Episode 4
Deru tembakan dari senjata Tia yang sudah diubah menjadi machine gun mengiringi kedatangan pasukan kerangka Dead Master yang jumlahnya sangat tidak tanggung-tanggung. X juga menembak sebanyak mungkin yang dia mampu. Dan Zero menebas semua kerangka yang berada di dekatnya dengan kegesitannya dalam mengayunkan pedang.
Di tengah pertempuran itu, Zero sempat melihat Iris—yang merupakan nama sebenarnya Dead Master—yang sedang duduk di singgasananya, menonton pertempuran yang sedang berlangsung. Kedua tengkorak hitam raksasanya berda di sebelah kiri dan kananya layaknya pengawal.
Iris...
Zero berlari maju menerobos para kerangka. Kalau benar gadis di depan sana adalah Iris yang dikenalnya, dia ingin menyadarkannya. Dia tidak ingin akan terjadi pertempuran lagi antara dirinya dan Iris seperti dulu yang membuatnya jadi merasa sangat kehilangan.
"Zero, apa yang kau lakukan!?" pekik X ketika melihat rekannya itu menerobos para kerangka yang menurutnya merupakan tindakan nekat dan gila. "Zero!"
Zero tidak mendengarkan. Dia terus maju. Dengan kemampuannya dalam bertarung yang tinggi, dia berhasil menerobos jauh hingga tinggal separuh jarak dari singgasana Dead Master.
Iris menyeringai. Dia berdiri. Tangannya menunjuk lurus ke arah Zero yang terus menerobos maju pasukannya. Kedua tengkorak hitam raksasanya terbang melesat ke tempat Zero. Salah satunya menghantamkan diri untuk menyerang Zero, tapi Reploid itu berhasil menghindari serangan di saat-saat terakhir sehingga tengkorak itu menghantam tanah sekaligus para kerangka yang masuk ke dalam area hantaman. Namun, tengkorak lain dengan cepat menghantam Zero yang masih berada di udara, membuatnya terhempas cepat menghantam salah satu pilar hingga berlubang cukup dalam. Lalu, terjatuh ke permukaan tanah.
"Zero!" pekik X.
"Kak X, awas!" seru Tia tiba-tiba dari kejauhan.
X menoleh saat sebuah bayangan menutupinya. Dia melihat salah satu anggota pasukan kerangka yang berukuran raksasa sedang mengayunkan palu yang juga berukuran raksasa ke arahnya. Dengan boost, X berhasil menghindari hantaman palu yang tertanam cukup dalam ke dalam tanah.
Tia mengembalikan wujud senjatanya menjadi Rock Cannon. Dia men-charge meriamnya dan menembak kerangka raksasa tersebut tepat mengenai kepala. Kerangka itu roboh dengan tengkoraknya yang hancur berantakan dan sedikit terbakar.
"Kak X, tolonglah Kak Zero! Aku akan menahan mereka!" seru Tia yang langsung berlari ke arah pasukan kerangka dan mulai menyerang mereka dengan kombinasi serangan Rock Cannon dan Black Blade.
X pun segera ke tempat Zero yang masih terbaring.
"Zero!"
Zero membuka matanya. Dia bangkit sambil meringis dengan dibantu oleh X.
"Apa yang kau pikirkan? Tindakanmu tadi sangat berbahaya!" bentak X yang sebenarnya sangat cemas pada rekannya itu.
"Aku harus menyadarkannya," desis Zero. "Kalau dia memang Iris, aku harus segera menyadarkannya sebelum kejadian sebelumnya terulang lagi."
X mengerti apa yang dimaksud kawannya itu. Dia juga tahu mengenai pertarungan antara Zero dan Iris dulu. Itu menjadi salah satu kenangan pahit bagi seorang Zero.
"Tapi, jangan melakukannya sendiri. Kita sadarkan dia bersama," kata X.
Zero menatap sebentar X, lalu tersenyum tipis sambil mengangguk.
Mereka berdua lalu kembali ke dalam pertempuran, membantu Tia yang sedang bertarung seorang diri. Pertempuran pun mulai terlihat pihak mana yang unggul. Iris mulai terlihat tidak senang karena kini pasukannya terdesak hanya karena melawan tiga orang musuh.
Kedua tengkorak raksasanya kembali beraksi. Mereka mensejajarkan diri di atas permukaan tanah di tengah pasukan kerangka. Mata mereka memancarkan cahaya hijau singkat. Lalu, tanah dan para kerangka menyatu membentuk tubuh sehingga kini kedua tengkorak itu menjadi monster berkepala dua.
"Dia bercanda, 'kan?" ucap X tak percaya ketika melihat perubahan lawan mereka.
"Kurasa tidak," sahut Tia.
Monster berkepala dua itu mengayunkan tangannya, menghantam tempat Tia, X, dan Zero berada. Ketiganya berpencar menghindari serangan. Mereka lalu membidikkan senjata tembak mereka ke tengkorak sang monster. Mereka menembak. Kena, tapi tidak berpengaruh. Hanya terdengar seperti suara ketukan ringan ketika peluru mereka mengenai permukaan salah satu tengkorak hitam itu.
Zero mendarat dan menghentikan lajunya. Dia kemudian berlari maju. Tangan sang monster yang lain diayunkan ke arah Zero. Dihantamkan dengan sangat keras. Zero menghindarinya, lalu segera melompat ke atas tangan monster itu dan berlari menuju ke salah satu tengkorak. Z-Saber dia tancapkan di tangan monster, membelahnya sampai tiba tepat di sebelah tengkorak yang menjadi sasarannya. Lalu, dia tebaskan ke atas, membelah dua salah satu tengkorak.
Tia dan X sama-sama men-charge senjata mereka dan membidikkan ke tengkorak yang lain.
"Bidik ke mulutnya!" titah X.
"Baik!"
Mereka melepaskan tembakan, masuk ke dalam mulut tengkorak dan meledakkannya.
Zero yang memang sejak awal ingin berhadapan langsung dengan Iris, kini tiba di depan singgasana gadis itu. Iris berdiri dengan Dead Scythe—sabit besarnya—digenggam erat di tangannya. Dia telah bersiap menyambut lawan-lawannya.
"Iris..."
Tak ada tanggapan dari gadis di hadapan Zero itu. Hanya tatapan tajam dan dingin. Sama sekali tidak terlihat kalau Iris mengenal Zero. Gadis itu menatap Zero benar-benar sebagai musuh.
Tia dan X berhasil menyusul. Mereka berdiri di belakang Zero, ikut menatap Iris yang tidak terlihat ramah.
Zero perlahan melangkah maju mendekati Iris. Gadis bermata hijau emerald itu tetap bergeming. Zero menatap lurus ke mata Iris.
"Kau... benar-benar Iris, 'kan?" tanyanya.
Masih tidak ditanggapi.
"Iris... sadarlah," pinta Zero dengan nada lirih. Tangannya digerakkan perlahan ke depan, ingin menyentuh wajah Iris. Namun...
TRANG!
Zero terbelalak. Begitu pula dengan X. Tia dalam sekejap mata berada di antara Zero dan Iris, menahan tebasan Dead Scythe yang sangat tidak terduga dengan Black Blade.
"Tia..."
"Dia... sepertinya tidak bisa... disadarkan begitu... saja," ucap Tia sambil terus menahan sabit Iris yang didorong kuat.
Tia mendorong balik dengan kekuatan yang lebih besar. Iris termundur. Dia menatap kesal.
"Kelihatannya dia harus dikalahkan terlebih dahulu," sambung Tia.
Zero semakin terbelalak. "Tidak!" tolaknya tegas.
Tia menoleh kaget. Ini reaksi yang belum pernah dia lihat selama bersama Zero. Reploid itu begitu tidak ingin melukai Iris. Pikirannya kembali terbayang dengan pertarungannya melawan Iris sebelumnya di mana dia memang berhasil mengalahkan gadis itu, namun juga harus dibayar dengan kematiannya. Iris berhasil dikalahkan, disadarkan. Tapi, setelah itu dia pun pergi.
"Ini... tidak boleh terulang lagi," lirihnya.
"Kak Zero..."
"Tia!" seru X tiba-tiba.
Tia langsung kembali menatap Iris yang kembali menyerangnya dengan sabitnya. Tia menangkis tepat waktu dengan pedangnya. Tapi, serangannya tidak berhenti sampai di situ. Tia yang agak lengah karena serangan mendadak, ditendang keras ke samping dan terlempar cukup jauh.
Mata Iris beralih pada Zero. Dia langsung menyerang Reploid itu tanpa ragu. Zero menghindar, tapi serangannya masih bisa mengenainya walau cuma goresan di lengannya. Arah mata sabit diubah dan kembali ditebaskan ke arah Zero dengan sangat cepat. Zero menahan Dead Scythe dengan tangannya, mencengkeramnya erat.
"Iris, kumohon hentikan!" pinta Zero. "Aku tidak ingin... Aku tidak ingin melawanmu lagi!"
Perkataannya seperti angin lalu saja bagi Iris. Mata gadis itu masih menatap tajam pada Zero dengan penuh amarah.
Seutas rantai tiba-tiba melesat, melilit kaki Zero dan menariknya menjauh dengan sangat cepat. Cengkeraman tangannya pada Dead Scythe terlepas. Dia ditarik dan menghantam lagi pilar raksasa hingga berkawah.
"Zero!" X hendak berlari untuk menolong temannya, tapi Iris menghadangnya. Tangkai sabitnya terpisah-pisah menjadi bagian kecil yang tersambung dengan kaitan logam kecil di antaranya, membuat bentuknya jadi menyerupai tali. Dia ayunkan senjatanya pada X dan melilitnya dengan erat, lalu X dihantamkan ke tanah dengan sangat cepat dan keras sampai terguling-guling dan terpental menjauh.
Iris melirik tajam ketika menyadari ada yang datang dan secepat mungkin menggunakan sabitnya sebagai penangkis dari serangan yang Tia berikan secara tiba-tiba. Mereka saling mendorong.
"Kau yang sekarang memang tidak bisa diperlakukan dengan baik hati," desis Tia. "Harus dengan cara kasar untuk menyadarkanmu!"
Dan mereka bertarung sengit tanpa ada yang mau mengalah.
-x-x-
"Ada tanda-tanda dari mereka?" tanya Ciel seraya memperhatikan layar monitor yang menayangkan keadaan kubah kabut dari luar.
"Sama sekali belum ada," jawab Rogue, mengetik cepat keyboard-nya.
Ciel semakin cemas. Mereka sudah terlalu lama berada di dalam kubah tanpa ada tanda-tanda sejak masuk. Rantai-rantai yang tadi melesat masuk ke dalam kubah telah hilang. Namun, kubah tersebut kini terlihat diselimuti percikan listrik yang banyak sehingga tidak bisa didekati.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana?
"Ciel," tegur Neige. "Jangan terlalu cemas."
"Tapi—"
"Aku tahu kalau sebelumnya harapanmu akan kedatangan Zero tidak terkabul. Baru terkabulnya sekarang. Tapi, aku yakin, kali ini kau tidak akan menunggu selama itu lagi. Mereka akan segera kembali."
Ciel menunduk murung. Dihibur sekali pun, perasaan cemasnya tidak akan hilang sampai dia melihat sendiri kembalinya mereka.
Kalian... harus kembali! Aku mohon!
-x-x-
"Zero! Zero!"
Zero membuka matanya, melihat X yang berada di depannya sambil menatap cemas. Dia meringis lagi. Hantaman yang diterimanya tadi yang paling kuat yang pernah dia rasakan. Iris yang sekarang jauh lebih kuat dibandingkan saat berhadapan dengannya dulu. Mungkinkah karena sekarang dirinya adalah sosok Dead Master?
"Di mana Iris? Dan juga... Tia?" tanya Zero karena tidak melihat kedua gadis itu tidak terlihat di sekitar.
"Mereka sedang bertarung. Di sana." X menunjuk.
Dentingan logam menggema disertai percikan logam yang beradu terlihat di kejauhan. Pertarungan antara Tia dan Iris berlangsung sengit dan seimbang tanpa ada yang mau mengalah. Mereka saling membalas serangan dengan kekuatan penuh.
"Aku... sama sekali tidak bisa mengikuti pertarungan mereka yang cepat. Level bertarung mereka, kurasa sama denganmu bila dalam keadaan bersungguh-sungguh, Zero," kata X.
Zero menyipitkan matanya, mencoba melihat lebih jelas jalannya pertarungan. "Ini... Pertarungan mereka terlalu beresiko kematian. Lengah sedikit saja, bisa sangat berbahaya. Kita harus bisa menghentikan mereka secepatnya."
"Menghentikan di tengah kesengitan mereka? Sepertinya akan sangat sulit." X terlihat ragu.
"Tak ada waktu untuk ragu. Kita harus bertindak. Sekarang!"
Zero berlari ke area pertarungan. X segera menyusul.
-x-x-
Tia dan Iris meluncur cepat ke bawah di atas rantai besar yang terentang miring. Iris kembali memisahkan tangkai sabitnya sehingga kini digunakan bagai tali, menangkap Tia dengan itu, dan menghantamkannya ke pilar terdekat. Lalu, dia ditarik lagi dan dihantamkan ke tanah.
Tia segera bangkit kembali. Dia berlari cepat ke arah Iris yang juga berlari ke arahnya. Tangkai Dead Scythe kembali menyatu. Lalu, kedua gadis itu kembali beradu senjata.
Kekuatan Iris sangat berbeda dengan alien yang dihadapi oleh Tia sebelumnya. Cara bertarungnya juga tidak sesembrono MEFE yang selalu termakan emosi. Lebih tenang, penuh konsentrasi. Jadi lebih sulit untuk ditangani.
Cih, ini akan lama, batin Tia.
Iris hendak kembali menyerang ketika tembakan melesat di depannya, menghentikan pergerakannya. Tia menolehkan kepalanya ke arah datangnya tembakan. X yang menembak dan Zero berlari ke arah Iris. Dia terlihat seperti akan menyerang karena pedangnya sudah terancang di tangannya.
Iris sudah siap akan menangkis serangan yang akan dilancarkan oleh Zero, tapi ternyata serangan Zero bukan untuk melukainya, melainkan melepaskan senjatanya itu dari tangannya. Dead Scythe terlempar jauh bersamaan dengan Zero yang melempar sembarang pedangnya.
Iris tercengang ketika tiba-tiba saja Zero memeluknya erat. Iris sampai terpaku. Tia dan X juga ikut terpaku melihatnya. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Hunter Kelas SA itu?
Tia sedikit bisa menebak apa yang direncanakan oleh Zero, tapi... apakah akan berhasil?
Setelah terpaku cukup lama, Iris mulai memberontak. Namun, Zero sangat erat mendekapnya. Sama sekali tidak ingin melepasnya.
"Iris... aku mohon... sadarlah," bisik Zero. "Aku tidak ingin kejadian dulu kembali terulang. Aku tidak ingin... kehilanganmu lagi, Iris. Sudah cukup... sekali saja aku merasakannya." Dekapannya semakin erat.
Iris masih mencoba memberontak.
"Iris... kembalilah... Iris... Aku... sangat merindukanmu."
-x-x-
Iris...
Iris...
Iris!
Suara Zero menggema hingga ke dalam hati Irisyang terdalam yang tertidur lelap.
"Zero..."
Mata Iris pun terbuka perlahan. Dia melihat Zero yang mengulurkan tangan, menangkap tangannya dan menariknya masuk ke dalam dekapannya. Dan Iris pun tersadar sepenuhnya.
Zero...
-x-x-
Iris berhenti memberontak. Setetes air mata mengalir turun di pipinya.
"Ze... ro..."
Zero terbelalak. Dia melepas dekapannya dan menatap wajah Iris yang kini berlinang air mata dan tersenyum. Tersenyum bahagia.
"Aku juga... merindukanmu..."
Zero kembali memeluk Iris.
Tia melangkah menghampiri X yang masih terdiam di tempat.
"Kak, aku ingin tanya."
X menoleh. "Tanya apa?"
"Sejak kapan Kak Zero bisa romantis?" tanya Tia serius. Sebab selama ini dia tidak pernah melihat Zero yang ramah pada wanita, tapi bukan berarti maksudnya Zero bersikap galak pada mereka. Cuma tidak pernah memperlihatkan kalau dia tertarik pada wanita. Pada dirinya yang masih kecil saja dia hampir tidak pernah ramah. Sering menggalakinya.
"Ha?" X menelengkan kepalanya karena pertanyaan Tia yang dia rasa... sulit untuk dijawab olehnya. "Ya... itu... Aku tidak tahu," jawabnya pada akhirnya.
Tia menatap Zero yang masih memeluk iris untuk melepas semua kerinduannya. Rasanya sulit dipercaya kalau Zero memiliki orang yang disukai. Padahal menurutnya Zero itu menyebalkan karena sering memarahinya. Tapi, dia sadar kalau Zero begitu karena dia sering mengusilinya dulu. Namun, tetap saja sulit dipercaya karena dulu Zero tidak terlihat tertarik pada wanita. Apalagi yang berwajah manis seperti Iris.
"Eh? Iris!"
Tubuh Iris tiba-tiba melemas. Zero tetap menahannya erat agar tidak terbanting ke tanah. Tia dan X segera menghampiri mereka berdua.
Iris rupanya pingsan. Selain itu, tanduknya hilang. Tudungnya pun merosot jatuh dari kepalanya. Tangan logamnya juga berubah menjadi tangan yang normal. Seperti tangan manusia. Tia berlutut di samping Iris. Dia memegang tangannya. Dia terkejut.
"I-ini..."
"Ada apa, Tia?" tanya Zero.
"Kak, apakah Iris ini... manusia?" tanya Tia.
"Hah? Apa maksudmu? Dia itu Reploid," jawab Zero.
"Tapi... aku tidak bisa memeriksa tubuhnya seperti aku memeriksa Kak X dan Kak Zero," ucap Tia yakin.
"Itu... tidak mungkin, 'kan?" ujar X tak percaya.
Tia melepas sarung tangannya. Lalu, menekan titik nadi yang berada di dekat pergelangan tangan. Terasa. Denyutan nadinya terasa jelas. Dia pun menyentuh titik nadi yang berada di leher. Terasa juga. Lalu, dia menyentuh dada Iris. Terasa juga detak jantungnya. Dia pun terlihat bernafas.
"Apakah ini berarti... para alien itu mengubahnya menjadi manusia?" gumam Tia tak percaya.
X dan Zero terkejut.
"He? Bagaimana bisa?" tanya X.
"Aku juga tidak tahu. Seharusnya hal itu pun tidak mungkin, bahkan mustahil bisa terjadi." Tia berdiri sambil mengenakan kembali sarung tangannya. "Sudahlah, kita kesampingkan saja masalah itu. Sebaiknya kita segera kembali ke markas untuk memberikan perawatan padanya. Kondisinya lemah sekali."
Perlahan kondisi sekitar berubah kembali menjadi kota. Pilar-pilar raksasa, pasukan kerangka, dan kabut lenyap. Langit kembali terlihat dengan matahari yang telah berada di ufuk barat. Ternyata waktu sudah berlalu begitu cepat. Sangat tidak terasa.
Jemputan datang sekitar setengah jam kemudian. Mereka yang menjemput kaget melihat Iris yang berada di gendongan Zero. X menjelaskan apa yang terjadi, termasuk Iris yang dulu pernah bekerja bersama mereka di masa Maverick Hunter.
Pandangan Ciel terpaku cukup lama pada Zero yang memeluk erat gadis di dalam gendongannya. Zero pun sering memandang wajah gadis itu dengan pandangan cemas bercampur perasaan lain yang tidak bisa ditebak.
"Ciel," tegur Lance tiba-tiba.
Ciel tersentak kaget. "Eh? Lance... Ada apa?"
"Kau tidak apa-apa? Kau terlihat... tidak sehat."
"Aku tidak apa-apa," Ciel memaksa senyum. "Aku hanya terlalu lega karena mereka semua selamat. Tadi 'kan aku sangat tegang karena pertarungan mereka yang berlangsung hingga menjelang malam."
Lance tidak menanggapi.
"Aku... balik duluan ke mobil. Tolong suruh yang lain segera masuk. Kita harus segera kembali." Kemudian, Ciel pun pergi duluan masuk ke dalam mobil.
Lance memandang Ciel hingga gadis pirang itu masuk ke dalam mobil.
-x-x-
Ciel memasuki mobil yang tidak ada orangnya. Dia bersandar di dinding mobil. Wajahnya tertunduk. Kepalanya terus terbayang-bayang wajah Zero yang terus memandang gadis bernama Iris itu.
"Zero... Tatapan itu..."
Ciel menutup mulutnya. Mencoba menahan semua luapan perasaannya.
"Zero..."
-x-x-
Satu per satu mulai menaiki mobil. Di saat yang lain menaiki mobil, Tia masih terdiam di tempat dan terus memandang ke satu arah. X menghampirinya.
"Ada apa, Tia?" tanyanya.
"Aku... tidak melihat MEFE di mana pun," jawab Tia. Dia ingat jelas di mana arah lokasi keberadaan MEFE saat dia meninggalkannya walaupun tempatnya sekarang sudah kembali menjadi daerah perkotaan. Yang tersisa di sana hanya kapak MEFE saja.
Pandangannya lalu teralih ketika melihat sesuatu lewat di langit. Sebuah robot berwarna merah jambu yang melintas dengan cepat.
XNFE?
Mengingat MEFE dan XNFE berdebat terus selama melawannya, Tia meyakini satu hal: MEFE telah dimusnahkan oleh robot milik XNFE itu. Apalagi dia ingat pada salah satu debatan mereka kalau XNFE akan menembak MEFE juga bila dia tidak lagi aktif.
Jadi kekalahan MEFE dianggap kalau dia sudah tidak lagi dianggap aktif? Aturan yang sangat ekstrim menurut Tia.
-x-x-
Lance melepas stetoskopnya dan menggantungnya di leher. Dia berbalik menghadap X, Zero, dan Tia yang menunggu hasil pemeriksaannya.
"Tenang saja. Dia cuma kelelahan. Tidak ada luka atau apa pun yang membahayakannya. Dia hanya perlu istirahat," jelas Lance.
Ketiganya merasa lega. Terutama Zero.
"Aku tidak menyangka kau ini ternyata seorang dokter juga," kata Tia. "Kukira kau itu hanya ilmuan genetika gila dengan rencana tak masuk akalnya."
Perasaan Lance bagai ditikam tombak. Ilmuan genetika gila?
"Itu... kasar sekali, Tia," tegur X.
"Oh, maaf," ucap Tia, namun dengan ekspresi merasa tidak bersalah.
Lance berdehem. "Tapi, mengejutkan juga mendengar penjelasan kalian kalau sebelumnya dia itu Reploid. Sebab tubuhnya yang sekarang sama sekali tidak ada unsur logamnya sedikit pun. Tapi, biarpun begitu... dia tidak bisa dianggap manusia walaupun secara wujud mirip manusia."
"Bukan manusia?" Zero terkejut. Tia dan X juga.
"Tubuhnya itu... bisa dibilang lebih mirip ke para alien walaupun aku belum pernah memeriksa langsung seperti apa tubuh para alien, terutama Seven Apostles yang berwujud mirip manusia. Sebab kondisi tubuh Iris ini jelas berbeda sekali dengan tubuh manusia. Selain itu, darahnya saja berwarna hijau."
"Darah?" tanya Zero.
"Ya, ada semacam cairan mengering di pakaiannya. Dari terksturnya, kurasa itu darah," jelas Lance.
"Oh, itu memang darah Iris setelah aku menyerangnya dengan pedangku di pertarungan tadi," jelas Tia.
"Kau benar-benar melawannya tanpa ragu?" tanya Zero. Sekilas terlihat marah.
Tia mencoba tenang untuk memaklumi. "Soalnya kalau tidak begitu, akulah yang jadi korbannya. Lagipula dia itu lebih tangguh dan kuat dari yang kita kira sehingga serangan seperti itu tidak semudah itu melumpuhkannya. Membuatnya menjadi lengah juga tidak. Serangannya malah semakin kuat berkali-kali lipat," jelasnya setenang mungkin.
"Tenanglah, Zero. Yang penting Iris sekarang tidak apa-apa," bujuk X, menyentuh bahu Zero yang tegang. Zero mulai terlihat sedikit tenang.
"Omong-omong, apa kau tahu bagaimana Iris bisa berwujud seperti sekarang?" tanya Tia pada Lance, mengganti topik.
"Tentu saja tidak. Itu pun tidaklah mungkin," jawab Lance. "Mana ada cara mengubah Reploid menjadi bertubuh seperti manusia seperti itu? Kepikiran pun tidak."
"Jadi... kita anggap ini sebagai... keajaiban?" ujar Tia.
"Menurutku juga begitu karena ini sangat tidak masuk akal," sahut Lance.
"Mengenai bagaimana Iris bisa berwujud seperti sekarang, kita bisa menanyakan pada Iris langsung, 'kan?" kata X. "Dia pasti mengetahui apa yang dialaminya sampai dia bisa seperti itu."
"Kurasa ada benarnya," sahut Tia. "Berarti kita tinggal menunggunya bangun saja."
Zero memandang wajah Iris yang tertidur dengan damai. Dia sangat tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Iris. Dia pun tersenyum tipis.
