Seharusnya kemunculannya di hadapan sang puteri membuahkan sebuah pelukan hangat. Namun, puterinya, Saori tidaklah sama dengan gadis berusia sembilan tahun pada umumnya; dia begitu berbeda. Ya, berbeda. Jika seorang anak seusianya kebanyakan akan langsung menempelkan dirinya dengan begitu ketat pada sosok ibu yang cukup lama meninggalkan dirinya—dengan alasan pekerjaan, maka pengecualian untuk Saori. Gadis kecil tersebut justru akan menatapnya datar; sedatar-datarnya. Namun, walaupun begitu Naruto tentulah tahu apa yang sebenarnya ada dalam benak sang puteri.
Dianugerahi otak cemerlang dan berkemampuan multi talenta, membuat puterinya sudah mampu melangkahi jenjang yang seharusnya barulah dicapai anak pada masa remaja. Berpemikiran dewasa, gadis kecil tersebut sudah mampu menangkap dan memahami pemikiran rumit orang-orang di sekitarnya. Kini, di usianya yang baru menginjak ke sembilan, puterinya telah menginjakkan kakinya pada jenjang pendidikan sekolah menengah atas.
'Terima kasih atas menurunnya gen Uchiha pada Saori.'
Tersenyum getir saat fakta tersebut kembali muncul dalam pikirannya, Naruto pun mendesahkan napasnya secara perlahan.
"Tapi, setidaknya Saori tidak sepenuhnya kehilangan sifat kekanakan dalam dirinya." gumamnya pelan, sehalus bisikan.
Kembali memfokuskan dirinya pada dunia nyata, seulas senyum keibuan pun disunggingkannya ke arah sang puteri— yang nampak mengerutkan keningnya dalam.
Naruto dengan perlahan semakin mempertipis jarak antara dirinya dengan kedua sosok familiar yang sudah lama tak dijumpainya. Menyambut pelukan sang kakak sepupu— yang kini merangkap sebagai kakak iparnya— tersebut, Naruto tersenyum lebar saat mendapatkan sebuah kecupan pada puncak kepalanya.
"Puterimu benar-benar membuatku gemas dengan antusiasmenya saat menunggumu."
"Benarkah?" melepaskan diri dari pelukan sang pria berambut merah, Naruto tersenyum lebar dan memusatkan perhatiannya pada Saori yang sudah kembali memasang ekspresi sedatar mungkin.
"Berhenti menatapku seperti itu, Kaa-san." Saori menyipitkan matanya, "Aku sama sekali tak tergugah untuk memelukmu."
"Tsundere," suara cibiran bernada pelan pun terlontar dari satu-satunya sosok pria yang ada di dekat sosok ibu dan anak tersebut.
Kesal, Saori kemudian menginjak kaki kiri sang paman dengan begitu kerasnya, dan sontak membuahkan sebuah pekikan kesakitan dari sang pemilik kaki.
"Kejam sekali," Pria tersebut memasang ekspresi yang dibuat semelas mungkin. Namun, raut datar yang selama ini selalu mendominasi wajahnya, menjadikannya gagal memasang ekspresi yang diinginkan; berefek dengan putaran bola mata jengah dari sang keponakan, dan suara kikikan tawa tertahan dari sang adik ipar.
"Sebaiknya kita segera kembali," membuka suaranya kembali, Saori menatap ibu dan pamannya. "Aku yakin mereka bertiga sudah cukup lama dibuat menunggu."
Tersenyum penuh terima kasih ketika sang kakak meraih koper miliknya dan membawakannya, wanita berambut pirang itu pun mengalihkan pandangannya ke arah sang puteri. Tanpa mengindahkan pekikan keterkejutan dari gadis kecil tersebut ketika mendapatkan sebuah pelukan—tubrukan— yang secara tiba-tiba, Naruto justru mengeratkan pelukannya.
"Kaa-san sangat merindukanmu."
Dan, cukup dengan mendapatkan balasan dari pelukannya, Naruto tahu dengan pasti; bahwa puterinya pun sangat merindukan dirinya.
Sementara itu, sosok pria bertubuh tegap yang seolah terabaikan keberadaannya, hanya bisa mengulas senyum tipis pada wajah rupawannya—sebelum akhirnya berlalu pergi terlebih dahulu.
.
.
.
.
Yeah, I Know What I Need.
Chara selalu milik Masashi Kishimoto Sensei, tapi fict ini punya Sao.
Warning : AU, OOC, FemNaru, OC, Typo's, alur cerita monoton dan pasaran, 3shot, dll.
Pairing : SasuFemNaru, slight other.
Didedikasikan untuk daku pribadi dan untuk kamu-kamu yang berkenan menunggu sequel fict 'Broken Heart?' ini.
Don't like, don't read. Pilihlah bahan bacaan dengan bijak.
Happy reading ...
.
.
.
.
.
Ada sesuatu yang berbeda dari ibunya, dan Saori tahu pasti akan hal itu. Dirinya mungkin terkesan pasif dalam mengungkapkan perhatiannya pada semua anggota keluarga atau orang-orang di sekelilingnya. Dirinya pun sadar betul akan kekakuannya dalam bersosialisasi, dirinya tak pintar dan bahkan cenderung payah akan segala sesuatu bertajuk kehidupan sosial.
Menggelengkan kepalanya yang bisa saja meledak—secara imajiner— bila terus digunakannya untuk berpikir segala sesuatu yang berbau emosional, gadis bermata heterochrome itu pun menutup resleting koper yang telah terisi segala perlengkapan yang akan dibawanya ke Konoha esok pagi.
Namun, selang beberapa menit kemudian, gadis itu pun tak kuasa untuk tidak membenturkan kepalanya pada permukaan tembok kamarnya; ketika lagi-lagi pemikirannya kembali terarah pada hal berbau emosional tersebut.
Masih terbayang jelas olehnya, saat ekspresi riang gembira sang Ibu berganti dengan ekspresi ketidaknyamanan ketika dirinya tanpa tedeng alih-alih menanyakan kabar kekasih ibunya di Suna. Walaupun hanya sekilas, Saori yakin melihat wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu tampak menyunggingkan senyum yang tak pernah dilihatnya sekalipun— sebuah senyuman getir.
"Kaa-san tidak pernah tersenyum seperti itu sebelumnya," berkata dengan nada lirih, gadis itu pun bangkit dari posisi duduknya di atas lantai dan kemudian menghempaskan tubuhnya pada tempat tidurnya.
Menyangga wajah dengan kedua lengannya yang berada di atas bantal, gadis kecil itu menatap ke arah kepala tempat tidurnya.
"Lagi pula yang lebih mengganggu, kenapa Kaa-san bersikeras untuk menemaniku ke Konoha?" Saori mengembungkan sebelah pipinya, "Padahal, selama ini Kaa-san selalu menolak mentah-mentah keinginanku untuk berlibur atau sekedar mengunjungi tempat itu."
Terdiam.
Hanya suara detik jam yang terdengar. Hingga, sebuah seringai kecil nampak tersungging pada wajahnya kemudian.
"Apa pun itu ... pasti ada alasan logisnya, bukan?" Saori terkekeh pelan, "Dan apa pun itu, setidaknya aku harus bersyukur karenanya ... Kapan lagi bisa tinggal bersama Kaa-san selama enam bulan penuh?"
.
.
.
.
Cuaca cerah mengiringi perjalanannya bersama sang puteri menuju bandara, tidak ketinggalan dengan sosok kedua orangtua dan kedua kakaknya yang sekedar ikut pergi ke bandara untuk mengantarkan.
Merasa tak enak hati karena sudah harus kembali meninggalkan keluarganya pergi—setelah hanya mampu menyempatkan diri tinggal di Uzu hanya dalam kurun waktu sehari saja, Naruto membalas pelukan erat wanita berambut merah darah panjang yang dengan sangat kentara begitu enggan melepaskan kepergian dirinya dan puterinya.
"Seharusnya kau tinggal minimal seminggu, Naruto."
Meringis saat mendapati rajukan dari wanita yang notabene-nya merupakan ibu kandungnya, tangannya pun bergerak aktif untuk membelai punggung wanita tersebut.
"Saori sudah harus memulai pembelajaran di Konoha lusa nanti, Kaa-san. Tentunya bukan hal yang baik bila memperpanjang waktu keberadaanku di Uzu." jelasnya, penuh kehati-hatian.
"Kau kejam sekali pada Kaa-san, sebegitu tidak betahnya kah dirimu di Uzu?"
Naruto memekik tertahan, "Ya ampun, Kaa-san ... dari mana pemikiran buruk itu datang?"
Melepaskan pelukan mereka, mata beriris sapphire-nya menatap lurus pada iris jade di hadapannya.
"Kaa-san ...," Naruto menanti jawaban dari wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Habis kau selalu saja hanya meluangkan sedikit waktu untuk berada di Uzu." Wanita berusia berusia kepala lima tersebut memajukan bibirnya, "Kau benar-benar selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Beruntunglah Saori adalah puteri yang sangat pengertian dan berjiwa mandiri."
"Ka—"
"Oke cukup, stop!" Seorang pria berambut pirang panjang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka berdua, "Berhentilah merajuk, Kaa-san. Naruto harus mendampingi kepergian Saori, sejenius dan sehebat apa pun bocah itu tetap saja anak-anak yang pasti tergiur dengan bujukan sebuah permen lolipop."
"Hey!"
Hanya memutar kedua bolanya bosan ketika mendapati teriakan tidak terima dari satu-satunya bocah yang berada di sekitar lingkaran mereka, Deidara—nama sosok tersebut— menyipitkan kedua matanya pada wanita berambut merah darah tersebut. "Dan berhentilah memonopoli Naruto, Kaa-san. Kami pun berhak mendapatkan sesi perpisahan dengannya."
"Kau menyebalkan, Dei-chan."
"Urusaii!" serunya, sebelum akhirnya menyenggol posisi wanita tersebut secara kasar dan segera memeluk Naruto dengan erat.
"Kau keterlaluan. Dasar anak kurang ajar!"
"Aku akan merindukanmu," ucapnya seraya mengeratkan pelukannya, mengabaikan perkataan ibunya. "Jaga dirimu dan Saori di sana. Dan, pastikan kalian tidak berurusan dengannya." tambahnya, dengan nada berbisik pada kalimat terakhirnya.
Mengangguk, Naruto tersenyum lirih, "Tentu saja, Nii-chan."
Melepaskan pelukannya, Deidara menepuk puncak kepala adiknya tersebut. "Adik pintar." Dan, senyuman disunggingkannya ketika sebuah tatapan tajam menjadi balasan akan ucapannya.
"Sudah selesai?" Sosok pria berambut pirang lain mendekatkan dirinya, dan menatap kedua sosok pirang di hadapannya teduh.
"Tentu," Deidara menjawab. "Silakan, sekarang giliran Tou-san."
Kembali mendapatkan sebuah pelukan hangat, Naruto untuk kali ini entah kenapa merasa matanya memanas. "Tou-san ...," panggilnya lirih, wajahnya ditenggelamkannya pada dada bidang pria yang walaupun sudah semakin menua namun tetap tetap berbadan tegap tersebut.
"Tou-san menyayangimu, Naruto." Beliau mengecup puncuk kepala puterinya, "Kau sudah dewasa untuk menentukan pilihanmu sendiri. Apa pun yang terjadi di sana pada nantinya, pilihlah apa yang kau butuhkan dan akan membuat kalian berdua bahagia."
Menegadahkan kepalanya guna menatap wajah pria tersebut, matanya menyorotkan kebingungan yang kentara.
"Hanya sebatas untuk berjaga-jaga." jawabnya, mengerti dengan jelas maksud tatapan Naruto. Menyengir lebar, pria paruh baya itu pun mengecup kening puterinya dan kemudian melepaskan pelukannya. "Sudah sana, berpamitanlah pada Sasori."
Menggangguk, wanita beranak satu itu pun melangkahkan kakinya menuju pria berambut merah— yang sedari tadi tampak asyik menggoda keponakan kecilnya. "Saso-nii ...," panggilnya, membuat yang dipanggil menoleh ke arahnya dan segera meraihnya ke dalam pelukan hangat.
"Maaf ... untuk kali ini aku tidak bisa menemanimu di sana."
Mengerti dengan jelas, kepala pun dianggukkannya pelan. "Tentu saja. Lagi pula, aku tidak mungkin tega memonopoli Saso-nii terus-terusan dari Nii-chan."
Terkekeh, pria tersebut melirik pada ist—suaminya yang saat ini tengah mengacak-acak rambut Saori— yang tampak tengah dipeluk erat dan dihujani ciuman dari kakek-neneknya. "Sudah saatnya kalian berangkat," ucapnya seraya melepaskan pelukannya pada Naruto.
.
.
.
Menatap Naruto dan Saori yang telah semakin menghilang dari pandangan mata, tiga sosok pria dan satu sosok wanita tersebut terdiam dalam keheningan yang menggantung di antara mereka.
"Hmph ... menurut kalian, apa yang akan terjadi?" membuka suara, satu-satunya wanita di antara mereka memasang raut wajah khawatir.
"Apa pun itu, semoga Naruto bahagia."
"Ara~ Kau ternyata sudah benar-benar berubah, Anata."
"Aku sudah terlalu tua untuk bertingkah kekanakan dan mencampuri kehidupan puteriku, Kushi-chan."
"Tsk ... seandainya dia tidak brengsek, kita pas—"
"Sudahlah, Dei." Sasori menyela ucapan pria pirang tersebut. "Berhenti mengingkari keadaan. Kenyataannya dia tidak lebih baik dari ayah kandung Saori."
"Naruto dan Saori yang malang. Padahal, Saori sudah sangat menyukai pria itu. Semoga Saori tidak terlalu kecewa dengan kenyataan yang terjadi." ungkap Kushina lirih.
Dan, mereka berempat pun akhirnya berlalu dari tempat tersebut.
.
.
.
.
Dua hari kemudian ...
.
.
Mematut dirinya di depan cermin, gadis kecil berkuncir dua tersebut mengerutkan keningnya ketika mendapati sesuatu yang nampak kurang memuaskan dirinya. Membetulkan letak dasinya yang nampak miring ke samping, bibirnya melengkung ke bawah saat sebuah telapak tangan tiba-tiba bergerak mengacak rambutnya.
"Kaa-san ... kau membuat rambutku berantakan lagi," protesnya, setengah berseru. Kedua pipinya mengembung lucu dengan respon ibunya yang malah terkikik pelan. "Kaa-san, menyebalkan."
"Ara~ kau berlebihan, Sa-chan," Naruto menarik kedua belah pipi chubby puterinya, gemas; sama sekali tak mengacuhkan tatapan tajam yang terarah padanya.
"Sakit ... tahu," ringisnya, sesaat setelah kedua belah pipinya dilepaskan. "Karena Kaa-san aku harus merapikan penampilanku."
Menggelengkan kepalanya pelan, Naruto meraih sisir yang tersimpan di atas meja rias, dan kemudian memposisikan dirinya di belakang puterinya. "Biarkan Kaa-san bertanggung jawab," ucapnya seraya melepaskan ikatan pada helaian rambut berwarna hitam kelam puterinya. Dan, senyuman tipis pun nampak pada permukaan wajah berkulit putih puterinya.
"Kaa-san ...," memanggil sang Ibu dengan nada pelan, setelah keheningan cukup lama menggantung di antara mereka berdua. "Bagaimana kabar Paman di Suna?"
Menghentikan gerakan tangannya secara tiba-tiba, Naruto terdiam membeku. Mata beriris sapphire-nya nampak menatap kosong pantulan diri mereka berdua.
"Terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan, hn?" tanyanya kembali, ketika hanya kediaman yang diterimanya.
"Sa-chan sangat menyukai Paman, ya?"
Meraih softlens berwarna biru sapphire yang nampak tersimpan dalam kotak khusus yang berada di atas meja rias, gadis bermata heterochrome itu pun kemudian memasangkannya di sebelah matanya; guna menutupi sebelah iris onyx-nya.
"Kaa-san tidak senang kau menggunakan softlens, Sa-chan. Kau masih terlalu muda."
Mengabaikan protesan wanita berambut pirang panjang tersebut, Saori lebih memilih menjawab pertanyaan—yang menjurus pernyataan— dari sang Ibu. "Sangat suka pun percuma bila akhirnya pria itu gagal menjadi tou-san untukku."
"..."
Terdiam, Naruto hanya mendengarkan perkataan Saori yang jelas dia tahu belumlah selesai.
"Kaa-san tidak perlu mengkhawatirkan perasaan apalagi keadaanku, karena tanpa figur seorang ayah pun ... keberadaan Kaa-san sudah lebih dari cukup."
Dan tanpa perlu berpikir atau menunggu lebih lama lagi, Naruto segera memeluk puterinya— dari belakang— dan mendaratkan ciuman penuh kasih pada puncak kepala berhelai hitam kelam tersebut. "Kaa-san menyayangimu."
.
.
.
.
Naruto menatap layar laptopnya kosong, termenung.
Tangannya tersimpan di atas keyboard. Kegiatannya yang semula aktif merangkai kata-kata, telah terhenti sekitar belasan menit yang lalu. Dengan perlahan, layar pun mulai menggelap.
Bingung.
Cemas.
Khawatir.
Sakit.
Perasaan itu terasa begitu menyesakkan dadanya.
Naruto tidaklah bodoh dan naif. Dia tahu puterinya berbohong. Sorot mata penuh luka dan kecewa nampak jelas terpantul dari dua iris berlawanannya. Sebutlah ikatan batin, atau intuisi seorang ibu dan juga wanita. Walaupun hanya sekilas, dan segera ditutupi dengan gerakan memasang softlens, tapi kedua mata beriris sapphire-nya sama sekali tak melewatkan hal tersebut.
Demi Tuhan, Naruto benar-benar merasa telah gagal memberikan kebahagian untuk satu-satunya puteri yang begitu dia cintai. Naruto telah menorehkan kekecewaan pada Saori. Kegagalannya dalam membina hubungan dengan sosok pria berambut coklat tersebut, pun berbuah kegagalan untuk puterinya dalam mendapatkan figur seorang ayah yang—Naruto tahu— sangat diharapkannya.
'Maafkan Kaa-san, Sa-chan.'
.
.
.
.
Mendegus kesal, gadis berkuncir tersebut melemparkan batu kecil yang sedari tadi digenggamnya erat ke dalam kolam yang berada tepat di hadapannya.
Dia kesal, dan bahkan marah. Tak habis pikir, bagaimana bisa sistem diskriminasi terhadap seseorang itu masihlah berlaku di zaman serba canggih ini. Ingin dia berteriak dan memaki kepada seluruh penghuni kelas barunya. Bagaimana tidak? Belumlah genap selama satu jam dirinya menjadi penghuni kelas tersebut, berbagai macam pandangan yang tertuju ke arahnya dan suara bisik-bisik terus berseliweran, membuat punggungnya tidak nyaman serta kedua telinganya terasa panas.
Saori benci dibedakan. Dia pun benci dipandang rendah atau pun tinggi. Usianya memanglah berbeda dengan seluruh penghuni kelas tersebut, tapi tidak bisakah dirinya mendapat apresiasi yang sama?
'Semua orang di mana pun sama saja.'
"Tidak baik menyendiri di tempat sepi, Bocah kecil."
Tersentak ketika mendengar suara asing dari arah samping, keningnya pun dikerutkannya dalam.
'Sejak kapan paman ini berada di sini?'
"Aku sudah berada di sini sebelum kau datang, Bocah." ungkapnya, membuat kedua iris sapphire gadis tersebut membelalak.
"Paman bisa membaca pikiran?" tanya Saori setengah sangsi dengan pertanyaannya sendiri.
Terkekeh pelan, sosok pria dengan rambut bermodel unik tersebut menegakkan punggungnya. "Hanya menjawab pertanyaan yang biasa orang-orang lontarkan padaku saja."
"Biasa?" beo Saori, heran.
"Hn." gumamnya singkat.
Menyipitkan kedua matanya, gadis berkuncir tersebut mendapati sebuah kejanggalan pada pria berusia sekitar tiga puluh lima tahunan tersebut.
'Kenapa tatapan matanya nampak berbeda? Kosong dan ...
... sama sekali tak memantulkan kehidupan.'
"Tidak sopan menatap orangtua seperti itu, Bocah."
Kembali dibuat tersentak, Saori menggelengkan kepalanya pelan; mencoba menepis pemikiran yang tiba-tiba melintasi pikirannya. Dan, ketika pria berwajah rupawan tersebut menoleh padanya, saat itulah gadis tersebut sontak melebarkan kedua matanya.
"Paman buta?" lirihnya, sama sekali tak menyadari telah mengungkapkan pemikirannya ke permukaan.
"Kau tahu?"
Tak ada senyum ataupun raut wajah tersinggung, hanya ekspresi datarlah yang nampak menghiasi wajah berparas rupawannya.
"Paman tidak menatap tepat ke arahku, pandangan Paman juga kosong," dan sama sekali tak terpantul kehidupan di dalamnya. jelasnya, tak mengungkapkan pemikirannya yang terakhir.
"Bocah cerdas," kuluman senyum menghiasi wajah— yang Saori yakini— minim ekspresi tersebut, "kau orang pertama yang bisa menyadari kebutaanku dalam kurun waktu kurang dari lima menit."
Tak tahu harus merasa bangga atau merasa miris dengan hasil pengamatannya, Saori pun hanya tersenyum datar menanggapinya.
"Paman ke sini seorang diri?" tanyanya, ketika menyadari bahwa hanya mereka berdua-lah yang tampak berada di taman tersebut.
"Hn,"
"Ti—"
"Kebutaan tidak mengharuskan seseorang untuk selalu bergantung pada orang lain, Bocah." sela pria tersebut.
"Paman juga tidak sopan," ungkap Saori dengan sebelah pipi yang digembungkan.
"Hn?"
"Menyela perkataan seseorang itu tidaklah terpuji, Paman." Kedua matanya menatap tajam sosok pria tersebut, "Lagi pula, jangan seenaknya memanggilku Bocah, tahu dari mana coba?"
Terkekeh pelan, kemudian pria itu pun menyunggingkan sebuah seringai tipis, "Kau itu memang bocah, bahkan usiamu pun tidak lebih dari sembilan tahun."
Saori menyipitkan kedua matanya, "Bagaimana Paman bisa tahu?" tanyanya penuh tuntutan.
"Pendengaran orang buta berbeda dengan orang normal pada umumnya. Cukup memasang pendengaran dengan baik, dunia tak akan terlalu gelap dan suram." Untuk sekilas gadis kecil tersebut melihat pria itu tampak menerawang jauh. "Lagi pula, buta mata bukan berarti buta hati, bukan?"
Setengah tidak mengerti, Saori menghembuskan napasnya dalam. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Dia merasa sedikit menyesal dan bersalah.
"Apa kau memang tipe melankolis, Bocah?"
Tertegun, gadis itu pun menatap dalam diam. Pertanyaan pria yang duduk di sampingnya itu membuatnya terasa tertohok.
'Benar juga, kenapa aku bisa menjadi seperti ini?'
Puk ... puk ...
Kemudian, ketika telapak tangan besar tersebut menepuk puncak kepalanya secara lembut, Saori hanya bisa terperangah.
"Bocah seumuranmu, jangan terlalu banyak dibuat berpikir yang tidak-tidak. Cukup menjalani dan menikmati kehidupanmu, dan biarkan para orang dewasa menyelesaikan segala sesuatu yang seharusnya menjadi tugas mereka."
Tak kuasa untuk tidak tersenyum, Saori pun menyingkirkan telapak tangan yang seperti betah berada di kepalanya. "Aku pun punya satu pertanyaan untuk Paman," seringai kecil terpatri pada wajahnya ketika kerutan tipis tampak pada kening sosok berkulit putih tersebut. "Apa Paman ini tipe orang yang banyak bicara?"
.
.
.
.
.
"Saori ...,"
Menatap heran wanita berambut pirang yang tiba-tiba muncul di area sekolah barunya dan menerjang dirinya dengan sebuah pelukan, Saori mengangkat alisnya tinggi.
"Apa yang sedang Kaa-san lakukan di sini?"
"Kaa-san mengkhawatirkanmu." Sosok cantik tersebut menjawab, setelah melepaskan pelukannya.
"Hn?"
Wanita itu menepuk pucak kepala Saori—yang nampak sekali tengah kebingungan, "Kaa-san panik saat mendapat kabar menghilangnya dirimu dari pihak sekolah."
"..."
"Apa terjadi sesuatu padamu? Kau terluka?"
Memutar kedua bola matanya jengah, gadis kecil tersebut memilih mengabaikan pertanyaan yang terlontar dengan ekspresi panik berlebihan dari ibunya— membiarkan tubuhnya diputar-putar dan diperiksa secara menyeluruh.
Dan tanpa menunggu waktu yang lama, hembusan lega pun terdengar kemudian dari wanita berkulit tan tersebut.
"Katakan," nada suaranya terdengar menuntut, "ke mana kau pergi setelah jam istirahat tiba? Kenapa kau menghilang tiba-tiba?"
Menghembuskan napasnya lelah, Saori tersenyum kecut ketika melihat raut khawatir yang terpasang pada wajah ibunya. "Aku hanya ingin mengenal lingkungan sekolahku saja. Intinya aku penasaran, itu saja."
"Benarkah?" mata beriris sapphire-nya memicing, curiga. "Tapi, kenapa ekspresimu nampak seperti sedang berbohong?"
"Sudahlah, Kaa-san. Aku tidak akan menghilang atau diculik seperti yang kau takutkan." Saori menatap Ibunya tepat ke arah mata, "Umurku memang masih sembilan tahun, tapi aku tidak ceroboh dan juga tidak bodoh, Kaa-san. Jadi, tenanglah."
"Saori ... Kaa-san ha—"
"Stop." Saori menarik ibunya dan menuntun wanita tersebut ke arah parkiran; di mana sebuah mobil berwarna biru nampak terparkir di antara kumpulan mobil yang berderet rapi. "Kaa-san sebaiknya pulang. Aku masih harus belajar, oke." ucapnya setelah membukakan pintu khusus pengemudi.
"Tapi, Sa-chan ... Kaa-san ti—"
"Kaa-san dikejar deadline, ingat?" nada suaranya terdengar menekan. "Berhenti memikirkan hal yang tidak penting, dan selesaikan segera pekerjaan Kaa-san. Jangan mengecewakan para fans-mu, oke."
Bruk ...
Kemudian, Saori segera menutup pintu mobil tersebut setelah berhasil mendorong ibunya masuk ke dalam.
"Sa-chan ... kau tega sekali."
Tak mengacuhkan protesan dari wanita tersebut, Saori melambaikan tangannya dan memasang senyum penuh ancaman.
Berhasil.
Mobil biru itu pun dengan perlahan bergerak meninggalkannya.
"Hufftt ... rasanya benar-benar melelahkan," desahnya pelan, sebelum akhirnya mulai melangkahkan kakinya menuju lorong sekolah barunya.
.
.
.
.
Tak henti menghelakan napasnya berat, Naruto melengkungkan bibirnya ke bawah.
Kesal menyeruak ke permukaan. Namun, dirinya tak kuasa dan tak mungkin marah pada puteri kandungnya sendiri. Terbilang tidak sopan dan kurang layak dilakukan memang anak usia sembilan pada umumnya, tapi begitulah pribadi puterinya.
Menghentikan laju kendaraannya di sebuah pusat perbelanjaan Konoha, Naruto meremat pegangan kemudi mobilnya.
Takut dan gusar.
Entah kenapa, kadang Naruto merasakan keberadaan jarak di antara mereka berdua. Tidak sama halnya dengan kedekatan seorang ibu dan seorang anak pada umumnya, Naruto merasa Saori sedikit menjaga jarak dengannya.
Mungkinkah karena dirinya sering meninggalkan puterinya pergi?
Mendesah lelah ketika menyadari pemikirannya tersebut tak akan mudah untuk menemukan ujungnya, tangannya pun bergerak meraih dompet yang diletakkannya di samping kursi pengemudi. Dengan sebuah harapan akan berkurangnya segala kepenatan dalam dirinya, wanita yang saat ini mengenakan dress sederhana itu pun melangkah kakinya keluar mobil.
Namun, pandangan matanya yang baru saja teralih pada daftar belanjaan di tangannya itu pun harus terpaku, ketika sesosok perempuan berambut pirang pucat nampak menatapnya terkejut.
"Naru-chan, kan?"
.
.
.
.
"Kau tampak senang, Sasuke-kun."
Mendengar perkataan bernada ceria tersebut, pria berkulit putih itu pun menghentikan kegiatan yang telah dilakoninya selama setengah jam belakangan ini; memainkan piano.
"Hn," gumamnya seadanya, ketika mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
"Hmph ... aku jadi penasaran akan apa yang telah membuatmu senang."
Merasakan sesorang yang memeluk lehernya dari belakang, Sasuke pun menempatkan sebelah telapak tangannya untuk kemudian mengelus kedua tangan yang melingkari lehernya tersebut.
"Hanya bertemu dengan seorang anak yang menarik, Sakura." ungkapnya.
"Hmph ... benarkah?"
"Hn."
Hening sejenak.
"Sasuke-kun ... ayo, kita menikah."
.
.
.
.
"Akhirnya kita bisa bertemu kembali."
Menatap lengkungan senyum yang terarah padanya, Naruto pun ikut mengulas senyum seadanya. "Benar-benar kebetulan, ya."
"Bukan. Bukan kebetulan," Wanita berambut pirang pucat tersebut menampik dengan halus ucapan Naruto, senyuman lebar menghiasi wajahnya ketika melihat wanita di hadapannya nampak mengerutkan keningnya. "Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, Naru-chan. Percaya atau tidak, ini memang sudah digariskan Tuhan."
Naruto akhirnya menganggukkan kepalanya, setuju. "Yang kau katakan ada benarnya, Shion-san."
Menyangga wajahnya dengan sebelah tangan yang tersimpan di atas meja, Shion menatap Naruto dengan lekat. "Kau nampak sama sekali tidak berubah. Masih sangat begitu cantik seperti dulu." ungkapnya, ada kilatan sendu dalam sorot matanya.
"Kau pun begitu," balasnya. Tangannya bergerak pelan untuk mengaduk-aduk minuman yang ada dalam gelas dengan sedotan, pandangannya ikut tertuju pada minuman berwarna kuning tersebut. "Bagaimana kabar anakmu dan ... suamimu?" tanya Naruto pelan, dan merutuk dalam hati ketika harus sempat tercekat pada ujung pertanyaannya.
"..."
Diam. Shion sama sekali tak merespon pertanyaan yang telah diajukan Naruto.
Merasa akan adanya kejanggalan, sang novelis best seller itu pun mengangkat wajah serta pandangannya, dan seketika terhenyak ketika melihat dengan begitu jelas sorot mata sendu dari wanita tersebut. "Shion-san?"
"..."
"Shion-san?" panggilnya lagi, kekhawatiran nampak jelas dalam nada suaranya.
"Aku belum pernah menikah." jawab Shion begitu lirih, setelah cukup lama terdiam.
"Maaf, tadi kau bilang apa?"
"Naru-chan ...," Shion mengabaikan pertanyaan yang terlontar ke arahnya dan kemudian menatap Naruto dalam. "Aku tahu ini sangat terlambat dan mungkin tak akan mengubah segala keadaan yang telah terjadi. Tapi, izinkan aku untuk mengungkapkan segala kenyataan yang ada. Setidaknya agar aku bisa berhenti merasa bersalah kepada kalian berdua. Sungguh, aku selalu merasa dikejar-kejar mimpi buruk."
Memilih diam, Naruto pun hanya menganggukkan kepalanya; tanda mempersilakan.
Dan, ketika segala sesuatu yang tidak dia ketahui diungkapkan wanita berambut pirang pucat tersebut ke permukaan, Naruto pun hanya bisa terdiam dengan kedua bola mata yang melebar.
.
.
.
.
.
Banyak orang yang mengatakan bila segala sesuatu yang telah berlalu di masa lalu biarlah berlalu dan tak perlu dibahas lagi, pun dengan Naruto. Namun, sedikitnya Naruto menambahkan catatan mental tersendiri. Bagi dirinya, masa lalu pun harus menjadi acuan untuk kehidupan di masa depan.
Akan tetapi, segala sesuatu itu diterapkannya untuk semua yang memang harus benar-benar mengalami 'tutup buku'. Maka, ketika dirinya dihadapkan dengan kenyataan yang sama sekali di luar prediksi dan kendalinya, haruskah dirinya tetap melangkah maju dengan berpegang teguh pada ketidaktahuannya yang semula?
Tuhan ...
Naruto benar-benar tak habis pikir, semuanya terasa menemukan jalan buntu.
Ada setitik kebahagian beserta kelegaan yang menyapa dirinya. Membuat perasaannya melambung tinggi.
Saori.
Dia punya harapan untuk benar-benar mendapatkan figur seorang ayah.
Dan dirinya pun ...
Menggelengkan kepalanya ketika sebuah kenyataan yang lain muncul dalam benaknya, seketika hal itu pun terasa menghempaskan kebahagian dan kelegaan yang ada.
Hidup tak akan berjalan dengan mudah, bukan?
Menyenderkan punggungnya pada senderan kursi mobil, mata beriris sapphire-nya di arahkannya pada pemandangan yang terlihat dari balik kaca mobilnya.
"Apa yang harus kulakukan?" Naruto menggigit bibir bawahnya pelan, "Bila hanya untuk membuatku kembali terpuruk, kumohon jangan mengusik kebahagianku, Suke."
.
.
.
.
.
Bersambung ke chap 2
.
.
.
.
a/n.
Gak nyangka fict ini dapat sambutan begitu baik. Gak tahu mesti ngomong apa. Intinya terima kasih banyak.
Salam kenal juga untuk semua yang mengucapkan salam kenal.
Tentang ending, akan muncul di chap depan. Buat yang udah pada nebak sosok buta itu siapa, selamat untuk Anda yang telah sukses menebak.
Untuk minna-san yang merasa penasaran kenapa puterinya namanya Saori, itu akan ada penjelasannya di-omake fict ini, ehehe ...
Yosh ... sampai jumpa chap depan, dan mari kita bermellow ria.
Arigatou minna-san, jangan kapok mampir membaca, mereview, memfollow, dan memfav, ya.
Spesial thank's to :
Arum Junnie, Yukikaze Shera, Uchy Nayuki, guest, alkuma4, luviz. Hayate, Aiko Michishige, mifta cinya, zadita uchiha, hanazawa kay, sivanya anggarada, aoki, Uzumaki Prince Dobe-Nii, annisa. Ajja. 39, intan. Pandini85, eizan. Ki, guest1, anita. Indah. 777, AprilianyArdeta, michiiend, Aegyeo789, Harpaairiry, kimhaemin, Zukie1157, dll.
.
.
Sok direview atuh ...
