambut pirang... Pirang...
Entah kenapa ia kembali mengingat ucapan Rock Lee. 'Kalau bibi sedang mencari Sakura, bibi tidak akan menemukanya di dalam desa karena menurut cerita beberapa orang Sakura pergi keluar desa dengan seorang pemuda berambut pirang.'
Ia tersentak dan kembali dari alam bawah sadarnya saat gadis yang kira-kira seumuran dengan Sakura, yang tadi menjadi pelayan membawakan pesananya. "Ini nyonya, silahkan dinikmati!" Gadis cantik berambut pirang pucat panjang tersenyum ramah.
"Ah, terima kasih banyak." Kaguya membalas senyuman itu. Entah apa yang ada dipikiranya saat ia kembali menatap poster buronan bertuliskan 'Uzumaki Naruto' itu.
Gadis beriris violet itu nampak kebingungan. Saat ia mengikuti arah pandangan wanita berambut keabuan itu ia tersenyum. "Buronan itu bernama Uzumaki Naruto." Kaguya menoleh.
"Eh?"
"Jika nyonya ingin tahu siapa dia, namanya adalah Uzumaki Naruto. Sudah lama menjadi buronan paling licin di kerajaan Konoha."
"Emm... kalau boleh tahu, apa yang dilakukanya hingga menjadi buronan?"
Gadis itu nampak berpikir. "Setahuku karena dia sudah banyak melakukan tindak pencurian dari berbagai bangsawan dan pengusaha kaya di Konoha. Dan kabar yang kudengar baru-baru ini, dia mencuri mahkota putri kerajaan yang telah lama menghilang!" Mata Kaguya seketika membulat.
"Yah, sayang sekali jika dia menjadi buronan. Dia terlalu tampan jika dijadikan seorang buronan, hihi!" Gadis itu terkikik geli sebelum membungkuk permisi untuk pergi.
Kaguya masih terdiam saat pelayan itu beranjak pergi.
"..."
"... Jadi orang yang membawa Sakura bernama Uzumaki Naruto..."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: Wooo! Maaf karena update-nya yang kelamaan! Hontouni Gomennasai! T_T Semoga para readers yang nunggu-nunggu tidak kecewa. Hope you like it^^
Balasan Review: Galura no Baka Lucky22 (Thanks, ini dah lnjut). Hikari Cherry Blossom24 (Begitulah, hehe). (Ini dah lnjut). Guest (Thanks dah baca, ni dah lnjut). AdytamaEzioD'Shadow FB (Thanks, udah saya usahain biar cpt update tpi baru sekrng bisa sempat, maaf). Hatake (Hmm, kita lihat apakah akan mirip crita aslinya). Kimaru-Z (Hehe, ini dah next!). Mai Kisaragi (Thanks! Tentu saja ini NS^^)
