Episode 7


Tak ada gangguan yang berarti saat Tia tiba di wilayah alien. Cuma robot-robot kecil yang berkeliaran di sana dan bisa diatasi dengan mudah tanpa memancing kedatangan robot lain. Tia melanjutkan pengintaiannya tanpa motor karena terlalu mencolok sehingga dia meyembunyikannya di antara rimbunan semak yang lebat. Kedua senjata utamanya, Rock Cannon dan Black Blade, dipegang di kedua tangannya.

Sejauh ini Tia belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan informasi. Tapi, sepinya wilayah alien cukup mencurigakan. Sangat aneh kalau penjagaan diperlemah di saat lawan sedang memperkuat diri. Pasti ada sesuatu.

Suara ledakan beruntun mengagetkan Tia lagi. Sejak sampai di perbatasan dia cukup sering mendengar ledakan, tapi dia belum mencapai tempat sumber ledakan itu karena jaraknya cukup jauh untuk ditempuh dengan berlari. Sementara motornya tidak bisa digunakan sekarang.

Tia kembali berlari. Tujuannya sudah jelas. Ke sumber ledakan yang dari tadi dia dengar. Dia penasaran siapa yang sedang bertarung itu. Dia belum bisa memastikan siapa yang bertarung, hanya saja dia merasa kalau ada anggota Seven Apostles yang terlibat. Jumlah robot alien sekarang sedang sangat sedikit. Pasti mereka tidak akan membuat ledakan hingga sesering ini. Jadi, pasti anggota Seven Apostles yang bertarung. Cuma bertarung melawan siapa? Siapa lagi yang masih bisa bertarung seimbang dengan para alien paling kuat itu?

Tia segera bersembunyi ketika matanya menangkap sosok dua orang berpenampilan serba hijau yang sedang beradu senjata dan kemampuan mereka. Salah satunya Tia sudah tahu adalah anggota Sevent Apostles, LLWO. Tapi, yang satunya lagi, yang merupakan Reploid, Tia sama sekali tidak kenal. Namun, kemampuan Reploid itu cukup hebat karena masih bisa mengimbangi kemampuan LLWO.

Kenal atau tidak, bagi Tia, yang melawan alien adalah teman walaupun belum yakin dapat bekerja sama.

Begitu melihat ada kesempatan, Tia keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerang LLWO. Pemuda alien itu segera menghindar, bergerak menjauh. Matanya menyipit tajam setelah melihat siapa yang menyerangnya secara tiba-tiba itu.

"Resistance..."

Si Reploid hijau yang berada di belakang Tia terkejut. "Kau dari Resistance?" tanyanya. Matanya melebar setelah memperhatikan baik-baik gadis di depannya itu. "Tunggu! Kau itu... manusia?"

"Ya, aku manusia," jawab Tia. "Bicaranya nanti saja. Kau tadi melawannya, 'kan? Mau bekerja sama?" tawarnya.

Si Reploid mendengus. "Maaf saja. Aku tidak mau bekerja sama dengan siapa pun yang berasal dari Resistance," tolaknya ketus.

Tia sudah menduga akan ditolak, tapi tidak disangka alasannya hanya karena dirinya berasal dari Resistance. Sepertinya sudah lama Reploid itu bermusuhan dengan organisasi tersebut. Selain itu, sikapnya yang berkesan dingin mengingatkannya pada ciri-ciri Zero dulu yang dikatakan Neige. Kalau mereka berdua bertemu, gadis itu merasa kalau akan terjadi konflik yang tak terhindarkan.

"Aku tidak peduli kalau kalian mau bekerja sama atau tidak," ucap LLWO tegas. "Yang jelas kalian berdua adalah pengganggu di sini." Dia membidik cepat lurus ke arah Tia dan menembaknya. Dengan bantuan Wing Boost di pinggangnya, Tia berhasil menghindarinya. Si Reploid hijau juga berhasil menghindari tembakan yang mengarah padanya setelah Tia yang ada di depannya menghindar.

Tia berhenti yang langsung memasang posisi ancang-ancang dan melesat maju meyerang LLWO dengan tebasan pedang. Berhasil dihindari, Tia melancarkan serangan susulan dengan mengayunkan meriamnya yang telah diubah menjadi mode pedang. LLWO masih bisa menghindarinya dengan bergerk mundur yang bersamaan dengan dibidikkannya senapannya ke arah Tia. Refleks Tia menjadikan Rock Blade sebagai perisai. Namun, bidikan itu ternyata tipuan karena bukannya menembak, LLWO malah melesat maju mendekatkan diri pada Tia. Moncong senapannya menempel pada perut Tia yang tidak sempat dilindungi dan berakhir dengan terhempasnya gadis berpenampilan serba hitam itu setelah tembakan berkekuatan besar dilepaskan.

Tia terbaring tak bisa bergerak. Tembakan itu melumpuhkannya walaupun lukanya cepat memulih. Rasa sakitnya terlalu kuat untuk bisa ditahan oleh gadis itu.

Berhasil melumpuhkan Tia tidak membuat LLWO menurunkan kewaspadaannya karena dia masih ingat pada lawan pertamanya sebelum kedatangan Tia. Lawannya itu telah berancang menebaskan pedangnya tepat di belakang. LLWO menghindari serangan itu, tapi si Reploid hijau tetap terus melancarkan serangan, tidak memberi kesempatan bagi alien itu untuk menyerang balik.

Si Reploid menatap curiga karena LLWO tak kunjung membalas serangannya walaupun tadi beberapa kali terlihat ada celah yang bisa memberinya kesempatan untuk membalas serangan. Hanya menghindar saja. Tidak seperti saat sebelum Tia datang. Kecurigaannya terjawab saat salah satu tangannya merasakan keganjalan yang mempengaruhi gerakan serangannya. LLWO pun memanfaatkannya. Dia menahan tangah Reploid tersebus dan membidikkan senjatanya tepat di depan wajah si Reploid. Tembakannya menghasilkan ledakan sekaligus menghempaskan si Reploid cukup jauh. Reploid itu juga terbaring tak bergerak seperti Tia.

"Kau terlalu fokus menyerang sampai tidak sadar kalau tubuhmu sudah mencapai batasnya," ejek LLWO. Entah didengar atau tidak oleh si Reploid hijau yang sama sekali belum bergerak setelah terkena serangan.

LLWO melangkah mendekati Reploid itu. Tia yang masih sadar tapi belum juga dapat bergerak, merasa kalau LLWO akan melancarkan serangan akhir pada si Reploid.

"Hen... ti... kan...," suara Tia begitu serak dan kecil sehingga lebih terdengar seperti bisikan yang tidak mungkin bisa terdengar oleh LLWO yang berada cukup jauh dari tempatnya berada.

Kesadaran Tia hampir hilang ketika dia melihat ada siluet seseorang yang menerjang ke arah LLWO. Tia tidak melihat jelas seperti apa orang yang datang itu. Hanya pedangnya yang berukuran besar dan bergerigi yang berhasil Tia lihat jelas sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.


-x-x-


Sayup-sayup Tia dapat mendengar suara beberapa orang yang tidak dikenalnya berada di dekatnya. Dia membuka paksa matanya yang masih terasa berat. Dia melihat langit di atasnya masih biru. Masih siang. Berarti dia belum lama pingsanya.

Tia bergerak duduk. Perutnya masih terasa agak nyeri saat bergerak. Tembakan LLWO benar-benar sangat fatal kalau saja dirinya masih manusia biasa.

"Ternyata kau yang siuman duluan."

Tia langsung menoleh k asal suara di mana ada Reploid yang terlihat seperti ninja dengan armor gelap sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Berdiri bersandar di salah satu pohon sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

Reploid lain kemudian datang menghampiri Tia. Gadis Reploid berarmor biru. "Kau lebih tangguh dari yang kuduga, ya, manusia. Teman kami saja belum sadar-sadar," dia menunjuk dengan jempolnya ke belakang. Di sana terlihat si Reploid hijau masih terbaring tak sadarkan diri. Ada satu Reploid lain berarmor merah yang sedang menjaganya di sebelahnya. Serangan LLWO yang dilancarkan padanya terlihat begitu fatal. Biarpun Reploid sekalipun, sulit baginya untuk bisa setidaknya mempertahankan kesadarannya.

Teringat pada LLWO, Tia pun mencari permuda alien itu. Dia begitu tercengang saat melihat ada belahan tanah yang begitu besar yang berada beberapa meter di depannya. Kelihatannya belum lama terbentuk. Belahannya seperti bekas tebasan dengan panjang yang diperkirakan mencapai hampir satu kilometer.

"Itu sudah ada saat kami tiba," kata si Reploid ninja.

"Apa ada orang lain yang terlihat selain aku dan teman kalian?" tanya Tia.

"Tidak ada," si Reploid biru yang menjawab. "Hanya kalian. Padahal kami sudah datang secepatnya setelah mendengar suara ledakan yang keras."

Tia beranjak dari tempatnya, mendekati belahan tanah tersebut. Dia menemukan beberapa potong senapan milik LLWO yang berceceran di dekat belahan tanah itu. Sepertinya LLWO telah gugur juga walaupun tidak ada jasadnya yang terlihat di mana pun. Seperti anggota Seven Apostles yang lain yang telah gugur terlebih dahulu.

"Omong-omong, boleh kami tahu siapa kau? Dan bagaimana kau bisa berada di sini?" taya si Reploid biru yang terlah berada di belakang Tia.

Tia berbalik. "Aku Tia. Dari Resistance. Aku sedang dalam misi pengintaian di tempat ini," jawabnya.

Reploid biru itu terkejut. "Hah? Apa tidak salah Resistance mengirim manusia ke sini? Ini sarang musuh."

"Aku... bukan manusia biasa. Aku salah satu petarung di Resistance," jelas Tia.

"Ho... Petarung, ya... Aku baru kali ini bertemu manusia petarung di sini. Ternyata masih ada, ya. Tidak heran ada senjata di dekatmu biarpun senjatamu kurasa tidak cocok digunakan manusia."

Tia ingin mengatakan mengenai asalnya juga, tapi dia merasa belum waktunya. Diperhatikannya sejenak para Reploid yang berda di sekitarnya itu. Jumlah mereka ada empat. Karena si Reploid biru itu mengatakan kalau si Reploid hijau adalah teman mereka, berarti mereka juga sama kuatnya dengan si Reploid hijau. Bahkan itu sudah terlihat jelas dari mereka. Kalau tidak, mereka tidak mungkin bisa tenang di tempat yang berbahaya seperti sekarang. Tia tersadar sesuatu. Jumlah mereka ada empat dan mereka juga kuat...

"Apa kalian ini... Four Guardians?" tanyanya memastikan.

"Ya, itu kami," jawab si Reploid biru. "Aku Leviathan. Yang seperti ninja itu Phantom. Yang merah itu Fefnir. Dan yang masih belum sadar itu Harpuia."

Tia langsung teringat pada perkataan Zero yang menolak bekerja sama dengan Four Guardians, terutama yang bernama Harpuia. Dugaannya mengenai ketidakcocokan di antara mereka ternyata benar karena yang si hijau itu memang Harpuia yang tidak disukai Zero.

"Kami mendapat informasi kalau Master kami ada bersama Resistance. Apa itu benar?" tanya Leviathan.

"'Master'? Oh, Kak X, ya? Ya, dia ada di markas Resistance saat ini," jawab Tia.

"Barusan kau menyebut Master dengan sebutan 'Kak'?" tanya Leviathan dengan pandangan aneh.

"Ah... Ya, karena aku sudah menganggapnya seperti kakak sendiri," jelas Tia. "Ada yang salah?"

"Aku tidak pernah melihat Master dekat dengan seseorang sampai mau dianggap kakak sejak aku dibuat. Memangnya sudah berapa lama kalian saling kenal?"

"Sejujurnya belum lama. Cuma aku pernah mengenal Kak X saat dia masih menjadi Maverick Hunter."

Para Reploid yang mendengar itu terkejut.

"Kau bilang 'Maverick Hunter'? itu 'kan organisasi di masa 100 tahun yang lalu," ucap Leviathan agak histeris saking terkejutnya mendengar ucapan Tia barusan. "Apa maksudnya ini? Jangan bilang kalau kau telah hidup selama 100 tahun."

"Tidak, tidak... Bukan begitu," sangkal Tia cepat. "Aku ini bisa dibilang penjelajah waktu. Aku datang ke masa itu saat usiaku 11 tahun. Zaman asliku lebih jauh lagi. Bahkan belum ada Reploid di zamanku itu. Dan sekarang aku berada di masa ini untuk membantu menangani para alien walaupun aku tidak tahu kapan aku bisa pulang ke zamanku."

"Kau dari masa sebelum ada Reploid? Kurasa itu tidak mengherankan kalau kau bisa bertarung karena di masa itu manusia hanya bisa mengandalkan tubuh sendiri untuk melindungi diri," ujar Phantom. "Tapi, karena zamanmu itu jauh dari masa kini, apakah itu tidak mempengaruhi sejarah?"

"Sejauh ini kurasa tidak ada yang terpengaruh. Jadi, menurutku tidak ada masalah," jawab Tia sambil melangkah ke tempat senjatanya diletakkan dan mengambilnya. "Aku juga sebenarnya tidak ingin sampai ada yang berubah di masa kini. Kalau sampai ada yang berubah, bagaimana dengan ingatanku tentang masa ini? Tentang masa depan ini? Apa nantinya ikut berubah atau malah... menghilang? Semua kenanganku di sini... aku tidak ingin kehilangan kenangan bersama orang-orang yang telah kukenal di masa ini. Selain itu... mengubah sejarah sekalipun belum tentu bisa mengubah masalah yang terjadi di sini," dia berbalik menghadap Phantom. "Benar, 'kan? Karena itu... tidak menjamin sama sekali."

Tak ada yang menjawab. Tapi, di pikiran Phantom dan anggota Four Guardians lain yang mendengarnya jelas berpendapat serupa.

"Oke, karena kita menangani musuh yang sama, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk mencari informasi mengenai tempat ini?" tawar Tia. Harpuia telah menolak tawarannya sebelumnya. Tapi, belum tentu teman-temannya juga berpendapat sama, 'kan?

"Menurutku itu tidak perlu," ucap Phantom. "Aku telah menemukan sebuah informasi mengenai sebuah tempat di wilayah alien ini walaupun tidak begitu detail. Tempat itu dijaga ketat oleh para robot level tinggi. Struktur bangunannya juga tidak begitu kumengerti. Tapi, itu satu-satunya tempat yang paling mencolok. Mungkin ada sesuatu di sana."

"Di mana letaknya?" tanya Tia.

"Di negara tetangga. Kita harus menyeberangi lautan kalau mau ke sana," jawab Phantom.

"Jauh juga," gumam Tia.

"Sekarang sebaiknya kita pergi dari sini," saran Phantom tiba-tiba.

"Heh? Kenapa?" Tia menatap bingung. Begitu juga dengan yang lain.

"Tak lama lagi akan diluncurkan sejumlah besar pasukan yang akan disebar di seluruh wilayah ini. Ada kemungkinan juga akan disebar sampai di wilayah Resistance."

Tia terhenyak. "Maksudmu mereka akan melakukan serangan balasan?"

"Begitulah."

"Jadi, selama ini mereka tidak bertindak karena mempersiapkan pasukan... Seharusnya aku sudah menduganya," desis Tia. "Baiklah, kita pergi dari sini. Ini harus segera diberitahukan pada yang lain."

"Maksudmu pergi ke tempat Resistance?"

Semua menoleh. Harpuia telah siuman dan kini memandang lurus ke arah Tia.

"Aku tidak akan ikut denganmu," sambungnya.

"Lalu, kau mau terus berada di sini?" tanya Fefnir yang masih berada di sebelahnya.

Harpuia bergerak berdiri. Matanya masih terus memandang Tia dengan tajam. "Aku tidak akan lagi bekerja sama dengan Resistance."

Tia tidak terkejut mendengarnya karena sudah tahu mengenai ketidaksukaannya pada Resistance. Rekan-rekan Harpuia yang lain juga tidak terkejut. Tapi, tetap saja itu adalah perkataan yang tidak pas untuk diucapkan sekarang di mana sebentar lagi akan ada banyak robot alien yang disebarkan.

"Tapi, Master ada di sana," kata Leviathan. "Selain itu, tujuan kita kembali ke sini untuk membantu Master, 'kan?"

"Memang, tapi aku tidak akan bergabung dengan Resistance."

"Kalau kau tidak mau bergabung, tidak masalah," ucap Tia. Perhatian kini tertuju padanya. "Tidak ada yang memaksa. Tapi, sekarang kita pergi dulu dari sini."

Harpuia menyipitkan matanya. "Jangan memerintahku," desisnya.

Alis Tia berkedut. Dia yakin perkataannya barusan bukanlah perintah, tapi Reploid hijau itu malah beranggapan demikian dengan wajah yang menurutnya menyebalkan. Dia berjalan mendekati Harpuia. Langkahnya agak dibanting. Alisnya bertaut. Dia berhenti tepat di hadapan Harpuia. Matanya menatap lurus ke arah mata Reploid itu.

"Aku tidak memberi perintah," desis Tia, menyangkal anggapan Reploid tersebut. "Bisakah kau tidak membuatku jengkel? Tidak heran Kak Zero tidak menyukaimu. Kau begitu menyebalkan."

Mata Harpuia semakin memicing tajam. "Jangan sebut nama itu di hadapanku."

Tia menghela nafas. Dari pembicaraan segitu saja sudah membuatnya yakin kalau beradu mulut tidak akan ada selesainya. "Kita pergi saja. Aku tidak ingin kita sampai ditangkap di sini."

"Sudah kubilang jangan memerintah!"

Tangan Tia langsung memukul keras pohon di sebelahnya. Dia tidak sadar kalau memukul terlalu kuat hingga batang pohon itu rubuh akibat pukulannya barusan. Semuanya tercengang melihatnya karena tidak menyangka Tia bisa sekuat itu walaupun dirinya manusia dengan tubuh yang tergolong kurus.

"Sudah cukup!" geram Tia. "Kau mau atau tidak, kita pergi ke markas Resistance." Dia pun menarik tangan Harpuia dan menyeretnya paksa untuk mengikutinya. Harpuia mencoba untuk melepas cengkeraman tangan gadis itu, tapi berakhir sia-sia.

"Kau... Siapa kau sebenarnya? Manusia tidak mungkin bisa sampai sekuat ini dengan tubuh seperti itu. Kau bukan manusia."

Langkah Tia berhenti tiba-tiba. Tanpa menoleh, dia berbisik, "Aku ini... cuma 'senjata'."

Harpuia menatap bingung. "'Senjata'?"

"Aku ada karena ingin dimanfaatkan kekuatannya untuk menghadapi para alien ini. Kalau bukan karena itu, aku tidak akan berada di sini. Jauh-jauh datang dari masa lalu. Tapi, aku tidak keberatan karena setidaknya aku berguna di sini."

Harpuia terdiam menatap gadis di depannya itu.

"Kita harus segera ke tempat motorku disembunyikan agar bisa menghubungi markas untuk mengirim jemputan. Jumlah kita terlalu banyak kalau cuma menggunakan motorku," ucap Tia, mengganti topik. Dia berbalik menghadap Harpuia. "Alat komunikasiku rusak di pertarungan tadi. Jadi, kita harus menggunakan alat komunikasi yang ada di motorku."

Harpuia masih tetap diam memandang gadis itu.

"Ayo, cepat! Waktu kita tidak banyak!" seru gadis itu, kembali menarik Harpuia yang tangannya masih digenggamnya. Kali ini tidak ada protes dari yang ditarik.

Anggota Four Guardians lain masih diam di tempat, memandang ke arah gadis berpenampilan serba hitam itu.

"Gadis yang aneh," komentar Leviathan.

"Aku tidak peduli siapa dia. Yang pasti...," Fefnir memandang pohon yang tadi ditumbangkan oleh Tia, "aku tidak ingin cari masalah dengannya untuk saat ini."

"Kita ikuti saja dia," kata Phantom, beranjak menyusul Tia dan Harpuia yang sudah berada cukup jauh. "Ini bukan pilihan yang buruk," sambungnya.

Leviathan dan Fefnir saling memandang sebentar sebelum kemudian ikut menyusul juga.


-x-x-


Dedaunan semak yang menutupi motor disingkirkan oleh Tia sendiri. Motor besarnya yang bisa tetap berdiri tanpa penyangga itu langsung diutak-atik bagian komputernya. Layar-layar hologram bermunculan. Tia menyalakan bagian komunikasi. Sementara itu anggota Four Guardians hanya memperhatikan dari belakang.

"Tia!" suara Iris terdengar dari pengeras suara. "Ini Tia, 'kan?"

"Ya, Iris. Ini aku," jawab Tia.

"Astaga... Kenapa baru menghubungi sekarang? Semuanya cema, kau tahu?"

"Maaf, maaf... Alat komunikasiku rusak di pertarungan. Jadi, aku baru bisa menghubungi sekarang," ucap Tia.

"Tia!" kali ini suara X yang terdengar.

"Kak X?"

Anggota Four Guardians tampak bereaksi ketika mendengar suara X dari pengeras suara.

"Syukurlah... Kau tidak apa-apa, 'kan?"

"Aku baik-baik saja, Kak," jawab Tia sambil tersenyum. "Di sini aku mendapat bantuan, kok."

"Bantuan? Dari siapa?" tanya X heran karena langka bisa mendapat bantuan saat berada di wilayah musuh.

"Four Guardians," jawab Tia singkat.

Keheningan terjadi sebentar sebelum X kembali angkat bicara. "Mereka ada di sana?"

"Ya, dan Phantom juga telah menemukan informasi mengenai para alien."

X terdengar mendesah di sana. "Apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana?"

"Kami ingin membantu Master," Leviathan menghambur maju mendekati alat komunikasi. "Kami mohon, Master. Biarkan kami membantu," pintanya.

"Aku tidak melarang untuk membantu, tapi kenapa kalian tidak ke sini saja dulu untuk memberitahu mengenai maksud kedatangan kalian? Itu lebih baik, 'kan, daripada membuatku terkejut seperti ini. Aku yakin kalian juga sudah tahu di mana aku berada sekarang," ucap X.

"Masalahnya... Harpuia tidak mau datang ke tempat Resistance," jawab Leviathan dengan entengnya tanpa mempedulikan tatapan tajam Harpuia di belakangnya.

X kembali mendesah. "Baiklah, aku mengerti. Sekarang tolong jelaskan situasi kalian di sana."

Tia baru saja mau memulai penjelasan ketika dia tiba-tiba merasakan ada yang datang dengan cepat ke arahnya. Leviathan juga menyadarinya. Keduanya refleks menjauh saat sebuah tembakan berpeluru merah melesat dan menghancurkan motor Tia hingga berkeping-keping. Semuanya waspada.

"Tembakan itu...," ekspresi Fefnir mengeras tatkala si penembak keluar dari persembunyiannya. Seorang pria berpenampilan serba merah hitam dengan senjata berupa gabungan senapan dan pedang yang berukuran besar.

"Kau...," geram Fefnir.

"Bukannya kau telah mengurusnya?" tanya Harpuia.

"Aku memang telah menghadapinya, tapi dia tiba-tiba kabur di tengah pertarungan."

Tia memperhatikan baik-baik pria tersebut yang sudah pasti bukan manusia ataupun Reploid. "Dia... MZMA..."

Alien itu, MZMA, menyeringai lebar. "Siapa yang mau bersenang-senang denganku? Ayo, maju!" tantangnya.

Belum juga hilang rasa keterkejutan mereka karena kemunculan MZMA yang tiba-tiba, mereka kembali terkejut saat melihat ada banyak robot yang melintas di angkasa. City Eater yang paling besar di antara para robot, melintas cukup banyak. Lebih dari cukup untuk menghancurkan sebuah wilayah besar seperti Neo Arcadia. Bahkan terlalu banyak.

"Apa-apaan ini?" Tia tercengang luar biasa melihat jumlah tersebut.

"Ini lebih cepat dari informasi yang kudapat," desis Phantom.

"Kalian adalah musuh tak terduga, jadi penyerangannya sampai harus besar-besaran seperti ini," ucap MZMA dengan santainya. "Jangan salahkan kami, ya," sindirnya.

XNFE juga kemudian muncul dengan sejumlah besar robot merah jambunya yang mengepung Tia dan anggota Four Guardians. Tak ada celah bagi mereka untuk kabur.

"Kau...," geram Leviathan.

"Maaf, ya, kalau tadi aku mundur sebentar," ucap XNFE santai. "Akan sangat menyenangkan kalau melihat semua wajah kalian secara bersamaan saat teman-teman kalian kami bantai habis-habisan!"

Tia menggeram kesal. Ini semua sudah sangat berlebihan. Pihak alien sama sekali tidak ingin memberi kelonggaran. Tapi, dia tidak bisa kembali sekarang kalau dihadang seperti ini.


-x-x-


"Tia! Tia!" X masih terus berusaha memanggil Tia yang sambungan komunikasinya tiba-tiba terputus.

"Kapten, sepertinya alat komunikasi mereka telah rusak," kata Iris.

X menggeram kesal. "Sial! Kita jemput mereka secepatnya—"

Alarm tiba-tiba berbunyi nyaring, mengagetkan seluruh anggota Resistance. Seluruh Operator segera memeriksa apa yang membuat alarm berbunyi. Iris terbelalak.

"I... Ini..."

"Ada apa, Iris?" tanya X.

"Sejumlah besar pasukan robot alien sedang menuju ke sini. Mereka sangat banyak!" lapor Iris dengan suara panik. Dia menampilkan denah wilayah serta sinyal pasukan musuh di layar besar.

X tersentak kaget. "Ini..."

Zero dan Ciel kemudian datang bersamaan memasuki ruang operator.

"Serangan balasan?" tanya Zero yang sepertinya sudah menduga apa yang sedang terjadi.

"Ya, tapi ini... gila...," jawab X, masih memandang ke arah layar di mana jumlah sinyal musuh sangatlah tak terduga banyaknya.

"Mereka sepertinya ingin menghabisi kita kali ini," desis Zero. "Siapkan seluruh pasukan!" titahnya.

"Baik!" sahut Rogue.

Pengumuman untuk seluruh pasukan Resistance bergema di seluruh wilayah. Seluruh pasukan pun segera bersiap.

"Kali ini akan mejadi pertempuran besar-besaran," gumam Zero.

Mata X memicing tajam. Tangannya terkepal kuat. Dia benci bila semua ini terjadi. Pertempuran yang akan membuat banyak korban berjatuhan. Tapi, dia tidak bisa menolak apa yang akan segera terjadi itu.

Tidak akan kubiarkan!


To Hunter ian (Guest): Maaf sekali karena aku tidak menjamin akan update cepat. Fic lain saja masih banyak yang belum di-update.