Begin All

It's Begin With You

Punch

Story by Titania aka 16choco25

Fairy Tail © Hiro Mashima

Pairing : NatsuxLucy

"Namaku Natsu. Natsu Dragneel." Bagi Lucy, senior itu menjengkelkan. Semuanya bermula dari ospek, kemudian rutinitas kampus, dan kegiatan aktivisnya. Namun Lucy sadar, dari seniornya itulah Lucy belajar mengenai banyak hal, mulai dari kehidupan, kenyataan, dan—cinta. Dan ia pun belajar untuk mengubah hal monoton yang ada di hidupnya, menjadi lebih berwarna.

.

.

Lucy hanya bisa terperangah untuk beberapa menit ketika melihat kakak kelasnya itu melahap seluruh makanan yang ada di hadapannya—mulai dari ayam panggang, mie kuah, kue kering, dan ikan bakar. Belum lagi ditambah segelas besar susu dan es jeruk yang masih utuh. Menyadari tatapan Lucy yang sangat menganggu, Natsu menoleh dan menegur gadis berambut pirang itu. "Hei, Luce. Ayo, kau juga makan. Agar kau sehat dan bertenaga! Kau asistenku, bukan? Siap-siap saja, kau akan pergi ke beberapa tempat yang pasti akan menguras tenagamu. Ayo, makan!"

Mata Lucy membelalak. Mau makan apa? Lagipula seluruh makanan yang tadi dipesan Natsu di kantin kampus sudah tinggal seperempatnya. Ia hanya bisa buru-buru menggeleng begitu melihat betapa besarnya ayam goreng itu―dan dia berpikir lemak di perutnya akan kembali bertambah. "Sehat? Yang ada justru aku bertambah gemuk, Bodoh!" omelnya. "Dan satu lagi, namaku Lucy! Bukan Luce!"

Natsu tidak peduli. "Bagiku kau Luce," katanya pelan, lalu ia kembali menyibukkan dirinya dengan melahap semua hal yang ada di hadapannya. Astaga, hingga Lucy melihat dengan mata kepalanya sendiri seluruh makanan itu habis dalam sekejap. "Oh ya, Luce. Hari ini, aku akan mewawancarai pemilik usaha kecil dan menengah sebagai tugas kuliahku. Kalau bisa, kau juga ikut, ya? Tempatnya tidak jauh dari sini. Kau bisa ikut setelah selesai ospek."

Lucy mengangguk saja. Ia malas merespon. Dasar lelaki ini. Seenaknya saja mengubah nama orang.

"Oh, ya." Natsu bangkit dari tempat duduknya. "Aku bayar dulu. Setelah ini kau datang saja ke halaman belakang kampus. Oke?" Lucy mengangguk, dan menyeruput es kakigori yang masih utuh di gelasnya. Membiarkan Natsu pergi dan setelah menghabiskan makanan di piringnya, ia bangkit dan menarik kursinya masuk ke meja. Dan tiba-tiba seorang pelayan menghentikannya.

"Maaf, Anda tadi duduk di meja nomor 14, bukan?"

Lucy mengangguk. "Benar, saya dan teman saya. Ada apa, ya?"

"Lelaki berambut merah muda yang baru saja pergi sepuluh menit yang lalu berpesan untuk menagih seluruh tagihan makannya padamu. Jadi total seluruhnya beserta pesananmu dua belas ribu yen."

Suasana hening sejenak.

"NATSU-sannnn!"

.

.

Saat itu sudah sangat sore—mentari di balik horizon sudah meninggalkan jejak membiru ujung timur. Parkiran pun sudah sepi, hanya dengan beberapa sepeda milik beberapa anggota panitia ospek yang masih sibuk hingga detik ini.

Belum berbicara apapun, tangan Natsu sudah buru-buru ditarik oleh Lucy menuju area parkiran sepeda. "Kenapa kau meninggalkanku beserta tagihan makananmu?" omel gadis berambut pirang itu kesal. "Aku nyaris saja pingsan sebelum aku sadar aku membawa dompet!" Lucy menarik telinga Natsu dengan keras dan tidak memedulikan rintihan lelaki lusuh itu. "Untung saja aku bisa membayarkannya! Sebelum pemilik kantin memaksaku mencuci piring di ruangan cuci kantin!"

Lucy sudah begitu kesal. Hari kedua ospek ia lalui dengan kelam. Sederet tugas baru lagi lagi memenuhi daftar tugasnya. Dan ia terkena hukuman lagi karena lupa membawa nametag. Dan mendadak hukuman seluruh panitia ospek yang cukup mengerikan—Natsu, Gajeel, dan Gray tadi benar benar mencoba membunuhnya dan beberapa detik yang lalu celana olahraga birunya sobek terkait paku.

Great, seems like everything want to kill Lucy slowly.

Natsu menarik tangan gadis itu lepas dari telinganya yang sudah memerah, dengan perut geli luar biasa menahan tawa. "Sabar! Sabar! Itu tes pertama apakah kau layak menjadi asistenku atau tidak! Dan kau lolos tes! Sekarang, asisten, bawakan tasku." Tas lusuh yang sudah nampak kumal langsung mendarat dengan manis di wajah Lucy. Lucy mengepalkan tangannya kesal. Tas itu benar-benar kotor dan—uh, bau.

"Kapan terakhir kali tasmu dicuci? Kumal sekali! Dasar!" teriak Lucy, tidak tahan.

Natsu tertawa sambil mempercepat langkahnya. "Berbulan-bulan yang lalu."

Astaga. Lucy hanya bisa menarik napas panjang.

"Kita mau kemana, Natsu-san?" tanyanya, sambil berusaha menyesuaikan irama langkahnya dengan milik Natsu.

Natsu membalas, "Ke suatu tempat di mana hanya aku yang tahu," sambil mengeluarkan sebuah sepeda dengan tempat duduk di belakang.

Lucy menaikkan alisnya. "Dengan sepeda?"

"Tempat itu tidak bisa dijangkau bus atau kereta, jadi, yah, terpaksa pakai sepeda." Natsu menanti reaksi lain gadis di hadapannya, namun malah mengerutkan bibir ketika ekspresi kaget di wajah cantik itu tak berubah. "Apa? Kau mengharapkan limousine atau motor sport? Maaf membuatmu kecewa, Tuan Putri. Tapi hamba tidaklah sekaya dirimu."

Bukannya tersinggung, Lucy malah terkekeh. Ia menempatkan diri di belakang Natsu setelah menaruh tas Natsu di depan keranjang dan berkata, "Bukankah tidak boleh mengendarai sepeda berboncengan?"

"Tidak jika tidak ketahuan."

Ringan saja bagi Natsu mengucapkan hal itu.

Mereka bersepeda menelusuri gang-gang di tengah kota menuju pinggiran Tokyo. Selama itu, Lucy melewati setiap detik perjalanan, setiap kelopak sakura yang berjatuhan, setiap desiran angin yang menerbangkan rambutnya, setiap tarikan napas yang membawa harum khas Natsu, dan setiap kesempatan ketika tangannya harus menggenggam erat bagian perut kemeja Natsu ketika melewati tikungan.

Tanpa terasa semua hiruk pikuk kota sudah tak terjamah. Mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana berlantai dua, yang bagian bawahnya digunakan untuk toko roti. Lucy langsung menyadari di mana ia setelah melihat nama toko yang tertera di etalase, Rainbow Bakery. Natsu kembali menarik tangannya melewati area toko dan memasuki bagian rumah. Mereka langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya dan gadis kecil dan anak lelaki kecil berambut merah muda yang berwajah mirip sang ketua senat, bahkan ketika masih berdiri di depan toko.

Toko kue?

"Aku pulang!" Natsu melambaikan tangannya dengan ceria, dan buru-buru menarik tangan Lucy masuk ke dalam toko kue itu.

Dragneel sulung langsung menjelaskan intensinya pulang lebih awal dengan tergesa-gesa, "Ibu, aku harus mengerjakan tugas. Membuat makalah mengenai usaha kecil dan menengah. Jadi aku harus mewawancara Ibu sebagai pemilik usaha kecil dan menengah—tidak perlu jauh-jauh, bukan? Oh ya, Ibu, ini Luce. Luce, ini ibuku, dan dua anak tengil di ujung sana—mereka adik-adikku. Yang manis itu namanya Luna, dan makhluk nakal itu namanya Rei." Natsu sedikit menoleh pada Rei yang tersinggung disebut 'makhluk nakal'.

"Apa kau pacar Natsu-niisan?" tanya Luna, anak bungsu dari tiga bersaudara itu dengan wajah polos.

Lucy menegang, diam-diam bersemu. Lucy langsung menyadari pipinya berubah merah, namun enggan memalingkan wajah karena tak sopan. "A-aku Lucy Heartfilia, adik kelas Natsu-san. Salam kenal, Bibi."

Rei Dragneel, si anak kedua dari tiga bersaudara, langsung menyikut kakak laki-lakinya yang tak kunjung beraksi. "Natsu-niisan, jangan membuatku malu di depan wanita cantik ini. Lagipula mana mungkin Natsu-niisan punya pacar. Kencan saja tidak pernah. Mungkin para gadis takut padanya."

"Justru kau yang membuatku malu, bocah tengik!"

Pertengkaran singkat itu terhenti setelah sang kakak mendaratkan tinju kecil di kepala adiknya. Lucy hanya terkekeh mendengar pertengkaran kecil itu. "Toko ini milik Bibi? Cukup bagus dekorasinya," puji Lucy begitu melihat dekorasi ruangannya yang sederhana, namun membuat orang nyaman berada di dalamnya. Deretan berbagai jenis kue tersusun di hadapan Lucy dengan tata pencahayaan yang bagus. Dan sesuatu yang menarik perhatian Lucy adalah kotak musik klasik yang ada di dekat meja kasir. Ia memainkan kotak musik itu dan sadar bahwa lagu klasik Fur Elise sedang mengalun dari kotak musik itu.

Sang ibu dari Natsu Dragneel tersenyum. "Rapi, bukan? Semuanya Natsu yang mengurus. Ia juga yang membeli kotak musik klasik yang sedang berada di tanganmu itu."

Lucy sama sekali tidak menyangka bahwa Natsu pandai memilih barang bagus seperti kotak musik klasik yang ada di tangannya itu. Mata Lucy sejenak terfokus pada boneka penari balet yang memutar-mutarkan badannya di kotak musik klasik itu, sementara Natsu sibuk mewawancarai ibunya dan tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan mengagetkannya. Lucy langsung meraih ponselnya kesal. Ia melihat layar ponselnya. Imayoshi Keisuke? Sejak kapan bawahan ayahnya itu menghubunginya? Langsung saja Lucy mengangkatnya dengan buru-buru setelah melarikan diri ke depan rumah Natsu.

"Dengar, Imayoshi-san. Aku sedang sibuk sekarang. Bisa kau tidak meneleponku dulu?" kata Lucy pelan.

"Tapi ini penting, Lucy-sama. Ayah Anda yang meminta saya menghubungi Anda, dan bisakah Anda datang ke perusahaan ayah Anda di Jepang? Anda tentu sudah tahu tempatnya, bukan? Oh ya, Anda tidak boleh mengenakan seragam kesana. Hanya itu yang bisa saya beritahu." Lucy mendesah. Bawahan ayahnya itu terlalu memakai bahasa yang sangat baku. Lagipula siapa dia? Kenapa dia memaksanya untuk melakukan sesuatu yang ia tidak suka? Ia benci hal itu.

"Bagaimana, Lucy-sama?"

Lucy menghela napas berat sebelum menjawab.

"Baiklah. Aku akan ke rumah terlebih dahulu. Aku akan tiba disana dalam waktu yang sedikit agak lama." Lucy mematikan sambungan dan tiba-tiba saja sosok Natsu Dragneel muncul di hadapannya. Ia nyaris terlonjak karena kaget. "Na-natsu-san? Sejak kapan kau berada disitu?!" teriaknya kaget, dan lelaki berambut merah muda itu mengangkat tangannya, tersenyum.

"Maaf. Kupikir tingkahmu agak sedikit aneh saat melihat ponsel, jadi kubuntuti karena aku khawatir. Tapi… sungguh, aku tidak mendengar apapun tadi! Sungguh!" kata Natsu dengan wajah tanpa dosanya. Lucy menghela napas lega. Ia percaya. Tidak perlu alasan lagi untuk tidak mempercayai Natsu. "Lagipula," Natsu menengadahkan kepalanya, menatap langit yang sudah nyaris gelap. "Sudah cukup malam, kupikir kau butuh tumpangan, jadi… aku akan mengantarmu."

"Me-mengantarku?" Wajah Lucy sudah memerah sebelum Natsu meraih tangannya dan mendudukkannya di kursi belakang sepedanya.

"Di mana rumahmu? Akan kuantar pulang."

"Dengan sepeda? Tidak usah. Sampai stasiun saja."

"Setahuku kau jarang naik kereta. Kuantar langsung ke rumah saja."

"Kau tahu darimana aku jarang naik kereta?"

"Insting."

Lucy tak kuasa untuk mengelak lagi. Ia menyandarkan kepalanya pada punggung lebar Natsu, memejamkan mata, dan berbisik pelan, "Terserah padamu, Natsu-san." Diam-diam, Lucy juga menikmati kehangatan yang merambat dari lelaki itu. Entahlah. Seperti ada sesuatu yang mendorong Lucy untuk memberanikan dirinya merangkul pinggang Natsu seerat mungkin.

Setelah bersepeda sekitar dua puluh menit, Natsu menghentikan laju sepeda setelah Lucy menepuk pundaknya dan berkata, "Itu dia." Pemuda itu tertegun menatap bangunan besar bergaya Victorian di balik tembok besar dan sepasang gerbang besi. Lucy meloncat turun, berdiri di depan gerbang, dan tersenyum menatap seniornya itu yang masih tidak bergeming di temaram lampu jalan.

"Natsu-san."

"Ya?"

Mata mereka bertabrakkan, seperti deviasi asteroid beserta komet di angkasa sana.

Ketika ditatap balik, Lucy merasa kalang kabut. Ia sempat mengalihkan pandangan ke samping, sebelum diam-diam meremas bagian belakang kaosnya, mengatur napas, dan berkata dengan nada pelan, "Terima kasih untuk hari ini. Sampai ketemu besok."

Natsu meraih stang sepedanya. "Ah, ya. Sampai jumpa besok. Hari ospek terakhir."

Dan ia memutar sepedanya, kemudian melaju pergi.

.

.

Lucy lelah.

Ia melangkahkan kakinya sendiri, menutup gerbang rumahnya pelan-pelan. Setelah menyelesaikan tugas hukuman gila dari Gray—mengenai makalah basket, ia buru-buru berganti baju dan berangkat menuju perusahaan ayahnya di Jepang. Ia ingat betul. Ia harus berjalan sekitar lima ratus kilometer dari rumahnya untuk mencapai Stasiun Kenbashi dan berangkat menuju Asakusa menggunakan shinkansen. Namun berjalan sendirian di tengah malam seperti ini—membuatnya agak sedikit takut.

Biar bagaimana pun Lucy tahu tingkat kriminalitas jalan raya di Jepang cukup tinggi. Tak jauh berbeda dengan Amerika. Banyak wanita Jepang yang menjadi korban pelecehan seksual—entah itu di bus atau tempat mengantri karcis. Dan masih banyak hal lainnya yang sejujurnya membuat ia—agak sedikit takut.

Angin malam bertiup perlahan membuat Lucy sedikit menggigil. Bodohnya, ia tidak membawa jaket. Yah, dapat diwajari, ia buru-buru dan ingin bergegas sampai ke perusahaan ayahnya itu dengan secepat mungkin. Namun ia merasakan tatapan mencurigakan dari sudut jalan, seperti ada seseorang yang memerhatikannya dengan begitu tajam. Dan langkahnya langsung terhenti begitu merasakan tangan seseorang memegang lengan kanannya dari belakang. Ia menoleh ke belakang dan astaga—ada tiga orang pria berbadan besar yang tengah memandangnya sambil tertawa dan menariknya ke ujung jalan yang begitu sepi.

Mata Lucy membesar. Kaget sekaligus ketakutan bergumul di dadanya.

Mereka nampak seperti orang yang tidak baik. Seluruh tubuhnya dihiasi dengan tato-tato bergambar mengerikan. Otot mereka terlihat di balik kaus oblong mereka yang tak muat dengan ukuran badan mereka. Bekas-bekas botol alkohol dan anggur yang sudah terbuka ada di tangan mereka masing-masing. Lucy menggertakkan giginya. Ia sedikit takut, namun ia harus bisa melarikan diri, entah bagaimana caranya. Genggaman salah seorang dari mereka mencekal tangan Lucy dengan begitu keras, hingga Lucy begitu sulit meronta untuk melepaskan genggaman itu.

"Siapa kalian?!" Lucy berusaha menggertak, dan seseorang dari mereka, yang sedang memegang lengan Lucy, menenggak minuman kerasnya dan tertawa terbahak-bahak dan mendekati wajah Lucy. Astaga. Bau alkohol menyengat.

"Tak penting siapa kami. Yang penting…" Lelaki itu melempar botol minuman kerasnya dari tangan kirinya dan menyentuh wajah Lucy dengan teramat pelan. Lucy menggertakkan giginya, meronta, namun cekalan lelaki itu menghambat pergerakkan tangannya untuk melarikan diri. "Adalah siapa kau. Siapa kau, pirang? Hm… kau orang asing? Bisa berbahasa Jepang?" Mata lelaki itu menatap Lucy begitu lekat sementara kedua rekannya tertawa-tawa sambil menenggak minuman mereka masing-masing.

"Jangan sembarangan menyentuhku!" Lucy mencoba melepaskan tangan lelaki itu, namun sulit.

Lelaki itu menyipitkan matanya, dan kembali tertawa. "Jadi kau bisa berbahasa Jepang! Berikan aku nomormu. Akan kuajak bermain kapan-kapan."

"Aku tidak mau." Lucy mencoba bersikap tegas dan menepis tangan kotor itu dari wajahnya. Dan disahuti tawa membahana dari ketiga lelaki itu.

Namun tiba-tiba lelaki itu meraih Lucy ke dalam pelukannya dan Lucy tak kuasa menolak karena salah seorang dari mereka membekap mulutnya sebelum ia berteriak, namun tiba-tiba iris cokelat Lucy melihat lelaki berambut merah muda dari sudut jalan berlari dan menghajar lelaki brengsek yang tengah memeluknya dengan erat. Lucy butuh sedetik kemudian untuk menyadari sosok penyelamatnya itu.

Natsu Dragneel.

Lelaki pertama terkena tinjuan Natsu. Namun kedua rekan mereka tidak akan diam. Mereka menahan Natsu ke dinding, dan lelaki yang baru saja memeluknya meninju wajah Natsu terus-menerus. Wajah Natsu mememar. Lucy mendesis, sakit. Namun begitu melihat darah yang keluar dari bibir Natsu, ia tidak bisa diam saja. Ia melirik barang-barang di sekitarnya, dan ia melihat batang kayu di dekat kakinya, ia buru-buru meraihnya dan memukul kedua rekan lelaki berandal itu sekaligus. Dan mengesankan, Natsu menyeka darah di bibirnya dan langsung menendang selangkangan lelaki berandal yang mencoba menyentuhi Lucy itu.

"Ini untuk Luce, bodoh!"

Lelaki itu terjengkang. Sebelum lelaki itu mendapatkan kembali kesadarannya, Natsu melayangkan tinjunya dan lelaki itu langsung tidak sadarkan diri. Natsu buru-buru menarik tangan Lucy keluar dari gang sempit itu dan mereka menuju taman tempat Natsu memarkir sepedanya. Mereka duduk di kursi taman. Natsu mendesis, dan Lucy menarik wajahnya.

Menyeka darah di bibir Natsu dengan sapu tangannya.

"Kau mau kemana malam-malam sendirian?"

Lucy menarik napas kesal. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Kenapa kau belum pulang?"

"Aku berbelanja, Luce," kata lelaki itu berat.

"Lalu mana belanjaanmu?" Lucy melirik sepeda Natsu. Tidak ada kantong belanjaan disana.

"Ah, mungkin tertinggal di toko tadi." Natsu memalingkan wajahnya. "Biarkan saja. Jawab dulu pertanyaanku : Untuk apa kau pergi malam-malam sendirian?"

"Ke perusahaan ayahku."

"Kenapa tidak bersama supirmu?" tanya Natsu lagi.

"Supirku tidak ditugaskan malam! Aku harus berangkat sendiri naik shinkansen."

"Kenapa tidak menghubungiku?" Mata Natsu mengerling tajam.

"Mana aku tahu nomor ponselmu?! Kau saja belum memberikannya padaku! Lagipula untuk apa aku menghubungimu?!" teriak Lucy tidak tahan.

Natsu merampas ponsel yang ada di kantong rok Lucy dan mengetikkan nomornya di ponsel itu. Lalu kembali menyerahkan ponselnya pada Lucy. "Hubungi aku kalau kau merasa perlu dan membutuhkanku. Sekarang," Natsu bangkit dari duduknya dan meraih stang sepedanya. "Ayo, naik. Aku akan mengantarmu hingga stasiun sampai kau masuk kereta."

Lucy hanya bisa menatap seniornya itu dengan perasaan haru.

Sepeduli apa Natsu pada dirinya?

.

.

To be continued.