Bersama dengan Kazunari membuat Tetsuna bisa melupakan kegelisahannya.
Kazunari memang tipe orang periang dan lihai menceriakan sekelilingnya. Tetsuna sendiri sudah hampir lupa bahwa tadi pagi ia terbangun oleh sebuah mimpi buruk dengan berjalan beriringan menuju kelas mereka yang bersebelahan. Bersama si rajawali, pasti ada saja yang digunakan Kazunari untuk membuat Tetsuna, minimal, tersenyum kecil. Entah itu mengomentari sesuatu, menceritakan pengalamannya, melempar lelucon, bahkan menggoda Tetsuna. Walau yang terakhir itu hanya ia lakukan sesekali, karena Tetsuna dikenalnya mudah ngambek dan Kazunari juga sering kelepasan.
"Lalu, lalu!" Kazunari berjalan mundur, dan Tetsuna tertawa di balik telapak tangannya. "Begitu masuk dalam gym, muka Kasamatsu-senpai langsung berubah dari cemberut menjadi melotot dengan mulut membentuk 'o' besar dalam kecepatan kurang dari sedetik! Astaga, Kuro-chan, kalau kau melihat sendiri perubahan ekspresinya yang secepat kilat, kujamin kau takkan bisa mempertahankan topeng datarmu itu lebih lama dari Mayuzumi-senpai!"
"Masa?" Tetsuna masih tertawa. "Kasamatsu-senpai, kapten tim inti dua yang dikenal galak itu sampai menganga?"
"Tentu saja!" Kazunari berbalik, tangannya bersilang di belakang kepala. "Maksudku, sebenarnya itu normal, tapi lucu kalau Kasamatsu-senpai yang melakukannya! Siapa sih yang tidak copot jantungnya melihat dalaman sendiri dikibar-kibarkan bagai bendera di atas ring basket?"
"Kazunari-kun, Kazunari-kun," Tetsuna menarik napas dari tawanya, "Sudah, cukup. Sudah. Perutku sakit sekali dari tadi."
"Ehe, sama-sama~" Kazunari menyeringai lebar, lega melihat kerut sedih pada dahi sahabatnya telah menghilang. "Begitu dong, Kuro-chan. Senyum!"
Tetsuna menanggapinya dengan senyum sedih. "Tentu saja. Terima kasih, Takao-kun. Takao-kun selalu bisa mencerahkan suasana, segelap apapun itu."
"Kuro-chan terlalu memuji!"
Kazunari kembali menceritakan beberapa kejadian ketika timnya mengerjai pelatih putri mereka, Masako-sensei. Koridor masih begitu sepi, walau jarum jam sudah mendekati angka delapan. Mungkin para siswa bergerombol di bawah, Tetsuna mengamati, menonton demo beberapa ekskul yang memang diselenggarakan pagi ini hingga jam istirahat.
"Saa~ Kuro-chan, lihat, nih!"
Mendengar topik yang berbeda, gadis itu menoleh. Kazunari berhenti di depan papan mading utama di lantai dua, manik madunya terfokus pada sebuah artikel.
Tetapi Tetsuna tak terlalu memperhatikan. Justru yang menarik perhatiannya, adalah teks headline dengan foto siswi bersurai merah panjang di sampingnya.
Teiko Headline
Ketua Dewan Siswa Terpilih — Akashi Seira, 1-A
Tetsuna menurunkan fokusnya pada barisan teks yang terlalu kecil untuk dapat ia baca. Ia tak mampu menatap mata gadis dalam foto itu. Manik dwiwarnanya terlalu menakutkan, sekalipun ia hanya sebuah gambar. Manik yang telah lama menatapnya culas. Sekalipun hanya melalui kertas tebal.
Akashi Seira, Ketua Dewan Siswa Teiko, Kapten tim basket putri Teiko, Ketua klub shogi Teiko.
Dan satu paragraf lagi meruapakan daftar prestasinya. Darah Tetsuna berdesir membacanya. Seira, atau Akashi-san untuknya, memang adalah sosok yang absolut. Sosok yang mutlak perintah dan keinginannya. Tatapannya tajam, dan ucapannya mengalir kata demi kata dengan tenang, kolektif, namun mengandung rasa percaya diri yang tinggi, pula dengan tiap langkahnya yang seolah terukur dan tanpa satupun kesalahan.
"Artikel tentang Mido-chan dan Aka-chan ada di mading sekolah."
Kazunari berucap, dan Tetsuna terhenyak.
"Takao-kun… Kau tak apa-apa, kan?
Mendengar pertanyaan bernada khawatir dari Tetsuna, Kazunari menoleh padanya, menampilkan senyumnya yang terlebar.
"Hahaha, aku tidak apa-apa, kok. Hanya kangen sedikit, tapi mana mungkin 'dia' mau menemuiku, kan?"
Mungkin itulah senyum palsu pertama Kazunari pagi ini.
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki
Fanfiction:
by Rheyna Rosevelt
OCs by Rheyna Rosevelt
I own nothing but this fanfiction
Thus, I don't make any commercial profit within this story
Warning:
This story contains:
Alternate Universe - Genderbend characters | Violence | Drama | Character abuse | Out-Of-Character
.
.
[Chapter 2]
.
.:xxx:.
"Tetsu-chan dan Takao-kun kejam! Aku ditinggal!"
Momoi Satsuki menghambur dari dalam kelas 1-C, memeluk Tetsuna erat-erat seraya memasang muka kesal. Rambut merah mudanya tergerai, kali ini sudah sepanjang pinggang. Beberapa siswa yang berlalu-lalang sempat memperhatikan mereka sekali, sebelum kemudian mengalihkan pandangan dan fokus pada kesibukan masing-masing.
Kazunari tertawa salah tingkah dan menggaruk belakang kepalanya.
"Maaf Momo-chan, habis tadi ibumu bilang kau sudah berangkat."
"Mou," Satsuki melepas pelukannya begitu Tetsuna sudah menampakkan tanda-tanda terganggu. "Tapi Takao-kun sempat menjemput Tetsu-chan. Padahal ini hari pertama masuk setelah break seminggu, tapi kita tidak bisa berangkat bersama-sama."
"Maaf, maaf," Kazunari nyengir. "Kalau begitu, besok kita bertemu di depan mini market saja, bagaimana? Aku akan menyusul Kuro-chan dulu, lalu kita ke sekolah bersama-sama."
"Janji, ya!"
Antusiasme Satsuki membuat Kazunari tertawa. Ia melongok ke dalam kelasnya dan Satsuki, lalu nampak heran. "Kelas kita kosong sekali. Kemana yang lain?"
"Senseibilang ada sesuatu yang harus ia urus, sesuatu seperti murid transfer atau sejenisnya ke kelas kita. Yang lain begitu bersemangat hingga mengikuti Masako-sensei. Aku sendiri sebenarnya juga tertarik, tetapi menunggu Takao-kun dan Tetsu-chan rasanya lebih menyenangkan." Satsuki mengacak-acak rambut Tetsuna, membuat gadis itu cemberut.
"Momoi-chan, hentikan."
"Maaf, maaf! Habis rambut Tetsu-chan berantakan sekali. Sini, biar kurapikan!"
"Tidak usah," gadis mungil itu berkelit dari dekapan erat si surai persik. Satsuki tertawa dan berusaha menggaet Tetsuna lagi, membuat gadis itu berlari sembunyi di belakang Kazunari dan Satsuki mengejarnya. "Momoi-chan!"
"Aku tidak tahan melihat rambut Tetsu-chan!" Satsuki berhasil mencapainya dan menjitak lembut kepala Tetsuna. Ia mengaduh. "Rambut Tetsu-chan itu halus, tapi sepertinya Tetsu-chan tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Kurang modis!"
"Rambutku biarkan saja begitu, Momoi-chan. Jangan diapa-apakan."
"Hei, hei, sudah." Kazunari tertawa kecil, beberapa saat sebelum gerakan beberapa orang dari ujung koridor tertangkap lensa matanya. Seorang wanita berambut legam panjang, dan beberapa siswi yang ribut mengekor di belakangnya.
"Masa-sensei!" sebut Kazunari, dan Satsuki menoleh. "Dia sudah kembali. Sebaiknya kita masuk, Momo-chan, kalau tak mau dikejar pedang bambunya," lanjutnya diselingi tawa.
Satsuki melepas Tetsuna. "Takao-kun benar. Sepertinya murid pindahan itu akan diperkenalkan sebentar lagi. Kau mau ikut Tetsu-chan?"
Manik biru muda menatap merah muda bingung. "Tapi aku bukan anggota kelas 1-C."
"Tidak ada bedanya. Walau kau masuk kelas kami, yang akan menyadari kehadiranmu paling-paling hanya aku. Kuro-chan kan setipis angin—ow! Kuro-chan, sakit!"
"Balasan karena terlalu banyak meledekku hari ini." gadis itu menggembungkan pipi. Kazunari masih mengaduh seraya memegangi perutnya yang barusan ditusuk jemari. "Aku akan ke kelas saja. Sampai jumpa istirahat siang nanti, Momoi-chan, Takao-kun."
Satsuki melambaikan tangannya, "Baiklah! Dah!"
"Nanti kita makan bekal bersama, ya!"
Tersenyum kecil, Tetsuna berbalik, melangkahkan kakinya menuju kelas persis di sebelahnya. Ia melewati rombongan Masako-sensei dan sejumlah siswi itu, tetapi ia tak terlalu memperhatikan mereka, sama seperti mereka yang sama sekali tak menyadari keberadaannya.
"Kelas kita beruntung sekali mendapat anggota baru seperti dia!"
"Benar! Astaga, aku betah tinggal di kelas kalau begini caranya."
"Hei, kau lihat tidak caranya menjawab pertanyaanku tadi? Suaranya sedikit kasar, tapi benar-benar tipeku."
"Bermimpi saja kau kalau mau diperhatikan. Pasti banyak yang akan mengejar dia, terutama senpai-senpai."
"Bicara soal senpai, Tatsuya-senpai juga kelihatan—"
Tetsuna menggeser pintu kelas 1-B. Papan bercat putih itu berderit kecil mengikuti relnya, dan Tetsuna menyelip masuk tanpa suara. Ada lebih dari lima belas orang di dalam ruangan itu, tetapi tak ada satupun yang memperhatikan kehadiran si biru muda, walau bibir kecil itu menggumamkan "Selamat pagi," sebagai salam.
Kecuali satu orang, yang duduk di barisan paling depan, tengah menunduk berkonsentrasi dalam tebalnya ensiklopedia, dua ikat rambut hijau berkepang jatuh di bahu kiri-kanannya.
Tetsuna meletakkan tasnya beberapa kursi dari gadis itu. Ia melihat jemari berbalut perban itu membenarkan posisi kacamatanya, dan bola hijau zamrud bergulir menatapnya.
Tetsuna awas sekali terhadap pandangan itu. Helai biru mudanya bergerak lembut ketika ia menunduk sekilas ke arahnya, dan Midorima Shiina memalingkan mukanya kembali.
Seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
Bel berbunyi nyaring setelahnya, dan para remaja yang sebelumnya asyik berpencar berangsur kembali pada bangkunya masing-masing. Wali kelas mereka masuk tak lama kemudian, membawa setumpuk modul yang siap dibagikan untuk tes tengah semester. Shiina menutup bukunya, lalu mendorongnya ke sudut lain meja.
Tetsuna menghela napas.
Satu kelas dengan salah satu anggota Generation of Miracles, memang bukan hal yang mudah.
.:xxx:.
Riuhnya kelas 1-C teredam dengan kehadiran Masako-sensei. Wanita yang memang terkenal disiplin itu melangkah mantap menuju mejanya dan menjatuhkan setumpuk buku yang ia bawa ke atas meja.
Masako berbalik menghadap murid-muridnya, sebuah tongkat rotan di tangan. Memang sudah bukan zaman mengajar dengan kekerasan, ini hanya media disiplin tinggi yang suka ia terapkan.
Melihat dua puluh lima kepala berada di tempatnya masing-masing, Masako tersenyum kecil.
"Bagus." Ia menepukkan tangan. "Selamat pagi."
"Pagi!"
Gadis-gadis muda yang tadi mengikutinya ke kantor mengeluarkan suara berisik, kemungkinan bergosip mengenai bocah Amerika yang sebentar lagi akan menjadi tambahan di kelasnya. Masako melempar tatapan maut pada mereka, dan tak perlu waktu lama untuk melihat efeknya.
"Kita punya tamu baru hari ini. Ia datang jauh dari Amerika, dan akan tinggal di Jepang untuk sementara." Masako memberi isyarat ke arah pintu, mengabaikan bisik-bisik penasaran dan semangat yang mulai ramai. "Masuklah."
Seluruh pasang mata memusatkan perhatian ke arah papan kayu yang sebenarnya tak menarik, kalau bukan karena sosok tegap yang berdiri di baliknya. Menuruti perintah, pintu itu digeser, dan suara napas tertahan terdengar dari salah satu sudut kelas. Bahkan satu 'astaga' terpeleset keluar tanpa mengecilkan volume suara.
Sungguh atletis. Sungguh tampan. Apakah ini Adonis sendiri yangmausk kelas mereka?
Tinggi. Tegap. Gagah. Dan puji Tuhan telah menciptakan manusia dengan otot sekekar itu—
Oh, dan jangan lupakan rambut biasnya yang merah menyala. Persis kobaran semangat di balik manik krimsonnya.
Bagai penyihir, penampilannya tak membuat seorang pun berpaling. Kazunari sendiri sampai menutup mulut Satsuki yang terbuka lebar dengan tangannya, walau ia sendiri tak berkedip sedari tadi.
Seolah buta akan reaksi seisi kelas, pemuda itu tak memberi respon apa-apa. Ia melangkah masuk dan—
Duak!
"ADUH!"
Seisi kelas berkedip. Mulut terbuka makin lebar. Lalu memalingkan muka, menatap satu sama lain.
Pemuda itu membungkuk dengan tangan memegangi dahinya. Berserapah dalam Bahasa Inggris sepelan mungkin agar Masako-sensei tak mendengarnya.
Sakit? Tidak. Tapi malu.
"Kau tak apa-apa?"
Suara wanita itu menyadarkannya. Ia sontak berseru, "Baik!" dan menegakkan diri.
Masako-sensei menatapnya lembut begitu Taiga berdiri di depan ruang kelas. Ia memberi gestur kecil dan berucap, "Perkenalkan dirimu."
Untuk pertama kalinya Taiga mengedarkan pandangan. Dua puluh lima pasang mata balas menatapnya. Semuanya nampak normal bagi Taiga, tak jauh berbeda dengan di Amerika, walau mungkin tak setiap hari ia bertemu dengan gadis berambut merah muda atau pemuda dengan sudut mata tajam yang cengirannya begitu lebar, tapi itu bukan masalah.
"Salam kenal!" serunya bersemangat. Suara tarikan napas tertahan ia dengar dari beberapa siswa, tapi ia tetap melanjutkan. "Namaku Kagami Taiga, pindahan dari Amerika. Aku datang ke negara ini bersama bersama kakakku. Aku lahir di Jepang, sehingga aku tak sebuta itu pada kebudayaan negara ini. Kuharap kita bisa jadi teman baik, oleh karena itu," Ia membungkuk dalam. "Aku mohon bantuannya."
Begitu Taiga menegakkan tubuhnya kembali, mereka masih menatapnya. Suasana begitu hening, hingga Taiga sendiri lama-kelamaan memutar-mutarkan tungkai kakinya.
Sampai Masako-sensei angkat bicara.
"Baik. Tadi adalah salam perkenalan dari Kagami Taiga. Mulai sekarang ia akan menjadi anggota kelas ini. Sekarang," ia bersedekap. "Yang ingin menanyakan sesuatu pada Kagami-kun, silahkan angkat tangan."
Taiga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika lima belas tangan terangkat.
.:xxx:.
"Kelas selesai. Kalian boleh keluar."
Tetsuna menutup bukunya, lalu merapikannya ke sudut meja. Ia akan membacanya nanti. Sejumlah siswa di sekitarnya bergegas keluar, namun tak sedikit pula yang tetap tinggal di dalam ruangan dan mengubah posisi kursi dan meja. Bel istirahat telah berdentang sebelumnya. Tetsuna meraih kotak bekalnya dan berjalan keluar.
Tetsuna meraih kenop pintu, lalu berhenti.
Satsuki dan Kazunari sudah berjanji akan makan bersamanya.
Menilik dari pembawaan kedua sahabatnya yang begitu supel … bagaimana kalau Satsuki dan Kazunari membawa serta anak baru di kelas mereka? Ada besar kemungkinan hal itu terjadi, seperti yang mereka lakukan ketika Kasamatsu-senpai baru pindah beberapa bulan lalu.
"Tetsu, sini!"
"Kurokocchiii, mau makan bento bersamaku? Ibuku membuatkan dua hari ini! Kau tidak perlu lagi beli bekal di kantin."
Tetsuna meringis. Ia tidak akan suka. Membiasakan kehadiran seseorang yang baru teramat sulit untuknya. Satsuki dan Kazunari mungkin tidak akan masalah, tapi anak baru ini….
"Kise-chin, aku mau bentonya."
"Ini bukan buat kau, wee."
Jadi, bagaimana? Ke kafetaria dan menemui mereka, atau … ke atap? Koridor tidak ramai seperti biasa, sepertinya belum banyak kelas yang keluar untuk istirahat.
"Kise-chiiiin."
"Berisik sekali, nanodayo."
Tapi, kalau ke atap, Tetsuna menggigit bibir. Tidak. Ada … ada besar kemungkinan aku bisa … bisa … bertemu dengan … mereka…. Mereka biasanya melewatkan waktu di sa—
"Berapa lama lagi kau akan berdiri melamun seperti itu?"
Tetsuna tersentak mendengar suara itu. Ia menoleh ke balik pundaknya, dan manik biru mudanya melebar melihat sosok Shiina mengernyit tak suka.
"M-Midorima-san," suaranya merendah, "a-aku─"
"Minggir," hardiknya sekali lagi. "Aku tahu hawa keberadaanmu tipis, tapi bukan berarti kau bisa bebas menghalangi pintu kapanpun kau mau. Orang lain juga butuh akses keluar. Pintu ini bukan milikmu."
Tetsuna menutup bibirnya. Ia melepas pegangannya pada kenop dan melangkah mundur, kepalanya menunduk.
Shiina melempar pandangan sinis sekali lagi sebelum membuka pintu, lalu melenggang pergi. Tetsuna berjengit kaget ketika suara menutupnya pintu terdengar lebih kasar dari normalnya.
.:xxx:.
"Dua puluh empat."
Duk.
"Dua puluh lima."
Duk.
"Dua puluh enam—"
"Wow, Midorima," suara kasar seorang siswi dari tribun gym kentara sekali mengganggu konsentrasi Shiina. Aomine Daichi menyangga dagu dengan telapak tangan, keringat menetes dari ujung helai rambut azura. "Kau berlatih lebih keras dari biasanya, padahal ini hari Senin. Ada apa ini?"
Shiina melempar bola jingga terakhirnya, lalu mengirim delikan kesal. "Aku punya hak untuk berlatih tanpa diganggu. Apalagi oleh pertanyaan non-intelekmu."
"Sudah kubilang jangan pakai bahasa sulit!" Daichi mengerang dan menjatuhkan dirinya, terkapar di atas bangku. "Sial, menu latihan nenek tua itu menyiksa sekali. Mana mungkin aku bisa menyelesaikan semua ini dalam dua hari?" Ia menyapu jatuh lembaran kertas dari bangku di bawahnya. "Mana hari ini aku kena detensi, lagi."
"Serius, Aomine," Shiina menyahut setelah menginstruksikan seorang pemain cadangan untuk mengumpulkan bola-bola basket ke dalam keranjang. "Ini hari pertama sekolah."
Dua puluh tujuh.
"Aku hanya makan permen karet di kelas. Kakek Aida saja yang terlalu sensitif."
"Bukan 'hanya' masalahnya. Jelas-jelas peraturan sekolah melarang itu."
Dua puluh delapan.
"Tapi itu tidak mengganggu siapapun, kan?"
"Tetap saja. Kadang aku pikir kau melakukan semua ini hanya agar diperhatikan orang."
Dua puluh sembilan.
Mendengarnya, Daichi berguling. Matanya menatap gadis yang mulai berlatih tembakan tiga poin itu lagi. "Lalu, kau sendiri?"
Shiina mengusap keringat, namun tidak meliriknya. Bola ke dua puluh sembilan bergulir mendekatinya. "Apa maksudmu?"
"Apa ini caramu agar diperhatikan Akashi?"
Postur sempurna itu urung melayangkan lemparan.
Daichi menyeringai. "Oh, apa aku salah bicara?"
Shiina tak menjawab. Matanya terarah pada lantai sejenak dengan ekspresi kelam. Daichi berguling di atas dadanya dan mulai menggerak-gerakkan kakinya bagai gadis muda siap mendengar curhatan sahabat.
Tapi bukan itu yang ia terima, tentu saja. Shiina melempar bola itu tepat ke dalam keranjang.
"Tiga puluh." Ia berbalik. "Aku selesai."
"Hah?" Daichi seketika bangkit. "Selesai? Tapi kau baru memasukkan─ Hei, kau mau ke mana?"
"Jam kelima dimulai sepuluh menit lagi," Shiina mengibaskan tangannya, langkahnya menuju ruang ganti putri. "Kau juga sebaiknya segera bersih-bersih, kalau tak mau terlambat masuk dan kena detensi tambahan. Dan bukan berarti aku peduli padamu."
"Iya, iya," Daichi memutar bola mata. "Sungguh, deh, apa topik tentang Akashi sangat sensitif untukmu?"
Shiina berhenti. Ia menoleh ke arah gadis itu, tatapannya tegas.
"Tiga puluh adalah angka keberuntungan Cancer hari ini."
Daichi mengangkat sebelah alis.
Shiina tak berhenti lagi. Ia menghilang di balik pintu putih ruang ganti, dan Daichi hanya bisa menghela napas. Ia meraih botol air di sampingnya dan membuka tutupnya.
"Hm? Aneh, tadi pagi aku dengar ia berkata kalau angka keberuntungannya empat puluh?"
Daichi tersedak.
"Uhuk! Ahk! Sialan!" Ia mengusap bibirnya dan berbalik, kesal. Begitu melihat pemuda di belakangnya, matanya sedikit melebar, sebelum ekspresinya mengecut lagi. "Oh. Kau rupanya."
"Tidak sopan bicara dengan kakak kelasmu seperti itu," Imayoshi Shoichi menjitak dahi Daichi. Ia mengaduh. "Apalagi memanggilku dengan sebutan 'kau'."
"Kau yang minta," Tatapan Daichi mengejek, jarinya mengusap-usap dahi yang merah. "Sakit, bodoh."
"Kau minta dijitak lagi?"
"Kutendang kau kalau berani."
Shoichi tertawa, lalu menyamankan diri di samping gadis itu. "Dasar, bocah-bocah kelas satu tahun ini bedebah sekali."
"Seperti kau tidak saja. Dan siapa bilang kau boleh duduk di sini?" Daichi berkacak pinggang.
"Aku lelah," tanggap Shoichi malas. "Aku mau istirahat."
"Minggir sana! Keringatmu bau!" Ia menendang tulang kering kakak kelasnya. "Minggir! Minggir!"
Daichi tak bisa melihatnya, tetapi tangan Shoichi menahan kakinya. Ia berjengit, memekik "Lepaskan!" dan berusaha menarik kakinya kembali. Cengiran Shoichi semakin lebar. Ia menarik lepas sebelah sepatu yang dikenakan gadis itu dan melemparnya ke lapangan.
Daichi menganga. Ia menarik kakinya dan menonjok pipi Shoichi lalu lari ke lapangan, memungut sepatunya. Beberapa orang yang melihatnya tampak jelas-jelas menyembunyikan tawa.
"Tolol!" desisnya seraya mengenakan sepatu itu kembali. Wajahnya merah padam ketika mendongak menghadap pelaku pelemparan sepatunya. "Ini Nike Max Air terbaru, bodoh! Harganya tidak murah! Dasar serampangan! Tolol! Kacamata! Memalukan!"
Shoichi mengelus pipinya yang bengkak, tapi ia hanya tertawa kecil melihat Daichi menjeritkan serapah kekanakan yang ditujukan padanya. Ia baru akan membalas dengan ejekan lain ketika pintu gym terbuka lebar dengan suara menjeblak keras, dan seorang pemuda asing masuk dengan seruan kencang.
"Namaku Kagami Taiga, siswa pindahan dari Amerika!" Pemuda itu berambut merah-hitam, matanya berkobar nyala, dan suaranya menggema di dalam ruangan. Daichi menutup telinga. "Aku ingin bergabung dengan klub basket SMA Teiko ini, dan menjadi yang nomor satu di Jepang!"
Aktivitas terhenti. Semua menatap pemuda asing itu, tatapan mereka bervariasi dari bingung hingga kagum. Shoichi sendiri menelengkan kepala, tapi sudut bibirnya yang menaik jelas mengisyaratkan bahwa ia tertarik.
Napas Taiga masih terengah, residu lari dari kelasnya di lantai atas menuju gym di sudut sekolah. Tetapi cengirannya lebar dan semangatnya berkobar, walau semua itu seketika buyar begitu Daichi melepas tutup telinganya dan memutar bola mata, lalu membalas kantang dari tengah lapangan:
"Kalau kau mau bergabung, mendaftarlah pada salah satu dari pelatih-pelatih kami dan jangan heboh sendiri, baka."
Hening lagi. Alis Taiga berkedut. Daichi merengut. Semua bingung menatap yang merah atau biru.
Shoichi hanya bisa menggelengkan kepala, desahannya pasrah.
"Bagus. Anak baru dan Daichi sudah akan bikin ribut."
.:xxx:.
Di siang hari, atap sekolah memang bukan favorit siswa untuk tempat piknik kecil dengan teman. Biasanya ketika sang surya mulai condong ke barat, tempat luas dengan jalinan anggur dan tanaman lain sebagai hijau-hijauan itu baru ramai.
Karenanya, Tetsuna memutuskan untuk membawa bekalnya ke tempat itu.
Persis seperti yang ia harapkan, atap sepi. Langkah kaki mungilnya cepat membawanya ke salah satu sudut rindang yang ditutupi jalinan daun anggur. Ia duduk dan membuka bekalnya, lalu mulai makan.
"Berapa lama lagi kau akan berdiri melamun seperti itu?"
Sumpitnya terhenti di depan bibirnya. Tetsuna terdiam. Tangannya gemetar.
"A-aku─"
"Minggir."
Dengan helaan napas panjang, sumpit itu jatuh lagi di atas kotak bekalnya.
"Berapa lama lagi kau akan diam seperti itu?"
"Jangan pura-pura membatu, Kurokocchi. Aku tahu kau dengar perintah Akashicchi."
"Ayo, semuanya. Atsumi, tutup pintunya."
Tetsuna memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, dan menutup mukanya.
Bahunya bergetar oleh isakan.
Semua ini … ternyata belum berakhir, bukan?
Ia mengusap air matanya, tepat ketika sebuah tangan menyentuh pipinya.
Tetsuna mendongak. Satsuki dan Kazunari balas menatapnya. Ia berkedip, dan buru-buru mengerjapkan mata.
"Maaf," Tetsuna meringis. "aku meninggalkan kalian, Momo-chan, Kazu-ku—"
Satsuki memeluknya, dan Kazunari menepuk pundaknya.
.:xxx:.
Ruang luas yang terletak di lantai tiga gedung utara SMA Teiko itu adalah Ruang Dewan Siswa. Kiri-kanannya diapit oleh perpustakaan dan ruang rapat. Interiornya sederhana namun rapi, bersih, dan elegan. Dua meja kerja lengkap dengan televisi dan satu set sofa super nyaman, dan lemari pendingin yang khusus dipesan seorang Murasakibara si sudut ruangan. Ruang itu biasanya dijauhi para siswa, tak nyaman dengan aura penuh wibawa dari tempat itu sendiri.
"Aku setuju. Kise memang tolol."
Walau kadang pertengkaran sepele sering terjadi di dalamnya.
Sungguh, Ruang Dewan Siswa tidak semenakutkan yang para siswa kira.
Siswi berambut biru tua pendek itu melempar bola basket yang ia pegang ke arah dinding, lalu menangkapnya lagi setelah dipantulkan dinding dan menimbulkan bunyi debum. "Mana bisa diadakan acara seperti itu di Teiko."
"Kise-chin tidak masuk akal." Selain kunyahan, suara tadi berasal dari Murasakibara Atsumi, yang memamah snack dan tidur-tiduran.
Di sudut lain ruangan, Midorima Shiina membetulkan posisi kacamatanya, sejenak mengalihkan fokus dari bacaannya. "Aomine. Hentikan itu. Kalau mau main basket, jangan di dalam ruangan. Konsentrasiku terganggu, nanodayo."
Gadis berambut pirang berikat kuncir kuda yang tengah mengikir kuku-kukunya bernama Kise Ryuna. Matanya yang sewarna emas melirik gadis lain yang barusan menegur Daichi. "Aaah, ngomong-ngomong soal tidak masuk akal, aku heran dengan Midorimacchi." Yang disebut melirik sinis padanya. Ryuna menyeringai. "Dia selalu menambahkan 'nanodayo, nanodayo' begitu di akhir kalimatnya, ssu."
"Paling tidak, nanodayo-nya Midori itu lebih masuk akal daripada ssu-mu. Hah, apa-apaan itu," menyela cuek, sebuah bola basket berputar di atas telunjuk Daichi sebelum kemudian jatuh ke lantai.
"Aominecchi! Jangan kau juga-ssu!" Ryuna memekik tinggi, melempar tatapan merajuk pada sahabatnya yang berkulit gelap. "Bukannya membantu, malah ikut mengolok-olokku! Dunia dan seisinya memang kejam sekali terhadapku-ssu!"
"Kise-chin berisik," Atsumi melempar sebatang stik biskuit ke arah si pirang. Ryuna menangkapnya sebelum biskuit itu mengenai rambutnya, lalu mengerucutkan bibir.
"Murasakicchi makan terus dari tadi-ssu. Nanti melebar, lho."
"Biar. Lagipula pertumbuhanku kan tidak ke samping," Atsumi mengedikkan dagu pada Daichi. "Tidak seperti Aomine-chin."
"Hei! Apa maksudnya itu?!"
"Aomine memang tampak lebih gemuk dibanding sebulan lalu.," Shiina membenarkan posisi kacamata. "Wajar saja sih, melihat nafsu makan gigantiknya saat liburan kita ke Kyoto waktu itu. Bukan berarti tiap hari aku sengaja mengamati, nanodayo."
"Ahaha, Midorimacchi benar-ssu! Aominecchi menghabiskan tiga piring lobster untuk dirinya sendiri, bahkan sempat minta tambah lagi!"
"Kise!"
"Kemudian dia sudah menguliti satu lobster lagi sebelum si pemilik restoran meneriakinya karena lobster itu bukan stok bahan, tetapi hewan peliharaan si pemilik." Mau tak mau, Shiina menyeringai.
"Sudah kubilang itu tak sengaja! Salah sendiri meletakkan hewan peliharaan di dapur! Lagipula lobsternya masih belum kukuliti, kok!"
Ryuna mengeluarkan ponselnya dari tas. "Nee, nee, ingat ekspresi tim inti satu ketika melihat Aominecchi makan? Aominecchi sudah seperti manusia purba yang baru keluar dari gua, tidak ada table manner sama sekali! Kiyocchi cuma bisa tersenyum bingung, Takaocchi sudah berguling-guling di atas tatami, Haizakicchi-nya tim inti dua malah sudah teriak-teriak supaya Aominecchi tobat dan kita tidak ikut dimakan. Murasakicchi saja kalau makan tidak sebuas itu. Sebentar, sepertinya aku punya rekamannya—Aominecchi, kembalikan!"
Dengan ponsel Ryuna yang ia sambar di tangan, Daichi menjulurkan lidah. "Tak mau. Mana filenya? Biar kuhapus." Ia menunduk dan mengutak-atik perangkat tersebut.
"Tidak, tidak!" Ryuna memekik, menerjang si gadis berkulit gelap hingga keduanya terjatuh. "Jangan dibuka!"
"Aduh, berat! Dasar kuning!"
"Daripada Aominecchi, hitam-ssu!"
"Itu namanya ganguro." Atsumi nimbrung, sama sekali tak membantu.
"Bukan. Itu kelainan genetik." Shiina berucap sadis.
"Kuharap kalian bertiga tak lulus tes tengah semester!" serapah Daichi yang sakit hati gennya dihina.
"Yang takkan lulus bukannya sudah jelas Aominecchi?" Ryuna berhasil mendapatkan ponselnya lagi, lalu menjulurkan lidah. "Midorimacchi, lihat nih, lihat rekamannya—"
"Kuning sialan aku dikecoh—!"
"Kumohon," Gadis bersurai merah yang duduk di balik meja utama menghadap sebuah laptop itu akhirnya berucap datar, sudut pelipisnya sudah dihiasi perempatan jalan. Tiap katanya mengandung autoritas tinggi yang tak diketahui dari mana asalnya. "Tenanglah sedikit dan biarkan aku berkonsentrasi pada laporan bulanan. Atau kalian boleh pergi sebelum guntingku secara tidak sengaja mencabik kulit kalian. Kelainan ataupun tidak."
Mendengarnya, keempat siswi itu seketika mengunci mulut masing-masing. Walau Ryuna dan Daichi masih bertukar lirikan ketus, Atsumi masih mengunyah keripik kentang dengan sedikit berisik, dan Shiina memalingkan muka berpura-pura tak kenal dengan makhluk hiperaktif di depannya.
Seira menghela napas, memijit pelipisnya yang pening. Dasar kepala sekolah banyak maunya. Dasar empat imbisil yang tak tahu kapan harus mencemari udara dengan suara cempreng mereka.
"Nee, Akashicchi,"
Seira membuka mata dan menjawab ketus. "Apa lagi?"
Ryuna menggigit bibir sebentar sebelum melanjutkan dengan sedikit ragu-ragu. "Murid baru yang kata Akashicchi kemarin ... aku penasaran sekali. Habisnya tadi aku mencari di kelas-kelas tapi tidak ketemu."
"Itu sih kaunya saja yang sibuk kucing-kucingan dengan fans-fansmu," Daichi mencetus.
"Ih, Aominecchi sirik, ya? Iri, karena fansku banyak?"
"Tolol, mana mungkin aku sirik dengan ne—"
"Stop," titah Seira kesal. "Bukan hakku untuk membocorkan data siswa sekolah ini, sekalipun kedudukanku sebenarnya cukup tinggi untuk melakukan itu. Tetapi kau bisa bertanya pada Atsumi. Aku yakin ia mengenal salah satu siswa pindahan itu lebih baik dari data kesiswaan Teiko sendiri."
"Hee?" Ryuna berkedip, lalu menoleh pada si koki. "Murasakicchi? Memang kenapa? Murid baru itu apanya Atsucchi?"
Tak sedikitpun mengehentikan kunyahannya, Atsumi mengangkat sebelah alis.
"Murid pindahan—nyam—itu kan—nyam—Muro—kress—chin."
"Muro-chin?" tiru Ryuna. "Kakak baik yang suka membelikanmu pocky waktu studi banding di Amerika dulu? Aku quote penuturanmu waktu pulang studi banding, ya."
"Mmhm. Dia datang bersama adiknya. Tai-Tai entah siapa. Aku lupa."
"Kagami Taiga," koreksi Seira.
"Kagami Tai—oh!" Daichi tiba-tiba berteriak kaget. "Maksudmu si macan alis bercabang yang tiba-tiba mendobrak masuk gym waktu latihan dan berteriak-teriak ingin mendaftar masuk klub?"
Semua menatap Daichi.
"Macan?" Seira mengangkat alis. Tetapi Daichi terlanjur bangkit dengan semangat dan membuka pintu.
"Aku jadi ingat, aku ada perlu dengannya!" senyumnya begitu lebar, hingga Ryuna berpura-pura menutup matanya seraya berteriak "Silau!". "Aku pergi dulu. Dah!"
Pintu dibanting menutup, dan semua berpandangan. Seira menghela napas.
"Shiina. Ingatkan aku untuk melipat gandakan latihannya. Sudah kubilang dilarang membanting pintu di ruangan ini."
Shiina mengangguk. Kise mulai berbincang lagi dengan Murasakibara, dengan Seira sesekali menimpali. Ruangan itu terasa hidup lagi, namun ia merasa dirinya tak bergabung dengan mereka. Semua karena manik hijaunya barusan menatap pintu sekilas.
Barusan berkelebat tiga bayangan di depan jendela. Satu siswa dengan dua siswi mengikuti di belakangnya. Dan ia tahu betul bayangan siapa itu.
Ia mengingat sosok seorang pemuda dengan cengiran lebar. Rasa rindu itu kembali menyergapnya.
.:xxx:.
Sesi latihan hari itu selesai lebih cepat. Nijimura Shuuzo, kapten timnya, membubarkan latihan lebih cepat karena pelatih Nakatani memiliki sesuatu untuk didiskusikan dengannya. Tatsuya sudah pulang duluan—ditarik oleh seorang gadis jangkung berambut ungu yang merengek minta mampir ke supermarket untuk beli es krim. Siapa dia? Pacarnya?
Taiga tengah berjongkok di tepi garis lapangan seraya mengikat tali sepatu ketika sebuah bayangan berhenti di depannya. Ia mendongak, dan mata krimsonnya bertatap dengan milik si gadis berkulit gelap yang kemarin, menenteng bola basket dan memandangnya rendah.
"Kalau kau mau bergabung, mendaftarlah pada salah satu dari pelatih-pelatih kami dan jangan heboh sendiri, baka."
Taiga menggertakkan gigi, emosi sendiri mengingat kejadian kemarin.
"Kau Kagami Taiga, bukan?"
Mendengar namanya disebut, Taiga kembali ke bumi walau bibirnya sedikit merengut. "Ya. Itu namaku. Ada perlu apa?"
Gadis itu tampak puas, dan seringai pada wajah tomboynya entah mengapa membuat api dalam jiwa Taiga berkobar lagi.
"Jadi kau anak pindahan yang tadi mengganggu sesi latihan dengan teriak-teriak ingin bergabung seperti idiot itu, ha?" Ia mengulurkan tangan. "Aku Aomine Daichi. Panggil Aomine saja, tak usah ditambahi cchi, chin, atau embel-embelaneh lainnya."
Taiga tak tahu bagaimana harus menanggapi salam perkenalan yang cukup menyayat hatinya itu. Sudut bibirnya hanya naik bingung. Cchi apa? Chin apa? Embel-embel apa?
"Ah, ya," belum juga dibalas oleh Taiga, Daichi sudah menarik tangannya dan berkacak pinggang. "Aku ingin kau bermain one-on-one denganku. Sekarang, mumpung lapangan sedang sepi."
Belum juga pulih dari serangan pada harga dirinya, Taiga terhenyak lagi mendengar tantangan itu. Gadis di depannya ini ... menantangnya bermain one-on-one? Yang benar saja!
"Maaf," Taiga mendengus seraya menyelempangkan tasnya. "Aku tak tertarik untuk bermain dengan perempuan. Masih banyak hal yang lebih penting untuk kulakukan."
"Tak tertarik bermain dengan perempuan," Daichi mengejek seraya memutar bola mata. "Oh, ayolah. Cara berpikirmu kuno sekali. Memang kenapa kalau aku ini perempuan? Basket itu permainan untuk umum, baka. Kau masih berpikiran kalau perempuan itu lemah apalagi dalam hal olahraga? Katanya kau pindahan dari Amerika, masa kau tidak tahu di sana basket juga diminati wanita?"
Taiga ikut-ikutan memutar bola mata. "Maksudku memang seperti itu, tetapi yang lebih utama, rasanya sia-sia saja bermain denganmu."
"Ha?" Daichi mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
"Maksudku adalah, sudah jelas di antara kita, siapa pemenangnya." Ia mengangkat dagu, menatap ekspresi terkejut Daichi. "Sudah jelas kita ada di level yang berbeda. Kalau kau mau main satu-lawan-satu, cari lawan yang berdiri sejajar denganmu, jangan yang ada ketika kau mendongak." Dengan satu lirikan cuek, ia berjalan pergi. Apartemennya adalah destinasi berikutnya. "Dah."
Belum tiga langkah, kepala berhias beludru merah-hitamnya ditabrak sebuah bola basket dengan keras. Taiga mengaduh dengan badan terhuyung hilang keseimbangan. Bola tadi menggelinding tak bersalah di depannya. Geram, memegangi kepalanya yang sedikit ngilu, ia berbalik dan meneriaki gadis tadi, satu-satunya penghuni gym saat ini selain ia sendiri. "Oi, apa masalahmu, hah?!"
Alis Daichi mengerut, postur tubuhnya seolah tidak baru saja melemparkan bola basket dengan sekuat tenaga. "Kau itu yang bermasalah!" Daichi balas membentak. Tangannya terkepal di samping tubuhnya, bergetar menahan amarah. "Aku masih bisa toleran kau menganggapku lemah karena aku ini perempuan, tapi kalau kau sampai dengan entengnya menganggap bisa menang dariku, akan kubuat kau menyesal! Yang bisa mengalahkanku, hanya aku sendiri!"
Taiga berkedip, tak menyangka ucapannya akan berefek sedemikian dalam. Lagipula, apa-apaan orang ini?Apa-apaan mottonya? Dia ini terobsesi dengan kemenangan atau apa?
"Sombong sekali kau," akhirnya Taiga bersuara. "Yang bisa mengalahkanmu hanya kau sendiri? Mimpi saja, Aho. Yang seperti itu tidak ada!"
"Oh, tidak," Daichi bersedekap. "Asal kau tahu, aku ini Aomine Daichi, power forward di tim inti putri, peraih rekor turnamen V1 musim semi dengan dua puluh kali menang, tanpa kalah, dan best scorer di Regional Cup, dengan skor 100-46." Ia menyeringai bangga dengan prestasi tertingginya, lalu dengan nada mengejek, "dan kau?"
Mendengarnya, Taiga berkedip tolol. Ini ... jangan-jangan dia anggota dari Generation of Miracles yang pernah dimuat dalam majalah olahraga internasional dan mendapat apresiasi federasi basket nasional itu? Aomine, olahragawati dengan teknik-teknik lay-up unik yang tak beraturan itu?
Namun yang pasti, generasi keajaiban atau bukan, Taiga takkan kalah. "Aku Kagami Taiga," ia memulai, "peringkat atas streetball rank Amerika, best player di event skala negara bagian, dan aku telah direkrut masuk tim inti dua didikan Nakatani-sensei segera setelah aku masuk klub. Dan sekarang ada seorang perempuan menantangku bermain one-on-one dengan menyatakan yang bisa mengalahkannya hanya dia sendiri."
"Kau malah mengajakku beradu mulut alih-alih langsung terjun ke lapangan. Jangan-jangan kau itu takut padaku?" Daichi menyeringai. "Takut aku mengalahkanmu dan menghancurkan harga dirimu? Takut aku membuktikan sederet ucapanmu tadi hanya bualan saja?"
Oke, cukup. Taiga memang bukan jenis manusia yang tahan dikompori.
Berserapah dalam Bahasa Inggris, ia melepas dan melempar tasnya ke bangku penonton sebelum mengambil bola dan berlari ke tengah lapangan. Daichi tak menyembunyikan ekspresi kemenangannya.
"Half-court," Taiga berucap di sela napas.
Daichi hanya tersenyum menantang.
"Baik."
.
.
[Tbc]
