Stay by My Side

*Chapter 1*

Story © alice dreamland

The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort (maybe)

Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, alur lambat/ngebut, AkashixIgnorant!Reader, slight KisexReader, OOC, Request Nakamura Hikari

Delapan tahun berlalu semenjak dirimu tinggal dengan keluarga Akashi.

Hubunganmu dengan Akashi? Kalian bagaikan amplop dengan perangko—saling menempel erat satu sama lain.

Entah dirimu yang mengikutinya tanpa sadar, atau Akashi memerintahmu tuk terus dekat dengannya. Meski SMP kalian berbeda, Akashi selalu menunggumu sepulang sekolah untuk pulang bersama.

Kau tahu jelas bahwa Akashi merupakan seseorang dengan kepribadian yang tak dapat dikatakan baik. Ia sok berkuasa dan suka memerintah—istilahnya diktator. Terlebih pandangannya yang terkesan sangat mengintimidasi serta meremehkan orang lain.

Arogan, menakutkan, juga psikopat (suka melempar gunting bagi siapa pun yang melanggar perintahnya).

Namun bukan berarti Akashi tidak memiliki sisi positif, bukan?

Sejujurnya, bagimu lelaki itu lembut dan baik.

Oke. Jika kau mengatakan hal ini pada orang lain, mungkin ia akan langsung histeris dan menyeretmu menuju rumah sakit jiwa tuk mengadakan pemeriksaan psikis.

Tapi sungguh, meski Akashi sangatlah tampan—kau akui—tak banyak orang yang berani dekat dengannya (selain kumpulan teman berambut pelangi yang pernah ia ceritakan padamu).

Fans terselubung? Pasti punya.

Penguntit? Jangan harap. Mereka terlalu sayang nyawa.

Meski begitu, cukup banyak perempuan menyukai Akashi—itulah yang memicu rasa heranmu. Bahkan saat valentine, coklat penuh dalam lokernya—yang berakhir dalam gengamanmu karena melihat Akashi hendak membuang semuanya.

Entahlah.

Kau sendiri tak paham. Bagimu, Akashi sedikit mempunyai kemiripan dengan Midorima—satu-satunya teman Akashi yang pernah berbincang denganmu.

Midorima tsundere, itu sudah pasti.

Dan yang merasuki benakmu adalah:

"Apakah mereka bersahabat sangat dekat hingga Akashi pun sedikit tertular?"

Entah ini hanya pemikiranmu atau tidak, menurutmu Akashi mempunyai sedikit kemiripan dengan Midorima.

Lelaki itu terlihat sok berkuasa dan kejam di luar. Namun ia membuka sisi lembutnya padamu secara bertahap—membuatmu terus heran akan kejutan dalam dirinya.

Akashi baik. Ia sangat baik.

Lelaki itu mau membantumu, ia juga mengajarimu cara bermain basket dan shogi.

Bisa dikatakan, kau sangat menyayanginya.

Akashi pun juga menyayangimu.

Kalian sudah seperti saudara. Kau menganggapnya seperti seorang kakak yang terus memperingati adik perempuannya—dan ehem, kau sangat rewel serta malas bergerak dalam hal tertentu.

Kau adalah gadis cuek yang datar serta minim ekspresi—jangan lupakan sikapmu yang sedikit mengintimidasi (meski tidak seburuk Akashi).

Manik matamu berwarna coklat kehitaman, meski dapat berubah menjadi heterokom—pada saat tertentu.

Fungsinya mirip, namun kau jarang menggunakannya karena lebih mengandalkan kemampuanmu sendiri—serta kau malas mengaktifkannya, yang tentu membuat lelah.

Kalian dekat—sangat dekat.

Meski kadang, terlalu dekat.

.

.

.

Kau mengerjapkan kedua matamu—menatap lurus langit-langit ruang tidur dalam keresahan akan diri tak dapat terlelap.

Kau segera mengubah posisi tubuhmu—yang semula terbaring di ranjang, menjadi duduk. Menggelengkan kepala, seraya mengambil sebuah bantal dan guling—mendekapnya erat.

Dalam keadaan lampu mati serta pendingin ruangan menyala, kau langkahkan kakimu menuju pintu. Tangan menggapai kenop—memutar lalu menariknya.

Cklekkk!

Pintu terbuka.

Mempersilahkan diri keluar tanpa beralas kaki—seraya menutup pintu tanpa suara. Kemudian mengerling mata pada sekitar.

Kau mendesah. "Lagi-lagi seperti ini. Padahal baru jam sepuluh. Di mana para maid dan butler itu?"

Kakimu perlahan berjalan menelusuri sang koridor bertikar merah beludru dalam hening—berusaha tak memedulikan suasana dalam mansion yang terkesan dingin dan minim penghuni.

Oke, kau cukup takut akan hal berbau mistis—dan itulah faktor utama dirimu kesulitan tidur sendiri.

Meski terdapat penerangan dalam koridor, hal tersebut berupa cahaya lampu redup yang tanpa sadar menguatkan nuansa angker.

Mengeratkan dekapan pada guliing dan bantal, kau percepat derap langkah kaki. Sesekali melirik ke samping—melihat vas, guci, atau lukisan terpajang di pinggir.

Hingga berhenti di depan sebuah kamar berpintu mahoni yang terletak di ujung koridor.

Nafasmu terengah-engah. Kaus beserta celana pendekmu berkeringat, namun kau tak memedulikannya.

Tanganmu meraih kenop, memutarnya—menampakkan ruangan luas dengan berbagai interior eksklusif serta mewah.

Manik matamu bergulir, mencari ranjang sang empunya kamar—meski sedikit sulit karena lampu yang dipadamkan.

Udara dingin bergesekan dengan kulitmu, sementara kau langkahkan kakimu pada objek yang kau tuju.

Sesuatu—tepatnya, seseorang—sedang berbaring memunggungimu. Melihat tubuhnya yang bergerak sedikit, membuatmu menyadari sesuatu.

"Sei." Kau mengguncang bahunya pelan. "Aku tahu kau belum tidur."

Akashi berbalik meski tetap berbaring—menatap lurus manik coklat tuamu dengan sedikit terusik. Kau membalas tatapannya datar—membuat Akashi sadar akan tujuanmu kemari.

Lelaki itu berguling ke samping—menyisakan tempat lebar cukup untukmu merebahkan diri. Kau meggulum senyum.

"Terima kasih," jawabmu kecil—meletakkan guling dan bantal di sampingnya seraya ikut berbaring dalam ranjang yang sama.

Kau memeluk guling sembari menarik selimut Akashi—membuatnya harus membagi kehangat untuk berdua. Sedikit kau rasakan kulitmu bergesekan dengan piyamanya.

Namun sebagai seseorang yang cuek, kau tak mempermasalahkannya lebih lanjut dan memosisikan diri menghadap Akashi—dalam posisi berbaring.

Yang masuk dalam benakmu saat menatapnya adalah pandangannya yang terkesan tak puas. "Apa yang akan kau katakan jika otou-san mengetahui hal ini?"

"Aku takut sendiri," jawabmu pendek—menggulung diri dalam selimut. "Alasan itu cukup."

Akashi mendesah—mengangkat sebelah tangannya seraya menyentil dahimu keras.

"Itai!" Kau meringis.

"Bodoh, kalau begitu lebih baik ditemani maid saja."

Kau menatap Akashi tajam. "Aku tak menemukan mereka."

Akashi memicingkan kedua matanya. "Lalu apa hakmu mengangguku?"

Kau tak menjawab—malas berdebat karena kepala terasa berat. "Ah, sudalah."

Kau menguap—melirik jam dinding yang menunjukan pukul setengah sebelas. "Aku mau tidur."

Akashi mendengus.

Sulit memprovokasi dirimu jika sudah seperti ini. Sesungguhnya, ia dapat langsung mengusirmu jika ia mau. Namun sedikit ia ingin kau tidur di sampingnya.

Kau menatapnya sayu—efek mengantuk. "Sei, boleh kupinjam tanganmu?"

"Tidak," jawab Akashi mutlak.

"Kenapa?" tanyamu—nyaris tak bertenaga.

"Kau tak memerlukannya." Akashi mengusap rambutmu dengan sebelah tangan. Manik matanya menatapmu lurus.

"Hm... Mungkin ju... ga," gumammu semakin mengecil di akhir—terhanyut dalam sentuhan lembutnya.

Hingga ucapanmu menghilang dalam kegelapan kamar—menyisakan suara pendingin ruangan serta udara bergesekan dengan gorden yang sedikit berkibar. Disusul deru nafas teratur.

Akashi menatap wajah tidurmu yang terlihat tenang—berbeda dengan paras sehari-hari dimana ekspresimu selalu datar, seakan tak peduli mengenai apapun.

Meski ia tahu sesungguhnya kau peduli—dengan caramu sendiri.

Lelaki itu mengulas senyuman kecil, seraya mengecup keningmu lembut.

"Oyasumi, hime."

Kemudian menutup kelopak matanya dan tidur di sebelahmu.

.

.

.

Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah gorden—disusul kicau ria para burung pipit. Kau perlahan membuka mata.

Dan wajah tidur Akashi adalah yang pertama kau lihat.

"Sei?" gumammu pelan—setengah sadar.

Hingga terngiang kembali kejadian kemarin dalam pikiranmu. Kau menatapnyya lurus seraya memosisikan diri untuk duduk—berusaha sepelan mungkin untuk tidak membangunkan Akashi.

Kemudian berdiri—meski ranjang sedikit berdecit.

Kau menatap Akashi harap-harap cemas. Syukurlah ia masih tampak pulas dalam tidurnya. Kau menghela nafas lega seraya berjalan keluar—tak lupa mengambil bantal dan guling—kembali ke kamarmu.

Para maid dan butler berlalu lalang. Beberapa di antaranya menatapmu heran—sementara kau hanya acuh tak acuh akan pendapat mereka.

"Lagi-lagi nona keluar dari kamar tuan muda."

"Ini sudah yang ketiga kalinya dalam seminggu."

"Mencurigakan sekali."

Kau menghela nafas. Sungguh, kau sedikit heran.

Memang ada yang salah jika kau tidur dengannya?

Hah...

Lebih baik mereka mengurusi masalah mereka sendiri.

Kau mendengus saat sampai di kamarmu. Segera, kau letakkan bantal guling pada posisi semula seraya mengambil pakaian untuk dibawa ke kamar mandi.

.

.

.

Suara dentingan garpu beradu sendok menggema dalam ruang makan yang sepi.

Kini kalian tengah duduk berhadapan—tanpa sepatah kata terucap.

Mengingat salah satu peraturan tak tertulis keluarga Akashi:

Makan dengan sopan—jangan bicara saat makan.

Pakaian yang kalian kenakan berupa seragam SMA Teiko.

Ya.

Mulai hari ini kau akan sesekolah dengan Akashi.

Kau mengambil cangkir dan meneguk teh pelan—selagi mata mengerling pada sekitar ruangan yang minim akan kehangatan.

Akashi terus memakan hidangan seperti biasa—dan kau tak memedulikannya. Cangkir kembali kau letakkan pada meja secara elegan.

Kemudian menyilang sendok garpu dalam piring berhubung telah selesai menyantap masakan. Sapu tangan kau raih seraya menghapus sisa makanan di sisi bibir.

Oh, kalian hanya makan berdua—meski kadang maid dan butler melewati tempat tanpa menimbulkan suara.

Akashi Sena telah meninggal karena sakit dua tahun lalu. Tentu kau sangat sedih, bagaimanapun juga ia sudah bagai sosok ibu keduamu.

Ayah Akashi? Kau jarang melihatnya. Setiap hari ia berangkat subuh dan pulang larut—berhubung keluarga Akashi mengelola perusahaan besar.

Mengenai ayah dan ibumu, mereka telah meninggal—atau lebih tepatnya kau ditinggalkan mereka.

Mereka meninggalkanmu.

Mungkin inilah yang memicu sifat dinginmu—meski anehnya, kau selalu tak dapat bersikap dingin pada Akashi.

Kau menghela nafas—menunduk menatap piring dengan hidangan tak bersisa. "Sei, nanti temani aku keliling Teiko ya."

"Hn," jawab Akashi. Kau tersenyum simpul.

Ah, Akashi memang selalu bisa diandalkan!

Kau berdiri meninggalkan kursi—beranjak mengambil sepatu dalam rak dan mengenakannya, sementara menunggu Akashi.

Tak lama kemudian, Akashi telah berdiri di sampingmu—mengenakan sepatu. Kau yang lebih cepat selesai segera berjalan masuk dalam mobil.

Meski, sekali kau berbalik menghadap Akashi dan berteriak dengan seringaian.

"Cepat atau kutinggal!"

Akashi tahu kau tak serius, karenanya bibirnya tak kuasa menahan senyum.

Ia berdecak. "Ck. Aku tahu."

.

Finally chapter 1, done!

Huahaha, saya rada stress buat ini karena karakter readernya rada beda dari karakter-karakter yang saya buat sebelumnya wwww

Ini karakter saya banget. Saya kayak gini lho di real life www

Bahkan scene tidur bareng juga berdasarkan real life eh *plak*

Meski sudah ngak sih... ehehehe (dulu kelas SMP 2 masih gini huehehe)

Balasan review anon:

-guest

Ini sudah lanjut kok x3

Makasih reviewnya~

-nechan

Ini sudah lanjut, makasih reviewnya xD

Terima kasih banyak bagi semua yang telah menyempatkan diri untuk membaca, review, fave, dan follow cerita ini x3

Saya senang banyak yang berminat :3

Sekian~!

~alice dreamland