Jika Baekhyun disuruh memilih antara realita dengan mimpi, ia masih akan memilih realita. Walaupun mimpi merupakan hal terindah yang Tuhan berikan. Tapi nyatanya, lambat laun Baekhyun sadar bahwa semua itu omong kosong dan semu.
Dalam mimpi-mu, yang menjadi dominan adalah hati/batin. Baekhyun selalu berfikir itu sangatlah tidak rasional. Sangat menampar balik fungsi pikiran yang memang digunakan sebagai dominan tubuh. Dan Baekhyun sangat membenci berangan-angan, karena sebuah alasan tertentu. Entah kenapa, rasa bencinya terhadap galaksi fiksional sangat membara. Dan yang lebih aneh lagi, Baekhyun membenci fiksi sementara ia sendiri mengambil jurusan sastra.
Jalan fikirnya memang selalu berbeda dari yang lain. Ia bukan seseorang yang akan mendapat inspirasi dengan melihat pemandangan gunung, atau rerumputan hijau. Baekhyun adalah seseorang yang mendapatkan inspirasinya dengan menatap kosong langit-langit kamar apartemennya. Langit-langitnya berwarna putih bersih. Dan hal itu memudahkan Baekhyun melakukan metodenya,
Menggambar dengan jari-jarinya. Me-reka semua yang ada dipikirannya. Dan setelah itu, kata-kata puitis akan langsung meluncur dari bibir manisnya. Dan setumpuk puisi akan langsung tercetak dalam waktu 2 jam.
Baekhyun tidak suka pedesaan, tidak suka keindahan alam. Baekhyun menyukai diam dalam keramaian. Ia senang berada di kota. Senang memasuki klub-klub malam. Dan yang Baekhyun lakukan?
Ia akan mendengarkan musik melalui headphone-nya dan mengabaikan keramaian itu. Tapi ia merasa senang berada disana, tidak untuk bergabung didalamnya, tapi mengamati keadaan. Baekhyun selalu memiliki rasa aneh namun menyenangkan saat menjalankan hobi-hobi anehnya itu.
Pria itu terkekeh membaca dokumen kasus itu. "Bagaimana mungkin ada orang aneh seperti dia?" seakan tersadar dengan apa yang diucapkannya, pria itu menghela nafas,
"Bila ia tidak aneh, aku tidak akan disuruh menanganinya. Bodoh"
"Apartemenmu tidak buruk, Baek."
"Jika sudah selesai, segeralah keluar. Aku sibuk"
"Tega sekali kau mengusir ibumu sendiri, hah?"
Baekhyun hanya memutar bola matanya malas. Ia sungguh menyesal membiarkan wanita yang melahirkannya itu memasuki apartemennya. Lihatlah apa yang ibunya lakukan. Hanya berkeliling, bahkan tidak membawakan makanan untuknya. Tamu tidak menguntungkan.
"Sudah berapa wanita yang kau tiduri disini?"
Baekhyun yang sedang meminum air putih segar dari kulkasnya itu, tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan ibunya. "Apa kau bercanda?" pekik Baekhyun dengan tatapan tidak percaya. Ibunya hanya mengangkat bahu lalu merebahkan diri di sofa. "Ayolah, Baek. Cobalah dengan seseorang" ucap Ibunya dengan nada sedikit manja.
"Tidak ada yang mengizinkan Ibu untuk menyentuh sofa itu." Baekhyun berucap dingin tanpa menatap Ibunya. Ibu Baekhyun mengerucutkan bibirnya lalu berdiri dengan kesal, ia sudah cukup emosi karena perilaku anaknya yang sungguh membuat kepala pening ini.
"Cintailah seseorang, Byun Baekhyun! Dan kuharap sifatmu yang membuatku naik darah itu segera enyah! Ibu mencintaimu!" dan wanita itu menutup pintu. Ibunya yang menggelikan dan kekanak-kanakan.
"Cinta, huh?"
"Park Chanyeol, psikolog muda, menangani bagian deep-past stress dan drugs addiction dengan analisa mata. Dengan ini ku-nyatakan misi ke-empatmu dimulai. Batas waktumu adalah 6 bulan untuk menyembuhkannya, dan kau tahu 'kan kalau kau selalu jadi yang favorit disini?"
Pemuda tampan bersurai abu-abu dengan sedikit highlight itu tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Ya, aku tahu."
Pria paruh baya didepannya pun tersenyum puas, "Selamat bekerja. Masih ingat larangan dalam permainan ini?"
Chanyeol mendongak,
"Do not fall in love with the one, ever."
"Bagaimana hari pertama-mu?"
"Tidak menyenangkan, membosankan, mengerikan dan membosankan. Dan juga membosankan."
Jongdae memutar bola matanya malas, lalu mengambil tempat duduk di depan pria mungil itu, Ia menatap wajah pria di seberangnya lalu tersenyum kecil,
"Tolong. Jangan katakan kau mulai menyukaiku." ucap Baekhyun datar dan disusul tawa keras yang menjijikkan milik Jongdae. "Untuk apa aku menyukai pria yang selalu diselimuti awan hitam bila ada yang pria lain yang tersenyum seindah pelangi?"
"Kau menjijikkan, sungguh."
"Setidaknya aku masih peduli denganmu."
"Aku tidak pernah memintamu untuk peduli."
Jongdae menghela nafas berat, "Aku perlu mengirim-mu ke pedesaan, agar kau bisa mencairkan hati dan otakmu yang tidak lebih cair dari es di kutub selatan."
"Aku tidak suka pedesaan." jawab Baekhyun datar, Jongdae membulatkan matanya,
"Oh god, apa yang salah denganmu, Baek? Semua orang di kota meraung-raung untuk pergi ke pedesaan dan merileksasi-kan diri mereka. Dan untuk menghirup 95% oksigen murni tentunya."
Baekhyun justru tertawa dan itu membuat Jongdae mengernyit tidak suka.
"Ayolah, berhenti bersifat munafik. Kau bilang apa? Pedesaan? Kau yakin? Aku yakin 99,23% bahwa kau, dan warga kota lainnya ingin tinggal di kota dan justru tidak suka dengan pedesaan. Apa masalahmu? Oksigen? Itu saja, 'kan? 1 masalah banding berapa ratus hal yang kau butuhkan, yang hanya ada di kota. Yang kau butuhkan bukan pedesaan, tapi kota yang hijau, kaya akan pohon bak pedesaan yang akan memberikanmu 95% oksigen itu. Kau pikir aku bodoh? Mulailah mencerna pemikiranmu, menjadi hal utuh yang tidak kompleks"
Jongdae menganga tidak percaya mendengar kata demi kata yang diucapkan Baekhyun. Tidak salah semua orang selalu memuji jalan pikirnya walaupun sedikit aneh, tapi memang terbukti makna dan perumpaan yang ia berikan, selalu nyata. Byun Baekhyun, you really kicked it.
"Terserahmu, aku akan mengambilkan Americano dan kau, segeralah pulang. Mengerti?"
Baekhyun hanya memandang keluar jendela. Jongdae menghela nafas, lagi.
Baekhyun mengerjapkan matanya, menghilangkan suara masih saja mendengung di telinganya seharian ini,
"Kau.. menyembunyikan sesuatu"
"Eomma, aku berangkat."
"Misi baru lagi, huh?" Ibunya mendekat, lalu membantu membereskan piring bekas sarapannya.
"Uh-huh."
"Kali ini apa?"
"Sesuatu yang menarik. Sesuatu yang akan membuatku benar-benar berpikir."
"Byun Baekhyun."
"Ne?"
"Nilaimu sempurna. Tapi aku tidak paham dengan kalimat akhirmu, uhmm... 'Jika berpikir telak lawan sakit kata ucap bila diterai gelap'. Artiannya sangat semu. Bisa kau jelaskan?" Professor Kang menatap Baekhyun tajam, berusaha mengacaukan pikirannya.
Baekhyun justru tersenyum manis, "Hanya orang tertentu yang akan mengerti artinya"
"Jika menggunakan akal dengan jernih akan terjadi pertentangan dengan rasa sakit batin, mungkin semacam rasa sakit jika mengetahui kejujuran yang pahit dan jika menggunakan kata yang sudah tersusun sebelumnya akan tetap terjadi kegelapan—mungkin saja rasa bersalah terhadap diri pengucap seperti berbohong atau white lies yang terkunci rapat namun tetap akar kejadiannya adalah sesuatu yang palsu, mungkin?"
Baekhyun tertegun.
"Apakah benar, Baekhyun-ssi?"
Baekhyun menoleh perlahan ke arah penjawab, lalu menghampirinya dengan cepat. Membuat Professor Kang terkejut dan mengekspektasi-kan perkelahian akan terjadi. Baekhyun memukul meja pria itu dengan telapak tangannya, lalu menatap pria itu tajam.
"Siapa kau?"
Pria itu menoleh ke kanan-kiri, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Kau bicara padaku?"
"JAWAB AKU!" teriak Baekhyun, membuat seisi kelas terkejut.
Pria itu tersenyum mengejek, "Chanyeol, Park."
"Tidak ada yang pernah bisa mengerti arti itu sebelumnya... tidak ada! Kau! Apa yang kau lakukan?!"
"Tidak ada."
"DONT FUCKING LIE!"
Chanyeol tertawa,
"Your eyes. Too obvious"
-[Matamu, terlalu mudah ditebak]
Baekhyun merasakan detak jantungnya...
berdetak diatas kecepatan normal.
Hello! I'm glad some of you really anticipate this fanfics.
FF ini memang berat dan kalian harus sabar ya bacanya. Dan sambil mikir-mikir dikit biar ngelatih kualitas olah kata kalian /dih
Last, review please?
Mari saling menghargai,
