WOLF

Author : Raichi KrisTaoKaiSoo Fujoshi

Rated : M

DISC : para cast hanyalah milik Tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.

Summary : 4 sekawan yang pergi ke sebuah kota kecil di dekat pegunungan yang ada di Amerika dengan tujuan untuk berlibur di vila dekat pegunungan milik Xi Luhan. Kejadian aneh mereka temukan di kota kecil yang berada dekat dengan villa milik Luhan. 'Berhati-hatilah, bila melihat bulan Purnama dan mendengar lolongan Serigala.' IT'S YAOI! TAORIS, KAISOO, BAEKYEOL AND HUNHAN IS HERE!

Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai. Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?

Sekali lagi, fict ini hanya fiksi. Asli karangan. Kalau mau flame karena khayalan Rai, I don't care. I've warned you ^^

.

Semua terasa gelap. Tak bisa mendengar apapun. Rasanya begitu menenangkan. Tapi ini ketenangan yang menakutkan. Ini dimana? Kenapa begitu gelap? Kenapa tidak ada suara?

Kelopak mata yang terpejam itu terbuka perlahan. Matanya belum fokus dan kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Nafasnya terengah karena lelah. Seingatnya ia mengikuti Lay, sepatunya terasa berat sekali..lalu ia melihat wanita disampingnya..dan seketika gelap.

Matanya mulai membuka lebar. Otaknya mulai mencerna apa yang terjadi pada dirinya. Dan kesimpulan telah ia dapat. Ia tak berhasil kabur dan diculik oleh gadis dengan bibir sewarna merah anggur. Ia duduk disebuah lingkaran dengan ukiran aneh. Ditengah lingkaran ini, ada gambar tengkorak yang sepertinya dibentuk dengan di ukir.

Ia bersandar pada sebuah bundaran batu dengan ukiran-ukiran dan lambang gagak. Tangannya dirantai ke atas hingga tangannya membentuk huruf V. Ia melihat ke atas, sumber cahaya. Ia membelak tidak percaya.

Bulan ada di atasnya? Bulan dengan cahaya putih kebiruan yang lembut dan terasa membuatnya….nyaman..?

"Aku…masih di istana..?" tanya Tao pada akhirnya. Suaranya sedikit serak, khas seseorang yang baru bangun.

"Kau sudah sadar sepenuhnya, hm?" tanya sebuah suara wanita. Tao menoleh cepat karena cemas. Disampingnya, ia melihat seorang gadis duduk disampingnya. Rambutnya yang ikal kecokelatan gelap dibiarkan terurai. Bibirnya berwarna merah sedikit gelap. Kulitnya putih dan terlihat halus. Gaun berwarna hitam yang ia kenakan membentuk tubuhnya yang sintal dan padat. Jemari tangannya lentik dengan kuku berwarna hitam yang sedikit merah. Matanya berwarna abu-abu.

Sebentar…dia mirip dengan wanita yang..menculik dirinya. Ia tersenyum kecil.

"King agak keterlaluan, harusnya tanganmu sedikit diturunkan. Kau pasti merasa sedikit pegal, kan?" tanya gadis cantik itu. Matanya menatap rantai Tao, dan seketika mata abu-abu miliknya bercahaya sedikit. Rantai itu memanjang dan Tao bisa menurunkan kedua tangannya. Sejujurnya, gadis itu benar. Ia merasa agak pegal.

"Bukankah kau yang menculikku..?" tanya Tao tidak percaya. Gadis itu tersenyum misterius.

"Ya, ternyata kau mengingatku meski mataku sudah berwarna lain, hm?"

"A..apa yang kau inginkan dariku? Apa kau akan membunuhku karena mencoba kabur?"

"Kalau memang aku ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya saat akan menculikmu, manis."

Dia benar sekali.

Tao masih menatap dalam mata gadis itu. Berusaha mencari jawaban. Gadis itu bangkit dan berjalan menjauh dari lingkaran. Matanya berubah menjadi merah. Ia berjalan mengelilingi Tao diluar lingkaran ini.

"Aku tak berselera membunuhmu…karena aku tidak keluar untuk membunuh. Aku hanya ingin mendapatkan satu tujuan…" bisiknya. Dijari manis sebelah kanannya, ada sebuah cincin dengan ruby yang berpendar gelap. Ia menyentuh ruby itu. "Aku…akan mendapatkan guci itu…untuk tujuanku…" desisnya. Desisannya seperti desis ular yang dendam. Ia berjalan dan meninggalkan Tao sendirian.

Tao menunduk. Matanya berusaha ia buat untuk menelan airmatanya, tapi tidak bisa. Ia takut. Betapa sialnya dia. Matanya terpejam, dan sepasang mata yang masuk ke pikirannya sukses menenangkan dirinya dan membuatnya tenang. Pun demikian, ia masih takut.

"Kris-ge…tolong aku…" bisiknya pelan.

Jaejoong terlihat sedang ada disebuah kamar gelap. Dengan sosok tubuh tertidur yang menandakan tak akan bangun. Ia tersenyum. Ingatannya memutar ketika pria yang tidur ini berkorban untuknya.

.

FLASHBACK

.

Sosok seorang lelaki kecil dengan mata musangnya yang tajam nampak tengah bermain rubix dengan serius. Beberapa kali otaknya memutar karena sedikit bingung pada. Yunho adalah nama anak lelaki itu. Tubuhnya sudah terlihat tinggi dari kecil, ini umurnya yang ke-7 tetapi tingginya sudah layaknya anak umur 10 tahun. Ia nampak tengah memainkan rubix di malam gelap dengan udara sejuk ini. Pekarangan belakang yang dipagari dengan tanaman membuatnya tenang. Ia duduk di ayunan.

"Yun, mau cemilan?" ibunya berteriak kecil dari dapur. Yunho menoleh.

"Hm! Bawa saja, Mom!" pekik Yunho. Ia kembali sibuk dengan rubix baru yang ia miliki. "Ah sial, ini bagaimana..?" desisnya. Tak lama, ibunya datang dengan sepiring cemilan. Ibunya tersenyum.

"Rubix berbentuk pyramid itu susah, hm?"

"Hm, cukup sulit…." Ibunya tersenyum. Ia menepuk puncak kepala Yunho.

"Baiklah, ibu harus kembali bekerja. Ayahmu akan mengomel dan akhirnya kabur dan lebih sibuk dengan lukisannya nanti. Habiskan cemilannya, oke? Jangan membuang makanan. Kalau tidak sanggup, masukkan saja ke kulkas." Ibunya mulai berceloteh. Yunho masih sibuk dengan dunianya. Ia hanya mengangguk tidak begitu perduli. Ibu Yunho tersenyum dan masuk kembali ke dalam rumahnya.

Angin malam berhembus lembut. Bintang tak banyak keluar. Lebih banyak menyembunyikan diri dibalik awan lembut malam. Sang bulan bersinar lebih dari biasanya. Udara sangat sejuk.

Yunho diam sejenak. Ia melepaskan fokusnya pada puzzle 3D ditangannya. Matanya menajam.

"Keluarlah, kau tidak akan bisa sembunyi lagi…" desis Yunho. Yunho memiliki perasaan dan insting yang sangat tajam. Itu membantunya untuk mengetahui kondisi sekitarnya.

Termasuk ada sosok tubuh dengan aura tajam dibalakangnya.

Sosok itu berjalan keluar dari persembunyiannya dibalik sebuah pohon besar. Matanya berwarna tosca dan berpendar lembut. Wajahnya lembut dengan pipi yang sedikit chubby. Lemak bayi, sepertinya. Rambutnya berwarna hitam kemerahan. Membingkai wajah lembut dan anggun.

Sepertinya mereka seumuran. Yunho berbalik dan mata musangnya menangkap sosok cantik untuk pertama kali dalam balutan pakaian serba hitam.

"Perasaanmu kuat sekali…kau ini sebenarnya apa?" tanya anak kecil seumuran dihadapannya ini. Yunho sedikit tersentak. Anak seumurannya ini auranya sangat kuat. Tapi meski auranya tajam, ada kelembutan yang ditawarkan olehnya.

"Kau ini..apa..?" tanya Yunho langsung. Matanya memancarkan sinar penasaran dan kaget, tapi tidak ada ketakutan di sinar matanya. Bocah lelaki ini sedikit tertawa kecil. Ia berjalan dan duduk disamping Yunho.

"Aku adalah Iblis. Pangeran keturunan dari sang Raja dan pewaris di kerajaanku. Kau bisa panggil aku Jaejoong," Ia tersenyum kecil. Yunho mengangguk mengerti. Jaejoong menatap Yunho. "Siapa namamu? Bagaimana bisa kau merasakan auraku?" tambahnya lagi. Jujur Jaejoong akui, dia heran dengan bocah seumurannya ini. Dia tak ketakutan ataupun kaget ketika ia mengatakan bahwa dirinya adalah iblis.

"Aku Yunho. Anak dari kedua orangtuaku. Aku tidak tahu, tapi mereka bilang aku ini punya bakat khusus pemberian dari Tuhan. Sang Bijak penguasa tunggal alam semesta!" Yunho diam sejenak dengan cengirannya. Ia kembali melanjutkan, "Oh, aku kira Iblis itu menyeramkan. Tapi kau sangat manis menurutku!" Yunho terlalu polos! Lihatlah bagaimana ia membuat bocah didepannya sedikit memerah.

"Dasar manusia polos!" dan satu jitakan berhasil ia rasakan dari Jaejoong.

.

.

Kedekatan Jaejoong dan Yunho sudah melampaui batas. Yunho dengan segala perasaan, dan kejeniusan otaknya yang menumpul buta oleh perasaannya pada Jaejoong.

Keduanya tengah menikmati pemandangan air terjun ditengah hutan. Jaejoong tersenyum menatap tangannya yang ada digenggaman tangan Yunho. Jaejoong kecil untuk pertama kalinya bisa merasakan senyum sehangat ini secara terus menerus.

"Apa cita-citamu, Boo?"

"Aku…ingin..menjadi raja yang hebat untuk rakyatku…dan..uhm…aku ingin berkeluarga dengan Yunho!" ucapan khas bocah polos. Yunho terkekeh kecil.

"Kalau begitu, saat dewasa ayo kita menikah!" Yunho berujar semangat. Jaejoong diam. Bingung, khawatir, sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Perubahan ekspresi yang akhirnya membuat Yunho bungkam.

"Tidak bisa…" Jaejoong menggeleng pelan. Sinar dari matanya redup seolah gairahnya hilang ditelan dengan hawa dingin sekitar. Bocah didepannya kaget luar biasa. Ia seolah ingin meneriaki Jaejoong.

"Eh? Kenapa?! Apa Boo sudah menyukai orang lain?!"

"Bukan..! aku sangat menyukai Yunnie!" Gila bocah didepannya ini! Bagaimana mungkin ia menyukai orang lain?! Yunho sudah sukses menjadi cinta pertama Jaejoong. Dia bukan manusia yang jarang setia. Ia bahkan sangat setia. Kesetiaan cintanya bahkan membuatnya takut.

Pasalnya, iblis tidak pernah mencintai dan memiliki kesetian pada pasangannya. Bahkan, raja yang adalah ayah dari Jaejoong sangat suka bermain dengan gadis-gadis cantik. Ibunya juga begitu.

"Lalu?!"

Jaejoong diam sejenak. Mata toscanya berubah menjadi warna abu-abu lembut. Matanya sendu. Ia menatap langit. Tak berani menatap mata manusia yang terlampau jujur.

"Kita berbeda, Yun..kau manusia..aku iblis..kita tidak akan bisa bersatu..sang Bijak tak mungkin mengizinkan…aku tidak mungkin jadi manusia. Kaumku akan membunuhku..Karena aku pewaris tunggal..tidak mungkin aku tidak mewarisi kaumku nanti.."

Yunho kecil saat itu diam sejenak. Ia menunduk. Tidak menyangka cinta pertamanya bisa sesakit ini. Ia mengangkat kepalanya dan refleks memeluk Jaejoong. Jaejoong kaget bukan kepalang. Matanya membelak dan seketika berubah warna menjadi hitam gelap. Terlihat sangat manusiawi.

"Kalau begitu, buat aku menjadi iblis sepertimu! Aku tidak masalah menjadi iblis asal bisa terus bersamamu!" Jaejoong menggeleng kaget mendengar penuturan Yunho. Ia seolah akan menangis.

"Tidak Yun…terlalu beresiko..kau..harusnya terus menjadi manusia…menikah dengan sesama manusia dan hidup bahagia. Bukan dengan iblis di Neraka."

"Aku tidak perduli," Jaejoong menatap tidak percaya pada jawaban dihadapannya. Bocah ini..pikirannya sudah seperti orang dewasa..well, dia juga sama saja sebenarnya. "Aku tidak perduli meski harus menghadapi banyak resiko. Asal bisa hidup dengan Jaejoong, aku sudah cukup senang..lagipula, ibuku bilang..selama bisa saling mengasihi, kita bukan iblis. Artinya kita adalah makhluk penuh kasih sayang!" Ujar Yunho tegas. Jaejoong menangis dan memeluk tubuh Yunho. Yunho tersenyum menenangkan.

.

.

END OF FLASHBACK

.

Semenjak perubahan Yunho yang berubah menjadi iblis, ia diusir oleh keluarganya. Dan semenjak itulah, Yunho lebih banyak meluangkan waktunya bersama Jaejoong. Hingga hari dimana Yunho tertidur. Dendam, amarah, kebencian yang lebih pekat dari tinta ada pada diri Jaejoong.

Dan ujiannya adalah, sang Bijak memperlancar dirinya. Dia menemukan Wolf dan memberikan kekuatan pada mereka. Kebenciannya sedikit terlampiaskan dengan kabar meninggal kedua orangtua Yunho. Namun sial, Yunho belum bangun dan membuatnya lebih memutar otak. Hingga datangnya manusia-manusia sialan yang meminta bantuan dengan para Dewa-Dewi dan Zodiac. Ditambah lagi, kekuatan utama Wolf, yang tidak bisa Jaejoong terka sekuat apa, mengkhianatinya.

Sejujurnya, ia dulu pernah mendapatkan ramalan dari seorang tua. Seorang peramal tua, ia adalah manusia. Mengikat dirinya dengan perjanjian nyawa di atas kertas dan ditanda tangani dengan nyawa dan darahnya. Ia menjadi peramal. Seorang tua itu sudah meramalkan tentang tidurnya Yunho, tentang perang dan penghianatan bawahan Jaejoong. Tapi dasar Jaejoong, ia tidak pernah percaya ramalan dari manusia. Gengsinya tinggi untuk percaya ramalan seorang tua. Apalagi, ia manusia. Bahkan seumur hidupnya, ia hanya percaya pada satu manusia. Yunho.

Tapi kini, ia tidak akan lemah. Ia tidak perduli apapun atau siapapun yang akan dia lawan. Asalkan untuk Yunho agar bangun, ia tidak masalah mengorbankan segalanya.

Ia menyeringai melihat tubuhnya didepan cermin dengan kepala gagak diatas cerminnya. Cermin berbentuk oval yang memperlihatkan keseluruhan tubuhnya.

Ditangan kanannya, ada semacam pelindung yang melindungi tangannya dan membentuk cakar berwarna hitam dijemarinya.

"Kris…aku bukan manusia bodoh yang akan melawanmu dengan tangan kosong…" desisnya penuh kebencian. Ia menyeringai dan akhirnya tertawa lepas. Tawa diambang batas kewajaran. Tawa seolah dia akan tahu hasilnya seperti apa.

Ia memejamkan matanya, memfokuskan segalanya. Memperhatikan setiap lekuk kerajaannya, dan…ah ya, Kris sudah dekat..dan sepertinya dia sedang merencanakan untuk membawa apa yang Jaejoong inginkan dari apa yang sudah diberitahu oleh Angelica. Jaejoong mengambil jubahnya dan berjalan menuju ruangan tempat ia menyekap seseorang yang sangat berarti bagi Kris.

Tao.

Angelica nampak berdiri didepan gerbang. Tak jauh, ia bisa melihat Kris. Ia menyeringai. Tapi seringai itu dipenuhi oleh tatapan amarah yang luar biasa.

"Bangsat…berani sekali ia tidak membawa guci itu dan kedua orang itu..keparat sialan…" bisiknya. Ia membuat air wajahnya setenang mungkin, ia menatap lebih tajam dari biasanya. "Pendeta sialan itu yang tak mengatakannya pada Kris…baiklah kalau ia ingin bermain kasar.." bisik Angelica yang bicara pada dirinya sendiri. Ia berbalik dan membiarkan tubuhnya berjalan. Dan menghilang layaknya kepulan asap.

Kris ada didepan istana itu. Matanya berkilat tajam dan membuat pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ia berjalan masuk. Ia mulai harus berhati-hati. Aura tajaman yang dikeluarkan dari King sudah mengantarkan kakinya menuju ruangan tempat Kris dan saudara-saudaranya berlatih. Ia menghirup nafas dalam. Ah, disana ada Tao. Sudah sangat jelas, King ingin mereka bertarung didepan mata Tao.

"Tao..gege datang…" bisiknya tajam yang lebih tepat mendesis. Ia begitu benci dengan perlakuan King. Ia bersumpah akan membunuh King kalau ia menyentuh Tao seujung jari saja.

Sementara itu, ditempat yang Kris tuju. Tao masih menunduk. Ia lelah. Meski memang, Angelica tadi menyuapi dan memberinya minum hingga fisiknya tidak begitu lelah, ia tetap takut. Nyawanya ada di ujung jurang sekarang. Jatuh, ia akan hancur dan mati. Tapi untuk lepas ia tidak bisa. Ia hanya bisa berharap

Tapi, ia sedikit heran. Apa tujuan Angelica bersikap baik padanya? Rantai ikatannya diturunkan hingga tangannya tidak terangkat. Itu berarti, tangannya tidak kesakitan. Ia diberi makan dan minum. Bukankah harusnya kalau Angelica menculiknya untuk sebuah tujuan, ia tidak akan bersikap terlalu baik?

Perbuatan Angelica belum bisa dikatakan baik, tapi untuk ukuran perlakuan pada tahanan seperti Tao, bukankah sudah terlalu istimewa? Ia melirik sekitar. Ia mungkin tidak bisa lepas, tapi ia yakin nanti akan ada pertolongan. Ia yakin, karena seorang pria dengan jubah hitam itu berdiri membelakangi dirinya. Ia tak bergerak, tak bicara, tapi Tao yakin ia sedang mempersiapkan sesuatu. Dan dari perasaannya sekarang…pria didepannya bukan..orang atau sesuatu yang biasa.

Tap…tap..tap..

Tao mendengar suara langkah kaki. Kepalanya bergerak liar mencari sumber suara itu. Matanya membelak kaget. Antara senang, bahagia, kesal dan berdebar menjadi satu. Didepannya, jarak sekitar 15 meter ada seorang pria yang ia tunggu.

Ia berjalan penuh kepastian. Hentakan kakinya tenang tapi penuh kepercayaan diri. Menjadikan kekuatan tersendiri bagi Tao yang hanya mendengarkan langkah kaki Kris.

Kris tak mengenakan pakaian atasan apapun. Hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya dan tato didadanya…nampak berpendar redup.

"Kris-ge.." Tao bersuara pelan. Ia terlalu lemah dan takut untuk mengeluarkan segala suaranya. Pun demikian, suaranya masih dapat didengar oleh Kris.

Kris dan orang itu berdiri berhadapan sekitar 5 meter. Pria yang awalnya menunduk itu, kini melepaskan jubahnya. Memperlihatkan bentuk tubuhnya. Ia juga sama seperti Kris, tak mengenakan pakaian atasan. Keduanya saling menatap, mengintimidasi. Aura intimidasi ini terlalu kental. Tao merasa sedikit sesak hanya karena ada disekitar mereka.

"Kembalikan Tao." Ucapan Kris memang singkat dan terkesan sangat santai, tapi penuh kata penekanan dan ketegasan. Membuat Tao mau tidak mau merasakan debaran paling berisik didadanya. Ia sedikit tenang dengan cara Kris yang mengintimidasi.

Tapi sepertinya, pria didepan dirinya tidak goyah sama sekali dengan intimidasi dari Kris.

Pria itu menoleh kebelakang dan menatap Tao. Matanya berkilat dan itu membuat lantai yang Tao duduki terangkat dan mundur dengan jarak yang cukup jauh, tapi masih bisa menatap keduanya.

"Kau harus menghadapiku dulu, penghianat..!" Desis pria itu.

Kedua mata Kris bersinar. Ia melompat dan berubah menjadi serigala besar. Tangannya langsung terarah menuju Jaejoong dan hendak mencakar. Jaejoong segera menghindar. Jaejoong mendesis. Sepasang taring keluar dari mulutnya.

Ia mengarahkan tinjunya ke arah Kris dan seketika, ribuan jarum kecil menghujam Kris.

"RAAAAAAAAAAAAAAAA…..!" Kris berteriak dan ribuan jarum itu hancur. Kris bangkit dan kembali berubah dalam tubuh manusianya. Tangannya mengepal, dan cahaya merah mulai terbentuk ditangannya hingga membentuk suatu objek. Tak lama, objek itu berubah menjadi sebuah pedang. Jaejoong menyeringai.

"Kau..Wolf penghianat, berani sekali berkhianat denganku!" Jaejoong mengeluarkan sepasang sayap dari balik punggungnya. Sayap mengibas ke arah Kris dengan cepat dan menghantam Kris yang tak sempat membuat pertahanan.

Hantaman angin dari sayap Jaejoong sukses membuat lengannya terluka.

"KRIS-GE…!" Tao menjerit cemas melihat luka-luka ditangan Kris yang mengeluarkan darah. Airmatanya keluar karena panik.

"Cih…kau pangeran yang buta karena cinta..hebat sekali bisa melukaiku.." Desis Kris. Kedua pasang matanya menajam. "Tak akan lama…RASAKAN..!"

Kris langsung melemparkan pedangnya dan sukses terarah ke sayap kiri Jaejoong. Dan mau tak mau membuat dirinya tertancap di dinding. Jaejoong mendesis kesal.

"Brengsek…" bisiknya. Ia tak akan kalah, ia akan membunuh Kris bagaimanapun caranya. Ia berharap, Angelica bisa membawa 2 orang yang sudah menyanyikan lagu untuk Yunho. Bagaimanapun caranya, ia akan menang.

Sepasang mata merah darah menatap dari atas pohon, cara duduknya anggun dan penuh ketenangan. Ia menyeringai. Ia menatap kelelawar kecil ditangannya. Ia meniup kelelawar itu dan seketika, kelelawar itu hilang bagaikan debu yang ditiup angin. Seringai di bibir semerah anggurnya tercetak kembali. Ia adalah Angelica. Wanita licik dan kini bekerja sama dengan Jaejoong.

Meski alasan mengapa ia mau repot membantu Jaejoong tidak begitu jelas, tapi salah satu tujuannya jelas.

Angelica menginginkan guci milik aquarius.

Ia mulai melompat turun dari pohon yang tinggi dan berhenti dengan anggun. Ia melihat jejak di salju. Sepertinya para wolf sudah pergi, kemungkinan ke istana King. Tujuan mereka jelas, pasti ingin membantu Kris. Angelica menatap mulut gua itu, ia meniupkan sedikit uap didepan pintu gua yang nampak gelap dan tak berpenghuni itu. Meski ia tahu, siapa saja yang ada disana.

"Keluarlah, pendeta yang tak menyampaikan pesanku pada Kris…" bisik Angelica dengan seringai kecilnya. Jemari lentik dengan kuku sewarna dengan bibir merah anggurnya menumpu dagunya.

Sementara itu, didalam gua mulai ribut. Leo yang awalnya hendak beristirahat sejenak mulai terjaga. Para zodiak mulai berdiskusi. Lain halnya dengan Lay. Ia tengah mempertimbangkan segala aspek, dan akhirnya ia menghela nafas.

"Aku akan keluar. Dia mencariku…" ujar Lay meyakinkan diri sambil berjalan menuju mulut gua. Chris menahan tangan Lay.

"Kau gila?! Kondisimu masih lemah karena memainkan melodi itu! Kau bisa terbunuh!" Chris berteriak. Bukan tanpa alasan ia berteriak cukup kasar pada Lay, ia hanya khawatir dengan teman seperjuangannya ini. Lay tersenyum. Ia melepaskan tangan Chris dengan lembut.

"Tuhan tidak akan membiarkan hambanya tidak terlindung oleh kuasa-Nya, Chris." Dengan ucapan final dari Lay, ia berjalan keluar. Membiarkan setiap pasang mata terpukau dengan ucapannya.

"Baru sekarang aku terpukau hanya gara-gara ucapan manusia…haha.." Dewi Athena terkekeh kecil. Aquarius masih membantunya dengan memberikan air agar luka dan tenaganya pulih.

Sementara itu diluar gua, udara semakin membeku. Membuat setiap pohon mati dan menghitam. Sosok gadis misterius dengan bibir anggur masih tersenyum licik.

Lay mulai berhadapan dengan sosok anggun Angelica, rambut bergelombang dengan warna cokelat gelapnya tertiup angin. Suasana cukup dingin, tapi Angelica menggunakan pakaian yang tipis dan terlihat cukup ketat. Buktinya, pakaian itu membentuk tubuh Angelica yang proporsional.

"Kau.. pendeta celaka, tidak menyampaikan pesanku pada Kris. Harusnya kau tahu, kau harus menyerahkan guci milik Aquarius dan kedua pria yang menyanyikan lagu untuk wolf. Kau punya ingatan yang jelek atau bagaimana, hm?" Lay tersenyum mendengar pertanyaan Angelica.

"Bagaimana mungkin aku memberikan 3 jenis harta sementara harta yang di ambil sebagai ganti hanya satu, Angelica." Angelica terkekeh kecil mendengar jawaban Lay.

"Astaga…ternyata pendeta tidak selamanya punya hati yang bersih. Ya Ampun..~!" Angelica tertawa lalu terhenti. Matanya menatap tajam. "Kurasa…aku tidak bisa meminta baik-baik guci itu…aku tanya sekali lagi padamu, keparat…" Angelica mendesis. Kedua tangannya mengepal. Gumpalan cahaya keunguan berpendar dan akhirnya membentuk trisula kecil di kedua tangannya. "Berikan apa yang aku inginkan, maka tidak akan ada pertarungan disini..kau selamat, aku tak harus membuat rambutku berantakan dan membuat tanganku kotor dengan darahmu." Lay malah tersenyum karena ucapan Angelica. Lay mengeluarkan kedua pedang kecil ditangannya dengan santai. Lay memutar sedikit kedua pedang ditangannya dan langsung menggenggam dengan posisi siap.

"Sepertinya aku memilih untuk bergerak sedikit agar badanku tidak pegal." Angelica mendesis kesal. Angelica langsung berlari kencang dan menyerang Lay, namun Lay dengan cepat menangkis.

"Kalau begitu, tanganku akan kotor dengan darahmu, pendeta dari kuil Himalaya."

"Ayo kita berdansa, Anak keturunan malaikat dengan sayap patah akibat dihukum Tuhan."

Pertarungan tak dapat dielak. Lay berusaha menghindar dan menangkis serangan Angelica. Harus ia akui, Angelica kuat, tapi bukan berarti ia tidak bisa melawan. Hanya saja, perlu diketahui ia sungguh masih kelelahan akibat melodi yang ia mainkan.

"HAHAHA! Kau bahkan hanya bisa mengelak dan menahan seranganku, keparat!" Angelica berteriak kesetanan. Ia terus menyerang Lay dari segela sisi. Kaki ramping Angelica bahkan terus menendang bagian-bagian tubuh Lay. Seperti lengan dan kaki.

Dan Lay yang mulai kewalahan akhirnya secara tak sengaja terkena tebasan trisula Angelica yang tajam. Lengan pakaian sebelah kanannya sobek dan mengeluarkan darah segar.

"Ah sial…" bisik Lay sambil menahan nyeri luar biasa. Angelica melompat mundur. Ia menyeringai. Senyum liciknya tercetak jelas. Lidahnya menjilat trisula miliknya yang terkena darah Lay.

"Kau masih saja sombong..dan oh ya… darahmu manis sekali.." Angelica tersenyum miring.

Didalam gua, semua bisa melihat pertarungan Lay dan Angelica. Chris mendesis murka. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalan tangannya mengeluarkan pendaran cahaya biru gelap.

"Aku tidak bisa berdiam diri! Aku akan membantu Lay!"

Tangannya dicengkram oleh Pisces. Wanita cantik yang digambarkan adalah jelmaan duyung ini menatap kedepan.

"Sebaiknya jangan gegabah. Kalau kau keluar sekarang, artinya kau langsung membuka pintu pelindung gua ini. Kita tidak tahu seperti apa Angelica. Kau bahkan tidak bisa mengukur kelicikan Angelica. Kita semua sedang lemah. Incaran Angelica adalah guci milik Aquarius, bukan Chen dan Xiumin." Pisces memandang pertarungan keduanya yang masih berlangsung.

Semua pasang mata menatapnya tidak percaya. Bahkan Dewa Dewi dan para Zodiak.

"Apa maksudmu, Pisces..?"

Pisces menunduk sedikit. Mata sebiru saumdera miliriknya nampak tidak fokus. Ia duduk dan menghela nafas.

"Mungkin aku harus sedikit melakukan kejujuran. Sejujurnya, aku pernah menanyai sang Bijak karena tidak setuju dengan keputusan sang Bijak yang menghakimi ibu Angelica. Kalian tahu ibunya adalah malaikat yang dihukum. Sang Bijak menghukum ibunya yang dinilai melanggar aturan. Angelica tidak bisa merasakan cinta kasih ibunya secara penuh karena ibunya terus bersedih. Ia merindukan suasana di surga dan langit, suasana ketika ia menundukkan dirinya untuk Tuhan. Guci milik Aquarius mengeluarkan air yang berkhasiat untuk menyembuhkan, bukan begitu?" semuanya masih menunggu kelanjutan Pisces.

"Bila Angelica bisa merebut guci milik Aquarius, ia akan memasukkan airmata seribu malaikat yang dicuri sedikit dari Jaejoong. Angelica akan memberikan air itu untuk ibunya agar sayapnya kembali. Angelica hanya ingin ibunya memiliki sayap dan kembali menjadi malaikat. Angelica sesungguhnya berhati baik, tapi tujuannya membuat dirinya buta. Terkadang, hal jahat didasari oleh kebaikan." Semua terperangah.

"Aku masih tidak mengerti." Chris bersuara. "Kalau memang dia ingin guci dari Aquarius, kenapa ia harus sampai bekerja sama dengan King? Kenapa ia harus menolong King? Aku mengerti ia pernah menyukai King, tapi…bukankah ia bisa melakukannya sendiri? Angelica kuat, aku yakin dia sangat licik. Setahuku, orang licik lebih jenius ketimbang orang kebanyakan. Tidak hanya jenius, tapi kreatif memanfaatkan sekitarnya. Juga kondisi."

Pisces memandang Chris. Ia menunduk sedikit dan menatap Chris kemudian.

"Seingatku…Angelica tak mencintai siapapun. Cintanya pada King murni hanya sekedar main-main dan hanya bertujuan bila menjadi pendamping King, ia akan mendapat keturunan dari King. Ia tidak mencintai King sepenuhnya. Ia hanya mencintai ibunya." Pisces yang menjawab.

"Kenapa kau bisa tahu semua dan tak memberitahu kami, Pisces?" tanya Leo dengan nada wibawa miliknya seperti biasa. Pisces tersenyum sedih.

"Aku tak mungkin menceritakan hal buruk tentang Lily. Malaikat tercantik, temanku yang paling setia dan ibu dari Angelica."

Dan semuanya terdiam. Mata mereka memandang Lay yang masih sigap bertarung dengan Angelica.

Diluar, pertarungan semakin tidak bisa dibendung. Angelica berhasil membuat 3 luka lainnya ditubuh Lay. Ia semakin menyeringai.

"Kau yakin masih bisa melawanku? Kau bisa mati, pendeta. Lebih baik, kau buka gerbang itu, antar Aquarius padaku dan berikan guci itu..!" desis Angelica penuh amarah. Tapi kemudian, yang terdengar hanyalah Lay yang terkekeh. Membuat alis Angelica naik sebelah. "Apa aku melucu, hm?"

"Aku menyadari satu hal disini…" Lay terduduk sebentar. Sial, tenaganya benar-benar sudah tidak bisa diandalkan. Ia terduduk diantara salju. Angelica menatap mata Lay. "Kau selalu mengatakan untuk memberikan guci itu…kau tidak meminta Chen dan Xiumin. Tujuanmu adalah untuk guci itu, hm? Tidak untuk kedua manusia itu..kau ingin memberikan air pengampunan untuk ibumu, Angelica? Karena…setahuku, hanya Pendeta Himalaya, pengikut dari Neraka dan Malaikat yang dihukum Tuhan..yang tahu fungsi lain dari air itu. Hebat. Apa kau sudah punya air mata seribu malaikatnya, hm?" tanya Lay yang langsung menohok ulu hati gadis itu. Angelica diam. Matanya menatap Lay. Emosi yang sulit di artikan terpancar dari wajah anggun gadis itu. Namun, satu kejadian membuat Lay sedikit kaget.

Ia tersenyum kecil.

"Kau..tidak akan mengerti perasaanku..Kau tidak mengerti bagaimana perasaan seorang anak melihat ibunya bersedih dan dilingkupi dengan penyesalan dan kesedihan. Apa salahnya aku sebagai anak berkorban, hm? Tak mungkin bisa aku minta guci itu baik-baik. Karena sepertinya sang Bijak lebih suka melihatku bertarung dengan lumuran darah untuk pengampunan ibuku…" ia menatap ke langit. Ia memejamkan matanya. Terduduk didepan Lay, namun jarak keduanya tak begitu dekat. Matanya menatap Lay dalam. Berusaha menyampaikan emosi. Seolah ia sedang kesakitan.

"Katakan padaku, pendeta… kalau aku membunuh lalu mati, apa yang akan terjadi dengan arwahku. Akankah aku disiksa? Akankah aku menghilang bagai debu?"

Lay menatap Angelica. Ia bisa rasakan kepedihan Angelica.

"Tergantung pada apa yang kau bunuh. Sejatinya, membunuh adalah sebuah dosa besar…tetapi..bila kau membunuh kejahatan, Tuhan ada dipihakmu.." Angelica tersenyum pedih mendengar penuturan Lay.

"Sudah berapa nyawa yang aku buat mati hanya demi kekuatan….apakah aku masih diterima untuk bertobat? Aku mulai melantur..hahaha.." matanya terpejam kearah langit. Tapi airmatanya menetes. "Ibu…"desisnya. Lay mulai menunduk. Lay rasa, Angelica sedang mengalami kepedihan yang teramat dalam.

"Hey…kalau hanya untuk satu guci air pengampunan…aku bisa membantumu mendapatkannya, kurasa aku bisa mendapatkannya untukmu..tapi tidak untuk gucinya…" ujar Lay sambil menggaruk belakang lehernya dan berusaha menghibur Angelica. Angelica menoleh tak percaya.

"Benarkah…?" tanya Angelica tak percaya. Lay mengangguk. Ia berdiri, sedikit terhuyung. Keduanya saling berhadapan sekarang. Lay terkekeh.

"Kekuatanmu boleh juga..hahaha.." Angelica tertawa kecil sambil menggaruk belakang rambutnya yang tak gatal "…Baiklah, tunggu disini. Aku akan bicara dengan Aquarius dan meminta airnya." Lay berbalik dan berjalan menuju mulut gua sambil sedikit terhuyung.

Dan ia tak menyadari, perubahan drastis dari bibir anggur yang tersenyum dan tertawa, berubah menjadi datar, bahkan menyeringai.

"Skultus(1)…"

Dan dengan secepat angin, Angelica melompat dan langsung mengunci pergerakan Lay. Lay yang lemah tak menyadari dan akhirnya terjebak. Di lehernya, trisula kecil itu menempel dekat kulitnya. Tidak cukup kuat untuk menyobek kulit leher Lay, tapi cukup untuk membuatnya merasa risih.

"Jangan pernah percaya lawanmu yang hanya nampak lemah selama beberapa saat Pendeta Himalaya.." bisik Angelica dengan seringainya. "Kau pikir tujuanku hanya untuk membantu ibuku? Tidak..lebih dari itu dan satupun tak akan ada yang tahu.. dan sebagai pendeta baru, sepertinya kau tidak tahu tujuan lainku. Coba kau tanyakan pada Kepala Pendetamu yang sedang tidur, sekarang." bisiknya tepat ditelinga Lay. Lay menatap tajam. Ia sudah termakan mentah-mentah oleh jebakan Angelica. Angelica menatap gua itu.

"AKU YAKIN KALIAN MELIHAT KAMI SEKARANG! KELUAR DAN SERAHKAN GUCI SERTA 2 MANUSIA ITU!" Angelica memekik.

Perlahan, seberkas cahaya menerangi gua itu. Chris keluar bersama para zodiac dan Dewa Dewi.

Aquarius berjalan paling depan. Dengan sebuah guci ditangannya. Angelica menyeringai senang.

"Angelica…anak dari sang malaikat yang dihukum… lepaskanlah Pendeta Lay.." ujar Aquarius dengan nada bicara lembut seperti biasanya. Angelica menatap tajam.

"Aku ingin guci itu..sekarang." Angelica mendesis. Aquarius berjalan mendekati Angelica.

Dan entah kenapa, Angelica merasa tubuhnya bergetar. Aquarius meletakkan guci itu di depan Angelica. Angelica melepaskan Lay dan melemparnya. Seringai tercetak jelas diwajahnya.

"Kalau saja kau berikan guci ini, tidak akan ada darah di salju ini, Aquarius." Ucap Angelica. Aquarius tersenyum.

"Aku tahu…tidak masalah, tapi ingatlah satu hal, Angelica…" semuanya terdiam. "Kau tidak akan bisa menggunakan guci itu dengan hati yang dilingkupi awan gelap…tidak dengan tanganmu yang sudah banyak menumpahkan darah.. justru, kau akan mati ketika membawa guci itu. Guci itu tetap akan kembali padaku." Angelica menatap tajam. Giginya bergemeretak.

"Kau pikir aku percaya?! HAH! Tidak sama sekali." Ia berjalan mundur. Matanya berpendar merah terang dan matanya bahkan membesar dan tajam. Ares membelak. Tangan Angelica mulai terangkat terangkat. Tidak mungkin!

"UTANÉ MEYO(2)…!" seketika, dengan jeritan Angelica, ribuan pasukan gagak dari langit berkoak ganas. Ares membelak. Ia mengangkat tongkat ditangannya dan menghempaskan ke tanah untuk memanggil pasukan-pasukannya.

Ashley menatap takut dan tidak percaya pada apa yang ia lihat. Ia berbalik menuju gua, namun terlambat. Mulut gua ditutupi oleh pasukan-pasukan Angelica. Pasukan Angelica memiliki tubuh setinggi pria dewasa, dengan kepala burung gagak yang bagian kepalanya ditutupi semacam helm baja dengan warna kuning gelap dan ukiran rumit yang tak diketahui apa artinya. Memiliki sepasang sayap hitam dipunggungnya. Matanya merah dan membawa pedang tajam dengan banyak noda darah dipedangnya.

Angelica menyeringai dan pergi dari sana dengan membawa guci Aquarius.

"Lari! Athena, bawa mereka semua lari!" Leo mulai memerintah. Aquarius mulai khawatir. Ia tak bisa bertempur, ia terlahir untuk kedamaian, bukan pertumpahan darah. Tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Cencer dan segera lari.

Athena menghentakkan kakinya ke tanah dan sebuah kereta besar berbentuk lonjong keluar. Kereta berwarna emas mengkilat dengan ukiran rumit. 2 ekor kuda besar juga keluar bersamaan dengan kereta itu. Pasukan Ares menghalau semua musuh yang berniat menghentikan mereka untuk kabur. Chen dan Xiumin yang didesak naik duluan. Didalam Kereta itu hanya ada Aquarius, Gemini, Virgo, Athena, Chen, Xiumin, Ashley, Chris dan Lay.

Setelah semua naik, Athena segera menaiki kursi kemudi dan mulai memecut 2 ekor kuda itu. Dengan sekali pecutan, kuda-kuda Athena mulai berlari kencang dan menghancurkan semua pasukan Angelica.

Kereta itu mulai menjauh dari tempat awal mereka bersembunyi. Athena mendesis kesal, tidak menyangka kalau Angelica membawa pasukan.

"KOOAAKK!" Athena kaget. Ia melihat ke atas dan menemukan seekor pasukan Angelica. Sial, dia tidak bisa menyerang karena membawa kereta itu. Lay sedang kesakitan karena tubuhnya banyak kekurangan darah. Chris juga sedang kelelahan. Sangjin dan Flau sedang menolong Leo bertempur. Athena dengan ganas memecut kuda itu agar semakin cepat.

"KOAKKK!"

"KYAAAAAAAAA….!" Gagak itu menukik dan dengan cepat mengangkat tubuh Ashley. Ashley yang terangkat mulai menjerit ketakutan. Virgo dengan gesit langsung memeluk tubuh Ashley. Hingga keduanya terangkat dan dibawa oleh tentara gagak itu.

"VIRGOO….!" Gemini berteriak cemas. Athena merutuki dirinya karena tak bisa menolong Ashley.

Virgo mulai panik karena kini keduanya berada diatas lebatnya hutan dan tebalnya salju. Sial!

"ASHLEY! TAHAN SEDIKIT, PENDARATAN MUNGKIN TIDAK AKAN MULUS!"

"APA MAKSUDMU?!" Virgo tetap diam dan berusaha fokus. Gadis berambut hitam dengan mata biru itu langsung mengambil pisau kecil yang selalu ia bawa dan dengan sekali tebasan, ia langsung menebas tangan tentara itu hingga berdarah. Dengan tangan yang terluka, tentara itu langsung melepaskan tubuh keduanya hingga akhirnya keduanya jatuh tepat di atas rerimbunan hutan dan tebalnya salju.

Dan seketika, dunia gelap yang keduanya rasakan.

Kris dan King nampak kelelahan. Tak ada satupun dari keduanya mau mengalah. Tubuh keduanya pun juga sudah banyak luka memar, banyak sobekan kulit yang mengeluarkan darah juga banyak sekali duri-duri yang menempel ke tubuh keduanya. Kris berdiri, tapi tak lama ia kembali terduduk lagi. sial, kekuatannya benar-benar terkuras. Dimana saudara-saudaranya? Bukankah harusnya mereka datang dan meminjamkan kekuatan mereka untuknya.

"Kau…kau berharap saudara-saudaramu datang? Lupakanlah…karena mereka aku tahan dengan pasukan-pasukanku…setidaknya, mereka akan kesini setelah melihatmu tergeletak tak bernyawa.." Kris menyeringai. Ia berusaha berdiri dengan membawa pedangnya. Ia mendekati Kris yang benar-benar sangat kelelahan.

Dikejauhan, Tao mulai panik. Ia berusaha melepaskan diri namun tak berhasil. King mulai mengangkat pedangnya ketika berada didepan Kris.

"Kris…kembalilah ke Neraka.." bisik King dengan wajah tanpa ekspresi. Ia mengangkat pedangnya dan mulai mengayunkan pedangnya ke kepala Kris.

TRANG..!

King membelak kaget. Pedangnya terlempar. "AP-"

DUAK..!

King terlempar dan kembali mengeluarkan darah dimulutnya. Ia membelak kaget, tak percaya melihat pemandangan didepannya.

"Kalian terlambat, dasar saudara sialan.."

Sosok pria dengan mata abu-abu menyeringai.

"Maaf Kris, kami harus sedikit dibuat pusing dengan banyaknya pasukan yang datang…"

"Kami akan segera bersatu dan memasukkan kekuatan kami ke tubuhmu, Kris.." ujar Suho dengan senyum kecil. Kris dibantu berdiri oleh Kai dan Sehun.

"Apa kau benar-benar mengatur kekuatan kami? Berdiri saja sudah harus dibantu." Sehun mulai berceloteh dengan seringai kecilnya.

"Cerewet. Aku masih kelelahan dan pikiranku tidak bisa fokus karena melihat panda kecilku kesakitan dengan ikatannya disana." Kai menyeringai mendengar penuturan Kris.

"Dasar mesum, apa kau berkhayal macam-macam?" dan jitakan kecil sukses diterima oleh Kai.

"Aku bukan si mesum sepertimu, skultus." Lalu Kai terkekeh kecil. King menatap pemandangan didepannya. Ia terkekeh remeh. Ia bertepuk tangan kecil dan berdiri.

"Hebat, 5 Wolf sudah ada didepanku. Berkhianat dan menyerangku. Hebat sekali, apalagi kau, Chanyeol..pukulanmu boleh juga..kau pasti sudah berlatih keras agar bisa membuat hawamu tidak dirasakan olehku, hn?" Chanyeol menyeringai menatap King yang berucap sinis padanya.

"Ah ya..tidak juga…aku hanya mengembangkan kemampuanku…" Chanyeol memberikan senyum remeh. Mata abu-abu gelapnya berkilat menatap Jaejoong.

Diam dalam waktu yang cukup lama, King yang masih menunduk langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya ditutupi oleh topeng yang terbuat dari berlian. Semuanya kaget. Tubuh King yang awalnya dipenuhi luka kini secara tiba-tiba menghilang. Matanya berwarna tosca terang dan kumpulan cahaya hijau memadat ditangan King. Membentuk sebuah pedang samurai dengan ukiran-ukiran yang sulit dimengerti.

"Kalian pikir, kalian bisa mengalahkanku yang mewarisi Neraka? Lupakan!"

Dan pertempuran kembali terjadi. Chanyeol dan Suho langsung menangkis dan terus melawan. Sehun dan Kai langsung dengan sigap membantu memulihkan kondisi Kris. Kekuatan yang akan dipikul Kris cukup berat, karena ia akan menerima kekuatan penuh dari saudara-saudaranya. Kalau ia tak dalam kondisi setidaknya cukup kuat, ia justru akan mati. Sehun sedikit terengah, ia tidak cukup pandai memulihkan kondisi Kris. Kris memiliki topangan tubuh lebih besar dari saudara-saudaranya, otomatis, Sehun harus hati-hati kalau tak ingin kondisinya yang melemah.

Kris menahan tangan Kai dan Sehun. Kulit Kris yang awalnya banyak luka sobek dan memar kini mulai pulih. Wajah Kris bahkan mulai nampak segar.

"Aku sudah lebih baik. Sekarang, bersatulah.." bisik Kris tenang. Sehun dan Kai mengangguk. Keduanya mulai memejamkan mata. Tubuh Kai dan Sehun mulai dipenuhi oleh cahaya dan tubuh keduanya yang berbalut cahaya mulai masuk ke dalam tubuh Kris. Kris memejam sedikit karena merasakan kekuatan yang ia pikul terasa sangat besar. Suho mulai melirik. Ia langsung menghempaskan tubuh Jaejoong. Ia berlari ke tubuh Kris, tubuhnya dilingkupi cahaya kebiruan. Dan dengan seketika, tubuh Suho masuk ke tubuh Kris.

Chanyeol melirik. Ia segera melemparkan sebuah tombak dari tangannya dan menahan pergerakan tangan King karena tombak itu tertancap sempurna. Chanyeol langsung melingkupi tubuhnya dengan cahaya dan langsung berlari ke tubuh Kris. Tubuhnya masuk kedalam tubuh Kris.

Seketika, ruangan itu dilingkupi oleh cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. King bahkan menutup matanya agar cahaya putih itu tak merusak pandangannya. Begitu pula dengan Tao. Tao memejamkan matanya. Lama cahaya itu memenuhi ruangan itu, hingga dirasa cahaya itu mulai memudar.

Tao membuka matanya dan kini, ia terpukau pada sosok Kris.

Mata Kris berwarna ungu kemerahan dan nampak berpendar redup, tubuhnya nampak lebih kuat, tato ditubuhnya berpendar dan dipunggungnya ada sepasang sayap naga berwarna hitam kemerahan dan ukurannya cukup besar. Di kepala Kris, ada sepasang tanduk berwarna merah kehitaman. Kris nampak memiliki taring kecil dan wajahnya nampak lebih tenang.

Ditangan kanannya ada semacam cambuk berwarna merah kehitaman dengan ujungnya yang nampak berduri.

"Kris-ge…" Tao bergetar menatap perubahan ditubuh Kris. Kris melirik Tao dan tersenyum kecil. Ia lalu kembali menatap King dan menyeringai.

"Bersiaplah, King.." King menyeringai.

"Kembalilah ke dasar Neraka…" King langsung mengeluarkan pedangnya dan pertempuran hebat kembali terjadi.

Dunia yang awalnya gelap mulai kembali membentuk pepohonan dan salju. Ashley mengerjap dan menoleh pada sekitar. Ia tersesat, tidak tahu dimana. Sepertinya ia jatuh di tumpukan salju tebal, membuat mereka aman, untung saja kaki atau tangan Ashley tidak patah ataupun sobek. Hanya saja, tubuhnya nyeri.

Ia menatap sekitar. Bukankah tadi ia bersama Virgo?!

"Kau sudah bangun?" Ashley menoleh dan menemukan Virgo yang sedang duduk. Ashley mengangguk.

"Kita dimana?" Virgo menggeleng. Ia berdiri dan menatapi langit.

"Kita harus mencari bantuan, Dewi Athena pasti mencemaskan kita! Ayo kita cari!"

"Apa menurutmu kita akan menemukan mereka dengan mudah?" Dan dengan ucapan Virgo, Ashley terdiam. Ia menunduk.

"Tapi…kalau berdiam diri saja…tidak akan menghasilkan apapun."

"Kalau kau ceroboh, kau malah akan membahayakan dirimu sendiri. Aku sedang lemah, tolong mengertilah.." Ashley mengangguk. Ia masih terdiam, memejamkan mata dan mulai berpikir. Seketika, matanya terbuka. Sebuah ide melintas di kepalanya. Tidak ada pilihan selain mencobanya. Ia mendekati Virgo dan langsung merogoh pakaian Virgo.

"HEY! Apa-apaan kau?!"

"Papan bundar! Ya! Kita bisa minta bantuan seribu wajah!" Virgo membelak kaget dengan ide gila Ashley.

"Kau gila? Apa kepalamu terbentur sesuatu? Kau mau mengorbankan nyawamu untuk meminta bantuan padanya?!"

"KALAU BEGITU BANTU AKU MENCARI IDE!" keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Virgo mengambil sesuatu dari belakang pakaiannya dan mengeluarkan sebuah papan bundar yang digulungnya. Ia melemparnya ke pelukan Ashley.

"Aku tidak ingin mencari masalah dengannya, kalau kau butuh bantuanku..genggam saja kalung pemberian itu. Kalung itu adalah jimat, seribu wajah akan berpikir ulang untuk membunuhmu. Sebut seribu wajah, dan goreskan luka. Teteskan darahmu sambil memanggilnya. Ia akan datang." Ashley mengangguk yakin. Ia mengambil pisau kecil milik Virgo yang tergeletak tak jauh darinya. Virgo berjalan agak menjauh dari Ashley. Ia duduk bersandar pada sebuah batang pohon dan menonton Ashley.

Ashley mulai membuka papan gulung itu dan memutar penunjuk. Untuk kesekian kalinya, papan itu menunjuk ke makhluk mitologi, Seribu Wajah. Ashley menarik nafas, ia sebenarnya sangat penakut, tapi kalau ia tak melakukannya, ia tak akan tahu hasilnya.

Ashley mulai menggores telapak tangan kirinya. Rasa nyeri akibat luka yang ia torehkan mulai terasa dan sangat menusuk. Tetesan darah segarnya berjatuhan di atas salju. Membuat kristal salju berwarna merah.

"Seribu wajah….Seribu wajah…." Bisik Ashley. Darah itu tetap menetes. Virgo menatapi sekitar. Hawa ini…

Seketika, desiran angin menerbangkan beberapa dedaunan mati. Ashley menatap sekitar. Didepannya, dibalik sebuah pohon mati Ashley dapat melihat sepasang mata mirip kucing berwarna kuning dan hitam. Tubuhnya keluar dibalik pohon itu. Ashley bahkan menahan nafas karena melihat sosok di depannya.

Tubuhnya adalah tubuh Tarantula raksasa dengan warna hitam sedikit cokelat, tetapi kepalanya adalah kepala seorang pria. Matanya berwarna emas dan hitam, mirip mata kucing. Ia tak memiliki hidung dan bibir. Rambutnya berwarna perak platina.

Ashley mulai berpikiran kosong, tak dapat berpikiran jernih, tak dapat membayangkan apapun ketika menatap tubuh Tarantula dengan kepala manusia didepannya. Ia berjalan mendekati Ashley.

"Ah…Kau yang memanggilku ternyata…" Ashley menatap dalam mata emas milik seribu wajah itu. Mata makhluk itu menatap Virgo. "Dan kau, bocah Zodiak..tidak mau berurusan, kah?" Virgo mengangguk lalu membuang wajahnya.

"Seribu wajah..aku.."

"Aku sudah tahu…" tubuhnya kini berhadapan langsung dengan Ashley. Ia menatap dalam mata itu. "Kau berani menatap dalam mataku, tapi aku tak bisa menirukan wajah-wajah karena tak ada satupun yang kau bayangkan…Aku hadir oleh panggilanmu, Nona manis..kau membutuhkan bantuanku. Aku bisa melakukan apapun, tapi aku tak bisa menghidupkan orang mati, aku tak bisa memaju atau memundurkan waktu tanpa izin Tuhan. Aku hanya akan membantu kalau kau berhasil menjawab satu saja pertanyaanku, dan bila aku menambahkan untuk menjadi 2 sampai 3 pertanyaan, kau harus terima. Sanggup?"

Ashley menatap yakin. "Aku siap!"

Tarantula itu berjalan mengitari Ashley. "Apa yang paling jauh dari manusia, Ashley?"

Ashley nampak berpikir. Kepalanya terasa berputar, dan tanpa sengaja, mulutnya terbuka, "Masa lalu.." Virgo mungkin berwajah tenang, tapi ia sebenarnya sedang cemas.

"Bagus…aku tertarik untuk memberikan 1 pertanyaan lagi padamu…Dan apa yang paling dekat dengan kita? Lebih dekat daripada urat nadi…sedekat jantung, tapi ia tak akan hadir sebelum disuruh Tuhan.." Ashley menatap mata makhluk itu dengan wajah yakin.

"Kematian." Virgo menatap tegang karena mendengar jawaban Ashley. Tubuh Tarantula itu bersinar keunguan dan berubah menjadi suatu sosok. Virgo membelak menatap perubahan itu. Apa itu artinya..Ashley..berhasil?

"Ashley…" panggilnya. Ashley menoleh dan menemukan makhluk tadi yang kini berubah menjadi sesosok pria tampan dengan jubah yang menutupi tubuh tegapnya. Ia tinggi dan sangat tampan. Matanya berwarna merah, rambutnya berwarna perak platina, bibirnya tipis dan berhidung mancung. Ia sangat tampan. Ia tersenyum.

"Kau sudah berhasil menjawab pertanyaanku, Nona…sekarang, katakanlah apa yang kau inginkan? Aku akan membantumu..dan ya..panggil saja aku Thusa.."

"Aku…aku hanya ingin semua masalah ini selesai..aku merindukan suasana tanpa kekacauan dan ketakutan ini..bisakah..?" Pemuda dengan nama Thusa ini nampak berpikir.

"Tentu bisa…asal kau berani masuk ke dalam istana King, menemukan kekasih King dan membangunkannya…ia akan menolong kalian."

"Tunggu, bagaimana caranya kami kesana?! Dan bagaimana bisa aku menemukan tempat di sebuah istana?! Aku tidak tahu cara membangunkannya…" Thusa tersenyum misterius. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari jubah yang ia kenakan.

"Ini hanya sebuah kotak musik kecil, aku akan mengantarmu ke depan kamar King, masuklah dan putarlah kotak musik ini. Ia akan bangun…tapi tak akan lama, aku yakin..ikatan cinta Yunho dan Jaejoong akan mengantarkannya menemui Jaejoong." Virgo menyipitkan matanya mendengarkan penjelasan Thusa.

"Musicorum Vita(3)…" Keduanya menoleh pada Virgo. "Bagaimana bisa kau memiliki kotak musik dengan melodi kehidupan?! Hanya pendeta yang memilikinya.. tapi..bukankah itu artinya Yunho hanya akan bangun sepenuhnya kalau Jaejoong-" Thusa menyeringai dan seketika, ia langsung menarik tangan Virgo dan tangan sebelahnya mengganggam tangan Ashley.

Seketika, pandangan Ashley dan Virgo memutih. Tak lama, kaki yang awalnya terasa melayang kembali seperti menginjak bumi.

Virgo membuka mata dan menemukan mereka ada disebuah tempat. Mereka ada didepan sebuah kamar dengan pintu ukiran gagak. Thusa membuka pintu itu dan mendesak pelan keduanya.

"Berusahalah, Nona Ashley.." ujar Thusa. Ia mencium tangan Ashley sembari memberikan kotak musik kecil berwarna hitam dengan ukiran rumit itu. Seketika, Thusa menghilang.

Ashley berbalik dan melihat sebuah tempat tidur ditengah ruangan itu. Virgo mulai bersiap dengan pedang kecilnya. Berjaga kalau sesuatu yang tak diinginkan muncul.

Keduanya berjalan mendekati tempat tidur itu dan menemukan sosok pria yang sedang tertidur dengan nyenyak dan tak bergerak sama sekali. Nafasnya teratur dan wajahnya terlampau tenang. Ashley dengan lembut membuka kotak musik itu dan kotak musik itu mulai mengalunkan melodi lembut dan menenangkan. Virgo menatapi tubuh pria yang tertidur itu. Kelopak matanya mulai membuka dan memperlihatkan iris dengan warna violet yang misterius.

Tubuhnya bangkit dan kaget melihat sosok kedua gadis disampingnya. "Kalian..siapa..?" Virgo berdecak.

"Tidak perlu tahu! Dengarkan penjelasan singkatku, Yunho. Jaejoong sedang bertarung melawan Kris. Jaejoong memasukkan jantung ke dalam tubuhmu, dan kau masih belum sempurna. Kau hanya bangun karena melodi ini. Kau harus segera menemukan Jaejoong! Kalau tidak, ia akan membunuh Kris! dan dipastikan ia akan membunuh lebih banyak agar kau bisa sempurna!" Yunho menatap tidak percaya. Ia berusaha bangkit. Tubuhnya masih sangat lemah, tapi sungguh…ia merasa tergerak.

Kapan terakhir kali mereka saling mengucapkan kata cinta?

Yunho berjalan mendahului Ashley dan Virgo. Ashley berusaha menjaga jarak agar tetap dekat, melodi itu terus berputar menjadi musik merdu yang semakin lama semakin menyayat hati.

Yunho membuka setiap pintu, namun ia tak menemukan Jaejoong. Virgo mulai memusatkan pikirannya. "Berhenti!" keduanya menatap Virgo. Virgo mulai berjalan sedikit cepat ke arah kiri. Keduanya mulai mengikuti Virgo. Yunho nampak terengah. Ashley mulai membantu Yunho. Ia sedikit kewalahan.

"Boo..dia tidak boleh membunuh..malaikatku tak boleh membunuh lagi…"Ashley sedikit kaget mendengar ucapan Yunho. Keduanya melihat Virgo berdiri disebuah pintu. Virgo langsung mendobrak pintu itu.

Disana, disebuah ruangan yang sangat luas dengan bulan diatasnya. Ditengah ruangan itu, terlihat Kris dan Jaejoong yang mulai kewalahan. Yunho menatap khawatir.

"Boo…Boo…" Yunho tak dapat berteriak. Ashley mulai kasihan. Entah mengapa, pria disampingnya ini seperti memiliki ikatan khusus dengannya. "Boo…" panggilnya kembali dengan nada suara yang masih pelan. Oke, Ashley mulai muak dan kasihan.

"BOO….!" Ashley berteriak. Pertarungan King dan Kris terhenti. King membelakkan mata tidak percaya. Tubuhnya kaku. Panggilan ini..bukankah hanya..Yunho yang memanggilnya seperti itu?

"Hah..a..apa..?" King menoleh ke sumber suara. Matanya kembali membelak tidak percaya. Disana, ia menemukan sosok yang paling ia kasihi, berdiri lemah dibantu oleh seorang gadis yang sekilas nampak mirip dengannya. Yunho telah bangun..?

Airmata menggenangi matanya. Matanya berubah menjadi abu-abu. Menandakan sendu telah menutup dirinya. Ia menjatuhkan senjatanya. "Yun…Yun…" panggilnya. Topeng berlian diwajahnya menghilang seketika. Ia langsung berlari kencang menuju sosok yang paling ia kasihi.

"YUNHO..! YUNHO..!" Jaejoong berteriak senang dengan airmata yang menggenangi matanya. Yunho yang masih terengah melepaskan dirinya dari Ashley. Ia berlari kecil menuju sosok yang ia kasihi.

"Boo…aku datang…" ucapnya perlahan. Tubuhnya masih gontai untuk berjalan, ia terlalu lemah. Tapi, sosok didepannya membuatnya kuat.

Jaejoong langsung memeluk erat tubuh Yunho. Airmatanya tak bisa terbendung lagi. Ia melepaskan segalanya, tangisannya mengalir deras.

"Bodoh! Kenapa baru bangun?! dasar menyebalkan! Aku sudah sangat lama menunggumu! Aku benci denganmu!" Dan tangisan kembali yang terdengar dari Jaejoong. Yunho terkekeh. Airmatanya mengalir.

"Aku merindukanmu…kau masih mencintaiku, kan?" keduanya terkekeh.

"Aku mencintaimu…" keduanya berucap secara serentak lalu tertawa.

Ashley menangis, entah kenapa. Airmatanya menetes antara terharu dan tidak percaya, pada Iblis didepannya. Diapun masih bisa mencintai.

Tak lama, musik ditangannya terhanti. Tubuh Yunho tiba-tiba kembali ambruk dipelukan Jaejoong. Jaejoong menatap tidak percaya.

"Yun…kau ingin tidur lagi? Bangunlah…kau baru saja bangun…" Dan tangisan kembali terdengar. Virgo mendekati King. Ia menyentuh bahu King.

"King..tahukah? Yunho memang sudah diberi jantung, tapi untuk melakukannya, banyak pertumpahan darah yang kau lakukan untuknya. Itulah yang membuatnya tak bisa bangun…"

"JELASKAN PADAKU! KENAPA IA BISA BANGUN TADI?! IA TADI MEMANGGILKU! BANGUNKAN DIA, KAU ZODIAK, KAU DIBERI KEMULIAAN DENGAN TUHAN!" Virgo menangis, tidak kuat melihat King yang menangis. Virgo mendekati Ashley, mengambil kotak musik dari Ashley dan meletakkan ini didepan keduanya.

"Tahukah…? Ia bangun karena melodi kehidupan…tapi melodi itu tak lama berputar…kau tahu apa yang harus kau korbankan agar ia bangun?"

Semuanya terdiam.

"Hentikan hidupmu, matikan jantungmu untuk dia. Dia berubah menjadi iblis untukmu, maka kau harus mati kalau ingin dia hidup…" King tertawa lemah akibat ucapan Virgo. Airmatanya masih membanjiri matanya.

"Mataku…terlalu rabun karena airmataku sendiri…" King tersenyum, menahan tangisannya agar tak berubah menjadi jeritan. Ia menidurkan tubuh Yunho. Jaejoong mulai membuka kotak musik itu. Sekali lagi, musik itu berputar.

Mata Yunho yang awalnya terpejam mulai bergerak. Jaejoong mengambil pisau kecil di pinggangnya.

"Aku mencintaimu…" dengan sekali gerakan, Jaejoong langsung menikam jantungnya sendiri. Jaejoong tersenyum dengan airmatanya. Tubuh Jaejoong tergeletak disamping tubuh Yunho. Matanya mulai kosong ketika menatap tubuh Yunho.

Semuanya menatap tidak percaya pada apa yang terjadi. Yunho tidak terbangun, bahkan ketika Jaejoong sudah menikam jantungnya sendiri. Ashley bisa melihat, setetes airmata jatuh dari mata Yunho.

Kau percaya keajaiban? Keajaiban itu kini hadir.

Tubuh keduanya diselimuti cahaya putih yang sangat terang. Dan tak lama, cahaya putih itu menghilang, bersamaan dengan tubuh Jaejoong dan Yunho yang menghilang. Kotak musik itu berhenti memainkan melodinya. Ashley mengambil kotak musik itu. Pandangannya seolah kosong, tak terima.

Virgo tersenyum.

"Tujuannya ini ternyata," ia melirik Ashley yang masih menangis kecil. Mata Ashley bertemu dengan Virgo. "Permintaanmu sudah dikabulkan, Ashley.."

"Sebentar, bukankah kau bilang kalau Jaejoong membunuh dirinya, Yunho akan hidup?" Ashley bertanya. Nada bicaranya seperti tak terima. Virgo tersenyum getir.

"Aku rasa, Tuhan punya rencana lain. Mungkin mereka akan bereinkarnasi seutuhnya, siapa yang tahu rencana Tuhan? Tuhan itu kadang lucu, tapi dialah Raja dari segala Raja yang bijaksana…" Virgo tersenyum kembali.

.

OWARI

.

Luhan, Tao, Baekhyun dan Kyungsoo memutuskan untuk kembali ke Korea. Sebelum berpisah, Kris mengatakan akan banyak urusan yang harus mereka urusi. Lalu menghilang bersama Sehun dan yang lainnya.

Luhan nampak tengah duduk menghadap jendela kamarnya. Menatap langit malam. Sepulang dari rumah Ashley, Ashley lebih tenang. Ashley akhirnya memutuskan untuk pindah ke Roma. Disana, ia ingin belajar ke sekolah sastra dan bertekad menjadi sastrawan dan penulis. Ia ingin mengabdikan dirinya dalam seni.

Chen dan Xiumin memutuskan untuk tetap bekerja sebagai Sejarawan dan peneliti. Kini, Luhan dengar mereka sedang menetap di sebuah lembah bunga di Himalaya. Sedang meneliti sebuah cerita rakyat, katanya.

Lay, Chris, Sangjin dan Flau juga berniat untuk kembali dan mengabdikan diri sebagai Pendeta lagi.

Semenjak perang besar berakhir, Wolf menghilang. Dan berarti, pertemuannya dengan Sehun adalah yang terakhir kalinya. Luhan menunduk.

"Hah, dasar bocah maknae menyebalkan….setelah dia membuatku mencintainya, dia malah menghilang.." Desis Luhan. Luhan kembali menatap bulan yang nampak berkilauan emas. Mengingatkannya pada sepasang mata emas milik Sehun.

Semilir angin masuk lewat jendela Luhan, menerbangkan helaian rambut Luhan. Luhan memejamkan mata menikmati semilir angin lembut itu. Kamar yang gelap, yang hanya disiram dengan cahaya rembulan malam itu membuat kenyamanan tersendiri bagi Luhan. Luhan memejamkan matanya. Baginya, kenangan saat di Forks layaknya keajaiban tersendiri. Dan ia tak berniat menceritakannya pada siapapun. Meski, pemberitaan di media sangat gencar. Karena, saat perang dan sihir Jaejoong, Forks tak tersentuh. Satelit menangkap gambar yang cukup mengerikan dari Forks.

Tapi sudahlah, itu semua sudah berlalu.

"Aku merindukanmu…."

"Aku juga…"

Eh?

Luhan membuka matanya. Ia segera berbalik dan menemukan satu sosok pria yang menjadi pusat di antara guncangan perasaan sesaknya. Mata Luhan membelak tak percaya.

Pria itu sekilas tak berubah. Rambutnya tetap berwarna perak, kulitnya, yang berbeda hanya satu..matanya..matanya berwarna hitam.

"Kau merindukanku?" tanya Sehun dengan senyum manisnya. Luhan mendekati Sehun dan menyentuh tangan Sehun. Nyata..ini Sehun?

"Ini kau? Matamu…?"

Ia menarik tangan Luhan dan mendudukannya pada tempat tidur Luhan. Sehun tersenyum.

"Kau tahu? Kris mendapatkan hadiah dari Sang Bijak. Kami akhirnya berubah menjadi manusia, tapi tidak begitu sempurna. Sesekali, kekuatan kami masih tersisa. Mata kami berubah menjadi layaknya manusia biasa, dan hanya akan berwarna seperti semula bila kami berkomunikasi…" ujar Sehun. Luhan menggigit bibir bawahnya. Ia langsung memeluk Sehun dengan erat.

"Bodoh..aku merindukanmu, dasar jelek." Sehun tersenyum dan membelai rambut Luhan.

"Aku juga, Lu…"

.

Kyungsoo terlihat sedang membaca sebuah buku diperpustakaan keluarganya. Kyungsoo berusaha fokus, namun tak bisa. Ia menghela nafas. Matanya kosong menatap telapak tangannya.

Tangan Kai masih terasa, kehangatan dan kelembutannya masih jelas dapat Kyungsoo rasakan.

"Kau bilang kau akan kembali…aku percaya kau akan kembali hari itu, tapi kau berdusta…" bisiknya. Ia menahan titik airmatanya agar tak jatuh.

"Aku tidak pernah berdusta, sayang.."

Kyungsoo kaget. Ia kenal suara ini. Ia menoleh dan kaget pada suatu figur pria yang duduk disampingnya dengan nyaman dan Kyungsoo berani sumpah ia tak merasakan kehadirannya. "Sejak…kapan..?"

Ia tersenyum dan tangannya terulur ke arah wajah Kyungsoo. Membelai wajah Kyungsoo. Kyungsoo dapat merasakan kembali, belaian hangat tangan Kai ketika menyentuh kulitnya.

Jemari Kai dengan lembut menhapuskan airmata Kyungsoo. Tapi tak bisa, airmata itu terus mengalir karena luapan kebahagiaannya. Ia harap, didepannya bukan sebuah Fatamorgana, tapi sepertinya, 3 kali airmatanya dihapus sudah cukup menjadi bukti kalau sosok didepannya ini bukan Fatamorgana.

Ia memang Kai, tapi ada yang berbeda. Matanya tak berwarna biru seperti dulu. Matanya berwarna cokelat gelap seperti dirinya.

"Aku kembali…" Kyungsoo tak dapat membendung perasaan senangnya ketika mendengar suara lembut Kai untuk kedua kalinya. Suara yang ia dengar semenjak berakhirnya perang besar yang membuatnya ketakutan namun akhirnya mendapatkan banyak pelajaran untuk lebih berani dan keluar dari Zona nyaman..dan mendapatkan cinta.

"Selamat datang kembali…Kai.."

.

"Ya, hati-hati, Tao!"

"Hm! Baekhyun hyung juga, hati-hatilah!"

Baekhyun dan Tao sepertinya baru pulang dari sebuah kedai ramen. Keduanya memutuskan untuk pulang dan harus berpisah. Baekhyun berjalan santai. Jalanan gelap dan hanya disinari dengan lampu jalanan yang remang-remang. Cahaya bulan menyinari lembut.

"Hah…sepertinya…aku harus belajar untuk melupakan Chanyeol…" bisik Baekhyun. Ia masih menatapi langit hingga akhirnya ia berjalan kedepan. Tak jauh, Baekhyun dapat melihat sosok seorang pria yang berdiri di tiang lampu jalan. Ia menatap Baekhyun dari sana. Baekhyun sepertina kenal sosok dan figure itu. Namun, ia tak mau berharap lebih.

Baekhyun berjalan mendekati sosok itu. Baru 2 langkah ia melewati sosok itu, tangannya seolah ditarik.

"Kau melupakanku, hm?" Baekhyun terbelak, kaget. Suara ini…

"Hah..?" Chanyeol berbalik dan menemukan sosok yang sangat ia tunggu. Sosok yang sangat ia cintai. "Chan-"

Ucapan Baekhyun terhenti. Ia jatuh kedalam pelukan hangat Chanyeol. Chanyeol tertawa kecil.

"Aku kembali…"

Dan untuk selanjutnya, hanya kehangatan yang tercipta di antara keduanya.

.

Tao nampak berjalan dengan santai. Sambil sesekali memainkan ponselnya. Ia menatapi langit

Helaan nafas keluar dari Tao. jam sudah menunjukkan angka 11, dan ia sepertinya belum bernafsu untuk pulang. Ia membelokkan kakinya menuju taman tempat anak kecil bermain. Tak begitu jauh dari rumahnya.

Belum sampai ia menuju taman itu, seluruh lampu jalan mati dan jalanan menjadi sangat gelap. Tao terdiam.

"Se…sebaiknya aku kembali sa-" belum selesai ia bicara, mulutnya ditutup oleh telapak tangan seseorang. Tao kaget. Pembunuh, kah? Orang itu sepertinya bahaya, Tao tidak boleh bertindak gegabah. Tubuhnya ditarik kebelakang dan di arahkan menuju taman yang gelap. Kali ini, mata Tao tertutup.

Keringat dingin mengalir dari pelipis Tao. tak lama, telapak tangan itu terbuka. Mata Tao terbuka lebar.

Taman itu ditata menjadi sangat cantik. Tao tidak ingat kalau malam, lampu-lampu neon itu bersinar. Bahkan Tao tidak tahu kalau ada lampu neon yang ditata sedemikian rupa hingga membuat taman itu sangat cantik.

"Ba..bagaimana bisa…?" Tao teringat sesuatu ia berbalik dan kembali kaget pada sosok didepannya. Ia tersenyum.

"Peach, aku pulang…" Tao menutup mulutnya, menahan tangis dan langsung memeluk Kris. Kris tersenyum kecil. "Aku senang kau masih menungguku.."

"Bodoh, tentu saja.."

Hening kembali tercipta, Kris menatap mata Tao. Tao memandangi mata Kris.

"Ge..matamu.." Kris mengangguk. Keduanya saling tersenyum.

Sepertinya, Cupid sedikit ingin bermain-main.

Perlahan, wajah Kris mendekat hingga akhirnya jarak diantara mereka hilang. Tergantikan oleh sebuah kecupan lembut yang menjadi bukti bahwa mereka saling merindukan.

.

Lay tengah diam dikamarnya, sedang berusaha bermeditasi dan menyerap energy sekitarnya. Semilir angin masuk lewat jendelanya dan membelai lembut kulit Lay. Lay membuka matanya.

"Suho…?" Lay berbalik dengan liar dan menemukan Suho sedang duduk jendela Lay. Suho tersenyum. Ditangannya, ada seikat mawar putih dengan aroma yang sangat lembut dan menggoda indra penciuman siapapun.

"Halo, Pendeta cantik…aku merindukanmu…" Suho mendekati Lay. Lay berlari kecil dan akhirnya, kedua tubuh itu berpelukan.

Malam meraja, dan Tuhan membiarkan manusia manapun merasakan anugerahnya malam itu.

.

THE END

.

.

Akhirnya tamat dengan tidak elit -_-

Setelah perjuangan panjang menguras tenaga, otak, khayalan dan tissue karena lagi pilek :V

Bagaimana? Tamat dengan gaje dan gak menyenangkan, tidak tersentuh? Ai now (?)

Well, Rai berusaha membangkitkan imajinasi disini. Maaf kalau ternyata kurang memuaskan.

Rai sedang disibukkan sekali dengan urusan Universitas, tapi Rai berusaha bagaimanapun caranya agar fict ini bisa tamat dan imajinasinya bagus.

So… review please? ^^

Sign,

Raichi.

(Monday, 15 June 2015)