Begin All
4 – Baby Sister
A Story by Titania aka 16choco25
Fairy Tail © Hiro Mashima
Cast :
Natsu Dragneel
Lucy Heartfilia
.
Hontou ni arigatou minna, yang telah mereview, memberi saran, dan review positif pastinya, alhamdulilah, pertama kali post ini ga nyangka akan se-hectic ini. Well, gomen saja kalo tambah pendek, secara saya lagi bersedih karena baru memulai hidup baru tanpa harddisk yang isinya anime kesayangan, such as SNK, SAO (harddisk itu hilang sialnya), dan maaf sekali kalo saya posted chap 4 agak telat, soalnya saya bakal masuk SMA~! Yeeeyyyy! Pokoknya, terima kasih yang sudah mereview, maaf tidak bisa saya sebutkan satu-persatu disini. Love you all!
.
.
"Luce, bisa minta tolong?"
Lucy berbalik dengan wajah kesal. Agak-agaknya, kata 'tolong' seakan tidak pernah bisa lepas dari mulut Natsu, yang sudah jelas ditujukan untuknya, sang asisten. Natsu menatapnya dengan sorot mata khawatir seakan-akan ia tengah melihat nuklir yang akan meledak dalam hitungan lima detik ke depan. Lucy melihatnya seperti benar-benar panik. Mungkin permintaan tolong yang ini benar-benar dalam keadaan gawat. Akhirnya Lucy merespon positif dengan seperlunya sebagai formalitas.
"Ya, apa yang bisa kubantu, Natsu-san?"
"Kau pernah punya anak?"
Lucy tersedak begitu mendengarnya dan buru-buru melirik ke sekitarnya, seluruh orang langsung memusatkan perhatiannya padanya dengan wajah kaget. Usai sudah. Rumor mencurigakan pasti akan langsung tersebar di kampus. Natsu―apa maksudnya menanyakan apakah ia sudah punya anak atau belum dengan suara keras―usianya bahkan baru 18 tahun, mana mungkin ia sudah memiliki anak? Otak Lucy agaknya akan meledak sebelum ia tidak buru-buru mengantisipasi keadaan dengan berteriak histeris, "Yang benar saja! Natsu-san, cepat katakan maksudmu apa sebelum aku akan meninjumu!" Lucy terengah-engah dengan wajah memerah malu.
Dasar―laki-laki gila.
"Begini... sebenarnya, ibuku akan pergi ke Osaka hari ini. Dan, yah... kau tahu bukan, bahwa lelaki sepertiku tidak akan sanggup berlama-lama dengan anak kecil. Masalahnya, Rei dan Luna, tidak mau ikut dengan ibuku. Jadi terpaksa, aku yang akan menjaga adik-adikku hari ini. Kalau kau sudah punya anak, kau pasti sudah berpengalaman mengasuh anak kecil, bukan? Makanya, aku ingin meminta bantuanmu untuk mengurus adik-adikku. Boleh?" Natsu mengedipkan matanya berkali-kali seperti orang sawan, dan Lucy menegang.
Gawat.
Lucy bahkan belum pernah sekalipun mengurus anak kecil, bahkan berakrab ria dengan anak-anak pun ia tidak pernah. "A-adik-adikmu?" tanyanya gugup. Terakhir kali ia berurusan dengan anak kecil―Lucy tidak ingat. Ia anak tunggal dan tidak pernah berurusan dengan anak kecil sepanjang hidupnya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menghentikan tangis anak kecil. Mungkin jika anak kecil yang melihatnya, mereka akan berlari ketakutan karena jujur saja, Lucy tidak punya naluri keibuan seperti gadis yang lain. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengurus anak kecil.
Natsu mengangguk kuat, dan Lucy memainkan rambutnya gugup. "Ya, Rei dan Luna. Kau pernah bertemu mereka, bukan, saat aku mengajakmu ke rumahku? Setelah pulang, kau tunggu saja di depan tempat parkir. Nanti akan kuantar kau ke rumahku."
"De-dengan sepeda?" tanya Lucy konyol, berusaha memperlama waktu, mencoba mencari-cari alasan yang mungkin bisa dipakai untuk mendebat Natsu dan menolak permintaan gilanya itu.
Natsu mengangguk spontan dan wajah Lucy berubah kaku.
"Iya, Tuan Putri. Kapan kubilang kalau aku punya kendaraan lain selain sepeda?"
Dan Lucy Heartfilia, lagi-lagi tidak bisa membantah dan terpaksa harus menuruti permintaan gila Natsu lagi.
So, Lucy's works now is baby sitter, not assistant, right?
.
.
Toko kue milik keluarga Dragneel tutup. Natsu mengajaknya masuk lewat pintu belakang rumahnya, dan begitu membuka pintu, yang muncul adalah dua anak kecil dengan sendok dan mangkuk di tangannya, dan wajah yang belepotan adonan kue dan krim beserta pemandangan dapur yang terlihat seperti kapal pecah dengan tangis di wajah mereka. Natsu buru-buru berjongkok dan Luna, adik perempuan Natsu, berlari memeluk Natsu sambil menangis keras.
Natsu mengelus rambutnya perlahan. "Ada apa, Luna?" tanyanya sambil melirik Rei yang terdiam memalingkan wajahnya kesal.
Pasti Luna dan Rei bertengkar, pikir Lucy dan Luna, langsung menangis keras dan Natsu berusaha menenangkannya setengah mati.
"Lei-niichan bodoh! Natsu-niisan, Lei-niichan bilang kalau kita membuat kue, saat memecahkan telul untuk membuat adonan, kita halus memasukkan kulit telulnya juga! Tapi kalau kita membuat adonan, halusnya kulit telulnya dipisahkan, bukan? Yang dipakai hanya cailan telulnya saja, bukan? Lei-niichan bodoh! Kuenya jadi tidak enak!" teriak Luna kesal, dan Lucy, yang mencoba memperjernih masalah, buru-buru berjongkok di sebelah Natsu, dan mengelus kepala Luna pelan.
"Luna-chan, bagaimana kalau kita membuat kuenya lagi? Kali ini, kita buat yang lebih enak! Bagaimana?" kata Lucy riang, sambil meraih apron di meja dapur. Luna menghapus air matanya, dan buru-buru membantu Lucy mengambil bahan-bahan untuk membuat kue. Rei, yang masih memalingkan wajah dengan kesal, menarik-narik tangan Natsu dengan kesal sambil menunjuk-nunjuk Lucy dan Luna yang sedang membuat adonan kue.
Natsu, menepuk kepalanya frustasi.
"Natsu-niisan, aku juga mau membuat kue! Ayo, bantu aku!" Rei meloncat-loncat, dan Natsu langsung berwajah kaku.
"Rei, sudahlah, jangan membuat masalah lagi," Natsu berusaha mengalihkan perhatian juga. Bisa gawat bila Rei ada di dapur. Terakhir kali Rei ada di dapur, ia sukses membuat peperangan antara tepung dan krim sehingga bekasnya menempel dimana-mana. Natsu dan Luna harus bekerja ekstra membersihkan dapur seharian. "Bagaimana kalau kita... duduk di ruang tengah dan mendengarkan dongeng? Niisan akan bercerita dan kau akan mendengarkan."
"Asyiiikk! Oke, cerita apa?" Rei sudah duduk di sofa dengan tenang dan Natsu berpikir sejenak.
"Cerita apa, ya? Rei, cerita apa yang kau mau?"
"Hm, bagaimana kalau cerita Aladdin?" usul Rei antusias dan Natsu, langsung mencoba mengingat-ingat. Aladdin―sebenarnya ia tidak begitu hafal cerita itu, tapi demi Rei, ia akan mengusahakannya. Ia pikir anak kecil tidak mungkin menghafal cerita panjang seperti itu. Ia bisa mengarang cerita bebas dan Rei tidak akan sadar. Anak kecil mudah dibohongi, mereka tidak akan sadar meskipun Natsu sedikit berbohong. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia akan berbohong dengan lihai.
"O-oke, cerita Aladdin." Natsu menarik napas gugup, dan tersenyum sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya, memulai bercerita dengan tatapan antusiasme Rei di hadapannya. "Di sebuah tempat di Timur Tengah, ada seorang ibu yang tinggal bersama anak lelakinya yang bernama Aladdin. Suatu hari, Aladdin menemukan lampu wasiat yang berada di tumpukan sampah..."
"Natsu-niisan!" protes Rei, keras. "Salah! Lampu wasiat itu tidak ada di tumpukan sampah!"
"Ohh... oke." Aduh, lampu wasiat itu ada dimana, ya? Natsu benar-benar sudah lupa tentang cerita itu. "Bagaimana kalau di sungai?"
"Salah!" teriak Rei lagi. "Natsu-niisan, ganti cerita saja! Bagaimana kalau cerita Ali Baba dan 40 Penyamun?"
"Oke! Eh... tapi bagaimana awal cerita itu? Niisan agak lupa!"
"Ah, bagaimana kalau Pinnochio?"
Lucy yang mendengarkan kehebohan itu dari dapur yang tepat berada di sebelah ruang tengah, hanya menggaruk-garuk kepala, geli luar biasa. Bahkan seorang Natsu Dragneel yang dikenal sebagai Ketua Senat, tidak hafal dongeng Ali Baba dan 40 Penyamun untuk anak kecil, sungguh menggelikan. Mungkin jika Gray Fullbuster tahu tentang hal ini, ia akan tertawa terbahak-bahak, sama seperti yang ingin dilakukan Lucy saat ini juga. Setelah mixer terhenti, Lucy mengambil loyang yang tergantung di ujung ruangan.
"Lucy-neesan."
Lucy menoleh begitu mendengar Luna yang memanggil namanya itu. "Ya?"
Luna mengaduk-aduk adonan dengan sendok besar. "Apa Lucy-neesan bisa belhitung?"
"Bel... hi... tung?" Otak Lucy buntu seketika. Apa maksudnya, sial. Ia mengambil mentega di hadapannya dan mengoleskannya ke permukaan besi loyang kue. "Belatung, maksudmu? Itu binatang. Mana mungkin aku bisa..."
"Bukan!" Wajah Luna mengerut kesal, dan Lucy masih sibuk menakar adonan kue dengan kerutan heran di kening. "Belhitung, Lucy-neesan, belhitung dali angka satu, dua, tiga, empat, enam, tujuh..."
Oh, berhitung rupanya. "Salah, Luna-chan." Lucy buru-buru mengoreksi dengan lembut, berjongkok menyamakan tingginya dengan Luna. "Setelah angka empat, harusnya angka lima. Setelah lima, baru angka enam."
"Tapi Luna mau setelah angka empat langsung angka enam!"
Lucy menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, tetapi pusing tujuh keliling.
.
.
Kue buatan Lucy sudah jadi. Luna mengambil pisau plastik untuk memotong-motong kue itu dan menyajikannya untuk semua orang. Lucy duduk di sebelah Natsu, sambil menarik napas dalam-dalam. Natsu meliriknya geli sambil meraih piring berisi kue yang ada di hadapannya, dan Lucy menghela napas. "Bagaimana? Sukses dengan kuemu, Luce?" sindirnya dan Lucy merengut. Dicubitnya lengan Natsu kesal hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Kau sendiri, sukses dengan dongengmu?" sindir Lucy balik.
Natsu tersenyum tenang melihat Luna dan Rei yang terlarut dengan dunianya sendiri. Tenang rasanya bila anak-anak itu tidak lagi menganggunya dengan tingkah polosnya lagi. "Sial, dongeng Aladdin, Ali Baba dan 40 Penyamun, Pinnochio, bahkan Cinderella pun aku tidak hafal," akunya sambil tertawa geli.
Iris cokelat Lucy membesar. "Jadi?"
"Aku mengarang dongeng baru dan ia setuju saja saat aku bilang aku punya dongeng baru yang belum pernah didengarnya."
Natsu Dragneel, luar biasa sekali ia bisa mengatasi anak kecil seperti itu. Lucy mengiris permukaan kuenya dan menelan potongan kuenya perlahan. "Aku kagum sekali denganmu. Luar biasa sekali kau bisa mengatasi anak kecil seperti itu. Tapi sepertinya Luna dan Rei sangat hiperaktif, ya? Mereka tidak bisa diam di satu tempat. Ada saja sesuatu yang dilakukan mereka untuk mengatasi kejenuhan." Lucy menatap Rei dan Luna yang kini sedang bermain lompat tali di halaman rumah.
Natsu tersenyum kecil. "Aku sudah berjanji pada ibuku untuk membuat mereka bahagia, Luce. Oleh karena itu aku berusaha keras untuk membahagiakan mereka."
Mata Natsu beralih pada Rei yang tiba-tiba mengacak isi kotak mainan dan bergegas mengenakan topeng sambil menyelipkan pedang mainan di pinggang dan buru-buru berlari menuju Luna yang di luar dugaan langsung mengambil pedang mainan dari dalam kotak mainan milik Natsu semasa kecil. Mereka berlarian kesana-kemari, berhamburan keluar.
"Pendekar bertopeng Rei! Aku akan mengalahkanmu!"
"Oh, menarik sekali! Majulah, pendekar wanita Luna! Aku akan mengalahkanmu!"
Begitu melihat anak-anak yang sudah kembali tenang dengan dunianya, Natsu tersenyum kecil dan menutup kembali pintu rapat-rapat. Tapi mendadak senyum di wajah Natsu lenyap ketika melihat para pendekar pedang kecil itu tiba-tiba bergerak, berlarian ke halaman samping, dan memasuki ruang belajar lewat pintu belakang. Suara berdebum keras disertai teriakan ala pemburu Indian Apache terdengar. Luna dan Rei sedang bertarung dengan pedang plastiknya. Tatapan cemas Natsu mengarah ke anak-anak itu yang bergerak mendekati komputer di sisi ruangan.
Gawat, komputernya mungkin bisa rusak parah.
Anak-anak itu harus segera dihentikan!
"Hei, para pendekar bertopeng! Berkumpul!" teriak Natsu keras.
Kedua pendekar kecil itu menoleh, bingung. Tapi mereka menurut dan berbaris di depan Natsu, dan dalam posisi hormat. "Siap, Komandan!" kata Rei dan Luna bersamaan. Lucy, yang menyaksikan pemandangan itu, tertawa geli melihat Natsu yang berdiri dengan posisi hormat juga, seakan-akan ia komandan yang akan mengambil alih komando pada para pasukannya.
"Kita coba permainan baru! Bagaimana?" ajak Natsu, simpatik. Rei dan Luna berpandang-pandangan bingung untuk kesekian kalinya.
"Hah? Permainan apa, Niisan?" Rei angkat bicara.
"Apa, ya?" Natsu mengerutkan kening, berpikir keras. Rei dan Luna, masih menatapnya serius, menunggu. "Hm... kalian akan bermain..."
"Natsu-san, terima ini!"
Mata Natsu menangkap sebuah bola plastik yang melayang ke wajahnya―Lucy menendang bola itu tepat ke arahnya, buru-buru ia menghindar. Dengan gerakan halus, tetapi cepat, Natsu menghindar dan menendang bola itu hingga membentur dinding. Ia kembali berlari mengambil bola plastik tersebut dan mengoper bola itu ke kaki kecil Rei. Rei menendang dan bola itu kembali ke kaki Natsu dan dengan lincah lelaki berambut merah muda mencolok itu menerima operan itu dan balas menendang bola ke arah Luna.
Rei dan Luna kini tertawa-tawa dan menendang bola kesana-kemari. Untuk sejenak, Natsu bisa menarik napas lega. Ia menoleh ke arah Lucy yang mengedipkan sebelah matanya dan mengulurkan jempolnya disertai senyum lebar. "Terima kasih, Lucy," katanya berterima kasih dengan tulus.
"Natsu-niisan hebat, seperti Messi! Kalau aku seperti Ronaldo!" teriak Rei riang, sambil menendang bola.
"Tidak, aku Lonaldo!" jerit Luna keras.
Rei menyipitkan mata kesal. "Kau perempuan! Kau bukan Ronaldo!"
"Tidak, aku mau jadi Lonaldo!"
"Aku Ronaldo!"
"Tidak! Aku Lonaldo!"
Dan lagi-lagi tangis meledak.
.
.
Setelah melihat Luna dan Rei yang tertidur dengan lelap di sofa ruang tengah, Lucy tersenyum tenang dan mengambil selimut untuk menyelimuti mereka. Natsu menatapnya sambil tersenyum kecil. Lucy duduk dan menarik napas lega berulang kali. Diliriknya jam tangannya, astaga, jam tujuh malam. Natsu menangkap wajah cemas itu. "Luce, kau mau pulang?" tanyanya spontan dan Lucy mengangguk. Natsu menggendong Rei dan Luna masuk ke kamar dan bergegas meraih kunci sepedanya.
"Biar kuantar."
Lucy merona. "Jangan! Bagaimana adik-adikmu? Mereka sendirian di rumah, bukan?"
Natsu menarik tangan Lucy bangkit dari sofa. "Tidak masalah. Mengantarmu pulang dari sini hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit dengan sepeda."
Lucy tidak ada pilihan lain, buru-buru ia membereskan isi tasnya, dan ditutupnya pintu kamar Luna dan Rei yang belum ditutup oleh Natsu tadi, namun tiba-tiba telinganya menangkap isak tangis dari dalam kamar. Buru-buru Lucy membuka pintu, dan tampak wajah Luna yang berhamburan jejak air mata. Langsung Lucy duduk di pinggir ranjang, disertai Natsu yang ikut masuk karena panik. Luna menghambur, memeluk Lucy dengan erat hingga gadis berambut pirang itu tidak bisa bernapas.
"Lucy-neesan, jangan pergi..."
Lucy menatap Luna sambil tersenyum lembut, melepaskan pelukan Luna perlahan. "Tapi... maaf, Luna-chan, aku harus segera pulang. Sekarang sudah malam, Luna-chan, sebaiknya kau tidur."
Natsu mengelus kepala Luna, berusaha menenangkan gadis kecil berambut merah muda mencolok yang sama dengan dirinya itu. "Benar. Luce harus segera pulang. Lagipula, Luna, jika Luce tidak segera pulang, bagaimana ia bisa beristirahat? Besok Luce akan datang lagi." Natsu menaikkan ujung selimut sampai ke batas bahu Luna dan tersenyum. "Sekarang sebaiknya kau tidur. Besok kau akan bersekolah, bukan? Sebaiknya kau tidur dan mengumpulkan tenaga untuk bersekolah."
Lucy mengangguk setuju. Luna mengerutkan keningnya dan menggembungkan mulutnya kesal.
"Lucy-neesan bisa tidur disini! Lucy-neesan bisa tidur seranjang dengan Natsu-niisan di kamar ujung!"
Ti-tidur seranjang? Wajah Lucy langsung merona hebat, dan ia melirik Natsu kaget. Tenanglah, Lucy, anak kecil punya banyak pemikiran polos. Tenanglah, yang perlu kau lakukan hanya melarikan diri secepatnya dari tempat ini sebelum otaknya akan meledak karena ia sudah tidak tahan lagi. Buru-buru ia menetralisir suasana yang campur aduk disertai rona wajah yang sudah tidak bisa dikontrolnya lagi, "Mm, tapi... aku harus segera pulang. Natsu mungkin... tidak mau tidur bersama orang lain. Jadi... aku harus segera pulang."
"Tidak! Natsu-niisan, tidak apa-apa bukan, kalau Lucy-neesan tidur disini?"
Lucy menatap wajah Natsu waswas. Tetapi Natsu malah mengangguk dengan senyum lebar. "Tidak apa-apa. Bagiku itu bukan masalah. Anggap saja sebagai latihan praktek mengasuh anak di masa depan."
A-apa?
"Ti-tidak, sebaiknya aku pulang saja!" teriak Lucy, tidak tahan, dan bergegas keluar, namun Luna buru-buru menghalangi pintu keluar dan Lucy membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Jangan pulang, Lucy-neesan!"
Usai sudah.
.
.
"Kau serius mau tidur di ruang tamu?" Natsu meletakkan bantal dan selimut di atas sofa dan Lucy mengangguk kuat. Mana mungkin ia tidur seranjang dengan Natsu, apalagi mengingat bahwa ranjang di kamar ujung itu sempit sekali, mungkin ia bisa berdempet-dempet bila tidur bersama Natsu di ranjang itu. Ia menaiki sofa dan langsung menyelimuti dirinya rapat-rapat. Natsu menatapnya serius, dan tiba-tiba menarik tangannya hingga ia bangkit dari tidurnya.
"Luce, bagaimana kalau kubuatkan kau mie instan?" Natsu membuka laci dapur, dan mengeluarkan beberapa cup mie instan. Dibukanya satu cup dan ia sibuk menggunting bumbu dalam mie instan itu. "Kau suka rasa apa? Disini ada rasa... kari ayam, daging sapi panggang, dan kari keju. Kalau aku suka daging sapi panggang."
"Aku tidak bertanya tentang hal itu!" teriak Lucy, namun ia bergegas duduk tegap begitu mendengar instrumen berdebum dari perutnya. Natsu tertawa keras, dan menyeduhkan mie instan ke dalam cup-nya. Lucy menepuk perutnya kesal. Sial. Memang ia belum makan sejak siang, tetapi biasanya perutnya tidak berbunyi sekeras itu. Dan sekarang, begitu melihat mie instan yang dimakan Natsu, mau tidak mau ia harus mengakui bahwa ia juga―lapar.
"Ng, Natsu-san..."
Natsu bangkit dan meraih satu cup mie instan yang telah diseduhnya lalu mengulurkannya ke tangan Lucy. "Aku tahu kau belum makan."
Lucy tersenyum dan membuka tutup cup mie instan itu. Aroma sedap menyeruak. "Terima kasih."
Ponsel Lucy bergetar dan Lucy melirik layar ponselnya yang berkedip-kedip. Nomor yang tidak dikenalnya. Buru-buru ia mengangkat panggilan tersebut. "Ya, halo. Lucy Heartfilia disini. Maaf, siapa ini?" tanyanya sambil melirik Natsu yang menatapnya penuh tanda tanya.
"Halo. Lucy Heartfilia, ini Sting. Sting Eucliffe. Kau ada dimana sekarang?"
Dan iris cokelat Lucy langsung melebar begitu mendengar suara di ujung telepon tersebut.
.
.
To be continued.
