.
.
.
Di sebuah desa yang terletak di dalam pegunungan, sekelompok anak berusia 10 tahun sampai 14 tahun berkumpul di aula panti yang lumayan besar. Mereka semua hanya memiliki satu alasan untuk berkumpul disana, yaitu menyambut teman baru mereka yang baru tiba.
Berdiri di depan anak anak lainya, adalah seorang gadis berambut hitam. Kacamata merah bertengger diatas hidungnya, dan mata dibalik kacamata itu kelihatan serius, nampak seolah dia lebih tua daripada usia sebenarnya yang hanya 11 tahun.
Pokoknya kesan pertama yang ditampilkan olehnya si gadis adalah guru matematika galak.
"Apa benar kalau dia dari Konoha?"
"Aku benci Konoha! Mereka membunuh orang tuaku dan menghancurkan desaku!"
"Katanya perang ini juga disebabkan Konoha."
"Kenapa dia harus ketempat kita, gadis ini.."
"Dia kelihatan jahat, aku tidak suka dengannya."
Dia bisa mendengar gumaman gumaman itu, tapi tetap saja tidak ada perubahan sedikitpun dalam wajahnya.
Orang orang boleh saja mengatai dirinya atau memandangnya dengan cara menyakitkan, tapi dia terlahir dengan kemampuan mengabaikan keadaan yang menakjubkan. Jadi hal semacam ini tidak terlalu berpengaruh padanya.
Dibenci dan diperlakukan tidak adil sudah menjadi agenda hariannya.
Jika bahkan dia tidak sakit hati dengan perlakuan tidak adil dari keluarga kandungnya, apa yang bisa diharapkan dari ejekan orang asing yang bahkan tidak dia kenal?
Seorang wanita ramah berpakaian biarawati mendekat dan memberi senyum keibuan, wanita itu berjongkok untuk menjajarkan tingginya dengan si gadis.
"Halo, namaku Nonou Yakushi, aku adalah pengurus panti asuhan ini. Um, namamu Sarada, benar? Uchiha Sarada?"
"..."
"Umm, mulai sekarang kau akan tinggal di sini. Jadi, baik baiklah dengan semuanya, oke?"
Itu benar, panti asuhan ini akan jadi tempat tinggalnya mulai sekarang.
Jauh dari tempat kelahirannya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya ditempat asing bersama orang orang yang tidak dia kenal.
—Itu tidak masalah, entah itu di Konoha atau ditempat ini, tidak ada bedanya sama sekali.
Dia hanya perlu menjalani hidupnya seperti biasa.
—Seperti ini lebih baik, aku akhirnya bisa keluar dari neraka itu, tempat ini sama sekali tidak buruk.
Panti asuhan ini akan menjadi tempat yang ratusan kali lebih baik daripada tempat lamanya yang disebut rumah, dia akan jauh lebih bahagia disini.
—Onee-sama..
Meski begitu, tetap saja dia tidak bisa sepenuhnya merasa tenang. Satu satunya orang yang paling dia sayangi setelah kedua orang tuanya meninggal. Dia tidak bisa bertemu dengannya lagi
Dia adalah seorang wanita muda berpenampilan maskulin, dingin, sedikit kasar dan agak galak. Tapi dibanding semua wanita di rumah itu, Onee-sama nya adalah yang paling baik padanya, dia adalah adik dari almarhum ayahnya.
Suatu ketika, Onee-sannya pernah berkata,"Aku akan membangkitkan kekuatanku dan menjadi ketua klan, dan kau harus berusaha memperoleh kekuatan yang membuatmu pantas untuk berdiri disampingku."
Saat itu dia masih terlalu muda untuk mengerti apa yang sebenarnya dikatakan Onee-sannya itu, tapi sekarang dia dapat memahaminya.
Uchiha adalah klan yang menghargai kehormatan dan kekuatan di atas segalanya. Yang terkuat akan berdiri diatas yang lainya, oleh karena itu, dia harus menjadi kuat, cukup kuat untuk menerobos tradisi lama klan, kemudian berdiri di tempat yang sama dengan orang itu.
Dengan tekat itu, dia diam diam melatih tubuhnya jauh di kedalaman hutan Kusa.
Sebelumnya dia hanya gadis rumahan yang suka membaca buku dan mengerjakan tugas rumah, tapi berkat tekatnya yang kuat, dia bisa terus menjalani latihan kerasnya tanpa sedikitpun mengeluh.
Berkat itu, tubuhnya babak belur dan selalu membuat pekerja panti dan suster kepala Nonou khawatir.
Dia tidak ingin membuat orang lain khawatir, jadi setiap kali suster kepala bertanya kemana dia pergi, dia akan berkata bahwa dia pergi ke pinggir desa untuk mencari tanaman herbal. Secara kebetulan, panti menjalankan usaha peracikan obat herbal untuk menyokong biaya oprasional panti. Suster kepala tentu saja tidak begitu saja percaya, namun karena kesibukannya mengurus panti dan greja, suster kepala tidak bisa terus mengawasi Sarada.
Kelengahan suster kepala dimanfaatkan Sarada dengan baik. Dia melanjutkan latihan kerasnya kemudian setelah beberapa waktu, Sharingannya bangkit.
Dia begitu bahagia. Membangkitkan Sharingan di usia 11 tahun bukanlah hal yang luar biasa, tapi itu hanya berlaku pada laki laki. Sejauh sejarah Uchiha pernah tercatat, dia adalah wanita kedua termuda yang membangkitkan Sharingan setelah Onee-samanya. Itu sebuah prestasi yang membanggakan.
Dengan perkembangan itu, dia memiliki motivasi lebih untuk meneruskan latihannya dan membuatnya sepuluh kali lebih keras. Hari demi hari dia mulai menjadi kuat dan kuat, namun itu juga berlaku pada rasa percaya dirinya, dia mulai sombong dan merasa bisa melakukan segalanya.
—karnanya, Sarada memasuki daerah yang seharusnya dilarang untuk dimasuki dan bertemu dengan sekawanan Shinobi Iwa.
"Mata merah itu. Uchiha!"
"Mata mata Konoha. Ayo bunuh dia!"
Sarada yang hanya gadis berusia 11 tahun tentu saja bukan tandingan mereka, seberapa kerasnyapun dia melawan, dia tidak bisa apa apa di bawah tekanan sejumblah Shinobi berperingkat chunin dan Jonin, dan hasilnya bisa ditebak, Sadara dikalahkan dalam sekejab.
Dia roboh diatas tanah secara menyedihkan. Kesombongannya adalah alasan dari kekalahannya. Dibawah hunusan Katana salah satu Shinobi Iwa, Sarada hanya bisa memejamkan matanya.
—Maafkan aku, Onee-sama. Aku hanya bisa sampai disini.
Dia menyesalkan dirinya yang begitu menyedihkan. Sarada benci pada dirinya sendiri.
"Sampah."
"Darah separuh."
"Huh, dasar anak pelacur."
Teringan dengan ejekan ejekan orang orang klan di masa lalu, dia hanya bisa merasa sedih.
Bahwa menyadari betapa kecilnya dirinya, dia benar benar merasa ingin menangis.
—mungkin saja selama ini, aku menipu diriku sendiri.
Dia yang putus asa, sudah merasa tidak perlu untuk khawatir. Dia mulai meyakini jika tempat seindah itu, bahwa Onee-samanya tidak mungkin ingin bersama orang sepertinya. Orang sepertinya seharusnya menghilang saja.
Sarada ingin mati sendirian supaya tidak seorangpun bisa tahu mimpinya yang menyedihkan.
Akan tetapi dia tidak mati.
Adalah orang yang paling dia cintai berdiri disana dengan punggung rampingnya yang sangat Sarada rindukan, telah mengalahkan semua Shinobi Iwa sendirian.
"...ke-Nee."
Kemudian saat merasa ketegangannya menurun, Sarada jatuh kedalam kegelapan tampa sempat menyelesaikan nama sang penyelamat.
"Karena kita sudah jadi teman, kamu harus mengabariku kapanpun kamu punya waktu, oke?"
"..."
Naruto hanya diam mendengarkan gadis di depannya bicara. Sesekali dia mengangguk pelan kemudian diam lagi. Sepanjang proses pembicaraan panjang yang kedengarannya tidak penting yang di ocehkan gadis berambut sebahu itu, Naruto hanya sedikit bereaksi sambil mengeluarkan wajah kebingungan beberapa kali.
Sambil tersenyum dengan manis, gadis bernama Rin itu mengambil kedua tangan Naruto dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Nah, aku harap kamu akan datang ke Konoha suatu saat nanti. Aku akan menunjukkan tempat tempat bagus di Konoha secara pribadi padamu, sampai saat itu tiba, aku akan menunggumu."
"..."
"Mari kita saling membuat janji!"
Rin dengan paksa menyilangkan kelingking miliknya dengan milik Naruto, membuat sebuah janji yang kedengaran sangat kekanakan.
Tenggorokan Naruto mengering.
Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa dan pada akhirnya yang keluar hanyalah erangan kecil tanpa makna.
Hanya seperti itu, dan akhirnya dia tidak mengatakan apapun pada gadis penuh semangat yang sangat gigih mendekatinya itu ketika dia berbalik dan pergi bersama Tsunade dan Shizune, meninggalkan kelompok Minato di belakang.
Hingga hari ini, itu artinya sudah 5 hari saat pertama kali dia bertemu Rin. Melakukan latihan bersama, mendengarkan gadis itu bicara, lalu melihat wajah sedihnya yang kadang kadang muncul ketika gadis itu tengah sendirian, atau saat ketika dia memergokinya memandanginya dengan cara yang aneh.
Mengingat itu, Naruto entah kenapa merasa beban berat di kakinya bertambah, rasanya ada bagian dari dirinya yang tidak ingin meninggalkan Nohara Rin, entah kenapa. Itu bukan perasaan romantis antara pria dan wanita, tidak ada pula perasaan kekeluargaan seperti yang dia rasakan pada Tsunade, hanya perasaan tidak nyaman yang dia sendiri tidak tahu apa itu tepatnya.
Sederhananya, dia tidak ingin berpisah dengan Nohara Rin, setidaknya untuk sekarang ini.
Tiba tiba sesuatu yang hangat melingkari tangannya, itu adalah tangan halus seorang wanita yang sangat dia hormati.
"Apa kau mengkhawatirkan gadis itu?"
—Khawatir?
Naruto tidak mengerti, apakah dirinya begitu mudah ditebak? Dan apa tepatnya yang membuat Tsunade menyimpulkan jika dia mengkhawatirkan Rin?
Seolah membaca pikiran Naruto, Tsunade tersenyum dan berkata,
"Aku selalu melihatmu, dan akhir akhir ini kau berubah banyak, tahu?"
"Maafkan saya, Tsunade-sama."
"Tidak. Itu tidak seperti aku marah padamu, aku justru senang karena kau akhirnya sedikit lebih jujur pada dirimu sendiri."
Tanpa tahu apa yang Naruto pikirkan, Tsunade tersenyum dengan manis.
Melihat wajah muram Naruto yang terlihat lebih muram dari biasanya, Tsunade diam diam menyesali keputusan yang dia buat.
Dia bisa saja menerima posisi Hokage itu dan kembali ke Konoha. Menggunakan kekuasaannya untuk menjadikan Naruto sebagai salah satu warga Konoha. Semua itu mudah untuk dilakukan namun Tsunade tidak melakukannya karena dia lebih memilih keegoisannya.
Hingga saat ini, sudah berapa kali dia memonopoli Naruto tanpa sedikitpun memberinya kebebasan? Sementara anak laki laki itu hanya terus diam dan mengikuti apapun yang Tsunade lakukan tanpa mengeluh, mungkin tanpa pernah Tsunade sadari bahwa dia sudah menyakiti perasaan anak ini berkali kali.
Sementara Tsunade larut dalam pemikiran mendalam, Naruto membalas genggaman tangannya dan kemudian berkata,"Tempat tanpa peperangan yang Tsunade-sama katakan waktu itu, saya juga ingin melihatnya. Jika kita menemukannya, bolehkan saya mengajak Nohara-san untuk datang ketempat itu juga?"
Kata kata yang merupakan perwujudan keputusasaan Tsunade pada dunia, sesuatu yang dia katakan pada Naruto yang sebenarnya adalah untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang dia ambil tidaklah salah. Meskipun dia sendiri tahu bahwa di dunia yang busuk ini, tempat seindah itu tidaklah benar benar ada, tapi anak laki laki itu ternyata dengan polosnya mempercayai hal itu.
Sekarang sudah terlambat untuk mundur. Jika dia ingin menyelamatkan Naruto dia harus menjaga kepercayaan anak itu.
Dan jika dunia tenang itu tidak ada, dia hanya perlu menciptakannya, entah dimana.
"Tentu saja,"Tsunade menggangguk dengan yakin,"Kita akan disana dengan semua orang yang kita sayangi, dan kau tentu saja boleh mengajak Rin juga."
Ketiga orang itu pergi jauh di jalanan, meninggalkan jejak kaki diatas permukaan tanah yang berdebu, meninggalkan kota perbatasan yang panas menuju kota lainya.
Musim panas digantikan musim gugur, dan keadaan dunia semakin memburuk.
Konoha yang bersikeras mengangkat Namikaze sebagai Hokage keempat mengalami banyak serangan dari luar maupun dari dalam desa.
Hingga saat ini, ratusan Shinobi Konoha tewas dalam serangkaian skenario terburuk, baik itu penyerangan dari desa lain atau pemberontakan kecil dari Klan di dalam desa, dan satu dari sekian banyak dari korban, tercatan Nama Nohara Rin.
Musim gugur berganti musim dingin.
Keadaan bukannya membaik namun malah memburuk, bahkan sampai di tahap sangat memprihatinkan.
Sebuah peristiwa yang menjadi awal dari serangkaian peristiwa mengerikan lainya terjadi di hari itu, yaitu lepasnya segel Kyubi dalam diri Uzumaki Kushina yang membuat Konoha mengalami banyak kerugian.
Dalam kejadian ini, puluhan Shinobi tewas dan yang paling disesalkan adalah bahwa putra putri terbaik Konoha saat itu, Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato juga termasuk dalam puluhan yang tewas itu, tapi berkat itu Kyubi berhasil dimusnahkan bersama dengan kematian suami istri dan calon anak mereka itu.
Bencana tidak berhenti disana, keadaan Konoha yang melemah akibat serangan Kyubi dimanfaatkan negara lain. Peperangan terjadi dan negara api menjadi sangat mencekam. Hingga saat ini perang masih terjadi di beberapa tempat tanpa adanya tanda tanda pihak manapun akan melunak.
Di suatu tempat di desa kecil bernama Kusa, tiga orang yang satu diantaranya adalah laki laki dan dua perempuan tengah berjuang menaiki pegunungan bersalju.
Mereka berjalan menembus kedalaman salju yang mencapai setengah meter sehingga menciptakan semacam parit dibelakang mereka.
Kusagakure adalah nama sebuah desa yang terletak di pegunungan di dekat negara tanah. Desa ini cukup kecil dan hanya di huni beberapa klan saja, namun berkat dari keadaan medannya yang sulit dan letaknya yang tidak terlalu strategis, tempat ini menjadi salah satu dari tempat teraman di dunia saat ini.
Alasan mengapa tempat ini dipilih oleh tiga orang itu juga keamanan tersebut, dan juga karena si pemimpin kelompok memiliki seorang murid yang tinggal di desa tersebut.
"Sudah sampai."
"Disini?"
"Hm."
Tsunade mengangguk pada Shizune, dia lalu berjalan ke sebuah rumah kecil yang disusun dari gelondongan kayu sebesar paha orang dewasa dengan cerobong batu yang mengepulkan asap tanpa henti.
Mebutuhkan beberapa waktu untuk mengetuk sampai seorang gadis dengan tubuh sehat, berkulit gelap dan rambut merah tua yang lurus membuka pintu. Awalnya gadis itu yang kelihatan mengantuk kelihatan kesal, tapi sesaat berikutnya dia melompat kaget begitu menyadari orang di depannya.
"Se-sensei!"
"Aku datang, Amaru."
Di bimbing oleh si gadis bernam Amaru, kelompok itu masuk kedalam rumah yang hangat.
Shizune menghempaskan bokongnya diatas sebuah bantal duduk tanpa memperdulikan aturan kesopanan, mendesah dengan nyaman, dia berkata,
"Rasanya sudah bertahun tahun semenjak bokongku merasa sebahagia ini."
"Apa boleh buat, tempat ini benar benar jauh dari peradaban dan memiliki medan yang sulit. Juga tumpukan salju cukup menghambat pergerakan kita selama pendakian, hasilnya kita menghabiskan banyak waktu untuk sampai kesini."
"Yah, kalau diingat ingat, perjalan kita sampai kesini makan waktu seminggu lebih. Ahh, rasanya perjalanan mengerikan itu bagaikan mimpi saja."
Sementara kedua wanita itu saling melemparkan keluhan, Amaru menuangkan air teh yang hangat dari teko kedalam cangkir ketiga tamunya.
Mereka duduk mengelilingi tempat perapian tradisional yang berfungsi sebagai kompor sekaligus untuk menghangatkan badan. Perapian itu sendiri terletak di tengah tengah ruangan, dimana seolah olah perapian tersebut adalah jantung dari rumah kecil itu.
"Silahkan,"Amaru memberikan cangkir cangkir kramik pada masing masing tamunya,"Maaf. Karena Sensei begitu mendadak, saya hanya memiliki ini untuk disajikan."
"Tidak masalah, tapi akan lebih baik jika ada Sake."Tsunade kelihatan sedikit kecewa sambil menyeruput tehnya.
Sementara itu, Amaru hanya bisa membungkuk beberapa kali untuk menyatakan permintaan maafnya karena tidak bisa memuaskan gurunya, tapi meski begitu Tsunade dengan tidak tahu malunya minta tambah beberapa kali.
Kemudian tiba tiba wanita pirang itu meletakkan cangkirnya. Seolah menyadari sesuatu, dia berdehem.
"Ngomong ngomong kau belum kenal mereka berdua kan, Amaru? Nah, dia ini Shizune Kato dan dia Naruto Uzumaki, dan kalian berdua, dia ini Amaru."
"Halo~, Amaru-san."
"..."(Membungkuk sopan)
"Halo, Shizune-san, Naruto-san."
Amaru kelihatan sangat senang. Dia yang tinggal di tempat itu sendirian selama bertahun tahun, tiba tiba mendapatkan kedatangan gurunya dan teman sebaya adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagaimanapun juga.
Kusagakure bukanlah desa Shinobi besar dengan penduduk yang padat. Setiap rumah terpisah lumayan jauh dari rumah lainya sehingga itu membuatnya sedikit kesepian, apalagi kebanyakan keluarga disini hanya berisikan orang orang dewasa, dan Amaru tidak terlalu suka bergaul dengan orang dewasa.
Selain itu, dia adalah dokter yang sehari harinya bekerja untuk mengobati para warga. Dia sederhanannya tidak memiliki waktu mencari teman atau semacamnya.
Shizune kemudian berkata sambil dia mendesah puas setelah menyeruput tehnya,"Kusagakure sangat tenang. Sepertinya perang tidak mencapai tempat ini."
"Yah, kabar baiknya Kusagakure yang hanya terdiri dari pegunungan dan terletak di dekat teluk tidak begitu berharga untuk dijajah maupun dijadikan basis pertahanan. Ini pertama kalinya aku bersyukur dengan akses super sulit desa ini."
Mendengar jawaban setengah bercanda Amaru, Shizune tertawa.*ahahaha!*
"Benar, benar. Aaaah, itu sangat mengerikan hanya dengan mengingat perjalanan kami kesini. Ada banyak jurang dimana mana, kami bahkan harus berjalan di jalanan yang tidak sampai 10 cm lebarnya dengan jurang menganga di sisi lain, itu sebuah perjalanan gila."
"Oh?! Jadi kalian mengambil rote itu?"
"Apa maksudmu, Amaru-san? Apa kau mau bilang kalau ada rute lain yang lebih aman?"
"Tentu saja. Meskipun akan lebih jauh beberapa kilometer, ada jalan lain yang lebih aman namun kalian harus memutari pegunungan. Wow, aku tidak menyangka kalian akan berani melewati jalur berbahaya itu, apalagi sekarang adalah musim dingin yang membuatnya puluhan kali lebih sulit! Sperti yang diharapkan dari Tsunade-sensei dan murid muridnya, saya tambah kagum dengan keberanian anda!"
Mendengar jawaban takjub Amaru, Shizune menjerit penuh kemarahan.
"A-apa!? Sialan, ternyata ada jalan se-aman itu! Dasar Tsunade-sama bodoh! Apa kau berniat membunuh kita semua!? Kalau kau mau mati, mati saja sendiri!"
Seolah tidak peduli dengan kemarahan Shizune, Tsunade hanya mengangkat bahunya dan berbicara sebelum dia menyeruput tehnya dengan elegan, seperti apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang masuk akal.
"Bagaimanapun jalan memutar itu sangat dekat dengan perbatasan Iwa. Aku tidak mau melakukan pertarungan sia sia."
Di perang dunia Shinobi ke-2, Iwagakure yang adalah salah satu musuh Konoha menerima kekalahan memalukan dan desa mereka diambang kehancuran oleh hanya tiga orang Shinobi Konoha. Ketiga Shinobi itu mendapatkan tempat khusus di hati tiap Shinobi Iwa sebagai musuh yang harus dihancurkan kapanpun mereka bertemu tiga orang itu dan salah satu dari ketiga Shinobi tersebut adalah Tsunade Senju.
Mengingat betapa dibencinya dirinya hingga di titik tidak seorangpun dari warga Iwa yang tidak mengenal wajahnya, Tsunade benar benar tidak ingin membayangkan akan jadi seperti apa nasibnya jika dirinya terlihat oleh Shinobi Iwa.
—terlebih, sekarang semuanya berbeda. Sendirian aku mungkin bisa bertahan, tapi sekarang aku memiliki orang orang yang harus kulindungi, Shinobi Iwa pasti akan menargetkan teman temanku. Bagaimanapun juga mereka pasti sadar betul perbedaan besar kekuatanku dan kekuatan mereka.
Siapapun tahu jika anggota Sannin adalah kumpulan monster dalam wujub manusia. Mencoba mengalahkan mereka dalam pertarungan yang adil hanya akan berakhir menjadi pembantaian sepihak. Jadi tidak akan mengherankan jika Shinobi Iwa akan menargetkan orang orang dekatnya untuk menciptakan celah dalam pertahanan Tsunade.
Apalagi kedua muridnya itu tidak begitu baik dalam teknik mempertahankan diri. Shizune, si jenius yang menguasai teknik bedah dan racun tidak akan terlalu berguna dalam konfrontasi langsung, dan Naruto yang terspesialisasi sebagai jenius Fuin hanya akan menjadi bulan bulanan ketika dia harus menghadapi serangan mendadak.
Dua muridnya ini memang hebat dalam bidang tertentu, tapi mereka benar benar idiot jika berhubungan dengan hal lainya. Karena itulah, memilih jalan memotong dengan medan sulit tetapi terhindar dari pengawasan Iwa adalah pilihan terbaik yang Tsunade punya.
Memberi persetujuan pada Tsunade, Amaru mengangguk,"Itu benar. Lebih bijaksana bagi anda untuk menghindari kontak dengan Shinobi Iwa. Meskipun saat ini mereka cenderung pasif, tapi siapa yang tahu apa yang akan mereka lakukan saat mereka mendapati musuh bebuyutan mereka melintas tepat dibawah hidung mereka."
Shizune tidak bisa membantah dan hanya melengkungkan bibirnya kebawah dengan tidak senang.
"Oh! Tunggu sebentar."
Amaru tiba tiba pergi dan kembali dengan banyak ubi dan kentang dalam pelukannya.
"Aku mendapatkan banyak ubi dan kentang dari pasien pasienku."Ucap Amaru dengan bangga seolah sedang membanggakan harta miliknya yang paling berharga.
"Oooh! Itu U-ubi, I-itu kentang! Lemparkan mereka ke api, Amaru, lemparkan mereka!"
"Kentang dan ubi bakar!"
Tubuh Tsunade bergetar dengan kegembiraan dan Shizune mulai menjadi emosional. Bagi mereka yang melewatkan hari hari dalam dinginnya pegunungan salju, memakan makanan dingin sekeras sekeras balok es, kehangatan dari ubi dan kentang bakar adalah karunia dari Buddha yang setara dengan kitab sutra.
Segera setelah ubi dan kentang itu matang, ketiga wanita itu mulai berubah menjadi binatang buas. Mengais ngais api dan kadang kadang mencakar wajah satu sama lain untuk memperebutkan buruan mereka.
"Sial! Ternyata Sensei masih secepat dulu!"
"Masih terlalu dini untukmu mencoba bertarung denganku, anak muda."
"Uhaaa!... Mu-mulutku meleleh, mulutku meleleh! Tapi aku menyukainya! Kentang kentang ini..."
Mengabaikan ketiga wanita yang mulai memenuhi pipi pipi mereka dengan daging kentang dan ubi yang lembut, seorang laki laki —satu satunya laki laki dalam kelompok itu terlihat diam tanpa sedikitpun terganggu oleh keributan yang dibuat tiga wanita tersebut.
Tsunade menyadarinya. Dia mengambil salah satu ubi miliknya yang sudah dikupas dan menyodorkannya tepat pada hidung Naruto.
"Ini memang tidak seenak ramen, tapi masih lebih baik daripada roti keras yang kita makan sebelumnya. Makanlah, atau kau mau kusuapi?"
"Tidak, terimakasih."
Naruto menerima ubi bakarnya dan memakannya pelan pelan.
Melihat reaksi minim Naruto, Tsunade hanya bisa tersenyum masam.
Bagaimanapun ini hampir dua tahun sejak dia menemukan anak ini, tapi bukannya menjadi lebih baik, keadaan mental Naruto justru memburuk.
Kematian Rin mungkin mengguncangnya. Jika itu hanya mati, itu tidak akan masalah, tapi Rin menjadi tumbal dari perang dua negara. Seorang gadis muda tidak berdosa yang tubuhnya dijadikan permainan lalu kemudian mati dengan cara dibunuh temannya sendiri, apa yang lebih buruk dari itu? Bahkan Tsunade begitu terpukul saat dia tahu berita tersebut dan membuatnya terfikir,
Mungkin keputusan yang dia ambil salah, mungkin semuanya akan menjadi lebih baik jika dia mengambil tawaran posisi Hokage. Jika dia menjadi Hokage, mungkin perjanjian damai yang Konoha tawarkan pada negara lain akan segera disetujui, dan kematian Tim Minato dan keluarganya mungkin tidak terjadi, juga perang ini mungkin saja bisa lebih cepat berakhir.
Segala kemungkinan berputar dikepala Tsunade, tapi dia bukan wanita yang begitu saja menyalahkan dirinya sendiri.
Apa yang dia ambil adalah apa yang memang dia inginkan. Menyesal tidak akan memperbaiki keadaan, dan yang tersisa untuk dia lakukan hanyalah terus maju dengan keyakinan penuh, tidak ada waktu untuk menyalahkan diri sendiri.
*toktoktok!*terdengar suara ketukan pintu.
"Amaru-chan, Amaru-chan! Apa kau ada dirumah!?"
Meminta maaf pada tamu tamunya, Amaru segera pergi membukakan pintu dan kemudian kembali dengan membawa biarawati berambut Kastanye dengan kacamata bulat. Dia adalah wanita cantik yang kelihatan bijaksana dan berpengetahuan luas, di saat yang sama senyumnya begitu ramah dan terlihat lembut juga.
Tsunade melihat si pendatang baru dan menjadi orang pertama yang bereaksi,"Nonou? Kau Nonou, kan?"
Wanita bernama Nonou itu membungkuk hormat,"lama tidak bertemu, Tsunade."
"Jadi memang Nonou? Aku tidak menyangka kau jadi seorang biarawati!"
Amaru disamping Nonou menggaruk pipinya den berkata dengan wajah bermasalah,"Sebenarnya Nonou-san adalah suster kepala, Sensei."
"..."
Melihat Tsunade terdiam, Nonou mengibaskan tangannya,"Itu hanyalah sebuah profesi, tidak ada alasan bagiku untuk menjadi bangga dengan gelar itu, lagipula dimata tuhan kita semua sama. Jadi kau tidak harus mengubah sikapmu padaku, Tsunade. Kau juga, Amaru, aku lebih suka kau memanggilku Onee-chan seperti dulu."
Di perang dunia Shinobi ke-2, Tsunade pernah tinggal di Kusagakure untuk beberapa lama. Desa itu dulu mengalami wabah suatu penyakit aneh. Dan Amaru adalah gadis malang yang diasingkan oleh penduduk karena dianggap menjadi sumber dari kutukan karena dari dialah penyakit itu berasal, faktanya bahwa itu hanyalah infeksi bakteri dari mayat mayat korban perang, Amaru hanyalah gadis tidak beruntung yang secara tidak sengaja terjangkit oleh bakteri itu karena suatu hal.
Dari semua orang yang mengasingkan Amaru, ada seorang gadis panti yang merasa kasihan dan memutuskan merawat Amaru tanpa sepengetahuan warga maupun orang greja, dan gadis itu adalah Nonou.
Saat itu Tsunade yang sedang dalam misi penyerangan Iwa menemukan sebuah pondok terpencil jauh di dalam hutan Kusa dan memutuskan untuk tinggal disana untuk sementara waktu, namun ternyata disana ada penghuni lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah Amaru dan Nonou.
Tsunade ingat bagaimana menyedihkannya keadaan Amaru saat itu, bagian dadanya membengkak dan membusuk, namun anehnya Nonou yang selalu melakukan kontak fisik dengan Amaru tidak ikut terinfeksi, hal itu masih menjadi misteri yang hingga saat inipun masih tidak bisa Tsunade pecahkan.
"Tuhan memelihara tubuhku agar aku bisa menjaga anak tidak berdosa ini."
Itulah yang dikatakan Nonou waktu Tsunade menanyainya waktu itu.
Tsunade tidak percaya pada keberadaan tuhan, jadi alasan itu tentu saja tidak bisa dia terima, namun dia hanya diam dan berpura pura puas.
Nonou mendorong kacamata bulatnya dan berkata dengan sedikit panik,"Kebetulan kau ada disini, Tsunade."
"Terjadi sesuatu di panti. Salah satu anak mengalami luka parah setelah mencari tanaman obat di pinggiran desa. Aku kesini meminta tolong pada kalian, Tsunade, Amaru-chan."
Tanpa bertanya lebih lanjut, Tsunade mengangguk,"Antar kami ketempat anak itu."
Dan dengan itu mereka pergi ke panti asuhan yang terletak tepat disamping sebuah gereja, tentu saja kedua bangunan itu juga terbuat dari kayu, sama seperti bangunan bangunan lainya yang ada di Kusagakure.
"Disana."
Nonou membawa kelompok Tsunade dan Amaru pada seorang gadis kecil berkacamata yang tidak sadarkan diri diatas ranjang. Dia memiliki luka yang parah, cukup parah untuk membuat Tsunade memalingkan wajahnya.
Beberapa suster yang sebelumnya menangani si gadis, menjauh untuk memberi tempat pada orang orang yang baru datang, dan dengan wajah khawatir, salah satu diantara mereka berkata,
"Pendarahannya tidak mau berhenti, sepertinya luka itu mengandung racun yang bisa membuat darah terus mengalir. Kami tidak punya pengetahuan yang luas tentang racun, rasanya jika terus begini.."
"Tidak perlu khawatir."Ucap Nonou pada si suster yang khawatir. Dia melirik Tsunade dan mengangguk.
Melihat itu, Tsunade berseru,"Keluarkan racunya, hentikan pendarahannya dan beri dia pertolongan pertama."Kata Tsunade pada Shizune.
"Siap!"
"Naruto, bantu Shizune."
"Ya."
Shizune menghentikan pendarahan pada luka tebasan di daerah perut dengan teknik mengeluarkan racun secara langsung miliknya, sementara Naruto membantu Shizune meyiapkan alat medis yang diperlukan.
Sementara Shizune dan Naruto sibuk mengobati si gadis, Tsunade menatap Nonou dan Amaru secara bergantian, nampak tidak mengerti.
"Bagaimana bisa seperti ini? Bukankah Kusagakure tidak terlibat dengan pihak manapun?"
Nonou menggeleng dengan wajah sama tidak mengertinya dengan Tsunade,"Ini pertama kalinya sejak perang dunia ke-2. Kusagakure bukanlah desa dengan letak strategis, tidak ada gunanya melakukan agresi pada desa ini, setidaknya itulah yang kupercayai selama beberapa tahun belakangan ini."
"Tapi bagaimana kau menjelaskan hal ini? Dia jelas jelas diserang!"
"Se-sensei. Tolong jangan marah pada Nee-chan."
"Ck! Kacau sekali."
Tsunade datang ke Kusagakure untuk menenangkan diri. Dia yang menanggung banyak beban sejak pertemuannya dengan Naruto dan Minato, akhirnya merasa perlu untuk berhenti dan memikirkan semua tindakan yang pernah dia lakukan.
Perang ini, kematian Rin, Minato, dan Kushina cukup membebani fikirannya. Dia berharap dengan datang ke Kusagakure yang damai, setidaknya bisa meringankan beban fikirannya, namun yang terjadi ternyata begitu mengecewakan.
Gadis berkacamata ini jelas tertebas. Bila ingin menyimpulkan secara impulsif, kemungkinan besar perang sudah mencapai Kusagakure, itu hampir bukan sesuatu yang mustahil lagi.
Tiba tiba suatu pemikiran melintas, tapi Tsunade dengan cepat membuangnya jauh jauh.
—tidak, itu tidak mungkin. Ini hanya sebuah kebetulan.
Untuk saat ini, dia yakin bahwa tidak satupun Shinobi Iwa melihatnya, tapi tetap saja Tsunade tidak bisa berhenti untuk khawatir.
"Gadis ini adalah amanat langsung dari Hokage ke-3 yang saat ini memimpin."
Mendengar ucapan Nonou, Tsunade memalingkan wajahnya pada wanita berkacamata bulat itu dengan ekspresi tertarik.
"Amanat Hokage ke-3?"
Nonou tidak membalas tatapan Tsunade, dia terus fokus pada gadis yang sedang diberi perawatan itu, di saat yang sama, Tsunade bisa dengan jelas melihat kesedihan di wajah Nonou.
"Tuhan mengajarkan manusia, bahwa tiap orang memiliki nilai yang sama dihadapanNya. Tapi kadang manusia terlalu angkuh untuk mengakui hal itu dan mengklaim bahwa diri mereka lebih baik dari yang lainya. Darah, keturunan, kekuatan, kekuasaan, dan kehormatan, sebenarnya apa arti semua itu? Menurutku semua itu hanyalah omong kosong. Apa yang membuat semua itu berharga ketika kau bahkan tidak bisa menyelamatkan seorang gadis? Untuk apa mempertahankan semua itu jika seorang gadis yang tidak berdosa harus dikorbankan?"
Amaru menundukkan kepalanya, nampaknya ucapan Nonou membuatnya mengingat masa lalu menyakitkannya dulu.
Nonou mengangkat kacamatanya, dengan saputangan yang dia ambil dari saku pakaiannya, dia menyeka air mata di sudut matanya, dan kemudian melanjutkan,
"Aku mendengar dari Hokage-sama. Anak ini lahir dari seorang ibu biasa dan ayah yang berasal dari klan besar Konoha. Hubungan kedua orang tuanya tidak pernah mendapatkan persetujuan dari klan karena setiap anggota klan dituntut untuk menikahi kalangan mereka sendiri untuk menjaga garis keturunan mereka tetap murni. Gadis ini sudah mengerti dunia keras orang dewasa tepat ketika dia mulai bisa berbicara, hidup di dalam rumah keluarga bangsawan yang selalu menekannya membuatnya tidak pernah tenang. Hidupnya mungkin sepuluh kali lebih mengerikan dari anak korban perang disini, bahkan kau bisa melihat dengan jelas pada wajahnya yang tidak pernah tersenyum. Aku selalu bertanya tanya tentang apa yang ada di dalam pikiran anak ini, terus terang, itu sangat menyedihkan mengingat dia dibawa kesini karena Hokage yakin bahwa dia lebih aman tinggal di desa ini, namun yang terjadi begitu menyedihkan."
"Tidak, itu sama sekali bukan salahmu."Kata Amaru, dan Nonou hanya tersenyum lemah sambil terus memandangi si gadis berkacamata.
Nonou mengusap dahi gadis itu,"Oh, Anakku. Tuhan memberimu begitu banyak kesulitan, tapi kau harus tahu bahwa sebanyak kesulitan yang Dia berikan, itu menggambarkan sebesar apa cintaNya padamu."
Sekarang sudah malam. Kamar itu kehilangan sebagian besar penghuninya dan hanya meninggalkan beberapa saja.
Tsunade berdiri di dekat jendela. Dia menyingkap gorden hijau itu dan memandangi desa yang tertutup salju.
Sekarang Hokage ke-3 kembali menjabat. Dari yang dia dengar dari Nonou, gadis bernama Sarada yang terbaring diranjang itu dikirim oleh Hokage ke-3 sebagai upaya untuk melindunginya dari percobaan pembunuhan dari beberapa pihak, itulah yang dia dengar.
Namun, apa yang membuat gadis ini memiliki nilai yang membuatnya harus diselamatkan? Ada banyak hal yang lebih penting yang harus dilakukan seorang Hokage ketimbang mengurusi gadis yang bahkan bukan seorang Shinobi, melihat kebelakang, rasanya ini terlalu aneh.
Ada banyak peristiwa dimana seorang warga Konoha harus dikorbankan, contohnya Nohara Rin, dan yang terjadi pada kandungan Kushina juga sama.
Tsunade memijat keningnya, dia benar benar pusing. Dia datang ke sini untuk beristirahat, tapi ternyata masalah memang terlalu bersahabat dengannya.
Ada gerakan dibelakangnya, tanpa menoleh, dia memanggil,
"Naruto."
Karena kelelahan, anak itu tertidur disamping ranjang si gadis berkacamata, tapi nampaknya sekarang dia terbangun.
Tidak ada jawaban. Tsunade berbalik dan melihat kelabat pakaian hitam Naruto yang menghilang dibalik pintu yang tertutup. Dia mendapati hal itu aneh karena Naruto tidak pernah mengabaikannya. Tsunade ingin menyusul tapi suara erangan membuatnya menghentikan niatnya.
"Uh.."
Si gadis rupanya mulai siuman, dan dua wanita yang tidur dalam posisi saling bersandar di pojok ruangan juga terbangun karena salah satu dari mereka jatuh diatas pangkuan yang lain.
"Mmm..."
"...aku ketiduran.."
Shizune dan Amaru mengeliat secara bersamaan, dan beberapa detik kemudian menyadari jika gadis yang mereka tunggui telah sadar dan sedang duduk di sandaran ranjang bersama Tsunade yang sedang memeriksanya.
Mengabaikan dua wanitanya itu, Tsunade bertanya pada si gadis,
"Bagaimana perasaanmu?"
"Rasanya pusing dan tubuhku agak lemas."
"Kurasa kau baik baik saja."Tsunade menyimpulkan, kemudian bertanya,"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang menyerangmu?"
Mendengar pertanyaan Tsunade, gadis itu tiba tiba membelalakan matanya dan lalu berkata dengan suara bergetar,
"Onee-sama? Dimana dia?"
"Huh?"
Tbc.
Kekeke... Akhirnya saya update lagi.
Rencananya saya mau namatin fic ini sebelum ramadhan, tapi karena ini dan itu akhirnya jadwalnya ketunda dan sebagai akibatnya semuanya jadi kacau kayak gini. Sori bangt!
