.

.

.

Sebuah kota besar yang terletak di negara api adalah tempat persinggahan Tsunade berikutnya.

Dia bersama dengan Shizune dan anak laki laki yang baru beberapa bulan ini bersamanya, Naruto, memasuki sebuah pasar yang cukup ramai dengan banyak sekali toko toko dan pengunjung.

Rencananya dia akan langsung meluncur ke tempat Kasino paling terkenal di kota tersebut untuk menghabiskan sejumblah besar uang yang dia dapatkan dari para rentenir yang sebelumnya hendak menagih hutang padanya, namun dengan segala kelicikan situasi itu berubah sebaliknya, dimana para rentenir itu malah meminjaminya uang lebih banyak.

Bagi Tsunade, mengelabuhi rentenir sama mudahnya dengan membalik telapak tangan. Dia tidak perlu takut untuk berhutang dan tidak perlu pula repot repot untuk membayar. Dengan segala tipu muslihat dia akan dengan gampangnya menyingkirkan kumpulan idiot itu sembari memeras isi kantong mereka.

Memang benar jika seorang Tsunade Senju sangat tidak beruntung dalam berjudi, dia akan terus kalah dan bangkrut hingga hari kiamat atau paling tidak ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi, namun kelemahan itu ditutupi oleh kecerdasaanya dalam menipu orang lain.

Hal itu memang bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, tapi jika dia tidak menggunakan bakatnya itu, Tsunade sudah pasti akan jadi gelandangan, mengingat hutang hutangya sudah terlalu besar hingga di titik tidak akan bisa dilunasi seumur hidupnya.

"Tsunade-sama, kemana anda akan pergi?"Shizune tiba tiba bertanya dengan wajah khawatir.

"Kasino, tentu saja!"

Ekspresi,*Sudah kuduga* muncul diwajah Shizune, kemudian wajah Shizune berubah menjadi lebih tegas, dia mengambil tangan Tsunade dengan satu tangannya sambil berkata,"Ti-tidak boleh! Setidaknya jika anda mau kesana, paling tidak kita harus mencari penginapan dulu! Kalau tidak begitu, bisa bisa kita tidur diluar karena persediaan uang dihabiskan oleh Tsunade-sama di tempat judi!"

"Oh, kau benar juga."

Orang ini rupanya benar benar tidak memikirkan dimana dia akan tidur. Kemaniakkannya dalam berjudi sudah mencapai level gila. Tidak diragukan lagi, seandainya Shizune tidak mengingatkan hal itu kepadanya, kemungkinan besar ketiga orang itu akan tidur di jalanan. Ada baiknya memiliki pengikut seperti Shizune, dia sangat ketat dalam mengurusi kebutuhan pokok Tsunade yang bahkan orangnya sendiripun tidak menyadarinya.

Setelah tersadar dari delusi tentang kenikmatan berjudi, Tsunade mulai sadar jika dia cukup kelaparan. Akhirnya kegiataan berjudi wanita berusia 22 tahun ini resmi ditunda.

Saat itu Tsunade sengaja melihat ke arah anak laki laki berambut pirang itu dengan ekor matanya. Dia masih nampak sangat pendiam seperti biasanya, tapi arah pandangannya sedang menatap sebuah restoran keluarga dimana disana terlihat beberapa keluarga sedang menikmati makanan sambil dengan bahagia tertawa bersamama sama, mengerti apa yang diinginkan anak itu, Tsunade mengangguk diam diam.

"Eh? Kenapa Tsunade-sama?"Shizune yang melihat Tsunade tiba tiba megangguk, mengerutkan keningnya.

"Ayo kita makan. Setelah itu baru kita mencari penginapan."

"O-oh! Restoran yang itu!? Wow! Tsunade-sama, anda sangat bermurah hati!"

Shizune mendadak girang sewaktu Tsunade berjalan kearah restoran keluarga yang cukup mewah. Hal seperti ini sangat langka mengingat Tsunade adalah wanita pelit untuk semua urusan yang berhubungan dengan uang, kecuali berjudi dan minum sake. Tapi beberapa waktu belakangan ini berbeda, memang tidak sering, tapi paling tidak satu kali dalam dua minggu mereka akan menikmati makanan yang cukup mewah.

Kalau sudah begini, Shizune adalah satu satunya manusia yang paling berbahagia. Dia akan memesan semua makanan yang di sukainya dan memakan semuanya seperti orang kesurupan.

Inilah yang Shizune katakan sewaktu Tsunade kesal karena kelakuan Shizune.

"Karena Tsunade-sama mustahil memberiku makanan layak paling tidak dua atau tiga minggu kedepan, aku akan memakan semua makanan enak ini untuk mengisi hari hari penuh perjuangan itu sebagai penebusan! Inilah yang disebut dengan 'kemarau seribu tahun hilang oleh hujan satu hari'!"

Dan kemudian Tsunade akan mengerutkan keningnya dengan ucapan Shizune lalu berkata,"Apa iya?"Sambil mendecih penuh kebencian.

Duduk diatas kursi, Tsunade merentangkan kedua tangannya di bahu kursi dan menumpuk kaki kiri diatas kaki kanan. Posisi duduk ini yang terlihat seperti pemimpin Yankee adalah posisi duduk kesukaannya, meskipun itu membuatnya menjadi pusat perhatian seisi restoran.

"Naruto, ayo pesan makanan yang kau mau."

Naruto tidak menjawab dan nampak tidak menayadari apapun disekelilingnya bahkan ucapan Tsunade, tapi matanya mengarah pada seorang anak kecil di salah satu meja yang sedang menyeruput sesuatu dengan tatapan iri.

Mengerti, Tsunade memanggil pelayan, kemudian mengatakan pesanannya dan Naruto.

"Tolong makanan yang sama dengan yang dimakan anak yang disana itu untuk anak ini, dan untukku, tolong dada ayam gorengnya dan Sake."

Pelayan itu mengangguk dan berpaling pada Shizune, tapi belum sampat Shizune mengeluarkan suara, Tsunade berkata,"Dan untuk anak itu, beri dia makanan yang paling murah disini."

"Eeeeeeeeehhhh! Ts-tsuunade-samaaaa! Kenapa cuma Naruto! itu ti-tidak adil!"

Shizune mulai menjerit penuh dengan ketidak percayaan dan keputusasaan, namun nampaknya Tsunade hanya menggoda nya saja karena wanita itu tertawa puas*Fuhahahaha!* dengan reaksi Shizune sambil memegangi perutnya.

"Aku hanya bercanda. Pesan apapun yang kau mau, Shizune. Terima kasih untuk reaksi itu."

"Tsunade-samaa! Anda begitu kejam!"Sembari mengeluarkan suara merajuk, Shizune mengerutkan bibirnya kemudian mulai membacakan deretan panjang menu pesanannya pada si pelayan.

Si pelayan pergi untuk mengambilkan pesanan. Butuh waktu cukup lama untuk semua pesanan diantarkan, jadi Tsunade yang bosan mulai mengamati keadaan sekitar. Dia mencari cari sesuatu yang mungkin cukup menarik dari mendengarkan pembicaraan para pengunjung.

Meskipun terlihat seperti ini, Tsunade juga masih tercatat sebagai Konoichi Konoha. Dia akan mencari informasi apapun yang berhubungan dengan kepentingan Konoha atau sesuatu yang berhubungan dengan desanya, tapi nampaknya restoran keluarga bukanlah tempat orang orang mencurigakan saling melakukan pertemuan dan membicarakan hal menarik, hanya percakapan percakapan tidak penting antara suami istri atau rengekan anak kecil yang meminta dibelikan sesuatu oleh orang tuanya yang dapat dia dengar.

Sudah Tsunade duga, bar adalah tempat terbaik untuk mengumpulkan informasi,

—kemudian Tsunade menyadari seseorang sedang memperhatikannya. Itu adalah Naruto.

"..."

"..."

Keduanya saling menatap. Tsunade tidak berniat untuk melakukan itu secara sembunyi sembunyi karena dia ingin tahu reaksi anak ini, tapi Naruto juga menatapnya tanpa merasa risih karena sudah dipergoki, dari pada kaget, anak itu malah terlihat kebingungan untuk suatu alasan yang tidak Tsunade ketahui.

Sudah lumayan lama sejak Naruto ikut bersamanya, tapi anak ini benar benar pendiam. Dia jarang sekali bicara.

Saat pertama kali Naruto cukup sehat untuk bicara, Tsunade menanyainya nama, dari mana asalnya dan mengapa dia bisa dalam keadaan seperti itu, tapi anak itu hanya mengatakan beberapa hal,"Naruto Uzumaki." Dan,"Dimana adikku?"

Informasi yang mereka dapat sangatlah sedikit, namun nama yang diberikan Naruto sudah lebih dari cukup untuknya. Saat itu juga Tsunade menghubungi informan miliknya dan menyuruhnya untuk menyelidiki latar belakang dari Naruto. Karena klan Uzumaki cukup terkenal dengan menjadi satu satunya klan yang memiliki negaranya sendiri, tidak butuh waktu lama bagi Tsunade untuk mendapatkan informasi bahwa beberapa negara besar yang salah satunya adalah Iwagakura telah memusnahkan desa Uzushio yang merupakan desa dari orang orang Uzumaki dan membantai semua orang di dalamnya.

Uzushiogakure adalah desa asal neneknya dan Uzumaki adalah klan dimana neneknya berasal, juga merupakan saudara jauh klan Senju. Jadi Tsunade mengirim pesan pada neneknya, Uzumaki Mito, untuk mengonfirmasi hal ini, lalu beberapa hari kemudian dia menerima balasan dari Mito, bahwa jika berita itu memang benar adanya.

Kejadiannya tepat di tengah malam, tiga hari sebelum dia bertemu dengan Naruto yang sekarat. Dengan semua informasi itu, Tsunade menyimpulkan dengan pasti bahwa Naruto adalah sedikit dari warga Uzushio yang selamat.

"Makanannya sudah sampai!"

Suara ramah seorang pelayan memutuskan kontes adu tatap Tsunade dan Naruto. Kini di atas meja terdapat banyak makanan lezat.

Shizune yang duduk diseberang Tsunade mengambil lebih dari setengah meja dengan piring piring berisi makanan pesanannya. Wanita muda itu mulai meneteskan liur pada aneka makanan itu dan bersiap menyantap mereka seperti seorang bar bar.

"Silahkan dinikmati."Si pelayan memberi senyum profesional kemudian meninggalkan meja.

"Ya! Kalau begitu, Ittadakimasu!"

Di saat Shizune sedang berkutat dengan surganya sendiri, Tsunade di sisi lain terus mendapatkan serangat tatapan dari Naruto, hingga pada akhirnya dia menghela nafas dan menghadap pada Naruto.

"Ada yang mau kau katakan?"

"..."

"Kau mau mengatakan sesuatu padaku, kan?"

"..."

"Bocah! jika seseorang bertanya padamu kau harus menjawabnya! Jangan hanya diam dan terus menatap lawan bicaramu, itu tidak sopan!"

"Kenapa anda melakukan ini?"

Akhirnya Naruto bicara, tapi Tsunade meresponnya dengan,"Huh?" Karena kaget pada respon Naruto yang begitu tiba tiba.

"Memangnya aku melakukan apa?"Tsunade balik bertanya.

"Anda memperlakukan saya dengan baik dan memberi saya makanan yang enak, padahal saya maupun anda tidak saling kenal dan saya juga tidak memiliki nilai guna apapun untuk anda. Saya sangat berterima kasih pada pertolongan anda waktu itu juga semua hal yang anda berikan selama ini, tapi apakah itu tidak apa apa? Saya benar benar tidak mengerti kenapa anda melakukan semua itu padahal anda juga memiliki pilihan untuk mengabaikan saya setelah memastikan saya cukup baik baik saja untuk bertahan hidup sendirian."

"Memangnya kenapa? Apa itu salah?"

"Tapi saya ini seorang Uzumaki."

Tsunade mengedipkan matanya beberapa kali dalam keheranan, namun beberapa waktu setelahnya dia mulai memahami sesuatu.

Keberadaan klan Uzumaki dianggap berbahaya oleh banyak pihak dikarnakan kemampuan unik mereka dalam jutsu penyegelan dan fakta bahwa mereka beraliansi dengan Senju yang merupakan kekuatan utama Konoha maupun negara Hi yang selalu memenangkan perang. Salah satu contoh kerja sama antara Uzumaki dan Senju adalah Uzumaki Mito, istri dari Hashirama senju yang menjadikan dirinya sebagai Jinchuriki Kyubi pertama sehingga merusak keseimbangan kekuatan di lima negara besar.

Hal Itu mengakibatkan kemarahan banyak pihak yang dirugikan dan membuat mereka memilih jalan untuk memusnahkan Uzushiogakure yang merupakan salah satu sumber kekuatan Konoha, khususnya klan Senju. Memusnahkan Konoha itu terlalu berat, jadi mereka mengalihkan perhatian mereka pada Uzushio lebih lemah, namun berdampak besar pada penurunan kekuatan Konoha.

Karena kemampuan mereka, Uzumaki dibenci di banyak negara. Terbiasa mendapat diskriminasi seperti itu membuat Naruto merasa heran jika ada orang asing yang bersikap baik padanya, seperti inilah perkiraan Tsunade mengenai apa yang Naruto fikirkan.

Kurang lebih dia mengerti perasaan Naruto yang sudah mengalami banyak hal mengerikan dalam penyerangan itu.

Dengan mata yang dipenuhi keyakinan, Naruto menatap Tsunade,"Saya sudah memikirkan ini sepanjang waktu, kenapa anda dan Shizune-san begitu baik pada saya? Padahal tidak satupun dari kalian yang mendapatkan keuntungan. Tolong jawablah pertanyaan ini."

Tanpa fikir panjang, Tsunade menjawab,"Karena kebosanan, itulah jawaban yang akan kukatakan padamu andai saja kau bertanya beberapa bulan yang lalu, tapi sekarang aku tidak bisa mengatakan hal seperti itu lagi. Sudah 8 bulan sejak kau mulai bersama kami, waktu sebanyak itu lebih dari cukup untuk membuatku maupun Shizune untuk menganggapmu sebagai bagian dari kelompok ini, sebagai bagian dari keluarga kami. "

Mata Naruto melebar. Untuk pertama kalinya anak ini memperlihatkan emosi seperti itu dan Tsunade cukup terhibur karenanya

"Tapi, saya seorang Uzumaki."

"Jika itu masalahnya kau tenang saja. Kebetulan aku ini seorang Senju dan Uzumaki disaat bersamaan. Biarpun terlihat begini, aku cucunya Hashirama Senju dan Mito Uzumaki, tahu!"Tsunade membusungkan dadanya dengan bangga.

Entah kenapa ekspresi Naruto terlihat lega,"Begitu, ya? Sudah kuduga..."

"Kau mengatakan sesuatu?"

"..."Naruto hanya diam tanpa menunjukkan tanda tanda jika dia akan menjawab pertanyaan Tsunade.

Karena itu tidak terlalu penting, Tsunade memilih mengabaikan dan kembali bicara,"Sekarang mengerti kan? Intinya karena aku juga seorang Uzumaki. Kita berdua masih memiliki hubungan darah, itu berarti kita adalah keluarga."

Tsunade tersenyum seperti seorang kakak perempuan dan menepuk kepala Naruto yang terlihat tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Dengan penuh kebanggaan diri dia terwawa,*Fufufu*

"Nah, sudah cukup bicaranya, mari kita menikmati makanan ini, kau harus menghabiskannya Naruto karena aku sudah memakai jatah lotre ku untuk semua makanan ini!"

Wanitu pirang itu mengangkat cawan sake nya keatas sementara di tangannya yang lain terdapat sepotong ayam goreng yang siap meluncur ke mulutnya kemudian berkata,"Ittadakisamasu!"

Saat itu juga Tsunade kembali menjadi sasaran tatapan aneh semua pengunjung.

Naruto di sisi lain hanya diam menyaksikan.

Meskipun jawaban Tsunade agak susah dimengerti dan tidak terdengar meyakinkan juga, nampaknya Naruto memahami dan menerimanya seperti dia sudah mengetahui hal itu sebelumnya, seolah pertanyaan barusan hanya cara bagi Naruto untuk memastikan hal yang sudah dia ketahui tersebut.

Anak itu mengalihkan wajahnya dari Tsunade dan diam diam tersenyum di balik rambutnya yang panjang.

"Ittadakimasu."

Naruto makan dengan lahap, Tsunade yang melihat itu merasa senang karenanya. Kalau dipikir pikir, Naruto terlihat lebih gemuk dari saat pertama kali Tsunade menemukannya.

Setelah makan, selanjutnya mereka mencari penginapan.

Shizune lah yang kali ini memimpin perjalanan untuk mencari penginapan. Cukup banyak juga waktu yang mereka habiskan sampai mendapatkan penginapan yang cocok, dimana persyaratan yang Tsunade berikan pada Shizune adalah layak dan murah, terdengar sulit memang, tapi dengan adanya Shizune yang memang ahli dalam hal hal semacam ini, mereka berhasil menemukan satu penginapan yang memenuhi syarat.

"Lumayan juga. Kerja bagus, Shizune."

Tsunade mengangguk angguk mengamati sekitar ruangan sambil meneguk Sake nya.

"Fufufu, ini bukan apa apa bagi saya, Tsunade-sama."

"Nampaknya penginapan ini juga menyediakan pemandian air panas. Bagaimana kalau kita pergi berendam, Shizune?"

"Boleh juga. Sudah lama semenjak terakhir kali kita berendam di pemandian air panas."

"Bagaimana denganmu, Naruto? Apa kau mau mandi bersama kami?"

Tsunade melempar pertanyaan pada Naruto yang sedang duduk di pojokan kamar dan dengan segera menyebabkan wajah Shizune memanas.

"Apa anda sudah gila, Tsunade-sama!?"

"Khukhukhu, tidak masalah, kan? Atau kau tidak cukup percaya diri untuk memperlihatkan dirimu di depan Naruto? Oh, ayolah, Shizune, kau begitu ketinggalan jaman. Lagipula Naruto tidak akan bisa membedakan yang mana payudara dan yang mana dada laki laki, dia itu terlalu kecil untuk mengerti hal hal semacam itu, jadi tenang saja."

"Apanya yang terlalu kecil!? Naruto itu sudah 14 tahun, Tsunade-sama! Dia remaja yang mulai tertarik pada lawan jenis! Bahkan jika memang benar Naruto lebih kecil dari itu, mustahil baginya untuk tidak bisa membedakan dada laki laki dan payudara perempuan! Terlebih, disini anda yang sedang kita bicarakan, si pemilik payudara sapi! Payudara anda itu sebesar melon, tahu! Sadar dirilah sedikit, Tsunade-sama!"

Tsunade berkedip kedip, nampaknya dia disadarkan oleh ucapan Shizune,"Arara, jadi maksudmu Naruto akan tertarik untuk mendorongku kebawah? Oh, astaga, kau benar. Sepertinya aku harus bersiap siap untuk di perawani pria yang lebih muda di pemandian air panas. Ya ampun, ini situasi yang sulit untukku.."

"Kenapa anda malah jadi malu malu!"

"Ara, Naruto. Jangan pedulikan Shizune yang kolot, mari kita bersenang senang. Onee-chan akan menggosokkan punggungmu, dan kau tentu tidak keberatan untuk menggosok tubuh Onee-chan juga, kan?"

"Tsunade sama, kenapa anda mengabaikan sayaa!"

Sia sia saja Shizune meneriaki Tsunade yang sedang mengawang awang di batas kewarasannya, karena pada dasarnya Tsunade sudah sangat mabuk sedari tadi. Sesampainya di penginapan dia memang langsung memesan Sake, ditambah waktu di restoran Tsunade juga sudah minum lumayan banyak, tidak heran jika dia semabuk ini.

Entah cara apa yang Shizune gunakan untuk membatalkan niatan Tsunade untuk mandi bersama Naruto, tapi pada akhirnya hal itu memang berhasil digagalkan olehnya. Naruto sendiri pergi ke pemandian khusus pria setelah berhasil lepas dari cengkraman Tsunade. Nampaknya pria itu memang tidak tertarik dengan perempuan jika dilihat dari reaksinya yang biasa biasa saja.

Sesampainya di pemandian air panas, mereka mengamati keadaan sekitar dan sepertinya tidak ada siapapun di pemandian waktu itu. Jadi Tsunade dan Shizune hanya berdua disana.

Saat tubuhnya menyentuh air panas, Tsunade langsung mendesah nyaman bersamaan dengan kesadarannya yang sebelumnya kabur kini terkumpul kembali. Disampingnya Shizune juga melakukan hal yang sama, tapi sepertinya dia masih agak kesal karena keinginan vulgar Tsunade barusan.

Shizune menyeruput tehnya, lalu menoleh pada Tsunade."Ngomong ngomong, Tsunade-sama, apa anda ada rencana untuk melatih Naruto?"

"Potensi anak itu memang cukup bagus, tapi keadaan mentalnya belum benar benar pulih. Kau mengerti kan dia itu masih rentan? Setelah kehilangan adiknya, Naruto masih belum memiliki visi dan misi yang jelas. Shinobi tanpa pegangan hidup hanya akan menjadi ancaman karena pada dasarnya mereka bisa dengan mudah di cuci otaknya dan masukan doktrin doktrin berbahaya."

"Benar juga."Shizune hanya bisa tersenyum masam pada jawaban Tsunade.

Tsunade maupun Shizune menyaksikan bagaimana menyedihkannya keadaan Naruto yang pada saat itu mengetahui bahwa adiknya tidak selamat. Tatapan yang kosong, ekspresi wajah yang hanya bisa kau temukan pada mayat adalah apa yang diperlihatkan anak itu.

Uzumaki memang klan yang unik. Tsunade pernah mendengar dari cerita neneknya mengenai salah satu keunikan klan Uzumaki. Tentang pentingnya sebuah ikatan kasih sayang antar sesama. Saat mereka melihat atau mengetahui seseorang yang mereka sayangi mati maka tidak lama kemudian dia akan jatuh sakit kemudian mati.

Seorang Uzumaki dikatakan memiliki rentang usia yang lebih panjang dari manusia biasa, mereka diberkahi energi hidup yang melimpah juga awet muda, namun di saat yang sama jiwa mereka sangatlah rapuh. Itulah mengapa satu satunya cara cepat untuk membunuh seorang Uzumaki adalah menghancurkan jiwa mereka.

Penyerangan di Uzushio berbulan bulan yang lalu adalah contoh dari kesuksesan mitode ini. Hanya dalam hitungan jam para Shinobi aliansi berhasil memusnahkan desa. Cara yang mereka pakai adalah dengan menculik anak atau istri atau orang orang yang tidak bisa bertarung lalu melakukan hal hal kejam pada mereka di depan Shinobi Uzushio.

Memikirkan itu, 'mengerikan' adalah kata yang terlintas di kepala Tsunade. Dia tidak berani berfikir mengenai apa yang Naruto saksikan di penyerangan itu, apapun yang Naruto lihat, dia pasti sangat menderita.

Mungkin rasa sakit hati itulah yang membuat Naruto tidak lagi merasa sakit pada luka luka mengerikan di tubuhnya, mungkin juga karena dia sangat berharap untuk menyelamatkan adiknya yang sebelumnya dia kira masih hidup sehingga berlari berkilo kilo jauhnya selama tiga hari tidak dapat membunuhnya. Yang manapun, itu tidaklah mengubah fakta jika Naruto adalah Uzumaki yang luar biasa. Kehilangan segalanya tapi mampu tetap hidup.

Sebagai seorang Konoichi, Tsunade bisa melihat potensi besar pada diri Naruto. Namun dia tidak bisa secara sembrono melatihnya karena anak itu masih belum memiliki pegangan hidup. Jika Tsunade melatih orang seperti ini, mungkin saja akan terjadi kemungkinan terburuk.

Tsunade meletakkan botol sake dipinggiran kolam dan mengusap leleran sake disela bibirnya. Setelah membuat desahan kecil, Tsunade berkata,

"Seorang Shinobi harus memiliki fondasi ideal yang kuat, itu akan berguna untuk membunuh keragu raguannya. Bagi seorang Shinobi, perasaan ragu adalah musuh utama, kita harus memiliki keyakinan absolut yang tidak akan goyah dihadapan apapun. Untuk saat Ini Naruto belum menemukan hal itu, tapi jika dia sudah menemukan tujuan hidup yang sekiranya mampu untuk menuntun kemana arah tujuannya, aku pasti akan melatihnya..."

Tsunade berhenti sampai disana.

—Keyakinan, Fondasi, ideal, visi dan misi. Mengatakan hal itu dengan mudahnya, betapa munafik dirinya.

Entah mengapa Tsunade merasa ingin menampar dirinya sendiri agar dirinya sadar jika dia tidak memiliki kepantasan untuk mengaharapkan hal itu pada orang lain sementara dirinya sendiri terus melarikan diri dari kenyataan.

Jangankan keyakinan, Tsunade bahkan tidak memiliki tujuan hidup yang pasti.

"Tsunade-sama..."

Di sisi lain Shizune memandang Tsunade dengan tatapan sedih.

Tsunade dan Shizune menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk berendam di pemandian air panas. Saat sampai di kamar, mereka tidak menemukan Naruto. Yukata yang di sediakan penginapan untuk Naruto juga tidak terlihat dimanapun. Dugaan Tsunade, kemungkinan Naruto sudah keluar dari pemandian dan pergi ke suatu tempat.

Yah, anak itu memang perlu sedikit lebih bersosialisasi.

Ngomong ngomong, setelah mandi Tsunade sudah sedikit lebih segar dan dia tidak semabuk tadi, itu juga karena dia meminum pil anti mabuk sebelumnya.

Setelah selesai berpakaian, Tsunade langsung meluncur ke tampat Kasino incarannya.

"Eh? Tu-tunggu Tsunade-sama!"

Karena Shizune memanggilnya, Tsunade berhenti di ambang pintu hanya untuk melihat wanita berambut hitam itu yang sedang tergesa gesa mengenakan pakaiannya, kelihatannya dia ingin mengekori Tsunade seperti biasanya.

"Kau tidak usah ikut, tunggu di sini saja."

"Tidak boleh! Kalau anda kesana sendiri, anda akan menghabiskan semua uang kita!"

"Aaahh, brisik!"Tsunade berteriak dan *bug!*segepok uang jatuh diatas meja."Ini! Kau simpan uang ini! Sekarang jangan ikuti aku dan tunggu Naruto pulang, kalau kita semua pergi dia mungkin akan kebingungan mencari kita!"

"Ah baiklah, jangan pulang terlalu malam, ya, Tsunade-samaa~"secepat kilat keputusan Shizune berubah, dan wajahnya bersinar seterang bohlam 1000 watt.

"Aku tidak percaya ini! Jadi, kau lebih khawatir pada uangnya daripada aku!?"

"Ya."

"Apa!? Kau mangatakannya 'ya' begitu saja!? Sialan!"

Dipenuhi perasaan dongkol, Tsunade pergi keluar dengan tujuan tempat pelabuhan stresnya, yaitu Kasino. Di belakangnya terlihat Shizune melambaikan tangan dengan ceria,

"Jangan pulang terlalu malam ya, Tsunade-sama~!"

Di malam hari kota ini terlihat lebih hidup. Banyak lampu warna warni disepanjang jalan, pengunjungnya pun lebih banyak dibanding saat siang hari.

Jajanan beraneka ragam ada dimana mana menebarkan aroma lezat diudara. Jika itu orang lain, mereka mungkin akan tergoda dengan makanan makanan itu, tapi Tsunade yang tujuannya sudah bulat untuk menghamburkan uang ke Kasino adalah musuh tangguh bagi para penjaja makanan itu. Wanita pirang tersebut melongos tanpa sedikitpun terlihat tertarik karena matanya hanya tertuju pada sebuah gedung besar yang memancarkan cahaya lebih banyak dari gedung lainya, itulah tempat ibadah seorang Tsunade Senju, dimana disana dewa kesialan sedang menunggu kedatangannya untuk dibuat bangkrut.

Namun tidak apa apa, selama dia mendapatkan ketenangan itu, seberapa banyakpun uang yang dia habiskan itu bukanlah masalah besar.

Kebangkrutan berarti adalah ketenangan, dan kemenangan berarti sebuah bencana. Moto hidup yang terdengar menggelikan, tapi seperti itulah Tsunade.

—Tiba tiba Tsunade berhenti berjalan.

Itu karena matanya menangkap seseorang. Di depannya ada Naruto yang sedang menembus lautan manusia.

Tertarik untuk tahu tempat macam apa yang ingin Naruto kunjungi, Tsunade mengikuti anak itu.

Dan akhirnya dia memilih membatalkan niatan awalnya untuk mengunjungi Kasino.

"Kemana dia akan pergi?"

Tsunade mulai gelisah karena Naruto malah meninggalkan keramaian dan masuk ke wilayah hutan. Anak itu terus masuk kedalam hutan yang gelap sementara Tsunade dengan hati hati membuntutinya di kegelapan.

Kemudian suara air terdengar. Ada sungai yang mengalir di sana, sebuah sungai kecil namun terlihat cukup jernih. Naruto berhenti di depan sungai itu, dia mulai berjongkok dan merogoh sesuatu dari balik yukata nya, sebuah botol yang muat di genggaman tangan.

"Hm! Botol itu, kan?"

Tsunade mengenali botol kecil di tangan Naruto. Benda itu selalu di bawa olehnya kemanapun dia pergi. Sesuatu yang Naruto sebut sebagai miliknya yang paling berharga.

Ada saat ketika Tsunade menyentuh botol tersebut, dan dia langsung mendapatkan pelototan kemarahan Naruto. Shizune juga pernah tanpa sengaja membuat botol itu jatuh, hal itu membuat Shizune dimarahi habis habisan oleh Naruto.

—Botol itu berisi abu dari adiknya, Uzumaki Mina.

Saat Naruto datang dalam keadaan sekarat, dia juga membawa serta seorang gadis 8 tahun di punggungnya. Menurut Shizune, gadis kecil itu diperkirakan sudah mati sekitar dua hari sebelum Naruto bertemu dengannya, tapi sepertinya Naruto tidak menyadari hal itu karena dia sendiri berlari dalam keadaan setengah sadar.

Tsunade tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang adik, jadi dia juga mengerti mengapa Naruto memperlakukan botol itu seperti sebuah harta yang tidak ternilai. Sama seperti dirinya, Naruto juga tidak bisa keluar dari lingkungan masa lalu. Tapi bagi Uzumaki yang akan langsung mati ketika ditinggalkan oleh orang yang dia sayangi, ini masih lebih baik.

Tanpa sadar Tsunade memegangi kalung kristal di dadanya.

"Maaf karena sudah menahanmu terlalu lama, Mina. Sekarang Onii-chan sudah tidak apa apa, kau boleh pergi ketempat Otou-sama dan Okaa-sama."

Suara Naruto terdengar diantara gemericik air sungai, di saat yang sama Tsunade kaget karena Naruto menumpahkan isi dari botol itu ke sungai.

"Disini Onii-chan sudah punya keluarga yang baru. Mereka adalah orang yang menyelamatkan hidup Onii-chan dan bersedia merawat Onii-chan juga. Onii-chan gagal melindungimu dan hanya bisa lari saat Okaa-sama dan Otou-sama dalam bahaya, karena itulah Onii-chan akan menjadi lebih kuat dan melindungi keluarga Onii-chan yang baru ini."

Melindungi? Siapa yang ingin dia lindungi?

Tubuh Tsunade gemetar. Sesuatu seolah mengembang di dalam dadanya, itu terasa tidak nyaman.

Dia memahami maksud dari kata kata Naruto, tapi dia tidak ingin mengakuinya. Karena semua orang yang ingin melindunginya selalu berakhir dengan kematian.

"Suatu saat aku akan jadi Hokage yang akan melindungi desa dan melindungi Onee-chan juga!"

Memori itu muncul dikepalanya dan membuat penglihatannya kabur oleh air mata.

"... Sial."

Tsunade mengumpat, dia menggigit bibirnya sendiri saat tanpa sadar mengingat Nawaki, dan kemudian air mata mulai meluncur di pipinya.

"Terima kasih sudah menjaga Onii-chan selama ini. Tolong sampaikan salam pada Okaa-sama, Otou-sama, Obaa-san dan yang lainya ya? Mina-chan."Kata Naruto sambil mengayuh ngayuh air sehingga abu abu itu hanyut dengan cepat di aliran sungai.

Di sana, sosok transparan yang familiar muncul dipenglihatan Tsunade. Dia berdiri disamping Naruto dengan senyum yang lembut, kemudian menoleh pada Tsunade dan membuat gerakan mulut yang terbaca,

"Aku titip Onii-chan ku padamu. Hei, Onee-san yang disana."

Tbc.

U uu... Akhirnya update chapter 2. Sudah saya duga klo multichap itu emang susah bgt, susah ngetiknya susah bikin plotnya susah nyari waktunya. Tapi gk mungkin dibikin oneshoot juga soalnya bakalan kepanjangan sih.