Chapter 1
"Yang mana, sih, pemain baru itu?"
"Itu! Yang rambutnya biru muda!"
"Astaga, keberadaannya saja sulit diketahui!"
"Sudah terlihat, pasti gadis itu punya talenta hebat."
.
.
BRAK!
"Ah!"
"Dasar gadis sialan!"
BRAK!
"S-sakit!"
"Memangnya aku peduli, heh, cewek jalang?"
DUK!
"Kurokocchi~ Harusnya kau tahu kalau berani menyaingi kami itu artinya cari mati-ssu~ Dan kami takkan segan-segan untuk menyingkirkan mereka lho~"
BUK!
"Kuro-chin... Aku sungguh ingin menghancurkanmu…"
BLAM!
"Gadis kuper tak tahu diri sepertimu, mau coba-coba meroket melebihi kami, hah? Kau belum tahu kami ini siapa, nanodayo?"
GREP
"AH! A-AOMINE-SAN! S-SAKIT!"
"Heh, Murasaki, pegangi sampah ini! Kise, kau tarik rambutnya yang sana!"
"Dengan senang hati, ssu~"
"Daichi, memang sejak kapan kau yang memerintah di sini?"
"Sudahlah, Midori, habisnya Akashi tak ada sih. Sayang dong kalau kita menyia-nyiakan samsak tinju mungil ini. Lihat tuh, wajahnya mengiba untuk ditonjok."
DUK!
"AH!"
"Hmm? Mido-chin, Aka-chin ke mana?"
"Setelah mengurus beberapa laporan bulanan, dia akan kemari, nanodayo."
"Waaah, Akashicchi lama~ Kalau kelamaan nanti kasihan Kurokocchi-ssu~ Tanganku rasanya sudah gatal ingin menampar monyet ini-ssu~"
"Tenang saja, Ryuna, aku sudah di sini, kok."
"Ah, Aka-chin."
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
by Rheyna Rosevelt
OCs © Rheyna Rosevelt
I own nothing but this fanfiction
Thus, I don't make any profit within this story
Warning:
This story contains:
Alternate Universe | Violence | Genderbend characters | Harem | Lots of drama | Character abuse | Out-Of-Character
.
.
[Chapter 1]
.
.:xxx:.
Mata beriris biru muda itu terbuka.
Kuroko Tetsuna berkedip beberapa kali, getarannya membuat dua bulir air bening menetes dari sudut matanya. Sinar matahari menyorot masuk, menembus jendela kamar yang berhias tirai putih berpola. Suara denting perkakas dapur terdengar dari lantai bawah, ibunya pasti sedang memasak untuk sarapan.
Hari ini adalah tonggak penanda dua bulan lamanya ia bersekolah di SMA Teiko. Tetsuna tahu, sebagai siswi sekolah elit prestisius, harusnya dengan semangat tinggi ia segera bangkit dan menyongsong hari. Masuk di SMA Teiko tidaklah mudah, kecuali kau memiliki bakat khusus di bidang akademis, olahraga, sains, atau ekstrakurikuler lain. Ia harusnya bersyukur, talenta alami olahraga dan rekomendasi kepala sekolah memudahkannya untuk menembus tes masuk SMA bergengsi itu.
Namun, lepas dari semua itu, ada satu hal yang cukup mengganggu pikiran Tetsuna. Gadis berambut sebahu itu berguling, benaknya sibuk memikirkan mimpinya tadi.
Murasakibara-san, Kise-san, Midorima-san, Aomine-san, Akashi-san…
SMP Teiko. Mutiara basket putri. Kuper. Rival. Ancaman. Dihancurkan. Peringatan. Menyesal…
Ia tidak mau mengingat masa lalu itu lagi.
Ia tidak mau mengulanginya lagi.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, sementara dua baris gigi putih menggigit bibir. Sebuah isakan terselip keluar dari bibirnya, dan Tetsuna lekas membenamkan wajah pada bantal yang sekuat tenaga ia peluk.
Ia telah jera.
"Tidak…" Tetsuna mengangkat kepala dan mengusap lembut sudut matanya. "Semua sudah selesai… Aku tidak apa-apa… Mereka tidak bersamaku lagi…"
Tetsuna bangun dan duduk di tepi ranjang, kemudian memeluk dirinya sendiri yang mulai menggigil ketakutan.
"Aku… aman…"
Bulir air bening itu tak berhenti mengalir, justru makin deras.
"Aku aman… kan?"
Tetsuna menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri.
"Sialan, kau! Aku menyesal berteman denganmu!"
Rasa panas bekas tamparan gadis berambut pirang yang terjadi beberapa tahun lalu kini membara kembali.
"Keluar dari sini, Kuroko! Kami tak butuh pengkhianat macam dirimu!"
Isakannya makin keras. Tetsuna berkali-kali menyempatkan diri menarik napas di antara tangisnya, sedikit kesulitan oleh sesenggukan yang makin menjadi. Ia menarik lutut dan memeluknya, membasahi celana pendek yang kenakan dengan air mata.
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Kuro-chan? Aku masuk, ya."
Pintu terbuka bersamaan dengan turunnya satu butir air mata di pipi Tetsuna. Cepat-cepat dihapusnya air mata itu sebelum terlihat.
"T-Takao-kun?" panggilnya, menatap sosok pemuda berseragam lengkap yang memasuki kamarnya.
Takao Kazunari balas menatapnya kaget. Penerangan di kamar sahabatnya memang terlalu gelap untuk dapat melihat sekitar, namun Kazunari dan mata rajawalinya berhasil mengamati kondisi Tetsuna yang acak-acakan. Dan mata bengkak serta pipinya yang mengilap oleh air mata.
"H-hei! K-kau menangis, Kuro-chan?" Dengan gesit ia melintasi ruangan dan duduk di sebelah Tetsuna. "A-ada apa? Apa yang terjadi?"
Tetsuna menampik pelan tangan yang mencoba mengelus surai biru mudanya. "Tidak, Takao-kun. Aku tidak apa-apa." Ia menundukkan kepala. "Kau saja yang terlalu berlebihan."
"Tentu saja tidak!" seru Kazunari, wajahnya menyiratkan kekhawatiran. "Heiii, Kuro-chan! Kalau kau punya masalah, kau bisa curhat padaku, kok! Aku selalu terbuka untukmu!"
Pipi gadis itu merona sedikit. Tanpa tenaga, ia mendorong Kazunari minggir dari tempat tidurnya. "Aku tahu, Takao-kun. Tapi pertama-tama, bagaimana bisa kau masuk ke sini?"
"Tentu saja ibumu yang menyuruhku masuk, Kuro-chan," Kazunari menelengkan kepala, sama sekali tak terpengaruh oleh dorongan Tetsuna. "Ia khawatir, habisnya kau tak kunjung turun juga. Padahal ini sudah jam setengah tujuh."
"Takao-kun!" seru Tetsuna kaget. "S-setengah tujuh? Kita bisa terlambat!"
"Tepat sekali." Kazunari segera bangkit dan menarik tangan gadis itu, lantas mendorongnya masuk ke kamar mandi. "Makanya, cepat mandi dan ganti baju!" Ia melempar set seragam SMA Teikou yang tergantung ke arah Tetsuna. "Dan aku akan menunggumu di depan! Sepedaku sudah siap dikebut ke sekolah!"
.:xxx:.
"Ibu, aku berangkat."
"Hati-hati di jalan, Sayang," Kuroko Kyouka mengecup pipi putrinya. "Dan, Takao-kun, ini roti bakarmu!"
"Terima kasih, Bibi!" Kazunari menyambar roti bakar itu. "Ayo, Putri Tidur, kita berangkat~!"
Gadis berambut biru muda itu merengut, tangannya merapikan rok hitamnya. "Aku bukan putri tidur, Takao-kun. Dan lagi, lihat, dasimu acak-acakan." Tetsuna maju beberapa langkah untuk memperbaiki dasi strip hitam yang terikat pada leher Kazunari. "Heran, bagaimana bisa dasimu tidak rapi begini? Katanya kau punya mata elang?"
"Elang tidak pakai dasi~ Dan lagi, aku ini rajawali!" Tertawa, pemuda itu meraih pergelangan tangan Tetsuna dan menyeretnya keluar. "Kami berangkat, Bibi~!"
Kyouka tersenyum kecil melihat keduanya.
Sepeda milik Kazunari terparkir tepat di depan pagar rumahnya, sepeda hitam yang persis sama dengan yang biasa pemuda itu pakai saat masih di SMP Teiko dulu. Hanya saja, kini tak ada gerobak kayu membuntut di belakangnya.
"Ayo naik, Kuro-chan!"
"Naik?" Tetsuna mengangkat sebelah alis, bingung. "Di mana, Takao-kun? Sadelnya hanya satu. Di belakang, pula."
Kazunari tertawa. "Duduk saja di sadelnya."
"Tapi, nanti Takao-kun duduk di mana?"
"Aku bisa mengayuh sambil berdiri, kok~" pemuda itu menyeringai. "Ayo, Kuro-chan! Keburu telat!"
Gadis itu menurut. Beberapa saat kemudian, mereka telah siap. Tetsuna duduk di sadel belakang, tangannya memegangi kemeja Kazunari yang mengayuh semangat.
"Takao-kun," panggil Tetsuna. "Ini sepedamu yang ada gerobaknya itu, kan?"
Kazunari menoleh sedikit. "Eh? Iya, ini sepedaku yang itu."
"Kenapa dilepas gerobaknya?"
"Ng..." Kazunari berhenti sejenak. "Karena gerobaknya sekarang nyaris tak berguna lagi, Kuro-chan. Orang yang dulu biasa menumpang di gerobak itu sekarang tidak mau lagi kubonceng..."
"Oh."
Kuroko Tetsuna tahu betul siapa yang dimaksud secara tersirat oleh Kazunari. Karenanya, ia memilih untuk menghentikan pembicaraan.
"Menjijikkan, perbintangan memang mengatakan Aquarius adalah zodiak yang buruk bersama Cancer, tapi tak kusangka kau akan berbuat sejauh itu."
Kazunari dan Tetsuna juga terluka oleh orang yang sama.
.:xxx:.
"Uwaaah!"
Dahi Tetsuna terantuk punggung pemuda di depannya ketika Kazunari berhenti mendadak, mendaratkan kakinya kembali di atas tanah.
"Takao-kun?"
"Maaf, Kuro-chan." Kazunari meringis meminta maaf pada Tetsuna yang mengusap dahinya. "Habis, tiba-tiba ada segerombolan gadis menyeberang... Oh, kerumunan apa itu?"
"Kerumunan apa, Takao-kun?" Tetsuna berusaha mengintip dari balik bahu tegap Kazunari.
"Itu." Pemuda bersurai hitam itu mengayuh sepedanya pelan, mendeongak untuk melihat sang pusat perhatian di balik kerumunan siswa-siswi dan bahkan beberapa wartawan. "Eeeh, ternyata Kise-chan, toh. Pantas saja ramai~"
Degup jantung Kuroko Tetsuna berhenti sejenak atas penyebutan nama itu. Kise.
Kise Ryuna, adalah salah satu anggota Generation of Miracles yang paling akhir bergabung. Rambutnya berwarna pirang sepanjang dada, dan biasa dimodel mengikuti style terkini. Kise, selain adalah seorang pemain basket berkemampuan khusus meniru gerakan dan teknik pemain lain, juga bekerja sebagai model beberapa majalah terkenal. Sikapnya yang kelewat riang dan sering memanggil orang-orang terdekatnya dengan embel-embel "-cchi", menambah drastis image manisnya.
"Terakhir aku mendengar berita tentangnya, Kise-san ditawari menjadi cover girl majalah "Zunon Girl", lho!"
Kazunari mengerjapkan mata, merespon pada gosipan dua orang siswi yang kebetulan ia lewati. "Haaah?! Serius? Cover girl majalah "Zunon"?!"
Tetsuna juga ikut terkejut mendengarnya. "Zunon" adalah majalah fashion remaja yang asalnya dari Amerika, yang biasa dihiasi potret beberapa model remaja internasional. Dapat menjadi cover girl majalah tersebut, apalagi dengan usia sebelia Kise, pastilah sebuah pencapaian yang luar biasa. Sepanjang yang Tetsuna tahu, jumlah model berkebangsaan Jepang yang telah membintangi majalah itu masih bisa dihitung dengan satu tangan.
"Dasar Kurokocchi cewek rendahan!"
"Kuro-chan?" Kazunari berhenti lagi untuk mengibaskan tangan di depan muka Tetsuna. "Kok melamun? Sakit?"
Tetsuna berkedip. "Eh, t-tidak, kok, Takao-kun."
Kazunari mengangkat alis, agak tidak mempercayainya. Tetapi begitu melihat senyum tipis sahabatnya, ia balas menyeringai dan kembali mengayuh sepedanya. "Baguslah! Ayo kita lanjutkan perjalanan~"
Tetsuna hanya menghela napas.
.:xxx:.
"Takao-kun, terima kasih telah memboncengku ke sekolah."
Ucap Tetsuna lembut seraya berjalan di sisi Kazunari yang menuntun sepeda menuju area parkir siswa.
"Bukan masalah, Kuro-chan," pemuda itu menyahut riang seraya memarkir sepedanya. "Nah, sekarang, mari kita ke—"
Kazunari terhenti. Kepalanya sedikit menengadah, mengendus udara.
"Baunya... sedap..."
"Eh?" Tetsuna terdiam sejenak. "Kau benar, Takao-kun. Bau apa, ya?"
"Asalnya dari dapur sekolah," Kazunari menunjuk pada sebuah bangunan persegi bercat putih tepat di samping area parkir siswa. "Ayo kita lihat, Kuro-chan!"
"Ah, Takao-kun, t-tunggu dulu-!"
Namun Kazunari sudah keburu menyeretnya lagi ke arah gedung itu. Lautan para siswi SMA Teiko lagi-lagi terhampar, diiringi dengan pekikan dan suara percakapan mereka yang antusias.
Tetsuna berjinjit sedikit. Dengan tinggi tubuhnya yang tak seberapa, sulit sekali melihat bagian depan kelas. Di belakangnya, Kazunari tertawa geli.
"Kuro-chan nggak kelihatan, ya?" ujarnya setengah mengejek seraya berjongkok di depan Tetsuna. "Sini, kubantu."
"Takao-kun?"
"Naik."
"Eh? Ta-tapi, aku berat…"
"Tidak apa-apa, Kuro-chan tidak berat, kok~"
Menggigit bibir, Tetsuna menunduk dan mengalungkan tangannya pada leher Kazunari. Pemuda itu lalu berdiri seraya membelitkan tangannya di bawah lutut gadis itu.
"Waah, rasanya seperti mengangkat karung kapas!"
"Apakah Takao-kun bermaksud mengejekku seperti karung?" tanya Tetsuna penuh kecurigaan.
"Bukan, Kuro-chan~ Maksudku, kau itu ringan sekali!"
Mendengus kecil, Tetsuna lalu memfokuskan pandangannya ke depan. Sebuah konter panjang terpampang berikut satu set peralatan memasak yang berjejer rapi di atasnya. Seorang pemuda –kemungkinan besar senpai mereka- mengangkat sebuah piring berisi pancake berhias madu, memamerkannya pada para penonton.
"Dan inilah, pancake madu Murasakibara Atsumi! Ayo, yang ingin mencicipi pancake super lezat ini, silahkan maju ke depan!"
"Klub tata boga, ya?" Kazunari menelengkan kepala mendengar seruan itu. Untunglah mereka berdiri paling belakang, karena para siswi di depan mereka seketika berbondong-bondong saling mendorong hanya untuk mendapat posisi paling depan dan mencicipi hidangan itu. "Ketua klub mereka, Fuyui, tampaknya bersemangat sekali setelah berhasil mengajak Mura-chan masuk klubnya."
"Tentu saja," gadis itu mengangguk. Matanya terpancang pada sosok siswi berambut ungu panjang yang duduk dengan ekspresi malas di sebelah si ketua klub. "Atsumi-chan memang tak patut disepelekan dalam bidang cita rasa. Dia punya peluang besar untuk menjadi koki terkenal… dan posisi center pada tim basket putri. Tinggi badannya, jelas tak ada yang menyaingi."
"Kuro-chin memang kejam. Kau bersahabat dengan kami sebagai modus untuk menjatuhkan kami, kan?"
Tetsuna menggigit bibir.
Kazunari hanya tersenyum mendengar penuturan sahabatnya. Memang benar. Walau tampaknya terlalu santai, tetapi Murasakibara Atsumi bukan tipe pemain basket yang patut diremehkan. Ia memang tampaknya selalu memancarkan aura malas, namun sekali dia masuk dalam mode serius, tak ada yang dapat menghalanginya. Tim basket putri Teiko beruntung mendapatkan pemain sepertinya, yang selain dapat diandalkan di atas lapangan, juga bersedia membuatkan sedikit cemilan untuk rekan-rekannya (Ah, itupun kalau sudah disogok dengan strawberry shortcake favoritnya).
Beberapa menit berlalu, namun Tetsuna tak juga bergerak dalam gendongannya. Pemuda dengan mata setajam rajawali itu merasakan Tetsuna nampak makin nyaman dalam gendongannya, membuatnya makin tak tahan untuk tak menggodanya.
"Kuro-chan, betah sekali aku gendong~"
Wajah Tetsuna memerah. "Ma-maaf. Turunkan aku, Takao-kun."
"Eeh?" Kazunari mengedip. "Kalau mau berlama-lama lagi, silahkan saja, kok~"
Tetsuna tak sampai hati untuk menggetok keras-keras kepala bersurai hitam itu.
.:xxx:.
"Tatsuya, sampai ketemu lagi di jam istirahat?"
Pemuda dengan poni kelewat panjang itu menoleh.
"Baiklah, Taiga," ia tersenyum. "Semoga beruntung dengan sesi perkenalan di kelasmu, ya? Kudengar dari Atsumi, kebanyakan siswi di Jepang suka ber-fangirling dengan tubuh tegap berotot sepertimu."
"Yah," pemuda satunya, yang berambut bias merah-hitam, memalingkan muka. "Atau mungkin, mereka lebih suka memekik heboh melihat sosok manusia ikemen sepertimu."
Tatsuya tertawa kecil.
.
.
[To be continued]
.
.
Next Chapter!
"Saa~ Kuro-chan, lihat, nih! Artikel tentang Mido-chan dan Aka-chan ada di mading sekolah~"
"Takao-kun… Kau tak apa, kan?
"Hahaha, aku tidak apa-apa, kok~ Hanya kangen sedikit, tapi mana mungkin 'dia' mau menemuiku, kan?"
