Petang itu, harusnya gym Teiko sudah kosong. Petang itu harusnya petugas kebersihan sudah mematikan lampu dan mengunci semua pintu.
Kalau bukan karena Daichi yang main sebut nama Akashi, petugas yang sudah kepala tiga itu tidak akan berani memberinya keringanan lima belas menit sampai dia dikunci di dalam sekolah.
Taiga membungkuk, tatapannya dibakar semangat. Daichi mendribel bola di hadapannya, senyumnya mengejek.
"Lima belas menit one-on-one, yang kalah harus rela traktiran di Maji Burger."
Daichi mengedikkan bahu, setuju saja. Ia belum tahu selera makan kolosal Taiga yang sepadan dengan biaya makan satu rukun warga.
Daichi melangkah maju, memainkan bola jingga dengan kedua tangan. Memantulkannya di atas lantai melalui celah antara kedua kakinya. Krimson mengikuti pergerakan bola. Enam, tujuh detik berlalu, Daichi masih belum menampakkan tanda-tanda menyerang. Taiga pikir foreplay mereka sudah cukup. Tangan terulur untuk meraih. Gadis itu berkelit dengan pivot, tiga langkah lebar mendekati tiang dan sebuah gestur melempar. Taiga dikendalikan insting, mengejarnya dan menampik bola.
Pertahanannya berhasil. Debaman bola berasal dari luar garis lapangan. Permainan baru berjalan beberapa detik dan Taiga sudah dibuat terpukau heran.
Cepat sekali gerakannya?
"Ck, hampir," Bola tadi menggelinding terlalu jauh. Daichi mengambil satu lagi dari keranjang cadangan. Diliriknya ekspresi Taiga. "Hentikan, wajahmu menyebalkan."
Taiga mengerjap. Lalu memasang ekspresi serius lagi. "Cih, kemarikan bolanya!"
Giliran Taiga menguasai. Tempo permainan ia mulai dengan lambat. Satu langkah, dua langkah, trik kecil passing antara kedua tangannya. Daichi mendengus melihat Taiga seolah memamerkan kehebatan koordinasi motorik kedua tangan, dan ia melangkah diagonal.
Sesuai dugaannya, Taiga bergerak memunggungi ke kiri. Daichi sudah lama memprediksi itu, maka ia berbalik arah dan menghadangnya.
Pemuda itu terhentak mundur selangkah, bola masih aman memantul dalam jangkauan tangan. Bagaimana bisa perempuan ini punya kelincahan layaknya kucing terdesak, ia tidak paham.
Kuda-kuda Daichi hendak merebut bola. Taiga berpikir cepat dan memantulkan bola ke bawah, lalu secepat yang ia bisa berlari melewatinya. Gadis itu tidak tinggal diam, memanfaatkan posisinya yang lebih dekat dengan bola sebagai keuntungan. Satu ayunan tangan dan bola jingga dalam kuasa tangannya, ia melempar asal ke arah lingkaran keranjang.
Daichi menyeringai. Poin pertama untuknya. Di luar dugaan, bermain dengan Taiga menyenangkan.
"Heaaahhh!"
Bola itu butuh waktu sedikit lebih lama untuk masuk dengan sempurna, makanya Taiga mengakselerasi dengan loncatan khasnya dan sebuah dunk keras.
Tangan kekar bergelantungan sejenak sebelum melepas pegangan. Ia mendarat dengan aman di atas tanah.
Di belakang, Daichi ternganga. Kesulitan memahami yang barusan.
"A-apa-apaan itu?!" ia tidak tahan tidak berseru. "Kau-melompat-dari-tengah-lapangan?!"
Rasanya Taiga tidak paham apa yang Daichi ributkan. "Poin pertama milikku," Taiga tersenyum senang. Daichi murka.
"Aku yang melempar bolanya! Poin itu milikku, dasar pengganggu!"
"Milikku!" Taiga seolah mengaum. Daichi tidak mundur. "Kau tidak lihat dunk barusan?!"
"Kau tidak lihat lemparanku barusan?!" Bola basket menggelinding terabaikan.
"Well, ya, tapi itu sebelum aku memasukkannya!"
"Kau tidak memasukkannya, bodoh! Bola itu lepas dari tanganku-"
"Sebelum aku memasukkannya! Dunk barusan itu bukti nyata aku yang dapat angka!"
"Idiooot!" Daichi kehabisan kata-kata. "Bakagami!"
Pelipis Taiga berkedut kesal. "Ahomine!"
Daichi terluka harga dirinya. "Aku tidak terima!" Bola tadi akhirnya dinotice kembali. Daichi melemparnya sekuat tenaga ke arah Taiga yang kelabakan menangkap. Fuh. Hampir saja menoyor muka. "Satu lagi!"
"Kau…" Taiga di pucuk sumbu kesabaran. "Dasar, awas saja kau! Lihat saja, kubuat kau bertekuk lutut!"
"Tidak, akan kubuat kau tersedak semua kesombonganmu itu!"
"Kau tidak punya cermin, hah, Ahomineee?!"
Daichi bersiap menghadang langkah Taiga. "Diam kau, Bakagami!"
.:xxx:.
"Hati-hati, ya," Satsuki melambai riang dekat tiang papan alamat rumahnya. "Takao-kun, jangan macam-macam, langsung antar Tetsu-chan pulang! Tidak usah mampir-mampir ke tempat-tempat aneh!"
Kazunari tergelak. Tetsuna tersenyum lebar. "Iya, iya, Ibu."
Satsuki merengut. "Aku ini benar-benar mencemaskan keadaanmu dan Tetsu-chan malah meledekku?"
"Habisnya, Momoi-chan mirip seperti Ibuku-"
"Ne, lihat, matahari sudah tenggelam," Kazunari memotong, "Kami duluan! Dah Momo-chan, ketemu lagi besok!"
Tetsuna melambai, maniknya terus menatap Satsuki hingga manajer tim basket Teiko itu menghilang sosoknya di balik gedung pertokoan.
Ia memalingkan mukanya ke depan. Kazunari mengayuh sepeda di jalan raya tanpa suara. Aneh, bagi Tetsuna, karena biasanya pemuda itu tidak bisa diam. Tapi kalau melihat tipe kepribadian Kazunari, pasti diamnya tidak akan bertahan lama.
"Kuro-chan?" Tuh, kan.
"Hmm?"
"Tidak apa-apa, kan?"
"Takao-kun bicara apa?"
"Habis," laju sepeda melambat. "Aku tadi kaget sekali begitu menemukanmu menangis sendiri di atap sekolah. Momo-chan juga, dia langsung berlari begitu melihatmu."
Ah, tadi itu. Tetsuna meringis.
"Maaf, aku kelihatan tolol sekali, ya, menangis sendiri?"
"Ha? Tidak, kok!" Kazunari menggeleng. "Justru sebaliknya, Kuro-chan harusnya bicara pada kami kalau ada sesuatu yang mengganggu Kuro-chan. Kalau tidak merasa nyaman dengan Momo-chan, kau bisa bicara padaku. Tenang saja," Kazunari menoleh dan mengedip. "Aku tidak ember, kok."
Metafora itu membuat Tetsuna tertawa. "Iya, iya. Terima-kasih, Takao-kun."
Terima kasih, tapi sepertinya Takao-kun tidak akan paham. Momo-chan yang lebih banyak tahu dari Takao-kun saja tidak paham dengan posisiku, apalagi Takao-kun, kan?
Dan lagi, Tetsuna tidak ingin merepotkan. Ia tidak ingin jadi beban lagi untuk Takao-kun. Tidak pula untuk Momo-chan. Tapi ia lega, ia merasa penglihatannya menjadi lebih terang mendengar helatan Kazunari barusan.
Takao-kun benar-benar perhatian… Takao-kun benar-benar teman yang setia… Momo-chan juga. Keduanya sangat menyayangiku…
Selamanya, kan?
Takao-kun dan Momo-chan akan terus seperti itu selamanya, kan?
Tidak akan meninggalkanku, kan?
Tidak akan berbalik dan menusukku, kan?
Klakson mobil menggema keras dari belakang, Tetsuna kembali ke alam sadar, berpegangan kuat pada kemeja seragam Kazunari yang berusaha mengembalikan keseimbangan.
"Whoa!"
"T-Takao-kun awas—"
Pemuda itu menepi dengan selamat. Orang-orang di sekitar mereka turut menoleh, terkejut dengan bunyi klakson yang lebih nyaring dari biasanya. Tetsuna turun dan menatap mobil yang nyaris menyerempet mereka.
"Dasar," Kazunari menggeram, mengecek kondisi sepedanya. "Hampir saja. Tadi itu bahaya sekali. Kuro-chan tidak apa-apa?"
Tidak ada penduduk di kota ini memiliki mobil semewah itu. Tidak semua penduduk di kota ini bepergian mengendarai mobil seelegan itu.
Tidak ada, kecuali Akashi.
.:xxx:.
"Akashicchi," Ryuna duduk menyamankan diri. Di sampingnya, Seira tak bergeming. "Bukannya tidak perlu sampai seperti itu tadi? Bagaimana kalau mereka benar-benar celaka?"
Kapten wanita tidak menjawab. Hanya memainkan bolpoin merah seraya tersenyum kecil.
"Akashicchi?"
"Apa, Ryuna."
"Aku bicara padamuuu."
Mendengus. "Percayalah padaku." Ia melirik keluar jendela. "Kalau tidak seperti itu, ia tidak akan sadar," bolpoin digenggam kelewat erat. "Bahwa dia tidak pantas berada di sini."
"Wah," Ryuna mengangkat sebelah alis. Heran. "Jarang-jarang Akashicchi seseram ini-ssu. Tapi, ssu, Takaocchi, kan tidak bersalah?"
Seira menyimpan bolpoinnya dalam saku rompi. Lalu memanjakan punggung pada sandaran kursi. "Kau salah lagi Ryuna," ia menghela napas. "Aku melakukan ini semua, demi dia."
Dia yang satu ini, Ryuna tahu, adalah orang yang berbeda.
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki
Fanfiction:
byRheyna Rosevelt
OCsbyRheyna Rosevelt
I own nothing but this fanfiction
Thus, I don't make any commercial profit within this story
Warning:
This story contains:
Alternate Universe - Genderbend characters | Violence | Drama | Character abuse | Out-Of-Character
.
.
[Chapter 3]
.
.:xxx:.
"Beres," Daichi selesai mengunci pintu gym. "Sekarang tinggal mengembalikan ini ke ruang kontrol." Ia menengadah. "Tapi sudah gelap. Besok saja, deh."
Taiga mengangkat sebelah alis. "Kau bisa dapat masalah, Aho."
"Biar saja. Mana mungkin mereka tidak punya cadangannya," Daichi tak acuh berjalan ke gerbang.
Taiga menyusul. "Kau tidak takut kena hukuman?"
"Paling-paling cuma jatah latihanku didobel," Daichi mengedikkan bahu. "Ngomong-ngomong, ngapain kau ikut aku?"
"Haa?" Taiga membelalak. "Aku tidak mengikutimu! Apartemenku memang arahnya ke sini!"
"Cih," Daichi membuang muka. "Terpaksa, deh, pulang bareng denganmu."
Taiga mengerucutkan bibir. "Bicaramu seperti itu, kasar sekali. Kau tahu, banyak teman sekelasku yang mengantri untuk pulang bareng denganku. Harusnya kau merasa beruntung."
"Beruntung kepalamu," ia melambat ketika papan Maji Burger mulai terlihat. "Nah, sekarang waktunya menagih janji. Traktir aku burger tuna di Maji!"
"A-Hah?!" Si pemuda berambut merah memasang tampang demi-apa? "Kau barusan kejatuhan tiang ring lalu hilang ingatan? Kita seri, Aho!"
"Baka!" balas Daichi tak kalah garang. "Poin yang pertama tadi, aku yang dapat! Kau, sih, pakai dunk tidak jelas segala!"
"Kalau begitu, poinnya milikku."
"Aku yang melempar!"
"Dan aku yang memasukkan!"
"Aku tidak mau tahu! Yang penting kau belikan aku burger sekarang!"
"Memangnya kau ini siapa? Memangnya aku kenal?"
"Baka!" Tas sekolah melayang. Taiga merunduk. "Bisa tidak, sih, kau berhenti membuatku sebal? Sejak kau pertama kali muncul sampai sekarang, tidak ada satu detik aku tidak merengut melihatmu!"
"Kalau begitu tersenyumlah!" Pipi kecokelatan ditarik hingga membentuk senyum lebar. Daichi tercengang. Taiga nyengir tanpa dosa. "Tersenyum, Aho. Kau itu terlalu lama muram."
Kagami Taiga bukan tipe orang yang peka. Tapi kalau tiba-tiba lawan bicaranya terdiam seribu bahasa, ia sadar juga ada tindakannya yang kurang diterima. Rona merah Taiga telat menjalar ke muka, dan ia melepas pegangannya pada pipi Daichi, lalu menggaruk tengkuk salah tingkah.
"Eh, ma-maaf. Aku tidak bermaksud buruk, kok, aku hanya ingin menghiburmu." Melihat tatapan Daichi, ia menambahkan dengan jari serupa 'v'. "Sungguh."
Gadis sporty itu bukan pecinta kontak fisik yang sifatnya selain agresif. Ia tidak seterbuka Ryuna bila berhadapan dengan masalah dag-dig-dug anak remaja. Makanya, ia cuma memalingkan muka dan lanjut berjalan.
Dag-dig-dug apa itu yang berusaha merangsek keluar dari rongga dada? Panas apa itu yang membuat mukanya hangat?
Ia tidak mendengar suara langkah mengikuti di belakangnya, maka Daichi menoleh. Taiga berdiam diri, menatapnya tak yakin. Dasar, pasti Baka satu itu bingung antara terus jalan beriringan dengannya atau pilih jalan lain.
"Ayo," ucapnya ogah-ogahan. Daichi malas berurusan dengan yang namanya salting. "Kau mau pulang atau tidur di trotoar."
Walau kasar, Taiga menganggap itu bentuk permohonan maafnya diterima. Ia menyusul Daichi dan mereka kembali berjalan beriringan.
"A-Aho?" Si macan belum kapok buka suara.
"Hm?" Cara Daichi menggeram sudah cukup bagi Taiga untuk tahu kalau dia masih ada rasa kesal. Kenapa? Apa Daichi jarang bercanda?
"Aku cuma mau bilang, err—" Ia mencari kata yang tepat. "Aku tidak menyangka kau bisa mengimbangi kemampuanku dalam one-on-one tadi. Serius. Cara bermainmu benar-benar unik. Benar-benar… bagaimana, ya? Formless." Daichi tidak merespon. Entah sudah kebal dengan pujian atau tidak kenal bahasa yang digunakan. "B-begini saja deh," Rasa bersalah jelas terpatri di muka si pemuda. Daichi mengangkat sebelah alis melihatnya. "Kutraktir burger sesuai permintaanmu, tapi satu saja, ya? Masih tanggal tua."
Mendengarnya, mood Daichi terangkat. "Sungguh?"
Taiga melihat cengiran gadis itu melebar, dan ia membalas dengan senyum lega. Satu ide lain tercetus untuk meringankan suasana. Sejurus kemudian ia berlari menuju restoran cepat saji yang letaknya tiga ratus meter lagi dengan seruan, "Tapi kalau aku sampai di Maji lebih dahulu, kau yang bayar burgerku!"
Tidak punya waktu untuk menganga. "Bakagamiii!" Daichi menyalak dan memacu lari menyusul si anak pindahan yang tertawa-tawa.
.:xxx:.
Keesokan harinya, Taiga memfokuskan diri mencari atap sekolah. Sudah cukup tadi pagi Sastra Jepang mempermalukannya –sialan tameng bahasa-, moodnya juga keruh karena perempuan-perempuan di kelas berebut ingin bicara padanya.
Taiga butuh menjernihkan pikiran. Dan kata Momoi, gadis berambut pink yang ia kenali sebagai manajer tim basket sekolah ini, atap sekolah adalah tempat yang cocok untuk menghirup udara segar.
"Tapi," kata seorang siswa lain yang tampaknya tidak sependapat. "Hati-hati, Kagami-kun, rumor bilang atap itu berhantu. Makanya tidak banyak yang mau repot-repot ke atas sana."
Omong kosong, Taiga menampik. Mana ada yang namanya hantu. Itu cuma halusinasi manusia.
Taiga mendorong pintu atap yang dipasang di langit-langit. Ia sempat memejamkan mata, silau. Momoi benar, ia berkedip, atap sekolah rupanya tempat yang cocok untuk bersantai. Ia memanjat tangga dan berjalan menuju teralis anyam yang menjadi sarana keamanan.
Di atasnya, jalinan lebar tanaman anggur melindunginya dari sinar matahari yang sedikit menyengat. Tetapi angin sepoi-sepoi maksimal ia terima dari atas sini, tidak ada dinding tinggi menjadi penghalang. Calon lokasi yang pas untuk tempat tidur siang.
"Hah," ia menarik napas panjang. "Untung saja aku menemukan tempat ini. Atau aku bisa mati sumpek di bawah sana. Ah, aku harus berterima kasih nanti pada Momoi-san."
"Permisi," suara kecil dari udara menggetarkan gendang telinganya. "Maaf, Kagami-kun menginjak sumpitku."
Taiga membeku. Tubuhnya serasa dingin.
Ia bukan tipe penyuka cerita-cerita horor, apalagi mengalami kejadian supernatural semacam ini. Suara tanpa sosok telah meremangkan bulu kuduk Taiga. Sudut matanya menyapu sekitar. Atas bawah, kiri kanan― Tidak ada apa-apa.
"M-masa iya ini suara hantu?" Taiga masih gemetaran, tapi ia berusaha menghibur diri yang ketakutan. "Masa iya atap sekolah ini ada hantunya? Eh, tapi anak-anak di kelas pernah bilang kalau di atap ini memang sering ada kejadian suara entah dari mana, tapi masa sih―"
Racauan Taiga dipotong. Kakinya disentuh tangan dingin. "Permisi."
"UWAAAHHH!"
.
.
.
.
Tetsuna mengerucutkan bibir. Hati kecilnya tersinggung dibilang hantu. "Tidak sopan sekali, berkata seperti itu pada seorang wanita."
Taiga yang terjungkal kaget buru-buru merangkak mundur. "H-HANTU WANITA?!"
Gadis bersurai biru itu menghela napas seraya mengacak rambutnya sendiri. Kejadian seperti ini― terjadi lagi. "Bukan. Aku manusia."
"TAPI TADI KAU TIDAK ADA DI SITU!"
"Aku tadi ada di situ," Jemari pucat menunjuk zona rindang di bawah jalinan anggur. "Aku hendak makan bekal, tapi sumpitku menggelinding, dan jatuh tepat di bawah kaki Kagami-kun. Lalu Kagami-kun menginjaknya." Ia mengangkat sepasang sumpit berlapis plastik sebagai bukti. Taiga mundur lebih jauh, takut jadi korban pembunuhan roh wanita dengan ditusuk sumpit keramat. Apalagi ini hari pertamanya di SMA Teiko Oke itu melantur terlalu jauh. "Aku sudah minta agar Kagami-kun mengangkat kaki agar aku bisa mengambilnya lagi, tapi tampaknya Kagami-kun tidak dengar."
"MATI AKU!" Taiga berseru lagi. "ROH INI SUDAH TAHU NAMAKU."
Tetsuna melempari kepalanya dengan sumpit. Taiga mengaduh kesakitan. Gadis itu tidak suka kekerasan, sebenarnya. Tapi kalau situasi dan kondisi memaksanya … ia bisa bersikap radikal juga. "Aku manusia. Dan tidak ada yang tidak tahu nama Kagami-kun di seantero sekolah ini."
Taiga berkedip. Apa kata roh ini tadi? Dia manusia?
"Tunggu," Si pemuda menggelengkan kepala. "Aku setuju pindah ke sekolah ini karena tidak ada tradisi penyambutan anak baru oleh makhluk-makhluk supernatural—"
"Kagami-kun ini bicara apa, sih?" pelipis Tetsuna berkedut. "Aku Kuroko Tetsuna dari kelas 1-B. Salam kenal."
Oh.
Oh, Taiga mingkem.
"Eh, aah—Jadi, kau manusia? Bukan hantu?"
"Kagami-kun harus bersyukur moodku sedang baik atau kudorong dari atap sampai jatuh."
Taiga berkedip, lalu tertawa garing. Tetsuna membuka bungkus sumpit, menjepit tempura, dan mulai makan. Taiga memilih duduk di sampingnya.
Tetsuna melirik. "Kenapa Kagami-kun duduk di sampingku? Kagami-kun tidak takut kubunuh?"
Taiga langsung mengambil jarak sejauh mungkin. Tetsuna menatapnya agak lama sebelum kemudian meledak dalam tawa.
Taiga mengernyit kesal. "Kenapa kau tertawa?! Aku masih belum sepenuhnya yakin kalau kau itu manusia."
"Maaf," Tetsuna mengusap bibir. "Habis Kagami-kun, walau badannya besar, ternyata penakut."
"Enak saja, salahmu yang bicara seperti itu tanpa emosi. Kau kedengaran seratus persen serius, tahu." Ia melirik gadis itu. Jarak tiga meter terdapat di antara mereka. "Kau bilang siapa namamu tadi? Kuroko?"
"Kuroko. Kuroko Tetsuna."
"Kuroko," mau tidak mau, ia nyengir sedikit. Biar horor, tapi sepertinya Kuroko enak diajak bicara. Dan tempat bajing bekal kalau dia malas masak. "Kau sudah tahu namaku tapi aku akan memperkenalkan diri. Kagami Taiga dari kelas 1-C, salam kenal."
.:xxx:.
"Terima kasih, Midorima-san! Kuharap ramalanmu kali ini sama tepatnya dengan ramalanmu tempo hari! Aku permisi dulu, uangnya akan kutransfer ke rekeningmu."
Siswi itu membungkuk dan berjalan keluar dari ruang sempit yang hanya diterangi temaram parafin. Iris zaitun memandangnya dingin, sebelum sang empunya berdiri dan melangkah ke bagian dalam ruangan.
"Dasar,"
Tangan pucat menanggalkan tudung hitam yang ia kenakan. Kain itu tak banyak menyembunyikan identitasnya, apalagi surai hijaunya yang tak wajar.
"Tentu saja ramalanku benar."
Shiina mengelap bola kaca itu untuk kesekian kalinya, menyimpan kartu-kartu tarot kembali dalam kardusnya, dan batu-batu permata yang barusan ia gunakan untuk menunjukkan peruntungan asmara.
Cih, tanpa sadar ia membatin sinis. Asmara … itu terus yang gadis-gadis remaja zaman sekarang pikirkan. Masa bodoh dengan asmara, sepertinya dunia ini mulai gila.
Atau mungkin, dia yang mulai gila karena tanpa asmara.
"Halo," suara itu bukan miliknya, dan asalnya dari pintu depan. Gadis itu mengernyit kesal.
"Kau tidak bisa membaca? Kami sudah lewat jam buka. Pergilah."
Tidak ada ucapan maaf, Shiina berbalik dan justru menemukan Ketua Dewan Siswa duduk manis di kursi pengunjung dengan senyum tanpa dosa.
"Apa aku masuk pengecualian?"
Shiina menggertakkan gigi. "Akashi."
Ia tidak menunggu jawaban. "Kudengar kau adalah peramal yang hebat," Akashi Seira berucap kalem, satu tangan menyangga pipi. Ekspresinya sangat tertarik. "Bisakah kuminta kau meramal masa depanku juga? Ah, tidak usah memakai jubahmu."
Menurut, Shiina meletakkan kain itu lagi. "Apa yang ingin kau ketahui? Aku tidak yakin kau kemari untuk mengetahui peruntungan cinta."
Seira tergelak. "Yang benar saja, Shiina. Tidak seperti Asoko-chan barusan, aku cukup yakin peruntungan cintaku sendiri tak patut diramalkan. Aku hanya perlu waktu dan sedikit kharisma."
"Kau memperlakukan dia seperti pelayan, Seira. Bagaimana bisa itu disebut kharisma?"
"Setiap orang memandang sesuatu dari sudut yang berbeda. Hitamku bisa jadi putihmu, dan aku tidak ingin kehidupan asmaraku dibicarakan sekarang."
Nada itu bicara final. Shiina memijit pelipis. "Lalu apa? Kalau bukan romantika, rasanya permintaan pengunjung adalah masa depan. Tapi melihat dirimu, rasanya bukan itu juga. Kau sudah tahu masa depan."
"Kau benar," Seira tersenyum tulus. Kerikil rubi yang tertinggal di atas meja ia raih, diperiksanya dengan ketertarikan tinggi. "Aku tidak perlu meramal masa depan."
"Apa kau kemari untuk hiburan semata? Aku meramal, bukan bermain akrobat. Aku tidak bisa kalau kau suruh melempar sembilan batu bersamaan."
"Tidak," Batu merah itu indah, Seira memutar-mutarnya sejenak. "Aku ingin tahu sesuatu yang lebih kuat dari masa depan. Rubi ini cantik sekali, milikmu?" Permata dilempar, ditangkap lagi. Begitu berkali-kali.
"Ya, berhati-hatilah memegangnya, rubi itu rapuh." Shiina mengernyit. "Apa yang lebih kuat dari masa depan?"
Rubi ditarik gravitasi, Seira menangkapnya untuk terakhir kali. "Takdir."
Shiina mengenali ekspresi kosong sahabatnya. Ia mengenali pedih yang terpancar tanpa suara. Ia mengenali emosi yang begitu ia benci, emosi yang amat tak pantas singgah pada wajah anggun Seira. Semua itu karena yang ia sebutkan. Hal kejam bernama takdir.
Insting persaudaraan itu meluap lagi, dan Shiina hanya bisa menghela napas sebelum meraih kotak tarot.
"Aku tidak bisa meramal takdir, tapi aku bisa menunjukkan tiga simbol kehidupanmu. Kaulah yang harus menarik takdirmu dari itu."
Seira bersandar pada sofa, terima. Sang peramal mulai bekerja, menyebar sejumlah kartu di atas meja, sisinya yang seragam menghadap ke luar, dan manik Seira berkilat melihatnya.
"Letakkan kakimu di atas tanah," Shiina menarik napas. Gadis yang lain menurut. "Biarkan energi dari dalam bumi mengalir pada kakimu― mulai dari telapak kaki, naik ke atas. Kau merasakan dinginnya hembusan angin?" Seira mengangguk. "Bagus. Sekarang tarik napas, dan pejamkan matamu. Bawalah ke hadapanmu penglihatan dari impianmu."
Seira menarik napas, sepulas senyum merambah pada bibirnya. Shiina meliriknya sejenak, sebelum kemudian menukar posisi beberapa kartu secara acak.
"Kemudian, tanpa membuka mata, aku memintamu untuk menyentuh tiga kartu. Ikuti kata hatimu, ikuti ke mana ia memerintahkan jarimu untuk berhenti."
Bagai sudah berpengalaman diramal ribuan kali, Seira mendaratkan jemari di atas tiga kartu tak diketahui. Shiina menyingkirkan kartu sisa, lalu mengatur formasi ketiganya.
Seira bersandar kembali. Shiina memulai dengan kartu dari ujung kiri.
"Kau siap?" Shiina mengawasi.
Seira mengangkat bahu. "Baca saja,"
"Ini adalah kartu yang menunjukkan masa lampaumu." Shiina membaliknya. "Kartu Minor, Sepuluh Tongkat. Kau menahan sesuatu, Seira. Beban yang kau bawa sudah terlalu berat. Bila kau menengok ke belakang, sesungguhnya beban yang bukan milikmu pun ikut kau tanggung. Kau patut meminta bantuan pada orang-orang di sekitarmu. Namun tetap, teruslah berusaha dan kau akan berhasil menempuh semua itu."
Seira menelengkan kepala.
"Yang kedua, kartu yang menunjukkan masa kini." Kertas tebal berlukis delapan pedang. "Arcana Minor lagi. Enam Koin. Kesuksesan, status, kekayaan, keadilan, keamanan, kebijaksanaan. Kau mendapatkan semuanya. Kau sudah cukup lama menempuh lorong gelap dan kini kau telah menemui cercahan cahaya di ujungnya."
Ia tidak berkomentar.
"Dan yang terakhir ini adalah kartu yang menunjukkan masa depanmu.
Seira menyamankan diri, tertarik melihatnya. Shiina membalik kartu itu.
Seorang ksatria menunggang kuda di atas tumpukan mayat. Zamrud melebar.
"Arcana Major, Tiga belas," ia memejamkan mata. "Death."
Seira seketika menegakkan pungunggnya. Emas dan merah berkedip dalam serangkaian emosi. Marah, terkejut, kecewa, tak percaya―
"Perubahan besar akan terjadi," Shiina terus bicara. "Sebuah transformasi. Kau akan kehilangan. Atau orang-orang yang akan kehilangan. Tetap ulurkan tanganmu ke permukaan. Kubangan hitam itu menenggelamkanmu, dan kau berada di tengah gulita."
Tangan Seira menyapu semua kartu itu sebelum menghentak pergi. Kalimat dinginnya masih terngiang. Shiina masih membeku di tempatnya. Zamrud menatap nanar pada meja, dan parafin yang tumpah.
Dan muka kartu ketiga belas yang masih terbuka di atas tebaran tarot lainnya. Senyum mayat itu mengejek.
Yang ia takutkan terjadi.
"Aku tidak akan melalui semua itu lagi, Shiina."
Semenjak mempelajari seni astronomal tarot, baru dua kali ia pernah menarik kartu yang paling ditakuti ini. Pertama, sebelum tercerai-berainya keluarganya, dan kedua, adalah hari ini.
.
.
.
[Tbc]
