Title : Wolf

Author : Raichi KrisTaoKaiSoo Fujoshi

Rated : M

Pairing : All Couple EXO *Only Official couple, not Crack pair*

Genre : Romance, mystery, Supranatural, Fantasy

DISC : para cast hanyalah milik tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.

Summary : 4 sekawan yang pergi ke sebuah kota kecil di dekat pegunungan yang ada di Amerika dengan tujuan untuk berlibur di vila dekat pegunungan milik Xi Luhan. Kejadian aneh mereka temukan di kota kecil yang berada dekat dengan villa milik Luhan. 'Berhati-hatilah, bila melihat bulan Purnama dan mendengar lolongan Serigala.' IT'S YAOI! TAORIS, KAISOO, BAEKYEOL AND HUNHAN IS HERE!

Let's check it out, Chingudeul and Yeorebeun~!

Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai. Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?

NO FLAME, NO BASH CHARA, NO PLAGIAT, NO SILENT READERS XD

Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^

tolong tetap beri saya review anda *bow*

.

.

Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.

.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

I TOLD YOU BEFORE!

.

.

IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!

Sekali lagi, fict ini hanya fiksi. Asli karangan. Kalau mau flame karena khayalan Rai, I don't care. I've warned you ^^

.

.

RAICHI

.

.

"Aku merindukanmu..Mom.."

"Sehun…"

Sehun menatap mata doe milik Xiumin. Mata yang selalu memberikan ketenangan untuknya. Mata yang selalu ia percaya akan memandikannya dengan kehangatan dan kasih sayang. Dan mata itulah, yang membuatnya untuk pertama kali dalam hidupnya, telah memancarkan ketakutan pada dirinya hingga membenci kekuatan dan dirinya sendiri.

"Kau tak berubah, Mom…." Ucap Sehun yang menembak langsung percakapan ke ulu hati Xiumin. Sehun tersenyum. Iris mata emas itu berkilat lembut. Berusaha untuk tak membuat mata doe milik manusia yang dianggap ibunya itu tak ketakutan pada dirinya.

Xiumin nampaknya tak takut, tapi mata Xiumin berusaha mencari tahu. Ia memang gemetar, namun ia berusaha melawannya.

Sehun menghirup nafas dalam, seolah tengah mencium aroma yang membuatnya mabuk. Dan seketika itu, udara disekitar mereka menghangat. Xiumin sempat heran. Mata Xiumin menatap bingung pada Sehun.

"Aku tak ingin manusia yang sudah aku anggap ibu kedinginan disini…aku tak ingin jadi anak durhaka didepanmu, Mom." Ucap Sehun dengan senyum jenakanya. Xiumin menunduk sejenak. Mengingat kenangan dulu.

"Kenapa kalian melakukan ini?" Sehun diam mendengar pertanyaan dari Xiumin. Xiumin menatap mata Sehun.

"Kenapa kalian harus membunuh orangtua Ashley?! Kenapa kalian harus bekerja sama untuk King?! Apa yang kalian inginkan?! Kalian sudah membuat Forks kacau! Demi Tuhan, Sehun! Aku tak pernah mengajari kalian untuk melakukan hal keji macam ini!" Amarah Xiumin memuncak. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Sehun berwajah datar dan memberikan senyum putus asa. Ia tertawa hampa.

Xiumin mengernyit heran melihat Sehun yang tertawa hampa. Seolah ia tengah putus asa dan membiarkan kematian membawanya.

Ia berhenti tertawa, ia menatap mata Xiumin. Mata itu terlihat hampa, putus asa dan tak memiliki gairah sebelum ia berkata,

"Dan kau tak pernah mengajari kami untuk meninggalkan siapapun yang dikasihi selama kita masih berada didunia yang sama. Kau mengkhianatiku, Mom.." Balas Sehun yang langsung membuat Xiumin bungkam.

Xiumin diam dan membuat dirinya berpikir ulang. Sehun tersenyum lemah.

"Aku paham kalian takut akan potensi kekuatan kami, aku paham karena kami yang tak bisa mengontrol diri, kalian kabur dan menelantarkan kami. Kami paham, Mom. Dan aku tahu, kau masih bisa memberikan kasih itu untuk kami.." ucap Sehun yakin. Mata Xiumin melemah.

Sehun duduk diatas sebuah batu besar dan memandangi langit kelam Forks yang dipenuhi gemuruh petir. Dan beberapa kali, kilat berwarna merah menghiasi langit mengerikan Forks.

"Kami..hanya membalas budi pada King yang sudah memungut kami ketika kami tak tahu harus mencari kemana perlindungan…dan kami diberikan kekuatan lebih..hingga itu mengharuskan kami untuk mengabdi padanya. Hingga akhirnya perintah-perintah untuk menjadi lebih liar membuat kami semakin menggila. Kami tak bisa mengontrolnya…kami sudah diciptakan seperti ini, Mom. Sama seperti kalian manusia. Kalian diciptakan dengan nafsu dan pikiran. Kami juga begitu Mom..meski ada sedikit perbedaannya.."

"Perbedaan?" tanya Xiumin heran. Sehun tersenyum dan menghadap ke arah mata Xiumin yang bingung.

"Kalian diberikan cinta dan bisa memberikan cinta…berbeda dengan kami yang tak bisa memberikan cinta sebelum merasakannya…kalian tak akan bisa mengontrol diri ketika nafsu duniawi untuk merasakan puncak menutupi pikiran kalian, begitulah kami pada kekuatan kami ketika sedang dikuasai amarah dan dikuasai Insting alami kami." Jelas Sehun. Sehun membuka telapak tangannya dan membuat pusaran angin kecil ditangannya.

"Lalu..kenapa kalian membunuh orangtua Ashley?" tanya Xiumin heran. Xiumin mulai berani mendekati Sehun. Sehun diam sejenak.

"Kami tak pernah ingin membunuh orangtua Ashley…tetapi..King menyuruh kami dikarenakan orangtua Ashley mengetahui sesuatu. Kami seolah dikendalikan…" Ucapan Sehun mulai serius. Xiumin duduk disamping Sehun.

"Apa itu..?"

"Kedua orangtua Ashley…ah tidak..sebenarnya..ibu Ashley… adalah keturunan langsung dari penerus Kuil Himalaya yang menguasai kekuatan penyembuh, juga kekuatan Alam yang selalu diincar King. Dan tahukah kau sebuah hal unik, Mom?" tanya Sehun. Xiumin menunggu. "Ibu Ashley adalah ibu dari kekasih King Jaejoong. King Yunho."

.

.

.

Disebuah ruangan gelap, Jaejoong nampak menatapi tubuh seorang pria yang terbaring seolah tak menunjukkan tanda bahwa mata itu akan terbuka. Jaejoong menggenggam tangan itu.

"Yun…ternyata kau belum bisa bangun…kekuatannya belum sempurna…" bisik Jaejoong. Jaejoong mengambil tangan Yunho dan mengecup lembut tangan yang biasanya selalu membingkai wajah Jaejoong yang sebenarnya cantik itu. Mata Jaejoong tersenyum mengingat banyak memori manis yang keduanya ciptakan. Hingga sesuatu membuat wajah itu keruh. Mata Jaejoong terbuka cepat dan berubah menjadi ungu terang dan bersinar tajam.

"Kau…! Bagaimana bisa datang..?!" Jaejoong bersuara lantang.

"Fufu..~ kau memang yang terbaik, Joongie." Suara seorang perempuan mengisi ruangan itu. Dibalik kegelapan, sosok wanita keluar memperlihatkan wajah tenang penuh garis misterius. Mata sehitam malam itu menatap Jaejoong, bibir semerah anggur itu tersenyum misterius. Wajah anggun penuh senyum misterius.

Ia berjalan menuju Jaejoong dengan penuh keanggunan. Terlihat jelas bahwa dia juga sama seperti Jaejoong. Surai cokelat gelap bergelombang miliknya terurai indah bersama hiasan rambut dengan lambang berlian hitam di bagian keningnya. Ia bukan wanita sembarangan.

"Well.. aku selalu menunggu saat ini… siapa yang akan mengira kalau kau yang dulu mencampakkanku demi Yunho, akan bernasib seperti ini." Gadis itu tersenyum miring.

"Angelica…bagaimana bisa kau…"

"Semua sudah di atur takdir..sebenarnya, aku tak percaya takdir..karena bagiku tidak ada takdir yang kebetulan disini." ia mendekati Jaejoong yang berusaha menutupi tubuh Yunho yang masih tertidur. Angelica tak berniat mendekati Yunho. Ia menatap dalam mata ungu yang kini berubah menjadi hijau tosca. Mata sehitam malam milik Angelica berwarna merah keunguan layaknya anggur. "Admire it, Joongie.. you are still in love with me.." Angelica tak takut dengan mata tosca yang selalu berhasil membuat takut para prajurit itu.

"In YOUR dreams!" Angelica berdecih pelan dan menjauh.

"Aku menawarkan sebuah kerja sama disini." Angelica membelakangi Jaejoong dan nampak berpikir sejenak.

"Apa?"

"Aku bisa membantumu mendapatkan pemilik suara yang telah berhasil memanggil para WOLF kesayanganmu itu…asal..kau membantuku mendapatkan sesuatu yang aku incar..sesuatu..yang sangat ingin aku dapatkan..sesuatu yang akan membuatku mendapatkan apa yang aku inginkan…" mata Jaejoong berpendar redup dan terlihat kaget.

"Kau gila! Kau ingin mendapatkan guci milik Aquarius?!" Jaejoong memekik kaget. Angelica hanya tersenyum miring.

"Kegilaan adalah salah satu sifatku. Namaku memang indah, tapi tak dengan sifatku."

"Ya…siapa yang menyangka kalau ibumu adalah salah satu malaikat yang dihukum hingga kehilangan sayapnya…"

"HENTIKAN ITU..!" mata Angelica berwarna merah darah. Jaejoong menyeringai.

"Jadi…kita lakukan perjanjian..?" tanya Jaejoong yang matanya berubah kelam sehitam malam, sama layaknya seperti Angelica. Jaejoong menggoreskan luka ditelapak tangannya. Angelica melakukan hal yang serupa.

"Tentu…." Dan ketika keduanya bersalaman dengan darah yang saling menyatu, mata keduanya berubah hingga menjadi hijau tosca.

Tak lama, keduanya saling melepaskan tangan. Angelica menatap ke luar jendela. Ia tersenyum miring.

"Kapan perang akan dimulai..?" tanya gadis itu. Jaejoong memanggil salah satu burung hantu miliknya. Jaejoong menyeringai ketika mengikatkan sesuatu pada kaki burung hantu miliknya.

"Ketika gerhana merah terjadi…"

"Ah…sebentar lagi? kau benar-benar hebat.."

Dan Jaejoong tidak membalas. Hanya seringai penuh kemenangan dimata tosca miliknya.

"Aku akan memenangkan pertempuran ini…untuk Yunho.." dan Angelica hanya diam sejenak mendengar ucapan Jaejoong.

.

.

.

Xiumin membiarkan Sehun yang tidur dipangkuannya. Lelah menceritakan semuanya hingga membuat Sehun tertidur sejenak.

Xiumin tidak pernah habis pikir. Siapa yang akan menduga kalau Yunho adalah anak kandung dari ibu Ashley. Ini berarti, Yunho adalah kakak kandung Ashley. Ini berarti, Yunho memiliki ikatan darah dengan kakak sepupu Ashley, Luhan.

Siapa yang akan menyangka kalau jantung itu dibuat oleh darah ibu Yunho. Karena tak terima anaknya mengikat diri untuk menjadi iblis sejak umur 8 tahun, ia mengusir Yunho. Saat itu, Ashley masih berumur 2 tahun. Tidak tahu apa alasan Yunho mengikat dirinya pada perjanjian hingga menjadikannya iblis. Bertahun-tahun, ibunya melatih kekuatannya, untuk mengambil jantung Yunho. Untuk sebuah harapan. Hingga akhirnya jantung itu berhasil didapatkan, dan keduanya memutuskan untuk kabur.

Saat pindah ke Forks, ibu Yunho memutuskan untuk menyimpan jantung Yunho agar anaknya bisa mati dengan tenang dan diharapkan akan bereinkarnasi menjadi manusia utuh yang taat kepada Tuhan. Namun semua berubah. Tidak seperti yang diharapkan.

Jaejoong mengontrol para Wolf untuk membunuh mereka berdua. Para Wolf tak bisa memasuki rumah Ashley karena segel yang tak akan bisa ditembus. Jadilah, mereka meneror Ashley dan meneror kota Forks.

Namun, belakangan Chanyeol mahir melepas segel dengan kekuatannya dan semakin kuat ketika ia menyukai Baekhyun.

Dan siapa yang menduga, kalau ternyata Wolf memihak pada Xiumin dan yang lainnya.

"Aku merindukan masakanmu, Mom. Kapan aku bisa memakan masakanmu?!" Sehun cemberut. Xiumin tertawa kecil.

"Setelah semua ini berakhir." Keduanya tertawa sejenak hingga akhirnya Sehun terdiam dan tersenyum kecil.

"Aku ketahuan, Mom…" Xiumin menoleh dan mendapati Chen bersama dengan Sagitarius dan Dewa Ares.

"Demi Tuhan…Wolf.." bisik Sagitarius yang tak percaya. Xiumin berdiri dan melindungi Sehun. Matanya bersinar penuh keberanian.

"Aku tak akan membiarkan kalian melukai Sehun!" ucapan yang penuh keberanian. Sehun sempat terpana karena ternyata, manusia yang dipanggil Mom olehnya ternyata masih ingin melindunginya.

"Kami sudah mendengar semua, nak.." ucap Ares yang tersenyum. Ia mendekati Sehun. "Kami sudah mendengar semuanya. Suatu kehormatan dapat bekerja sama dengan salah satu abdi setia Neraka yang telah merasakan cinta." Ucap Ares dengan senyum penuh wibawa miliknya. Sehun tersenyum.

"Suatu kehormatan untuk Wolf yang hina ini bisa berbicara dengan Dewa Ares." Ucap Sehun penuh hormat. Sagitarius mendekati Sehun.

"Jadi…apa yang direncanakan oleh King?" tanya Sagitarius. Sehun berdiri tegap.

"Berperang dan berniat untuk mengambil Mom dan Dad karena jantung milik King Yunho belum bisa membangunkannya. King sepertinya berniat untuk menghancurkan kalian semua." ucap Sehun yakin. Nada bicaranya pun sangat tegas. Mata emas miliknya bersinar terang.

Chen nampak gemetar. Ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Sehun melirik Chen dan tersenyum.

"Tapi…kami akan melindungi kalian..Mom..Dad.." ucap Sehun yakin. Chen tersenyum dan membuka tangannya. Membiarkan tubuh Sehun yang sepucat mayat memeluknya erat. Kedua tubuh itu berpelukan erat. Sehun menumpahkan segala rasa sesaknya yang ia tahan. Tak lama, pelukan itu melonggar.

"Aku tak bisa berlama-lama, ada banyak pekerjaan dan aku khawatir kalau bawahan King memergokiku…kami sudah mengatur rencana pemberontakan. Kami tidak ingin rencana kami rusak hanya karena aku berlama-lama disini…" Sehun berujar tegas. Ia tersenyum. Matanya menatap langit. "King akan mendapatkan kekuatan penuh saat gerhana. Aku yakin dia akan memulai perangnya saat itu.." tambah Sehun yakin. Mata emasnya memancarkan keyakinan yang teguh.

Ares sedikit terkejut. King sangat teliti. Ia merencanakan segalanya dengan detil. Termasuk berperang dengan kekuatan penuh yang akan didapatnya ketika Gerhana.

Sehun berjalan mundur. Ia tersenyum kecil.

"Bye MomDad..kita akan bertemu lain kali…" Sehun berpamitan dengan keduanya. Tatapan matanya menghangat. Ia berlari dan berubah menjadi seekor serigala kembali dan meninggalkan Xiumin dan Chen.

"Kita harus kembali! Gerhana merah terjadi 5 jam dari sekarang! Kita harus segera meminta bantuan tentara pada Yang Kuasa!" Ares memekik, memerintahkan Sagitarius untuk bergerak cepat. Sagitarius dengan gesit menaikan tubuh Xiumin dan Chen lalu berlari secepat mungkin menuju tempat persembunyian mereka.

Ketika mereka sampai, mereka dikejutkan dengan gerombolan tentara berbaju zirah perak yang berdiri tegap. Ares gemetar, pasalnya ia mengenal semua pasukan berbaju zirah ini. Pasukan itu membelah dan menampakkan sosok Leo yang berjalan tegap. Dibelakangnya, Athena berjalan tegap membawakan sesuatu.

"Ares…Sang Bijak Penguasa Tunggal Alam Semesta telah mengirimi kita bantuan tentara para Dewa..tentaramu ketika berperang melawan musuh." Ujar Leo dengan nada senang bercampur bangga yang tak bisa ia tutupi. Ares tersenyum senang.

"Ya…Aku kenal ini…"

"Kita harus mempersiapkan segalanya. Perang akan segera dimulai. King mengirimkan burung hantunya. Ia membawa pesan kalau ia akan menunggu kita di padang salju…ini tak jauh dari istana King…" ujar Athena tegas. Athena menyerahkan sesuatu itu pada Ares.

Pakaian perang miliknya. Serta pedang dan jubah merahnya.

.

.

.

Ditempat lain, Kris berjalan menuju ruangannya. Ia menghirup udara sebentar dan membuangnya. Ia akan berperang, dan ia hanya akan berharap semoga perang berjalan sesuai rencananya yang akan memihak dan menghancurkan King dan pergi ke Eil.

Kris membuka pintu kamarnya dan menemukan Tao yang tengah menatapi jendela dan membuat nama disana. Tao menatap Kris dan segera menghapus nama itu dari jendela.

"Ah..maafkan aku…" ujar Tao lalu menunduk. Kris mendekati Tao dan duduk ditepi tempat tidur. Tangannya terulur mengarah pada Tao. Tao agak canggung namun mendekati Kris. Kris tersenyum. tangannya menyentuh wajah Tao dan membingkai setengah wajah Tao.

"Maafkan aku telah membuat hidupmu begini…" ujar Kris yang nada bicaranya melunak. Tao tetap diam, menunggu Kris melanjutkan ucapannya. "Aku…hahh…sebenarnya sangat lelah…" ucap Kris sambil menghela nafasnya. Tao menatap prihatin. Ya, Kris nampak kelelahan.

"Kau..uhm..istirahatlah…" bujuk Tao dengan nada suaranya yang pelan. Kris menatap Tao dan tersenyum.

"Such a beauty…" bisik Kris lalu membelai pipi Tao. Tao diam, tidak berkutik. Bukan, ia bukan lemah. Ia terlalu bingung harus bereaksi seperti apa.

"Uhm…Kau…-" Tao tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tubuhnya terasa kaku. Kris tidur dipangkuannya dan memejamkan sejenak matanya.

"Kumohon..sebentar saja…20 menit, aku janji. Aku hanya ingin memejamkan mataku…kuharap manusia tidak jijik bila aku berbicara tidak jelas.." Kris memejamkan matanya. Tao berusaha mengontrol nafasnya. Tangannya membelai ujung rambut Kris. Sentuhan ringan itu, berhasil menyeruak dan menghangatkan dirinya.

"Aku ingin pergi ke Eil..bersama keluarga kecilku…karena mereka tanggung jawabku…karena aku juga memiliki kekuatan mereka, karena aku juga menjaga stabilitas kekuatan mereka" Kris meracau. Tao diam. Ia seolah mabuk dan sekarang seolah sedang berbicara jujur. "Aku ingin Mom dan Daddy menyanyikan lagu kematian dari buku milik King..aku ingin mendapatkan Golden Ticket untuk ke Eil. Aku sudah merencanakannya, dan sekarang aku meragukan rencana yang sudah aku susun rapi ketika merasakan Sehun yang begitu mengasihi Mom dan Daddy kami..apa yang harus aku perbuat? Tak mungkin aku pergi sendirian ke Eil…" Tao tetap diam mendengarkan.

"Tapi aku muak diperbudak terus-menerus oleh King…aku ingin memihak, tapi takut… aku takut jiwa Mom dan Dad akan diganggu oleh King. Sudah cukup aku membuat masalah. Kupikir, rencanaku yang membawa keluarga kecilku ke Eil dan meninggalkan kalian semua di dunia akan selesai..tapi ternyata tidak. Rencana itu tidak sempurna, efeknya sangat besar..siapa yang mengira kalau efeknya adalah, Yang Maha Kuasa akan murka dan mengutuk kami serta keluargaku..aku tidak ingin mereka dikutuk akibat rencanaku..memang kesalahanku karena setelah dipikir, Golden Ticket itu harus dibayar dengan membunuh separuh nyawa tak berdosa didunia..sekarang.…aku bingung dan lelah…" Kris berwajah keruh. Ia terus meracau tidak jelas, dan jujur Tao merasa iba.

Tao membelai rambut Kris. Kris membuka matanya dan menemukan Tao yang tengah menatapnya.

"Kalau kau ragu, jangan teruskan. Kalau kau yakin, teruskan. Tuhan punya rencana yang indah…Bila kau ingin bahagia, ikuti jalur Tuhan…kau tidak sendirian." Ucap Tao. Kris menatap dalam mata Tao. Mata kelam itu, mata itu menatap lurus dirinya dan mengunci dirinya pada tatapan teduh dan polosnya.

Kris mendekatkan wajahnya dan memberi sebuah kecupan pada bibir Tao. Tao mematung, namun diam dan menikmati sentuhan ringan ini.

Kris bisa merasakan, saudara-saudaranya sedang berpamitan dengan manusia yang ada dikamar mereka masing-masing. Dan ini semakin membuatnya meragukan rencananya.

Apa yang harus dia perbuat? Apa dia harus melupakan rencana lama untuk sebuah awal rencana baru?

.

.

.

Virgo nampak tengah memainkan sebuah papan bundar berwarna emas. Di atas papan bundar itu, banyak tulisan aneh dan kode-kode yang sepertinya hanya ia sendiri yang paham, disana juga terdapat penunjuk jarum yang menunjuk pada gambar eksentrik yang membentuk hewan-hewan mitologi.

Ashley menatap Virgo yang nampak tengah serius. Wajah Virgo mengeruh. Dia duduk disamping gadis itu dan menatapi papan bundar miliknya. Matanya tertuju pada sosok ular dengan kepala manusia, tapi tak memiliki wajah. Mata Ashley menatapi tulisan kuno dan symbol aneh. Seperti gambar pisau yang ditutupi oleh lilitan duri dan mawar hitam.

"Apa..maksudnya..?" tanya Ashley pada akhirnya. Virgo melirik sebentar dan menghela nafas.

"Aku juga bingung….setengah jam yang lalu, aku memainkannya dan entah kenapa…papan bundarku selalu menunjuk ke makhluk ini…seribu wajah…makhluk mengerikan yang akan merubah wajahnya menjadi wajah orang yang paling kau sayang untuk menjebak kita, atau menjadi wajah yang kita takuti untuk membunuh kita secara perlahan dan menelan jiwa kita. Kita bisa meminta pertolongan dengannya, tapi kau harus lulus dengan 1 pertanyaannya. Bila kau lulus, apapun yang kau minta ia akan kabulkan. Tapi, ia tidak bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal, tidak bisa membawamu ke masa lalu ataupun masa depan. Dan aku bingung…kenapa papan ini menunjuk ke arahnya terus menerus.." nada Virgo memelan ketika mengucapkan kata-kata terakhir.

"Apa..ini ada kaitannya dengan perang?" tanya Ashley yang berusaha menetralkan gejolak di dadanya. Virgo menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya.

"Aku tidak tahu..tapi seingatku, bila kau ingin memanggilnya..sebut seribu wajah dan gores telapak tanganmu. Teteskan darahmu dan dia akan datang. Bila kau tak ingin ia merefleksikan seseorang di pikiranmu, jangan memikirkan siapapun. Pikirkan saja wajahnya yang rata." Ucap Virgo asal lalu menggulung papan bundanya.

Virgo berjalan menjauh dan meninggalkan Ashley yang terdiam sejenak lalu memfokuskan pikirannya pada pasukan yang sedang berbaris dan siap untuk bertempur kapan saja.

Ia memejamkan matanya dan berdoa sejenak. Ia membuka matanya dan menghela nafas. Sangjin mendekatinya.

"Ready to go?" Ashley tersenyum. Ia mengangguk dan ikut berjalan bersama Sangjin.

"Persiapkan segalanya! Kita akan mulai berangkat sekarang!" Dewa Ares memimpin dan menyemangati pasukan yang lebih dari ratusan itu. Ashley menggenggam kalung pemberian dari Dewa Ares.

Ashley menatap langit. Gerhana sudah mulai akan terjadi. Ia harus kuat.

Karena perang sudah ada didepan mata.

.

.

.

TBC

Akhirnya melanggar janji -_-

Btw, ini Rai selesaikan hari ini banget, loh (tanggal 21 maret. Jam 19:09)

Anggap aja ini hadiah kecil karena Rai akan mulai UAS hari senin U,U hope Allah with me.

Sudah lumayan panjang, kah? Hehehe…kayaknya harus mulai ngontrol imajinasi, karena kalau kelepasan bakal lebih dari batas yang sudah Rai tetapkan :v kan gak enak kalau baca fict terlalu panjang, nanti Rai gak bisa ngerjain dikit readersnya :v #digampar

Mohon doanya untuk UAS ini, ya!

Sign,

Raichi