Begin All
It's Begin With You
His Name Is Sting Eucliffe, Right?
Story by Titania aka 16choco25
Fairy Tail © Hiro Mashima
Pairing : NatsuxLucy
"Namaku Natsu. Natsu Dragneel." Bagi Lucy, senior itu menjengkelkan. Semuanya bermula dari ospek, kemudian rutinitas kampus, dan kegiatan aktivisnya. Namun Lucy sadar, dari seniornya itulah Lucy belajar mengenai banyak hal, mulai dari kehidupan, kenyataan, dan—cinta. Dan ia pun belajar untuk mengubah hal monoton yang ada di hidupnya, menjadi lebih berwarna.
.
.
"Natsu, ada apa dengan wajahmu? Natsu?!"
Natsu, masih menggandeng tangan Lucy, menoleh pada Gray yang sejak tadi memanggilnya tanpa henti sejak ia mulai berjalan dari koridor kampus hingga kantin sekolah. Astaga, lelaki keras kepala itu. Sejak ia melihat penampilan Natsu dengan wajah memarnya, ia terus-menerus berteriak khawatir dan ingin rasanya Lucy menyumpal mulut besarnya itu dengan gulungan kertas di tangannya sebelum Natsu berbalik badan dan menatap Gray dengan tatapan kau-siap-mati-bila-kau-masih-berisik dan merengkuh kerah baju Gray dengan kesalnya.
"Berisik kau, Gray! Biar kuberitahu : aku melawan langsung tiga orang sialan yang berusaha menggoda Luce kemarin! Dengar baik-baik!" seru Natsu kesal dan mata Gray langsung membelalak kaget, ia kesal setengah mati.
"Apa?" teriak Gray keras. Lucy mengira Gray akan memarahi Natsu habis-habisan karena kebodohannya itu—melawan pelaku kejahatan jalanan yang jumlahnya tidak sedikit, namun siapa sangka, Gray malah berkata, "Bodoh! Kenapa kau tidak mengajakku untuk menghabisi mereka? Tiga orang kau lawan langsung?! Kau ini! Lihat, kau sampai memar begini! Mau jadi sok pahlawan, Natsu?! Berapa pukulan yang kau terima?"
"Mana mungkin aku mengajakmu, 'kan, Bodoh!"
"Kutanya, berapa pukulan yang kau terima?!" Gray mengulang pertanyaannya dengan nada membentak dengan menyilangkan kedua lengannya di dada. Lucy tahu, lelaki itu marah besar.
"Yah, sekitar sepuluh pukulan."
"Lalu apa yang kau perbuat pada mereka?" tanya Gray lagi.
"Aku membuat mereka terkapar pingsan," jawab Natsu santai.
"Bagus, kau memang temanku! Kau tidak bohong, bukan?"
"Tentu saja!"
Orang-orang ini.
.
.
Hari-hari pun berlalu dengan banyak hal baru dan tidak terduga. Terlebih bagi para murid baru yang harus siap mental, hati, pikiran dan fisik menghadapi seribu satu hujatan senior yang dilayangkan tanpa henti pada mereka. Hari terakhir masa orientasi dipenuhi dengan promosi dari berbagai macam ekskul di universitas. Para murid baru mendapat angket ketertarikan minat yang harus diisi tentang ekskul yang akan mereka ikuti. Mereka harus menyerahkan angketnya besok ke ruang klub dari ekskul yang diminati.
Jangan salah sangka, para senior juga tak kalah sibuk terutama anggota-anggota panitia ospek. Bahkan, bisa dibilang merekalah yang paling diuji di acara tahunan ini. Seksi Perlengkapan harus bersiap jauh-jauh hari, bahkan di hari-H mereka masih harus bekerja ekstra dengan banyak properti. Seksi Acara tentu sibuk menyusun jadwal penyelenggaraan. Dan para anggota inti panitia ospek dan panitia matrikulasi? Haha, mereka sudah seperti setrika karena terus mondar-mandir di sekolah.
Sosok Natsu Dragneel tentu saja menjadi bagian dari segala kesibukan itu, bahkan bisa dibilang poros dari segalanya. Ia harus terus-menerus mengawasi setiap acara, ekskul, kelas, bahkan panitia dan anak-anak buahnya agar berjalan sesuai rencana. Maka tak heran, di antara sekian banyak panitia, ialah yang paling dikenal para junior bukan hanya karena paling sering berkeliaran, namun juga karisma dan pembawaannya yang mencolok—dan jangan lupa, ialah orang yang dibuntuti oleh seorang gadis berambut pirang manis yang bertindak sebagai asistennya, yang juga merupakan peserta ospek tahun ini, Lucy Heartfilia.
Gadis yang benar-benar mendapat kesialan saat hari pertama ospek. Hh, mimpi apa ia semalam? Sampai hari ketiga ia masih menjadi asisten Natsu. Dan ia sudah cukup frustasi dibuatnya. Bagaimana selama satu tahun ajaran? Bisa-bisa ia dibuat mati. Lucy lebih baik mendapat ramalan kuil dengan hasil kesialan berturut-turut dibandingkan harus bersama Natsu—si pembuat masalah dan kesialan sepanjang hari.
Oh, Lucy sudah nyaris pusing bila Natsu masih menyuruhnya membuntutinya kemanapun untuk mengatur berbagai hal. Belum lagi saat ia mengikuti baris-berbaris. Dan sederet daftar tugas baru mulai memenuhi pikirannya. Belum lagi ketika Natsu mengatur segala hal yang sebenarnya bukan urusannya, ia harus siap dimintai pendapat tentang apapun yang sebenarnya ia tidak tahu. Seperti saat ini.
"Dekorasi klasik atau modern?" Natsu bertanya tentang tema panggung festival kampus saat itu.
"Modern," jawab Lucy cepat.
"Band atau penyanyi solo?" Kini penampilan utama.
"Band."
"Apa kita akan tampil saat penutupan matrikulasi minggu depan?" sela Gray, memotong omongan Lucy dengan cepat, dan sang ketua senat—mendiamkan sahabatnya itu, menahan mulutnya untuk berpikir sejenak dan kemudian menatap Gray dengan tajam. Lucy menatap Natsu heran. Pertanyaan Gray tadi itu—apa kita akan tampil—maksudnya mereka punya band? Lucy saja sudah menganggap pendengarannya rusak begitu mendengar hal itu. Mustahil, orang seperti Natsu berbakat dalam bidang musik? Memangnya siapa dia? Ketua senat, anggota band, apa lagi kehebatan yang ia punya?
Natsu, mengulur waktu, dan tersenyum kecil.
"Tentu saja, Gray."
.
.
Mereka digiring memasuki gedung olahraga raksasa di tengah-tengah area sekolah. Setelah dipersilahkan duduk, tiba-tiba lampu dimatikan. Dalam hiruk pikuk kebingungan, petikan gitar dari stereo memenuhi setiap sudut ruangan, kemudian sebuah lampu sorot menyala di atas Natsu yang mengenakan v-neck biru tua. Lalu sebuah suara yang mendesah pelan ikut meramaikan, dan tampillah Natsu di bawah sorot lampu berwarna merah, menggunakan celana jeans dan pakaian bebas, sedang memegang mikrofon tepat di depan bibir.
"My Baby, Sweet Baby
I see you smiling when I close my eyes
'cause I miss you, I need you right now…"
Teriakan membahana terdengar, terdominasi suara tinggi perempuan.
Kalimat-kalimat bahasa Inggris yang disenandungkan Natsu terpampang jelas pada proyektor yang mengarah ke panggung, menimpa dirinya beserta anggota band lainnya, berlarian dalam detik-detik yang cepat.
"Tadaima" moroku ni ienakute gomen ne
Never knew I'd make you feel lonely
Kuchiguse no "tsukareta" mo boku wa iisugi dane…
Kaeri wo matsu hou ga tsurai no ni…"
Barulah gebukan drum menggetarkan seisi ruangan, bersamaan dengan Gray yang akhirnya ikut tersorot sinar panggung, dan Gajeel yang berdiri di sisi kiri panggung sambil memainkan bass.
Desahan ketika Natsu mengambil napas dalam menggetarkan bulu roma setiap gadis.
"My baby, sweet baby, oh!
Itsumo sunao ni dekinai boku wo
Anata wa yasashiku tsutsunde kureru yuiitsu no hito dayo…"
Ada suatu titik jauh di dalam diri Lucy yang merasa bergetar dan hangat mendengar kalimat terakhir. Ia seperti merasa―lagu ini untuknya. Tapi, mungkin saja seluruh perempuan di ruangan ini juga merasakan hal yang sama, bukan? Ia jangan berbesar rasa dulu. Bagaimanapun, saat itu, lagu ini tidak mempunyai arti baginya.
"The world's in a hurry
Bokura no jikan wa tomete okou
There's nothing to worry
Toki wa bokura wo tsuresare wa shinai yo!"
Petikan gitar elektrik yang indah dari Gray mengiringi berakhirnya lagu. Sontak semua penonton yang tadi melebarkan mata dengan takjub, berdiri dan memberikan tepukan tangan meriah. Keempat orang di atas panggung lantas tersenyum sumringah, terutama Gajeel yang malah sudah tertawa bangga. Namun semua keributan itu mereda seiring deheman pelan Natsu di depan mikrofon. Pandangan lelaki itu menyapu bersih sudut orang di hadapannya.
"Selamat pagi, semua. Saya berdiri di sini bukan sebagai Ketua Senat, tapi anggota senior dari klub musik," ujar Natsu, "Ketuanya Gray Fullbuster, gitaris," ia menunjuk Gray yang berdiri di sisi kanan panggung, yang hanya melambai sekilas ketika ditunjuk, disertai jeritan histeris para gadis. "Bassist-nya Gajeel Redfox dan drummer Laxus Dreyar. Yah, walaupun masih ada beberapa anggota lagi yang berhalangan tampil, seperti Mirajane Strauss di keyboard, Juvia Lockser di biola, dan masih ada lagi. Nah, saya sendiri vokalis di sini."
Bisik-bisik terdengar, bersamaan dengan aura bunga-bunga yang melambung tinggi dan senyum-senyum sumringah.
"Kami membutuhkan talenta-talenta baru yang benar-benar mencintai musik. Kami akan mengadakan seleksi yang ketat pada setiap angkatan, dan kalian yang terpilih setidaknya harus bisa bernyanyi dan memainkan satu alat musik. Jadi yang hanya ingin menumpang tenar atau mendekati senior-seniornya, maaf saja, bukan di sini," lanjut Natsu cepat.
Ruangan langsung sunyi senyap.
Para gadis yang sudah berkhayal dapat dekat dengan para senior tampan selama setahun, langsung membungkam mulut rapat-rapat.
Hanya saja, Lucy Heartfilia yang duduk di barisan paling depan masih tak merubah ekspresi. Pikirannya tidak terganggu apalagi merasa kecewa. Malah, ia percaya diri bisa masuk klub impiannya ini. Karena, yang diincarnya bukan ketenaran, gemerlap panggung, atau penghuni-penghuninya. Yang ia inginkan adalah lebih banyak waktu tenggelam dalam musik.
Tapi bagaimana jika tidak ada yang mau bergabung?" tanya seorang gadis dari deretan panggung tengah.
Pertanyaan itu dibiarkan menggantung oleh Natsu, ia memilih untuk berpikir sambil mengedarkan pandangan ke bawah, pada segerombolan manusia yang duduk lesehan tanpa mengalihkan mata darinya. Dan mata itu pun akhirnya berlabuh pada satu direksi, pada sosok berambut pirang panjang yang duduk di deretan baris paling depan yang membalas menatapnya tajam.
Natsu tersenyum tanpa ragu.
"Pasti ada."
.
.
Jari-jemari itu menari-nari memainkan beberapa kord piano. Mencoba mencari-cari nada yang pas untuk lagu yang sedang didengarkannya. Ia menggumamkan sebait lagu dengan lirih, sangat lirih hingga ia begitu menghayati lagu yang ia nyanyikan. Nyanyiannya berhenti sejenak begitu mendengar suara derit pintu dan muncul siluet gadis itu, gadis yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi. "Asisten? Kenapa kau mendadak ada di sini?"
Seingat Lucy, kali ini sudah kedua kalinya ia mendengar Natsu bernyanyi. Dan ia pikir tidak buruk juga, bahkan suara Natsu cukup bagus. "Mencoba bermain piano, Natsu-san?" tanyanya jenaka sambil menyodorkan angket ketertarikan minat yang sudah agak sedikit kusut. Natsu menoleh, dengan posisi fingering di atas tuts piano. Ia menekan tuts piano di hadapannya secara asal.
"Jadi kau mencoba mendaftar klub musik. Apa kau yakin?"
Lucy mengangguk tanpa ragu.
Ketertarikan Lucy pada klub musik memang sudah dimulai sejak ia tahu klub musik universitas ini sering meraih juara. Yah, siapa sangka pula bahwa ketua klub musik yang ia kagumi adalah orang menyebalkan seperti Natsu Dragneel. Dan terlebih lagi, ia tertarik karena ia punya bakat.
Waktu kecil ia memang pernah diajari musik, namun tidak mendalam dan intensif karena ayahnya lebih menekankan pada kepemimpinan, bisnis, dan akuntansi. Barulah ketika SMP, ia mengenal piano ketika diajak berkunjung ke konser tunggal seorang pianis mancanegara. Dan ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada piano. Tuts hitam dan putih yang membuatnya berdebar.
Ia langsung jatuh cinta pada piano. Bahkan, ia meminta ayahnya untuk membelikan piano. Empat tahun lamanya ia terus-menerus merengek pada ayahnya untuk membelikannya piano sampai ayahnya luluh. Hingga puncaknya, ayahnya marah besar dan memarahinya dengan tegas. "Musik tidak memberimu apapun! Musik hanya sebatas omong-kosong saja, Lucy!" bentak ayahnya saat itu dan Lucy hanya berusaha menahan emosinya dalam-dalam sebelum akhirnya ia menekan secara asal tuts piano di hadapannya dengan kesal.
Piano bisa menemaninya di kala sedih, menghilangkan kefrustasiannya, dan melampiaskan kemarahan. Jemari-jemari gadis berambut pirang itu kini telah terbiasa meloncat dari satu tuts ke tuts yang lain. Karena kecintaannya itu sebuah mimpi kecil pun tumbuh. Ia ingin menjadi seorang pianis profesional dan menggelar konser tunggal seperti pianis asing yang dilihatnya dulu. Namun mimpi itu harus teredam, karena ayahnya dengan marah berkata, "Seni tidak menghasilkan apapun! Apa yang diketahui bocah sepertimu tentang musik? Kau sudah berjanji untuk menjadi penerus Ayah, dan kau harus fokus pada itu."
Saat itu Lucy hanya menunduk—ia merasa agak sedih, kecewa, sakit hati dan hampir menangis.
Apa salahnya untuk memiliki mimpi?
Maka dari itu, keputusan untuk masuk klub musik tidak ia beritahukan kepada siapapun, terutama ayahnya—ini rahasia yang lainnya dari Lucy Heartfilia.
Dan rahasia terpenting—ia sebenarnya tidak yakin, tapi sepertinya ia telah menyukai seseorang.
Lelaki ini, di depannya, yang sejak semenit yang lalu sudah menatapnya dengan intens ketika memainkan Fur Elise, yang mengerutkan bibir ketika duduk memeluk sandaran kursi. Lelaki ini, yang sejak kali pertama Lucy melihatnya, Lucy langsung merasa tertarik padanya karena hal yang bisa dibilang aneh. Sosoknya yang unik. Jari-jarinya berhenti menekan tuts piano, dan Lucy akhirnya mendongakkan kepalanya, menatap Natsu, meminta pertimbangan.
"Bagaimana, Natsu-san?"
Natsu memiringkan kepala sambil menatap Lucy. "Bagus. Aku tidak menemukan kesalahan. Sudah berapa lama kau bermain piano?"
"Sekitar dua atau tiga tahun."
Ada jeda untuk Natsu melebarkan manik hitam matanya. "Bohong."
Pernyataan itu membuat Lucy yang sempat terfokus pada jemarinya yang menekan-nekan tuts piano secara asal, berkedip dan berpaling. Ia menatap lelaki berambut merah muda itu yang terlihat berkilauan di bawah sinar mentari sore, menatapnya. Lucy tersenyum. "Tidak."
Natsu mengerjapkan matanya sekali. "Lucy, kau diterima," katanya langsung.
Dan rasa senangnya ketika hanya berdua dengan Natsu, ketika lelaki berambut merah muda itu memujinya, adalah sebagian dari rahasia kecilnya.
.
.
Lucy lelah.
Sudah seharian ia menghabiskan waktu untuk menemani Natsu berkeliling lapangan. Ia selalu menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ia kuat dan bisa melakukan apapun. Tanpa sadar tubuhnya melemas dan kakinya seakan tak kuat lagi menopang kedua kakinya hingga ia terjatuh dan kehilangan kesadaran. Yang ada di hadapan matanya hanya warna hitam. Tanpa sadar pula seorang lelaki berambut pirang mengangkat tubuhnya, memasuki ruang kesehatan.
.
.
"Bangun."
Mata cokelat itu setengah terbuka.
"Kumohon, bangunlah."
Celah matanya menangkap cahaya. Dan—sesosok lelaki? Natsu?
Guncangan di bahunya semakin keras. Lucy langsung terduduk, jantungnya berdetak amat kencang. Seakan-akan ia baru saja mengalami mimpi buruk, keringat dingin menyusuri pelipisnya, dan napasnya juga terengah-engah. Apa yang barusan terjadi? Mengapa ia ada disini? Siapa pemuda berambut pirang itu? Ia kira Natsu, astaga. Mengapa ia bisa ada di ruang kesehatan? Sedetik kemudian Lucy sadar bahwa ia pingsan di depan ruang rapat tadi.
"Ah, syukurlah kau sudah bangun."
Mata Lucy langsung membulat begitu mendengar suara lelaki itu. Bukan, Lucy, dia bukan Natsu Dragneel.
"Si-siapa?" Lucy memasang sikap siaga, tapi nyatanya lelaki itu tidak melakukan apa-apa padanya. Gadis itu semakin panik, ditatapnya pemuda itu dengan tajam. Lelaki itu menatapnya serius.
"Jangan takut. Aku hanya ingin menolong," ujar lelaki berambut pirang itu, berusaha agar terlihat lebih menyakinkan, namun ekspresi dan nada suaranya tetap datar. Alis Lucy naik sebelah, masih mencoba mencerna kata-kata barusan. "Namaku Sting. Sting Eucliffe." Lelaki itu mengulurkan tangan, dengan ragu-ragu Lucy menyambut telapak tangan itu, dengan wajah curiga.
"Lucy."
"Lucy Heartfilia. Aku tahu namamu," Sting langsung tersenyum. "Hari pertama ospek, kau yang memakai baju bebas. Dan Natsu menghukummu, ya?" Lelaki itu tertawa kecil. "Dasar bocah gila. Ia masih belum berubah."
"Sting-san, kau…" Lucy agak ragu. Kenapa laki-laki ini tahu tentang Natsu dan dirinya? "Seangkatan dengan Natsu-san?"
Sting mengangguk cepat. "Ya, kau kenal aku?" katanya lugas, namun melihat kerutan di wajah Lucy dan gelengan kecil dari kepala gadis itu, ingin rasanya Sting membenturkan keningnya ke tembok terdekat. "Aku bukan anggota senat. Jadi mungkin kau tidak mengenalku," jelasnya lagi. "Hah, rupanya anak baru hanya mengenal Natsu saja? Luar biasa betul pesona anak itu. Kurasa sebaiknya kau mengenal seniormu yang lain dengan lebih baik lagi."
"Maafkan aku." Lucy agak menyesal, namun begitu melihat anggukan kecil dari kepala Sting, Lucy pikir itu bukan masalah. "Sekarang aku akan mengingatmu, Sting-san! Sting Eucliffe! Ya, 'kan?" katanya bersemangat, dan Sting tertawa begitu mendengar nada bersemangat Lucy yang mengucapkannya seperti anak kecil yang baru mendapat permen.
"Kau ada hubungan apa dengan Natsu?" tanya Sting tiba-tiba.
Pertanyaan itu, entah mengapa membuat Lucy menegang. "Ti-tidak ada hubungan apa-apa. Memangnya…" Lucy menatap Sting aneh. "Ada apa?"
"Tidak, hanya bertanya."
Sting bangkit dari kursinya. Lucy menegakkan posisi tidurnya. "Kau mau kemana?"
"Pulang. Untuk apa aku masih menungguimu kalau kau sudah sadar?"
"Omong-omong… Sting-san," Lucy tersenyum. "Terima kasih telah menolongku."
Sting hanya mengangkat bahu. "Disana ada lunchbox dari dokter ruang kesehatan yang tadi memeriksamu. Katanya kau kekurangan cairan, jadi dokter memesankan minuman isotonik untukmu." Ia menunjuk meja kecil di sebelah ranjang Lucy. Sejauh yang bisa ia pandang, ada lunchbox, botol minuman isotonik, dan botol-botol sirup obat di atas meja tersebut. Lucy mengangguk pelan.
"Ya. Terima kasih, sekali lagi."
Sting mengangkat bahunya untuk kesekian kali, dan berbalik, membuka pintu ruang kesehatan dan pergi.
.
.
"Luce? Kau tidak apa-apa?"
Telinga Lucy seakan dibombardir oleh ribuan granat ketika mendengar suara cerewet Natsu memasuki rongga telinganya. Dasar. Dimana-mana, lelaki itu selalu menciptakan keributan. Dengan wajah kesal, Lucy duduk di atas ranjangnya. "Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan." Lelaki berambut merah muda itu langsung tersenyum lega. Ia duduk di selasar ranjang.
"Baguslah kau tidak mati, jadi kau masih bisa menjadi asistenku, 'kan?" ujarnya riang.
Kepalan tangan Lucy langsung membuat mulut Natsu terbungkam. "Kau ini mau cari mati, ya, Natsu-san?! Asistenmu pingsan, kau malah berkata seperti itu, dasar!" omelnya panjang-pendek.
"Maaf, maaf, bercanda," ujar Natsu cepat sambil tertawa-tawa, dan tiba-tiba matanya beralih pada lunchbox di meja Lucy. "Hei, Luce! Kau ini, sakit, tapi masih mengonsumsi makanan seperti ini? Tidak baik untuk kesehatan, tahu!" Tiba-tiba saja lunchbox itu berpindah tempat ke tangan Natsu. "Lebih baik makanan seperti ini untukku saja, ya?"
Natsu membuka tutup lunchbox itu. Isinya nasi kepal.
Lucy tersenyum masam sambil meraih botol minuman isotonik di sebelah Natsu. "Bilang saja kau mau makanan itu, tidak usah berlagak perhatian."
"Kau tahu!" Natsu tertawa lagi, sambil mulutnya sibuk mengunyah nasi kepal di tangannya. "Kau dapat darimana makanan ini, Luce? Delivery order?"
Lucy terdiam sejenak. "Kau kenal Sting Eucliffe?"
Kening Natsu berkerut. "Heh? Kau tahu darimana nama itu? Atau…" Mata Natsu membulat. "Dia yang memberikan makanan ini padamu?" Lunchbox itu langsung dijauhkan Natsu seakan-akan makanan di dalamnya mengandung virus rabies. Lucy mengangguk heran.
"Memangnya kenapa? Kau kenal dia, bukan?"
Natsu menatap Lucy serius. "Kau jangan mendekatinya, ya?" katanya dengan nada dingin. Lucy mengangkat alisnya sekian sentimeter.
"Ke-kenapa?" Lucy bingung. "Dia menolongku, Natsu-san! Dia baik!"
"Turuti saja permintaanku, Luce! Jauhi dia!"
Lucy terpaksa mengangguk, dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi otaknya. Siapa sebenarnya lelaki berambut pirang itu? Kenapa Natsu begitu kaget saat mendengar namanya? Atau jangan-jangan—ia punya masalah besar yang melibatkan Natsu? Lucy memejamkan matanya. Ia benci sesuatu yang dapat membuat otaknya sakit dan merasa lelah.
.
.
