Episode 6
"Hei, Kak Zero..."
Zero tetap bergeming di tempat sambil membaca kertas laporan yang ada di tangannya. Tidak mempedulikan Tia yang memanggilnya dari tadi.
"Kak...," Tia mencoba memanggilnya sekali lagi.
Zero masih tetap tidak mempedulikannya.
"Ngambeknya jangan kelamaan. Kalau marah-marah terus, nanti cepat karatan, lho."
Zero sama sekali tidak memberi respon.
Tia cuma bisa menghela nafas sekarang. Kelihatannya percuma untuk berbicara dengan Zero yang sedang marahan dengannya lagi gara-gara video memalukannya itu. Dia pun memutuskan pergi saja dari ruang kerja Zero itu tanpa menyadari Zero meliriknya hingga gadis berpenampilan serba hitam itu menghilang di balik pintu.
"Tia," sapa X yang kebetulan lewat saat Tia hendak melangkah menjauh dari pintu ruang kerja Zero.
"Hai, Kak," sapa Tia lemas.
X menyadari apa yang sedang terjadi. "Zero masih marahan denganmu, ya?"
"Begitulah," sahut Tia pelan.
"Padahal sudah beberapa hari berlalu, tapi dia masih marah juga karena hal itu," desah X. Dia kemudian mengelus kepala Tia dengan lembut. "Jangan terlalu dipikirkan. Dia pasti akan mau bicara denganmu lagi, kok. Ini juga bukan pertama kalinya dia marahan denganmu, 'kan?"
Tia mengangguk saja. Dia berharap hal seperti ini cepat berlalu.
"Ayo, kita ke Ruang Operator. Ada laporan yang ingin kuantarkan," ajak X.
Tia mengangguk lagi dan mengikuti X.
-x-x-
Ciel terus memandangi Iris yang masih berkutat dengan komputer di depannya. Mengetik berbagai laporan yang masuk sejak tadi pagi. Merasa dipandangi, Iris pun menoleh.
"Ada sesuatu, Nona Ciel?"
Ciel tersentak dan segera memalingkan wajahnya. "Ah, tidak ada," jawabnya cepat. Dia kemudian kembali menatap Iris yang masih memandanginya. "Ng... Ada yang ingin kutanyakan padamu. Sebenarnya sudah sejauh mana kau mengenal... Zero?"
"Jujur saja... aku tidak tahu banyak mengenai Zero. Dia memiliki banyak hal yang belum kuketahui. Aku hanya mengenalnya sebatas... rekan saja saat itu. Tidak lebih," jawab Iris. "Dia itu... terlalu banyak memiliki rahasia yang bahkan dirinya sendiri belum tentu mengetahuinya juga. Tapi, justru bagian itulah yang membuatnya menarik."
"Begitu, ya," sahut Ciel pelan. "Aku juga masih tidak tahu banyak tentangnya biarpun pernah bersamanya sebelumnya. Dia memang punya banyak misteri."
"Tapi, satu hal yang pasti darinya," ucap Iris. "Dia itu... orang yang baik... biarpun terkadang dia tidak terlihat begitu."
Ciel tersenyum tipis. "Benar," sahutnya. Zero yang dikenalnya sebelumnya sama sekali tidak memperlihatkan wajah bersahabat. Cuma ekspresi datar yang hampir selalu diperlihatkannya. Tersenyum pun hampir tidak pernah. Dan selalu menganggap dirinya hanyalah sebatas senjata saja.
"Lalu... bagaimana perasaanmu terhadapnya?" tanya Ciel.
"Aku...," Iris tersenyum lebar, "menyukainya."
Ciel sedikit tersentak. Seharusnya dia tidak perlu kaget karena sudah sadar itu yang akan dijawabnya. Tapi, Iris menjawabnya tanpa ragu atau malu-malu. Perkataan yang tulus dari dasar hatinya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Iris, menyadarkan Ciel dari lamunannya.
"Yah, aku juga... menyukainya," jawab Ciel. "Seperti anggota lain menyukainya," tambahnya. Rasanya sulit mengatakan kalau sebenarnya lebih dari rasa suka yang dirasakannya.
"Bisakah kalian tidak membicarakan seseorang seperti itu? Rasanya mengganggu," Lance tiba-tiba muncul di belakang kedua gadis yang sedang berbincang itu yang membuat mereka sontak berbalik. "Ini laporan mengenai para robot alien yang berhasil kudapatkan dari rekaman pertempuran sebelumnya," dia menyerahkan setumpuk kertas pada Ciel. "Kurasa dengan ini, kita bisa sedikit tahu cara menanganinya walaupun tanpa bantuan Tia, X, dan Zero. Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan mereka, 'kan?"
"Ah, ya, terima kasih," sahut Ciel. Dia membaca sekilas isi dari laporan yang baru diterimanya itu.
"Lalu, bagaimana dengan rencana selanjutnya? Bukannya kita ingin memperluas wilayah?" tanya Lance. Rencana tersebut adalah rencana yang sudah lama dibuat, tapi belum sempat terlaksana dikarenakannya ada banyak bagian yang belum terpenuhi untuk melaksanakannya. Seperti jumlah pasukan, senjata, alat transportasi, dan banyak lagi. Di masa penjajahan seperti ini, cukup sulit memenuhi semua itu.
"Kita masih kekurangan tenaga pasukan," jawab Ciel. "Kalau kita memaksa melaksakannya dengan tenaga pasukan yang sekarang, resikonya terlalu besar. Kita tidak boleh sampai menambah jumlah korban dari pihak kita. Jumlah kita sekarang sudah sangat sedikit."
"Adakah cara mengatasinya?" tanya Lance.
"Kalau kita bisa mendapatkan petarung handal seperti Tia, X, dan Zero, kurasa itu sudah cukup," ujar Iris.
"Berapa orang yang diperlukan?" tanya Lance lagi.
"Empat orang kurasa cukup kalau kemampuan mereka memang setara dengan petarung handal yang kita miliki," jawab Ciel.
Lance termenung sejenak. "Sepertinya mustahil mendapat petarung yang seperti mereka sekarang ini. Selain itu, siapa petarung yang kemampuannya setara dengan mereka bertiga?"
Tak ada yang menjawab. Sebab memang sudah tidak ada lagi kabar adanya petarung yang kekuatannya setara dengan tiga petarung handal Resistance. Semuanya sudah lenyap semenjak hancurnya Ragnarok. Saat itu Zero lah petarung hebat terakhir yang tersisa.
Pintu terbuka dan masuklah Tia dan X.
"Ciel, aku membawa laporan yang kau inginkan," ucap X. "Ng... apa terjadi sesuatu?" tanyanya ketika menyadari suasananya yang agak muram.
"Bukan apa-apa. Hanya saja... rencana perluasan wilayah sepertinya masih sulit untuk dilaksanakan," jawab Lance.
"Sebaiknya jangan terburu-buru dalam melaksanakannya," kata X sambil menyerahkan laporan yang dibawanya pada Ciel. "Kita atur perlahan saja. Masalahnya, kita ini sudah mengalami kekurangan di sana sini. Kita jangan sampai bertindak sembarangan."
"Apa tidak masalah kalau kita menundanya terus?" tanya Lance.
"Sejauh yang kulihat pihak alien sendiri belum bertindak serius. Mereka hanya mendatangkan robot-robot penyerang mereka yang kurasa hanya bertindak sebagai pengintai untuk mencari tahu sejauh mana kita berkembang."
"Bagaimana kalau kita juga mengirim pengintai saja?" saran Lance. "Berdiam diri saja tidak akan memberikan kemajuan."
"Tapi, siapa yang akan kita kirim?" tanya Ciel. "Wilayah alien pastilah lebih berbahaya dari yang kita kira. Kita tidak mungkin mengirim sembarang orang ke sana."
"Aku saja yang pergi," Tia menawarkan diri. "Aku sudah pernah memasuki wilayah alien sebelum bertemu Resistance. Setidaknya aku sudah punya pengalaman di sana."
"Tidak," sanggah X cepat.
Semua langsung menatapnya.
"Itu berbahaya, Tia. Biarpun kau sudah berpengalaman, kau tidak bisa pergi sendiri ke sana begitu saja." X menatap begitu cemas pada Tia.
"Kak?"
X tersadar. Dia mengusap wajahnya sekali. "Oh, maaf," ucapnya pelan. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya barusan. Dia langsung bereaksi begitu saja begitu tahu Tia akan menghadapi bahaya. Sepertinya itu efek dari ingatannya mengenai apa yang pernah dialami Tia dulu. Padahal saat bertarung bersama melawan Iris yang masih menjadi sosok Dead Master yang mengaggap mereka musuh, hal itu tidaklah terjadi. Mungkin mereka harus bersama kalau dirinya tidak ingin mendadak merasa cemas berlebih saat Tia melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Aku mengerti kalau Kakak cemas, tapi aku akan baik-baik saja," kata Tia.
"Bisakah aku ikut?" pinta X. Dia sangat berharap bisa ikut untuk bisa selalu tahu kondisi gadis itu.
"Kak, yang bisa menandingi Seven Apostles hanya aku, Kakak, dan Kak Zero saat ini. Kalau Kakak juga ikut, pertahanan di sini akan sangat berkurang. Mereka bisa kembali datang untuk merebut kembali Neo Arcadia bila tahu pertahanan di sini telah berkurang drastis."
"Tapi, yang kau datangi itu wilayah mereka."
"Aku tahu. Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku sudah pernah ke wilayah mereka. Aku akan baik-baik saja."
X tak lagi berkata apa-apa setelah itu. Tia sudah memutuskan demikian.
"Oke, jadi Tia yang pergi untuk mengintai di wilayah alien," Lance memutuskan. "Akan kupersiapkan keperluanmu." Dia pun beranjak pergi meninggalkan ruangan.
Tia tersenyum sekilas pada X sebelum menyusul Lance. Setelah Tia keluar, Iris mendekati X yang masih terus memandangi ke arah pintu.
"Apa terjadi sesuatu, X?" tanya Iris.
"Aku... tidak tahu. Aku hanya... tidak ingin dia menempuh bahaya sendiri," jawab X.
"Pernah terjadi sesuatu sebelum ini sampai kau jadi... terlalu cemas pada Tia?" tanya Iris lagi.
"Dulunya, di hari pertama Tia datang ke Markas Maverick Hunter, terjadi serangan Mechanoloid. Dan entah bagaimana, Tia sudah berada di sana dan Mechanoloid yang menyerang dalam keadaan rusak parah. Ketika aku menemukannya, dia hanya menangis. Sejak saat itu aku merasa... tidak ingin Tia mengalami hal seperti itu lagi. Bahkan biarpun aku sudah sadar kalau dia sudah tidak lagi sama dengan dirinya yang saat itu."
"Kurasa itu tidak masalah, X. Itu tandanya kau perhatian padanya," ujar Iris. "Tapi, sekarang cobalah untuk menerima dirinya yang sekarang. Dia akan baik-baik saja. Justru kalau kau terlalu cemas, itu malah akan membuatnya kepikiran," pesannya.
"Ya, aku tahu," sahut X. Dia akan mencoba untuk mengikuti pesan gadis itu saja kalau itu memang cara yang terbaik.
-x-x-
Tia memandangi alat yang terpasang di pinggangnya sekarang. Sebuah Wing Boost untuk menambah laju geraknya. Cukup berat, tapi itu tidak mengganggu pergerakannya bila bertarung nantinya.
"Aku tahu kalau kau sebenarnya tidak memerlukannya," kata Lance, "tapi setidaknya itu bisa menghemat energimu dalam bergerak. Dan seperti halnya kedua senjatamu, alat itu juga terbuat dari bahan yang sama. Jadi, tidak akan mudah rusak bila terkena serangan."
"Sebenarnya alat-alat yang kau buat untukku itu terbuat dari apa, sih? Aku sempat memeriksa dengan kemampuanku dan rasanya... ini tidak sama dengan logam yang ada di Bumi."
"Memang tidak sama. Itu terbuat dari bahan yang sama dengan senjata yang dimiliki Seven Apostles. Itu sebabnya kenapa senjatamu bisa tahan terhadap setiap serangan senjata mereka," jelas Lance.
"Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Tia curiga. Sebab logam alien tersebut tidak mungkin didapatkan kecuali mendapatkannya dari para alien.
"Kudapatkan begitu saja," jawab Lance.
"Masa'?" Tia masih tidak bisa mempercayainya begitu saja.
"Aku menemukannya masih dalam bentuk bongkahan. Kurasa yang kutemukan saat itu adalah meteor. Setelah kuperiksa, ternyata itu logam yang sama yang digunakan pada senjata anggota Seven Apostles."
"Lalu, bagaimana kau bisa tahu itu bahan yang sama?" tanya Tia lagi.
"Dengan alat pemindaiku," Lance menunjukkan alat pemindainya yang pernah dia gunakan untuk memeriksa kedua tengkorak mini yang suka mengikuti Iris. "Asalkan sudah ada datanya, aku bisa memeriksanya dengan lebih mudah."
"Praktis juga itu alat," sahut Tia. Kalau memang begitu ceritanya, dia sudah tidak perlu curigaan lagi.
Tia memeriksa kembali perlengkapan miliknya sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang kurang. "Kurasa sudah semua perlengkapan siap. Aku akan berangkat sekarang."
"Kau yakin ingin pergi sendirian ke sana?" tanya Lance.
Tia terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah si ilmuan berambut keabuan tersebut. "Sudah keputusanku. Aku juga sudah sadar apa yang kulakukan. Aku melakukan ini bukan karena nekat. Aku melakukan ini karena aku tahu hanya aku yang saat ini yang bisa melakukannya," ucapnya yakin.
"Seperti dugaanku," gumam Lance. "Baiklah, waktunya bagimu untuk berangkat."
-x-x-
Sebuah motor sudah dipersiapkan untuk Tia menuju ke wilayah yang masih dikuasai alien. Motor yang juga dibuatkan oleh Lance yang disimpan dalam garasi markas. Ukurannya cukup besar dan dilengkapi dengan berbagai fungsi tambahan. Tia menaikinya sambil melihat-lihat dan mencoba beberapa tombol fungsi yang ada pada motornya. X, Iris, Ciel, dan Lance berada di sana untuk mengantar kepergiannya. Tak ada Zero. Itu sudah pasti. Dia tadi masih terlihat marah pada Tia. Jadi, Tia tidak terlalu berharap dia juga ada di sana.
"Segera hubungi kami bila kau sudah sampai di sana," pesan X. Dia masih terlihat tidak rela membiarkan Tia pergi sendiri.
"Baik, Kak," sahut Tia.
"Hati-hati," pesan Iris.
Tia mengangguk. "Aku berangkat." Dan motor pun melaju meninggalkan garasi markas Resistance dengan kecepatan tinggi.
Dia melaju di jalan raya yang lebar yang masih tampak kerusakan di sana-sini. Melewati bangunan-bangunan yang terlihat seperti reruntuhan. Di antara bangunan-bangunan itu, Tia melihat sosok yang tadinya dia anggap tidak ingin menemuinya hingga beberapa hari kedepannya lagi.
"Kak Zero..."
Mata Reploid merah itu tertuju pada Tia. Seulas senyum khas Zero terpasang. Dia seperti memberi pesan untuk melakukan yang terbaik pada misinya kali ini.
Tia membalas senyumannya. Dia merasa begitu senang melihat Zero akhirnya mau berkomunikasi dengannya lagi walaupun saat ini tidak berbicara secara langsung. Dia akan melakukan yang terbaik. Kecepatan motornya langsung ditambahkan.
Zero terus memandang Tia yang menjauh dengan cepat. Dia tersenyum geli melihat wajah Tia barusan.
"Dasar bocah," dengusnya.
Tapi, dia serius kalau ingin Tia berusaha yang terbaik pada misinya kali ini karena misinya yang sekarang bukanlah misi yang biasa. Jauh lebih berbahaya dari yang biasa dialaminya. Memasuki wilayah musuh adalah tindakan ternekat yang pernah dilakukan oleh siapa pun. Musuh akan ada di mana-mana. Tapi, dia yakin Tia bisa melewatinya.
-x-x-
LLWO berjalan di tengah rimbunnya hutan di salah satu wilayah kekuasaan pihak alien. Hanya sekedar iseng jalan-jalan saja karena sudah cukup lama tidak ada pertempuran yang terjadi setelah kegagalan rencana penggunaan Dead Master.
Para penghuni Bumi itu telah terlalu dianggap remeh hanya karena awalnya mereka memang mudah diserang karena tidak pernah kepikiran kalau akan diinvasi oleh makhluk dari luar Bumi. Selama ini mereka mengganggap alien itu tidak ada. Hanya dianggap cuma khayalan liar orang-orang yang menginginkan sensasi. Tapi, begitu mereka melakukan serangan balik, benar-benar membuat pihaknya dipukul mundur dengan telak. Kalau seperti itu terus, mereka akan kalah cepat atau lambat dan itu pasti kalau tidak segera ditangani. Dan sekarang atasannya sedang memikirkan solusinya untuk mengatasi masalah dari Resistance yang sekarang.
Langkah LLWO terhenti ketika dia merasakan ada yang mengawasinya. Tapi, dia tidak tahu di mana si penguntit itu berada.
Resistance? Sepertinya bukan, batinnya. Karena dia merasa cuma ada satu orang saat itu dan Resistance tidak akan seceroboh itu hanya menyuruh satu orang datang ke wilayah musuh untuk berhadapan dengannya.
Pemuda alien itu mengangkat senjatanya setinggi dadanya, lalu dengan cepat dia menembak lurus ke samping, ke balik semak-semak yang begitu rimbun. Sebuah siluet bayangan melesat keluar dari semak-semak yang telah musnah tersebut. Dia mendarat tak jauh di belakang LLWO.
LLWO berbalik. Dia menemukan sosok robot Bumi dengan armor dominan hijau tengah berdiri sambil menatap tajam dan merendahkannya. Kedua tangannya memegang semacam pedang cahaya. Apa sebutan untuk robot itu di Bumi? Reploid kalau tidak salah.
"Jadi, kau orangnya yang telah berani menyerang Master?" Reploid hijau itu mendesis berbahaya.
"'Master'? Si biru itu, ya?" sindir LLWO. Sejak awal dirinya turun tangan untuk menangani petarung handal milik Bumi, sebagian besar pertarungannya adalah dengan melawan si Reploid biru. Sedangkan si gadis hitam hanya dilawan saat awal pertemuan saja. Jadi, pasti Reploid itu yang dimaksud.
"Aku tidak akan membiarkan kau bertindak lebih jauh lagi," desis Reploid hijau itu. "Aku... akan menghentikanmu di sini, sekarang juga."
LLWO malah tersenyum sinis. "Coba saja."
-x-x-
"Cih membosankan," XNFE terus mengeluh dan mengoceh tidak jelas hanya karena tidak ada kegiatan lain setelah gagalnya penyerangan sebelumnya. Dia jadi 'libur' setelah itu. "MZMA, apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan sekarang?" tanyanya agak terdengar merengek pada pria merah di sampingnya yang sedang berbaring di sebuah batang pohon yang rubuh. Pria yang dari atas sampai bawah penampilannya didominasi oleh warna merah dan hitam. Kedua tangan dan kaki kanannya terbungkus bongkahan logam tebal. Mata kirinya ditutup asesoris yang mirip tulang punggung manusia yang terpasang dari depan wajahnya hingga ke belakang kepalanya.
"MZMA..."
"Pergilah, kerdil. Kau terlalu berisik!" desis MZMA. Dia ingin sekali bersantai. Tidak peduli kalau penyerangan gagal atau tidak. Dia tidak ingin menanggapinya. Lagipula bukan kesalahannya penyerangan ke tempat Resistance gagal. Dia juga tidak ikut dalam penyerangan itu.
XNFE yang sedang duduk di atas salah satu robotnya itu tersentak. Urat kekesalannya mencuat. "Kau... Kau sama saja dengan MEFE!" geramnya.
"Tapi, wanita itu sudah tidak ada, 'kan? Jadi, jangan samakan aku dengan mereka yang sudah tidak ada."
XNFE yang sudah kelewat kesal, akhirnya pergi saja dari tempat pemuda alien itu. Robotnya terbang membawanya masuk ke dalam hutan yang saat ini sedang dihiasi oleh makhluk sejenis kunang-kunang yang memancarkan sinar yang cukup terang walaupun saat ini masih siang. Cahayanya terlihat jelas.
MZMA baru saja mau kembali beristirahat setelah gadis kecil alien yang mengganggunya itu pergi, tapi dia kembali membuka matanya setelah merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya. Dia yakin itu bukanlah XNFE. Dia pun beranjak dari tempat istirahatnya, mengambil senjata yang diletakkannya di samping tempatnya berbaring yang merupakan gabungan dari senapan dan pedang yang ukurannya sangat besar untuk manusia.
Sesosok robot yang armornya juga dominan merah, keluar dari balik bayang-bayang hutan. Dia menyunggingkan seringai mengejek. Dia kemudian berhenti beberapa meter dari tempat MZMA berdiri. MZMA sudah sering melihat robot yang berasal dari Bumi seperti itu. Robot yang disebut sebagai Reploid.
"Ada urusan apa denganku, Reploid? Aku tidak tahu kau. Kurasa sebaiknya kau pergi saja dari sini. Kau mengganggu tidur siangku," ucap MZMA.
"Aku juga tidak tahu kau, tapi yang aku tahu, kau bagian dari para alien menyebalkan yang mengacau di sini," kata Reploid merah itu.
MZMA mendecih kesal. Dia sudah jarang mendapat misi, sekarang waktu istirahatnya terganggu oleh Reploid yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Sebaiknya...," MZMA memikul senjatanya, "kita akhiri dengan cepat."
-x-x-
Sebuah suara dentuman menghentikan pergerakan robot XNFE. Gadis kecil alien itu berbalik dan melihat kepulan asap menjulang ke langit. Asalnya dari tempat MZMA berada.
"Serangan?" XNFE terbelalak.
Nada panggilan dari alat komunikasi mengalihkan perhatiannya. Segera dia jawab panggilan itu. Sebuah layar muncul di hadapannya. Seorang pria tua berbadan kekar dan berambut putih ada di dalam layar itu.
"Ada apa, SAHA?" tanya XNFE.
"Kelihatannya ada yang berhasil menyusup masuk ke dalam wilayah kita."
"Resistance?"
"Bukan, mereka tidak masuk ke dalam daftar anggota Resistance."
"'Mereka'? Ada lebih dari satu?"
"Ya, ada empat orang. Dan mereka sedang memburu anggota utama Seven Apostles yang tersisa. Dua diantaranya sedang dihadapi oleh LLWO dan MZMA. Kau cari yang lain dan segera habis—"
Sambungan terputus tiba-tiba.
"Heh? SAHA? SAHA!"
Tak ada lagi tanggapan dari lawan bicaranya.
"Dia tidak akan menjawab panggilanmu."
XNFE segera menoleh. Sesosok robot perempuan dengan armor dominan biru sedang berdiri bersandar di salah satu pohon. Dia tersenyum sinis pada XNFE. Salah satu tangannya memegang tombak. Robot petarung.
"Kenapa bisa ada Reploid di sini?" desis XNFE. Dia sudah banyak menghadapi Reploid, jadi dia tahu pasti seperti apa Reploid itu.
"Yah... butuh sedikit usaha untuk itu. Tapi, berhasil juga," jawab si Reploid.
"Kau bukan bagian dari Resistance—"
"Aku juga bahkan bukan bagian dari pihak penghuni Bumi yang menginginkan kebebasan kembali," Reploid itu menyela. "Aku hanya bertindak karena kau adalah musuh Master."
"'Master'? Itu artinya salah satu dari yang kami lawan adalah atasanmu," simpul XNFE.
"Begitulah," Reploid biru itu memutar-mutar tombaknya beberapa kali sebelum mengacungkannya ke arah XNFE. "Kita mulai saja."
XNFE menyeringai. "Baiklah..."
Para robotnya pun berdatangan ke sekitarnya.
-x-x-
SAHA melirik ke samping di mana ada seseorang atau seuatu yang sedang mendongkan sebuah saber kunai di lehernya.
"Penyusup...," desisnya. "Kau kira benda itu bisa membunuhku, Reploid?"
"Kita tidak akan tahu kalau tidak dicoba," bisik Reploid yang berpenampilan seperti ninja dan dengan armor dominan warna hitam itu.
SAHA tiba-tiba melancarkan pukulan ke belakang. Serangannya mengenai Reploid itu, tapi ternyata itu cuma bayang yang langsung menghilang setelah tangannya menembusnya. Dia menoleh ke arah lain di mana wujud asli Reploid ninja itu berada yang telah memegang saber kunai dan saber suriken yang besar di kedua tangannya.
"Ternyata ninja itu memang menarik," kagum SAHA. "Kita lihat apakah kemampuanmu bisa mengalahkanku." Dia melompat ke belakang, masuk ke dalam kegelapan. Kemudian terdengar suara dencingan langkah kaki mekanik yang mendekat. SAHA yang sudah menaiki robot besar.
"Besar tubuhnya bukan berarti besar juga kemampuannya," Reploid ninja itu menatap remeh.
"Kita buktikan saja," desis SAHA, menyeringai.
-x-x-
Tia menghentikan laju motornya. Di depannya sudah terlihat hutan yang merupakan batas wilayah yang berada dalam kekuasaan alien. Tapi, ada yang aneh. Dia tidak merasakan adanya penjagaan. Terlalu sepi juga.
"Aku sudah tiba di perbatasan. Aku akan masuk," lapornya ke markas melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
"Hati-hati, jangan bertindak gegabah," X yang merespon laporannya.
"Baik."
Tia kembali melaju memasuki hutan, menyusuri jalan tanah di antara pepohonan. Dia belum pernah memasuki area hutan, tapi tempat tinggalnya yang dekat dengan hutan sudah membuatnya terbiasa dengan keadaan tempat yang dipenuhi tumbuhan itu.
Sambil melaju, Tia terus memperhatikan sekitar. Memang terlalu sepi. Tidak ada robot alien seperti yang pernah ditemuinya saat berkelana di Neo Arcadia yang saat masih dikuasai oleh alien.
"Apa terjadi sesuatu?" gumamnya curiga.
Sebuah ledakan mengagetkannya. Dia langsung merem mendadak motornya. Sebuah kepulan asap terlihat jauh di depan.
"Ternyata memang benar." Tanpa ragu dia menarik pedal gas motornya dan melaju menuju ke arah kepulan asap yang terlihat itu.
