.

.

.

*gararara*suara pintu yang di geser seseorang mengusik di keheningan tengah malam.

Adalah Tsunade Senju, si wanita berbadan menakjubkan yang sedang berusaha menyeret tubuhnya diantara keremangan koridor penginapan sambil sesekali tersedak sedak sembari dia memasuki kamar penginapan.

Si cantik namun berkebiasaan buruk ini tanpa ampun dikalahkan di meja judi oleh musuh bebuyutan bernama kesialan. Sekarang dia hanya membawa apa yang melekat di tubuhnya dan sisa dari efek minuman keras. Intinya dia dibuat bangkrut sampai ke dasar dasarnya.

Pintu geser ditutup, Tsunade berjalan ke gundukan fuuton yang menampakkan setengah dari tubuh seorang wanita berambut hitam, kemudian menimpakan tubuhnya pada si wanita yang kelihatan sangat lelap itu.

"—Ghaa!"

Suara nafas yang keluar dari perut si wanita berambut hitam. Hanya sesaat dia tersadar dan nafasnya langsung menghilang di kegelapan.

"Hmmmmpp! Hmpp!"

"Shizune...tolong...jangan...berisik. !...ummm."

Keadaannya adalah, si wanita berambut hitam sedang tercekik dalam gundukan besar bernama payudara. Seluruh wajahnya terbenam dalam lembah keputusasaan milik Tsunade.

"Mmmpppp! Mmmmppp!"

*bangbangbang!*Shizune memukul mukul lantai seperti seorang pegulat yang menyerah.

Perjuangan untuk mencari secercah nafas itu begitu sulit, Shizune mungkin akan mati kehabisan nafas jika keadaan itu terus berlangsung satu atau dua menit lagi, namun nampaknya dewa kematian tidak terlalu tega untuk menulis sebab kematian di buku catatan kematiannya dengan 'Shizune Kato, mati karena terjebit payudara'. Cara mati seperti itu terlalu menggelikan, dan karena itulah seorang penyelamat dikirimkan dari langit.

Lampu menyala, Naruto muncul entah dari mana dan menyelamatkan Shizune yang nyawanya sedang terancam.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Phhuuaaa! Hh..hh...hh...tadi itu, ha-hampir saja aku mati... Te-terimakasih, Naruto...hh..hh.."

Shizune bernafas besar seperti ikan yang kehabisan air. Naruto, si penyelamat hanya memberi tatapan kebingungan pada kedua wanita itu.

Tsunade berguling guling karena kehilangan tempatnya. Dia mulai mencari kenyamanan kesana kemari dalam keadaan tidur sebelum akhirnya diam sendiri

Dan seperti itulah malam hari penuh ketegangan yang mengancam nyawa di ganti dengan pagi yang cerah.

"Sakit, kepalaku sakit sekali... Shizune, ambilkan aku obat!"

"...tunggu sebentar."

Tsunade menoleh pada arah suara. Shizune berusaha bangkit dari futon, namun dia gagal dan pada akhirnya wanita itu hanya merangkak untuk mengambil obat dari tas mereka kemudian menyerahkannya pada Tsunade.

Melihat penampilan Shizune yang mirip roh pendendam, Tsunade mengerutkan keningnya.

"Ada apa dengan tamilan mengerikanmu itu?"

"..."

"Ke-kenapa kau menatapku dengan tatapan penuh nafsu membunuh seperti itu!? Be-be-berhenti menatapku, kau menakutkan!"

Shizune melotot dengan tampilan berantakkannya, kemudian memutar matanya dengan bosan sebelum mengatakan,"...ah sudahlah."

Sambil bergumam seperti itu, Shizune menjatuhkan dirinya lagi diatas futon dan tertidur.

Kehilangan minat pada Shizune, Tsunade meraih air putih diatas meja. Dalam hitungan detik, obat ditangannya masuk kedalam perut dan secara bertahap mengurangi sakit kepalanya.

Setelah sakit kepalanya benar benar pulih, Tsunade mengamati ruangan. Di sudut kamar terdapat futon yang dilipat dengan rapi, tidak ada tanda tanda kehadiran seorang anak laki laki tertentu, sampai dia mendengar suara langkah kaki dari kamar mandi, ternyata itu adalah Naruto yang baru saja selesai mandi.

"Selamat pagi, Tsunade-sama."

"Ah, ya. Ngomong ngomong, ada apa dengan Shizune?"

Untuk sesaat, Naruto kelihatan bingung, tapi dia segera mengerti dan menjawab,"Mungkin yang anda maksud saat anda menimpa Shizune-san dan membuatnya tidak bisa bernafas karena dada anda?"

"Oh? Ada kejadian seperti itu? Hmm... Itu menjelaskan mengapa aku bermimpi mesum tadi malam."

"Ya, nampaknya Shizune-san kesulitan untuk tidur karena itu —Eh anda bilang apa tadi?"

Naruto nampaknya tidak terlalu mendengar gumaman Tsunade di akhir, namun Tsunade yang tidak berniat membahasnya hanya mengibaskan tangan dengan santai sambil mengatakan,"Lupakan." Dan berjalan kearah kamar mandi.

Matahari perlahan naik hingga ke puncak sehingga suhu menjadi sangat panas, apalagi sekarang ini adalam musim panas.

Kota tempat Tsunade singgah kali ini ada di perbatasan Kaze no Kuni sehingga hal ini wajar wajar saja mengingat curah hujan di tempat itu sangat sedikit.

"Semua tempat terasa sangat panas sampai terasa seperti berada di sauna. Kenapa, Kenapa tempat tempat menyenangkan harus ada di lingkungan ekstrem seperti ini!?"

"Bukannya anda sendiri yang ngotot mau pergi? padahal anda tahu sendiri jika kota ini sangat panas. Kalau dipikir pikir anda selalu melakukan ini dan itu tanpa mempertimbangkan keadaan kami, anda sangat egois! Sekarang lihat! Lihat kulit saya memerah karena suhu panas disini! Anda, anda harus tanggung jawab! Tadi malam juga, anda berniat membunuh saya dengan payudara, iya kan!? Saya, saya tidak bisa menerima itu, pokoknya saya tidak mau tahu, anda harus tanggung jawab, tanggung jawab!"

"Apa yang sedang kau bicarakan, Shizune? Apa aku membuatmu hamil? Harusnya kau berbangga karena menjadi satu satunya manusia yang bisa membenamkan wajahmu pada payudaraku! Itu adalah penghargaan setingkat pahlawan perang, tahu? Kau akan di kenang sepanjang sejarah!"

"Apanya bagian terbaik dari sekumpulan lemak itu? Meh, benar juga, mungkin disana tersimpan jutsu terlarang bernama 'jepitan mematikan'. Oohh, jadi begitu? Kegunaan gumpalan lemak itu untuk hal semacam itu? Tidak kusangka anda diam diam menyembunyikan jutsu terlarang yang benar benar mesum! Dasar jalang tidak bermoral!"

"Aku mendengarnya, Shizune. Aku mendengar jeritan frustasi dari wanita yang iri. Fuhahahahaha! Memohonlah padaku, nistakan dirimu sendiri, perkosalah dirimu, masturbasilah di depanku, dasar keparat! Mungkin dengan begitu aku bisa menganugrahkanmu untuk menyentuh dadaku agar kau bisa memperjelas halusinasimu untuk memiliki benda benda menawan iniiii!"

"Su-susu sapi, kau!"

"Apa?"

Keduanya saling melotot.

Di cuaca yang panas, dua wanita bernama Tsunade dan Shizune sedang mengirimkan tatapan membunuh pada satu sama lain yang bahkan bisa membolongi lantai.

Panasnya terik matahari rupanya tidak hanya membakar kulit keduanya, tapi juga mendidihkan otak dua wanita itu hingga membuat mereka kehilangan akal sehat.

Sebenarnya mereka sudah ada di kota ini selama dua hari, tapi cuaca kali ini benar benar panas, jauh lebih panas dari biasanya.

Itu dibuktikan dari banyaknya penghuni kamar lainya yang mulai mengeluh mengenai pengadaan pendingin ruangan dan pemesanan makanan dingin juga sangat meningkat. Kalau diperhatikan, penduduk lokal yang beraktifitas pun hampir tidak ada. Semua orang lebih memilih bermalas malasan sambil memakan makanan dingin.

Tsunade sudah meminta Naruto untuk memesan makanan makanan yang bisa sedikit melegakan tubuh mereka dari cuaca panas ini, akan tetapi seperti yang sudah di duga, karena pemesanan dari kamar lain juga sangat banyak jadinya anak itu belum juga kembali dari satu jam yang lalu.

Sementara menunggu, kedua wanita ini terus mengalami dehidrasi dan perlahan lahan menjadi gila.

Hingga akhirnya pintu terbuka oleh seorang anak kali kali pirang.

"Maaf menunggu lama —e-eh?"

Saat Naruto memasuki kamar dengan mambawa nampan berisi buah semangka, mentimun, es serut, dan lain sebagainya, dia langsung kaget begitu matanya menangkap penampakan dua zombie yang langsung menerkamnya tanpa ampun.

Tsunade melompat dan dengan mata penuh nafsu,

"Kyahahahaha! Serahkan tubuhmu pada Onee-chaaaaaann!"

"Makan makan makan makan makan!"

Shizune di sisi lain juga menerkamnya sambil meracau dengan wajah seram.

"A-apa yang sebenarnya terjadi disini—Yaaaaaa! Ja-jangan gigit tanganku Tsunade-samaa! Shizune-san, be-berhenti mengunyah kepala saya!"

Setelah melalui serangkaian pembantaian dan teror, akhirnya matahari mulai jatuh ke barat. Sore hari datang dan gelombang panas digantikan angin sore yang sejuk.

Di kamar yang terlihat seperti bekas peperangan itu, Tsunade sedang berdandan.

Setelah mandi yang menyegarkan, dia berniat untuk mengunjungi tempat penukaran lotre untuk menukarkan kupon lotre yang dia beli tadi malam.

Ini mungkin terdengar menipu dirinya sendiri, tapi Tsunade sedikit berharap jika tembakanya kali ini tidak meleset. Meskipun dia adalah legenda kalah judi yang namanya sudah melanglang buana, yang berarti bahwa memenangkan sesuatu dari berjudi adalah mustahil, namun Tsunade berharap kali ini dia menang.

Kenapa?

Jawabannya simpel, itu karena uangnya benar benar habis.

Shizune mungkin saja memiliki uang, tapi wanita itu sangat cerewet dan menentang keras pada hobinya, kalaupun dia bisa mendapatkan uang simpanan Shizune, satu satunya cara adalah mencurinya, akan tetapi mencuri dari seorang wanita teliti dan seketat Shizune memiliki tingkat kesulitan yang sama dengan menyusup ke kediaman Daimyo.

Berhutang pada rentenir?

Tidak tidak, tidak mungkin Tsunade melakukan hal nekat semacam itu. Shizune pasti akan mengamuk jika dia melakukan hal itu lagi, namun menyerah bukanlah pihan baginya.

Jadi karena itulah Tsunade berharap kali ini keberuntungan berpihak padanya.

Ketika dia sedang memoles bibirnya dengan lipstick merah pucat, Tsunade mendapati pantulan bayangan Naruto di cermin yang mendekatinya.

"Tsunade-sama, apa anda ada rencana untuk melihat latihan saya hari ini? Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan soalnya."

Tanpa menghentikan fokus pada perkerjaannya, Tsunade mengangguk setuju,"Baiklah."

Dia menyelesaikan riasan di bagian wajah, kemudian Tsunade beralih pada rambutnya. Dia menyatukan seluruh rambutnya dan menariknya kebelakang dengan hanya meninggalkan poni belah duanya di depan. Setelah serangkaian proses ini dan itu, jadilah Tsunade Senju dalam mode rambut ekor kuda.

Dari cermin, terlihat jika Naruto sedang memandangi Tsunade dengan serius, membuat Tsunade panasaran tentang apa yang difikirkan si anak laki laki yang setahun belakangan ini ikut bersamanya.

"Ada apa, Naruto?"

"Um.. Saya tidak pernah melihat anda dengan penampilan ini sebelumnya."

Tsunade mengangkat alisnya, dia menatap tubuhnya sendiri di depan cermin. Kaos setengah badan yang memperlihatkan perutnya lalu rok diatas paha berwarna merah dan dibawahnya terdapat pakaian jaring yang mencegah semua kulitnya dari terlihat seluruhnya, itu adalah pakaian lama semasa dia tinggal di Konoha dulu.

Menoleh pada Naruto, Tsunade berkata,"Ini pakaian lamaku. Baju ini satu satunya yang cocok dengan daerah ini yang cuacanya sangat panas. Hmm.. Apa aku kelihatan jelek, ya?"

"Bu-bukan begitu, anda justru sangat cantik."

"Mwuu.. Dasar bocah casanova."

Meskipun suaranya terdengar seperti sedang merajuk, Tsunade justru tersenyum pada pujian jujur Naruto. Seperti biasa, anak ini sangat jujur pada apa yang dia fikirkan.

Sudah lama Tsunade memperhatikanya. Naruto itu bukan hanya terlalu jujur, tapi dia juga tidak peka. Mengingat Tsunade adalah wanita bebal yang tidak mempan dengan rayuan pria, kata kata Naruto tidak terlalu berpengaruh padanya, tapi jika itu orang lain, kesalahpahaman bisa saja terjadi.

Namun dia tidak bisa menyebut itu benar benar buruk, Tsunade senang dengan perubahan itu.

Karena keterbukaan Naruto padanya dan Shizune sekarang tidaklah di dapat dengan cara instan, mereka melakukan banyak hal untuk memulihkan mental Naruto hingga di titik dia tidak lagi menutup diri seperti beberapa bulan yang lalu, jadi Tsunade sedikit banyak senang pada perubahan ini walaupun agak mengkhawatirkan dengan caranya sendiri.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Tsunade sangat kepikiran, ini mengenai janji Naruto di sungai waktu itu. Entah mengapa Tsunade mendapatkan firasat buruk kapanpun dia mengingatnya, perasaan tidak nyaman yang mengingatkannya pada peristiwa peristiwa di masa lalu.

—Tsunade menggelengkan kepalanya.

Mengabaikan ingatan mengenai hal yang tidak ingin dia ingat, dia menatap Naruto dan berkata,"Kau tadi ingin aku melihatmu berlatih kan?"

"Ya."

"Aku akan melihatmu, tapi sebelumnya kau harus menemaniku ke tempat penukaran lotre. Bagaimana?"

Naruto mengangguk,"Saya tidak keberatan. Bagaimana dengan Shizune-san?"

Menanggapi pertanyaan Naruto, Tsunade mengarahkan wajahnya pada salah satu sudut ruangan, disana terlihat sesosok manusia yang perutnya membuncit kekenyangan.

Paham dengan maksudnya, Naruto tersenyum masam.

"Shizune-san selalu bersemangat dengan makanan. Saya rasa butuh waktu baginya untuk mencerna itu semua."

Meninggalkan Shizune di belakang, Tsunade dan Naruto pergi keluar bersama sama. Keduanya berjalan di jalanan kota yang kering dan berdebu.

Tidak seperti tadi siang, sekarang jalanan hidup oleh aktifitas para penduduk lokal maupun pengunjung dari luar kota.

Ada banyak bangunan besar di sepanjang jalan dan kebanyakan dari mereka adalah tempat judi dengan banyak permainan menarik yang hanya bisa kau temukan disini. Alasan mengapa Tsunade rela bersusah susah ke kota yang sangat panas ini dikarenakan hal ini juga. Panggilan jiwa sebagai penjudi sejati mengharuskannya mendatangi kota ini, tidak peduli jika itu harus mengorbankan nyawa.

"Selamat datang. Kami melayani pembelian kupon dan penukaran lotre, apa ada yang bisa kami bantu?"

Seorang pria menyambutnya dengan senyuman ramah yang nampak tidak tulus di balik meja tempat penukaran lotre. Senyuman yang nampaknya menyembunyikan kebengisan seekor pemangsa yang berhasil menangkap buruannya, sama sekali tidak bisa bersembunyi dari mata Tsunade yang jeli. Kurang lebih apa yang ada dipikiran pria adalah begini: 'aye Legenda kalah judi-chan~, anda adalah tambang uangku yang berharga, mufufufufu'.

Hanya dengan melihat cara pria itu memandangnya, Tsunade langsung merasakan keputusasaan yang tidak terjelaskan.

Dengan wajah tidak berdaya, Tsunade menyerahkan beberapa lembar kupon yang langsung di terima si pria yang terus tersenyum tanpa peduli jika hal itu membuatnya mungkin saja akan menelan debu yang bertebaran dimana mana.

Namun sesuatu terjadi dengan senyum di wajah pria itu saat dia mencocokkan kode kupon dan kertas berisi daftar kode nomer pemenang. Seperti es tipis yang dipukul, senyum itu retak kemudian pecah berkeping keping.

Pria itu jatuh terduduk dengan ekspresi horor.

"...ti-tidak mungkin. Hal semacam ini, a-apakah legenda kalah ju-judi...tidak tidak, i-ni mimpi kan? Ha ha ha.. "

Mata pria itu kehilangan cahayanya. Sambil mengeluarkan tawa putus asa, dia kelihatan seperti pria tua yang menunggu dengan pasrah dibawah sabit dewa kematian.

"Apa sih?"

Tsunade keheranan dengan keanehan si pria dan itu membuatnya memanjangkan lehernya untuk mengintip daftar pemenang lotre, saat itu, Tsunade membelalakan matanya.

—tanpa diragukan lagi, 5 kupon yang dia beli... Di atas kertas yang berisi para pemenang lotre, tertera nomer kode miliknya, dia memenangkan ke lima limanya.

Tsunade terdiam dengan wajah pucat. Semua kemenangan menakjubkan yang dia dapatkan ini benar benar tidak mungkin bisa dia tertawa untuk merayakannya. Jangankan tertawa, bahkan hanya untuk tersenyum saja terasa sesulit mengangkat beban ratusan kilo.

Lembaran ryu dalam jumblah yang tidak sedikit menjadi miliknya. Harusnya Tsunade senang karena harapannya yang putus asa benar benar terkabul, namun bukan perasaan itu yang muncul, melainkan sensasi dingin yang terus memanjat di tulang punggungnya.

Memang benar jika Tsunade menginginkan uang dari hasil menukarkan lotre, karena itu satu satunya harapan yang bisa dia andalkan untuk menyambung hobinya namun, ini terlalu berlebihan.

Di waktu yang lain hal serupa juga pernah terjadi, dia memenangkan sejumblah besar uang dari mesin jakpot, dan hasil dari membayar keberuntungan besar itu benar benar tidak sebanding dengan apa yang dia dapatkan.

—Tsunade membayarnya dengan kematian Dan di hari berikutnya.

"Tsunade-sama?"

Naruto yang berjalan disampingnya mengeluarkan suara, itu dikarnakan Tsunade yang tiba tiba menggandeng tangan Naruto dan meremasnya dengan keras.

"Tsunade-sama?"

Suara Naruto terdengar lagi, dan kali ini berhasil menyadarkan Tsunade.

"Ah? Um.. Ayo kita pulang, Naruto."

"Apa anda baik baik saja? Anda kelihatan pucat."

"Tidak. Aku baik baik saja, tidak perlu khawatir."

Tsunade memaksakan tersenyum meski itu sebenarnya malah mengundang keraguan di wajah Naruto.

—semua akan baik baik saja.

Tsunade membisikan kata kata itu pada dirinya sendiri.

Yah, bebepa kebetulan pasti bisa terjadi diantara sepersekian ribu kemungkinan lainya. Lagipula dia tidak mungkin se-sial itu, hanya karena memenangkan lotre bukan berarti sesuatu benar benar akan terjadi.

Kalaupun iya, tidak berarti itu akan berhubungan dengan orang disekelilingnya. Ada banyak hal yang bisa terjadi, mengapa dia harus khawatir?

Lagipula, aku yang sekarang bukan aku yang dulu lagi, sekarang aku cukup kuat untuk memastikan orang orang disekitarku tetap aman.

Tsunade menghela nafas saat menyadari jika dirinya sudah cukup tenang.

Dia menatap Naruto lagi dan kali ini senyum yang muncul adalah senyum penuh keyakinan.

"Shizune pasti akan mengamuk jika dia sadar kalau kita meninggalkannya. Ayo kita kembali."

Naruto mengedipkan matanya, mungkin karena suasana hati Tsunade yang berubah tiba tiba membuat anak laki laki ini sedikit bingung, akan tetapi itu hanya sesaat sebelum dia mengangguk dan menjawab,"Ya."Sambil mengikuti langkah Tsunade yang menarik tangannya.

"Setelah itu aku akan melihat hasil latihanmu."

"Ya, Tsunade-sama."

"Setelah latihan, bagaimana jika kita makan ramen?"

"Ya. Saya sangat menantikannya, Tsunade-sama."

*fufufufu*Tsunade tertawa senang.

Mereka sampai di penginapan dan mengajutkan Shuzune dengan gumpalan uang yang Tsunade dapat dari hasil memenangkan judi.

Kemudian, saat berikutnya Shizune ikut menyaksikan latihan Naruto.

Latihan Naruto bukan sesuatu yang luar biasa karena Tsunade hanya mengajari sedikit teknik ninjutsu dan lebih condong pada ninjutsu medis untuk Naruto.

Namun Naruto yang memang pernah menjadi siswa Akademi dan anggota keluarga atas klan Uzumaki, memiliki kemampuan penyegelan yang bagus. Seperti kebanyakan Uzumaki yang kebanyakan dari mereka bisa memunculkan Fuinjutsu dalam bentuk fisik, seperti bentuk Toori, rantai, penjara besi dan lain sebagainya.

Seperti yang Naruto lakukan sekarang, apa yang ditunjukkan olehnya adalah Fuinjutsu dalam bentuk rantai.

Shizune disamping Tsunade bertepuk tangan dengan kagum.

Tsunade di sisi lain memberikan jempol pada Naruto dengan senyumnya yang lebar.

Langit semakin merah dan merah, dari merah orange berubah menjadi merah tua. Malam hampir tiba.

Seperti janji Tsunade. Dia menteraktir Naruto ramen di salah satu kedai beserta satu orang yang tambahan.

Hari ini sangat menyenangkan.

Seperti setiap harinya yang dia lewati dengan Shizune dan Naruto biasanya, hari ini benar benar menyenangkan.

Kalau dipukir pikir, dengan semua kesenangan ini tidak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi, Tsunade meyakini itu sambil menenggak cairan alkohol kedalam tenggorokannya.

"Mari kita minum, Shizune, Naruto!"

"Fufu. Untuk merayakan kemenangan anda yang dulu saya kira hanya ada dalam mimpi, saya akan menjadikan kali ini pengecualian. Saya akan minum!"

"Ah, tidak. Saya masih belum 20 tahun jadi, saya belum boleh untuk minum."

"Ohohoho. Tidak perlu terlalu tunduk pada peraturan. Bukankah peraturan itu ada untuk dilanggar?"

"Ahahaha. Tsunade-sama, lihat! Atap kedainya bergoyang."

"Hei, Shizune! Kau langsung mabuk hanya sekali teguk?"

"Whuaaa! A-apa apaan payudara anda itu!? Ke-kenapa mereka bertambah besar?!"

Kedai ramen jadi sangat ribut karena kelakuan dua perusuh ini.

Saat itu, tirai kedai disingkap oleh seorang wanita seumuran Shizune. Mengikuti dibelakangnya adalah pria muda berambut perak, kemudian pria pirang yang kelihatannya berada di usia yang sama dengan Tsunade atau lebih muda?

Duduk disamping Naruto yang adalah satu satunya yang tidak mabuk, perempuan itu memberi senyum ramah.

Dilihat ikat kepala yang mereka pakai, sepertinya mereka adalah Shinobi Konoha.

Tsunade yang menyadari kehadiran orang orang yang dia kenal melirik sebentar dan bergumam,"Oh? Kau Minato..?...hmm."

Karena dia sedang sangat mabuk. Reaksi yang dia tunjukkan hanya gumaman tidak jelas sebelum jatuh tertelungkup diatas meja.

Tbc

Udah chapter 3. Mudah mudahan fic ini bisa selesai sebelum bulan ramadhan.

Omong omong, ini fic romance n drama, jadi besar kemungkinan adegan action agak sangat sangat jarang, kalaupun ada, itu bukan sesuatu yang musti diharepin terlalu banyak karena Author gk ahli di ganre ini.

Ada yang minta dibikin M, tapi sepertinya Author musti bilang gk deh.

Ada juga yang minta Doujutsu, ya ampun, ini fic romance n drama tau.

Yah, karena pada dasarnya alasan saya nulis cuman buat menuhin fantasi egois saya sendiri jadi, saya akan ngelanjutin apa yang saya fantasiin.

Mufufufu, tolong maafkan keegoisan Author.