"Aku akan menikah dengan Sakura."

Seperti tiba-tiba mendengar petir di siang hari yang cerah, wanita berambut pirang pucat tersebut terdiam membeku. Sendok berisi makanan yang hendak disuapkannya ke dalam mulut pun terjatuh dari pegangannya; menghambur lantai. Pun dengan sesosok pria dewasa berambut hitam kelam yang hanya menatap dalam diam—terkesan datar.

Tersadar dari kebekuannya, tangannya pun bergerak meraih gelas berisi cairan bening yang tersimpan di atas meja, kemudian meminum isinya hingga tandas; secara rakus. Berdehem pelan, agar benar-benar berhasil melegakan tenggorokannya yang terasa mendadak kering, mata beriris lavender-nya pun diarahkannya pada sosok sang pembicara.

"Kau pasti sedang bercanda, Sasuke-kun." ungkapnya dengan kekehan kaku yang ikut mengiringi.

"Aku tidak pernah bercanda, Shion."

Menghentikan kekehannya, Shion— sosok wanita tersebut— menggigit bibir bawahnya pelan. "Kenapa mendadak sekali?" tanyanya lirih, sorot matanya berbinar sendu.

"..."

"Sasuke ...," Shion memanggil sosok pria yang duduk tepat di hadapannya ketika mendapati ketiadaan respon dari pertanyaannya.

"..."

Tak ingin memaksa, Shion mengalihkan pandangan matanya ke arah sosok lain yang hanya diam dan memperhatikan.

"Tou-sama?" panggilnya kemudian, berharap sang Uchiha senior mulai membuka suaranya.

"Apa keputusanmu sudah benar-benar bulat, Sasuke?"

"Sudah, Tou-san."

Menghembuskan napasnya pelan ketika mendengar jawaban bernada mantap dari putera bungsunya, Kepala keluarga Uchiha itu pun melirikkan pandangan matanya sejenak ke arah Shion—sosok wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi anggota inti Uchiha— yang nampak lemas, sebelum akhirnya membuat keputusan. "Baiklah, jika itu memang sudah menjadi keputusan dan keinginanmu, Sasuke."

"Hn."

"Kami akan mendukung dan membantu segala sesuatu yang kalian butuhkan. Bukankah begitu, Shion?"

Tak langsung menjawab, wanita tersebut tampak menerawang jauh sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya lemah. "Tentu saja, Tou-san. Aku yakin Tadashi pun akan sangat antusias setelah mendengar kabar menggembirakan ini." ungkapnya seraya tersenyum—senyuman yang begitu kentara sangatlah dipaksakan.

"Hn."

Dan, kegiatan makan malam yang sempat terhenti itu pun kembali berlangsung. Keheningan yang begitu pekat pun terasa mendominasi.

.

.

.

.


Terus bergerak gelisah di atas tempat tidur, wanita itu pun akhirnya memutuskan untuk benar-benar bangkit dari posisi berbaringnya.

Resah dan gelisah yang begitu kuat menyiksanya, menjadikan dirinya tak mampu memejamkan matanya barang sedikit pun. Kedua bola matanya terus terbuka lebar, menatap cemas ke arah langit-langit kamarnya.

Demi Tuhan, dirinya benar-benar tak bisa merasa tenang. Bak seorang pendosa yang dikejar-kejar dosa, ketakutan terasa begitu mencekam.

Menutup wajah dengan kedua telapak tangan, air mata perlahan mengalir jatuh membasahi selimut yang menyelimuti dirinya.

Seandainya bisa dan mungkin, wanita berambut pirang pucat itu ingin sekali kembali pada masa yang telah lama terlewat. Tapi, terlalu mustahil. Seingin apa pun dirinya akan hal itu, kenyataan yang ada tak pernah mengizinkannya.

Dirinya benar-benar merasa bersalah dan menyesali segala perbuatannya di masa lalu. Karena dirinya, dua insan yang saling mencintai haruslah terpisah dan tak bisa saling memiliki.

"Maafkan aku, Sasuke-kun."

Terisak, tubuhnya berguncang hebat. Air mata mengalir semakin deras. Melepaskan kedua telapak tangan yang digunakannya untuk menutupi wajahnya, kedua iris mata indahnya pun diarahkannya pada sebuah figura; berisi potret dirinya dengan seorang anak lelaki berambut hitam kelam dan berwajah tampan.

"Tadashi ...," panggilnya begitu lirih, sarat akan kerinduan. "Cepat pulang, Sayang. Kaa-san membutuhkanmu."

.

.

.


Yeah, I Know What I Need.

Chara selalu milik Masashi Kishimoto Sensei, tapi fict ini punya Sao.

Tadashi dan Hiroshi Hamada juga bukanlah milik Sao.

Warning : AU, OOC, FemNaru, OC, Typo's, alur cerita monoton dan pasaran, 3shot, dll.

Pairing : SasuFemNaru, slight other.

Didedikasikan untuk daku pribadi dan untuk kamu-kamu yang berkenan menunggu sequel fict 'Broken Heart?' ini.

Don't like, don't read. Pilihlah bahan bacaan dengan bijak.

Happy reading ...

.

.

.

.

.

Mencuri-curi pandang ke arah belakang punggungnya di sela kegiatannya yang tengah menulis novel, Naruto menyipitkan matanya guna mempertajam penglihatannya; berharap dapat membaca deretan kata yang nampak pada buku tebal yang tengah dibaca puterinya.

Mengerutkan keningnya dalam, saat berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, Naruto harus dibuat tersentak ketika suara bernada datar tiba-tiba terdengar dalam indera pendengarannya.

"Kaa-san, berhentilah mengganggu konsentrasiku."

"Ehehe ... gomen ne," ucapnya, namun hanya dibalas tatapan datar dari puterinya.

Hening ...

Keduanya terdiam. Naruto dengan cengiran lebarnya, dan Saori yang terus menatapnya dalam diam.

Tertawa kaku ketika merasa ketidaknyaman dengan kondisi yang ada, Naruto kemudian menggaruk pipinya canggung, "Ne, Sa-chan. Apa tidak sebaiknya kau tidur, Sayang?"

"..."

"Um, ini sudah larut." lanjutnya.

Dan, Naruto pun tidak kuasa untuk tidak menghembuskan napasnya lega, ketika dengan perlahan puterinya mulai membereskan tumpukan buku yang telah beberapa jam belakangan ini ditekuninya.

"Kau tahu, Kaa-san?" suara bernada monoton tersebut membuat Naruto yang baru saja akan memulai kembali pekerjaannya, kembali memusatkan perhatiannya ke arah sang puteri. "Kau benar-benar orangtua yang aneh."

"A—aneh?"

"Hn," masih dengan sorot mata yang begitu datar, Saori menganggukkan kepala—sama sekali tak mengacuhkan Naruto yang nampak kebingungan.

"Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu?"

"Di antara sekian banyak orangtua yang merasa bangga ketika mendapati anaknya rajin belajar, kau adalah satu-satunya orangtua yang selalu terlihat khawatir ketika melihatku belajar."

"..."

"Kenapa? Apa kau tidak merasa senang?"

Berhasil menangkap ke mana arah pembicaraan puterinya, Naruto mengulum senyum simpul. Bangkit dari posisi duduknya di atas kursi kerjanya, sang novelis best seller tersebut dengan perlahan menghampiri kursi belajar puterinya.

"Kau tahu, Sa-chan," Naruto mengelus rambut hitam sebahu puterinya dengan lembut, sementara Saori tetap menatapnya datar—sedatar-datarnya. "Sama halnya dengan orangtua pada umumnya, Kaa-san pun tentunya merasa bangga. Kau begitu sangat membanggakanku, bahkan membanggakan keluarga besar kita."

Merasa bingung harus merespon perkataan Ibunya dengan cara seperti apa, gadis bermata heterochrome itu pun memilih memalingkan wajahnya. Dirinya selalu benci dengan segala sesuatu yang membingungkan.

Naruto terkekeh pelan, "Sepertinya sikap Kaa-san selama ini telah membuatmu salah paham. Ditambah dengan Kaa-san yang tak pernah sedikit pun mengungkapkan rasa bangga itu padamu, tentu saja itu sangat wajar."

"..." Masih belum ada tanggapan.

"Sekarang sedikitnya terjawab sudah, dari mana asalnya kekakuan dirimu," walau tidak sepenuhnya berasal dariku.

"Lalu, kenapa Kaa-san selalu terlihat khawatir bila a—"

"Kaa-san takut kau terlalu memaksakan diri. Ambisimu untuk meraih kesempurnaan, itulah yang Kaa-san khawatirkan." jelas Naruto, menyela pertanyaan puterinya. "Segala prestasi yang telah kau raih sejauh ini, sudahlah lebih dari cukup, Sa-chan."

"Masih belum." tolak Saori, membuat Naruto menghentikan elusan pada rambut bersurai hitam kelamnya.

"Ya ampun, jangan bilang kalau kau ...,"—gulp— suara tegukan ludah terdengar sejenak, menjadi jeda. "Saori ... Hiroshi Hamada Sensei menyelesaikan SMA-nya pada usia tiga belas tahun, kau secara tidak langsung sudah mampu me—"

"Itu karena Hamada-Sensei tidaklah terlalu serius waktu belajar. Beliau lebih banyak meluangkan waktu untuk me—"

"Maka ikutilah jejak Hamada-Sensei." Naruto menganjurkan, ikut menyela perkataan puterinya.

"A-aku tidak mau," Saori menggigit bibir bawahnya. "Hamada-Sensei terlalu jenius, aku tidak akan pernah bisa sejajar dengannya bila tidak rajin belajar."

Melembutkan pandangannya, Naruto mensejajarkan tingginya dengan puterinya. "Setiap orang memiliki titik pencapaiannya masing-masing. Tidak perlu sempurna, selama kau bisa merasa bahagia. Bertekad untuk mewujudkan ambisi itu boleh saja. Tapi, kau pun jangan sampai merasa tertekan dengan ambisi yang kau miliki. Cukup lakukan dan pikirkan segala hal yang wajar untuk anak seusiamu. Percaya, semua akan ada saat dan masanya." ujarnya, panjang lebar.

Terdiam cukup lama, Saori pun kemudian menganggukkan kepalanya lemah. "Aku mengerti."

Tersenyum lembut, dijentikkannya jari telunjuk pada kening berkulit putih tersebut.

"Kaa-san ... sakit." protesnya dengan sebelah pipi digembungkan. Namun, senyum tipis pun disunggingkannya kemudian.

"Kaa-san menyayangimu," ucapnya, sesaat setelah meraih puterinya ke dalam pelukannya.

"Aku juga."

Ucapan bernada lirih itu pun membuat Naruto tersenyum lebar, dan mengeratkan pelukannya.

.

.

.

"Ngomong-ngomong ... Sa-chan benar-benar mengagumi Hiroshi Hamada Sensei, ya?"

"Tentu saja. Beliau selain jenius, juga tampan."

Mendengar jawaban spontan puterinya; Naruto segera melepaskan pelukannya, kedua iris sapphire-nya membola terkejut.

'Ya Tuhan, jangan sampai puteriku pun terobsesi pada Profesor jenius itu.'

.

.

.

.


Tidak tahu di mana tepatnya, dan dari mana datangnya, pria berambut hitam kelam dengan style unik itu merasakan kenyamanan ketika duduk menghabiskan waktu dengan ditemani seorang bocah yang hampir dua minggu ini dikenalnya.

Cepat berlalu memang. Bahkan, dirinya pun harus merasa heran pada diri sendiri, ketika dengan mudah—tanpa sungkan dan merasa kaku sedikit pun— dirinya melontarkan kata-kata pada gadis kecil tersebut, berakhir dengan tanpa sadar dirinya yang juga menceritakan kehidupannya.

Terbilang aneh, bukan?

Bagaimana bisa dirinya menjadi seterbuka ini kepada orang asing yang belum lama dikenalnya?

Namun, satu hal yang pasti.

'Gadis kecil itu istimewa.'

Sering menghabiskan waktu bersama dan bertukar cerita, membuat dirinya dan gadis kecil tersebut saling mengetahui kehidupan masing-masing. Dirinya pun akhirnya tahu, bahwa gadis kecil tersebut tidak memiliki seorang ayah. Dan, mengetahui fakta tersebut, entah kenapa membuat hatinya linu dan juga terasa marah sekaligus. Entahlah, dia benar-benar bingung sendiri dibuatnya.

.

.

"Jadi, kau terpaksa akan ditinggal oleh Ibumu selama dua hari?"

"Hn,"

"..."

"..."

Hening. Keduanya sama-sama terdiam.

"Paman," sang gadis berkuncir tersebut kembali membuka suara, "kadang aku merasa sedih. Tapi, aku bisa apa? Aku tidak mungkin meminta Kaa-san untuk tetap tinggal."

"Hn?"

"Aku tidak ingin terlihat cengeng, apalagi manja. Lagi pula, Kaa-san pergi karena pekerjaan, untukku sendiri."

Puk ...

Tepukan pelan mendarat pada puncak kepala gadis kecil tersebut. "Kalau memang begitu, maka berhentilah mengeluh."

Menepis pelan telapak tangan besar pria berkulit putih itu dari kepalanya, Saori mendengus sebal. "Aku bukan mengeluh, hanya sebatas cerita saja. Dasar Paman no baka."

"Hn."

"Ne, Paman. Bagaimana kalau Paman menemaniku selama Kaa-san pergi ke Suna?"

"Bocah ... kau jangan sembarangan menawarkan orang asing hal seperti itu." Pria tampan tersebut memperingati. "Bagaimana bila aku ini orang jahat? Penipu, misalnya."

Walaupun terkesan percuma; karena tak akan mampu dilihat pria yang duduk di sampingnya, Saori tetap menggelengkan kepalanya. "Paman bukan orang asing. Paman adalah Uchiha Sasuke, dan aku mengenal Paman."

"Naif," matanya seperti tengah memandang ke arah kolam yang ada di hadapannya, "tidak ada yang menjamin bahwa aku ini orang yang bisa dipercaya."

"Aku percaya pada Paman," Saori berkata dengan nada yakin. "Aku tak memerlukan jaminan apa pun, karena semua sudah terasa cukup dengan berbekal keyakinanku saja."

"Apa pada setiap orang, kau memberikan keyakinan dan kepercayaanmu, Bocah cilik?"

Terdiam, Saori nampak berpikir. "Selama ini aku hanya percaya pada Kaa-san, Kakek-Nenek, dan kedua pamanku saja. Hanya mereka berlima saja yang kupercaya."

"Hn,"

"Tapi, pernah juga aku percaya pada orang lain. Bahkan, aku mengharapkannya untuk menjadi figur ayahku," tersenyum kecut, Saori menerawang sejenak. "Hanya saja ... ternyata orang itu akhirnya mengecewakanku. Dia pembohong, dan juga membuat Kaa-san bersedih."

"Tidak ingin belajar dari pengalaman?"

Mengarahkan pandangannya pada pria yang juga tengah mengarahkan wajahnya ke arahnya, Saori menggeleng pelan. "Mungkin terbilang tidak logis sama sekali, tapi hatiku menyakini Paman sepenuhnya."

"Hn, terserah kau sajalah."

Mengembangkan senyumnya, Saori kembali mengarahkan pandangannya pada kolam yang ada di depannya.

"Hey, Paman. Tertarik untuk berkenalan dengan Kaa-san?"

.

.

.

.


"Ka—"

Menghentikan langkah kaki dan panggilannya, Saori melirik ke arah pria yang— entah bagaimana bisa—menghentikan pergerakan dan kemudian membekap mulutnya.

'Aku minta maaf.'

'Bagaimana bisa kau setega itu?'

'Aku tahu, aku salah. Karena itu aku minta maaf.'

'...'

'Aku mohon ... beri aku waktu untuk menjelaskan.'

"Kau dengar?"

Mengangguk paham saat secara samar dirinya mendengarkan perdebatan dari dalam sana, gadis berambut hitam kelam sebahu itu pun akhirnya menghembuskan napasnya secara pelan; setelah mulutnya terbebas dari bekapan.

"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk memperkenalkanku pada Kaa-sanmu."

"Hn, Paman benar."

"Hn, sebaiknya kita memberikan mereka waktu untuk menyelesaikan masalah mereka."

"Hn. Lalu, sekarang kita ke mana?"

"Kau suka makan ramen?"

"Ramen?" mengerutkan keningnya, Saori menggelengkan kepalanya. "Keluargaku jarang menyajikan makanan itu, jadi aku bingung harus menjawab seperti apa."

"Hn, sayang sekali. Tapi, daripada menjadi dua orang penguping, lebih baik kita isi perutmu yang dari tadi terus berteriak kelaparan."

Dua orang penguping?

Perutku berteriak kelaparan?

Tanpa berniat menyuarakan isi kepalanya, Saori pun menggandeng tangan pria tersebut. "Beri tahu aku jalannya, biar aku bisa menuntunmu, Paman."

"Tsk ... aku bukan orang buta sembarangan, Bocah, bila kau lupa?"

"Ya, ya, ya," Saori memutar kedua bola matanya, bosan. "Katakan itu pada dinding dan pilar rumahku yang Paman tabrak beberapa kali." ucapnya dengan nada sing a song.

.

.

.

.


Naruto sama sekali tidak tahu, dari mana dan bagaimana bisa sosok pria berambut coklat itu tahu keberadaannya. Namun, hal yang terpenting; keberanian dari mana hingga sosok pria— yang kini telah dalam masa proses dilupakannya— itu memutuskan untuk mendatangi rumahnya di Konoha, bahkan tanpa memberi kabar atau pesan terlebih dahulu.

"Aku ingin kembali,"

Perkataan yang tanpa tedeng alih-alih dilontarkan pria tersebut pun sukses membuat Naruto—untuk ke sekian kalinya— tertegun.

Demi Tuhan, apa semua ini lelucon? Ataukah, dirinya sedang terdampar ke dalam sebuah kisah drama roman picisan pada salah satu karya novelnya?

"Aku minta maaf."

Tersadar dari pikirannya, wanita berambut pirang itu pun menggigit bibir bawahnya; hingga nyaris berdarah. "Bagaimana bisa kau setega itu?"

"Aku tahu, aku salah. Karena itu aku minta maaf."

"..."

Diam, Naruto hanya bisa tersenyum getir.

"Aku mohon ... beri aku waktu untuk menjelaskan."

"..."

"Naruto ... jangan diam saja."

Memalingkan wajahnya ke arah samping; guna menghindari tatapan mata penuh permohonan yang terarah padanya, Naruto menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Utakata. Bagaimana bisa kau melakukan semua ini padaku?" Naruto kembali mengarahkan pandangannya. Sorot matanya begitu nanar, penuh luka. "Kenapa begitu mudah kau mengatakan ingin kembali, setelah dengan mudahnya pula kau membuangku begitu saja?"

Tak langung menjawab. Sosok pria berambut coklat tersebut tampak menggertakkan giginya, kedua telapak tangannya pun terkepal kuat. "Karena aku begitu bodoh, Naruto." jawabnya kemudian, setelah cukup lama terdiam.

"..."

"Aku ketakutan," Utakata mengulas senyum getir. "Aku mencintaimu, sangat. Tapi, di satu sisi lain aku merasa begitu ketakutan ... aku takut dengan besarnya perasaanku padamu."

Naruto mendengarkan, walaupun ketidakmengertian memenuhi dirinya.

"Karena aku tahu, kau—" Utakata menggelengkan kepalanya, "—tidak benar-benar mencintaiku. Kau hanya tak ingin mengecewakanku."

"Apa maksudmu, Utakata?" Wanita beranak satu tersebut tersenyum jeri, "K—Kau ... bagaimana bisa me—"

"Karena faktanya memang seperti itu. Empat tahun, Naruto." Pria berambut coklat itu terkekeh pahit, "Matamu bahkan tidak pernah sepenuhnya tertuju padaku. Kau ... hanya ingin mendapatkan seorang ayah untuk puterimu."

"Utakata ...," Naruto memanggil lirih, benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal sekejam itu? Bagaimana bisa dirinya dianggap sepicik itu?

"Maka ketika aku bertemu dengan wanita itu, aku pun dengan tanpa pikir panjang mencoba menjadikannya sebagai pelampiasanku. Berujung dengan aku terlena, dan dengan bodohnya kemudian lebih memilihnya." Utakata terdiam sejenak, "Tapi, ternyata setelah itu aku merasa kosong, bukan mendapatkan kebahagiaan yang seperti kuharapkan."

"..."

"Kumohon, Naruto ... izinkan aku kembali. Aku kini sama sekali tidak peduli. Walaupun kau tidak mencintaiku, asalkan kau tetap bersamaku ... itu sudah cukup."

"Utakata, a—Sa-chan?"

Menengokkan pandangannya ke belakang, ketika Naruto membulatkan matanya dan memanggil puterinya, kedua matanya dengan jelas menangkap seorang gadis kecil yang berjalan tergesa ke arahnya. Dan ketika dirinya baru saja hendak membuka suaranya untuk menyapa gadis kecil tersebut, seketika itu pula kedua bolanya dibuat membola lebar.

Plak ...

Menyentuh permukaan pipinya yang terasa panas, pria itu terdiam dengan mata menatap terkejut pada sosok gadis kecil yang beberapa tahun belakangan ini begitu dekat dengannya.

"Sa-chan ...,"

Sementara Naruto dengan begitu lirihnya memanggil gadis berambut hitam kelam sebahu itu, setelah sadar dari keterpakuannya.

"Aku benar-benar kecewa pada Anda, Utakata-san." Memanggil pria tersebut dengan panggilan yang berbeda dari biasanya, gadis kecil bernama Saori itu tersenyum miris. "Ternyata penilaianku selama ini terlalu tinggi kepada Anda. Aku dengan tegas mengatakan kepada Anda, mulai saat ini menjauhlah dari Kaa-san, dan bahkan enyahlah dari hidup kami."

"SAORI!"

Merasa tidak senang dengan perkataan puterinya yang tekesan begitu kasar, Naruto pun dengan keras menyerukan nama puterinya.

"Aku memang selalu ingin punya ayah, tapi bukan seperti dia yang kuinginkan untuk menjadi figur ayahku. " tegas Saori; menjawab seruan ibunya, sama sekali tak merasa gentar dengan tatapan dari Naruto.

Hening ...

Mereka sama-sama terdiam. Hanya hembusan napas pelan yang nampak lolos dari masing-masing lah yang terdengar.

"Silakan Anda angkat kaki dari kediaman kami, Utakata-san." Kembali membuka suaranya, gadis itu menatap penuh ke arah—mantan— kekasih Ibunya.

"..."

"Utaka—"

"Apa kau sudah benar-benar tak mengharapkanku lagi, Saori?" tanya pria berambut coklat tersebut tiba-tiba setelah cukup lama terdiam—menghentikan ucapan gadis kecil bertubuh tinggi langsing tersebut.

"..." Diam. Saori hanya menatap datar sosok brunette tersebut.

"Aku benar-benar tidak dimaafkan, ya." Bukan pertanyaan, melainkan pernyataanlah yang diucapkannya. Tersenyum miris ketika hanya kediaman yang didapatkannya, kepala bersurai coklatnya dianggukkannya pelan. "Baiklah aku mengerti. Aku anggap itu sebagai hukuman untuk kebodohanku."

"Utakata ...,"

Menatap ke arah wanita yang memanggilnya, senyum tulus disunggingkannya. Kakinya melangkah perlahan ke arah wanita yang sangat dia cintai.

"Utakata, Sa—"

"Sepertinya aku memang harus pergi," ucapnya pelan, sebuah kecupan penuh kasih pun didaratkannya pada kening Naruto. "Berbahagialah bersama Saori."

Beralih ke arah Saori—yang segera memalingkan wajahnya karena begitu enggan menatap dirinya, Utakata menepuk-nepuk pelan puncak kepala bersurai hitam kelam tersebut. "Maaf telah mengecewakanmu, dan semoga kau cepat mendapatkan tou-san yang sesuai harapanmu."

Dan dengan perlahan pria tersebut melangkahkan kakinya menjauh dari kedua sosok perempuan yang—sejujurnya— sangat berarti bagi dirinya. Senyuman miris mengiringi langkahnya.

Tap ... tap ... tap ...

Dengan perlahan mengarahkan pandangan matanya ke arah punggung pria berambut coklat yang semakin menjauh darinya, Saori menggigit bibirnya pelan. Rasa sesak seketika menyeruak di dalam dadanya.

"Sa-chan ...,"

"Seperti halnya Kaa-san, aku pun butuh waktu untuk sendiri." ucapnya pelan, tanpa perlu mengalihkan perhatiannya ke arah sang pemanggil. Dan, tanpa berkata sepatah kata apa pun lagi, Saori pun berlalu pergi meninggalkan Naruto.

"Saori ...,"

Sementara Naruto hanya bisa menggumamkan nama puterinya dengan tatapan nanar.

.

.

.

.


Tubuhnya gemetar dengan hebatnya. Keringat dingin pun mengucur dengan derasnya. Membuat Shion sama sekali tak mendapatkan bayangan apa pun, akan apa yang sebenarnya telah terjadi pada calon istri dari adik ayah puteranya. Ingin bertanya, namun Shion sadar betul bahwa ini bukanlah waktu yang tepat.

Berawal dari dirinya yang tiba-tiba mendapatkan telpon dari sosok bermata emerald tersebut agar menjemput dirinya di tempatnya bekerja—yaitu di salah satu Rumah Sakit elit di pusat kota Konoha, Shion pun akhirnya dengan tanpa perlu berpikir dua kali; segera meninggalkan tumpukan pekerjaan di kantor dan segera menuju alamat yang disebutkan sang putri Haruno. Ditemani rasa kekhawatiran akan tingkah wanita bersurai merah muda yang selama hampir sepuluh tahun belakangan ini sudah seperti adik baginya, wanita berambut pirang pucat itu pun melajukan mobilnya dengan secepat mungkin. Awalnya semua baik-baik saja, kedua bola matanya sama sekali tak menemukan keganjilan apa pun dari sang putri Haruno. Namun, sesaat setelah wanita berparas cantik tersebut memasuki mobil; saat itulah tubuh wanita tersebut mulai bergetar, kedua bahunya berguncang dengan begitu hebatnya.

Kini Shion hanya bisa memeluk erat dan mengelus lembut punggung sosok wanita— yang saat ini tampak dalam kondisi terpuruk—tersebut dengan berbagai macam pertanyaan yang terus berseliweran dalam tempurung kepala bersurai pirang pucatnya, bibirnya dengan lembut melontarkan kata-kata penenang yang terlintas dalam pikirannya; berharap wanita bermata emerald tersebut dapat sedikit merasa tenang.

.

.

.

.

.

Sebut dia menyedihkan atau apa pun itu, dia tak akan menampiknya sedikit pun. Terbilang berlebihan dan bahkan mungkin menggelikan; dirinya yang selalu diagung-agungkan sebagai sosok dokter hebat, kini tampak berbeda dengan begitu jauhnya hanya karena rasa takut akan kehilangan. Namun dia sama sekali tak peduli, karena pada kenyataannya tak akan ada yang bisa mengerti sejauh dan sedalam apa rasa tersebut bersarang dalam dirinya.

Rasa takut kehilangan tersebut bersumber dari suatu fakta yang tiba-tiba diketahuinya. Suatu fakta yang didapatkannya dari ketidaksengajaan, tepatnya sebuah dokumen berisi data kesehatan salah satu pasien rumah sakit tempatnya bekerja.

Pasien wanita bernama Namikaze-Uzumaki Naruto.

24 November 2014.

Sepuluh tahun yang lalu.

Tremor seketika menyerang dirinya. Matanya membelalak lebar ketika melihat isi laporan kesehatan tersebut. Dan untuk pertama kalinya, wanita bersurai senada dengan musim semi tersebut merasa otak pintarnya mengkhianati dirinya. Membuat dirinya harus menelan bulat-bulat pil pahit bernama kenyataan.

.

.

.

.


"Merasa lebih baik?"

Menolehkan kepalanya ke arah samping, Saori menatap sendu pria berstyle rambut unik yang sedari tadi menemani dirinya untuk menenangkan dirinya.

"Aku menyesal karena telah memilih kembali," Saori mengeratkan pegangan tangannya pada permukaan kursi taman yang tengah diduduki mereka berdua. "Seharusnya aku benar-benar pergi dengan Paman, tanpa harus merasa ragu."

"..."

"Aku ...," Gadis tersebut tersenyum kecut, "benar-benar merasa sesak, Paman. Di sini—" tangannya bergerak mencengkram dada kirinya, "—benar-benar tidak nyaman."

"Kenyataan tidak selamanya menyenangkan, Bocah." Pria yang sejatinya tak bisa melihat tersebut tampak menerawang untuk sejenak, "Terlalu naif bila berpikir semua akan berjalan sesuai harapan. Karena pada kenyataannya ... tak semua impian dan keinginan bisa terpenuhi."

"..."

"Semua kembali pada takdir, Bocah."

"Paman ...," Walaupun dia tahu apa yang dilakukannya sia-sia, gadis berambut hitam kelam tersebut tetap menatap pria tersebut tepat pada mata beriris onyx kosongnya, "maukah Paman memelukku?" tanyanya lirih, dengan air mata yang nampak menggenang pada matanya.

Buk ...

Tanpa menunggu jawaban atau pun respon apa pun dari pria berwajah rupawan tersebut, Saori segera memeluk erat pria di sampingnya. Tak lama kemudian, air mata pun benar-benar tumpah dari kedua matanya, ketika merasakan elusan lembut pada bagian belakang kepalanya. Yang tidak gadis itu ketahui, pria yang tengah dipeluknya kini tengah merasakan kebingungan akan rasa sesak yang juga ikut menggerogoti rongga dadanya.

.

.

.

.


Sang surya telah benar-benar kembali ke peraduannya, namun belum juga ada tanda-tanda yang mengarahkan akan kembalinya sang puteri. Menggigiti ibu jarinya cemas, Naruto berulang kali berjalan mondar-mandir di depan pintu utama kediaman mereka.

Nihil.

Naruto sama sekali belum menemukan penampakan puterinya dari balik pintu gerbang. Kembali menekan icon panggilan pada benda tipis persegi yang sedari tadi berada dalam genggaman tangan kanannya, benda itu pun ditempelkannya pada depan telinganya. Namun, hanya jawaban dari Operator lah yang kembali didapatkannya.

Ya Tuhan ...

Sang novelis best seller tersebut semakin merasa tak tenang. Kekalutan dan kekhawatiran memenuhi perasaannya. Pun dengan dirinya yang semakin menyalahkan dirinya sendiri, kenapa bisa dirinya membiarkan Saori pergi begitu saja di tengah perasaan kecewa yang pastinya begitu menyakitinya? Bukankah Naruto begitu tahu, sejauh dan sebesar apa perasaan yang telah diberikan Saori untuk sosok bersurai coklat itu?

Aku harus segera mencarinya.

Menganggukkan kepalanya ketika pemikiran tersebut terlintas, Naruto pun dengan cepat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Meraih tas tangan dan kunci mobil yang tersimpan pada tempatnya, wanita beranak satu itu pun bergegas meninggalkan rumahnya. Namun, ketika dirinya baru saja akan meraih handle pintu mobil, gerakannya terhenti saat mendengar nada familliar di telinganya. Melihat nama yang tercetak pada benda tipis yang telah menghasilkan suara tersebut, benda itu pun segera ditempelkannya ke depan telinga, dan—

"Sa-chan, kau di mana, Sayang?" Naruto segera meluncurkan pertanyaan tanpa menunggu suara di seberang sana.

'Puterimu berada di kediamanku,'

Merasa panik ketika mendengar suara bernada datar yang jelas bukan milik puterinya, tubuhnya pun bergetar hebat. "K—Kau ... siapa? Kumohon jangan sa-sakiti Saori."

Suara dengusan terdengar dari seberang sana, 'Kau jangan dulu berpikir yang aneh-aneh. Aku bukan penculik.'

"Be—"

'Aku akan mengirimkan alamat rumahku melalui email. Kau cepatlah dan jemput puterimu yang sedang tertidur.'

Tut ... tut ... tut ...

Sambungan telpon diputus secara sepihak.

Ring ...

Tak lama sebuah email pun tiba.

"I—Ini tidak mungkin ...," ucapnya begitu lirih, dengan kedua bola mata sapphire-nya yang membulat lebar. Begitu terkejut dengan alamat familliar yang terpampang begitu jelas pada LCD smartphone miliknya.

.

.

.

.


Mematikan sambungan telpon, Sasuke pun segera menyerahkan smartphone yang ada di tangannya kepada seorang pemuda yang sedari tadi telah berdiri di sampingnya.

"Tadashi, segera kirimkan alamat rumah kita." titahnya dengan nada datar.

Menganggukkan kepalanya, pemuda berwajah tampan berambut raven tersebut segera melaksanakan titah yang diberikan pamannya tersebut. "Aku baru tahu kalau Paman ternyata bisa memberikan perhatian terhadap orang lain selain Sakura-nee?"

Mendengus ketika mendengarkan pertanyaan yang terlontar dari putera kakaknya, Sasuke segera menengadahkan tangannya. "Kembalikan handphone itu padaku bila kau sudah melaksanakan tugasmu."

Mengerucutkan bibirnya ketika pertanyaannya tak diacuhkan sama sekali, dengan gemas pemuda tersebut menyerahkan benda berchasing biru langit itu pada tangan yang terulur padanya. "Paman tidak asyik. Lagi pula, itu smartphone, bukan handphone."

"Hn. Tidak jauh berbeda." balas Sasuke tak peduli.

"Tsk ... tentu saja beda, dari namanya saja sudah tidak sama."

"Sesukamu sajalah, Bocah."

"Ugh ... memang sesukaku," sahutnya sebal, sebelum akhirnya berlalu dari ruangan bercat biru gelap tersebut—meninggalkan Pamannya bersama sesosok gadis kecil seusianya yang tengah tertidur dengan begitu lelapnya.

Sementara Sasuke, pria tersebut hanya mendengus ketika telinganya dengan begitu jelas menangkap suara keponakannya yang terus menggerutu.

Mengeraskan ekspresi wajahnya ketika pikirannya kembali mengarah pada suara yang terasa begitu familliar dalam pendengarannya, Sasuke pun melangkahkan kakinya menuju kursi—yang sudah dia hapal dengan jelas di mana letak keberadaannya— dan kemudian mendudukkan dirinya. Mendesah pelan, sebelah tangannya pun bergerak memijat ujung pangkal hidungnya.

"Suara itu ... Dobe ..."

.

.

.

"Kau kenapa, Tadashi?"

Mengarahkan pandangannya ke arah sang pemilik suara, kedua mata bernada beriris onyx-nya menangkap jelas sosok ibunya yang tengah duduk bersama seorang wanita bermata emerald. Memberikan seringai kecil, tangannya bergerak menggaruk pipinya yang sama sekali tak gatal.

"Ehehe ... biasalah. Hanya merasa sedikit kesal pada kelakuan Paman."

"Pamanmu sudah kembali?"

Menganggukkan kepalanya, putera dari mendiang Uchiha Itachi itu pun membawa kedua kakinya menuju dua sosok wanita cantik tersebut. Mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang kosong, matanya menatap berbinar kue pie yang tertata manis dalam piring di atas meja makan dapur.

"Wah, pie-nya terlihat menggoda sekali. Boleh kuminta sedikit."

"Tentu saja, Tadashi-kun." Sang pembuat yang ternyata adalah sang wanita berambut merah muda tersebut tersenyum seraya menyodorkan sebuah piring kecil yang telah terisi kue pie ke arah Tadashi, "Aku sengaja membuat banyak agar cukup untuk kita semua."

Tersenyum sumringah, sang Uchiha muda itu pun dengan begitu semangatnya meraih piring tersebut. "Enaaaakkk~" Lesung pipit nampak menghiasi kedua pipinya ketika putra Uchiha tersebut kembali tersenyum.

"Syukurlah, kalau kau suka, Tadashi-kun."

"..." Hanya suara kecapan pelan yang menjadi jawabannya.

"Ngomong-ngomong, Tadashi-kun," Wanita berambut merah muda tersebut kembali bersuara, "Sasuke-kun ... apakah di—"

"Aissshh ... aku lupa bilang," Tadashi menatap lekat kedua wanita yang berada di samping kanan dan kirinya, "di kamar Paman Sasuke ada seorang gadis yang sedang tertidur."

"APA?" berseru kompak, kedua pasang bola mata berbeda warna tersebut menatap terkejut ke arah sang pemberi informasi.

"Ma—maksudku ...," Tadashi meringis pelan. "Jangan salah paham dulu. Aku memang tidak tahu jelasnya seperti apa pastinya. Yang kutahu, saat tadi aku melihat Paman datang, ada seseorang yang tertidur dalam gendongannya. Dan aku yakin, gadis itu seumuran denganku."

"Sasuke-kun membawa gadis itu ke kamarnya?" tanya Sakura lemah, sorot matanya terlihat sendu. "Bahkan, selama ini Sasuke-kun tak pernah mengizinkanku masuk ke kamarnya." ucapnya begitu lirih, sehalus bisikan.

Merasa bingung dengan ekspresi terluka calon istri Pamannya, Tadashi menggaruk pipinya canggung.

Sedangkan, Shion yang begitu paham dengan apa yang pasti dirasakan wanita berprofesi dokter tersebut, segera berinisiatif memberi pengertian pada calon adik iparnya itu, "Seperti yang Tadashi katakan, Sakura. Gadis itu seumuran dengan Tadashi, aku yakin karena itu Sasuke memilih membawa gadis itu ke kamarnya."

"..."

"Kau tunggulah di sini bersama Tadashi, aku akan menanyakan pada Sasuke-kun apa yang sebenarnya terjadi."

"..."

Menghela napas pelan ketika tak mendapatkan respon apa pun dari wanita bermata emerald— yang kini nampak terlarut dalam pemikirannya sendiri, Shion pun segera melangkahkan kedua kaki jenjangnya ke arah kamar sang Uchiha bungsu.

.

.

.

"Tidak sopan memasuki kamar tanpa izin."

Terkekeh kaku ketika mendengar suara bernada datar dari pria berambut raven yang saat ini tengah berdiri membelakanginya, wanita berambut pirang pucat tersebut melirikkan matanya ke arah tempat tidur.

"Dia ... siapa?"

Mendengus pelan, Sasuke membalikkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya pada bingkai jendela. "Bukan urusanmu, Shion." ketusnya, sama sekali tak senang pada pertanyaan yang dilontarkan tanpa tedeng alih-alih oleh ibu dari keponakannya tersebut.

Mengerti dengan adanya ketidakberesan pada sang raven, matanya memicing tajam. "Kau tidak melukai gadis itu, kan?"

"Hilangkan pikiran bodohmu itu," Sasuke melipat kedua lengannya di depan dada. "Aku sama sekali tidak punya alasan untuk melukai seorang bocah berusia sembilan tahun."

"Benarkah?" Shion menyipitkan matanya, curiga.

"Hn. Kau bisa tahu dengan jelas kondisi bocah itu dengan mendengarkan suara dengkurannya." jawab Sasuke tak acuh.

"Lalu, bagaima—"

"Sudah kubilang, bukan urusanmu." potongnya tajam.

"Ugh," menggembungkan kedua pipinya, Shion menatap sebal pria raven tersebut.

"Orangtuanya akan segera menjemput bocah itu," Sasuke kembali membalikkan badannya, dan menikmati semilir angin dingin yang menerpa wajahnya. "Kau sambutlah dia, dan bawa dia kemari."

"Ka—kau serius, Sasuke-kun?"

"Hn,"

"Ta—tapi dia orang asing. Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk membawanya?" Shion menggelengkan kepalanya pelan, sama sekali tak habis pikir dengan titah yang diterimanya. Bukankah selama ini Sasuke tak pernah mengizinkan sembarangan orang untuk memasuki atau bahkan sekedar mendekati kamarnya.

"Kau akan mengetahui jawabannya saat kau melihat sosoknya nanti," itu pun kalau memang dugaanku terbukti benar, dan bukan hanya harapanku semata.

Menghembuskan napasnya berat, Shion pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, Sasuke-kun."

"..."

Melemparkan pandangan terakhir pada gadis kecil yang seusia dengan puteranya itu, wanita itu pun akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan kamar bercat biru gelap tersebut.

Dan, Sasuke kembali mengeraskan ekspresi wajahnya.

.

.

.

.


'Ini tidak mungkin ...'

Mengeratkan cengkraman tangannya yang gemetar pada roda kemudi, bibir bawahnya digigitnya pelan.

'Tuhan, ini pasti bercanda.'

Giginya bergemerutuk. Setiap hembusan napasnya diringi kekalutan yang sangat kentara.

Takut.

Rasa itu semakin pekat membayangi dirinya. Naruto benar-benar ingin kembali memutar mobilnya, dan membatalkan niatannya untuk bertandang masuk ke dalam bangunan megah yang berdiri tepat di hadapan mobilnya.

Melirik ke kanan dan ke kiri, tangan kanannya diarahkannya menuju bibirnya, dan kemudian wanita itu menggigiti ujung ibu jarinya.

Sungguh, novelis best seller tersebut bingung harus bagaimana. Mengatur pernapasannya yang terasa tak teratur, kedua kelopak matanya menutup sejenak.

"Ini takdir, Naruto." Wanita tersebut menganggukkan kepalanya, "Dan, aku pasti bisa melakukannya. Apa pun yang terjadi pada nantinya, itu adalah hal terbaik yang direncanakan Tuhan untukku dan puteriku."

Membuka kaca jendela mobilnya, Naruto menyunggingkan senyuman tipis pada dua penjaga yang nampak menatapnya terkejut dari pos penjagaan.

"Naruto-sama?" seru kedua sosok berpakaian khusus tersebut secara kompak. Keterkejutan dan ketidakpercayaan nampak terpasang jelas pada wajah mereka.

'Sudah sepuluh tahun berlalu, eh?'

Menganggukkan kepalanya pelan, Naruto menatap teduh pada dua sosok familliar yang sudah lama tak pernah dijumpainya. "Apa kabar, Izumo-san, Kotetsu-san? Lama tidak bertemu."

"Naruto-sama ...," Ada nada lega dan bahagia yang terdengar samar dari pengucapan sosok pria bername tag 'Izumo'.

"Bisa tolong bukakan pintu gerbangnya?"

Saling berpandangan untuk sejenak, senyum terulas kemudian pada wajah — yang nampak sudah semakin menua— mereka berdua.

"Tentu saja, Naruto-sama. Kami sudah sangat lama menunggu kunjungan anda." ujar pria bername tag 'Kotetsu'.

'Benarkah?'

Hanya membatin, Naruto sama sekali tak memiliki niatan untuk mengutarakan pertanyaannya.

Menatap nanar punggung kedua sosok yang tengah nampak berunding dengan dua orang penjaga lain yang menjaga di balik pintu gerbang, Naruto kembali menghelakan napasnya berat ketika dengan perlahan pintu mulai terbuka.

'Yang terjadi, maka terjadilah.'

"Anda sudah bisa masuk, Naruto-sama."

Tersentak dari dunia lamunan yang belum lama disinggahinya, wanita bermata sapphire itu pun kembali menyunggingkan senyuman pada bibirnya.

"Arigatou ...," ucapnya tulus.

Kembali menganggukkan kepala mereka kompak, keduanya membungkukkan setengah badan mereka. "Terima kasih karena sudah sudi kembali, Naruto-sama. Kami benar-benar sangat merasa senang bisa melihat Anda kembali."

Bingung harus merespon mereka bagaimana, sang novelis pun hanya bisa terdiam dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku permisi, Izumo-san, Kotetsu-san."

"Tentu, Naruto-sama."

Menutup kembali kaca jendela mobil, kendaraan beroda empat itu pun dengan perlahan memasuki pekarangan kediaman megah keluarga besar Uchiha.

.

.

.

Meraih tas tangan yang diletakkannya di samping kursi kemudi, dengan perlahan tangannya meraih handle pintu mobil, dan akhirnya keluar dari dalam mobil tersebut.

"Ini akan menjadi malam yang panjang," ucapnya pelan, dan kedua kakinya pun mulai dilangkahkannya maju.

.

.

.

.

.

Bersambung ke chapter 3 (chap akhir).

.

.

.

.


A/N.

Sao mohon izin untuk menyelesaikan fict ini pada chap depan. Mohon maaf belum bisa memberikan jawaban yang Anda semua inginkan.

Oh iya, pasti pada tahu sama Tadashi Hamada dan Hiroshi Hamada, kan? Nonton film itu, jadi pengen buat fict tentang Itachi-nii sama Sasuke, ehehe ... kapan-kapan deh.

Rencananya mau menyelesaikan ini dalam sepuluh hari, tapi ternyata kegiatan DuTa membuat Sao terlena. Btw, Sao sekarang dalam persiapan mengejar ijazah, semoga bisa lulus dengan IP yang tinggi dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sao awalnya bercita-cita jadi guru TK. Tapi, karena sekarang sudah tercapai (walaupun baru hampir setahun) , jadi Sao ingin naik tingkat jadi Dosen, minna. Walaupun perlu beberapa tahun tambahan, tak apalah demi cita-cita. #curcoldadakan

Mohon maaf untuk ketiadaan moment SasuFemNaru, chap depan pasti ada. Btw lagi, mana scene mellow-nya, ya?

Arigatou gozaimassu untuk seluruh pembaca, yang mem-follow, mem-fav, mereview, atau sekedar pembaca.

Big thank to : Hanazawa kay, alkuma4, sivanya anggarada, ayurifanda15, intan. Pandini85, eizan. Ki, luviz. Hayate, SNlop, kimjaejoong309, gothiclolita89, agunghidayat836, choikim1310, Uchy Nayuki, Aiko Michishige, guest, guest1, zadita uchiha, zukie1157, anita. Indah. 777, alta0sapphire, michiiend, AprilianyArdeta, kimhaemin, aokiaoki95, Shinkwangyun, dll. (Maaf yang salah tulis atau terlewat.)

.

.

.

Sok atuh direview ...