clearly sky that she can see
A Story by Titania aka 16choco25
Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama
Cast :
Jean Kirschtein, Sasha Braus
Summary : Hari itu, Jean melihat Sasha berlari di bawah langit cerah.
.
iv. tea
Secercah cahaya matahari yang ditangkap mata Jean ketika iris itu menyipit kembali bersama derai hujan yang sedemikian derasnya kembali hilang, dibalut oleh altokumulus berbentuk ombak yang kini tersapu warna abu-abu dan disertai gemuruh petir yang sangat keras, membuat lelaki itu termangu untuk beberapa saat. Pohon oak yang menjadi tempatnya bersandar kembali membuatnya tidak nyaman dan ia harus berkali-kali menegakkan posisi duduknya. Ia merasa hampa.
Air hujan yang tiada henti membasahi ranting pohon yang layu bersama daun-daunnya, diiringi dengan perasaannya yang tidak karuan.
Hari ini puluhan nyawa kembali hilang. Penyerangan kyojin secara tiba-tiba membuat banyak tim harus segera mengevakuasi rakyat, disertai serangan secara langsung pada para kyojin yang dipimpin langsung oleh Mikasa Ackerman. Jean tidak bisa berdiam diri saja bila mereka masih berkutat dengan kyojin-kyojin sialan itu. Armin Arlert yang kembali pada mereka dengan jejak air mata di pipinya yang membuat ia marah―Armin membawa berita bahwa Eren Jaeger telah tewas, menjadi santapan kyojin, mengorbankan dirinya untuk menggantikan Armin.
Saat itu Sasha tertunduk tanpa ekspresi. Jean tidak tahu apa yang Sasha rasakan, tapi semua hal ini membuatnya muak. Jean tidak bisa berkorban seperti Eren, tapi setidaknya ia bisa melakukan sesuatu.
Ia bisa memulai penyerangan saat itu juga, jika ia mau.
"Lemah! Bodoh! Pengecut!"
Teriakan bersemangat itu bagai gentar halilintar yang menerjang telinga Jean. Sasha Braus. Gadis itu melesat dengan manuver 3D-nya di antara kyojin-kyojin, mengikuti Mikasa dari belakang, dan Jean tahu ia gagal. Ia membiarkan banyak nyawa hilang dalam sekejap, membiarkan Eren pergi, dan yang paling terpenting adalah membiarkan Sasha menyerang kyojin tanpa perhitungan. Bodoh seperti biasanya. Gadis itu kehabisan gas dan jatuh menghampas tanah. Jean langsung turun ke tanah, merengkuh tubuh Sasha dan membantunya berdiri. Gadis itu berdiri dan langkahnya tertatih-tatih.
Saat itu juga Jean tahu gadis itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jean tidak mau melihat rekannya terluka lagi. Jean benci melihat pemandangan yang sama berulang kali.
Genggaman tangan itu terlepas disertai kedua pasang alis Jean yang menukik tajam.
"Kau kenapa?"
Sasha tersenyum, menggelengkan kepalanya dan berlagak seolah-olah ia baik-baik saja, seperti biasanya, simply irresistable. "Kaki kananku―terkilir. Tapi aku tidak apa-apa."
"Jangan bodoh, cepat naik ke punggungku."
Sasha terperangah. "A-aku berat," katanya, mencoba membuat alasan dengan konyolnya. "Lagipula itu memalukan, dan kau juga mungkin akan keberatan."
Namun Jean tidak bisa menerima alasan apapun dari mulut Sasha saat itu juga. Ditariknya tangan gadis itu mendekat, dan kembali ia berjongkok di hadapan gadis itu, dan Sasha, hanya bisa terdiam.
Jean, dengan implisitnya, membentaknya keras. "Aku tidak peduli. Cepat, gadis kentang!"
Sasha bisa merasakan tengkuk lelaki itu berada di hadapannya―sangat dekat, hingga ia bisa mendengar hela napas yang terlepas dari lelaki itu, aroma rambut berwarna gandum itu membuatnya nyaman, dan gadis berambut panjang itu membiarkan kepalanya terkulai lemas di bahu tegap Jean, membuat lelaki tinggi itu menghela napas panjang, berlari, bersama kedua tangan yang merengkuh kedua kaki Sasha, membawanya pergi untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Sudah kubilang aku berat," Sasha merendahkan suaranya.
"Apa kau tidak tahu biasanya aku berlari dengan dua tas di punggungku?" Jean kembali mengajaknya berdebat, dan Sasha tahu ia akan kalah. "Sudahlah, jika punggungku masih berat, itu tanda bahwa aku masih menggendongmu. Jangan banyak bicara lagi."
Sasha membuka mulutnya ragu-ragu. "Terima kasih, Jean."
"Dasar merepotkan."
―Lelaki itu menggendongnya.
.
Lelaki itu mengembuskan napas dalam-dalam begitu sadar lingkar lehernya telah terlilit syal berwarna hitam yang menghangatkannya berserta kedua pasang iris mata cokelat yang memandangnya beserta kehangatan yang merambat diam-diam, di antara daun-daun yang mencoba menghangatkan burung-burung di dalam sarangnya dan tetes air hujan yang mendera demikian perlahan. Dan sejak awal Jean tahu gadis itu akan datang. Ditariknya napas panjang, dan ia mencoba membuka percakapan baru, namun ia terlalu ragu untuk memulai terlebih dahulu.
Bibirnya terasa berat.
"―Braus."
Gadis itu tersenyum ramah, sambil mengeratkan ikatan syal di leher Jean. Jean tidak menolak saat gadis itu mengeratkan syal di lehernya. Jean terbatuk-batuk kecil.
Syal itu terasa―hangat. Senyuman tipis dari wajah Sasha terlempar. Tatapan saling bertaut.
"Nanti kau pilek, Jean."
Gadis itu bukan bintang utama sejak awal, Jean tahu benar hal itu. Jika di pikirannya Mikasa Ackerman adalah bintang, maka Sasha Braus hanyalah blackhole, lubang hitam yang menyalurkan energi tidak terduga. Namun entah mengapa saat itu sang lubang hitam meledak, dan hasilnya adalah supernova yang merona di antara keheningan. Sasha ada di hadapannya saat ia membutuhkannya. Saat ia merasa dirinya seorang pengecut, atau pecundang yang tidak memiliki nama. Sasha ada untuknya, menemaninya, dan tanpa henti memberinya perasaan tenang.
"Kenapa kau kesini, dasar bodoh, kau mau pilek?" Lelaki itu, masih kasar seperti biasanya, dan Sasha menunduk.
"Karena aku suka Jean. Sangat suka."
Syal hitam itu membelit lehernya ketika melihat tawa lepas Sasha ketika mengatakan hal itu. Bodoh seperti biasanya, benar-benar bodoh.
Dan Jean Kirschtein, membenci kenyataan.
Ia membenci kenyataan bahwa ia tidak bisa melihat sosok Sasha Braus dalam sosok yang lain―selama ini ia hanya melihat Sasha sebagai gadis yang bodoh, rakus, suka mencuri, dan ceroboh―tipikal gadis idiot yang berkali-kali ia temui di manapun. Sayangnya ia tidak melihat Sasha Braus dari sudut pandang yang lain―dan bisakah kini ia melihat Sasha Braus, dengan kesederhanaannya, kebijakannya, kejujurannya, dan kepolosan sifatnya yang alami?
Sekali lagi Jean Kirschtein bertanya tentang hal itu―pada hatinya.
"Kakimu bagaimana?"
Sasha tersenyum tanpa ragu, menatap sudut mata Jean yang bertabrakkan dengan perban di kakinya. "Sudah tidak apa-apa. Apa kau mau ke ruang makan?"
Dan Jean langsung mengangguk saat itu juga.
.
"Kau mau teh?"
Kening Jean bergurat-gurat ketika melihat asap mengepul dari cangkir putih di hadapannya. Sasha menuangkan teh dari teko perlahan ke cangkir putihnya. "Sejak kapan kau mendapatkan teh? Mencuri lagi?" tembaknya langsung dan Sasha langsung tersedak begitu mendengar hal itu. Sungguh, seorang Jean Kirschtein―analisis briliannya perlu diberi tepuk tangan sambil berdiri. Sasha tahu lelaki muka kuda itu bodoh, tapi ternyata nalurinya cukup tajam juga.
"Darimana kau tahu?" Sasha melongo, dan Jean terbahak keras, membuat gadis berambut cokelat panjang itu memajukan bibir bawahnya sekian sentimeter.
"Sudah kuduga sebelumnya. Apa kau tidak bisa menghilangkan kebiasaan burukmu itu, Braus?" Jean menatapnya geli. "Sudah kubilang aku tidak suka barang hasil curian."
"Jangan cerewet dan cepat habiskan tehmu!" Sasha mengangsurkan cangkir putih berisi teh panas ke hadapan Jean dengan kasar. "Sudah kuduga kau akan bersifat menyebalkan. Dan kau benar-benar menyebalkan kali ini. Pokoknya aku membencimu, Jean. Sangat membencimu."
"Hei, apakah saat kau telah berumah tangga, kau juga akan menyajikan teh hasil curian pada suamimu?" tanya Jean spontan, dan Sasha, tersedak kembali untuk kesekian kalinya, dan bibirnya mengerucut.
"Hah―apa maksudmu?"
Jean mendengus kasar. "Jangan bodoh―kulamar kau jika kau masih bodoh seperti itu."
―Kalimat itu kembali terlantun seiring dengan rona merah yang membaur di wajah Sasha dan kedua tatap mata yang saling bertukar satu sama lain, dan mereka saling bertukar senyuman.
"Apa itu sebuah lamaran?"
Telinga Sasha berdenging dengan idiotnya dan Jean hanya bisa memaki-maki dalam hati―demi Tuhan, Jean tahu Sasha idiot luar biasa, namun jangan bilang bahwa diam-diam gadis berambut cokelat tua itu juga menderita amnesia akut. "Menurutmu bagaimana, Sasha?" respon Jean cepat, dan ia bangkit dari kursinya sambil menatap Sasha serius.
Dan sialnya, pipi Sasha merona hebat begitu sadar Jean tidak memanggilnya dengan nama keluarganya lagi.
.
to be continued.
