Episode 8
Pertempuran besar akhirnya terjadi. Memang sudah diduga akan terjadi cepat atau lambat, namun serangan kali ini lumayan mendadak bagi Resistance. Seluruh pasukan sudah memulai pertempuran dengan para robot alien dengan senjata yang mereka bawa. X dan Zero juga sudah ikut dalam pertempuran. Mereka lebih mengutamakan menghadapi robot-robot yang berukuran lebih besar yang lebih sulit dihadapi oleh pasukan Resistance biasa.
X mengadah ke langit, melihat para City Eater berterbangan di langit dan menghancurkan bangunan-bangunan dengan rudal-rudal yang mereka luncurkan. X semakin geram. Tangannya terkepal kuat.
Lagi-lagi... begini...
Bayang-bayang saat dia ikut dalam perang-perang sebelumnya, membuat hatinya menjadi panas. Kehancuran, kehilangan, rasa sakit, semuanya kembali terpintas dalam benaknya. Kenangan yang sama sekali tidak ingin dia ingat.
Ini sudah tidak sama lagi saat pertempuran pengambilalihan Neo Arcadia. Saat itu mereka tidak melakukan pertempuran yang sengit. Hanya serangan biasa untuk memukul mundur para robot yang tersisa di Neo Arcadia. Sedangkan sekarang pihak alien telah melancarkan serangan balasan dengan jumlah pasukan yang sangat tidak terbayangkan. Ditambah, sebagian merupakan robot-robot berukuran raksasa. Tidak akan mudah untuk dihentikan.
Mereka juga tidak bisa mundur. Sama sekali. Neo Arcadia sekarang sudah terkepung. Tak ada jalan lagi untuk kabur. Padahal keadaan sudah sangat buruk karena jumlah pasukan tidak sebanding dengan pasukan lawan. Mereka sekarang cuma bisa bertahan saja dari serangan alien ini. Kalau saja ada cara untuk membuat pasukan alien yang semuanya adalah robot itu berhenti...
X tidak bisa banyak berpikir sekarang. Dia harus membantu pasukan yang dipimpinnya untuk melawan pasukan alien di areanya.
-x-x-
Iris hampir tidak bergerak saat dia menyaksikan pertempuran yang terjadi di luar melalui monitor di markas Resistance. Keadaannya sangat timpang untuk pihak Resistance. Tubuhnya sampai gemetar menyaksikan pertempuran itu di mana pihak lawan benar-benar tidak main-main dalam serangannya kali ini. Pasukan yang dipimpin X dan Zero sudah terlihat sangat kewalahan dengan ketimpangan ini.
"Ini sangat tidak bagus," gumam Ciel yang juga menyaksikan pertempuran itu. "Kita bisa segera kalah kalau begini terus."
"Pasukan kita terlalu sedikit dalam pertempuran kali ini," kata Neige. "Kalau saja kita bisa menambah lagi jumlah pasukannya."
Iris tertunduk. Kedua tangannya yang bertautan saling mencengkeram. Dia tahu dia bisa saja membantu karena sekarang dia sudah bisa bertempur dengan menggunakan kekuatan Dead Master. Dia bahkan tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan itu beserta penguasaannya. Hanya saja, dia takut menggunakannya. Dia memang tidak ingat kejadian saat dirinya menyerang, tapi setelah mendengar cerita dari anggota Resistance yang lain, secara tidak sengaja tentunya, itu membuatnya jadi takut pada kekuatannya itu. Itu yang kini menjadi penghalangnya untuk niatnya itu.
"Iris," Lance yang sejak sebelum pertempuran dimulai terus mengurung diri di ruang kerjanya, tiba-tiba datang dan memanggil Iris yang masih termenung.
Iris berbalik. "Ada... apa?"
"Ikut aku sebentar," titah Lance sambil melangkah keluar.
Semua yang berada dalam ruangan menatap bingung pada Lance yang langsung pergi lagi di saat seperti ini. Dia bahkan tidak terlihat cemas. Iris segera menyusulnya saja. Biarpun tidak terlihat cemas pada pertempuran, namun dia terlihat serius saat menyuruh Iris mengikutinya. Ini hal yang penting sepertinya.
"Ada apa kau menyuruhku mengikutimu, Lance?" tanya Iris yang masih berusaha mengikuti langkah Lance yang cepat.
Lance tidak menjawab sampai mereka tiba di ruang kerjanya. Dia mengambil sebuah benda panjang yang terbungkus kain dan melemparkannya ke arah Iris yang baru masuk yang untungnya berhasil ditangkap olehnya.
"Apa ini?" tanya Iris bingung.
"Buka saja."
Iris pun membuka bungkusan kain itu. Matanya melebar saat dia melihat yang di balik kain itu adalah Dead Scythe, senjata sabit besar yang dia ingat dibawa oleh Dead Master saat dia bertemu gadis berpenampilan gothic lolita itu.
"Kau akan ikut bertarung," ucap Lance.
"Heh?" Iris syok. "Kenapa tiba-tiba—"
"Cuma kau harapan kami sekarang," sela Lance. "Tia sedang tidak di sini. Kekuatan X dan Zero tidak cukup menghadapi mereka semua. Bantuannya hanya tinggal kau."
Iris tertunduk. "Tapi...," tangannya mencengkeram erat ganggang Dead Scythe, "aku tidak yakin apakah bisa benar-benar membantu."
"Kau ragu pada kekuatanmu?"
"Aku bukannya ragu," sangkal Iris cepat. "Aku hanya... takut menggunakannya lagi. Aku sudah dengar cerita tentang kejadian saat aku muncul. Saat aku bukan menjadi diriku. Aku hampir mengacau semuanya, 'kan? Kalau saja Tia, X, dan Zero tidak berhasil menghentikanku."
"Itu memang resiko memiliki kekuatan besar," ucap Lance tenang sambil duduk di kursi kerjanya. "Kekuatan itu bisa melukai orang terdekat tanpa sengaja, juga bisa tidak terkendali di kondisi tertentu. Tapi, itu tidak akan selalu terjadi, 'kan?"
Iris memalingkan pandangannya. "Biarpun begitu, tapi tetap saja...," perkataannya tidak dilanjutkan lagi.
"Sekarang pikirkan saja mana yang lebih penting. Aku tahu kau bisa membedakannya."
Iris tertunduk. Termenung. Matanya tertuju pada sabit besarnya itu.
Tanah tiba-tiba berguncang kuat. Terdengar juga suara ledakan yang cukup keras beriringan dengan gempa yang terjadi.
"Serangannya sepertinya sudah ada yang sampai ke sini. Tinggal menunggu waktu saja sampai tempat ini hancur. Kecuali kau membantu. Pasukan kerangkamu bisa sangat membantu," ucap Lance yang herannya mengucapkannya dengan tenang di saat genting seperti ini.
"Kau masih bisa tenang saat keadaan sudah seperti ini?" tanya Iris heran.
"Karena aku yakin kau akan membuat pilihan yang sesuai perkiraanku," jawab Lance sambil berbalik. Masih tetap tenang.
Iris mengernyitkan dahinya. Memejamkan erat matanya. Dia menarik nafas dan menghembuskannya. Menenangkan dirinya. "Baiklah," ucapnya. "Akan kulakukan," dia memutuskan. Kalau dibiarkan juga, dia bisa melihat hal yang tidak ingin dilihatnya. Hal yang pernah dilihatnya di masa lalu. Kehilangan.
Karena dalam keadaan dipunggungi, Iris sama sekali tidak tahu kalau Lance tersenyum tipis setelah mendengarnya. Iris segera keluar bersama dengan dua tengkorak hitam mini yang selalu bersamanya. Meninggalkan Lance sendirian di ruang kerjanya.
Lance menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya. "Lagi-lagi... Ini seperti memanfaatkannya. Aku ini... suka memanfaatkan orang, ya?" gumamnya pada diri sendiri.
-x-x-
Iris berdiri di puncak gedung markas. Bukan hal yang sulit bagi dirinya yang sekarang untuk bisa berada di sana. Dia bisa melihat para robot alien yang satu demi satu mendekat ke markas. Dia juga bisa melihat ledakan dan kilatan tembakan di medan pertempuran di depan sana.
"Daya serangnya bisa diperkirakan lebih lemah dari saat aku menjadi Dead Master. Tapi, aku harus tetap bisa membantu," gumamnya. "Kalian berdua juga, tolong, ya," pintanya pada kedua tengkorak hitam mini yang selalu bersamanya itu.
Kedua tengkorak hitam itu merubah wujudnya menjadi besar. Kembali ke wujud asli mereka. Iris memejamkan matanya. Sepasang tanduk muncul di kepalanya dengan sehelai kain tudung transparan. Sepasang kerangka sayap juga muncul di punggungnya. Kedua tangannya kembali menjadi kerangka logam hitam dengan ujung jarinya berwarna hijau.
Perlahan Iris membuka matanya. Warna hijau lensa matanya semakin terlihat terang. Menatap datar ke depan. Kemudian membisikkan perintah, "Bangkitlah."
Gempa besar mengguncang seluruh wilayah Neo Arcadia. Tanah retak-retak dan membuat celah besar yang dari dalam celah itu terlihat cahaya kehijauan yang memendar. Seluruh pasukan baik dari Resistance maupun alien terdiam karena guncangan yang sangat terasa tidak wajar itu. Kemudian dari dalamnya keluar puluhan kerangka bersenjata.
Hampir seluruh pasukan Resistance malah dibuat panik oleh kemunculan kerangka-kerangka itu hingga sadar mereka di pihaknya setelah terlihat kalau pasukan kerangka itu menyerang para robot alien. Setelah para kerangka keluar, tanah yang retak kembali menutup.
Zero masih terdiam di tempat saat melihat para kerangka itu. "Mereka ini, 'kan... Jangan-jangan, Iris..."
X juga sempat terdiam, tapi dia segera sadar kalau itu bantuan dan kembali bertempur menghadang para robot alien yang masih banyak jumlahnya.
Ciel dan anggota lain yang bersamanya juga dibuat tercengang dengan kemunculan pasukan kerangka dari dalam tanah yang mereka saksikan dari layar monitor ruang operator.
"Mirip pasukan kematian," komentar Neige, memucat dan merinding karena pemandangan tersebut lumayan horor di matanya. Siapa yang tidak ngeri melihat sekumpulan kerangka bergerak keluar dari dalam tanah?
"Kematian...," Ciel bergumam. "Dead... Dead Master," matanya melebar. "Iris!"
"Ya, itu memang dia," Lance akhirnya kembali lagi ke ruang operator setelah cukup lama pergi bersama Iris tadi. Semua yang berada dalam ruang operator menoleh padanya. "Dia memutuskan untuk membantu. Dengan menggunakan kekuatannya sebagai Dead Master."
"Kukira dia tidak akan ikut pertempuran langsung," kata Neige.
"Awalnya. Sekarang keadaannya juga berbeda. Mau bagaimana lagi," sahut Lance. Dia sama sekali belum berniat untuk memberitahukan kalau dia sempat menyuruh Iris untuk ikut ke dalam medan pertempuran. "Dengan begini kita masih bisa mengimbangi serangan. Asalkan jumlah pasukannya tidak lagi bertambah, ada kemungkinan kita bisa memukul mundur mereka walaupun akan sedikit memakan waktu."
Itu terdengar sebagai harapan bagi yang lain. Mereka begitu senang mendengarnya. Memang kemungkinannya tidak besar, tapi kemungkinan tetaplah kemungkinan. Tinggal seberapa keras usaha untuk mewujudkan kemungkinan tersebut.
-x-x-
Setelah melihat kalau pasukan kerangkanya sudah mulai melakukan penyerangan, Iris pun ikut bergabung. Dia menaiki salah satu tengkorak hitam raksasanya dan melesat pergi menuju medan pertempuran. Setibanya di sana, dia melompat turun tanpa ragu sembari berancang-ancang menyerang menggunakan Dead Scythe. Sabit besarnya itu dihantam keras ke salah satu robot alien yang besar yang berada tepat di bawahnya, lalu meledak setelah dia mencabut sabitnya dan melompat menjauh. Sedangkan kedua tengkorak raksasanya menyerang para City Eater yang masih berterbangan di atas Neo Arcadia.
Iris berlari sambil menebas para robot alien berukuran kecil yang ditemuinya. Jumlah mereka sungguh banyak seperti semut. Setiap robot yang terbelah karena serangannya meledak satu demi satu sampai tak ada lagi robot alien yang terlihat di sekitarnya. Dia hendak melanjutkan ke tempat lain saat terdengar suara Zero yang memanggilnya.
"Iris!"
"Zero?"
Zero berhenti melangkah di hadapan Iris. Dia memperhatikan sebentar penampilan Iris yang sudah kembali mejadi Dead Master. "Apa... Apa yang kau lakukan?"
"Aku... ingin membantu," jawab Iris pelan. "Aku yang sekarang sudah lebih sanggup untuk itu. Memang awalnya aku tidak ingin lagi melakukan pertempuran langsung, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda." Dia menatap Zero lurus ke matanya. "Biarkan aku membantu. Kalian butuh itu."
Zero memalingkan pandangannya. Dia sudah senang begitu mendengar Iris tak lagi ikut dalam pertempuran langsung. Tapi, sekarang gadis yang disayanginya itu kembali melibatkan diri dalam pertempuran langsung. Pertempuran besar pula. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Zero tidak ingin terjadi hal buruk lagi pada Iris.
"Zero," panggilan Iris beserta sentuhan tangan di wajah, membuat Zero kembali menatap Iris. "Ini demi semua. Aku pun tidak ingin kehilangan orang-orang terdekatku lagi. Jadi, biarkan aku ikut."
Zero bisa merasakan niat Iris yang kuat. Dia tidak bisa lagi melarang gadis itu untuk ikut bertarung. Untuk ikut berjuang. Lagipula berkatnya juga sekarang mereka bisa seimbang dengan pasukan alien. Jadi, tidak salah juga membiarkannya ikut. Iris pun sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dia akui itu. Apalagi dia sudah merasakan bagaimana kuatnya serangan gadis berambut coklat itu yang membuatnya sempat tidak sadarkan diri.
Zero menyentuh tangan Iris yang masih berada di wajahnya. "Hati-hatilah," pesannya.
Iris tersenyum. "Ayo, berjuang bersama."
Zero mengangguk. Lalu, mereka berdua berlari menuju daerah medan pertempuran yang masih memanas.
-x-x-
Rock Cannon milik Tia masih beradu tembakan dengan milik MZMA yang sangat tidak mau mengalah. Alien merah itu tertawa keras. Itu semakin membuat Tia kesal berhadapan dengannya. Ingin dia segera akhiri pertarungan ini, tapi MZMA sama sekali tidak mau memberikan kesempatan baginya untuk mengakhiri kalau bukan dirinya yang menang.
Four Guardians memilih menghadapi XNFE bersama robot merah jambunya yang ternyata berjumlah sangat banyak sehingga menyulitkan untuk diatasi sendiri. Leviathan tidak menyangka kalau ternyata jumlah robot yang dimiliki XNFE jauh lebih banyak dari yang diketahuinya saat pertama kali menghadapinya.
Tia berniat ingin tetap fokus pada pertarungannya yang sekarang, tapi suara ledakan dan deru senjata dari medan perang di Neo Arcadia yang terdengar cukup jelas di telinganya walaupun selalu mengganggu konsentrasinya. Padahal lokasinya jauh.
Dia ingin segera membantu Resistance. Setelah melihat betapa banyaknya pasukan yang dikerahkan, tidak mungkin dia tidak terbayang hal-hal yang buruk yang bisa terjadi di sana.
"Kau melihat ke mana!" Teriakan MZMA menyadarkannya yang di saat yang sama tubuhnya terhempas oleh serangan langsung alien merah itu. Tia terjerembab di atas tanah dengan sangat kasar. Ujung senjata alien itu kemudian ditodongkan ke leher Tia yang masih setengah terbaring.
"Kau mengkhawatirkan mereka? Sebaiknya kau memikirkan dirimu sendiri. Karena sekarang, kau sendirian—"
MZMA berbalik tiba-tiba dan senjatanya pun beradu dengan sebilah pedang besar bergerigi yang berayun ke arahnya. Tia ikut terkejut dengan kemunculan pemilik pedang itu yang sama sekali tidak disadarinya. Ditambah itu pedang yang sama dengan yang dilihatnya sebelum tidak sadarkan diri tadi. Pemilik pedang itu mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajahnya. Tia tidak ingat kalau pemilik pedang itu mengenakan jubah sebelumnya. Dia hanya ingat pada pedangnya karena cuma pedangnya yang sempat dilihatnya sebelum kehilangan kesadaran.
"Siapa kau?" geram MZMA.
Tak ada jawaban. Orang berjubah itu mendorong kuat senjata MZMA sehingga dia termundur, lalu disambung dengan serangan tebasan beruntun yang masih berhasil ditangani oleh MZMA walaupun dia cukup kewalahan.
Tia tidak peduli siapa orang berjubah itu, yang penting lawan mereka sama. Dia segera bangkit dan kembali ke dalam pertempuran. Ini menambah peluang untuk segera mengakhiri pertarungan melawan alien merah itu. Mereka menyerang secara bergiliran dan kadang secara bersamaan. MZMA akhirnya tampak kewalahan. Seringai yang sejak tadi diperlihatkan hilang dan berubah menjadi tatapan kesal pada kedua lawannya.
Tia mundur bersamaan dengan majunya si pengguna pedang untuk giliran menyerang. Dia mengayunkan cepat pedang besarnya sampai satu serangannya membuat senjata MZMA terlihat memercikkan listrik. Konslet. MZMA menggeram marah tanpa menyadari kalau Rock Cannon telah dibidik dan di-charge penuh. Begitu ditembakkan, si pengguna pedang melompat menghindar secara tiba-tiba yang otomatis membuat perhatian MZMA kacau, antara mengikuti pergerakan lawannya itu atau tembakan yang datang. Tembakan pun mengenainya dengan telak akibat kacaunya konstentrasinya itu dan dia terlempar jauh.
Sesaat Tia merasa lega karena serangannya kena secara telak yang berarti ada kemungkinan besar pertarungan selesai sekarang. Tapi, dia tetap harus memastikan dulu apakah MZMA benar-benar telah kalah. Orang berjubah yang tadi melompat menghindar dan mendarat cukup jauh dari area tembakan, hanya diam di tempat dengan pandangan lurus ke arah lawannya yang telah terkena tembakan itu.
Tak ada pergerakan yang terlihat dari tubuh MZMA setelah ditunggu cukup lama, namun Tia tetap dikejutkan dengan lenyapnya tubuh alien itu beberapa saat kemudian. Lenyap bagai pasir yang ditiup angin. Hanya meninggalkan senjata rusaknya dan beberapa potongan kecil pakaiannya.
"Beginikah... cara para alien itu mati?" Tia masih menatap terkejut. Ini menjawab kenapa anggota Seven Apostles yang mati tidak meninggalkan jasadnya.
Tia mengarahkan pandangannya pada orang berjubah yang masih tidak bergerak dari tempatnya. Hanya diam seolah menunggu perintah selanjutnya.
Tia menghampirinya perlahan. Seaneh apa pun tingkah orang itu, dia ingin berterima kasih karena telah ditolong. Dua kali.
"Hei, aku... ingin berterima kasih padamu karena sudah menolongku. Lagi. Kau sangat membantu," ucap Tia.
Tidak ada respon apa pun dari orang berjubah itu. Tetap tidak bergerak sama sekali. Tia kembali mengerutkan dahinya. Merasa aneh dan curiga.
"Dia tidak akan menjawab."
Sontak Tia menoleh dan memasang kuda-kuda siap bertarung saking terkejutnya dengan suara asing yang tiba-tiba terdengar. Seorang wanita berpenampilan serba hitam merah tengah berdiri tak jauh dari tempatnya. Rambutnya hitam panjang dengan ujungnya berwarna merah dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya. Warna matanya merah menyala yang juga mengejutkannya mirip dengan miliknya. Hanya berbeda warna. Tangannya mirip dengan tangan Iris saat menjadi Dead Master. Tangan kerangka logam hitam. Apa dia memiliki hubungan dengan Iris atau mungkin... Dead Master?
"Maaf mengejutkanmu, Black Rock Shooter. Tapi, tenang saja. Aku bukan musuh walaupun teman pun rasanya bukan juga," sambung wanita itu.
Walaupun sempat mengejutkannya, tapi tidak terasa kalau wanita itu berniat buruk. Tia pun menurunkan senjatanya. Tapi, dia masih bingung kenapa wanita itu bisa tahu namanya.
"Perkenalkan aku... Mmmm... Panggil saja Black Gold Saw. Agak panjang, tapi biarlah," wanita merah itu sedikit terkekeh. Dia lalu melangkah mendekat sambil kembali bicara, "Kau mungkin terkejut kenapa aku bisa tahu nama sandimu itu. Itu karena aku mengawasi semua yang berhubungan dengan Lance, mantan muridku."
"Kau... gurunya Lance?" Tia terkejut sekali mendengarnya. Tidak menyangka akan bertemu gurunya Lance di saat seperti ini.
"Anak itu benar-benar nekat sekali melakukan eksperimen padamu. Tapi, salahku juga karena telah mengajarkan dasar-dasarnya. Seharusnya aku tidak membagi penemuanku yang satu itu pada siapa pun. Untunglah tidak banyak efek samping yang kau alami selain warna matamu dan kulitmu yang lebih memucat."
Tia langsung menyingkap lengan jaketnya dan melihat kulit tangannya. "Sepucat itukah?" gumamnya. Dia pernah dengar teman-temannya di zaman aslinya mengatakan kulitnya semakin lama semakin putih dan mulai terkesan pucat. Tapi, karena tidak ada hal aneh lain seperti kesehatan yang terganggu, mereka pun mulai terbiasa dengan warna kulitnya itu. Begitu pun keluarganya. Ternyata itu bagian dari efek samping yang dialaminya.
"Tapi, tenang saja. Efeknya tidak akan lama. Kau akan kembali seperti semula," kata Black Gold Saw.
Tia terdiam sesaat. Menatap lurus ke arah wanita di depannya itu. "Kembali seperti semula?"
"Ya, apa yang dilakukan Lance padamu tidaklah bersifat permanen. Kau akan kembali menjadi manusia biasa. Aku tidak tahu Lance berhasil menyadari hal ini atau tidak, tapi begitulah kenyataannya. Aku sudah menyelidikinya," jawab Black Gold Saw.
Sebenarnya kabar itu terdengar bagus juga bagi Tia karena dia tidak akan terlihat seperti sekarang terus-terusan yang menurutnya tampak aneh. Namun, saat ini kabar itu juga terdengar buruk. Kalau pertempuran belum selesai ketika dia kembali menjadi manusia biasa, akan bermasalah pastinya. Kekuatan tempur Resistance akan menurun. Kalau kekuatan lawan juga sudah melemah, dia tidak begitu mengkhawatirkannya karena X dan Zero pasti masih bisa melanjutkannya tanpa dirinya. Mereka kuat.
"Berapa lama?" tanya Tia pelan. "Berapa lama lagi kekuatannya hilang?"
"Seminggu lagi," jawab Black Gold Saw singkat.
Waktu yang tidak banyak. Tia jadi harus bertekad perang harus sudah selesai sebelum hal itu terjadi.
"Oke, aku tidak akan menahanmu lebih lama. Bawalah anak ini. Dia akan sangat membantu kalian di pertempuran," Black Gold Saw menepuk kepala si pembawa pedang.
"Kalau boleh tahu... dia itu sebenarnya... apa?" tanya Tia. "Dia tidak merespon perkataanku. Seperti boneka yang menunggu perintah."
"Ah, untuk sekarang dia memang begitu. Tapi, nanti dia akan bertingkah seperti Reploid pada umumnya."
"Dia... Reploid?" Tia kembali terkejut.
"Ya, walaupun agak berbeda sebenarnya dengan Reploid biasanya. Namanya... Axl. A-X-L. Bagaimana pun dia akan sangat membantu di pertempuran. Sekarang pergilah. Teman-temanmu sedang menunggu, 'kan?"
"Ya. Terima kasih bantuannya. Aku sangat menghargainya."
Tia dan Axl pun berangkat meninggalkan Black Gold Saw. Setelah keduanya pergi, wanita merah itu juga pergi ke arah yang berbeda. Di kejauhan, sosok gadis yang memiliki penampilan yang sama dengan Iris saat menjadi Dead Master, terlihat seperti menunggu kedatangan wanita itu.
"Lihat? Sudah kubantu. Kau puas?"
Dia mengangguk.
"Oke, kita pulang. Kita tidak bisa berlama-lama di sini."
Pedang yang mirip dengan yang dibawa Axl muncul di tangan Black Gold Saw. Dia menebaskannya udara, memunculkan semacam robekan di bagian yang ditebas. Robekan itu membesar. Black Gold Saw dan si gadis gothic melangkah masuk. Kemudian robekan itu menghilang.
-x-x-
Tujuan Tia sebelum ke Neo Arcadia adalah mencari anggota Four Guardians yang sedang melawan XNFE. Tapi, dia tidak menemukan mereka. Tidak ada tanda-tanda pertempuran juga.
"Ke mana mereka?" mata Tia terus mencari-cari.
Axl tiba-tiba berjalan sendiri ke arah lain. Tia segera menyusul Reploid yang belum sekali pun dilihat wajahnya itu. Suara pekikan terdengar. Suara yang tidak asing bagi Tia. Tapi, suara itu milik...
"XNFE?"
Suaranya terdengar aneh. Seperti sedang protes.
Tia dan Axl sampai di tempat asal suara. Di sana XNFE sedang diikat di pohon dengan menggunakan tali logam. Anggota Four Guardians mengelilinginya seperti sedang menginterogasinya. Robot-robot merah jambu milik XNFE berceceran tak berbentuk di sekitar.
"Apa yang kalian... lakukan?" tanya Tia.
"Kami sedang memintanya untuk memberitahu cara mematikan robot mereka," jawab Leviathan. "Hei, siapa dia?" tanyanya saat melihat ada yang bersama Tia.
"Oh, dia Axl. Dia yang membantuku mengalahkan MZMA," jawab Tia. "Dia Reploid, tapi... kurasa ada sedikit masalah pada sistemnya sehingga dia tidak bisa berinteraksi dengan baik seperti kalian."
"Reploid? Senjatanya besar juga," komentar Fefnir.
"Jadi, bagaimana? Sudah mendapatkan informasinya?" tanya Tia. Kembali ke pembicaraan awal.
"Dia sulit diajak bekerja sama," kata Phantom.
"Kalian pikir aku akan mengatakannya semudah itu? Tidak akan pernah!" bentak XNFE.
Suara bising mesin terdengar dari kejauhan. Terdengar semakin mendekat. Ketika semuanya serentak menengok, mereka dihujani tembakan laser yang membuat semuanya segera bubar. Menjauh dari area tembakan.
Debu akibat tembakan bertebaran di udara, menutupi tempat XNFE berada. Sesuatu melesat masuk ke dalam kabut debu tersebut dan keluar beberapa saat kemudian.
Debu perlahan menghilang, memperlihatkan XNFE yang sudah tidak lagi di tempatnya. Tali logam yang mengikatnya terlihat tergeletak di atas tanah.
"Bantuan untuknya rupanya," desis Harpuia kesal.
"Kita kejar?" tanya Leviathan.
"Sebaiknya tidak usah," Tia menjawab cepat. "Sekarang kita harus kembali ke Neo Arcadia. Pasukan sebanyak itu... pasti tidak akan bisa ditahan lama oleh pasukan Resistance. Bahkan dengan adanya Kak X dan Kak Zero pun tidak mungkin bisa membuat mereka mundur."
"Ya, kurasa kau ada benarnya," kata Phantom. "Lagipula kita ke sini agar bisa membantu Master. Kalau sampai pasukan Resistance kalah, sia-sia saja kita datang. Master pun terancam bahaya."
"Baiklah, kita berangkat sekarang!" seru Fefnir semangat. "Akan kuhabisi para alien itu."
"Tapi, apa kita bisa sempat sampai di sana? Jarak dari sini ke sana terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki." Perkataan Harpuia itu membuat yang lain terdiam. Itu memang menjadi masalah saat ini. Tia datang dengan menggunakan motor saja cukup lama untuk bisa sampai.
"Kita bisa menggunakan alat teleport milik Resistance," kata Phantom tiba-tiba. "Aku menemukan alat itu tak jauh dari sini. Masih utuh walaupun aku tidak tahu apakah masih bisa berfungsi atau tidak karena belum memeriksanya lebih jauh."
"Kita coba saja dulu," kata Harpuia. "Yang jelas, kita harus cepat sampai di sana."
-x-x-
Semak demi semak disingkirkan untuk memberikan jalan. Agak jauh juga dari lokasi mereka berada sebelumnya.
Phantom yang berjalan paling depan, kemudian berhenti. "Ini dia."
Segera yang berada di belakangnya maju ke depan. Di sana terlihat mesin datar berbentuk lingkaran yang dipenuhi kabel di sisinya. Ukurannya cukup besar.
Harpuia memeriksa sebentar. Dia terlihat melakukan sesuatu pada beberapa kabel yang terpasang. Kemudian alat itu pun mengeluarkan bunyi yang menandakan telah aktif. Tia cukup kagum melihatnya yang bisa menyalakan mesin yang tampak rumit itu.
Harpuia segera naik ke tengah mesin itu. Tampak layar hologram muncul di depannya.
"Cuma satu tempat yang sedang aktif," ucapnya. "Kurasa itu tempat anggota Resistance berada saat ini." Dia berbalik menghadap rekan-rekannya. "Baiklah, kita berangkat sekarang."
Harpuia menyentuh layar hologram tersebut dan dia pun lenyap dalam seketika. Yang lain segera mengikutinya satu per satu hingga semuanya telah terteleport pergi dari wilayah kekuasaan alien tersebut.
A/N: Maaf baru lanjut. Untuk yang bertanya tentang Axl, dia memang sudah direncanakan muncul. Yaitu di chap ini. Sekali lagi maaf telah menunggu lama.
