Title : Wolf

Author : Raichi KrisTaoKaiSoo Fujoshi

Rated : M

Pairing : All Couple EXO *Only Official couple, not Crack pair*

Genre : Romance, mystery, Supranatural, Fantasy

DISC : para cast hanyalah milik tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.

Summary : 4 sekawan yang pergi ke sebuah kota kecil di dekat pegunungan yang ada di Amerika dengan tujuan untuk berlibur di vila dekat pegunungan milik Xi Luhan. Kejadian aneh mereka temukan di kota kecil yang berada dekat dengan villa milik Luhan. 'Berhati-hatilah, bila melihat bulan Purnama dan mendengar lolongan Serigala.' IT'S YAOI! TAORIS, KAISOO, BAEKYEOL AND HUNHAN IS HERE!

Let's check it out, Chingudeul and Yeorebeun~!

Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai. Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?

NO FLAME, NO BASH CHARA, NO PLAGIAT, NO SILENT READERS XD

Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^

tolong tetap beri saya review anda *bow*

.

.

Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.

.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

I TOLD YOU BEFORE!

.

.

IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!

Sekali lagi, fict ini hanya fiksi. Asli karangan. Kalau mau flame karena khayalan Rai, I don't care. I've warned you ^^

Kai menatap dirinya didepan cermin. Hembusan nafasnya nampak sekali kalau dia berusaha menenangkan dirinya. Ingatannya memutar bagai film, memutarkan rencananya dengan Kris. Matanya memejam, berusaha membayangkan keindahan bila mereka tinggal di Eil, melupakan segalanya lalu gelap. Ada apa? Kenapa gelap?

"Kai…" Kai membuka matanya kaget dan menoleh. Ia mendapati pria manis yang sudah menjadi miliknya. Kyungsoo. Senyum dari bibir berbentuk hati itu membuatnya mengutuk dirinya sendiri.

Betapa jahatnya dia sudah menandai secara paksa pria ini. Pria yang kemarin entah mengapa membuat dadanya berdebar dan meletup-letup seperti letupan kembang api. Memberikan kehangatan hingga menembus dadanya.

Kai tidak mau pergi ke Eil! Dia ingin bersama pria ini! Dia ingin bersamanya, saling berbagi kehangatan dan kasih sayang. Biar saja kalau Kris ingin pergi, Kai tidak mau! Karena pria ini berhasil membuatnya lebih hangat, lebih dari Mom dan Daddy…

Kai langsung memeluk pria ini. Membuat Kyungsoo kaget karena mendapatkan pelukan mendadak. Mata Biru eksotis Kai ditutupi oleh kelopak matanya. Matanya memejam sejenak lalu membuka. Sial, bagaimana caranya agar debaran menyakitkan ini bisa dirasakan oleh pria ini?

Sihir apa Kyungsoo? Kau seolah menyihir sosok Kai agar terus mencintainya melebihi apapun.

"Hey, ada apa Kai?" bisikan Kyungsoo menanyainya. Membuatnya semakin mengutuk jahat dirinya.

"Aku mencintaimu seperti diamnya matahari menyinari bumi…aku tak mau pergi ke Eil..aku ingin bersamamu, aku akan perang..aku tak mau menjauh darimu. Aku takut kehilanganmu, cukup kehilangan Mom dan Dad… jangan kau, Kyungsoo…" Kai seolah meracau. Kyungsoo kaget dan tersenyum. Tangan mungilnya membelai punggung Kai yang kelihatannya menahan gemetar.

"Aku mencintaimu seperti bumi yang membutuhkan matahari untuk tetap indah…kuatlah Kai….jangan menangis, kau membuatku terluka…jangan buat aku terluka lebih dari kau melukaiku saat pertama kali…" bisik Kyungsoo lembut. Keduanya terkekeh sejenak. Kai melepaskan pelukannya, Kai mengecup puncak kepala Kyungsoo dan menciumi tiap inci wajah Kyungsoo. Kelopak mata Kyungsoo menutup. Menikmati ketika setiap inci kulit wajahnya mendapatkan kehangatan yang sama dari pria yang entah bagaimana bisa membuatnya jatuh cinta.

Padahal sudah jelas-jelas dia melukai dirinya dan bertindak kurang ajar dengan memperkosanya.

Jemari Kai membelai pipi halus yang sepertinya masih menyimpan lemak bayinya agar tetap indah. Kyungsoo membelai wajah Kai. Hingga membuat mata biru itu melunak. Membuat mata biru itu seolah gemetar dan berusaha menyampaikan kasih sayangnya yang tak bisa diucapkan oleh Kai.

"Aku akan menyelesaikan perang ini…dan melepaskan diriku dari saudaraku…aku tak akan pergi kemanapun, aku akan ikut kemanapun kau pergi. Diamlah disini sampai perangnya selesai…aku akan menjemput dan…akan hidup denganmu.." ujar Kai mantap dengan senyum yakin diwajahnya. Kyungsoo mengangguk dengan senyum lembut diwajahnya. Kai tersenyum jenaka dan memeluk Kyungsoo erat.

"Bye…aku akan menjemputmu nanti.." bisik Kai lembut. Kai melepaskan pelukannya dan berjalan mundur, menuju pintu hingga akhirnya meninggalkan Kyungsoo diruangan ini. Kyungsoo menatap jemarinya yang terakhir kali menyentuh wajah Kai, dan mengingat bagaimana mata biru nan eksotis itu melunak ketika menatapnya.

Dan tanpa dikomando, setetes air mata jatuh.

.

.

.

Luhan menatap Sehun yang masih menggeliat manja memeluk pinggangnya. Sehun menjadikan paha Luhan sebagai bantal nyaman dan kini menghadapkan wajahnya diperut Luhan dan memeluk erat pinggang Luhan.

Luhan tertawa kecil hingga membuat Sehun meliriknya. Jemari Luhan masih membelai lembut rambut itu. mata emas milik Sehun mengernyit.

"Ada apa? Apa aku sudah membuat lelucon hingga kau tertawa, Hannie?" tanya Sehun heran. Luhan menggeleng.

"Aku hanya merasa lucu sekali….siapa sangka kalau Wolf yang membuatku ketakutan setengah mati saat sampai kesini, Wolf yang membuat kami saling berpisah…Wolf yang sudah berani sekali bertindak asusila padaku..dan Wolf yang membuatku jatuh pada cinta…adalah Wolf manja yang tidak ada bedanya dengan maknae. Dasar payah." Sehun sedikit cemberut mendengarkan penuturan dari Luhan. Apa salahnya ia bermanja, kan?

"Aku bermanja karena sebentar lagi kami akan perang, apa salahnya aku bermanja dengan orang yang sudah mengambil hati dan fokusku pada Daddy dan momku selama ini, hm?" tanya Sehun sambil tersenyum lembut dan membiarkan mata emasnya menembus pikiran Luhan hingga dada Luhan seolah air bah yang menghantam apapun yang ada didepannya. Tangannya membelai wajah Luhan. Wajah Luhan sedikit memanas, dan sudah dipastikan wajahnya memerah.

"Ah! Kau menyebalkan!"

"Sekarang apa salahku Hannie?!"

"Kau membuatku malu! Dasar anak manja!"

Keduanya saling diam sejenak, lalu saling tersenyum bahkan tertawa kecil. Menertawakan kebodohan mereka berdua. Sehun duduk dan menghadap Luhan , ia tersenyum menatap wajah Luhan yang memiliki ekspresi lembut dan cantik hingga kadang Sehun heran apakah Luhan sebenarnya lelaki atau bukan. Wajahnya mendekati Luhan dan memberikan sebuah kecupan hangat dibibir Luhan. Setelah itu, kecupan itu berpindah pada pipi Luhan dan bibir tipis Sehun akhirnya mendekati telinga Luhan.

"Aku mencintaimu…Luhan…" bisik Sehun lembut. Luhan memejamkan matanya dan meresapi tiap kalimat yang masuk ke pendengarannya. Membiarkan tubuhnya hangat dan membuat pikirannya mabuk oleh kata-kata itu. Sehun memeluk erat tubuh Luhan. Luhan melingkarkan tangannya pada leher Sehun dan kembali merasakan debaran itu.

"Aku juga…sangat menyayangimu..Sehunna…" bisik Luhan ditelinga Sehun. Sehun memejamkan matanya, perasaaan ini terlalu hangat.

"Apa aku pantas mendapatkan kasih sayangmu, Luhan..?" Sehun bertanya dengan nada lemah ditelinga Luhan. Luhan mengangguk namun matanya terus terpejam.

"Ya…kau terlalu pantas untuk mendapatkannya, dasar Wolf manja…"

Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang lama. Sehun masih memeluk pinggang ramping milik Luhan.

"Aku akan pergi sebentar lagi. Tunggulah disini…jangan pergi kemanapun, tunggu aku menjemputmu. Aku ingin membuatmu bahagia setelah perang ini berakhir…"

Sehun bangkit dan pergi menuju pintu. Meninggalkan Luhan ditempat tidur.

Dan ada apa ini? Kenapa ia merasa..tak lengkap?

"Sehunna…."

.

.

.

Chanyeol duduk ditepi jendela kamarnya. Mata abu-abu miliknya berpendar sejenak dan menutup. Helaan nafasnya keluar sejenak. Mata Chanyeol terbuka kaget dengan selimut hitamnya yang tiba-tiba menutupinya. Disampingnya ada seorang pria berperawakan mungil dengan mata kecil yang indah. Tersenyum padanya.

"Baekkie…." Panggil Chanyeol dengan senyum lembut miliknya. Chanyeol menarik pinggang ramping Baekhyun lalu membenamkan wajahnya pada perut ratanya. Baekhyun tersenyum.

"Ada apa, Yeol?" tanya Baekhyun lembut sambil membelai rambut Chanyeol. Chanyeol melepaskan benaman wajahnya dari perut ramping itu dan menarik lembut tubuh Baekhyun untuk duduk didalam pelukannya. Baekhyun menurut.

Chanyeol memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Chanyeol bahkan meletakkan dagunya pada bahu Baekhyun. Baekhyun tersenyum. Mata kecilnya menatap pemandangan Forks yang sudah tidak bisa disebut lagi tempat indah untuk ditinggali.

"Kalau saja…aku bisa lebih cepat bertemu denganmu…kalau saja aku bukan makhluk hina…aku pasti bisa bahagia…denganmu.." bisik Chanyeol tepat ditelinga Baekhyun. Baekhyun terdiam mendengarkan ucapan Chanyeol.

"Kenapa-"

"Aku…ingin hidup bersamamu…aku ingin terus mencintaimu…" bisik Chanyeol lembut. Tangan besar Chanyeol menyeruak diantara rambut Baekhyun. Menyebarkan kehangatan yang kentara.

"Aku mencintaimu…" bisik Baekhyun tiba-tiba. Chanyeol diam sejenak lalu tersenyum. Seolah senyum malu ketika kau salju mencair didepan sang mentari.

Chanyeol menyentuh kaca jendela, lalu kaca itu membeku dan membentuk hati. Baekhyun mengikuti ukiran bentuk hati pada kaca yang membeku. Keduanya tersenyum.

"Bagaimana bisa aku siap berperang kalau kau sudah membuatku mati kutu dengan kata cintamu, Baekkkie? Kau selalu membuatku kacau. Dihari pertama kita bertemu. Segalanya menjadi kacau. Aku selalu membayangkan mata kecilmu yang menangis dihutan ketika tersesat. Saat itu, aku sudah merasa kau seperti anak kecil hilang didalam hutan. Dan aku saat itu aku berpikir untuk menjadi pahlawanmu, agar kau selalu bisa dekat denganmu…."

"Chanyeol.."

"I lost my mind…kau membuatku mabuk. Kau membuatku hilang segala fokus. Fokusku pada misi kami berubah. Sihir apa yang kau gunakan padaku? Bagaimana bisa aku jatuh padamu? Kau jahat sekali, Baek…"

"Harusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa bisa aku mencintaimu, huh?"

Lalu keduanya tertawa sejenak. Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan mendudukkannya ke tepian tempat tidur mereka. Chanyeol berlutut didepan Baekhyun. Keduanya tersenyum.

"Kau sangat indah…bagaimana bisa kau mencintai aku yang seperti ini?" tanya Chanyeol heran. Mata abu-abunya seolah berkilat penuh keindahan. Mata itu memantulkan paras Baekhyun. Baekhyun tertunduk malu. Wajahnya merona.

"Sejak kau menolongku..aku…ah sudahlah~!" Baekhyun sepertinya sudah sangat malu. Wajahnya saja merah hingga leher ke telinga. Membuat gelak tawa ringan Chanyeol keluar.

Chanyeol mendekati tanda yang pernah ia ukir di tubuh Baekhyun. Kecupan ringan menyentuh tanda itu, hingga tanda itu bersinar kecil dan sebuah ciuman lembut di puncak kepala Baekhyun. Baekhyun diam dan memejamkan matanya.

"Tunggu aku…" bisik Chanyeol. Ia berdiri dan melangkah keluar.

.

.

.

Kris menatap pantulan dirinya pada cermin. Menatapi matanya. Matanya bersinar kecil. Berpendar lalu kembali normal. Kris memejamkan matanya.

"Ah…perang ya…" bisik Kris.

"Gege, aku menemukan ini..siapa tahu berguna..diluar dingin sekali. Kau bisa membeku…" Kris menoleh dan menemukan sosok Tao yang membawakan sebuah pakaian hangat berwarna hitam miliknya. Kris tersenyum.

"Hn, tapi aku tidak kedinginan, sayang.." Balas Kris singkat. Tao merengut.

"Tapi..diluar…ah sudahlah…" nada suara itu melemah. Kris langsung mendekati Tao dan memeluknya. Tao kaget dan tidak sengaja, wajahnya memerah.

"Hangat, bukan? Aku tidak butuh itu, aku bisa menghangatkan diriku..dan dirimu. Aku tidak butuh itu, tapi aku akan mengenakannya..untukmu." bisik Kris dengan nada sayangnya. Tao tersenyum. Kris membelai rambut Tao.

"Aku..takut…." Kris terdiam. Suara lemah Tao sukses menyayat perasaannya.

"Kenapa…? Kau aman disini, aku akan membunuh King…aku akan menyelamatkanmu. Kau dan teman-temanmu hanya perlu untuk diam disini dan menunggu kami. Perang itu tidak lama, Peach…"

"Apa kau bisa jamin keselamatanmu?!" Kris diam.

"Apa kau bisa jamin akan kembali ke sini?! King itu kuat, aku yakin kau akan susah melawannya! Bisa jadi dia punya rencana lain, Kris!" Kris terdiam sejenak. Tangannya menggenggam bahu Tao.

"Aku..aku sudah memperkirakannya…"

"Maksudmu?"

"King sangat perhitungan, tidak mungkin ia tidak melakukan sesuatu. Dia pasti punya rencana….tapi..jangan menganggapku remeh, aku sudah menyiapkan banyak rencana dan mempersiapkan banyak kemungkinan yang akan terjadi. Aku tidak lemah, ingat itu." Tao menatap mata itu dan tersenyum sedikit. Keduanya berpelukan.

"Jangan lama-lama, aku tidak mau sendirian disini. Pelayan disini wajahnya terlalu seram. Aku jadi tidak nafsu memakan makanan yang mereka bawa." Lalu keduanya tertawa ringan akibat ucapan Tao.

Kris menatap mata dark choco milik Tao. Mata indah yang sangat polos…sayang dia tak sepolos sebelumnya. Dan semua itu karena Kris. Kris pernah merutuki dirinya sendiri, tapi ia hilang kendali. Ia tak bisa mengontrol dirinya. Kontrol dirinya hilang akibat mabuk oleh sosok manis didepannya.

Kris membelai wajah Tao lembut, Tao menangkup wajah Kris. Keduanya saling tersenyum, bedanya hanya Tao yang merona lembut.

Kris mendekatkan wajahnya dan membiarkan bibir keduanya bertemu. Setruman kecil akibat ciuman lembut itu menjalar ke pemilik tubuh masing-masing. Tidak lama, itu hanya sebuah ciuman ringan. Kris mengenakan pakaian hangat yang diberikannya dari Tao.

"Tunggulah…aku akan kembali, Peach.." Dan Kris berbalik lalu meninggalkan Tao diruangannya.

Tao menyentuh bibirnya dan merona kembali.

.

.

.

Suho nampak tengah tiduran ditempat tidur dengan nafas terengah-engah. Sepertinya dia kelelahan akibat susah sekali mendapatkan sebuah ciuman ringan dari Lay.

Ya, pria manis dengan dimple itu susah sekali ditaklukan. Dari awal mereka bertemu, dari awal ketika aroma keduanya bercampur, hingga kini.

Sebutan wajah tua, menyebalkan, dan makian lainnya sudah melekat pada Suho. Tapi sebenarnya, Suho hanya sedikit mengalah. Well, tidak mengalah 100%. Lay memang pada dasarnya kuat.

"Hah! Kau kalah, wajah tua menyebalkan! Kau tidak akan bisa mendapatkan ciuman dariku, catat itu!" Lay juga sepertinya sama saja. Dia terengah-engah kelelahan di ujung tempat tidur.

Suho diam menatap langit-langit.

"Apa kau tahu aku akan berperang?" Suho bertanya tanpa menatap Lay. Lay diam dan tidak menjawab. "Apa kau tahu…kalau aku membutuhkanmu..?" tanya Suho kembali. Lay semakin bungkam.

"Maksud-"

"Aku hanya membutuhkan sedikit penenang darimu, Zhang Yi Xing..!" Suho duduk dan menatap Lay. Lay kaget dan sudah was-was. Suho melunak kembali. Ia menghela nafas.

Suho menatap jendela kamarnya. Suho memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Ia tersenyum.

"Sebelum aku pergi…aku ingin menyampaikan sesuatu…."

Lay diam menanti Suho untuk melanjutkan ucapannya. Suho tetap memasang senyuman lembutnya.

"Aku memang kasar ketika kita pertama kali bertemu, maafkan aku sudah melakukan tindakan asusila padamu. Aku benar-benar minta maaf…tapi setelah aku pertanyakan semuanya, alasannya hanya satu, aku menyukai bahkan mencintaimu. Ingat ketika kau memainkan biola untuk mengacaukan kami hingga kami mundur? Aku tidak ingin mundur. Aku ingin sekali membiarkan diriku hancur asal itu untukmu. Aku ingin membiarkan kekuatanku rusak asal terus menatap imagemu yang lembut ketika memainkan biola….sejak hari itu, aku sadar aku jatuh pada pesonamu…"

Lay menatap tidak percaya ketika Suho menceritakan secara gamblang seperti ini. Suho menarik nafas sedikit lalu melanjutkan kembali.

"Aku menculikmu…karena aku tidak ingin kau disentuh oleh King. Aku mungkin memang tak pantas mendapatkannya…tapi asal kau tahu…aku mencintaimu…lebih dari yang kau kira. Jagalah dirimu….aku berpesan, bila dalam kurun waktu 2 jam kami belum kembali…kau akan menemukan Luhan bila kau keluar kamar ini diam-diam..belok kiri dan lurus. Ada kamar dengan pintu berbentuk pusaran angin…buka saja. Setelah itu kau akan melihat kamar-kamar yang lainnya dengan symbol disana, teman-temanmu ada disetiap kamar …. Kalau sudah terkumpul semua…kaburlah keluar. Aku memperkirakan, tempat persembunyian Ashley bersama Mom dan Daddy tak jauh…ada di sebuah gua. Tempat untuk keluar dari istana Kris adalah sebuah lorong kecil…" Suho tersenyum. Ia mengambil secarik kertas dan membentuk burung kecil.

"Bila kau ingin pergi kemanapun, sebutlah lalu tiap burung ini. Ia akan mengantarkanmu ketempat manapun yang kau inginkan…aku…pergi dulu." Suho meletakkan burung kertas itu di tengah tempat tidur dan melangkah menuju pintunya.

"Ck…" Lay bangkit dan berlari mengejar Suho. Suho berbalik dan tanpa persiapan langsung mendapat pelukan dari Lay.

Suho tersenyum sejenak lalu memeluk erat pinggang ramping Lay. Lay memeluk erat leher Suho. Mungkin memang, Lay tipe yang tidak mau jujur dengan perasaannya, tapi itu bukan berarti ia tidak mau mencintai. Ia sangat mencintai sosok didepannya ini. Tapi juga benci karena dia sudah melakukan tindakan tidak senonoh padanya, dan parahnya itu malah membuatnya jatuh cinta pada pria ini.

"Aku sangat mencintaimu…" bisik Suho.

"Aku tahu..kalau kau memang kau tidak bohong, kembali dengan keadaan selamat padaku. Dasar wajah tua…" Suho tersenyum lalu mengecup puncak kepala Lay. Membiarkan wajah lembut Lay merona kembali. Suho mengecup bibir itu lembut, tak lama. Itu hanya sebuah kecupan ringan.

"Tunggulah.." Suho tersenyum lalu pergi dari hadapan Lay. Dan entah kenapa..terasa sakit sekali.

.

.

.

Disebuah ruangan, terlihat sosok beberapa pria yang berkumpul.

"Ah…dia lambat sekali.."

"Kau mengatakan itu padaku? Jelas-jelas kau sudah merasakan auraku." Pria yang bernama Sehun tadi menyeringai kecil mendengar suara saudaranya, sekaligus yang memimpin misi mereka, Kris.

Mereka semua sudah berkumpul.

"Aku sudah memutuskan sebuah keputusan baru.." Semuanya diam menyimak "Kita akan menghancurkan King..dan…anggap saja kita tidak akan pernah pergi ke Eil." Ucap Kris sambil menyeringai. Semua saudaranya tersenyum kecil.

"Sepertinya kita harus cepat, King akan bersiap." Ujar Chanyeol dengan mata abu-abunya yang masih bersinar tajam. Mata mereka semua secara serentak berpendar lembut.

"Show time..~" Kai menyeringai mengikuti perginya saudara-saudaranya. Mereka berjalan menuju keluar ruangan. Chanyeol melirik sejenak kebelakang dan tersenyum.

"Aku akan kembali.." bisiknya lalu mengikuti saudara-saudaranya. Tanpa diketahui, sepasang mata menatap dikejauhan.

Seringai bibir semerah anggu terukir dan pergi menghilang begitu saja seperti asap.

.

.

.

Dewa Ares nampak tengah berdiri paling depan bersama Dewi Athena. Disamping mereka, ada SangJin dan Flau. Ada pula Ashley. Debaran didada Ashley semakin kencang.

Virgo melebarkan mata, ketika gerombolan hitam keluar dibalik kabut tebal.

"Demi Tuhan…"

Dari kejauhan, sosok King terlihat berjalan dengan sebuah kuda hitam yang matanya berwarna merah tanpa pupil. Sosok King menatap datar dan sinis. Dibelakangnya, ada gerombolan Wolf dan pasukan Jaejoong. Jumlahnya lebih dari ratusan, ah tidak…mungkin lebih dari seribu. Banyak sekali! Tetapi Virgo tidak khawatir, pasukan Ares tak kalah banyak. Ditambah strategi dari Sagitarius pasti akan berhasil.

King tersenyum miring. Matanya melirik langit yang lebih pekat dalam gelap, dan gerhana akan sempurna, hanya butuh hitungan detik.

"Kalian yakin akan menang? Kalian bisa saja kalah.." Jaejoong tersenyum miring. Dewi Athena tersenyum.

"Tidak ada yang tahu kalau belum dicoba, King." Jawabnya. King masih menyeringai.

"Hey, tanpa dimulai, sudah terlihat hasilnya. Kalian kalah jumlah, Athena. Berikan saja Chen dan Xiumin, maka aku jamin ini akan selesai." Jaejoong mengernyit ketika kali ini melihat Ares yang tersenyum.

"Nak, tidak ada yang selesai bila kau mengorbankan yang tidak berdosa disini." Jaejoong menatap tajam. Matanya berubah menjadi hijau tosca, bercahaya tajam dan mengintimidasi. Kris melirik ke atas dan matanya menatap gerhana yang telah sempurna.

Sepasang sayap merah keluar dibalik jubahnya. Wajahnya dikelilingi cahaya dan cahaya itu membentuk topeng dengan lapisan seperti berlian. Matanya menyorot tajam. Dewa Ares bahkan terkejut. Sagitarius sudah mulai menyiapkan panahnya. Hawa kemarahan King sangat terasa, hingga menusuk-nusuk sampai ke dalam tubuh mereka.

Tangan King terkepal ke atas, lalu turun tanpa aba-aba menuju mereka.

"RAAAAAAAAAAA….!" Seluruh pasukan King menyerbu ke arah mereka.

"SERAAAAANG…..!" Dewa Ares memekik kencang bersamaan dengan Dewi Athena.

Pertarungan tak dapat di elakkan, Sagitarius mulai mengangkat panahnya setinggi mungkin dan menembakkan ke langit. Dan seketika, satu panah dari Sagitarius berubah menjadi puluhan hujan panah yang sukses memanah banyak pasukan King.

Chris mulai mengeluarkan pedangnya ketika pasukan tengkorak dengan baju zirah emas menyerangnya. Chris berusaha menghindarinya dengan berkelit dan menyerang bagian tengkuk hingga kepala mereka terlepas. Beberapa kali Chris kewalahan karena pasukan yang datang begitu banyak.

Sangjin kerap menebas tubuh pasukan itu hingga hancur. Terima kasih untuk senjatanya yang sudah dilapisi dengan air suci dari Chris, hingga pasukan itu langsung hancur dengan sekali tebas.

Beda pula dengan keduanya, Flau menembak mereka dengan butiran peluru perak yang sudah diberi ukiran sihir.

Pasukan-pasukan terus saling bertarung dan bertarung satu sama lain.

King menatap Dewa Ares yang kini berhadapan dengannya.

"Aku menawarkan kebaikan dengan hanya memberikan saja Chen dan Xiumin padaku, tapi kau malah memilih perang, Ares." Ucap King dengan wajah angkuh. Ares mengeluarkan pedangnya.

"Kau bukan menawarkan kebaikan, kau hanya menawarkan untuk kepentinganmu sendiri."

"Matilah kau, Ares!" King mengeluarkan pedangnya yang berwarna hitam dan hendak menyerang Ares, namun ia jatuh tersungkur ketika sebuah cakaran menyakar lengan bagian kanannya.

Jaejoong membelak dan menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kris dan saudara-saudaranya berdiri membelakangi Dewa Ares.

"Kalian…"

"Maafkan kami, King…tapi kami masih lebih memihak kepada Mom dan Daddy…" ujar Sehun dengan senyum angkuh.

"Kalian berkhianat…"

"Tidak…kami hanya memihak, King." Balas Kai yang menyeringai. Jaejoong menggeram marah. Tangannya terkepal penuh amarah. Hawa marah yang kuat itu sukses membuat Suho membelak kaget.

"Matilah kalian semua…!" King berteriak kencang dan seketika, tubuhnya dikelilingi dengan cahaya merah gelap dan hitam. Kris membelak kaget. Tubuh Jaejoong mengeluarkan sayap besar berwarna merah darah, dan ia mengeluarkan sebuah pisau besar seperti milik dewa Kematian.

"Kris…! Ini bahaya!" pekik Chanyeol memberikan peringatan kepada Kris. Chanyeol langsung mengubah dirinya menjadi serigala besar, bersamaan dengan para saudaranya dan Kris. Kris mengubah dirinya menjadi serigala dan menggeram tajam. Ia tidak pernah menyangka kalau Jaejoong akan memakai kekuatan Lucifer.

Kris mulai melompat dan menyakar di udara, dan cakaran itu berubah menjadi ribuan jarum es yang menyerang King. King melindungi dirinya dengan menutup tubuhnya dengan sayap miliknya. King membuka sayapnya dan melepaskan hempasan angin pada Kris. Kris menghindar dan serangan King mengenai pohon besar hingga hancur menjadi kepingan debu.

"Jangan menggangguku! Kalian bantu saja yang lain! Ini pertempuranku!" Kris memekik. Seluruh saudaranya menatap tidak percaya. Mereka menggeram dan mengikuti ucapan Kris.

"Hah! Kau yakin ingin bertarung denganku seorang diri?! Aku yang memberikan kekuatan padamu, apa kau yakin ingin bertarung denganku?" Jaejoong menyeringai. Kris berubah menjadi sosok biasa miliknya. Bedanya, dia memiliki sepasang sayap naga berwarna hitam kemerahan.

"Cerewet…" Kris menghempaskan bola api pada King. King dengan gesit langsung menghindar. Matanya menatap bola api yang sukses membakar pepohonan dibelakangnya.

"Bersiaplah, Kris."

"Selalu, King..!"

.

.

.

TBC

.

UN SUDAH SELESAI DAN SESUAI JANJI UPDATE! GIMANA SUDAH LUMAYAN PANJANG BELOOONN?! XD #capsjeboldiinjekKing #abaikanLMAO

Well, please review ^^

Kritik diharapkan dengan nada bersahabat.

Sign,

Raichi