.

.

.

"Dimana Onee-sama?"

Berkali kali anak perempuan itu bertanya pada setiap orang dalam ruangan itu. Mata hitamnya bergerak liar kesana kemari berharap mendapatkan jawaban dari siapapun, tapi sama seperti sebelum sebelumnya, tidak seorangpun menjawab pertanyaannya, bahkan mungkin tidak seorangpun dari mereka tahu dengan apa yang sedang dia bicarakan.

Gadis itu masih belum menyerah,"Onee-samaku. Dia ada disana dan menyelamatkan aku. Aku yakin dia juga yang membawaku kesini. Jika tidak, tidak mungkin aku bisa sampai kesini sendirian dengan luka luka ini. Tapi aku tidak menemukan dia dimanapun, diamana dia? Apakah ada diantara kalian yang tahu?"

Gadis itu terus gelisah setiap hari, dan Tsunade yang tidak tahu apa apa hanya bisa menyimpulkan jika si gadis mengalami shock yang cukup kuat karena pengalaman hampir mati yang dia alami, dimana hal itu memang cukup sering terjadi pada anak anak korban perang.

"Onee-samaku punya rambut hitam yang indah. Dia kelihatan galak dan agak maskulin. Memiliki mata yang tajam dan selalu bicara menusuk."

Setiap waktu si gadis bernama Sarada Uchiha itu mulai berbicara tidak jelas dan kadang kadang dia bisa terus mengulangi kata kata itu berkali kali, yang lebih parahnya, dia tetap seperti itu meskipun tidak seorangpun berada dikamarnya, dalam kesimpulannya, gadis itu mulai mengalami gangguan mental.

Hal itu tidak bisa dihindari mengingat apa yang dia alami, pikir Tsunade.

"Dia tidak seperti itu. Sarada anak manis yang penurut. Meskipun dia tidak bicara banyak, tapi dia tidak seperti itu. Oh tuhan. Seandainya aku bisa menggantikanya menanggung rasa sakitnya."

Nonou yang berhati lembut tentu saja tidak bisa menerima keadaan Sarada. Kadang kadang setelah membesuknya, Nonou akan diam diam menangis, yang mana sisi cengengnya itu hanya pernah dia tunjukkan di depan Tsunade saja.

Tsunade tidak tahu apa apa soal menenangkan hati seseorang. Dia lebih ahli dalam membuat orang lain menangis ketimbang menenangkan tangisan orang lain, dan itu membuatnya hanya berdiri sambil tangannya ragu ragu untuk menyentuh punggung Nonou, menggantung diudara.

Badai salju akhir akhir ini semakin sering terjadi.

Selain soal Sarada, Tsunade juga khawatir mengenai Naruto yang tidak kembali semenjak dia pergi tanpa mengatakan apapun, sekarang sudah hampir dua hari berlalu.

Dia tahu seberapa tangguhnya anak itu, tapi Tsunade yang gampang khawatir jika itu bersangkutan dengan Naruto, tidak pernah berhenti memandangi jendela panti yang mengarah ke jalanan sepi itu sementara dia berharap jika anak itu akan ada disana untuk berjalan pulang

Hingga suatu ketika, di hari berbadai yang lebih kuat dari biasanya. Saat itu Tsunade yang sudah kehilangan ketenangannya dengan nekat pergi menerobos badai.

Nonou dan Amaru tentu saja berusaha mencegah hal itu, tapi Tsunade yang keras kepala tidak mungkin bisa dihentikan oleh siapapun sekali dia menginginkan sesuatu.

"Sensei, mungkin sebaiknya anda menunggu badai reda."

"Amaru benar, Tsunade. Diluar sangat berbahaya. Bukannya aku meragukan kekuatanmu. Tapi pegunungan ini memiliki karakteristik curam dan badai ini membuat jarak penglihatan terbatas, belum lagi rumor yang beredar akhir akhir ini mengenai Shinobi Iwa yang mulai berkeliaran di sisi lain desa. Tolong mengertilah, Tsunade. Ini demi kebaikanmu."

"Terimakasih untuk perhatian kalian, Amaru, Nonou. Tapi aku tidak akan bisa tenang jika aku membuang waktu sebentar saja."

"Ini tidak seperti dirimu, Tsunade,"Nonou mendesah putus asa, kemudian dia menoleh pada Shizune,"Tolong katakan sesuatu padanya, aku yakin kau bisa meyakinkannya, Shizune."

Tapi yang Nonou saksikan malah lebih mengejutkan lagi. Shizune secara terang terangan menyerahkan mantel tebal pada Tsunade dan untuk dirinya sendiri.

"Maaf. Tapi saya hanya akan mematuhi perintah Tsunade-sama. Lagipula, Naruto adalah anggota keluarga kami yang lebih berharga dari apapun juga."

Nonou mengerti apa yang Shizune maksudkan karena dia juga pastinya akan melakukan hal yang sama jika diposisi mereka. Tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah dua wanita itu, Nonou hanya bisa menghela nafas tidak berdaya.

Pada akhirnya, Nonou mengangguk sambil menahan erangan protes dari Amaru.

"Sebaiknya kalian kembali sebelum jamuan malam."Kata wanita itu.

Untuk mencari petunjuk kemana Naruto pergi, Tsunade bertanya pada penduduk desa, atau pada pengelana yang kebetulan lewat, sayangnya tidak seorangpun dari mereka yang pernah melihat Naruto. Juga karena cuaca buruk, orang yang bisa ditanyai sangat terbatas, lagipula tidak seorangpun yang akan begitu saja keluar rumah di cuaca seperti ini.

Tidak menemukan apapun, Tsunade dan Shizune memutuskan untuk mengambil langkah berani keluar desa.

Saat itu secara tidak terduga seorang anak kecil yang Naruto kenali sebagai salah satu penghuni panti bernama Kabuto menghampirinya. Dia terlihat kelelahan karena harus mengejar Tsunade dan Shizune dari panti.

"Naruto-nii. Aku melihatnya pergi kearah utara. Disana ada hutan berbahaya yang dihuni oleh sekumpulan binatang buas dan berbatasan dengan desa Iwa."

"Terimakasih banyak."

Tsunade akhirnya menemukan petunjuk. Asalkan dia tahu arah pasti kemana Naruto pergi, dia pasti bisa menemukan anak itu entah bagaimana.

.

Sudah tidak tahu lagi berapa banyak orang yang dia bunuh. Setiap ayunan Katana miliknya tidak lagi bisa membunuh musuhnya dalam sekali tebas. Mungkin dalam dua hari ini darah dari para Shinobi yang dia lawan sudah mengikis ketajamannya, hasilnya dia harus menebas dua atau tiga kali untuk satu orang yang sama.

Bertarung selama seharian tanpa istirahat. Tubuhnya sudah menjerit minta berhenti, tapi dia tidak bisa menghentikan ayunan katananya bahkan satu kalipun, karena jika tidak, dia akan kehilangan segalanya.

Melalui topeng putih bermotip wajah elang yang pecah di banyak tempat, wajah dingin seorang gadis bisa terlihat. Mata merahnya berpendar dan mengirimkan rasa dingin pada musuh musuhnya.

Sementara jubah abu abunya yang juga telah sobek sobek mengembang seperti bunga ketika di melakukan tarian pedang yang indah, dia memotong motong musuhnya tanpa ampun, membuat daratan putih dari salju itu berwarna merah oleh darah.

"Sudah selesai."

Ketika dia berhenti dan di saat yang sama bola matanya berubah menjadi hitam, dia akhirnya menyadari jika dia tengah berdiri diatas tumpukan mayat dan organ tubuh dari banyak manusia.

Setiap kali dia berjalan, jejak kakinya meninggalkan titik titik darah dipermukaan salju tapi tidak lama karena badai salju yang datang segera menghapus jejak kaki berdarahnya.

Meskipun menang, dia bukannya tanpa luka. Ada beberapa luka di daerah lengan dan pinggang, dan setiap luka itu terus mengucurkan darah tanpa henti.

—Racun? Ini akan merepotkan.

Tiba tiba indranya yang terlatih mendeteksi kehadiran seseorang.

"Tolong beri aku istirahat."

Dia bergumam dengan kesal. Menunggu dengan tangan yang menempel pada gagang pedang, dia sudah siap menciptakan adegan pembantaian sekali lagi.

"..."

Dalam badai salju yang membatasi pandangannya, muncullah seorang pria muda berpakaian serba hitam. Dia nampak mencolok diantara dataran berwarna putih itu sehingga si gadis mau tidak mau terfokus padanya.

—Pada dasarnya penampilan si pria sangat sangat mencolok.

Rambut pirangnya yang pendek menyala dalam badai salju. Pakaian serba hitamnya sperti leleran tinta dipermukaan kertas kosong.

—Pria itu semakin dekat.

Si gadis mengeratkan pegangannya pada gagang katana miliknya. Dia akan menebas si pria tepat ketika si pria memasuki jangkauan seranganya. Tanpa peringatan ataupun ancaman. Si gadis yang dalam ketegangan tinggi tidak cukup baik hati untuk membiarkan siapapun untuk mendekatinya, lagipula moodnya benar benar jelek.

Karena tidak berniat membuang buang waktu. Ketika jaraknya dari si pria adalah sepuluh meter, dia mengaktifkan mata merahnya lagi. Percikan listrik menyambar nyambar dari Katananya yang dengan cepat memanjang ketika dia menebas si pria.

Pria itu terpotong menjadi dua, dan dengan panas dari listrik itu, dagingnya sudah pasti akan matang dengan sempurna, seharusnya itu yang terjadi.

Namun kenyataannya benar benar tidak masuk akal. Listrik dipermukaan katananya pecah dan menghilang sehingga membuat ukuran katananya menjadi normal kembali, dan itu mustahil untuk mencapai si pria.

—Tidak mungkin.

Si gadis hampir saja menjatuhkan rahangnya.

—Apakah aku kehabisan cakra? Tidak, aku masih punya banyak. Pertarungan sebelumnya aku hanya menggunakan sedikit dari cakraku, seharusnya masih tersisa banyak. Chidorigatana juga tidak seboros itu..

Si gadis mengamati pria itu lagi. Pria itu mungkin lebih tingga satu atau dua kepala darinya. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena badai membuat segalanya menjadi samar, tapi entah mengapa dia bisa merasakan perasaan merinding dari yang aneh dari sosok si pria.

—Itu nampak seolah dia tidak hidup.

"...Mengerikan."

Tanpa sadar dia mundur selangkah.

Pria itu semakin dekat, dan sekarang si gadis bisa melihat dengan jelas setiap fitur wajahnya. Kulit kecoklatan, mata biru gelap yang memancarkan kengerian, namun itu semuanya kosong, seolah olah tubuh pria itu hanya tubuh tanpa jiwa.

Si gadis sudah menghadapi banyak musuh, tapi pria ini satu satunya yang membuatnya kehilangan keinginan untuk bertarung.

—Takut. Itulah arti dari rasa dingin yang menjalar dipunggungnya.

Kata yang keluar dari mulutnya adalah kata yang tidak pernah dia katakan, bahkan untuk berpikir dia akan melakukan hal itu pun tidak pernah. Tapi kengerian yang dipancarkan oleh sosok hitam yang nampak sangat cocok dengan penjelmaan iblis itu, terasa begitu menggetarkan jiwanya dalam ketakutan yang tidak terbayangkan, dan si gadis tanpa sadar mengatakan,

"Jangan mendekat!"

"..."

Ketika sosok itu terus mendekat. Dia hanya memiliki keputusasaan. Gadis itu lalu menutup matanya.

—Apa apaan yang kau lakukan, dasar pengecut!

—Bergerak! Bergeraklah dasar gadis bodoh!

—Lawan dia! Ayo lawan! Dia sama seperti musuh yang lainya! Tebas dia sampai mati!

Berusaha memberi semangat pada dirinya sendiri. Si gadis menguatkan pegangannya pada gagang pedangnya. Tangannya bergetar dengan hebat, dia menggunakan kedua tangannya untuk memegang pedangnya.

—Ayo!

—Gerakan tubuhmu dasar sialan!

Meski dia berusaha memotivasi dirinya dengan keras. Tapi tubuhnya kaku, tidak bergerak.

Sekarang jaraknya dengan si pria mungkin hanya beberapa puluh centi saja, memikirkan hal itu, tiba tiba kekuatan meninggalkan tubuhnya.

Dia bisa jatuh kapan saja, atau dibantai kapan saja oleh si pria yang jaraknya tidak dia tahu.

Namun,

"Onee-sama."

Sebuah suara di dalam kepalanya memberikannya kekuatan. Dia kembali menegakkan posturnya yang hampir jatuh dan membuka mata semerah darah dengan tiga titik yang berputar dengan cepat.

"Mati kau Sialaaaann!"

Tebasan frontal yang berisi keputusasaan dikirimkan olehnya, akan tetapi kekuatan yang terisi di dalamnya tidaklah main main. Itu adalah tebasan yang bisa membelah sebuah gedung dengan mudah.

Dengan suara*Kabum!*yang keras. Salju meledak diudara.

Sambil bernafas terputus putus. Si gadis menatap beberapa saat kearah dimana dia menebas dan kemudian tersenyum. Tepat setelah pandangan tidak lagi terhalangi oleh bekas ledakan, dia bisa melihat apa yang ada di depannya.

—Dan disana tidak ada apapun.

Kenyataanya si pria melewatinya begitu saja.

.

"Tsunade! Dia adalah Tsunade!"

"Bunuh dia!"

"Kita akan jadi pahlawan bagi Iwagakure jika berhasil membunuhnya!"

Dengan beberapa keberuntungan yang buruk, Tsunade entah bagaimana bertemu dengan sekumpulan Shinobi Iwa.

Pertarungan terjadi, tapi itu tidaklah tepat untuk disebut sebagai pertarungan.

—Pembantaian sepihak!

"Kalian hanya omong besar."

Tsunade menepuk nepuk tangannya setelah memukuli Shinobi Iwa hingga di titik tubuh mereka tidak lagi menyerupai mayat manusia.

Dia meraih kerah salah satu Shinobi Iwa berbadan paling besar yang masih memiliki penampilan seperti manusia dan mengangkatnya keudara dengan satu tangan.

"Katakan padaku. Apa yang kalian lakukan di desa ini?"

"Ma-mati saja kau!"

"..."

Dalam diam Tsunade memukuli si Shinobi malang. Pukulan pukulan itu sendiri tidaklah terlalu keras —menurut standartnya, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat seseorang untuk berharap agar secepatnya mati.

"Baiklah baiklah. Aku menyerah!"

Si Shinobi yang terlihat tidak terlalu jauh berbeda dengan seonggok daging giling memohon ampun pada Tsunade. Dan dibawah senyum hewan buas Tsunade, si pria mulai bicara,

"Sebenarnya beberapa hari yang lalu anggota kami diserang oleh Shinobi Konoha di dekat perbatasan Iwa dan Kusa. Hampir seratus Shinobi kami tewas dan beberapa sisanya terluka sangat parah. Awalnya mereka melaporkan soal penemuan seorang anak yang tidak sengaja memasuki perbatasan, tapi kemudian... "

Di suatu siang. Sekelompok Shinobi Iwa yang sedang berpatroli menemukan seorang gadis muda di dekat perbatasan. Mereka mungkin akan mengabaikannya dan menyuruhnya segera pergi dari sana, namun gadis itu memiliki mata merah yang dikenal sebagai Sharingan, dan mata itu hanya dimiliki oleh klan yang ada di desa Konoha.

Konoha dan Iwa saat ini sedang berkonflik. Meskipun serangan dari kedua pihak tidak lagi terjadi sejak beberapa minggu lalu. Tapi semenjak pertemuan dengan si gadis, Iwa menjadi yakin jika Konoha merencanakan sesuatu dan gadis itu dianggap sebagai Shinobi Konoha yang tengah memata matai mereka.

"Kami menangkap gadis itu dan berencana membawanya ke desa. Tapi tiba tiba seseorang muncul dan membantai semua orang. Salah seorang Shinobi yang selamat kembali ke pos perbatasan dan melaporkan jika kelompok mereka diserang oleh Shinobi Konoha, dan sejak saat itu Iwa menurunkan para Shinobi untuk menangkap para penyusup itu."

Mendengar penjelasan si Shinobi, Tsunade memijat keningnya seolah olah dia benar benar merasa capek.

"Ceroboh seperti biasanya, itulah Iwagakure."Mengatakan itu, Tsunade membuat Si Shinobi kehilangan kesadarannya dalam sekejap.

Menurutnya. Menangkap beberapa Shinobi tidak perlu untuk mengerahkan pasukan sebanyak ini. Tapi inilah Iwagakure. Sekumpulan pecundang yang bertindak dengan emosi. Ini sama persis seperti induk ayam yang begitu protektif pada anak anaknya hingga membuat si induk tidak akan ragu ragu menyerang bahkan jika itu seekor harimau jika itu berpotensi membahayakan anak anaknya.

—Tapi bertindak tanpa memikirkan siapa lawanmu dan seberapa banyak jumblah mereka hanya akan berakhir dengan sebuah pembantaian. Ini sama seperti waktu itu.

Tsunade teringat dengan suatu peristiwa di perang dunia ke-2 silam. Dimana ratusan Shinobi Iwa berusaha meruntuhkan gunung tempat persembunyiannya dan dua Sannin lainya.

Pada dasarnya tindakan orang orang Iwa ini tidak ada bedanya dengan sekumpulan herbivora yang putus asa dan mencoba menyerang para pemangsa secara membabi buta.

—Pada akhirnya pecundang tetap saja pecundang.

Sambil memberikan kritik pedas, Tsunade berjalan kearah Shizune yang pucat pasi.

'Aku bersumpah untuk tidak lagi membuat Tsunade-sama marah!' Kira kira mungkin seperti inilah apa yang sedang Shizune pikirkan. Bagaimanapun adegan pembantaian barusan adalah yang paling mengerikan yang pernah dia lihat.

Merekapun melanjutkan pencarian.

Hanya berbekal petunjuk arah yang tidak jelas dan sepenuhnya bergantung pada sesuatu yang Tsunade sebut sebagai intuisi seorang kakak perempuan.

Orang lain mungkin akan protes dan menganggap dia gila. Tapi hubungan Tsunade dan Naruto memang memiliki kedekatan yang aneh, dan alasan mengapa Shizune tidak keberatan dengan ide gila Tsunade juga karena hal itu.

Tsunade percaya jika dia dan Naruto dihubungkan oleh sebuah takdir.

Pertemuannya dengan si anak laki laki dua tahun yang lalu dimana seharusnya sebagai klan Uzumaki yang kehilangan keluarganya, adalah sebuah hal wajar jika dia akan mati, tapi anak itu tetap hidup dan bertemu dengan Tsunade. Hal itu sendiri hanya bisa diterima sebagai sebuah keajaiban.

Perlahan lahan anak itu pulih, meskipun jiwanya mungkin masih belum utuh, tapi Tsunade berhasil menariknya dari jurang keputusasaan.

Lalu janji Naruto di sungai itu.

Saat itu dia ingat jika dia menangis. Air mata yang Tsunade kira sudah mengering, keluar begitu mudah saat dia mendengar janji yang Naruto ucapkan.

Kemudian permintaan gadis kecil yang Tsunade yakini adalah almarhum adik Naruto yang tewas dalam gendongannya, Uzumaki Mina

Kemiripannya dengan Nawaki dan Dan dalam banyak hal.

Andai Tsunade percaya pada keberadaan Tuhan, dia akan berkata jika kehadiran Naruto adalah penyembuh yang dikirimkan Tuhan untuknya.

Tsunade selalu merasa tenang jika Naruto ada di dekatnya, dan dia akan sangat ketakutan kapanpun ketika Naruto pergi dari sisinya, bahkan jika itu hanya dalam pikirannya.

Tapi tetap saja,

—Aku tidak pernah mengerti apa apa tentangnya.

Tsunade selalu merasa gelisah dengan fakta ini. Dia tidak bisa memahami apa yang Naruto pikirkan bahkan setelah 2 tahun bersama.

Tapi setidaknya dia mengetahui satu hal, bahwa anak itu sangat merindukan dunia yang damai sama seperti dirinya. Setidaknya dengan berbagi impian yang sama, dia bisa merasakan bahwa dirinya menjadi lebih dekat untuk bisa menjangkau anak itu yang seolah berdiri di dalam dunianya sendiri, sebuah dunia yang di isi oleh kegelapan dan kesepian.

"Kita pasti akan menemukan Naruto."

"Tentu saja, Shizune. Pergi tanpa mengatakan apapun dan membuat orang lain khawatir, aku tidak bisa memaafkan tindakan seenaknya itu."

Sebelum perang semakin membesar, dia harus menemukan anak itu dan pergi.

Melihat gerak gerik Iwa dan informasi mengenai keberadaan Shinobi Konoha di desa ini, dia bisa menyimpulkan Desa Kusa akan segera menjadi medan perang. Sebenarnya Tsunade tidak peduli akan hal itu. Dia akan pergi bersama Shizune dan Naruto ketempat aman meskipun hal itu harus mengorbankan ratusan jiwa tidak bersalah.

Yah, Tsunade Senju tidak keberatan untuk menjadi Iblis demi tetap menjaga orang orang yang dia cintai. Semengerikan itulah tingkat keegoisannya.

.

Darah yang terus mengucur dari luka lukanya akhirnya mengalahkan tekat sekuat baja gadis itu. Pandangannya mulai mengabur dan tubuhnya tidak lagi bisa digerakkan dengan benar.

Tidak berapa lama, kekuatan benar benar meninggalkan tubuhnya. Dia tumbang diatas salju.

—Tubuh lemah ini.. Sudah kuduga, menjadi seorang perempuan itu benar benar menyebalkan..

Lalu beberapa langkah kaki terdengar mendekat kearahnya dengan cepat.

"Ya ampun Taka!"

"Setelah menghilang tidak jelas, dia malah pulang dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Dasar merepotkan."

"Sebenarnya apa saja sih yang kau lakukan?"

"Daripada itu. Ayo kita bawa dia ke gua. Dia harus segera diberi pertolongan!"

Taka yang saat itu langsung kehilangan kesadaran langsung dibawa kedalam sebuah gua yang tersembunyi dari pandangan.

Saat dia kembali siuman, apa yang pertama kali dia lihat adalah dinding batu berwarna coklat kemerahan yang terbakar dalam cahaya api unggun.

"Tolong jangan bergerak dulu, nanti lukamu terbuka lagi."

Sebuah suara lembut menahannya dari mencoba bangkit dan membuatnya kembali harus berurusan dengan rasa sakit dari luka lukanya.

Taka menggerakkan matanya kearah dimana suara itu berasal, disana terlihat seorang gadis berambut Pink yang tengah sibuk meracik sesuatu di dalam alat tumbuk kecil, nampaknya dia sedang membuat penawar racun.

Tiba tiba gadis itu menghentikan kegiatannya dan menatap Taka.

"...kenapa."

"?"

"Padahal wajahmu sangat cantik, kau tahu? Aku bahkan tidak pernah menemukan seseorang yang lebih cantik darimu. Tapi, kenapa kau selalu menyembunyikannya dibalik topeng itu?"

Mendengar pertanyaan itu, barulah Taka menyadari jika dia tidak lagi mengenakan topeng elangnya, yang mana hal itu adalah atribut khas dari kesatuan tentara khusus bernama Anbu Root, sekaligus alat yang bagus untuk menutupi identitasnya.

Dia ingin bangkit dan memarahi si gadis merah muda, tapi begitu merasakan rasa nyeri hebat di perutnya, dia kembali jatuh.

"Ma-maafkan aku, dan tolong jangan bergerak, kau akan membuat lukanya kembali berdarah."

Gadis itu kelihatan menyesal meski pada akhirnya dia tetap melanjutkan,

"Tapi aku benar benar terkejut. Semua orang mengira kau itu laki laki, tapi ternyata —

"Diam."

"..."

"..."

"Ma-maaf."

Gadis itu lagi lagi minta maaf, dan itu membuat Taka semakin kesal.

Terjadi keheningan untuk beberapa saat sebelum Taka bicara dengan nada penuh kebencian yang sama sekali tidak repot repot dia sembunyikan,

"Siapa lagi yang tahu."

"Ha-hanya aku dan Hinata-chan."

Gadis itu bernama Haruno Sakura. Seorang karakter perempuan yang suka ikut campur urusan orang lain, dan tipe macam ini adalah yang paling dibenci olehnya. Tapi karena Sakura satu satunya Medic-nin yang benar benar ahli dalam menangani racun dan pembedahan, dia terpaksa harus terus berurusan dengannya.

Sakura sangat memperhatikannya. Gadis itu dengan rajin meminumkannya obat, menyuapinya makan dan melakukan hal hal lainya yang memang harus dilakukan olehnya sebagai seorang Medic-nin.

Taka sendiri bukanya tanpa perlawanan, dia kadang kadang menolak untuk disuapi karena menurutnya itu sangat memalukan. Tapi karena tuntutan dari rasa lapar dan keadaan tubuhnya yang tidak mungkin untuk bergerak meskipun hanya untuk makan, dia dengan terpaksa menerima perlakuan itu dari Sakura.

Suara para pria terdengar di ujung lain gua yang sedikit tertutupi batu.

"Taka sudah melakukan tugasnya, meskipun kurasa dia sedikit berlebihan. Dasar si tukang pamer itu."

"Itu sama sekali bukan masalah. Dia berhasil memancing musuh keluar, itulah yang terpenting."

"Kau benar. Mulai dari sini kita akan bergerak berkelompok. Seluruh team Phoenix akan menyerang dari depan segera setelah Team Suna berhasil membuat kekacauan dan mengecoh jumblah kita yang sebenarnya dengan kugutsu kugutsu mereka. Lalu para tentara bayaran Akatsuki akan meneruskan serangan dari arah timur. Dengan begitu berarti Team Suna dari barat, kita —Team Phoenix dari selatan, dan Team Akatsuki dari timur. Ketiga pasukan ini akan membagi jumblah musuh sampai seminimal mungkin sementara serangan utama kita akan menyerang dari Utara, yaitu Orochimaru dan Team Oto miliknya. Tujuan utama kita adalah sebagai pendukung bagi Team Oto. Mereka akan menyelinap kedalam desa yang para Shinobinya sudah terpecah antara Team Suna, Phoenix dan Akatsuki, kemudian membunuh Tsuchikage Onoki, lalu membangkitkannya dengan Edo Tensei dan skak mat! Desa Iwa akan sepenuhnya dalam kendali Konoha, sama seperti yang terjadi dengan Suna."

"Ya ampum! Otak macam apa sih yang kau miliki!"

"..."

"Baik baik. Tidak usah berwajah seperti itu. Ayo teruskan."

"Hm.. Itulah rencananya. Tapi sebisa mungkin kita harus bergerak cepat. Kegagalan tidak bisa di tolerir karena akan berakibat pada kehancuran total Konoha. Ketika Iwa menyadari niat sejati kita dan Aliansi Kumo-Kiri melihat tindakan kita, itu akan memicu mereka untuk menyatukan kekuatan mereka untuk melawan Konoha. Tapi jika kita berhasil, perang ini kemungkinan besar akan berakhir, setidaknya kemungkinannya kurang dari 50 persen."

"Ini akan jadi misi yang berat. Berdoa saja Kumo dan Kiri tidak terlalu rajin untuk menyelidiki desa Iwa juga, jika tidak, habislah kita."

"Dengan bergabungnya Kirigakure yang memiliki Sanbi dan Rokubi dengan Kumo yang juga memiliki dua Jinchuriki yaitu Nibi dan Hachibi, kesampingkan soal Sanbi yang adalah Mizukage sehingga pergerakannya mungkin akan dibatasi, atau Rokubi yang sering kehilangan kendali. Jinchuriki dari Nibi dan Hachibi adalah monster yang mampu mengontrol Biju mereka secara penuh. Sementara kita kehilangan Kyubi dan Minato-sensei yang bisa mengubah hasil perang. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah mengumpulkan kekuatan melalui jumblah. Tapi untuk mencapai semua itu, kita harus mengerahkan sebagian besar aset kita seperti sekarang ini. Jika Kumo atau Kiri menyadari jika Konoha membagi jumblah Shinobi mereka keluar desa, mereka akan membuat serangan habis habisan pada desa Konoha atau yang paling buruk, Kumo akan memutuskan untuk beraliansi dengan Iwa dan kita akan dimusnahkan. Demi apapun, kita tidak boleh membuat Iwa dan Kumo mencapai kata sepakat!"

"Jadi kita akan benar benar menggunakan jutsu menjijikan itu lagi ya, Edo Tensei, huh?"

"Jangan mengeluh. Kita tidak punya pilihan lain. Kau pikir aku tidak merasa jijik karena harus menggunakan jutsu aneh itu? Akulah yang paling tertekan disini karena sel sel otakku harus digunakan untuk cara kotor semacam itu, dasar merepotkan!"

"Lalu kapan kita akan memulai serangan?"

"Segera setelah Team Suna memberi sinyal, dan itu tidak sampai 3 jam lagi."

Dengan kata Terakhir itu, Taka menahan nafasnya.

—Tiga jam?! Itu lebih cepat dari yang kuduga!

Dalam tiga jam Kusagakure sudah pasti akan menjadi medan perang.

—Tidak ada waktu lagi untuk bersantai, aku harus menemui Sarada dan membawanya pergi dari sini.

Pertemuan kembali dengan Sarada sejak satu tahun belakangan ini diperbatasan itu benar benar sebuah kebetulan. Dia tidak pernah tahu dimana keberadaan gadis itu semenjak Hokage mengambilnya dari kediaman Uchiha.

Dia tidak pernah mengira jika Sarada akan ada di tempat ini dan malah terlibat dengan Shinobi Iwa.

Alasan mengapa dia terus bertarung adalah untuk memastikan bahwa tidak seorangpun dari Shinobi Iwa yang memasuki desa Kusa dan menemukan Sarada. Tapi usaha itu akan segera berakhir sia sia semenjak perang akan terjadi di desa Kusa.

"Sial!"

Taka memaksakan tubuhnya. Dia pergi dari gua tanpa memperdulikan luka lukanya atau suara rekan se-misi nya yang berusaha untuk mencegah dirinya.

.

Berada digendongan kakaknya, Gadis itu bersandar dengan senang pada bahu kakaknya yang besar,"Aku mencintai Onii-chan."

Suara itu seperti lonceng, itu sangat cocok dengan wajah si gadis yang polos dan murni.

Sementara kakaknya terus diam sambil berlari, dimana setiap langkah kakinya dibayar dengan darah dan dagingnya. Setiap kali dia berusaha menggerakkan tubuhnya, itu mengurangi nyawanya sedikit demi sedikit.

"Aku sangat sangat mencintai Onii-chan."

Gadis itu kelihatan lebih bahagia dari seekor penyu yang menemukan tempat dimana dia dilahirkan setelah sekian lama berjuang di lautan. Tapi kebahagiaan itu terlalu menyilaukan. Rasanya mirip seperti letupan besar sebuah kembang api. Berwarna mencolok dan begitu indah, tapi itu adalah cahaya terakhir yang dia pancarkan sebelum sepenuhnya menghilang.

"Aku berharap tumbuh dengan cepat, lalu menjadi pengantin wanitamu."

Tiba tiba mendung menyelimuti senyuman si gadis.

"Tapi sepertinya itu mustahil."

Si kakak terus diam, tapi gadis kecil itu menyadari jika tubuh itu bergetar sesaat. Gadis itu mungkin tidak bisa melihatnya, tapi kakaknya yang setengah putus asa tengah berjuang menahan tangis yang demi apapun tidak akan pernah dia tunjukkan di depan adiknya.

"Tapi aku tidak menyesal. Menghabiskan waktuku bersamamu. Akhirnya setelah sekian lama, Onii-chan bisa menerimaku. Aku sempat ketakutan jika aku harus terus menerima penolakanmu seumur hidupku, itu jauh lebih mengerikan daripada aku harus mati sendirian."

"Tapi kau menerimaku,"gadis itu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan,"Aku sungguh sungguh bahagia. Terimakasih, Onii-chan."

Arti kata bahagia itu sendiri sangatlah sederhana bagi si gadis. Cukup dengan tahu bahwa kakaknya tidak membenci dirinya, dia tidak terlalu serakah untuk menginginkan hal lainya.

Dengan senyumnya yang paling indah, Gadis itu menutup matanya sambil kedua tangan kecilnya berpegangan dengan erat pada leher si kakak.

"Karena itulah... Onii-chan harus terus hidup."

Naruto membuka matanya. Kilasan masa lalu barusan sempat membuat konsentrasinya menghilang, tapi sisi baiknya sekarang dia sepenuhnya terjaga.

Duduk diatas permukaan salju dalam posisi zen, dimana sejauh mata memandang tidak terdapat sedikitpun pepohonan.

Disana sangat luas. Berwarna putih bersih dengan atap kelabu dari langit diatasnya.

Dia sudah berjuang selama dua hari dipegunungan ini. Mendatangi satu tempat dan tempat lainya tanpa kenal lelah. Sekarang kelelahannya terbayar setelah dia menemukan apa yang dia cari.

—Pusat peredaran energi alam.

Setiap tempat memiliki sumber energi alam yang menyokong kehidupan agar terus berjalan. Tapi selain berlaku sebagai penyokong kehidupan. Energi alam juga bisa menjadi perusak keseimbangan ataupun pemulih kerusakan itu sendiri.

Manusia memiliki sumber energi spiritual yang serupa dengan Energi alam, itu disebut sebagai Cakra. Sebenarnya Cakra hanyalah bentuk penyesuaian dari energi alam, dimana asal muasal Cakra itu sendiri adalah dari Pohon Shinju yang konon dulu pernah hidup di suatu tempat dan menjadi pusat dari segala sumber energi alam di dunia ini.

Alam memiliki energi alam sementara manusia memiliki Cakra. Dua kekuatan yang memiliki asal yang sama tapi di sisi lain sangat berbeda.

Namun dunia tidak hanya memiliki dua sumber energi saja.

Orang orang di Klan Uzumaki menyebutnya Energi Jiwa. Sementara orang orang diluar Klan menyebutnya Energi kehidupan. Tapi Naruto punya namanya sendiri, yaitu Energi Roh.

Salah satu keistimewaan Energi Roh adalah, mampu berkomunikasi dengan Roh lainya. Baik itu Roh yang masih hidup, ataupun Roh yang sudah tiada. Dengan kata lain, Naruto mampu melihat apa yang dilihat oleh orang orang disekitarnya.

Seorang gadis yang berusaha untuk menjadi berguna untuk orang lain. Berusaha keras agar kemalangan yang terjadi pada dirinya tidak terjadi pada orang lain.

Hati suci seorang Suster yang berharap bisa menghapus kesedihan dari hati anak anak korban perang. Seorang yang bahkan tanpa ragu untuk memotong dagingnya sendiri untuk memberi makan orang yang kelaparan.

Perasaan gadis muda berkaca mata itu. Kehidupan sulit yang dia jalani, dan harapannya untuk dapat bersama dengan orang yang dia cintai.

Wanita muda yang mengubur dirinya dalam kubangan darah. Menyangkal segalanya dan mencari kekuatan untuk mengubah dunia agar bisa menjadi tempat yang layak untuk gadis kecil yang selalu dia jaga.

Lalu, ketakutan seorang wanita. Rasa hausnya akan kasih sayang yang membuatnya bahkan tidak keberatan jika harus menjadikan seluruh dunia sebagai musuhnya jika itu bisa terus membuatnya bersama dengan orang orang yang dia cintai.

Harapan harapan itu akan segera tersapu oleh perang yang sebentar lagi akan terjadi ditempat itu, dan Naruto tidak ingin itu terjadi.

Dia gagal memahami isi hati Rin.

Dia juga gagal menjawab perasaan Mina.

Nyawa memang tidak bisa dikembalikan, dan waktu tidak mungkin diputar ulang. Tapi Naruto memiliki kesempatan untuk memperlihatkan dunia yang diharapkan oleh Rin dan Mina kepada mereka yang masih hidup.

Energi alam yang berada disekitarnya akan membantunya untuk memasuki inti jiwanya yang disebut Roh. Dia akan membuka segel gaib yang tertanam disana dan untuk sesaat mengubah wujud fisiknya menjadi bentuk spiritual tertinggi yang hanya mampu dukuasai Uzumaki yang terpilih,

—Cakra Mode.

Dia akan membiarkan tubuhnya termakan oleh rembesan Cakranya yang besar sambil Energi Jiwanya terus mempertahankan kesadarannya agar tidak lepas kendali, kemudian,

—Tubuhnya akan bersatu dengan alam dan mempertahankan hanya kesadarannya saja. Dia akan bersatu dengan pegunungan Kusa dan melindungi semua orang.

Diam dan terus diam. Itu adalah dirinya yang dia perlihatkan pada orang lain. Tapi sebenarnya dia seperti itu karena terus memperhatikan.

Naruto sadar dengan apa yang terjadi disekitarnya. Bahkan mungkin saja tidak seorangpun yang memiliki pemahaman sebesar dirinya mengenai situasi yang sedang terjadi.

Ketika dia menyelesaikan proses pelepasan segel, mata birunya yang suram terbakar oleh tekat yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun,

"Lihat aku, Mina. Kekuatanku akan menyelimuti daratan ini."

—Mina.

—Rin.

—Tsunade-sama.

Dengan itu. Tubuh Naruto meledak dalam cahaya emas.

Dengan menyatukan diri dengan alam, dia akan mampu mengontrol seluruh Energi alam dipegunungan ini. Sebuah kekuatan raksasa yang membuatnya mampu mengontrol kekuatan spiritual semua makhluk hidup yang memasuki teritori wilayah Kusa.

Dengan dibukanya segel gaib Uzumaki. Seluruh aktifitas yang melibatkan kekuatan spiritual, baik itu Senjutsu, Ninjutsu, atau apapun yang melibatkan kekuatan spiritual lainya, dengan ini dinonaktifkan tanpa terkecuali.

Tbc.

Selamat hari raya Idul Fitri~.