clearly sky that she can see

A Story by Titania aka 16choco25

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Cast :

Jean Kirschtein, Sasha Braus

Summary : Hari itu, Jean kembali melihat Sasha berlari di bawah langit cerah.

.

iii. soup

Belakangan ini, Jean Kirschtein menghabiskan waktu makan siangnya untuk menemukan batang hidung Sasha yang entah mengapa gemar menghilang entah kemana―dan menghilangnya gadis berambut cokelat tua itu membuat otaknya diliputi tanda tanya besar disertai teka-teki yang membuatnya penasaran. Jean sadar, menghilangnya Sasha, menjadi faktor utamanya tidak berselera dengan makan siangnya. Merepotkan saja.

Gadis berambut cokelat tua itu punya kebiasaan baru beberapa minggu ini. Menghilang saat jam makan siang entah kemana dan ia akan kembali tepat seusai waktu makan siang disertai coreng-moreng hitam di sekujur tubuhnya―hingga muncul desas-desus bahwa gadis itu diam-diam memelihara naga. Jean bertanya-tanya, kebiasaan baru apa yang membuat gadis itu sering menghilang entah kemana? Jean tahu benar gadis itu idiot, tapi bukan berarti gadis itu benar-benar memelihara naga, bukan?

"Kau lihat si gadis kentang?"

Orang pertama yang menjadi sasaran rasa penasarannya adalah Connie Springer. Rekan sejawat gadis kentang itu, dan setahu Jean, Connie adalah orang terdekat gadis itu sepanjang pelatihan. Ayolah, mana mungkin kebiasaan mencolok itu tidak mencuri perhatian lelaki itu? Dan Jean tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin saja Connie tahu kemana menghilangnya gadis idiot itu.

Connie melongo―lagi-lagi pertanyaan itu. Dengan kasar didorongnya gelas airnya menuju ujung meja dan ditatapnya Jean secara eksplisit. "Kau tahu sudah beberapa hari ini kau menanyakan tentang Sasha dan aku lelah memberitahumu bahwa aku sama sekali tidak tahu. Kau puas, Jean?" teriaknya tidak tahan dan Jean diam-diam tertohok mendengar kalimat tersebut.

Kesal, lelaki berambut cokelat gandum itu meninggalkan kursi dengan tangan terkepal.

Lagi-lagi Jean mengacak rambutnya frustasi, tidak mungkin gadis idiot itu memelihara naga.

.

Jawabannya muncul dari ujung ruangan belakang dapur. Asap tebal mengaburkan pandangan sejauh atensinya terfokus. Entah apa itu, yang jelas tidak terdengar dengus napas naga sedikitpun. Jean menghempaskan pintu belakang dapur dengan alis terangkat sekian sentimeter dan sesuai dugaannya―Sasha Braus, berjongkok di depan tungku besar dengan panci tertutup dengan tangan yang tanpa henti memasukkan kayu bakar ke dalam bara api yang menyala dalam hening.

Gadis berambut cokelat tua itu melambaikan tangannya dengan santai, dan Jean―entah refleks atau bukan ikut berjongkok di sebelah Sasha dengan iris cokelat muda yang tertaut.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Sasha mengerutkan kening heran begitu matanya menangkap tatap menyelidik Jean. "Aku memasak." Ia membuka tutup panci perlahan. Cairan kental kekuningan sup beserta potongan sayur dan daging ayam meletup-letup disertai aroma lezat yang memenuhi rongga hidung. Jean menatap sup itu sangsi. Sasha menangkap wajah keraguan itu. Hei, apa Jean tidak percaya bahwa ia bisa memasak? "Belakangan ini aku rindu masakan rumah, jadi aku mencoba membuatnya sendiri. Dan kau sudah tahu tentang hal ini, jadi bagaimana pendapatmu?"

Sebuah sendok sup mengarah tepat ke hadapan hidung Jean dan lelaki itu mendesah.

"Kau ini mau memasak atau memukul orang?"

Sasha merengut. Ditariknya kembali sendok sup tersebut dari hadapan wajah Jean. "Jangan seperti itu," ia kembali berjongkok di depan tungku. "Setidaknya aku ingin kau menjadi orang pertama yang mencicipinya. Sekarang diam dan duduklah, aku sudah mencoba resep andalan ibuku."

Aku ingin kau menjadi orang pertama yang mencicipinya. Jean mengulang kalimat itu dalam hati sebelum membuka mulutnya lagi. Entah mengapa rasanya menyenangkan bila melihat seseorang melakukan sesuatu untuk orang lain. "Kau bisa memasak?" Jean duduk di hadapan meja mahoni yang nampak sedikit berdebu. "Kukira kau hanya bisa mencuri."

"Hh, diamlah kau, tidak lucu." Sasha mengaduk-aduk sup di permukaan panci itu dengan wajah tertekuk. "Yah... meskipun kau tidak sepenuhnya salah, sih. Bahan-bahannya kuambil dari gudang persediaan," tambahnya dengan senyum lebar di bibirnya dan Jean langsung menaikkan alisnya dan menangkupkan wajahnya di telapak tangan. Sudah ia duga sebelumnya, gadis itu tidak akan bisa hidup sedetik saja tanpa mencuri.

"Apa itu sup?" Jean mendongakkan kepalanya. "Atau racun?"

"Tidak lucu." Sasha memutarbalikkan tubuhnya, meraih mangkuk. "Sekarang duduk dengan manis, cuci tanganmu, dan nikmati supmu." Jari telunjuk Sasha mendorong mangkuk berisi sup hangat beserta setangkup roti gandum di atasnya ke hadapan Jean. Lelaki berambut cokelat gandum itu meraih sendoknya kesal.

"Sialan Braus, kau makin mirip ibuku!"

"Diam saja dan nikmati supmu. Enak?"

Hanya terdengar suara kunyahan permukaan roti yang renyah dan perlahan berubah lembek karena bercampur dengan kentalnya kuah sup. Hangat. Harus Jean akui bahwa rasa sup itu tidak begitu buruk, masih bisa ditolerir lidahnya, cukup lezat. Tatap penasaran iris cokelat Sasha yang bekilat memaksanya untuk berhenti makan. Dengan riang, gadis itu menatap Jean antusias―dan cukup menganggunya, karena wajah Sasha tepat berada di hadapan wajahnya, hanya berjarak sekian sentimeter saja.

Dan Jean nyaris tersedak.

"Masakanku enak, 'kan? Fufufu, sudah kuduga kau akan menyukainya!" Sasha tertawa lepas, dan Jean tidak bisa berkata tidak. Oke, lupakan tentang keidiotan Sasha Braus secara total. Sup buatan gadis itu memang enak, dan Jean harus mengakuinya dengan jujur.

"Enak."

Senyum Sasha mengembang.

"... tapi―" Jean mengerutkan keningnya sekian detik. Mencoba mencerna cairan sup dalam mulutnya. "Terlalu asin."

"Be-benarkah?" Sasha mendekat, waspada. Apa ia memasukkan garam terlalu banyak? Seingatnya tidak. Takarannya sudah tepat, tidak mungkin bisa kelebihan. Ditariknya tangan Jean yang sedang memegang sendok berisi cairan sup. "Biar kucicipi."

Tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan saat mencoba mencicipi sup itu. Jean dengan bodohnya malah mendekatkan bibirnya ke ujung sendok bersamaan dengan Sasha yang juga bermaksud mencicipi sup tersebut, sehingga bibir mereka bersentuhan secara samar, dan Sasha membelalakkan wajahnya disertai rona merah tomat yang memenuhi wajahnya disertai Jean yang diam-diam menikmati momen tersebut, karena momen tersebut adalah saat pertama kalinya ia mengecup bibir seorang gadis.

Ada sensasi aneh yang mengggelayuti bibirnya, dan ia menyukainya.

"Jean! Apa yang kau lakukan―astaga! Kau..."

"Tidak sengaja," tukas Jean tidak berperasaan. "Jadi benar, 'kan? Rasa supnya memang asin?"

Mulut Sasha terbungkam dan tidak bisa bicara sepatah katapun.

.

to be continued.