Episode 2


Area pertempuran masih ramai oleh suara dentingan logam, tembakan, dan ledakan. Tia sedang menghadapi MEFE, X menghadapi LLWO, dan Zero menghadapi SZZU dan tunggangannya yang seperti monster gorila. Pertempuran masih berlangsung sengit tanpa ada yang mau mengalah dan sudah berlangsung cukup lama. Kedua belah pihak sudah mulai tampak kelelahan dan penuh luka. Namun, sepertinya pertarungan masih akan terus berlangsung karena belum ada tanda-tanda kalau para alien akan mundur.

"Sial! Sampai kapan pertempuran ini terus berlangsung!?" umpat Tia yang berdiri sambil mengatur nafas. Penampilannya sudah sedikit acak-acakan dan kotor. Kacamatanya telah lepas entah jatuh di mana. Untungnya dia sebenarnya bisa melihat jelas tanpa kacamata karena kacamatanya yang sekarang hanyalah hiasan. Rambutnya yang terurai juga terpotong separuh akibat terkena sabetan kapak MEFE sehingga bagian kanan terlihat lebih pendek dari yang kiri.

Armor X dan Zero juga sudah kotor dan beberapa bagian tampak retak. Para alien juga penampilannya sudah tidak kalah parahnya.

LLWO kemudian tiba-tiba berseru, "Kita mundur!"

MEFE dan SZZU terkejut.

"APA!? Mundur?" pekik MEFE. "Tidak akan! Aku tidak akan mundur lagi kali ini!"

LLWO mendelik dari tempatnya berdiri yang berada cukup jauh dari MEFE. "Mundur!" desisnya.

MEFE mengumpat kesal. Kapaknya yang sedari tadi masih teracungkan ke depan, dia turunkan. SZZU tidak berkomentar apa-apa selain melirik LLWO tajam. Dengan kecepatan mereka yang tinggi, ketiganya lenyap dari hadapan Tia dan kedua Reploid yang membantunya.

Tia menghela nafas lega. Dia benar-benar sudah lelah sekali. Dia pun terduduk lemas. Menghadapi anggota Seven Apostles ternyata bisa lebih melelahkan dibandingkan menghadapi mesin-mesin mereka yang berkeliaran selama seharian saat berada di Neo Arcadia. Itu karena menghadapi bos mereka harus dengan kekuatan penuh. Sementara mesin-mesin alien itu cuma lawan yang cukup mudah bagi Tia sehingga tidak memakan banyak tenaga walaupun seharian menghabisi mereka.

"Kau tidak apa-apa, Nona?"

Tia yang menunduk, langsung mendongak dan melihat X yang mengulurkan tangan padanya. Dia menerima uluran tangan X dan berdiri dengan agak sedikit kesulitan karena masih lemas.

"Ya, aku tidak apa-apa," jawabnya. "Terima kasih telah datang menolong. Kalau aku sendirian, aku mungkin tidak bisa bertahan lama."

"Kau ini... manusia?" tanya Zero dengan tatapan penuh selidik.

"Ya, begitulah...," jawab Tia apa adanya. "Aneh, ya?"

"Sebenarnya menurutku tidak aneh juga," jawab Zero, "karena sebelum ada Reploid pasti ada manusia yang juga bisa bertarung untuk melindungi diri. Hanya saja... aku tidak menyangka ada yang sampai sepertimu."

X masih menatap Tia dengan pandangan aneh sehingga Tia yang merasa diperhatikan pun bertanya, "Ada yang salah denganku?"

"A-ah, tidak! Maaf," ucap X gelagapan karena ketahuan memandangi Tia terus-terusan. "Sebenarnya, aku merasa kau mirip dengan seseorang yang kukenal dulu. Apa kita memang... pernah bertemu sebelumnya?"

Rasanya itu waktu yang tepat untuk memberitahu pada mereka berdua identitas yang sebenarnya. Tia pun sudah mempersiapkan sebuah bukti yang akan meyakinkan keduanya, terutama X. Tia mengangkat tangan kanannya yang terpasang gelang. Gelang pemberian X sebelum dirinya mendadak pulang kembali ke zamannya. X terbelalak melihatnya.

"Gelang itu..."

"Aku Tia... Kak X, Kak Zero," ucap Tia sambil tersenyum.

Kedua Reploid di hadapannya terdiam dengan tatapan tak percaya. Tia sudah menduga pasti akan sulit dipercaya oleh mereka. Ini sudah lebih dari seratus tahun dari pertemuan pertama mereka walaupun bagi Tia baru tiga tahun berlalu.

"Kau... Tia? Tapi, bagaimana bisa?" tanya X.

"Ada sedikit permainan waktu," jawab Tia. Dia kemudian menjelaskan mengenai perjalanan waktu yang dialaminya karena ulah Lance, si ilmuan dari Resistance. Tentu saja X dan Zero masih sulit mempercayainya. Namun, melihat Tia yang sama sekali tidak terlihat main-main dalam menjelaskan, mereka pun percaya.

"Jadi, bagimu baru tiga tahun berlalu sejak pertemuan terakhir kita, ya. Padahal bagi kami itu sudah seabad yang lalu. Benar-benar permainan waktu," tukas Zero.

"Tapi, aku senang bisa melihatmu lagi, Tia," ungkap X tersenyum senang. "Walaupun... kau sekarang benar-benar berbeda dengan dirimu yang dulu. Ditambah kalau ternyata kau bisa bertarung seperti tadi."

"Sayangnya aku bisa seperti itu bukan karena murni kemampuanku, Kak," kata Tia. "Aku seperti ini juga karena ulah Lance. Tapi, aku mengerti apa yang dipikirkannya sehingga kumaafkan saja. Lagipula ini untuk kebaikan."

"Lalu, bagaimana kau pulang nantinya?" tanya Zero. "Apa seperti dulu? Hilang tiba-tiba sehingga kau membuat hampir seluruh markas panik mencarimu?"

Tia terperangah. "Seluruh markas panik? Aku benar-benar tidak menyangka akan sampai seperti itu. Padahal keluarga dan teman-temanku bersikap aku tidak pernah hilang setelah pulang dulu." Dia menghela nafas. "Sepertinya aku harus menanyakan pada Lance lagi tentang bagian ini." Dia kembali menatap X dan Zero. "Mengenai pulang... entahlah, aku tidak tahu." Dia menunduk murung.

"Lance tidak merencanakan cara membawamu pulang?" tanya X.

"Bukan," sangkal Tia sambil menggeleng pelan. "Dia sudah merencanakan untuk memulangkanku bila masalah di sini selesai, tapi alatnya rusak karena terkena serangan."

"Jadi... kau terjebak di sini?"

Tia tersenyum miris. "Sepertinya begitu. Tapi, biarlah. Kalau ini memang takdirku, aku terima saja. Kalau memang aku akan pulang, aku pasti akan menemukan petunjuk untuk jalan pulang yang lain, 'kan?" Dia mencoba berpikir positif saja. Kalau sampai dia murung terus karena masalah itu, pasti akan mempengaruhi dirinya dalam menghadapi Seven Apostles. Dia ada di masa sekarang karena diminta bantuan untuk mengalahkan mereka walaupun tanpa persetujuannya.

Sebuah mobil karavan berlogo Resistance kemudian datang. Lalu, Ciel, Lance, Alouette, Neige, dan beberapa anggota Resistance lain turun dari karavan dan langsung menghampiri Tia dan kedua Hunter yang bersamanya.

"Zero...," Ciel begitu senang melihat Zero. Yang paling senang malah.

Aloutte berlari mendekati Zero dan memeluknya erat. Zero membalas pelukannya. Reploid merah itu terlihat sangat akrab dengan si gadis kecil itu. Padahal kalau dengan Tia lebih sering kejar-kejaran. Yah, Tia mengakui itu memang salahnya juga yang sering mengusili Zero dulu.

"Wow, kau berbeda dengan yang terakhir kuingat," komentar Neige pada Zero.

"Memang penampilan sebelumnya seperti apa?" tanya Tia.

"Lebih pendek dan armornya tidak seperti itu. Rambutnya juga tidak sepanjang itu," jelas Neige. "Tatapannya juga... begitu dingin. Menurutku."

Yang terakhir yang membuat Tia paling terkejut. Kalau seingat Tia tatapan Zero itu tatapan yang tajam dan tenang. Tapi, tidak sampai terkesan dingin. Dia benar-benar melewatkan banyak hal.

"Ini penampilanku yang lama," jawab Zero. "Jauh sebelum aku mengenal kalian."

"Oh," Hanya itu tanggapan Neige. "Lalu ke mana saja kalian selama ini? Baru muncul sekarang."

"Yah...," X tampak kebingungan harus menjelaskannya. "Kami berada di tempat yang bisa dibilang tak bisa kalian kunjungi sembarangan. Mengetahui kalian dalam masalah yang lebih parah dari perang yang pernah terjadi, kami berusaha untuk secepatnya kembali ke sini."

Neige terlihat tidak puas dengan jawaban X. Tia juga penasaran sebenarnya di mana X dan Zero berada setelah dinyatakan menghilang sebelumnya.

"Hei, sebaiknya kita kembali sekarang," Lance yang sedari tadi diam saja, akhirnya membuka suara. "Kita nanti diserang lagi kalau berada di tempat terbuka seperti ini." Dia kemudian melangkah masuk ke dalam mobil duluan.

Yang lain menyusul. Setelah semuanya naik, mobil pun berangkat kembali menuju markas. Tia yang sudah sangat lelah, langsung tertidur sambil duduk di kursi panjang penumpang paling ujung tak lama setelah mobil jalan. Rock Cannon disandarkan di dinding mobil di sebelahnya. X yang duduk di sebelahnya hanya menatap Tia sambil tersenyum tipis.


-x-x-


Mobil karavan tiba di markas Resistance setelah sekitar 20 menit perjalanan. Satu per satu penumpang turun. Zero hendak turun juga, namun berhenti ketika melihat Tia yang masih tidur. X sudah mencoba membangunkannya, tapi gadis itu tetap tidur.

"Dia pasti lelah sekali. Biar kugendong dia," kata X. "Bisa tolong bawa senjatanya?"

Zero menatap senjata Tia yang ukurannya besar itu. Ketika dia mengangkatnya, dia bisa merasakan betapa beratnya senjata itu. Terlalu berat untuk manusia biasa, apalagi yang berbadan kurus seperti Tia. Padahal tadi gadis itu mengayunkannya dengan sangat mudah. Dan beruntunglah mobil milik Resistance tahan dengan berat senjata milik Tia itu.

"Ada apa?" tanya X yang melihat perubahan ekspresi Zero.

"Berat sekali," jawab Zero. Tapi, mukanya masih terkesan datar.

"Hah?"

"Coba saja." Zero menyerahkan Rock Cannon pada X.

Reploid biru itu pun terkejut begitu Rock Cannon berada di tangannya. Dia juga merasa benda itu sanga berat. Dia menatap heran pada Tia. "Sebenarnya dia sekuat apa?"

Zero mengambil kembali senjata Tia dari tangan X. "Sudahlah, bawa saja dia ke dalam." Reploid itu melangkah menuju pintu.

Ciel tiba-tiba masuk kembali karena X, Zero, dan Tia belum turun-turun juga dari mobil. "Ada apa?"

"Tidak ada," jawab Zero. Dia terus melangkah dan keluar dari mobil karavan. Semua anggota Resistance yang berada di luar bersorak menyambutnya yang sudah dianggap pahlawan. Padahal sudah dibilang sebelumnya kalau dirinya tidak ingin dianggap pahlawan. Tapi, biarlah. Yang penting tidak mengganggunya.

Tak lama kemudian, X turun dengan menggendong Tia yang tidur. Ada yang menanyakan kondisi gadis di gendongannya karena takut kalau ternyata ada apa-apa. X pun menjelaskan kalau Tia cuma tertidur karena lelah dan dia meminta ditunjukkan di mana kamar Tia.

Lance menawarkan diri untuk mengantar. Sebenarnya belum diberitahu di mana Tia akan tidur untuk malamnya, tapi Lance sudah mempersiapkannya karena kedatangan Tia itu dia yang rencanakan. Zero juga ikut karena dia membawa senjata Tia. Mereka berjalan hingga berhenti di depan sebuah pintu. Ada beberapa pintu lain yang berjejer di sebelah. Tidak tahu ruangan apa.

Pintu otomatis terbuka. Di dalamnya merupakan kamar kecil bercat putih dan simpel. Hanya ada sebuah meja, tempat tidur single, dan lemari kecil yang menempel di dinding. Ada pintu lain di kamar yang merupakan pintu kamar mandi. X masuk dan membaringkan Tia di tempat tidur. Jaket, sarung tangan, dan sepatunya dilepas oleh X sebelum dia kemudian diselimutkan. Zero meletakkan senjata berat Tia di samping lemari. Lance menunggu di dekat pintu.

X menatap sebentar Tia yang tidur sebelum kemudian melangkah keluar kamar menyusul yang lain yang sudah keluar duluan. Pintu otomatis pun tertutup.

"Aku belum pernah melihatmu," Zero membuka pembicaraan ketika mereka berjalan meninggalkan kamar Tia. "Kau yang bernama Lance, 'kan?"

"Ya," jawab Lance yang berjalan paling depan tanpa berbalik.

"Kami sudah mendengar tentangmu dari Tia. Kau yang membuatnya berada di masa seratus tahun yang lalu dan di masa sekarang. Tapi, kenapa kau sampai repot membuat skenario seperti itu untuknya?"

"Hanya supaya dia tidak berniat ingin pulang sampai masalah ini selesai," jawab Lance, tetap tanpa berbalik. "Semenjak kalian hilang, aku benar-benar panik memikirkan keadaan sekarang. Hanya ini cara yang kupunya. Kalau kalian protes, silakan. Aku tidak keberatan. Yang penting aku melakukan ini demi semua orang."

"Tapi, dengan menggunakan Tia yang sebenarnya bukan berasal dari masa ini, apa itu tidak apa-apa?" tanya X cemas. Takutnya itu bisa saja mengubah sejarah karena Tia berasal dari masa jauh sebelum era Reploid.

"Berubah atau tidaknya tergantung Tia. Tapi, sejauh ini tidak ada yang berubah," ujar Lance. "Dan kurasa gadis itu tidak punya hubungan apa-apa dengan apa yang terjadi sekarang. Aku sudah menyelidiki sedikit. Dia cuma warga sipil biasa yang tinggal di daerah yang masih terpencil."

"Lalu, bagaimana dengan keluarganya?" tanya X lagi.

"Saat kubawa dia ke masa seratus tahun yang lalu, aku membuat semua orang yang mengenalnya melupakan tentang dirinya hingga kubawa pulang kembali. Tapi, kedatangannya ke masa ini, aku tidak melakukannya. Dia akan dianggap hilang di sana."

"Kau membuat keluarganya khawatir!" bentak X marah. "Tidak adakah cara lain saja?"

"Itu resiko. Aku tidak punya pilihan lain. Soalnya cuma Tia yang cocok menggunakan obatku. Kalaupun membuat Reploid sehebat kalian, kurasa akan berujung kegagalan lagi seperti yang dilakukan Ciel pada Copy X. Kalaupun ada kemungkinan berhasil, waktunya kurasa tidak cukup untuk merampungkannya."

"Apa Tia tidak akan apa-apa menggunakan obatmu itu? Tidak ada efek samping yang buruk?" tanya Zero.

"Sejauh ini tidak ada efek yang buruk. Tapi, aku akan terus mengawasinya dan bersiaga bila terjadi apa-apa."

"Kalau terjadi sesuatu pada Tia, aku tidak akan memaafkanmu," desis X penuh ancaman.

Zero tercengang melihat raut wajah X yang seperti itu. Jarang-jarang Reploid biru itu mempelihatkan raut seperti itu hanya untuk Tia. Mungkin saja karena Tia adalah 'adik' kesayangannya karena selama Tia di markas Maverick Hunter, X hampir selalu bersama gadis itu selain karena dia yang bertanggung jawab atas Tia selama di markas.

Lance tidak bereaksi. Tetap jalan dengan tenang. Pemuda itu tidak akan membalas protes atau tindakan penolakan apa pun terhadapnya karena sejak awal dia sudah merasa bersalah kalau menggunakan manusia. Dan sekarang dia semakin merasa bersalah karena tidak bisa membawa Tia pulang karena alatnya hancur. Dia harus mulai melakukan pencarian cara agar Tia bisa pulang ketika semua ini sudah selesai. Biarpun kalau cuma itu yang bisa dilakukannya untuk membalas bantuan yang diberikan oleh Tia.


-x-x-


Tia membuka matanya. Dia langsung bergerak duduk ketika menyadari dirinya sudah berada di ruangan yang asing baginya walaupun dia yakin itu di markas Resistance. Jaket, sarung tangan, dan sepatunya telah terlepas dari badannya dan diletakkan di meja, kecuali sepatu yang berada di bawah meja. Namun, dia bingung siapa yang membawanya turun dari mobil ke kamar ini. Yang terbesit pertama adalah X. Soalnya X yang selalu menggendongnya ke kamar bila dia tertidur di tempat lain saat di markas dulu. Di markas Maverick Hunter dulu memang ada kamar yang disediakan khusus untuknya. Cuma kamar kecil juga. Yang kedua adalah Zero. Cuma sekali saja karena saat itu X belum kembali dari misi. Atau ada orang lain lagi?

Tia mendadak terdiam. Kalau memang benar dirinya digendong hingga ke kamar, itu artinya setidaknya ada sejumlah anggota Resistance yang melihatnya digendong. Kalau waktu masih kecil, tidak masalah. Tapi, dengan usianya yang sudah menginjak remaja begini digendong di depan umum, rasanya malu sekali...

"Bagaimana aku keluar sekarang kalau begini?" keluh Tia. Akhirnya dia pasrah saja akan dipandang seperti apa nanti.

Dia turun dari tempat tidur ke sebuah pintu yang merupakan pintu manual di kamar itu. Dia pikir itu kamar mandi. Ternyata benar. Langsung saja dia mandi. Setelah mandi dan kembali berpakaian, dia menatap ke cermin yang berada di atas westafel. Rambutnya yang sudah pendek sebelah itu mau dibagaimanakan? Kalau digeraikan saja, terlihat tidak rapi.

Dia mencoba mengkuncir satu seperti biasa. Terlihat aneh. Dia tinggikan kuncirannya. Bagian yang pendeknya masih terlihat jelas dan membuat terlihat tidak rapi. Iseng dia mengkuncir dua. Ada kesan yang berbeda biarpun masih terlihat aneh karena panjang kunciran yang berbeda. Kepalanya juga terasa berat sebelah.

"Beginikan saja, deh," gumamnya. Dia sudah pusing mau dibuat seperti apa rambutnya itu. Dia bukan ahli fasion.

Tia melangkah keluar kamar. Senjatanya ditinggalkan saja di kamar. Dia masih merasa pegal karena mengayunkan dengan sering senjata yang besar nan berat itu. Belum lagi ketika digunakan sebagai tameng untuk menahan serangan MEFE yang membuat kakinya agak terbenam ke dalam tanah.

Lorong di luar sudah tidak asing baginya. Itu lorong yang menuju ruang kerja Lance. Ternyata kamarnya tidak jauh dari tempat Lance. Tapi, dia tidak peduli mau di mana kamarnya. Kemudian dia melangkah lagi. Tempat yang dia tuju berikutnya adalah ruang Operator. Dia berfirasat kuat teman-temannya, terutama X dan Zero, sedang berkumpul di sana. Benar saja, semua anggota utama sedang berkumpul di sana, kecuali Lance yang entah ada di mana lagi sekarang.

"Malam, Tia," sapa X. Ternyata sudah malam rupanya.

"Malam," sapa Tia.

"Ganti model rambut?"

"Cuma mencari yang cocok untuk potonganku yang sekarang akibat terkena serangan MEFE tadi."

"Terlihat manis." Tangan X menepuk pelan kepala Tia.

"Terima kasih," sahut Tia, tersenyum tipis. "Oh! Maaf, ya, tadi aku ketiduran," sambungnya cepat.

"Kau ini memang bisa tidur di mana saja, ya," ledek Zero. "Dari kecil tidak berubah."

"Iya, deh. Maaf...," sahut Tia yang tidak mau terlalu meladeni Zero.

"Dari kecil?" Ciel menatap bingung. "Kalian sudah kenal lama?"

Tia tersentak. Dia baru ingat kalau Ciel dan anggota Resistance yang sempat mendengar ceritanya tadi—minus Lance yang sudah tahu dari awal mengingat dia dalang dari yang dialami Tia—belum diberitahu yang sebenarnya. Mau tidak mau pun dia menceritakan yang sebenarnya.

"Maaf, aku tidak memberitahu yang sebenarnya karena takut kalian tidak percaya," ucap Tia mengakhiri ceritanya.

"Ini benar-benar mengejutkan," ucap Neige.

Ciel tidak berkomentar apa-apa. Tapi, dia sudah mengerti situasinya.

Alouette melangkah mendekati Tia. "Apa Kakak akrab dengan Kak Zero dan Kak X?" tanyanya polos.

"Kalau dengan Kak X, iya. Tapi, dengan Kak Zero, lebih sering kejar-kejaran," jawab Tia apa adanya.

Alouette menatap bingung karena tidak mengerti yang Tia maksud.

"Maksudku... Kak Zero sering mengejarku karena marah. Aku dan Kak Zero memang rada-rada musuhan dulu."

Suasana ruangan mendadak hening cukup lama.

"Wah, sisi lain Zero yang terungkap!" seru Neige semangat. "Aku tidak menyangka Zero punya sisi yang seperti itu. Selama bersama kami, cuma ekspresi dingin dan datar saja yang dia berikan."

"Parahnya...," gumam Tia.

Zero tidak berkomentar apa-apa, tapi matanya sedikit berkilat kesal. X yang menyadarinya hanya tersenyum kaku.

"Oh, ya. Apa aku melewatkan sesuatu saat tidur tadi?" tanya Tia mengganti topik.

"Tidak, kami baru saja mau memulai," jawab Ciel.

Layar besar di ruangan menampilkan peta yang sebagian besar daerahnya diwarnai kuning.

"Sekarang ini sebagian besar wilayah telah dikuasai oleh alien," Ciel memulai. "Tapi, entah kenapa ada penurunan aktifitas setelah pertarungan tadi sehingga di beberapa tempat pertahanannya menjadi lemah. Ini bisa menjadi kesempatan untuk melakukan pengambil alih wilayah. Kita bisa memulai dengan mengambil alih kota pusat Neo Arcadia karena merupakan salah satu tempat yang pertahanannya melemah paling dekat dengan di sini."

"Apa itu tidak seperti jebakan?" tanya Zero.

"Yah, aku juga merasa demikian. Tapi, kalau kita berhasil mengambil alih, kita bisa mempersiapkan pasukan dengan lebih baik untuk pertempuran lainnya. Kita pun bisa memperkuat pertahanan dengan fasilitas yang ada di sana," jelas Ciel.

"Tapi, resikonya terlalu besar," kata X. "Jumlah pasukan sekarang terlalu sedikit untuk bisa mengambil alih kota pusat yang lumayan luas. Belum lagi untuk menangani kalau-kalau ternyata itu jebakan."

"Kota pusat, ya? Sebelum ke sini, aku dari sana," kata Tia. Perhatian pun teralih padanya. "Sejak awal kondisi di sana memang renggang. Aku cuma bertemu beberapa robot besar dan sejumlah robot kecil yang membentuk kelompok-kelompok kecil. Bukan masalah. Aku pun sempat jalan-jalan juga sebentar untuk sekedar mencari informasi keadaan sebelum akhirnya aku melihat terjadi serangan mendadak di tempat Ciel dan Lance berada."

"Jadi, sejak awal memang renggang, ya. Kalau begitu, sepertinya tidak masalah," kata X. "Kita bisa membagi pasukan yang ada. Tapi, setiap pasukan harus ada petarung pro untuk berjaga-jaga bila ada serangan yang kuat. Itu artinya aku, Zero, dan...," dia menatap ragu sebentar pada gadis berambut hitam di sebelahnya. Mendadak pikirannya teringat saat Tia yang berada di lokasi serangan machanoloid entah bagaimana dan gadis itu menangis keras di pelukannya. "Dan Tia."

"Ada yang salah, Kak?" tanya Tia yang menyadari raut wajah X sempat berubah sebentar.

"Bukan apa-apa," jawab X sambil tersenyum tipis yang dipaksakan. Kenangan yang satu itu benar-benar mengganggu pikirannya seolah mengatakan Tia itu tidak suka pertarungan sebenarnya walaupun sekarang telah menjadi seorang petarung.

"Berarti hanya tiga kelompok yang dibentuk?" tanya Zero.

"Kayaknya itu terlalu sedikit untuk menjelajah semua area kota," kata Neige. "Coba kalau Four Guardians juga ada. Karena sekarang ada X, mereka pasti bisa lebih dikendalikan."

"Four Guardians?" Tia baru mendengar nama itu.

"Itu adalah para bawahanku setelah aku mendirikan Neo Arcadia," jelas X.

Tia bengong sebentar. Me-loading perkataan X, sebelum akhirnya dia terhenyak. "Kak X yang mendirikan Neo Arcadia? Keren...," pujinya. Dia tidak menyangka kalau Neo Arcadia yang menurut informasi yang didapatkan merupakan negara yang hebat didirikan oleh X.

"Terima kasih," sahut X tersenyum.

"Aku tidak mau," tolak Zero tiba-tiba. Semua pandangan tertuju padanya. "Terutama Harpuia. Dia pun juga pasti tidak akan mau."

"Pernah bermasalah, ya?" tanya Tia pada X.

"Ya, Four Guardians sempat berada di bawah perintah Copy X, tiruanku, setelah aku menyegel Dark Elf. Saat itu mereka jadi membuat kekacauan dan Zero yang menghadapi mereka," jelas X.

Tia mengangguk mengerti. Tidak heran kalau Zero menolak untuk bekerja sama dengan yang namanya Four Guardians.

"Tapi, kalau cuma ada tiga kelompok... apa bisa mengambil alih kota pusat yang luas dengan cepat?" tanya Ciel. "Soalnya pengambilalihan harus cepat."

"Kalau dipikir-pikir rasanya sulit...," kata Tia. Dia sudah tahu seberapa luas pusat kota itu. Mengambil alih dengan tiga kelompok terdengar konyol. "Tidak adakah ide lain untuk bisa menambah jumlah pembagian kelompok?"

"Menurutku tidak ada cara lain selain mencari petarung yang kuat seperti kalian," ujar Neige. "Terlalu beresiko membiarkan kelompok yang tidak berisi petarung pro karena bisa saja mereka malah jadi sasaran anggota Seven Apostles. Kalian tahu 'kan seperti apa anggota Seven Apostles dalam membantai?"

"Jadi, intinya kita harus menemukan petarung lain, ya?" tanya Tia. "Tapi, siapa?"

"Kita bahas lagi saja besok," kata Zero tiba-tiba. "Sepertinya kita tidak punya ide apa-apa lagi untuk menangani masalah ini. Sekarang kita istirahat saja dulu. Kalau ada perkembangan mengenai para alien itu, segera dilaporkan."

Tak ada yang menolak. Sekarang memang sebaiknya beristirahat saja setelah seharian tadi mengalami berbagai kejadian berat.


-x-x-


Tia merenggangkan badannya yang masih terasa kaku dan tegang. Dia kemudian menghela nafas panjang. "Aku sama sekali tidak mengira keadaan di sini akan separah ini," ucapnya.

"Aku juga tidak menyangka kalau sampai terjadi serangan seperti ini," kata X yang berjalan di sebelahnya. "Kupikir semua sudah berakhir. Ternyata belum."

Tia memandang wajah X yang agak murung. Dia juga terlihat seperti lelah. Telah sangat lelah dengan semua ini. Hidup lebih lama dari manusia dengan beban berat seperti itu, manusia sendiri tidak mungkin bisa menahannya. Tapi, biarpun sudah tahu merasa semua ini berat, X masih mau datang untuk membantu. Dia terlihat lebih kuat dari yang dikira. Orang yang membuat X pastilah hebat bisa membuat X hingga bisa bertahan selama ini.

Selain itu, X membuatnya teringat pada temannya yang berada di masanya. Mereka memiliki banyak kesamaan. Senyumnya, cara bicara, sifatnya... Semuanya terlihat mirip walaupun tidak terlalu. Rasanya seperti X itu adalah keturunan temannya itu.

"Hei, Kak, aku ingin tanya, sebenarnya siapa yang membuat Kakak sebenarnya?" tanya Tia. "Aku penasaran."

"Apa tidak masalah memberitahumu? Kau itu dari masa lalu," ucap X agak ragu.

"Aku tinggal di daerah terpencil yang menurutku mustahil mau didatangi oleh orang-orang yang seperti ilmuan jenius. Presiden saja belum tentu mau datang. Selama ini juga aku tidak pernah bertemu orang yang kurasa merupakan orang yang berpengaruh pada masa kini. Jadi... kurasa tidak masalah."

"Kalau begitu... kurasa memang tidak masalah," ujar X. "Oke, akan kuberitahu. Yang membuatku namanya Dr. Light, Thomas Light," jawabnya.

Tia terhenyak. Langkahnya terhenti. X sampai ikut berhenti juga.

"Ada apa?" tanya X bingung.

"Thomas Light... Dia itu temanku."