Episode 3
"Thomas Light... Dia itu temanku."
X terbelalak tak percaya. "Kau yakin?"
"Ng... mungkin itu cuma sama namanya saja. Tapi...," Tia memandang X.
"Tapi, apa?" tanya X penasaran.
"Kurasa Kak X memang punya kemiripan dengannya," jawab Tia. "Banyak dari Kak X yang menurutku mirip dengannya. Atau... ini cuma kebetulan saja?"
X hanya diam. Dia terlihat masih terlalu terkejut.
"Mungkin kalau Kak X menceritakan tentang Dr. Light yang Kak X tahu, kita bisa membandingkannya untuk mencaritahu apa dia orang yang sama dengan temanku atau tidak," saran Tia.
X menggeleng pelan. "Aku tidak bisa," lirihnya. "Aku... belum begitu mengenal Dr. Light. Beliau membuatku di masa-masa terakhir hidupnya. Setelah aku selesai, aku pun disegel untuk menjalani tes yang memakan waktu cukup lama dan Dr. Light tidak memiliki waktu lebih lama lagi saat itu sehingga ketika aku bangun, beliau sudah tiada."
Pundak Tia melemas. Mendengar cerita X, membuatnya seperti sedang mendengarkan takdir kematian seseorang walaupun masih belum yakin orang yang X ceritakan ini memang temannya. Tapi, dia harus mencari tahu. Hal ini bisa saja berpengaruh bila dia pulang nanti kalau memang temannya itu orang yang sama dengan yang diceritakan X. Dia harus mencari tahu agar setidaknya ada pencegahan untuk membuat masa depan tidak berubah. Kalaupun nantinya ternyata malah berubah, dia tidak yakin kalau itu akan berubah ke yang lebih baik dari saat ini.
"Aku punya satu cara untuk memastikan pembuat Kak X itu. Apa dia memang orang yang sama atau tidak," kata Tia.
"Caranya?"
"Aku memiliki kemampuan lain selain kemampuan untuk bertarung. Aku punya kemampuan untuk memanipulasi alat-alat yang mengandung unsur elektronik dengan sentuhan. Selain itu, aku pun bisa merasakan rangkaian-rangkaian di dalamnya sehingga aku bisa mencari tahu apakah itu alat yang dibuat oleh orang yang sama atau berbeda. Temanku yang bernama Thomas Light ini, atau sering kupanggil dia dengan nama Tom, sering membuat alat yang menggabungkan elektronik dan mesin. Dia memiliki kekhasan sendiri dalam alatnya sehingga biarpun ada yang bisa membuat alat yang sama, aku bisa tahu mana yang miliknya sebenarnya. Dan semua alat buatannya memiliki ciri khas yang sama. Kalau memang Kak X adalah buatannya yang menandakan dia memang adalah Dr. Light, seharusnya mesin Kak X memiliki ciri khasnya," jelas Tia. "Jadi, mau dicoba?"
"Kurasa tidak ada salahnya," jawab X.
Tia kemudian memegang tangan X. Dia memejamkan mata dan berkonsentrasi. Dia merasakan setiap mesin di dalam tubuh X. Setelah beberapa menit memeriksa, Tia pun membuka matanya.
"Bagaimana?" tanya X yang agak gugup juga mendengar hasilnya.
Tia tersenyum tipis. "Ternyata temanku itu... memang Dr. Light," jawabnya.
X tercengang. Jadi, Tia memang teman dari orang yang telah membuatnya. Orang yang menciptakannya. Tapi, dia masih bingung harus menanggapinya bagaimana. Dia merasa senang, syok, tak percaya. Semua perasaannya bercampur aduk.
"Ini... kabar bagus atau buruk, ya?" tanya Tia. Nadanya terdengar lirih. "Soalnya aku sudah tahu apa yang akan terjadi padanya di masa depan. Aku pun jadi bingung nantinya harus bersikap bagaimana padanya setelah tahu semua ini. Kalau sampai salah bersikap, takutnya itu akan mempengaruhi masa kini. Dan... bagaimana dengan ingatanku tentang tempat ini selama ini nantinya kalau sampai masa kini berubah?"
Tia benar-benar cemas sekarang. Padahal tadinya berniat untuk mencari solusi agar setidaknya waktu tetap berjalan seperti yang tertulis dalam sejarah masa kini. Tapi, begitu tahu yang sebenarnya, pikirannya malah jadi kacau.
X mengusap lembut kepala Tia. "Tenanglah. Aku yakin kau bisa mengatasinya," hiburnya. "Jadi... bagaimana kalau kita bahas hal lain saja? Seperti... bagaimana Dr. Light yang kau kenal itu? Aku masih ingin bisa mengenalnya walaupun tidak langsung. Itu bisa mengalihkan pikiranmu, 'kan?"
Tia tertegun sejenak sebelum kemudian tersenyum. "Baiklah, akan kuceritakan," sahutnya. "Tapi, sebelum itu ada yang membuatku sedikit kebingungan. Aku ini temannya Thomas Light yang membuat Kakak yang bisa dibilang juga adalah ayahnya Kakak. Jadi, bukannya itu berarti aku seharusnya dipanggil dengan sebutan 'Bibi' atau semacamnya?"
X langsung menutup mulutnya, menahan diri untuk tertawa. Rasanya lucu saja memanggil Tia yang sekarang dengan sebutan seperti itu.
"Ugh... Jangan ketawa, ah. Jadi, tidak enak, nih," gerutu Tia.
"Maaf, maaf..." X berdehem untuk benar-benar menenangkan diri. "Kurasa sebaiknya kita memanggil seperti biasa saja. Daripada nanti situasinya jadi semakin rumit," ujarnya.
"Ya, kurasa itu memang yang terbaik," sahut Tia. "Jadi, mau mulai cerita dari mana?"
"Bagaimana dengan... awal pertemuan kalian?"
"Oke," sahut Tia.
Mereka kembali berjalan dengan Tia yang menceritakan tentang Thomas Light.
Pertemuan Tia dan Thomas Light berawal dari sebuah acara seminar yang dilaksanakan di kota tempat tinggal Tia yang menurut waktu Tia sekitar dua tahun yang lalu. Cuma seminar kecil-kecilan untuk menambah keantusiasan para pelajar dalam mempelajari teknologi. Di sana dipamerkan beberapa rancangan robot berukuran kecil. Tia terkejut begitu tahu yang membuat salah satu robot itu adalah seorang remaja yang sebaya dengannya. Dia tahu setelah memberi komentar mengenai robot tersebut karena setelah itu, remaja itu—yang merupakan Thomas Light—memberitahu dirinya yang membuat robot tersebut.
Tia yang sudah sedikit tahu mengenai kecanggihan teknologi karena pengalamannya berada di masa depan membuatnya berbicara cukup banyak dengan Thomas Light itu. Dia kemudian dikenalkan dengan Albert Willy, rekannya Thomas Light. Orang yang dingin, namun sebenarnya sangat perhatian. Mereka berdua pun diajak Tia untuk bertamu ke rumahnya walaupun pada akhirnya semenjak itu kedua remaja calon ilmuan itu jadi sering datang ke rumah Tia untuk sekedar kabur dari kegiatan mereka sebagai calon ilmuan—karena kepintaran mereka yang tinggi untuk anak seusia mereka. Biasanya saat datang mereka beralasan sedang liburan. Beruntung orangtua Tia sudah menganggap mereka bagian dari keluarga sendiri sehingga tidak mempermasalahkan mereka menginap.
X tertawa pelan saat Tia menceritakan kalau Thomas Light sering terpeleset di kolam ikan belakang rumah sehingga Tia kadang harus memperingatkan berulang-ulang untuk tidak ke sana atau setidaknya menjaga jarak dari tepi kolam. Sayangnya, itu tidak membuatnya berhenti terpeleset ketika mengunjungi kolam. Harus ada Albert Willy untuk mencegahnya masuk ke dalam kolam ikan.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin diceritakan pada X, tapi pembicaraan mereka terhenti ketika Zero datang.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Reploid berambut pirang itu.
"Cuma menceritakan seperti apa orang yang membuat Kak X dulunya," jawab Tia.
"Orang yang membuat X?"
"Tia ternyata adalah kenalan dari Dr. Light, orang yang membuatku," jelas X.
"Kau bercanda, 'kan?" Zero meragukan.
"Seharusnya itu memang memungkinkan karena Tia 'kan dari masa lalu."
"Bukannya Lance bilang Tia hanya warga sipil biasa yang tidak punya hubungan apa-apa dengan apa yang terjadi sekarang?"
"Lance hanya tahu sedikit. Jadi, dia pasti belum tahu bagian ini."
"Kalian bicara apa saja dengan Lance?" tanya Tia.
"Bukan apa-apa. Hanya menyangkut dirimu yang berubah seperti sekarang," jawab X, "dan juga mengenai kedatanganmu ke sini."
"Jadi, kalau Tia punya hubungan dengan orang yang membuatmu X, itu artinya semua tindak tanduknya begitu dia pulang ke masanya akan sangat rawan," kata Zero. Dia menatap Tia. "Kau bisa mengatasi hal itu, Tia?"
"Aku tidak tahu, Kak Zero," jawab Tia. "Kita lihat saja apa yang akan terjadi. Tapi, aku akan mencoba berusaha untuk tidak membuat kesalahan fatal."
"Baguslah kalau begitu," sahut Zero sedikit lega. Cuma sedikit karena masalah ini masih tidak diketahui seperti apa hasil akhirnya karena Tia belum pulang ke masanya dan akan bertindak seperti apa nantinya.
"Omong-omong, Kak Zero habis dari mana?" tanya Tia.
"Cuma berkeliling untuk bisa mengetahui setiap bagian markas."
"Sudah sampai mana?"
"Semuanya."
Tia terdiam sejenak.
"Semua? Cepat sekali."
"Bukan cuma itu. Sambil jalan tadi, aku juga mencoba memikirkan cara agar kita bisa mengambil alih kota dengan jumlah pasukan yang sekarang. Tapi, sama sekali tidak ada kemajuan."
"Itu memang sulit," kata X. "Bahkan bisa dibilang mustahil."
"Kecuali terjadi sesuatu yang membuat pasukan tidak perlu turun tangan dan hanya kita saja yang bertindak," kata Tia.
X dan Zero menatap Tia dalam diam.
"Kenapa?" tanya Tia bingung ditatap seperti itu.
"Tidak, cuma... pemikiranmu itu sangatlah tidak rasional," jawab Zero.
"Aku 'kan cuma berpendapat. Tidak peduli itu rasional atau tidak," ucap Tia cuek.
Zero mengusap kepala Tia sedikit kasar karena gemas dengan gaya berpikir gadis itu. "Kau masih kekanak-kanakan. Sangat sulit dipercaya saat di pertarungan tadi kau sangat berbeda."
"Menurutku suatu kondisi bisa mengubah seseorang biarpun cuma saat itu saja," ujar Tia.
"Kau terlalu banyak berimajinasi." Zero semakin memperkuat usapan kasarnya. Dia benar-benar gemas dengan anak itu.
X hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah mereka yang mirip dengan di masa seratus tahun lalu. Sangat nostalgia. Tidak disangka kalau hal itu sudah berlalu begitu lama.
"Sudahlah, Kak!" pinta Tia. Kepalanya mulai terasa pening diusap-usap seperti itu. Dia menangkap tangan Zero dan ketika itu pula dia tidak sengaja melihat rangkaian mesin dalam tubuh Zero. "Ini..."
"Ada apa?" tanya Zero yang melihat perubahan raut wajah Tia. Dia menarik tangannya dari kepala gadis itu.
"Kak Zero, sebenarnya siapa yang membuat Kakak?" tanya Tia. "Kalau boleh kutahu."
Zero nampak terkejut. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kak Zero..."
"Aku tidak tahu," jawab Zero. "Aku sama sekali tidak tahu dan juga tidak mau tahu. Siapa pun dia, aku sama sekali tidak ingin mengenalnya." Wajahnya tertunduk.
"Tapi, aku mengenalnya," kata Tia tegas. "Albert Willy."
X terkejut. "Albert Willy? Temannya Dr. Light? Kau yakin itu?"
"Tidak salah lagi," jawab Tia yakin. "Seluruh rangkaian dalam tubuh Kak Zero memiliki ciri khas Albert."
"Albert Willy?" desis Zero. Dia mengangkat wajahnya kembali dan menatap Tia dan X. "Terserah kau mau bilang apa. Aku pun tidak tahu siapa dia. Aku juga tidak pernah bertemu dengannya. Aku adalah aku. Tidak ada hubungannya dengannya."
"Kakak sangat membencinya?" tanya Tia pelan.
Zero tak menjawab langsung. Dia diam cukup lama. "Ya," jawabnya pada akhirnya.
"Kenapa?"
Zero tak menjawab.
"Kak?"
Zero berbalik dan melangkah menjauh. Tia jadi merasa agak bersalah menanyakan hal seperti itu yang sudah diperlihatkan jelas kalau Zero sama sekali tidak ingin membahasnya. X mengusap kepala Tia lembut untuk menenangkannya. Tia hanya tersenyum tipis.
"Kita keluar saja. Tadi kulihat langit sedang cerah," ajak X. "Zero tidak marah padamu. Dia hanya ingin sendiri sekarang."
Tia mengangguk dan mereka kembali melangkah.
-x-x-
"Apa ini?" Alouette memandang sebuah kotak yang terlilit oleh akar pohon di sebatang pohon tua yang masih berdiri. Gadis kecil itu masih terus memandanginya.
"Alouette!" Neige memanggil dari jauh. "Alouette! Kau di mana?"
Alouette tak menjawab panggilan. Dia hanya terus memandangi kotak yang terlilit akar pohon tersebut.
"Alouette, ternyata kau di sini. Pagi-pagi main hilang saja. Kalau kau sampai bertemu alien bagaimana?" oceh Neige yang malah tidak dipedulikan oleh Alouette yang masih memandang ke depan. Dia hampir kehabisan kesabaran. "Ayo, pulang! Aku tidak mau kita sampai bertemu alien di sini."
"Baik...," sahut Alouette. Dia pun melangkah menghampiri Neige.
Baru juga mereka menjauh beberapa langkah dari tempat mereka, mereka merasakan guncangan yang cukup kuat. Pohon-pohon di sekitar sampai bergoyang dan menimbulkan suara gemersik dedaunan. Pilar cahaya hijau kemudian muncul jauh di belakang mereka bersamaan dengan angin yang kencang.
"Apa ini?" Neige mencoba menghalangi terangnya cahaya dari pilar cahaya tersebut dengan salah satu tangannya. Tangan satunya memeluk Alouette dengan erat.
-x-x-
Alarm berbunyi nyaring di seluruh markas. Tia, X, dan Zero segera ke ruang operator.
"Apa yang terjadi?" tanya X.
"Terdeteksi gelombang energi besar dari kota pusat. Gelombang yang tidak dikenal. Gelombangnya terpancar hampir ke seluruh kota," lapor Rogue.
Layar memperlihatkan peta kota dengan lingkaran gelombang merah yang bergerak menyebar.
"Ini ulah alien?" tanya Tia, menatap Ciel yang berada di sebelahnya.
"Tidak tahu. Gelombang ini juga tiba-tiba saja muncul," jawab Ciel.
"Pasti ini ulah mereka," ucap Zero yakin. "Siapa lagi kalau bukan mereka."
"Tapi, ini baru pertama kali terjadi," kata Ciel.
X berbalik. "Rogue, bisa tampilkan kondisi kota?"
"Tidak bisa. Gelombang itu mengganggu sistem," jawab Rogue. "Sama sekali tidak ada gambar yang bisa tertangkap."
"Berarti satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan ke sana," kata Zero.
"Apa tidak berbahaya pergi ke sana begitu saja?" tanya Ciel khawatir. "Ini bukan kejadian biasa."
"Ciel!" Neige tiba-tiba datang dengan berlari dan wajah panik. "Coba lihat keluar!"
Semua berlari keluar dari markas. Di luar, jauh dari markas, mereka melihat kepulan kabut berwarna hijau yang membentuk kubah besar.
"Di sana bukannya... arah lokasi kota pusat?" gumam X.
Di atas mereka tiba-tiba melesat rantai-rantai hitam berukuran besar dari berbagai arah. Entah dari mana asalnya. Semua rantai itu mengarah ke kabut. Masuk ke dalam sana. Suara gemercingnya menggema nyaring.
"Kita gunakan rantai itu untuk ke sana," usul Zero.
"Zero, kau mau ke sana? Kita belum tahu apa yang ada di sana." Ciel menatap cemas. Perasaannya tidak enak mengenai kabut itu.
"Makanya kita harus bertindak cepat agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk anggota lain, perkuat pengamanan di sini," ucap Zero. "Aku duluan." Dengan gesit dan cepat, dia melompat ke atas dan menangkap salah satu rantai yang melintas dan dengan cepat membuatnya terbawa ke arah kabut. Ciel sama sekali tidak sempat mencegahnya.
"Baiklah, aku juga!" Tia bersiap-siap melompat dengan tangannya yang sudah memikul Rock Cannon.
"Tia!" panggil X tiba-tiba.
Tia menoleh.
"Kau... tidak takut?"
"Hah?" Tia menatap bingung. Sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Reploid itu.
"Ah, lupakan saja. Ayo, kita susul Zero," ucap X cepat. Dia melompat juga ke atas dan menangkap rantai yang lain.
"Kak X kenapa, sih?" gumam Tia bingung. "Oke, aku pergi!" Dia pun melompat dan menangkap rantai.
Ciel mengeratkan kepalan tangannya. "KALIAN HARUS KEMBALI!" teriaknya sekeras mungkin biarpun tahu kalau suaranya sudah tidak akan terdengar lagi, terutama oleh Zero. "Kalian harus kembali...," lirihnya.
Alouette mendekati Ciel dan menarik roknya pelan. Matanya menyiratkan kecemasan. "Kak Ciel tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa," jawab Ciel sambil memaksa senyum.
"Kau kenapa, Ciel? Rasanya kau terlalu cemas sekarang," kata Neige.
"Entahlah, Neige. Tapi... perasaan ini...," Ciel mengepalkan tangannya di depan dadanya, "rasanya sama seperti dulu saat Zero... tak lagi menjawab panggilan setelah menghancurkan Ragnarok."
"Ciel... Sebaiknya kau jangan berpikiran seperti itu. Kau membuatku jadi ikut-ikutan cemas sekarang," ujar Neige. "Zero tidak lagi bertarung sendiri, 'kan? Ada X dan Tia bersamanya. Mereka pasti akan baik-baik saja," hiburnya.
"Ya...," Biarpun begitu, Ciel tetap tidak bisa menghilangkan perasaannya itu.
-x-x-
Tia sudah memasuki wilayah kabut. Bagian dalam kabut pemandangannya sangat berbeda dengan yang di luar. Bagian dalam sana bukan lagi sebuah kota. Hanya ada pilar-pilar raksasa berukir yang berdiri sembarang. Tidak teratur. Ada pilar yang juga sudah rubuh dan patah bagai reruntuhan kuno.
Langit di dalam kabut juga berbeda. Gelap dan dipenuhi petir-petir. Permukaan tanah juga ditutupi oleh kabut hijau.
Lokasi yang dituju oleh rantai yang melesat mulai terlihat. Sebuah gulungan rantai yang besar dengan listrik-listrik yang menyelimuti. Rantai-rantai itu terus bergerak menggulung. Tia juga mendengar suara jeritan seorang gadis yang menggema dari arah sana. Dia pun merasakan hal yang tidak mengenakkan dari gulungan rantai itu.
X dan Zero terlihat berdiri di atas salah satu pilar raksasa. Langsung saja Tia melepas pegangannya pada rantai tumpangannya dan mendarat di pilar tersebut.
"Kelihatannya ada sesuatu di dalam sana," kata X. Dia terus memperhatikan gulungan rantai yang semakin membesar saja. Sesekali terlihat bergerak seperti akan meledak.
"Harus dibagaimanakan? Itu terlalu besar kalau kita mencoba menghancurkannya," kata Tia. Gulungan rantai itu sudah melebihi ukuran City Eater, robot raksasa yang mirip kelabang yang berterbangan di atas kota. Nama yang sesuai dengan fungsinya yang memang menghancurkan kota.
"Kita coba periksa lebih dekat," saran Zero. Dia melompat turun duluan dari pilar. Tia dan X menyusulnya. Mereka mendarat dan mulai berjalan mendekati gulungan rantai raksasa itu.
Mereka melangkah dalam diam. Tak ada siapa-siapa di tempat itu selain mereka. Mesin-mesin penghancur milik para alien tidak ada terlihat. Tia mulai merasa ini tidak beres. X dan Zero juga berpikiran sama. Apakah ini jebakan?
"Surprise!" MEFE tiba-tiba muncul dari balik salah satu pilar dan menebaskan kuat kapaknya. Tia, X, dan Zero melompat berpencar. Serangan wanita ungu itu menghancurkan permukaan tanah.
Belum selesai, anggota Seven Apostles yang lain bermunculan dari balik pilar-pilar raksasa yang lain. Mereka menyerang ketiga lawan mereka yang sudah bersiap dengan senjata mereka. LLWO menyerang X dengan peluru-peluru bola energinya yang melesat cepat. SZZU dan tunggangannya, CKRY, menyerang Zero dengan serangan keras. Sementara Tia yang sudah kembali menghadapi MEFE, tambah diserang oleh robot-robot berwarna merah jambu yang menembakinya dengan tembakan beruntun tanpa henti. Dia pun harus berlari menghindar dan membagi dua konsentrasinya untuk menghadapi dua jenis musuh yang berbeda itu.
"Hei, MEFE! Jangan mengganggu! Dia buruanku!" Seorang gadis kecil bertangan mekanik besar berseru keras dari atas salah satu robot merah jambu. Dia mengenakan tudung dengan telinga kelinci logam yang menghiasinya. Pakaiannya yang seperti penari balet—minus rok tutu—didominasi warna hitam dan merah jambu.
"Kau yang mengganggu, XNFE! Dia buruanku sejak awal!" bentak MEFE kesal. Dia kembali berlari untuk mengejar Tia, namun buruannya itu tidak terlihat lagi di sekitarnya. "Ke mana dia?"
Tia muncul dari balik pilar yang rubuh tepat di sebelah MEFE yang masih sibuk mencarinya. Tangannya yang sudah menggenggam Black Blade ditebaskan kuat. Serangan itu hampir mengenai sasaran, namun MEFE masih berhasil menyadarinya di detik-detik terakhir dan menahan serangan itu dengan ganggang kapaknya.
Tia melompat mundur. Ketika itu juga dia dihujani tembakan dari robot-robot milik XNFE yang membuatnya segera berlari secepat mungkin untuk menghindari tembakan.
"Sudah kubilang, jangan mengganggu!" bentak MEFE lagi. Dia mengejar Tia yang sudah menjauh.
"Terserah. Siapa cepat dia dapat, 'kan?" ledek XNFE, menyunggingkan seringai tipis.
-x-x-
Bola-bola energi berjumlah banyak mengejar X yang berlari menghindar. Begitu semua bola itu lenyap karena tak satu pun yang mengenainya, X berhenti dan berbalik sambil membidikkan X-Buster. Tapi, LLWO yang menjadi lawannya tak terlihat di mana pun.
LLWO tiba-tiba muncul di sampingnya dengan senjatanya yang sudah dibidik tepat di sampingnya. X menoleh.
"Lamban," desis LLWO.
Tembakan LLWO menimbulkan ledakan. Debu dan asap menjadi satu dan mengepul di udara. LLWO muncul di atas salah satu pilar yang berada tak jauh dari lokasi ledakan. Dia memandang kepulan hitam itu dengan tatapan mengejek.
Dia terbelalak ketika melihat suatu kilauan muncul dari dalam kepulan asap dan disusul dengan tembakan laser bertenaga besar yang melesat ke tempatnya. Pilar tempatnya berdiri hancur seketika dan rubuh.
Asap menghilang, memperlihatkan X yang terlihat sedikit berbeda dengan tangan kanannya direntangkan ke depan. Tubuhnya memendarkan cahaya biru dengan dua lingkaran data yang berputar menyilang di tubuhnya. Perlahan kondisi X kembali seperti sedia kala.
LLWO yang ternyata berhasil lolos dari serangan tadi, muncul beberapa meter di depan X. Dia memicingkan matanya. Tubuhnya sedikit kotor karena tembakan tersebut.
X menurunkan tanganya, menatap lurus pada lawannya. "Sebenarnya apa tujuan kalian melakukan penyerangan ke sini? Dan apa yang sebenarnya berada di balik gulungan rantai itu? Apa yang kalian rencanakan!?"
"Kau salah menanyai orang."
X menatap heran.
"Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya ikut melakukan serangan ke sini."
X terkejut. "Kau hanya ikut tanpa tahu alasan melakukannya? Tapi... kurasa itu tidak mungkin. Kau pasti punya tujuan."
LLWO tidak berkomentar apa-apa lagi. Dia malah memandang gulungan rantai yang berada jauh di depannya.
"Sebentar lagi...," bisiknya.
"Apa?" X tidak mendengar jelas.
"Dia akan bangkit."
X pun berbalik ke belakang. Gerakan rantai terlihat semakin sering.
X tersentak ketika merasakan pergerakan di belakangnya. Ketika dia berbalik kembali, LLWO sudah berada sangat dekat dengannya.
"Jangan pernah mengalihkan perhatian dari lawanmu."
Dan ledakan lebih besar kembali terjadi.
-x-x-
Zero melompat mundur. Dia melihat ledakan yang berasal dari tempat pertarungan X.
"X!"
"Jangan memandang ke arah lain!"
SZZU yang dibantu oleh lompatan CKRY, menyusul Zero dan menebaskan pedangnya. Zero menahannya, tapi karena dorongan yang terlalu kuat dan dia yang masih belum siap menerima serangan, membuat dia terhempas. Dia segera mengendalikan tubuhnya dan berhasil mendarat dengan kedua kakinya walau agak terseret ke belakang.
CKRY mendarat dengan kasar. Permukaan tanah sampai membentuk kawah dan menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.
"Baiklah, aku sudah tidak akan main-main lagi," ucap SZZU. "Kita akhiri sekarang!" Pedangnya dia pukulkan ke kepala CKRY yang membuat makhluk itu malah terlihat senang. Zero menatap jijik pada reaksi makhluk itu.
Meraung keras, CKRY menghantamkan tangannya ke tanah yang membuat tanah yang diinjaknya semakin amblas ke dalam. Kekuatannya meningkat drastis hanya karena dipukul dengan pedang SZZU.
Zero menyeringai tipis. "Aku juga akan mengakhiri pertarungan konyol ini." Dia berdiri tegap. Matanya dia pejamkan. Dia memajukan sedikit kaki kanannya. Kedua tangannya memegang Z-Saber ke depan.
SZZU menyipitkan matanya. "Kau menganggap remeh diriku?" geramnya karena tindakan Zero yang sama sekali tidak terlihat akan melakukan sesuatu yang kuat. "Habisi dia," bisiknya pada CKRY.
Kecepatan CKRY yang juga meningkat, membuat kecepatan gerakannya sama sekali tidak terlihat. Tapi, Zero tetap bergeming. Dia terus berkonsentrasi. Dia menggeser maju sedikit tubuhnya.
CKRY secara tiba-tiba muncul di depan Zero. Saat itulah Zero membuka matanya dan dengan gerakan yang sangat cepat, dia menebaskan pedangnya yang sekejap membesar dan melewati tubuh CKRY. Lalu pedang itu kembali ke ukuran semula.
Tali kekang CKRY putus. SZZU kehilangan keseimbangannya dan jatuh dari atas tubuh tunggangannya. Perlahan tubuh CKRY oleng dan menindih SZZU. Wanita alien itu menjerit keras. Dia menatap pucat pada Zero yang kini sudah berada tepat di depannya dengan pedangnya yang terhunus lurus ke arahnya. Mata Zero sama sekali tidak memperlihatkan rasa senggan. Dia menatap tajam.
"Ja-jangan..."
"Setelah semua yang kau perbuat?"
SZZU memejamkan matanya. Tidak tahan terus beradu tatap dengan Zero.
Zero melangkah menjauh tanpa bicara lagi. Pedangnya dia matikan dan meletakkannya di punggungnya. SZZU menatap heran.
"Hei, kenapa? Hei!"
Zero tidak mempedulikannya. Dia terus melangkah menjauh. Lalu, dia melompat tinggi meninggalkan SZZU yang masih tertindih itu.
-x-x-
Tembakan dari robot-robot XNFE masih mengejar Tia yang terus berlari cepat. MEFE yang tidak mau mengalah pada XNFE, menyerang Tia yang masih berusaha kabur dari hujan tembakan. Tia menangkis dengan meriamnya, tapi tetap terlempar karena dorongan yang kuat. Dia menghantam pilar yang telah rubuh hingga retak.
"MEFE! Kau mengganggu!"
"Kau yang mengganggu, kerdil!"
XNFE tersentak. "Kerdil? Ugh... kalau saja kau bukan rekan yang masih aktif, sudah kutembak juga kau," geramnya. Alien kecil itu tiba-tiba berbalik karena merasakan sesuatu. Dia melihat gulungan rantai yang semakin tidak beraturan gerakannya. Dia menatap kembali ke arah MEFE yang sibuk menyerang Tia dengan brutalnya. "Sudahlah... Aku juga sudah capek."
Robot-robotnya ditarik mundur dan membiarkan MEFE yang masih terus bertarung melawan Tia. MEFE tidak menyadari kepergian XNFE. Dia terlalu sibuk menghadapi Tia yang sudah membuatnya jengkel dengan kekalahan dua kali berturut-turut. Sedangkan Tia sudah menyadari kepergian alien berkostum merah jambu itu. Dia menghindari serangan-serangan MEFE sambil melihat ke arah gulungan rantai yang sempat ditengok oleh XNFE sebelum pergi. Dia bisa merasakan energi yang terpancar dari sana semakin kuat. Tapi, tak ada yang bisa dilakukannya selama MEFE masih terus menyerangnya tanpa henti.
Dia harus dihentikan dulu, pikir Tia. Dia memperhatikan setiap gerakan MEFE yang semakin brutal saja dalam menyerang. Beberapa bagian tubuhnya terlihat celah pertahanan yang terbuka karena terlalu fokus dalam menyerang.
Sekarang!
Api biru berkobar di mata kiri Tia bersamaan dengan kedua matanya yang berubah menjadi warna biru langit. Di tangan kanannya muncul Black Blade-nya yang langsung ditebas ke perut MEFE. Wanita alien itu terdiam. Kapaknya lepas dari tangannya. Tubuhnya kemudian ambruk. Dia hanya merintih.
"LLWO... sakit..."
Api biru di mata kiri Tia padam. Dia menatap MEFE yang sekarat. Wanita itu adalah alien yang telah membuat kekacauan di Bumi. Merusak di sana-sini dan menyerang tanpa belas kasih. Pantas dihukum mati. Tapi, Tia tidak bisa melakukannya begitu saja. Dia belum pernah membunuh sebelumnya. Itu membuatnya bimbang apakah harus melanjutkan ke tahap akhir atau tidak.
"Tia!"
Tia menoleh, melihat Zero yang berlari mendekatinya.
"Kak Zero?"
Zero menatap lawan Tia yang telah terbaring tak berdaya. Dia pun bisa melihat tubuh alien itu masih bergerak.
"Ayo, pergi," ajak Zero yang berbalik. "Biarkan saja dia. Ada yang lebih penting sekarang." Dia memandang gulungan rantai yang semakin membesar itu. "Aku merasakan akan ada yang keluar dari sana sebentar lagi."
"Aku juga merasakannya," kata Tia. "Sangat kuat."
"Kita bantu X dan segera mengurus rantai itu. Firasatku semakin tidak enak saja."
Tia mengangguk dan mereka berlari pergi menuju tempatnya X.
MEFE mengepalkan tangannya sebentar. Matanya memandang sayu ke depan karena sudah tak ada tenaga lagi.
"Dead Master..."
-x-x-
Ledakan demi ledakan menghiasi pertarungan antara X dan LLWO yang saling adu tembakan. Mereka saling termundur begitu saling menembak di jarak yang dekat. Keduanya terengah-engah.
"LLWO!"
Baik LLWO maupun X, menoleh ke arah asal suara. Gadis kecil berlengan robot dengan kostum berwarna hitam dan merah jambu, berjalan mendekati LLWO.
"Sudah waktunya pergi."
LLWO memandangi gulungan rantai sebentar. "Sudah waktunya...," gumamnya. "Di mana yang lain?"
"Kau tidak bisa mengharapkan mereka. Mereka sudah kalah," jawab XNFE dengan nada malas.
"Begitu... Baiklah, kita pergi saja, XNFE."
Mereka berdua lenyap dari hadapan X.
X menegakkan badannya. "Akhirnya berakhir juga."
"Belum," sangkal Zero yang datang bersama Tia. "Ada masalah yang lebih buruk." Dia menunjuk ke gulungan rantai. X menoleh.
Gulungan rantai memancarkan cahaya kehijauan dari celah-celah rantai. Angin berhembus kencang dari sana. Cahayanya semakin terpancar menyilaukan. Dan akhirnya seuatu keluar dari dalam gulungan rantai itu. Seperti sebuah menara yang bentuknya seperti tulang punggung manusia. Menjulang tinggi dan berwarna hitam. Di bagian bawah menara itu ada tumpukan kerangka-kerangka manusia dengan berpenutup kepala berupa kain putih. Tumpukan yang tak kalah tinggi. Lalu di puncak tumpukan kerangka keluar dua tengkorak raksasa hitam yang memendarkan cahaya hijau dari celah tengkorak.
Di puncak tumpukan kerangka juga keluar seseorang yang membawa sabit besar hitam. Seorang gadis berpakaian gothic hitam dengan tanduk hijau dan kain tudung transparan menghiasi kepalanya yang berambut coklat panjang hingga hampir mencapai kaki. Rambut panjangnya diikat di batas pinggang dengan hiasan logam. Ada kerangka sayap hijau yang terpasang di pinggangnya. Tangannya berupa tangan logam yang membentuk kerangka tangan berwarna hitam dengan ujung jari berwarna hijau. Mata hijaunya memandang dingin mereka yang berada di bawah.
X terbelalak tak percaya siapa yang dilihatnya itu. Lebih-lebih Zero.
"Iris..."
Tia menoleh pada Zero. "Iris? Siapa?" gumamnya bingung. Dia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Zero menatap lurus gadis yang baru muncul itu. Benarkah itu Iris? Tapi, Iris sebenarnya sudah... Pasti tidak mungkin! Zero tidak tahu harus percaya atau tidak.
Robot merah jambu milik XNFE melayang di atas mereka. Terdengar suara XNFE dari robot itu.
"Hei, semua~ Kuyakin ada yang mengenal gadis itu. Ya, dia memang Iris. Kami membangkitkannya~ Bagus, bukan?"
"Apa!? Jadi itu benar Iris?" Zero tercengang. "Apa yang kalian perbuat padanya!?"
"Tidak ada. Kami cuma sekedar membangkitkannya saja karena kami mendeteksi suatu energi kuat dari tubuhnya saat kami menemukannya terombang-ambing di luar angkasa. Kami berencana memanfaatkannya saja. Begitu selesai dibangkitkan, ternyata dia jadi begini. Kekuatannya besaaaar sekali. Membawa kehancuran lebih dari yang kami perbuat. Dan kami pun menyebutnya... Dead Master. Nama yang bagus, 'kan?"
Zero mengepalkan tangannya erat. Dia menggeram kesal.
"Dead Master tak lagi mengingat kehidupan di masa lalunya. Dia hanya punya satu tujuan. Yaitu menghancurkan apa yang ada di hadapannya. Jadi... selamat berjuang semua~"
Robot XNFE itu pun terbang pergi dengan cepat.
Tia dan X memandang Zero yang benar-benar menggeram marah melihat apa yang telah alien-alien itu perbuat pada Iris.
"Kak Zero..."
"Zero..."
Zero kembali menatap Iris yang berada di atas tumpukan kerangka. Gadis itu masih memandang dingin ke arahnya.
Pertarungan berikutnya sepertinya akan lebih berat.
