Episode 5
Kota pusat telah berhasil diambil alih karena setelah pertempuran melawan sosok Iris yang menjadi Dead Master, tak ada robot alien satu pun di sana sehingga pengambilalihan berlangsung dengan lancar. Markas pun sudah dipindahkan ke sana. Kini Resistance sedang merencanakan pengambilalihan penuh Neo Arcadia dengan menggunakan fasilitas yang telah didapat dari kota pusat.
Iris masih belum siuman. Dia masih terbaring di ruang rawatnya. Biarpun ini sudah 3 hari lamanya dia pingsan, kondisinya dipastikan tetap tidak apa-apa, tapi tetap perlu pengawasan ketat karena ditakutkan bisa saja saat dia bangun dia malah berperilaku seperti Dead Master kembali. Dan Zero lah sering menjenguknya setiap kali ada waktu senggang.
"Kak Zero benar-benar menyayangi Iris, ya," ucap Tia ketika dia sedang berjalan di lorong bersama X. "Aku masih tidak menyangka orang galak seperti Kak Zero bisa jatuh cinta juga pada seorang gadis."
"Yah... Kita memang tidak bisa sepenuhnya menilai orang begitu saja, 'kan?" ujar X.
"Kak X sendiri... pernah jatuh cinta?"
X terdiam sambil mencoba mengingat-ingat. "Entahlah... Kurasa tidak. Atau... aku yang tidak ingat?" jawabnya ragu. "Kau sendiri?"
"Belum pernah. Padahal temanku banyak yang laki-laki. Mungkin karena merasa terbiasa bersama dengan mereka, aku jadi tidak bisa membedakan perasaan yang sekedar sayang sebagai teman atau sayang yang lebih dari itu. Soalnya aku menyayangi semua teman-temanku," jawab Tia.
"Kenapa temanmu bisa lebih banyak laki-laki?" tanya X heran.
"Aku tidak tahu... Pokoknya aku ini lebih sering bermain bersama anak laki-laki daripada perempuan. Menurutku mungkin bisa saja karena aku ini dianggap tomboy. Seleraku juga banyak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Tapi, bukan berarti aku tidak menyukai seratus persen benda-benda perempuan. Selain itu, kebanyakan teman-teman perempuanku selalu membicarakan topik yang tidak sesuai seleraku. Apalagi yang menyangkut opera sabun. Hanya beberapa yang bisa dianggap nyambung kalau diajak bicara."
X terkekeh pelan mendengar semua curhatan hati Tia itu. Biarpun sekarang dia seorang petarung, Tia tetaplah seorang gadis yang pernah menjalani kehidupan biasa penduduk sipil.
"Kau merindukan mereka yang ada di masamu? Teman-temanmu... keluargamu...," tanya X.
"Ya, aku merindukan mereka," jawab Tia pelan. "Itu tidak bisa dipungkiri lagi."
X berhenti melangkah. "Tia."
Tia juga berhenti selangkah di depan X dan berbalik.
"Kalau semua ini sudah selesai, aku berjanji akan memulangkanmu."
Tia tersenyum. "Terima kasih, Kak," ucapnya. "Kakak... baik sekali. Bisa-bisa... aku naksir pada Kakak."
"Heh?" X terpaku.
Tia nyengir jahil. "Aku cuma bercanda. Aku masih belum mengerti yang namanya naksir-naksiran, kok. Jadi, jangan terlalu dianggap serius. Sungguh."
X menghela nafas. "Jangan membuatku kaget."
"Tapi, sikap Kakak yang seperti itu biasanya bisa membuat para gadis jatuh hati pada Kakak, lho. Aku tidak bohong. Soalnya aku sering dengar dari pembicaraan teman-temanku kalau sifat Kakak itu masuk dalam kategori sifat pria yang diidamkan. Bahkan biarpun aku tidak begitu peka dalam hal percintaan atau naksir-naksiran, aku juga sependapat dengan mereka."
"Entahlah," ucap X pelan. "Yang penting, aku tetap aku, 'kan?"
"Ya," sahut Tia. "Dan semoga saja ada gadis yang beruntung yang bisa mendapatkan hati Kakak."
"Hei... Jangan memohon yang aneh-aneh begitu."
"Tidak aneh, kok. Justru akan aneh kalau ternyata tidak ada gadis yang membuat Kakak jatuh hati walaupun cuma sekedar cinta monyet. Kak Zero saja bisa jatuh hati, masa' Kak X tidak? Nanti Kak X bisa dikira Reploid yang tidak normal."
"Aku masih normal, Tia." X merasa agak kesal dianggap begitu. Oleh orang yang sudah dianggap seperti adik pula.
"Ya, ya... Aku percaya. Cuma... masih belum diketahui saja gadis macam apa itu yang bisa membuat Kak X jatuh hati. Kalau selera Kak Zero sudah ketahuan dari Iris yang berwajah manis. Selera Kak Zero tinggi juga."
"Sudahlah, hentikan. Kalau Zero mendengarmu membicarakannya seperti itu, dia pasti akan marah," tegur X sambil mewanti-wanti kedatangan Zero dari dua arah lorong.
"Setidaknya itu lebih baik, 'kan? Daripada seperti yang kudengar bahwa sebelumnya Kak Zero nyaris tidak berekspresi."
"Yah, benar, sih," sahut X yang juga mengakui hal itu. Dia juga tahu seperti apa Zero sebelum ini. "Tapi, jangan sampai membuat amarahnya meledak-ledak, ya. Itu juga tidak bagus, 'kan?"
"Tenang saja. Aku juga tidak mau sampai begitu," sahut Tia santai. Dia itu sudah bisa memperkirakan seperti apa Zero kalau amarahnya sampai meledak-ledak. Pasti nanti ada bagian markas yang dirusak parah.
"Hei, Kak, kita jenguk Iris, yuk," ajak Tia tiba-tiba. "Aku ingin tahu seperti apa kondisinya sekarang. Masa' sampai sekarang belum siuman juga?"
"Aku juga tidak bisa menganggap ini aneh atau tidak, berhubung tubuh Iris itu bukan tubuh manusia. Hanya mirip manusia."
"Aku benar-benar penasaran kenapa Iris bisa berubah wujud seperti itu," kata Tia.
-x-x-
Tidak ada orang lain di kamar rawat Iris saat Tia dan X tiba di sana. Kelihatannya Zero belum datang atau sudah pergi sebelum mereka datang. Iris masih terbaring di ranjangnya, tertidur dengan tenang.
"Benar-benar belum siuman," gumam Tia. "Sampai kapan dia pingsan terus? Aku sudah merasa agak cemas dengan kondisinya biarpun tanda-tanda vitalnya masih normal."
"Ya, aku juga merasa begitu," sahut X.
Tia semakin mendekat ke ranjang Iris untuk memperhatikan lebih seksama kondisi gadis itu. Ketika itu dia tidak sengaja melihat sesuatu yang berpendar hijau di bawah di seberang ranjang.
"Kak X, ada sesuatu yang berpendar di sana," kata Tia sambil menunjung ke seberang ranjang.
X mendekat, tapi masih belum bisa melihat bentuk asal pendaran cahaya hijau itu selain pancaran cahayanya karena berada terlalu di bawah.
"Sepertinya itu... Cyber Elf," kata X.
"Cyber Elf? Peri?" tanya Tia.
"Ya, semacam itulah. Tapi, tubuh mereka terbuat dari data."
"Aku belum pernah bertemu makhluk seperti itu semenjak tiba di sini. Bahkan saat aku berada di Markas Maverick Hunter. Apa mereka sudah langka?"
"Cyber Elf baru ada jauh setelah kau kembali ke zamanmu, Tia. Dan sekarang... jumlah mereka memang sudah sedikit dan jarang ditemukan," jelas X. Agak terdengar lirih. "Sebaiknya kita pastikan dulu itu cahaya apa. Kalau benar itu Cyber Elf, itu bisa menjadi kesempatanmu untuk melihatnya, 'kan?"
"Ya," sahut Tia bersemangat. Dia sudah sangat penasaran seperti apa Cyber Elf itu.
Mereka berdua merendahkan perlahan badan mereka untuk melihat melalui kolong ranjang. Mereka menemukan yang berpendar itu adalah dua buah benda agak bulat berwarna hitam yang melayang-layang di sana.
"Itu... Cyber Elf?" tanya Tia ragu. Masa' peri wujudnya hampir menyerupai bola begitu? Tidak seperti bayangannya pada wujud peri yang pernah diilustrasikan pada buku-buku cerita.
"Bukan," sangkal X, menatap curiga dua benda hitam yang melayang itu. "Itu bukan Cyber Elf. Bahkan telurnya tidak seperti itu."
"Lalu... apa?" tanya Tia mulai ikut curiga juga. Jangan sampai itu adalah benda berbahaya.
"Aku tidak tahu," bisik X.
Dua benda hitam itu terlihat bergerak memutar diri dengan arah yang berlawanan. Dan ketika kedua benda itu seutuhnya berbalik, X dan Tia terlonjak kaget karena bentuknya ternyata menyerupai tengkorak manusia versi mini. Mereka termundur hampir merapat ke pintu.
"Bu-bukannya itu... tengkorak raksasa yang dikendalikan oleh Dead Master yang sudah kita hancurkan? Kenapa wujudnya jadi kecil seperti itu? Ada di sini pula," Tia panik.
"Aku juga tidak tahu," kata X yang sama paniknya karena kaget dengan sosok sebenarnya benda berpendar itu.
Di tengah keterkejutan itu, Iris pun membuka matanya. Dia menengok ke samping, ke tempat Tia dan X berada. Kemudian bergerak duduk perlahan. Dia masih terlihat agak linglung.
Tia dan X ingin menghampirinya, tapi kedua tengkorak hitam yang sudah berukuran kecil melayang ke kedua sisi Iris seperti mengawalnya sehingga mereka berdua berhenti. Setelah cukup lama diam, Iris pun sepenuhnya sadar. Dia kembali menatap X dan Tia yang masih terdiam di tempat. Matanya tertuju langsung pada X.
"Hai, Kapten X. Lama... tidak jumpa," sapanya.
-x-x-
Lance segera dipanggil oleh Tia untuk memeriksa keadaan Iris. Setelah selesai, dia tersenyum. "Tenang saja. Kondisinya seutuhnya baik," lapornya.
Tia dan X yang masih di kamar juga ikut tersenyum lega. Mereka sudah memberitahu tentang kesadaran Iris pada yang lain, tapi mereka belum ada yang datang, bahkan Zero. Sepertinya Reploid pirang itu sedang pergi keluar. Baru Lance saja yang datang karena ruang kerjanya berada paling dekat dengan ruang rawat karena dia yang satu-satunya yang merawat Iris selama pingsan.
Iris masih duduk di pinggir ranjangnya dengan dua tengkorak hitam mininya yang melayang-layang di dekatnya. Dia memandang tangannya.
"Ternyata tubuhku jadi seperti ini, ya?" gumamnya.
"Kalau boleh tahu, apa yang terjadi hingga kau menjadi seperti sekarang?" tanya X. "Kau bahkan sempat tidak mengenal aku dan Zero saat kita bertemu kembali."
Iris tersenyum miris. "Ini... mungkin terdengar tidak masuk akal. Setelah pertemuan terakhirku dengan Zero, aku yakin saat itu aku sudah... mati. Namun, aku malah tersadar di sebuah tempat yang tidak kukenal. Di sana lantainya seperti pola papan catur dan banyak benda-benda yang membuat tempat itu tampak suram. Lalu, aku bertemu dengan seorang gadis di sana. Dia adalah... Dead Master."
"Eh?" Semua yang ada di kamar Iris terkejut.
"Jadi... Kau dan Dead Master sebenarnya orang yang berbeda?" tanya Tia.
"Begitulah," jawab Iris. "Dia tidak bicara apa-apa padaku sampai aku kembali tidak sadarkan diri. Tapi, sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, aku mendengar dia mengatakan 'Dead Master'. Seolah dia menjawab pertanyaan yang ada di benakku saat itu mengenai siapa dirinya. Lalu, aku tidak sadar lagi hingga terbangun berada di pelukan Zero."
"Itu artinya... yang kita hadapi... adalah memang Dead Master, bukan Iris," kata X, menyimpulkan.
"Selain itu, saat itu juga dia terlihat seperti... orang yang hilang kendali akan akal sehatnya," kata Tia menambahkan. "Tapi, tetap saja aku tidak mengerti. Kenapa Dead Master itu ingin menolongmu? Wujudmu pun sampai berubah."
"Kalau mengenai wujudku yang bukan lagi Reploid, aku tidak tahu. Tapi, kurasa aku tahu kenapa aku dibuat kembali 'hidup'. Mungkin karena aku... sangat ingin bertemu lagi dengan Zero dan... menebus kesalahanku padanya." Tangan Iris terkepal di atas kedua lututnya. Wajahnya tertunduk lebih dalam.
"Kesalahan... apa?" tanya Tia, melirik X. Reploid biru itu mengangkat bahu. Tidak tahu juga.
"Kesalahan... yang paling buruk," jawab Iris lirih. "Kesalahan... karena aku tidak percaya padanya saat itu yang membuat kami... jadi bertarung. Pertarungan yang sebenarnya sangat tidak ingin Zero lakukan."
Tia, X, dan Lance terdiam. Tidak disangka bisa terjadi hal seperti itu di antara Zero dan Iris. X sendiri bahkan tidak mengetahui kalau itu terjadi. Zero sangat menutupinya.
Tia mendekati Iris dan mengusap pelan punggung mantan Reploid itu untuk menenangkannya.
Lance menyentuh dagunya, berpikir. "Iris tidak tahu bagaimana dia bisa berubah, berarti itu memang ulah para alien," duganya.
"Tapi, XNFE bilang kalau mereka hanya membangkitkan kekuatan Iris. Sepertinya wujudnya berubah karena terlepasnya kekuatannya sebagai Dead Master," kata X.
"Sebenarnya... Dead Master itu apa? Ada kemungkinan dia juga bukanlah manusia," gumam Lance.
"Kelihatannya ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika," ujar X.
"Oh, ya, ada lagi yang ingin kutanyakan," kata Tia tiba-tiba. Agak mengejutkan yang lain. "Ini tengkorak yang sekarang... merupakan makhluk apa?" Dia menunjuk pada kedua tengkorak hitam mini yang masih melayang-layang di sekitar Iris bagai roh karena berpendar. "Karena kalau kuperhatikan... mereka ini tidak seperti tengkorak pada umumnya, 'kan?"
X dan Lance memandang kedua tengkorak mini yang sejak tadi melayang di sekitar Iris. Iris juga memandang kedua tengkorak itu.
Segera Lance mengeluarkan sebuah alat pindai berukuran kecil. Dia memindai kedua tengkorak hitam tersebut dan melihat hasil pemindaiannya.
"Bagaimana?" tanya X yang sudah penasaran makhluk apa mereka sebenarnya.
"Kurasa... mereka ini mirip Cyber Elf, tapi bukan Cyber Elf. Data yang berada di dalam tubuh mereka agak berbeda dengan Cyber Elf pada umumnya. Mungkin ini karena sebelumnya mereka bukanlah Cyber Elf," jelas Lance. "Tapi, mereka bukan makhluk yang berbahaya. Tidak perlu dikhawatirkan."
X menatap kembali kedua tengkorak hitam tersebut. "Bisa dibilang... mereka berubah sesuai dengan kondisi tempat ini?"
"Kelihatannya begitu," sahut Lance.
"Tapi, bentuknya bisa tidak bukan tengkorak? Mereka jadi terlihat seperti hantu gentayangan," kata Tia.
"Aku... tidak tahu caranya," kata Iris.
"Kalau tidak berbahaya, seharusnya tidak masalah," ujar X.
"Tapi, kalau wujudnya begitu, apa orang lain yang baru pertama kali lihat tidak akan kaget?" tanya Tia.
"Ah, benar juga," sahut X.
Suara dencingan terdengar mendekat dari luar. Lalu, pintu pun terbuka, memperlihatkan Zero yang kelihatannya terburu-buru datang. Semua pandangan tertuju ke arahnya, tapi pandangan Zero hanya tertuju pada Iris.
Tia segera menjauh ketika Zero kembali berlari dan langsung memeluk Iris dengan erat.
"Syukurlah... Syukurlah...," Zero begitu lega melihat Iris telah siuman.
Iris membalas pelukan Zero dan mengusap punggungnya pelan. "Maaf, ya. Membuatmu cemas," bisiknya.
Tia, X, dan Lance memilih untuk keluar dan membiarkan mereka berdua saja untuk sementara.
-x-x-
Dengan siumannya Iris dan dipastikannya dirinya tidak lagi akan kembali menjadi seperti saat dirinya menjadi Dead Master, maka Iris resmi menjadi bagian dari Resistance. Hanya saja dia memilih untuk menjadi Operator saja, membantu Rogue dan Jaune. Dia tidak ingin lagi bertarung langsung. Selain itu, dirinya sejak awal memanglah bukanlah seorang petarung. Hanya seorang Navigator dari Repliforce.
Bergabungnya dirinya cukup disambut baik oleh anggota Resistance yang lain. Beberapa memang masih agak takut pada Iris karena awal kemunculan Iris yang memang mengerikan. Menutupi kota pusat dengan kabut besar dan memunculkan banyak rantai yang melintasi langit. Di keadaan yang sedang berperang seperti sekarang, penampakan seperti itu cukup mengerikan juga. Tapi, masalah itu telah teratasi dengan usaha Iris juga dalam mendapatkan kepercayaan mereka.
Perluasan wilayah terus berkembang dan kini seluruh Neo Arcadia telah berhasil diambil alih sepenuhnya. Jumlah para pejuang juga bertambah. Mereka yang selamat dari berbagai tempat berdatangan ke Neo Arcadia yang telah menjadi wilayah kekuasaan penduduk Bumi kembali. Mereka juga ingin membantu perlawanan terhadap alien yang telah seenaknya datang dan menginvasi yang membuat penghuni Bumi menderita.
Dan dengan telah berhasilnya menguasai Neo Arcadia, keadaan sudah sedikit lebih tenang dan terkendali. Pertahanan jadi lebih kuat dari sebelumnya sehingga masih bisa sedikit tenang walaupun perang masih berlangsung. Seperti hari ini.
Alouette yang memang sama sekali tidak punya tugas dalam peperangan ini karena dirinya yang memang cuma anak-anak, sibuk sendiri di sebuah bangku taman yang tak jauh dari lokasi markas Resistance yang sekarang. Dia mencoba membuka sebuah kotak yang penutupnya agak macet untuk dibuka. Kotak itu adalah kotak yang ditemukannya sebelumnya dalam keadaan terlilit oleh akar pohon yang letaknya tak jauh dari markas Resistance yang lama. Dia penasaran apa yang ada di dalam kotak itu.
"Alouette?" tegur seseorang dari belakang.
Alouette menoleh yang rupanya adalah Tia. "Kak Tia..."
"Sedang apa?" tanya Tia. Matanya langsung teralih ketika melihat kotak yang dipegang oleh anak Reploid itu. "Itu... Di mana kau menemukannya?"
"Di sebuah pohon tua tak jauh dari markas yang lama. Kotak ini terlilit akarnya," jawab Alouette. "Kakak tahu ini apa?" tanyanya.
"Itu adalah kapsul waktuku," jawab Tia. Dia tidak mungkin bisa melupakan secepat itu kotak yang dikuburnya yang menurutnya baru tiga tahun yang laluitu. "Mari, biar kucoba membukanya. Sepertinya agak macet," tawarnya sambil duduk di sebelah Alouette.
Alouette menyerahkan kotak itu pada Tia. Dengan hati-hati, Tia sedikit memaksa membuka penutup kotak tersebut dan akhirnya terbuka. Mereka berdua melihat isi kotak tersebut. Ada banyak foto yang agak usang dan juga benda-benda kotak yang merupakan kaset video yang digunakan Tia dulu.
Alouette cukup terkagum-kagum melihat semua foto-foto yang ada di dalam kotak. Banyak foto yang merupakan foto X dan Zero saat masih menjadi anggota Maverick Hunter. Sisanya anggota lain dan juga foto seorang kakek dengan sebuah alat besar di punggungnya, Dr. Cain.
"Ini siapa, ya?" tanya Alouette sambil menunjukkan sebuah foto seorang gadis kecil yang sedang berfoto bersama X dan Zero. Gadis berambut hitam pendek yang mengnakan kemeja putih lengan pendek.
"Itu aku," jawab Tia.
Alouette memandangi foto dan Tia secara bergantian beberapa kali. "Agak berbeda."
"Tentu saja. Itu 'kan waktu aku masih kecil," ucap Tia.
"Yang ini terlihat lucu!" seru Alouette sambil menunjukkan sebuah foto lain berisi gambar Reploid pinguin sedang mengamuk.
"Itu Chill Pinguin. Dia itu lebih pendek dariku. Padahal waktu mengambil gambarnya itu, aku juga masih kecil," jelas Tia. "Tapi, kuyakin dia sudah tidak ada sekarang," lirihnya. Dia bahkan yakin Chill Pinguin sudah tiada tak lama setelah dirinya pulang ke masanya. Dia telah menjadi Maverick.
"Wah... Yang ini terlihat gagah!" Alouette menatap foto yang bergambar Reploid elang.
"Itu Storm Eagle. Dia salah satu rekan terdekat Kak Zero saat itu," jelas Tia. Reploid itu juga dia yakin telah tiada tak lama setelah kepulangannya karena dia juga telah menjadi Maverick saat itu.
"Yang ini seram...," Alouette terlihat takut melihat foto berikutnya yang berisikan gambar Reploid botak berwajah sangar. Siapa lagi kalau bukan Sigma, pemimpin Maverick Hunter saat itu. Melihat foto itu membuat Tia teringat pada informasi yang didapatkannya saat tiba di masa sekarang. Sigma merupakan penyebab timbulnya Perang Maverick yang berkepanjangan. Biarpun sekarang Maverick yang satu itu sudah tidak ada... tetap saja masalah besar tidak pernah berhenti datang.
"Kak Tia, yang itu apa?" tanya Alouette sambil menunjuk kaset-kaset video yang tersisa di dalam kotak.
"Ini kaset video. Tapi, aku tidak yakin apakah masih bisa dilihat isinya atau tidak karena ini sudah berusia lebih dari 100 tahun. Pemutar videonya, sih, masih bisa gunakan yang ada sekarang karena tidak beda jauh dengan yang lama," jelas Tia. Perkembangan teknologi masa kini lebih ke perkembangan senjata sehingga perkembangan alat media hiburan berjalan lambat karena orang-orang lebih memikirkan bagaimana cara bertahan hidup ketimbang bagaimana membuat diri menjadi populer di dunia hiburan.
"Isinya tentang apa?" tanya Alouette lagi.
"Keseharian di Maverick Hunter," jawab Tia.
"Aku penasaran...," ucap Alouette sambil memandangi kaset-kaset tersebut. "Bagaimana kalau kita mencoba dulu di pemutar kaset. Siapa tahu masih bisa," sarannya.
"Yah, semoga saja," sahut Tia.
Dan mereka berdua kembali ke markas untuk meminjam pemutar video yang ada di Ruang Operator. Sebab pemutar video yang masih bagus ada di sana. Sebenarnya ada yang lain, cuma disimpan entah di mana.
Iris, Rogue, dan Jaune tertegun memandang isi kotak kapsul waktu milik Tia yang ditemukan oleh Alouette itu. Saat ini cuma mereka bertiga yang sedang berada di ruangan itu.
"Sangat tidak bisa dipercaya kalau ini berasal dari masa 100 tahun yang lalu," ucap Rogue sambil melihat beberapa foto.
"Masih bagus juga semua," kata Jaune.
"Aku juga tidak menyangka benda ini masih utuh setelah selama ini terkubur. Apalagi keadaan sebelumnya 'kan sedang terjadi pertempuran di sana-sini," kata Tia. "Keadaan seperti itu sudah menghancurkan banyak tempat, tapi benar-benar suatu keajaiban benda ini masih utuh."
"Ini X dan Zero dulu? Mereka dulu agak berbeda, ya," komentar Iris saat melihat salah satu foto berisi gambar X dan Zero. "Armor milik Zero juga berbeda dengan saat aku pertama kali bertemu dengannya. Dan kau saat masih kecil lucu juga, ya."
"Terima kasih," sahut Tia agak malu dianggap begitu. "Oh, ya, boleh kupinjam pemutar videonya?" pintanya yang baru teringat tujuan awal datang ke Ruang Operator. "Aku ingin mencoba memutar kaset ini sekalian periksa apakah masih bagus atau tidak."
"Video 100 tahun lalu? Bukannya sangat mustahil masih bisa diputar? Masalahnya video itu juga ikut terkubur, 'kan?" kata Jaune.
"Makanya aku mau memeriksanya dulu. Kalau bisa 'kan bagus. Kalian bisa melihat seperti apa keadaan di masa sebelum terjadi Perang Maverick," kata Tia.
Salah satu kaset pun kemudian dicoba di pemutar video. Semua kemudian melihat ke layar utama yang awalnya memperlihatkan gambar hitam saja. Hampir semenit menunggu, tapi tidak ada perubahan. Baru saja mau dianggap kasetnya telah rusak, terdengar suara gadis kecil dari pengeras suara.
"Oke, waktunya merekam kegiatan hari ini!"
"Tia, penututp lensanya masih terpasang."
"Itu suaranya X," ucap Iris saat mendengar suara orang kedua.
"Ups! Lupa... Hehe..."
Tia pun teringat bagian yang itu. Dia memang lupa melepas penutup lensanya saat mulai merekam.
Tampilan di layar pun berganti menjadi wajah Tia yang masih kecil yang kemudian berubah lagi arah sorotnya menjadi ke arah X.
"Oke, kita mulai rekamannya dari Kak X saja."
"Mainlah di tempat lain, Tia. Kakak ada banyak kerjaan."
"Ah, tidak asik."
Gambar pun mulai bergerak dan merekam beberapa kegiatan keseharian di Maverick Hunter. Iris terlihat cukup antusias menontonnya karena bisa melihat keadaan Maverick Hunter sebelum dirinya menjadi Navigator di sana. Begitu pun dengan yang lain yang bisa melihat keadaan di masa 100 tahun yang lalu.
Lokasi rekamannya kemudian berubah menjadi di lokasi konstruksi, lebih tepatnya tempat yang telah dirusak oleh serangan Maverick. Tia yang merekamnya saat itu berdiri di garis pembatas. Kameranya melayang hingga berada di belakang Tia.
"Kameramu bisa terbang?" tanya Iris pada Tia.
"Ya, karena aku juga ingin bisa merekam pemandangan dari jauh. Makanya kameranya dibuat begitu," jelas Tia.
"Lihat, lihat! Itu Kak Zero!" Tia kecil yang berada di dalam video menunjuk ke depan. Sorot kamera pun tertuju ke arah yang ditunjuknya. Zero saat itu berada di pinggir lubang besar.
Tia menyipitkan matanya. "Eh, tunggu dulu... Ini 'kan kejadian yang—"
Layar terus memperlihatkan rekaman di mana tiba-tiba sebuah pipa besar berayun tidak terkendali dan melesat ke arah Zero. Tia berteriak panik memperingati Zero, tapi tidak didengar karena berisiknya alat-alat di sekitar. Dan akhirnya pipa itu mengenai Zero yang membuatnya masuk ke dalam lubang. Kemudian, pipa yang menabrak Zero itu jatuh tepat di atas tempat Zero jatuh karena tali pengikatnya putus.
Yang di rekaman terdiam. Yang di Ruang Operator ikutan terdiam juga. Setelah itu barulah mereka tersadar setelah Tia di video berteriak, "MEDIS!"
Semuanya, kecuali Tia yang cuma memalingkan wajah, mencoba menahan tawa setelah melihat rekaman itu. Kejadian itu bisa sangat mencoreng imej Zero karena sangat memalukan. Saat itu Zero tiba-tiba saja masuk. Sontak video dimatikan oleh Jaune dan mereka semua pura-pura tidak sedang melakukan sesuatu. Sayangnya seorang Zero tidak semudah itu bisa dibohongi. Maka dengan sangat terpaksa, karena mereka yakin Zero akan marah, memperlihatkan rekaman yang baru saja mereka tonton. Zero terdiam melihat rekaman dirinya yang begitu apes saat itu. Matanya langsung mendelik kesal pada Tia.
"Kenapa bisa ada... rekaman ini... Tia?" desis Zero, menatap tajam pada Tia sambil menunjuk ke layar.
"Itu cuma suatu kebetulan terekam, Kak? Jangan salahkan aku...," jawab Tia, membela diri. Memang bukan salahnya yang saat itu kebetulan berada di lokasi kejadian.
Yang lain hanya bisa diam di tempat tanpa bisa melakukan apa-apa karena Zero tampak cukup mengerikan saat ini. Iris sendiri saja tidak berani bertindak.
"Lalu, bagaimana rekaman ini bisa ada di sini?" tanya Zero lagi dengan nada yang sama.
"Yah, itu... ditemukan oleh Alouette. Dan suatu keajaiban videonya masih berfungsi setelah aku menyimpannya dalam kapsul waktu yang kukubur sebelum aku pulang ke zamanku. Ini juga baru percobaan pertama untuk memastikan masih bisa befungsi atau tidak. Ternyata masih bisa hingga akhir rekaman."
Zero menjauhkan diri dari Tia. "Kalau begitu, sekarang hancurkan video itu."
Semuanya tersentak kaget. Jelas sekali Zero tidak ingin rekaman memalukannya itu masih ada.
"Kalau tidak ada yang mau, aku saja yang melakukannya."
Tia segera mengeluarkan kaset dari pemutar video dan menyatukannya dengan kaset yang lain yang berada di kotak kapsul waktu. Lalu, dipeluknya erat kotak itu. "Tidak boleh! Ini kenang-kenangan berhargaku!"
"Cepat hancurkan kaset itu!" bentak Zero.
"Tidak akan!" Dan Tia berlari keluar dari ruangan sambil membawa kotak kapsul waktunya.
"Hei, tunggu! Tia!" Zero berlari menyusul gadis itu. "TIA!"
Mereka yang masih berada di Ruang Operator terdiam melihatnya.
"Baru kali ini kulihat Zero bertingkah seperti itu," komentar Iris.
Yang lain mengangguk setuju.
Tia dan Zero kejar-kejaran di lorong melewati beberapa anggota Resistance yang sedang ada di situ juga. Di antaranya adalah Ciel dan X yang sedang berdiskusi mengenai perkembangan keadaan sekarang ini.
"Itu... Zero?" Ciel menatap tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Rasanya jadi nostalgia," ucap X sambil tersenyum maklum melihatnya. Dia jadi sangat terkenang saat Zero yang dulu sering sekali mengejar Tia karena keusilan gadis itu hanya untuk menarik perhatian kawannya itu.
