100 : 50 (Sequel)

Title : One day (Monochrome Kiss)

Author : Lee Se11y4

Genre : Romance , Comedy etc

Leght : Oneshot

Rating : M

Cast : Akashi Seijuuro x Kuroko Tetsuya

Other Cast : Kiseki No Sedai ( Aomine, Kise, Midorima, Muraskibara)


Klub Basket SMP Teikou. Tim yang sangat kuat dengan lebih dari seratus anggota dan juara turnamen Nasional tiga kali berturut-turut. Dalam catatan cemerlang tersebut ada lima orang pemain berbakat yang kehebatanya hanya bisa di temukan setiap sepuluh tahun sekali yang sering di sebut sebagai Kiseki no Sedai, tapi ada isu lain tentang Kiseki no Sedai. Tidak di ketahui oleh siapapun, tidak ada catatan permainan, ada satu anggota lain yang di akui oleh lima pemain berbakat tersebut. Anggota bayangan keenam.

Malam yang indah saat Kuroko harus menjaga dirinya agar bisa menghangatkan orang yang dia cintai saat ini. Burung yang berkicau membangunkan pemilik mata biru yang lembut itu, perlahan retina matanya beradaptasi dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam jendela kamar Akashi yang tidak di tutup sejak tadi malam. Kuroko menghela nafas lelah dan melirik laki-laki yang membahagiakanya tadi malam masih tertidur lelap. Kuroko tersenyum dan membiarkan tangan laki-laki bersurai merah itu berada di tubuhnya. Kuroko mengubah posisi tidurnya lalu menghadap kearah Akashi, dia memandang setiap inci wajah Akashi yang tepat di depanya.

"Aku tidak menyangka akan mencintaimu, Akashi-kun" gumam Kuroko agar Akashi tidak terbangun. Kuroko perlahan membela wajah Akashi lalu mendekatkan wajahnya perlahan, bibirnya mendekati bibir tipis Akashi dan membiarkan ciuman lembut itu beberapa detik menempel. Tapi, sungguh hal yang tidak di duga Akashi langsung menarik tengkuk Kuroko dan memperdalam ciuman mereka, sontak Kuroko terkejut dengan balasan kasar Akashi. Kuroko meremas rambut Akashi saat ciuman itu mulai merasa lebh dalam dari dugaan Kuroko.

"Ohayo Tetsuya" sapa Akashi dengan senyuman manisnya sambil melepas ciuman pagi mereka.

"Akashi-kun curang, aku kira masih tidur" protes Kuroko sebal sambil terbangun dengan tubuh tanpa busana.

"Aku memang masih tidur, kau membangunkanku dengan ciumanmu" jelas Akashi yang masih membaringkan tubuhnya.

"Benarkah? Gomen, aku kira Akashi-kun tidak akan merasakanya, itukan hanya ciuman biasa" jawab Kuroko yang merasa malu.

"Ciumanmu tidak ada yang biasa bagiku, jadi secepat apapun kau menciumku akan terasa berbeda" lagi-lagi Akashi membuat wajah Kuroko semakin memerah malu.

"Bagunlah, ini sudah pagi" Kuroko turun dari tempat tidur Akashi yang cukup besar hanya untuk dua orang itu tidur.

"Hari ini kan libur, jadi walaupun aku bangun siang tidak akan apa-apa" Akashi kembali menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut. Kuroko yang selesai memakai baju dan celana mendekati Akashi dan duduk di sampingnya.

"Tapi, Akashi-kun harus mandi dan sarapankan? Jika terus tidur kapan mandi dan sarapanya?" Kuroko mencoba melepaskan selimut dari tubuh Akashi, tapi inilah Akashi yang selalu agresif di depan Kuroko, dia menarik tangan Kuroko hingga Kuroko kembali merebahkan tubuhnya di samping Akashi.

"Tetaplah seperti ini sebentar" ujar Akashi sambil memeluk Kuroko dan menutup matanya.

"Akashi-kun..."

"Diamlah"

"Baiklah, jangan terlalu lama" Akashi semakin menarik tubuh Kuroko kearah pelukanya sedangkan Kuroko tenggelam di dalam dada Akashi dengan wajah yang begitu menikmati pelukan hangat sang kekasih.

"Aku jadi ingat saat Akashi-kun menyatakan cinta padaku"

"Kapan? Aku tidak menyatakan cinta padamu, kau yang menyatakan cinta padaku"

"Kenapa aku? Akashi-kun duluan yang bilang"

"Ingatlah lagi apa yang aku katakan, aku tidak menyatakan cinta" Kuroko terdiam dan kembali mengingat apa yang Akashi lakukan saat pertama kali terjalin hubungan ini.

.

.

Flashback

.

.

"Yosha! Kita menang!"Teriak anggota Tim basket Teikou saat mendapatkan kejuaraan Nasional yang ke 2 kalinya antar SMP. Semua wajah terlihat bahagia dan juga senang. Mereka bahkan saling berpelukan satu sama lain di lapangan dengan sorak-sorai penonton yang luar biasa.

"Momocchi, apa benar tidak ikut?" tanya Kise saat di luar gedung dan ingin merayakan kemenangan mereka dengan makan bersama.

"Hm, Gomen mina-san aku tidak bisa ikut, aku di telpon harus segera pulang" jawab Momoi

"Memang ada apa?" tanya Aomine.

"Tidak ada apa-apa, karena mereka melihat tim kita menang di TV jadi kami sekeluarga akan merayakan bersama" Momoi tersenyum gembira di depan mereka.

"Sou ka, baiklah kalau begitu kita pergi dulu Momocchi"

"Ok" Momoi tersenyum saat melihat Kisek no Sedai dan Kuroko berjalan bersama merayakan kemenangan mereka.

"Sepi, sejak Nijimura-san lulus dan pindah ke Amerika tidak ada yang meramaikan tim" Murasakibara angkat bicara sambil memakan snack yang dari tadi dia bawa.

"Iya, tapi ini pilihan terbaik. Aku dengar Nijimura-san keluar negeri bukan hanya karena ingin melanjutkan sekolah tapi untuk mengajak ayahnya berobat" tambah Midorima memperjelas sambil memegang sebuah perahu kecil dari kayu sebagai Lucky item hari ini.

"Hm, begitu. Tapi jika di pikir-pikir apa hanya kita ber enam yang akan merayakanya?" Kise dan yang lain melihat ke belakang tapi, apa yang Kise katakan itu benar anggota yang lain tidak ikut merayakan bersama Kiseki no Sedai dan Kuroko. Berbagai alasan mereka dengar tapi tidak menyurutkan keinginan mereka untuk merayakan dan makan bersama.

"Biarkan saja, yang penting hari ini makan dan makan aku lapar" keluh Aomine sambil memegangi perutnya.

"Mine-Chin harusnya aku yang mengatakan itu" sanggah Murasakibara.

"Kita akan makan di mana?" tanya Kuroko yang dari tadi tidak bicara, Kise yang berjalan bersama Murasakibara di depan Kuroko dan Akashi menoleh sambil berpikir.

"Aku juga tidak tau" jawab Kise.

"Bagaimana kalau yakiniku saja, atau kue manju. Aku ingin makan itu" celetuk Aomine yang ada di depan Kise bersama Midorima.

"Aku terserah kalian" Midorima pasrah.

"Barbeqque saja" usul Murasakibara.

"Akashicchi, kau ingin kemana?" tanya Kise menoleh kearah Akashi yang sama sekali tidak mengeluarkan komentarnya.

"Terserah kalian"

"Bagaimana jika ke toko kue biasanya saja, aku suka Vanilla Shake di sana" Kuroko mengeluarkan pendapatnya.

"Aku setuju dengan Kuroko, tidak perlu bingung mencari tempat makan" Midorima setuju usul Kuroko.

"Baiklah yang penting makan" Aomine juga setuju.

"Padahal aku ingin makan daging hari ini" dan Murasakibara terpaksa ikut setuju.

Perjalanan yang sepi, mereka masing-masing tidak bicara dan juga saling mengobrol. Bukanya canggung tapi mereka tidak tau ingin membahas dengan topik apa, sampai sebuah kalimat mengejutkan mereka.

"Tetsuya, ayo kita jadian" seru Akashi tiba-tiba.

HEH?

Hening.

Kalimat Akashi menyita waktu orang yang mendengarnya, Kise, Muraskibara, Aomine dan Midorima menghentikan langkah dan melihat kearah Akashi dan Kuroko yang berjalan di belakang bersama. Mereka hanya memperjelas kalimat tiba-tiba Akashi, bukan hanya mereka berempat yang kaget bahkan Kuroko menatap Akashi dengan mata yang melebar luar biasa.

"Kenapa kalian melihatiku seperti itu?" tanya Akashi menatap tajam kearah empat temanya.

"Aku tadi mendengar Akashicchi ingin mengajak Kurokocchi pacaran"

"Kisechin juga mendengarnya?" tanya Muraskibara memastikan

"Aku kira hanya aku yang mendengar"tambah Aomine bingung.

"Intinya kita berempat mendengar kalimat mengejutkan Akashi" Midorima menarik kesimpulan.

"Benar, kenapa? ada yang salah?" tanya Akashi datar.

"Tidak" jawab ke empatnya serentak lalu kembali fokus berjalan seakan pura-pura tidak mendengar apapun, Akashi juga berjalan kembali di belakang mereka, meninggalkan Kuroko yang mematung heran, terkejut, bingung setengah mati.

"Apa yang Akashi-kun katakan tadi?"

Restoran, 4 : 20 PM

Di meja yang cukup lebar dan panjang kini hanya ada sisa makanan dan piring kosong yang terhidangkan. Semua anggota Kiseki no Sedai tampak kenyang dengan makanan yang baru saja mengisi perut mereka. Tapi, tidak berlaku dengan Murasakibara, selesai makan dia malah memesan hidangan penutup dan kembali mengisi perutnya.

"Murasakibara, apa isi perutmu?" tanya Aomine yang melihat makanan Murasakibara.

"Makanan" jawab singkat Mursakibara sambil melanjutkan makan.

"Makanan ini tidak di hitung, bayar sendiri" ujar Midorima yang saat ini melihat berapa bill yang harus dia bayar.

"Mido-chin ini hanya sedikit, tidak akan mahal jika kau membayarnya juga" Murasakibara mulai merajuk.

"Tidak" jawab tegas Midorima.

"Mido-chin, pelit"

"Aku yang membayarkan makananmu masih saja bilang aku pelit, apa aku perlu mengeluarkan daftar makananmu dari isi dompetku?" Midorima mulai naik pitam.

"Tidak"

"Kalau begitu, tidak perlu protes"

"Midorimacchi, banyak sekali uang yang kau bawa"

"Ini bukan uangku saja, Akashi juga ikut andil dalam pembayaran makanan kalian" Midorima berdiri dan membayar makanan mereka menuju kasir.

"Aka-chin, bayarin ini juga ya"

"Murasakibaracchi, tidak mau menyerah ya"

"Apapun dia akan lakukan untuk makanan" ejek Aomine.

"Baiklah"

HAH?

Lagi-lagi terkejut. Hening.

"Hoy, Akashi, kau serius membayarinya?" Aomine meyakinkan kapten basketnya.

"Iya"

"Akashi-kun apa uangmu tidak habis?" tanya Kuroko setelah meminum Vanilla Shake kesukaanya.

"Tidak, aku membawa lebih" Midorima barus aja kembali dari membayar makanan "Shintarou, bayarkan makanan Atsushi" lanjut Akashi pada Midorima. Midorima terkejut.

"Kau yakin Akashi?"

"Iya, sisanya masih adakan? Bayarkan saja lalu kita pulang" Midorima yang tidak bisa bilang apa-apa hanya diam dan kembali membayar makanan Murasakibara.

Mereka akhirnya keluar dari restoran, Murasakibara terlihat begitu puas dengan makanan yang dia sembunyikan di dalam perut, wajahnya berbinar sambil mengelus perutnya.

"Baiklah,sampai di sini saja aku pulang kearah sana" Aomine berpisah dengan yang lain.

"Aku juga, ini sudah sore"

"Midorimacchi, aku ikut denganmu"

"Aka-chin, terimakasih untuk makananya. Aku akan pulang duluan" Murasakibara dengan menikmati sisa makananya berjalan meninggalkan Kuroko dan Akashi yang tinggal berdua. Kuroko melihat Akashi yang masih diam di tempat sedangkan Kuroko bingung harus bicara apa pada orang yang saat ini bersamanya.

"Mengejutkan sekali Akashicchi bilang seperti itu pada Kurokocchi" Kise yang berjalan bersama Midorima mengeluarkan isi kepalanya.

"Biarkan saja, itu terserah Akashi" respon Midorima.

"Tapi, apa tidak apa-apa bilang begitu saja tanpa mendengar jawaban Kurokocchi?"

"Kise?"

"Hm?"

"Kau berisik sekali! Kenapa kau yang bingung? Harusnya Kuroko yang bingung mendapat pernyataan cinta Akashi?"

"Itu bukan pernyataan cinta, Midorimacchi"

"Memang kedengaranya tidak, tapi jika ada orang yang mengatakan itu bukankah itu sama saja menyatakan cinta?"

"Tapi, tadi bukan menyatakan cinta!"

"Terserah! Jika kau tidak diam, aku akan mengusirmu dari sini"

"Mana bisa? Ini tempat umum"

"Aku bisa melakukan apapun"

"Tidak, Midorimacchi tidak bisa makan seperti Murasakibaracchi"

"Diam kau!"

"Midorimacchi juga diam"

"Kau berisik Kise!"

"Midorimacchi juga"

Perjalanan yang panjang dan sangat bising untuk Midorima, Kise yang terus melanjutkan kalimatnya membuat Midorima mengharuskan dirinya untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan konyol Kise.

Sedangkan Kuroko dan Akashi terlihat berjalan bersama menuju halte bus. Kuroko yang tidak tau harus berbicara apa hanya diam dan berjalan di samping Akashi.

"Apa kau memikirkan yang tadi aku katakan?" Akashi membuka mulutnya.

"Hai" jawab Kuroko singkat.

"Lalu? Bagaimana?"

"Baiklah, Akashi-kun" jawaban Kuroko membuat Akashi berhenti lalu dia berjalan dan menghadap Kuroko, Kuroko heran, dia melihat kearah Akashi dengan pandangan mata yang sangat kebingungan.

"Baiklah? Muda sekali kau menjawabnya?"

"Akashi-kun juga muda sekali mengataknya"

"Jika aku tidak punya perasaan padamu aku tidak akan bilang di depan semua anggota Kiseki no Sedai" pernyataan Akashi membuat Kuroko melebarkan matanya penuh. Perasaan Akashi pada Kuroko? Perasaan apa yang Akashi maksudkan? Cinta? " Jangan memandangiku seperti itu, Tetsuya" lanjut Akashi saat mendapat tatapan tajam Kuroko.

"Gomen, Akashi-kun aku hanya tidak mengerti"

"Jangan harap aku mengatakan secara jelas padamu, Tetsuya"

"Tidak, aku tidak berharap hal itu. Aku hanya tidak mengerti kenapa secepat ini?"

"Cepat?"

"Hm, secepat ini perasaanku terbalas, walaupun aku tidak mengatakanya pada Akashi-kun" kali ini Akashi yang terkejut, jadi perasaan yang sama tapi tidak bisa di lakukan bersama, bahkan memendamnya bersama. Kuroko menundukan kepalanya dengan wajah yang memerah karena malu.

"Kita ke toko buku saja" Akashi mencairkan suasana.

"Ha?"

"Kita ke toko buku"

"Baiklah" Kuroko dan Akashi mengganti jalur, mereka memutuskan untuk berjalan ke toko buku yang ada di pusat kota. Tapi, saat mereka asyik berjalan langit tiba-tiba mendung. Kuroko dan Akashi berhenti tepat di jembatan, di bawah mereka air sungai yang sangat jernih sampai dasar air pun terlihat dari atas.

"Sepertinya akan hujan" tebak Akashi.

"Hm, ini musim dingin ketika hujan aku berharap akan berganti dengan salju" Kuroko menatap langit sambil tersenyum. Tanpa mereka sadari hujan mulai turun dan deras seketika mereka bingung akan berteduh di mana sampai Akashi mengandengan tangan Kuroko dan turun ke tepi sungai tepat di bawah jembatan yang mereka lalui tadi.

"Kenapa langsung hujan? Aku tidak bawa payung, Akashi-kun juga tidak membawa?" tanya Kuroko melihat Akashi melepas jas seragamnya dan mengibaskan karena terkena air hujan.

"Tidak" jawab Akashi.

"Lalu bagaimana ini?"

"Terpaksa kita harus menunggu, buka jas seragammu agar tidak masuk angin" Kuroko meletakan tasnya lalu melepas jas seragamnya. Akashi duduk sambil meletakan jasnya di atas tas. Kuroko yang selesai mengeringkan jasnya berjalan kearah Akashi lalu duduk di sampingnya.

"Akashi-kun, boleh aku bertanya padamu?"

"Apa?"

"Sejak kapan, Akashi-kun..."

"Lebih lama dari yang kau kira"

"Ha?"

"Sejak, aku bertemu denganmu di tempat latihan bersama Aomine, aku memang saat ini mengangapmu aneh dan jauh dari kata teman. Tapi, aku mulai merasakan hal yang sulit aku pahami. Tapi aku tidak perlu menjelaskanya padamu" Kuroko terdiam lalu memalingkan wajahnya ke arah sungai yang di jatuhi air hujan itu.

Selama beberapa menit mereka hanya bisa diam, hanya ada suara angin dan juga air hujan yang jatuh ke sungai. Semakin deras dan juga deras, suasana semakin malam dan mencekam. Walaupun saat ini matahari belum sepenuhnya bersembunyi tapi tidak seterang saat mereka akan ke toko buku tadi.

"Hacchi!" Kuroko tiba-tiba bersin.

"Pakailah seragamu, mungkin sudah tidak basah" saran Akashi, Kuroko mengambil jasnya dan memakainya kembali.

"Masih dingin, tapi tidak apa-apa ini lebih baik"

"Tetsuya,..."

"Hai, Akashi-kun"

"Maafkan aku..."

"Untuk apa?"

"Untuk yang akan aku lakukan" Akashi mendekati Kuroko lalu mencium bibirnya, Kuroko terkejut, sangat terkejut matanya melebar dengan jantung yang siap melompat keluar. Tangan kanan Akashi memegang tangan Kuroko yang menyangga tubuhnya di tanah. Sedangkan tangan kiri Akashi memegang tengkuk Kuroko dan memperdalam ciuman meraka.

Hangat dan

Manis

Cukup lama Akashi mencium Kuroko dia melepas ciuman itu dan membiarkan wajah mereka masih berdekatan, Akashi dan Kuroko saling bertukar nafas dan hidung mereka, mata Akashi terbuka dan menatap wajah Kuroko sedangkan Kuroko hanya bisa menutup matanya.

"Tetsuya..."

"..."

"Aku tidak bisa menahanya lagi, aku memang bodoh dan tidak sehebat yang kau pikirkan tapi aku hanya manusia biasa yang akan takluk dalam cinta, ijinkan aku"

"Hm"

"Gomen Tetsuya" Akashi melepas kancing baju Kuroko dia menjatuhkan tubuh Kuroko di atas rerumputan yang tidak panjang itu, Kuroko membuka matanya dan melihat mata Akashi. Kini tubuh Kuroko terlihat jelas walaupun hanya membuka kancing bajunya saja, Akashi tersenyum dan membelai wajah Kuroko. Tangan Akashi turun ke arah tubuh Kuroko hingga Kuroko mendesah dan menutup matanya.

"Aka-shi-kun to-long hen...Hmmppp" Akashi menyambar bibir lembut Kuroko, Kuroko berulang kali mencoba melepas aat nafasnya mulai terasa hilang, tapi Akashi terus saja mencium Kuroko sedangkan tangan Akashi mulai menyentuh tubuh Kuroko membuat Kuroko memejamkan mata dengan air mata yang keluar begitu saja. Akashi yang merasa air mata Kuroko keluar menghentian ciuman panas itu. Kuroko terlihat sangat kewalahan walaupun hanya ciuman, Akashi tersenyum saat Kuroko membuka matanya.

"Gomen"

"Hm, daijoubu desu, Akashi-kun"

"Iie, tidak di sini, tubuhmu dingin walaupun aku sudah menghangatkanya, aku tidak ingin kau sakit." Akashi yang semula ada di atas Kuroko menghindar dan berjalan menuju tasnya. Kuroko duduk lalu mengkancingkan bajunya. "Pakai jasku" Akashi memberikan jasnya pada Kuroko.

"Akashi-kun bagaimana?"

"Aku tidak apa-apa, kau lebih membutuhkanya" Saat itulah, cinta di antara mereka mulai tumbuh perlahan dari yang semula hanya sebuah bibit kini menjadi pohon kecil di tepi sungai.

.

.

Flashback END

.

.

"Benar juga, Akashi-kun tidak menyatakan cinta padaku" ujar Kuroko yang masih berada di pelukan Akashi.

"Iya, memang"

"Tapi, hanya dalam sehari Akashi-kun berani melakukanya, kenapa?" tanya Kuroko memancing.

"Aku sudah bilang, aku menahan perasaanku cukup lama"

"Iya, tapi kenapa Akashi-kun tidak tanya kapan aku mulai menyukai, Akashi-kun?" Akashi melonggarkan pelukanya lalu melihat kearah Kuroko yang mendongak melihat Akashi.

"Sejak kapan?"

"Sejak, pertama kali aku tau kalau Akashi-kun, Aomine-kun, Murasakibara-kun dan Midorima-kun masuk grup satu," sungguh sebuah kejutan untuk Akashi, ini lebih lama dari dugaan Akashi. Bahkan saat mendengarnya Akashi tidak bisa mengatakan apapun, "ada apa?" tanya Kuroko heran.

"Itu terlalu lama"

"Hm, dan aku bisa menahanya, sampai akhirnya itu terjadi" Akashi menangkup pipi Kuroko lalu mencium bibir Kuroko sekilas.

"Apa hanya sebentar?"

"Apa kau ingin seperti tadi malam?"

"Hm, tapi kita mandi dulu"

"Tidak perlu"

"Ha? Kita mandi dulu lalu sarapan dan..." Ciuman lagi untuk Kuroko karena terlalu cerewet bagi Akashi, terpaksa harus di hentikan dengan cara lain. Ciuman.

"Akashi-kun, kita harus..."

"Kau berisik sekali" Akashi menarik tubuh Kuroko lalu membawanya di bawah selimut, entah apa yang terjadi pagi itu.

Memendam terlalu lama banyak orang yang bilang akan membuat sisi negatif pada seseorang entah itu dalam cinta,dendam, benci, ragu dan sebagainya. Tapi, cara negetif tersebut tergantung apa yang mereka pendam. Dalam cinta kata memendam itu adalah hal biasa tapi, akan jadi luar biasa ketika saatnya tiba. Hati-hatilah jika memendam sesuatu, jika saatnya tiba kau bahkan tidak atau apa yang akan kau lakukan selanjutnya.

END.


NB : Sebelum Puasa harus upload ini dulu :v