.

.

.

"Ini sangat panjang dan terasa lembut. Hmm... Sepertinya kau cukup rajin merawatnya, Naruto. Itu bagus —oh, ya ampun, bukankah selama ini aku yang merawatnya, aku lupa, tehehe~"

"Kuh!"

"Ngomong ngomong kau ini tidak bisa diam ya? Tenanglah, jangan bergerak, atau aku akan memotong sesuatu yang lain."

"Maafkan saya, Tsunade-sama —Hyaaa!"

"Jangan berteriak seperti anak perempuan! Kau itu laki laki kan?"

"Y-ya. Saya laki laki, tentu saja! Tapi tadi itu sakit!—Ohh! Tolong lakukan lebih lembut, Tsunade-sama, itu sakit sekali!"

"Itu karena kau yang tidak bisa diam, aku jadi kesulitan melakukannya!"

Tsunade mengerutkan bibirnya dengan tidak senang karena mendengarkan jeritan jeritan Naruto, tapi meski demikian, dia tetap melakukan apapun kegiatannya dengan sangat bergairah.

Setelah pergumulan yang panjang, Tsunade, dengan wajah puas menatap anak laki laki di depanya, mengamati dari berbagai sisi lalu mengangguk,"Sudah kuduga, aku memang berbakat."Dia berkata seperti itu kemudian mulai berdiri.

"Akhirnya selesai juga..."

Yang menggerutu dan duduk dengan wajah tidak senang itu adalah Naruto yang sekarang berambut pendek.

Karena satu dan lain hal, Tsunade memutuskan untuk sedikit mempermak penampilan Naruto. Lagipula, menurutnya pria dengan rambut panjang itu sama sekali tidak keren, jadi dia memangkas rambut Naruto hingga seperti sekarang ini.

"Nah, bagaimana menurutmu?"

Sambil bertolak pinggang, Tsunade memberi isyarat pada Naruto untuk melihat dirinya pada cermin besar yang berdiri di sampingnya.

Saat Naruto melihat dirinya di depan cermin, pemuda itu langsung mengerutkan keningnya. Disana terlihat orang yang benar benar asing, seorang pemuda dengan rambut pirang yang mencuat adalah pantulan dirinya yang sekarang.

"Kenapa kau terlihat tidak puas?"

"B-bukan seperti itu, hanya saja terasa sedikit aneh."

Berkata seperti itu, Naruto menggelengkan kepalanya, tapi tetap saja ada sedikit ketidaknyamanan di wajahnya.

Tsunade paham mengapa Naruto membuat reaksi seperti itu. Bagi anggota klan Uzumaki, adalah hal tabu untuk memangkas rambut mereka, karena itulah Naruto terlihat tidak begitu nyaman.

Ada banyak diantara anggota klan Uzumaki yang rambutnya bahkan sampai mencapai tanah, contohnya adalah neneknya yang memiliki rambut yang panjangnya hampir dua kali tubuhnya sendiri lalu Uzumaki Kushina yang adalah sepupunya juga punya rambut sangat panjang.

Selain itu, beberapa klan lain juga memang memiliki tradisi serupa, seperti klan Hyuga misalnya atau klan Yamanaka atau juga Senju (meski tradisi itu mulai ditinggalkan).

Rambut memang properti yang bukan hanya sekedar hiasan kepala, tapi juga letak dari kehormatan dan harga diri, namun hal ini hanya berlaku pada generasi dewasa. Untuk Naruto, rambut mungkin hanya sekedar properti kepala biasa tanpa ada nilai filosopis apapun. Karena itulah, daripada memprotes karena rambut yang merupakan lambang kebanggaan seorang Uzumakinya dipotong, dia lebih terganggu dengan kenyataan bahwa penampilannya yang agak berbeda.

"Tenang saja, kau pasti akan terbiasa. Sekarang pergilah mandi, aku akan menunggumu disini."Setelah mengatakan itu pada Naruto, Tsunade lalu berpaling kearah lain," Shizune, ambilkan pakaian yang baru kubeli tadi."

"Ah?...Ya, baik!"

Menanggapi perintah Tsunade, Shizune yang menjadi pengamat di sudut ruangan merespon dengan gerakan cepat dan pergi ke arah kamar. Tidak lama kemudian dia kembali dengan satu set pakaian lengkap terlipat rapi diatas tangannya.

"Ini, Tsunade-sama."

"Terima kasih, Shizune.. Naruto, pakailah ini sehabis mandi."

Tsunade menerima satu set pakaian itu dan langsung menyerahkannya pada Naruto yang mengangguk paham sebelum dia pergi ke kamar mandi.

Sambil menunggu Naruto selesai mandi, keduanya mulai membersihkan rambut milik Naruto yang berhamburan di lantai bersama sama.

"Tsunade-sama, bagaimana dengan pembicaraan dengan Minato-sama?"

Tsunade menghentikan gerakannya secara tiba tiba, ada helaan nafas capek yang keluar dari bibirnya sebelum dia menjawab,"Aku belum memikirkan soal itu."

Itu adalah sebuah nada mengakhiri, yang menandakan Tsunade tidak menginginkan hal ini di bahas lebih jauh, jadi Shizune yang memahami itu mengangguk dan mencegah dirinya dari bertanya lebih banyak mengenai hal itu.

Melanjutkan lagi pekerjaannya, Tsunade mendengar deheman singkat Shizune yang sepertinya akan membawa topik lainya.

"Nohara Rin. Saya baru bertemu dengannya kemarin, tapi mungkinkah dia mengenal Naruto?"

Itulah yang Shizune katakan dan hal itu sedikit banyak menarik perhatian Tsunade.

Nohara Rin adalah gadis seusia Shizune yang berarti mungkin dia berusia 19-20 tahun. Dia satu dari dua murid Namikaze Minato yang semalam datang menemuinya untuk membujuk Tsunade perihal sesuatu yang tidak ingin dia bahas untuk saat ini —dia, gadis bernama Rin itu mendekati Naruto beberapa kali dan mengajak anak itu bicara, meski Naruto yang tidak menyukai orang asing hanya mengacuhkannya, tapi gadis itu terus ngotot.

Karenanya, Tsunade juga sedikit memikirkan ini, apa alasan gadis itu mendekati Naruto. Juga, cara gadis itu melihat Naruto bukanlah apa yang ditunjukan oleh orang yang baru pertama kali bertemu, itu adalah tatapan yang sering Tsunade lihat di suatu tempat.

Akan tetapi untuk beberapa alasan Tsunade yakin jika gadis itu tidak mengenal Naruto ataupun sebaliknya, itu tergambar jelas dalam mata Naruto yang melihat Rin hanya sebagai orang asing. Terakhir kali dia memeriksa, Naruto sama sekali tidak mengalami amnesia, jadi, kemungkinan besar gadis itu hanya salah mengenali.

Karena itulah, jawabannya sudah jelas,"Aku yakin tidak."

"Yah, entah mengapa saya rasa anda benar. Tapi apakah tidak apa apa jika dibiarkan saja seperti itu?"

"Jika yang kau maksud itu soal identitas Naruto, kau tenang saja, aku tidak berniat menyembunyikannya dari Konoha selamanya."

"Iya juga sih, tapi kan..."

"Sudahlah, Shizune. Seharusnya ini kesampatan bagus bagi Naruto untuk membiasakan diri bergaul dengan orang lain selain kita, lagipula gadis bernama Rin itu kelihatannya gadis yang baik."

"Eh? A-anda tidak keberatan?"

"Memangnya kenapa aku harus keberatan? Apa kau pikir aku ini semacam diktator yang suka menyalahgunakan kekuasaan, menindas rakyat yang lebih lemah hanya untuk kepuasanku sendiri, begitu?"

Mempertimbangkan kelakuan Tsunade selama ini, Shizune menjawab tanpa berpikir,"Sebenarnya sih iya."

"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu?"

"Bu-bukan apa apa."

Tsunade kelihatan tidak puas dengan jawaban Shizune, namun saat dia hendak melemparkan pertanyaan lainya, Shizune sudah bergegas pergi untuk membuang tumpukan rambut yang mereka kumpulkan kedalam tempat sampah.

Setelah selesai membersihkan rambut rambut Naruto, Tsunade mendudukkan diri diatas kursi begitu juga dengan Shizune yang melakukan hal yang sama.

Kemudian pintu kamar mandi terbuka. Naruto keluar dari kamar mandi dengan tampilan baru yang menyegarkan.

"Saya sudah selesai."

Rambut pirangnya yang sudah dipotong pendek, Gakuran berbahan tipis yang cocok dengan daerah kering dengan celana hitam yang cocok dengan Gakurannya, sebenarnya ada juga boots hitam yang seharusnya melengkapi penampilan Naruto, tapi karena ini di dalam ruangan, Tsunade tidak mungkin mengizinkan Naruto memakai boots nya sekarang.

Melihat penampilan Naruto, Tsunade*Pon!*memukulkan kedua tangannya sambil berekspresi cerah.

"Aku membelinya secara spontan saat pulang dari tempat kasino tadi, tapi tidak kusangka itu sangat pas di badanmu. Hmm.. Mungkinkah ini yang disebut sebagai intuisi seorang Onee-chan? Wow, intuisiku ternyata sungguh menyeramkan!"

Sementara Tsunade jatuh dalam kebanggaan yang aneh, Shizune memperlihatkan wajah masam yang bercampur aduk.

"Warna hitam dan wajah lesu itu entah mengapa terasa begitu pas hingga membuatku ingin menangis... Ini sepenuhnya salah Tsunade-sama yang tidak mendengarkan saya untuk membeli pakaian berwarna sedikit cerah. Ya ampun, berkat pakaian itu, aku mulai merasakan suasana suram seperti di pemakaman seseorang!"

"Maafkan saya Shizune-san, tapi wajah saya memang sudah begini saat dilahirkan."

Pada serangan langsung Shizune, Naruto menundukkan kepalanya seolah sedang depresi pada kenyataan pahit yang dengan kejamnya telah Shizune ungkapkan.

Meskipun sebenarnya yang dikatakan wanita itu memang benar. Jika diperhatikan baik baik, ekspresi masam Naruto seolah menyiratkan ketidakrelaannya untuk mengenakan pakaian tersebut.

Dan pada kenyataannya Tsunade memang memaksa Naruto untuk mengenakan itu. Bagaimana pun dia lah yang memiliki ide mempermak penampilan Naruto yang agak mencolok dengan seenaknya.

Untuk sesaat Tsunade memandangi Naruto lagi, lalu menampakkan sedikit ekspresi kurang puas.

"Hmm... Kesinilah."

Naruto yang mendapat perintah dari Tsunade, mendekatinya dalam diam, lalu tangan wanita pirang itu bergerak menuju bagian leher Naruto, sambil memperbaiki daerah yang tidak dikancing, wanita itu berkata dengan suara capek,

"Ada beberapa kancing yang tidak dipasang. Jika kau memang melakukannya karena mempertimbangkan cuaca disini, tenang saja, pakaian ini di desain khusus untuk daerah panas meskipun warnanya gelap dan tertutup. Pakaian ini di buat dari bahan khusus sehingga tidak akan terasa panas meskipun di bawah terik matahari, itu kata penjualnya sih."

"Hebat. Ya, memang tidak terasa panas jika dipikir pikir."Naruto bergumam dengan kagum

"Tentu saja. Aku membelinya dengan sepenuh hatiku, tahu. Tidak mungkin aku akan membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan kenyamananmu."

"Wew, bukannya seseorang baru saja mengaku jika dia membeli pakaian itu secara spontan?"Sahut Shizune.

Shizune yang disamping Tsunade membuat ekspresi,'hah, jangan bercanda!' saat mendengar ucapan Tsunade.

Mengabaikan Shizune dibelakang, Tsunade mulai merapikan rambut Naruto dengan sisir, membuat rambut pirang yang sebelumnya berantakan itu sedikit lebih klimis.

Naruto memejamkan matanya karena gerakan menyisir Tsunade, anak itu kelihatannya cukup menikmatinya, itu membuat Tsunade senang.

"Penampilan itu sangat penting. Kau harus terlihat bersih setiap saat, kalau tidak, aku akan kesulitan dalam pertemuan dengan para rintenir."

Alasan yang sungguh aneh, dan Naruto yang tanpa perlawanan mengangguk setuju juga tidak kalah anehnya.

"Ya, Tsunade-sama."

Tsunade mengangguk pada jawaban cepat Naruto.

Membawa wajahnya semakin dekat, Tsunade menyandarkan wajahnya di bahu Naruto. Aroma shampo yang keluar dari tubuh anak laki laki di depannya memasuki penciuman Tsunade dengan segera, dan itu membuatnya tanpa sadar membuat senyum kecil.

'Terasa nostalgia.'Tsunade bergumam dalam pikirannya sendiri.

Dia sering melakukan ini dengan Nawaki, dan sekarang dia melakukannya lagi pada orang selain Nawaki, Naruto.

Bersikap lembut adalah salah satu kekurangan Tsunade, namun dia tetaplah seorang wanita. Tidak peduli bagaimana kasarnya kepribadiannya, ada bagian dirinya yang menginginkan untuk menyalurkan kasih sayangnya yang dia simpan dalam hatinya.

Saat Tsunade melamunkan banyak hal dalam pikirannya, suara pelan Naruto yang teredengar kesepian memasuki pendengarannya.

"Apakah anda akan kembali ke Konoha?"

Pada suara itu, Tsunade merasakan nyeri yang aneh di ulu hatinya.

Spontan dia meninggalkan bahu Naruto untuk menatap sepasang mata biru yang tidak memancarkan cahaya milik anak itu, meneliti wilayah itu dan berharap bisa membaca apa yang anak itu pikirkan, lalu, Tsunade menyerah karena berapa kalipun dia mencoba, disana tetaplah wilayah yang tidak terjamah olehnya atau siapapun, dan dengan sebuah desahan dia berkata,

"Apakah kau ingin kita ke Konoha dan tinggal disana, apa itu maksudmu?"

"Saat ini setiap negara menyimpan kecurigaan pada satu sama lain. Saya tidak yakin jika Konoha membiarkan orang asing memasuki wilayah mereka dan tinggal disana, satu satunya yang terpikirkan hanyalah bahwa mungkin orang asing yang datang itu adalah mata mata yang diutus negara lain. Saya tidak mungkin bisa mengikuti anda seandainya itu terjadi."

"Kau benar. Tapi rasanya mustahil untukku kembali ke Konoha."Kata Tsunade.

"Kenapa?"

Mendengar itu, Tsunade memandang ke kejauhan sesaat sebelum dia berkata dengan suara lembut yang dipaksakan,"Tidak, tidak ada alasan khusus, aku hanya tidak ingin, itu saja."

"Begitu."

Untuk beberapa alasan, terjadi keheningan dalam ruangan itu. Baik Tsunade, Shizune, maupun Naruto saling diam satu sama lain, penyebabnya karena suasana 'tolong jangan katakan apapun' yang Tsunade keluarkan dari tubuhnya.

Mungkin karena memahami ketidaknyamanan Tsunade, atau mungkin hanya murni kebetulan, Naruto berjalan ke sisi lain ruangan dan mulai membaca buku pemberian mengenai anatomi tubuh manusia.

Entah mengapa, Tsunade menghela nafas lega begitu melihat Naruto menjauh.

Tadi malam Namikaze Minato, yang adalah suami dari sepupunya datang menemuinya di kedai. Waktu itu Tsunade agak mabuk, jadi dia hanya mengingat beberapa saja. Seperti rencana Hokage ke tiga mengundurkan diri dan rencana pengangkatan Hokage ke empat, akan tetapi hanya dengan itu saja mood nya sudah benar benar hancur, alhasil Tsunade mulai mengamuk dan membuat Minato terpaksa menunda pertemuan.

Sebenarnya, Tsunade lebih senang jika pria itu menyerah dan pulang saja ke Konoha, itu akan membuatnya sangat berterimakasih. Tapi, apa boleh buat.

Kemudian, beberapa jam berlalu dan sekarang hampir jam 3 sore. Hari ini secara mengejutkan tidak sepanas kemarin, jadi tidak ada lagi dua wanita yang menggila karena otak mereka yang terpanggang dan dehidrasi.

Kemudian saat itu *toktoktok* terdengar ketukan pintu yang secara otomatis membuat Tsunade mendengus sebal.

"Ini saya, Namikaze Minato."

Seperti yang sudah dia duga, Tsunade berdecak dan dengan malas balas menjawab,"Masuklah."

*Gararara*Pintu bergeser dan tiga orang yang di kepalai oleh seorang pria berambut pirang masuk kedalam kamar Tsunade.

"Permisi, maaf mengganggu."

"..."

"Permisi. Halo~"

Minato memperlihatkan wajah canggung, Kakashi tidak peduli pada apapun seperti biasa, dan Rin berperilaku ramah yang sesuai dengan gadis seusianya. Ketiga tamu itu memasuki ruangan Tsunade dan menempatkan diri pada tempat duduk setelah dipersilahkan oleh tuan rumah.

Kecuali satu orang. Dia adalah gadis dengan rambut merah gelap yang langsung tertarik dengan sosok yang sedang membaca buku di sudut ruangan.

"Naruto. Buku apa yang sedang kamu baca?"

Gadis bernama Nohara Rin itu bangkit dari tempat duduk bahkan sebelum bokongnya menyentuh kursi dan menghampiri Naruto, seperti pertama kali mereka bertemu di waktu sebelumnya, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan gerak gerik canggung untuk ukuran seseorang kenalan baru.

"Oh? Kamu juga mempelajari teknik medis?"

Rin dengan lancarnya berbicara, dia menempatkan dirinya duduk disamping Naruto dan mengintip kedalam buku dengan penuh rasa ingin tahu.

Untuk sesaat mata Naruto beralih pada Tsunade yang menjadi pengamat kedunya. Dengan senyum kecil, Tsunade mengangguk pada Naruto, mengatakan.'Tidak apa apa.'Dengan tersirat.

"Hm. Tapi hanya dasar dasanya saja."

Itulah suara yang keluar dari mulut Naruto setelah mendapat ijin dari Tsunade, meskipun cara bicaranya masih terdengar berhati hati.

"Begitu? Ngomong ngomong aku juga Ninja medis, aku cukup percaya diri dengan kemampuan medisku."

Setelah itu, percakapan yang lebih banyak dibawa Rin mengalir dengan alami. Gadis itu hampir tidak pernah kehabisan topik pembicaraan dan secara terus menerus menyerang Naruto dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat Naruto kelihatan kewalahan.

Gadis ramah yang mudah disukai orang lain, itu adalah kesan Tsunade terhadap Rin. Namun Tsunade tidak percaya bahwa Naruto berbicara lebih banyak pada Rin bahkan menunjukkan perasaan tertarik, padahal sejauh yang Tsunade tahu mereka tidak terlihat sedekat itu.

Mengalihkan perhatiannya pada Naruto dan Rin kepada pria pirang di depannya, Tsunade berkata,"Katakan apa yang perlu kau katakan. Aku tidak punya banyak waktu, jadi langsung ke intinya saja."

Menanggapi nada ketus Tsunade, Minato hanya bisa menampilkan senyum terluka di wajahnya sembari dia mulai bicara.

"Y-yah, begini..."

Seperti kemarin. Topik yang di bawa Minato adalah mengenai jabatan Hokage ke empat yang sebelumnya di amanatkan padanya oleh Hokage ke tiga. Namun Minato yang memiliki banyak musuh semasa perang besar tidak memanuhi syarat untuk jabatan itu. Konoha yang sekarang sedang berusaha mengkampanyekan perdamaian ke seluruh negara, akan tetapi akan menjadi sesuatu yang ironis jika Minato yang adalah Shinobi yang paling bertanggung jawab pada banyak pembantaian terhadap Shinobi lawan menjadi seorang Hokage, itu akan terasa seperti Konoha sedang menginjak injak harga diri desa lain yang kehilangan banyak Shinobi mereka karena pria ini.

Oleh karena itu, dibutuhkan tokoh netral yang tidak terlibat di perang dunia ke tiga untuk mengambil jabatan Hokage tersebut. Dan Tsunade Senju adalah salah satu dari beberapa pilihan yang ada.

"Tapi, kenapa aku?"

"Anda benar. Jika dilihat kebelakang, akan ada Jiraiya-sensei dan Orochomaru-sama. Tapi dari kedua orang itu manakah yang anda pikir paling cocok?"

"Aku tidak menyukai Orochimaru, jadi kurasa Jiraiya."

"Itu pilihan yang bijak, Tsunade-sama, tapi sayangnya Jiraiya-sensei melanjutkan latihan Senjutsu nya di Myubokuzan."

Tsunade menjadi diam.

Perang dunia ke dua yang terjadi hampir 7 tahun lalu adalah perang terakhir yang Tsunade ikuti. Dan sama sepertinya, kedua rekan satu timnya, Jiraiya dan Orochimaru juga memutuskan untuk tidak terlibat dengan perang saat ini. Mereka berdua entah membuat penelitian menjijikan atau melatih diri, dan dalam kasusnya, Tsunade memilih untuk berpetualang seperti gelandangan sembari menipu orang.

Shinobi di angkatan Tsunade yang ikut berperang di era ini agak jarang akibat tingginya angka kematian pada masa perang dunia ke dua sehingga sangat sedikit ada Shinobi yang bertahan hidup dari era itu, dan pria di depannya saat ini meskipun beberapa tahun lebih muda, adalah salah satu dari sedikit Shinobi yang bertahan di waktu itu dan memilih untuk terlibat lagi di perang dunia ke tiga.

Rasa kenegaraan yang dimiliki Minato mungkin yang terbesar di angkatannya, itulah yang membuat pria ini begitu sering berdiri di garis depan medan pertempuran, namun berkat itu pula dia menjadi sosok yang ditakuti dan dibenci banyak musuh musuhnya.

Sarutobi Hiruzen, Hokage saat ini yang merasa gagal memimpin desa sehingga korban jiwa dan perang terus berlanjut, memutuskan untuk turun tahta dan mengangkat Minato sebagai Hokage ke empat dengan mempertimbangkan kemampuannya dalam mendominasi tiap pertempuran, akan tetapi repotasi agung Minato tersebut justru menjadi batu sandungan untuk keputusan itu.

Itu belum termasuk konflik internal yang tidak menyetujui pengangkatan Minato oleh Hokage saat ini. Beberapa petinggi memiliki keraguan pada kemampuan Minato, itu tentu saja bukan tentang peformanya di medan perang, tapi kemampuannya memimpin sebagai Hokage.

Pria ini mungkin saja jenius, tapi bagi para petinggi yang kolot, kejeniusan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebijaksanaan, lagipula, generasi tua yang angkuh mana mungkin mau dipimpin oleh seorang anak kecil yang bahkan bukan anggota Klan besar.

Hokage ke tiga bisa saja mengabaikan para dewan dan bersikeras mengangkat Minato, tapi itu bukan hanya berakibat pada gagalnya rencana perjanjian damai dengan desa lain, Konoha sendiri bahkan sangat mungkin mengalami perang saudara, mengingat besarnya pendukung para dewan itu.

Pria ini pasti mengalami banyak kesulitan.

Tsunade terus terang saja merasa prihatin pada suami dari Kushina Uzumaki ini. Pria ini yang meski masih sangat muda telah memutuskan untuk memikul beban sebanyak itu, sangat berbeda dengannya, tapi —

"Maafkan aku, tapi aku khawatir tidak bisa memenuhi harapanmu, Minato. Dan lagipula, aku tidak punya kewajiban lagi pada Konoha semanjak Hokage ke tiga menolak proposalku, kau mengerti kan maksudku?"

Ini mungkin terdengar kekanakan. Tapi Tsunade tidak bisa memaafkan bagian itu dari kepemimpinan Konoha saat ini. Karena penolakan proposalnya, Tsunade harus kehilangan Dan.

Dengan anggukan, Minato berkata,"Saya paham."

"Tapi, Tsunade-sama. Tidakkah anda mendengar jika ide yang anda ajukan dulu sudah menjadi sistem resmi? Sekarang Shinobi Konoha memakai tim 3 orang dengan satu ninja medis. Jika itu masalahnya, bukankah semuanya sudah selesai?"

"Aku khawatir kau tidak mengerti maksudku."

Karakteristik klan Senju adalah kejujuran mereka dalam mengekspresikan perasaan, dan Tsunade bukanlah pengecualian. Dia kecewa pada Hokage ke tiga, juga marah karena kelambanan Hokage dalam mengambil sikap dan itu berakibat pada terbunuhnya tunangannya. Ini bukan lagi soal ide, tapi kekecewaan dari seorang gadis yang nyawa kekasihnya sudah direbut.

Akhirnya jam berlalu dengan cepat, dan perundingan sekali lagi mengalami kebuntuan.

Saat itu, ketika Minato pamit dengan wajah kecewa yang tanpa ditutupi, mata Tsunade menangkap si pemuda berambut perak yang sedari tadi mengarahkan tatapan dingin pada sepasang manusia yang mengobrol di pojokan.

"Rin, sudah saatnya kita kembali."

"Minato-sensei. Aku akan berlatih bersama dengan Naruto, kupikir tidak masalah jika aku tetap disini, legipula kita menginap di penginapan yang sama."

"Ja-jangan berkata tidak sopan seperti itu, kau akan membuat Tsunade-sama kerepotan."

Minato kelihatan kesulitan atas penolakan Rin yang keras kepala, pria pirang itu dengan ragu menoleh pada Tsunade yang sedang mengangkat alisnya padanya. Wanita pirang itu memang terkejut pada keberanian gadis itu, tapi itu bukan berarti Tsunade akan keberatan.

"Itu bukan ide yang buruk."

Karena Tsunade sudah setuju, Minato hanya bisa menggaruk belakang kepalnya sambil tertawa dengan canggung.

"Maaf merepotkan anda."

"Tidak masalah, lagipula sejak semalam kau sudah banyak membuatku repot, menambah satu atau dua kerepotan lagi tidak akan ada bedanya."

"Aahh.. Sa-saya benar benar mohon maaf."

Sambil membukuk meminta maaf, Minato keluar bersama Kakashi dan meninggalkan satu anggota wanitanya.

Tsunade menatap Kakashi yang berhenti sebentar di depan pintu, dalam diam dia menatap Naruto dan Rin yang bicara mengenai entah apa, itu dengan tatapan dingin yang sama seperti sebelumnya. Kemudian pemuda itu pergi dan menghilang di balik pintu geser.

Tim yang memiliki banyak masalah, demikianlah kesimpulan Tsunade. Sekali lagi, Tsunade hanya bisa prihatin pada Minato yang adalah ketua dari tim ini.

Kemudian, seseorang duduk disampingnya dan memanggil namanya, itu adalah Rin.

"Tsunade-sama."

"Ada apa Rin?"

Kali ini berbeda seperti bersama Naruto, gadis ini entah mengapa terlihat sedikit murung, dia mengepalkan kedua tangannya diatas pahanya sambil menatap Tsunade dengan matanya yang besar.

"Tsunade-sama, apakah anda tahu kalau Kushina-sensei sedang hamil?"

Pada informasi mengejutkan itu, Tsunade hampir meloncat dari tempat duduknya.

"Ha-hamil? Apa itu benar?"

"Kushina-san Hamil!? Ini, ini kabar yang mengejutkan!"

Bahkan Shizune langsung heboh dengan kabar ini.

Seolah tidak terpengaruh dengan keributan itu, Rin mengangguk tenang.

"Ini sudah memasuki bulan pertama. Kami baru diberitahu baru baru ini, yah, itu tidak terlalu mengherankan karena Sensei sangat sibuk dan jangankan untuk kami, dia bahkan jarang bisa pulang dan bertemu Ksuhina-sensei."

Ini adalah berita yang sangat bagus, tapi kenapa gadis ini terlihat muram? Tanpa sempat memikirkan itu lebih Jauh, Tsunade mendengarkan Rin terus bicara.

"Saya sangat senang mendengar berita itu, Kakashi juga. Akan tetapi karena beberapa alasan, para dewan mendesak Minato-sensei untuk menggugurkan kandungan Kushina-sensei."

"Ap —!"

Sementara Tsunade membelalakan mata, Shizune yang berada disampingnya benar benar mematung dengan wajah tidak percaya.

"Alasannya karena Kushina-sensei adalah seorang Jinchuriki. Seorang Jinchuriki yang mengandung berpotensi besar membuat biju dalam tubuhnya lepas saat proses melahirkan. Ini memang terdengar kejam, tapi di era perang ini, musuh selalu menunggu saat saat lemah kita. Karena itulah para dewan tinggi Konoha mengambil tindakan pencegahan ini."

Suara Rin hampir datar tapi wajahnya terlihat sedang menahan tangis.

"Tapi, tapi meskipun ini demi desa dan negara, saya tetap tidak bisa memaafkannya. Mengapa Minato-sensei yang sudah berjuang sangat keras untuk desa harus mendapatkan perlakuan seperti ini dan Kushina-sensei yang sudah mengorbankan dirinya sebagai Jinchuriki tidak seharusnya dibuat terus menderita, bagiku, ini sudah keterlaluan."

Skenario terburuk itu sebenarnya bisa dihindari, yaitu dengan membuat seluruh negara yang berseteru menandatangani perjanjian damai, dengan begitu Konoha tidak perlu khawatir akan ada pihak luar yang akan mencoba menyerang saat proses persalinan. Pada proses itu, Kyubi mungkin saja lepas tapi setidaknya satu satunya ancaman yang Konoha khawatirkan hanyalah itu, bahkan jika Konoha berhasil menjalin hubungan baik dengan negara lain, mereka akan datang membantu di waktu itu.

Disamping ingin memperbaiki keadaan dunia saat ini, Minato juga berusaha memenuhi kewajibannya sebagai suami dan ayah untuk menyelamatkan istri dan calon anaknya.

—dan jawaban Tsunade adalah tombol hidup mati dari Istri dan calon bayi dari pria ini.

Tsunade mendengarkan Rin yang mulai membungkukkan kepalanya untuk memohon. Dengan air mata yang berjatuhan, gadis ini berkata,

"Saya tidak punya siapapun yang bisa dipanggil sebagai keluarga, jadi Minato-sensei dan Kushina-sensei yang telah banyak membantu saya sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri.. Sebelumnya saya sudah melihat keluarga saya dibunuh di depan mata saya sendiri, lalu orang yang saya cintai tewas dengan cara yang paling kejam. Jadi, saya memohon atas kemurah hatian anda untuk mempertimbangkan posisi itu, tolong, tolong hentikan perang mengerikan ini, saya mohon!"

"Saya tidak ingin melihat siapapun terbunuh lagi."Mengatakan itu, Rin memperdalam tundukannya hingga kepalanya menyatu dengan bantalan kursi.

Tsunade menyadari sesuatu. Mata Rin yang selalu dia tunjukkan ketika bersama Naruto itu...

Bagaimana bisa dia tidak tahu, dia selalu melihat tatapan itu ketika dia sedang bercermin, ya, itu adalah mata dari seorang gadis yang terbiasa ditinggalkan.

Perbedaannya hanyalah pada kobaran api yang menyala nyala di dalamnya. Gadis bernama Nohara Rin ini memiki api harapan yang tidak bisa dibandingkan sedikitpun dengan milik Tsunade yang hanya berupa percikan kecil.

Dibanding Tsunade yang memilih untuk lari, gadis ini terus berdiri sembari terus menjaga harapannya.

Gadis ini percaya jika dia berusaha keras, maka orang orang yang dia sayangi tidak akan pergi darinya. Kepercayaan dalam suaranya yang bergetar menahan isakan itu terdengar jelas, mata berbinarnya yang mengalirkan air mata itu bukanlah sekedar tangis dari wanita cengeng, tapi bukti dari betapa banyaknya emosi dan harapan yang dia miliki sehingga semua itu merembes keluar.

Gadis ini begitu kuat hingga membuat tangan Tsunade bergetar ketika akan menyentuh bahunya.

—kenapa?

Entah itu Naruto atau gadis ini, kenapa mereka bisa begitu kuat?

Saat itu Tsunade tidak mengatakan apapun. Hatinya dipenuhi oleh perasaan tidak nyaman dan kepalanya disesaki pemikiran pemikiran mengenai ketakutan akan perasaan ditinggalkan sekali lagi.

Setelahnya, Shizune mengusulkan untuk Rin dan Naruto beserta dirinya sendiri untuk melihat perkembangan hasil latihan masing masing dan pergi ke tempat Naruto biasa berlatih, dan meninggalkan Tsunade sendirian di dalam kamar penginapan.

Lalu malam pun tiba

Tanpa suara, Tsunade memandangi langit langit. Berbaring dengan tenang menunggu kantuk datang, tapi berbagai pemikiran menyerangnya sehingga membuatnya terus terjaga.

Saat itu suara gesekan dari kain futon dari arah samping Tsunade terdengar.

"Tidak bisa tidur?"

"Naruto? Ya, sepertinya begitu."

Naruto menyampingkan tubuhnya agar bisa menatap Tsunade. Di jarak 10 meter itu, anak laki laki pirang itu yang selama ini sangat jarang menunjukkan ekspresi di wajahnya, memandangi Tsunade dengan khawatir.

"Tsunade sama..."

Gumaman khawatir Naruto terdengar, di saat yang sama Tsunade ikut menyampingkan tubuhnya dan menatap Naruto langsung pada matanya.

"Hey, Naruto."

"Ya?"

"Bagaimana kalau kita melarikan diri? Pergi ketempat yang jauh dimana hanya ada kau dan aku."

"Ide yang bagus. Tapi kita harus membawa Shizune-san juga, dia akan mengamuk jika ditinggal sendiri."

"Benar juga. Ya, kita akan pergi bersama Shizune juga. Disana tidak ada yang namanya perang, Shinobi atau apapun hal menyakitkan yang ada di disini saat ini... Aku tidak harus melihat darah lagi dan kau dan Shizune tidak akan pernah meninggalkan sisiku."

"Ya."

"Saat ini aku tidak punya banyak uang, tapi jika aku mulai menabung dari sekarang, tiga atau 4 tahun lagi aku akan memiliki uang untuk membeli sebuah rumah kecil dengan tanah yang sangat luas. Naruto, kau tidak masalah jika harus menjadi penggembala sapi kan? Ah, memikirkan wajah masam mu saat kerumuni banyak sapi, itu pasti akan jadi pemandangan yang lucu."

"Ya. Ngomong nomong Shizune-san selalu bicara soal susu sapi, jadi sepertinya anda juga harus membeli sapi yang memprodoksi susu, Shizune-san mungkin senang jika menjadi pemerah susu."

"Akan aku ingat itu, tapi apa kau tau jika yang Shizune bicarakan itu sama sekali hal yang berbeda? Ah, dasar bocah."

"Eh? Memangnya susu sapi itu punya banyak jenis?"

"Ah, lupakan saja."

Tsunade melepaskan tawa*fufu*saat melihat kepolosan Naruto yang benar benar keterlaluan.

Tsunade selama ini berusaha mati matian untuk tidak melihat pada kenyataan. Dia melarikan diri agar bisa melupakan masa lalu mengerikannya. Menyalahkan mereka yang perlu disalahkan supaya hatinya tidak hancur.

Bertahun tahun Tsunade yakin jika dia berhasil melupakan segalanya.

Tapi kata kata Rin menariknya ke kenyataan, memaksa Tsunade melihat realita menyedihkan dunia ini.

Apa yang harus dia lakukan?

Dia memiliki kekuatan untuk memperbaiki dunia ini yang semakin membusuk, tapi dia tidak punya cukup keberanian.

Bagaimana jika dia gagal? Berapa banyak yang akan mati karena kegagalannya?

Karena itulah, Tsunade sangat ingin lari, lari ketempat terjauh yang bisa di capai manusia.

Perlahan lahan kantuk menyerangnya, pandangan Tsunade yang hanya berupa garis tipis terus menatap sosok di seberangnya, ketika dia mulai jatuh dan terdidur lelap, yang menyambutnya hanyalah mimpi indah. Seolah kehangatan dari bola mata biru yang terus memandanginya di sana menyingkirkan kegelapan dalam hati Tsunade.

Tbc.

Sudah chapter 4. Sejauh ini masih lancar, sukur deh.

Rencana awal sih 6 atau 7 chapter, tapi karena saya ini pemalas, bisa aja saya tamatin tanpa mikir endingnya maksa atau gk, ah, saya selalu menyesali ke-moody an saya yang sangat parah ini.