.

.

.

"Tidak.."

Tsunade mematung menatapi gelombang cahaya di puncak pegunungan. Suara seraknya membuat Shizune kehilangan keberanian untuk melihat bagaimana ekspresi Tuan sekaligus Gurunya itu.

Cahaya keemasan itu mendaki langit bagaikan pilar emas. Menembus awan kelabu lalu menyebar seperti gelombang keseluruh tempat. Gelombang itu membawa perasaan hangat yang familiar. Sebuah kehangatan yang bukan hanya menghentikan badai salju tapi juga untuk sesaat menghentikan detak jantungnya, kemudian perasaan keputusasaan datang. Itu sebuah perasaan yang sama ketika kau kehilangan sesuatu yang berharga bagimu.

—Sebuah keheningan yang menyakitkan tercipta.

Tidak satupun diantara dirinya maupun Tsunade yang berbicara. Seperti halnya bagaimana rasa takut Shizune untuk melihat wajah Tsunade, dia juga sangat takut dengan sebuah kenyataan mengerikan yang akan muncul jika saja dia memberikan suatu pertanyaan.

Aroma kematian mengapung diudara dari sisi lain pegunungan. Pertempuran mungkin sudah dimulai tapi itu bukan lagi hal paling menakutkan karena alasan mengapa dia dan Tsunade harus meninggalkan pegunungan ini, alasan hati dinginnya yang tidak memperdulikan anak anak di desa Kusa yang akan terbantai, atau alasan mengapa seluruh dunia tidak lagi penting bagi Tuannya. Satu satunya alasan dari itu semua, mungkin sudah lenyap.

Bukannya mati, atau tewas —karena kedua hal itu hanya untuk makhluk hidup yang masih meninggalkan tubuhnya ketika dia pulang ke tempat yang lebih baik, sesuatu yang disebut surga, jika hal itu memang ada—melainkan lenyap, menghilang. Musnah dari dunia tanpa ada sedikitpun jejak.

Gelombang cahaya itu bisa dikatakan seperti nyala terang sebuah lilin sebelum dia mulai padam.

—Tapi lilin setidaknya masih akan meninggalkan jejak meskipun dalam bentuk yang lain.

Sebuah hari di musim panas,

Dia menemukan Naruto tengah duduk sendirian di bawah sebuah pohon. Mereka baru saja menyelesaikan latihan bersama dengan kelompok Minato, tapi Naruto pergi ketempat lain bukannya pulang ke penginapan, karena itulah Shizune ada disini untuk mengajak Naruto pulang.

Ketika dia berdiri tepat di depan Naruto, tanpa menatap padanya, pria itu berkata,

"Aku masih kepikiran."

"Soal apa?"

"Soal yang tadi pagi."

"Oh."

Shizune tidak terlalu ingin membahas soal apapun yang sedang Naruto bicarakan, tapi nampaknya Naruto tidak peduli.

"Saat Nohara-san memohon padanya sambil menangis, itu adalah satu satunya waktu dimana Tsunade-sama terlihat sangat ketakutan sekaligus sangat marah. Aku hanya ingin tahu, hal macam apa yang membuatnya seperti itu."

Rahasia ini mungkin tidak akan dia ceritakan pada siapapun, tapi pria di depannya ini berbeda, tapi dia masih ragu. Bukannya dia tidak mempercayai Naruto, hanya saja kisah itu mungkin akan menciptakan kecanggungan diantara hubungan Tsunade dan Naruto kelak, jadi akan lebih baik jika semua itu tetap menjadi sebuah rahasia, kecuali jika Tsunade sendiri yang akan menceritakannya pada Naruto, itu akan jadi hal yang berbeda lagi.

Shizune bergerak kearah Naruto dan duduk disamping pria itu. Dia lebih muda beberapa tahun darinya, tapi badan besarnya mungkin bisa disalah artikan jika dia sudah cukup dewasa. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah Tsunade sadari betapapun hal itu sangat jelas terlihat. Bagi wanita itu, Naruto akan terus menjadi bocah kecilnya yang tidak bisa apapun tanpa dirinya.

Tatapan Shizune melembut pada bagian samping wajah Naruto yang menatap kedepan, entah kemana. Jika Minato Namikaze adalah pria tampan yang cantik, Naruto adalah pria tampan yang benar benar pria. Kau bisa melihat kedua pria itu terlihat agak mirip, tapi Naruto adalah versi tegas dari Minato yang kelihatan tidak bisa diandalkan.

Tsunade selalu menyentuh bagian manapun dari tubuh pria ini sesukanya, setiap hari. Tapi dia begitu mengasihani Senseinya itu yang hanya bisa melihat pria ini sebagai anak kecil bukannya sosok pria seperti yang dia lihat.

'Dia sudah tumbuh. Dia bukan lagi anak laki laki yang kau temukan sekarat di semak semak dulu, dia seorang pria gagah sekarang.' Itu adalah kata kata yang ingin selalu Shizune utarakan pada Tsunade, tapi dia khawatir kalau hal itu akan merusak perasaan cinta yang Tsunade bangun untuk Naruto.

Wanita itu selalu takut akan mengalami hal yang sama seperti dimasa lalu ketika dia mulai menjalin hubungan dengan seorang pria. Namun entah bagaimana dia mampu menipu dirinya sendiri dan melihat Naruto sebagai adik kecilnya yang dimasa lalu gagal dia lindungi.

Luka wanita itu masih belum sepenuhnya menghilang. Shizune hanya takut jika dia menunjukkan sebuah kenyataan, luka itu akan kembali terbuka.

"Yah,"Naruto menyandarkan seluruh tubuhnya pada pohon dibelakangnya,"Semua orang memiliki masa masa sulit mereka sendiri."

Dibawah bayang bayang pohon, raut wajah pria itu sulit untuk ditebak, tapi Shizune bisa merasakan ketakutan yang keluar dari getaran suaranya.

"Hanya saja. Aku tidak akan sanggup jika harus melihat wajah itu lagi."

Sambil angin musim panas yang sejuk membelai wajahnya, Naruto berkata,"Aku benar benar tidak ingin melihatnya lagi."

—Lalu kenapa?

'Melakukan semua hal ini yang justru membuat Tsunade-sama sedih?'

Shizune hanya bisa bertanya dalam hatinya ketika dia mengingat masa lalu itu.

Bagi dia maupun Tsunade, ataupun semua orang yang mengenal pria itu. Seorang Uzumaki Naruto adalah pria yang dikelingi ketidakpastian. Apa yang pria itu pikirkan dan hal apa yang akan dia lakukan, baginya semua itu benar benar sulit untuk di tebak.

Bagi Tsunade yang selalu melihat Naruto sebagai anak kecil, pria itu mungkin hanya terlihat seolah menutup hatinya dari dunia luar, tapi bagi Shizune yang melihat dari sudut pandang berbeda, Naruto adalah pria berbahaya dengan pemikiran rumit.

Tsunade memang lebih tua darinya, tapi wanita pirang itu terlalu naif untuk seorang wanita yang mencoba memahami sang Uzumaki.

Tapi ada satu hal yang bisa Shizune lihat yang menjadi satu kesamaan diantara keduanya,

—Bahwa bagi Tsunade, Naruto adalah keberadaan berharga yang harus dia lindungi, dan ironisnya, Naruto juga merasakan hal yang sama. Mereka mencoba saling melindungi dengan cara mereka masing-masing.

Perasaan yang mereka miliki untuk satu sama lain sama besarnya, dan sama gilanya.

Perbedaannya hanya pada skalanya saja.

Jika Tsunade berusaha menemukan tempat kecil di belahan dunia ini untuknya dan Naruto bisa hidup dengan bahagia. Naruto jusrtu memiliki pemahaman jika dia harus menciptakan dunia itu. Itulah yang Shizune pikir.

—Tapi itu terasa salah. Naruto, kau tidak pernah berfikir jika satu satunya tempat yang Tsunade-sama inginkan adalah tempat dimana disana juga ada dirimu.

Ketika Shizune akhirnya menyadari sesuatu. Disana Tsunade mulai berjalan dalam diam. Melihat bagaimana sosok Tsunade yang penuh percaya diri kini berubah menjadi seperti gadis rapuh yang patah hati, Shizune hampir tidak mampu menahan air matanya.

.

Sambil memegangi salibnya dengan kuat, Nonou membuka matanya ketika dia merasakan keberadaan lain disekitarnya. Saat dia berbalik, disana ada figur berjubah robek robek dan topeng yang hanya bisa menyembunyikan sebagian kecil dari wajahnya. Itu wajah seorang wanita muda.

"Tuhanku!"Tanpa sadar Nonou berseru karena kaget.

Tapi itu hanya sesaat ketika dia sadar dan langsung menopang tubuh si gadis misterius yang hampir ambruk.

Nonou tidak memiliki cukup waktu untuk bertanya karena gadis itu yang ternyata mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya, mulai terlihat pucat dan dingin, karenanya dia membawa si gadis ke sebuah ruangan dan memanggil seseorang untuk mengobati si gadis.

Saat gadis itu sadar, hal pertama yang dia katakan adalah,"Dimana Sarada?"

Si suster berkacamata tersenyum sembari dia menjawab,

"Kita bicarakan itu nanti. Sekarang istirahatlah dulu. Luka-lukamu itu harus segera ditangani."

Gadis itu diluar dugaan sangat keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan Nonou dan mencoba berdiri namun pada akhirnya dia terus gagal. Tidak peduli seberapa kuatnya dia, dengan kehilangan darah sebanyak itu, dia tidak mungkin memiliki cukup tenaga untuk bangkit. Akhirnya, Si Gadis hanya terbaring tidak berdaya sambil terus mengirimkan tatapan membunuh pada Nonou dan semua orang dalam ruangan itu.

Amaru yang merawat Gadis itu kelihatan cemberut sepanjang waktu. Dan Nonou yang menyaksikan hanya tersenyum lembut dan berkata dengan suara menenangkan seperti biasa,"Bersabarlah."Pada Amaru.

Hingga suatu ketika, saat Nonou menjadi satu satunya orang yang berada diruangan itu. Menatap daerah pegunungan dari jendela dengan khwatir, dia berkata,

"Kemana kau akan pergi? Saat ini tidak ada tempat yang benar benar aman, dengan keadaan seperti itu, kemana kau akan membawa Sarada dan bisakah kau memastikan jika tempat tujuanmu nanti lebih aman dari tempat ini?"

"..."

"Jika benar, lalu apakah yang akan kau lakukan? Memintanya tinggal disana dan lalu pergi seperti saat kau mengantarnya semalam?"

"..."

"Apa kau tahu bahwa manusia bahkan bisa hidup di tempat terpanas atau tempat paling dingin sekalipun. Sederhananya, tidak ada tempat yang benar benar cocok ataupun tidak cocok untuk manusia, jika kau hanya melihat dari lingkungan dan sosial. Apa kau mengerti mengapa seperti itu?"

"..."

"Itu karena tidaklah penting tempat dimana kau tinggal. Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi, tapi itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, menurutmu, selama waktu adaptasi itu, apakah yang membuat mereka tetap bertahan?"

"..."

"Itu adalah cinta."

"..."

"Tempat terbaik bukanlah tempat paling aman atau tempat seperti istana atau bahkan tempat dimana semua orang tersenyum. Tempat terbaik bagi manusia itu adalah tempat dimana dia menemukan cintanya, dimana orang yang dia cintai juga ada disana."

Nonou menatap Si Gadis yang menampakkan raut wajah rumit. Dia menatap ke kejauhan dan terlihat sedang berpikir keras. Nonou menampakkan senyum lembutnya dan berkata,

"Aku punya dua kenalan, dan mereka bisa dibilang sepaket yang tidak terpisahkan meskipun tidak satupun dari keduanya yang menyadarinya. Si pria adalah seseorang yang agak tertutup dengan orang lain, sementara si wanita adalah orang yang keras kepala. Pengalaman di masa lalu membuat mereka memiliki ketakutan yang pada akhirnya menyesatkan perasaan mereka. Sekilas mereka nampak seperti dua anak kucing yang saling menjilati luka satu sama lain, tapi sesungguhnya apa yang paling sesuai untuk menggambarkan keduanya adalah sepasang merpati yang membutuhkan satu sama lain untuk tetap hidup."

Nonou melihat ke jendela lagi. Disana pernah ada cahaya aneh yang naik keatas langit kemudian tersebar kesemua arah. Itu adalah cahaya yang sangat indah hingga membuat Nonou melafalkan puja puji pada Tuhan, namun di saat yang sama itu adalah cahaya yang nampak sangat menyesakkan dada.

"Dan sekarang, akan seperti apakah merpati merpati itu jika salah satu diantara mereka tiba tiba menghilang."

Dalam kesedihannya, Nonou terus memandangi pegunungan tempat dimana cahaya itu muncul,

Ruangan itu mendadak sunyi. Di luar tidak lagi terdengar suara badai semenak beberapa waktu lalu, tapi sebagai gantinya teriakan perang terdengar bersahut sahutan, bergema menuruni lembah.

Nonou masih memandangi pegunungan, saat itu gadis dibelakangnya berkata,

"Aku akan pergi. Kali ini, aku tidak akan membiarkannya sendirian lagi."

Ada kesungguhan dalam suara gadis yang nampak sangat gampang untuk disalah pahami sebagai seorang tuan muda yang tampan itu. Meskipun kenyataannya dia memiliki luka yang cukup membahayakan nyawanya, dia nampak sangat teguh.

Dia melanjutkan,"Aku sudah melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Aku membiarkannya berjuang sendirian di sarang monster itu. Aku melupakan tanggung jawabku karena obsesiku pada kekuatan dan kekuasaan. Semua hal itu membuatku tidak lagi bisa melihat seseorang yang sungguh sungguh membutuhkanku. Mungkin jika bukan karena kebaikan Hokage-sama, aku mungkin saja akan kehilangan dia untuk selamanya."

Gadis yang kelihatan sangat kokoh itu pada akhirnya melembutkan wajah cantiknya yang selalu tegang untuk membentuk sebuah senyum masam dari seseorang yang menyadari betapa bodohnya dirinya di masa lalu.

"Sarada adalah satu satunya penahanku dari terjatuh dalam kegelapan lebih jauh lagi. Hanya di depan gadis itu aku bisa menjadi sesuatu yang bukan monster. Itulah sebabnya, aku harus membawanya pergi dari sini. Dia satu satunya milikku yang paling berharga yang membuatku memiliki pilihan selain menjadi seorang tiran kejam. Dia adalah rumahku."

Saat itu, suara langkah kaki yang terburu buru terdengar di lorong. Pintu *Katcha!*Terbuka dan menampakkan gadis muda dengan nafas tersenggal senggal.

"Onee-sama!"

"Sarada."

Keduanya mematung dalam takjub pada keberadaan masing masing sebelum Sarada mulai berlari dan memeluk Si Gadis. Mereka nampak sangat cocok seolah mereka diciptakan untuk satu sama lain. Itu adalah hal paling alami yang pernah Nonou lihat, setidaknya yang kedua kalinya semenjak dia melihat interaksi Tsunade dan Naruto.

Nonou menerima ucapan terimakasih Sasuke yang tersirat dari mata gadis itu, kemudian karena tidak mau mengganggu, wanita itu segera keluar dari sana sambil dia berkata dalam hatinya,

'Mereka akhirnya berhasil memahami apa yang sebenarnya mereka inginkan. Lalu bagaimana dengan kalian berdua? Masih belum terlambat. Terbanglah lebih cepat, karena dia pasti akan ada di sana untuk menunggumu. Bukankah kau dan dia adalah sepasang merpati yang bahkan bisa saling merasakan meskipun beribu ribu kilometer jauhnya? Ini jarak yang lebih pendek dari itu, tahu? Kau bahkan bisa mencapainya jika kau mencoba mengulurkan tanganmu. Masalahnya, masihkah kau percaya bahwa tanganmu masih mampu mencapainya?'

Menatap pada pegunungan melalui jendela, dia melanjutkan dalam kata kata yang hanya dirinya yang bisa mendengarnya,

"Sadarilah hal terpenting itu jika kau tidak mau kehilangan Lelakimu, Tsunade."

Setelah dia keluar dari kamar, Nonou menyandarkan punggungnya pada pintu yang tertutup sambil dia teringat dengan suatu percakapan.

Anak-anak saling tertawa dan berlarian di lapangan. Nonou yang kebetulan melewati tempat itu melihat seorang pria pirang tengah berdiri di sudut tersembunyi menatap pada lapangan dimana anak anak bermain.

"Kelihatannya kau menyukai anak anak."

Nonou berdiri disamping pria itu dan berkata demikian. Pria itu tidak menanggapi, dia hanya terus menatap pada anak anak seolah tidak ada siapapun disampingnya, akan tetapi Nonou sejak awal tidak benar benar membutuhkan tanggapan, dia hanya menyukai untuk berbagi cerita pada orang orang.

Sambil menatap ketempat dimana pria itu juga menatap, dia berkata,

"Mereka entah melarikan diri dari desa mereka yang dihancurkan atau sengaja diantar oleh orang tua mereka yang akan pergi berperang maupun dikirim oleh pemimpin desa untuk melindungi pemuda pemuda mereka. Yah, ada banyak lagi alasan tidak masuk akal dibalik keberadaan mereka disini, tapi itu bukan sesuatu yang harus kau khawatirkan selama anak anak ini masih bisa tersenyum hal seperti masa lalu bukan lagi masalah. Bagiku, tidak ada hal yang lebih baik dari senyum polos mereka."

Nonou tidak bisa menahan senyumnya saat dia mengatakan,"Senyum yang hanya berisikan kepolosan dan perasaan naif. Itu hampir seperti malaikat, dan aku merasa beruntung karena bisa melihat senyuman itu kapanpun aku menginginkannya."

Kemudian dia membuat senyum nakal ketika dia menambahkan,"Itu sama dengamu, kan? Senyum wanita itu pasti sangat berarti bagimu."

Untuk kata kata terakhirnya, Nonou mendapati Si Pria menatapnya dan dia dengan senang hati membuat senyum simpul tanpa mengalihkan pandangannya pada lapangan yang dipenuhi anak kecil.

"Kami tidak pernah mengalami perang semenjak perang dunia ke-2. Kusagakure hanyalah tanah dengan letak geografis yang buruk dan sulit diakses. Tidak ada negara yang cukup gila untuk menghabiskan uang mereka untuk membuat benteng disini ataupun menjajah tempat ini, dan berkat itu kami aman. Berkah dari Tuhan kadang kadang sulit untuk dimengerti."

*fufufu*Nonou tertawa kecil sebelum dia kembali melanjutkan, kali ini suaranya agak serius,

"Tapi kita tidak akan tahu kapan kenyamanan ini akan berakhir. Masa depan adalah wilayah misterius yang menyimpan banyak hal tidak terduga dan manusia menyimpan lebih banyak kemungkinan tidak terduga di dalam diri mereka. Kau tidak akan tahu kapan tempat ini akan menjadi medan perang, tapi jika hal itu memang akan terjadi, aku hanya berharap aku memiliki cukup waktu untuk memastikan anak-anak berada di tempat yang aman. Tidak satupun dari mereka yang boleh menderita lagi."

Saat itu seorang suster menghampiri mereka untuk meminta Nonou pergi ke kapel untuk menghadiri pertemuan para petinggi Gereja.

"Sepertinya aku harus pergi. Sangat menyenangkan bisa bicara denganmu. Lain kali kita harus lebih banyak mengobrol."

Meskipun terdengar seperti sebuah sindiran, tapi Nonou memang merasa cukup senang dengan pembicaraan tadi yang lebih tepat dikatakan sebagai monolog daripada sebuah percakapan. Tanpa berharap menerima balasan, Nonou tersenyum dan berbalik pergi, sampai beberapa langkah, dia mendengar pria itu bicara,

"Kau temannya Tsunade-sama?"

Nonou berhenti dan tanpa berbalik dia menjawab,

"Bagiku dia adalah saudara perempuanku."

"Suster kepala."

Seorang suster berdiri di depannya berkata dengan sedikit heran pada atasannya yang diam seolah sedang memikirkan sesuatu, lalu dia melanjutkan setelah mendapat perhatian penuh Nonou,

"Pasukan Iwa yang ada di wilayah kita sudah dibersihkan oleh Shinobi Kusa."

Melihat keraguan Si Suster. Nonou berkata,"Lalu apa masalahnya?"

"Hanya saja ini terasa sangat mudah. Mungkinkah mereka merencanakan sesuatu? Lagipula pasukan Konoha juga menghindari dari memasuki wilayah kita."

Nonou tersenyum,"Selalu ada mukjijat di tengah kesulitan. Tuhan mungkin mendengar doa kita sehingga dia mengirimkan malaikat penolongnya."

"Su-suster kepala?"

Tanpa menghiraukan kebingungan Si Suster, Nonou berjalan pergi menuju aula Gereja.

Ketika pintu kamar Sarada terbuka di malam berbadai, Nonou mendapati seorang pria keluar darinya.

Pria itu harusnya adalah pria yang sama dengan sesorang yang dia ajak bicara tadi siang, tapi perasaan yang dipancarkannya kali ini sangat berbeda. Itu terasa dingin dan menakutkan.

Keadaan fisiknya mungkin tetap sama. Rambutnya masih berwarna pirang terang. Tubuhnya tinggi besar dengan kulit kecoklatan yang membungkusnya dibalik pakaian serba hitam itu. Yang berbeda adalah perasaan yang pria ini timbulkan, juga cahaya dari mata biru itu nampak menghilang. Kegelapan yang tersimpan di mata itu bukanlah sesuatu yang normal, namun bukan berarti Nonou merasa terancam. Pria ini memang menyimpan banyak hal dibalik sikap tenangnya, tapi lebih dari itu, Naruto adalah pria baik. Dia yakin itu.

'Orang jahat tidak akan mendapatkan perhatian sebanyak itu dari seorang Tsunade.'Dia berfikir seperti itu.

Mereka saling berselisih jalan. Tidak satupun dari keduanya yang berusaha menegur. Nonou sendiri ingin menanyakan apa yang dia lakukan malam-malam begini, tapi dia mendapati keberaniannya menghilang hanya dengan merasakan perbedaan dalam diri pria itu.

Tanpa disangka, pria itulah yang bicara ketika jarak mereka sudah terpaut 10 centi.

"Aku serahkan yang disini padamu."

Nonou tersentak dan segera berpaling pada Si pria, namun sudah tidak ada siapapun disana.

Nonou menghela nafas. Pria bernama Uzumaki Naruto ini benar-benar orang yang sulit ditebak. Entah apa yang akan dilakukannya di malam itu Nonou sama sekali tidak menemukan sedikitpun petunjuk. Tidak terfikir olehnya bahwa pria itu akan melakukan hal senekat dan semenakjubkan seperti melindungi Kusa dari pertempuran Iwa dan Konoha.

Dia tidak tahu dengan cara apa dia melakukan itu. Namun cahaya terang di pegunungan itu jelas adalah milik pria itu.

Sebuah kekuatan luar biasa yang bisa mengendalikan medan pertempuran. Sebuah kekuatan raksasa yang bahkan mampu menghindarkan satu negara kecil dari kehancuran dari sebuah perang. Itu adalah kekuatan mengerikan yang pastinya meminta bayaran yang tidak murah.

'Tsunade yang memiliki ikatan aneh dengan pria itu pasti memahami lebih baik dari siapapun mengenai situasi ini. Itu mungkin membutnya putus asa karena pada kenyataannya melepaskan kakuatan sebesar itu pastinya bukan hal aneh jika itu akan mengambil nyawa pengguna.'

Nonou berfikir bahwa Tsunade pasti sangat menderita. Tapi dia merasa bahwa pemikiran itu tidaklah benar.

'Pria itu tidak akan mati dengan mudah. Kau harus mempercayainya, Tsunade. Seorang pria yang melindungi desa Kusa. Itu bukan untuk kami, tapi karena dia tahu bahwa desa ini adalah tempat yang layak untuk disebut rumah bagimu. Tempat ini menyimpan dirimu yang lain di masa lalu. Kenangan dari seorang gadis yang menghargai senyum orang lain sebelum dia diubah oleh waktu menjadi wanita egois keras kepala. Dia benar-benar pria baik... Untuk seorang wanita sepertimu mendapatlkan pria seperti dia, itu benar-benar sulit dipercaya.'

Nonou berjalan keluar dari Gereja. Di bawah sinar matahari senja yang muncul sesudah badai, dia berkata,

"Karena itulah kau harus menyadarinya, Tsunade. Berhentilah menipu dirimu dan lihatlah kenyataan. Lelakimu itu sangatlah kuat. Dia tidak akan mati dengan mudah, tapi kau harus belajar menerima dirimu, karena jika tidak dia mungkin saja akan benar benar menghilang."

Tbc

Udah hampir tamat. Kemungkinan besarnya ending dari pik ini mungkin gk memuaskan. Saya bener bener nulis sesuka hati saya dan apa yang saya tulis ini menurut apa yang saya sukai bukannya para reader. Jadi saya minta maaf jika tidak sesuai harapan.